Les Ini, Les Itu, Ada Apa Di Baliknya?

Akhir pekan selalu diisi dengan berbagai kesibukan, terutama di hari Sabtu. Lihat saja schedule di diary Morna, mama dari 3 anak. Pagi-pagi sekali jam 6, anak pertama sudah berada di pinggir kolam renang. Jam 8, antar anak ketiga les matematika. Jam 10, anak kedua les piano. Jam 2 siang, anak ketiga les taekwondo. Sore, antar anak pertama ke gym. Malam, anak kedua ada tambahan les Inggris. Begitu padat jadwalnya sampai kadang-kadang harus skip ke gereja karena anak ada pertandingan kompetisi dari tingkat erte, regional, sampai tingkat nasional.

Apakah kita familiar dengan schedule ini?

Sebut saja les musik (piano klasik, pop, jazz; biola, cello; flute, saxophone, gitar), les dansa (ballet, samba, Zumba), les bela diri (karate, taekwondo, kungfu), plus berbagai kegiatan olah raga (gymnastics, footy, rugby, soccer, tennis, renang), belum lagi dengan les bahasa (Mandarin, Jepang, Jerman, Perancis) dan les drama dan melukis. Begitu banyak pilihan, begitu banyak kesibukan buat anak-anak kita. Sempatkah kita berhenti di tengah putaran arus kesibukan ini dan bertanya kepada diri kita, sebetulnya apa yang mau kita berikan kepada anak-anak kita dengan semua ini?

Sebagai orang tua Kristen yang ingin mengutamakan Kristus di dalam keluarga, kita sangat-sangat perlu mengevaluasi motivasi apa yang ada di dalam diri kita.

Sebagai orang tua kita bilang kita mau memberi yang terbaik buat anak kita. Betulkah? Biblikalkah keinginan itu? Mari kita evaluasi dengan komprehensif apa yang dimaksud dengan “memberi yang terbaik” itu?

1. Keberhasilan Anak = Keberhasilan Orang Tua

Tahun 2011, Amy Chua, seorang professor hukum dari Yale menulis satu memoir yang menjadi global best seller berjudul “Battle Hymn of the Tiger Mother” tentang bagaimana dia membesarkan dua anaknya di Amerika. Amy adalah typical orang tua yang membesarkan anak-anaknya dengan “hyper-disciplining” style dan berfokus kepada achievement dan performance. Inilah kultur yang tercipta di kalangan ibu-ibu (yang masuk dalam kelompok Chinese atau majority Asian) jaman sekarang, yang sendirinya adalah produk dari orang tua yang menuntut anak-anaknya sukses dalam bidang akademis dan unggul dalam segala aspek. Buat mereka, keberhasilan anak-anak menjadi yang the best merefleksikan successful parenting, dan sebaliknya kalau anak-anak mereka “average” atau tidak unggul di sekolah, itu problem besar, dan secara langsung memperlihatkan orang tua “were not doing their job.”

2. Keberhasilan Anak = Hidup Bahagia

Alasan lain orang tua menginginkan anaknya sukses supaya dewasa kelak mereka berhasil di masyarakat, punya pekerjaan yang baik, karir dan kekayaan yang kemudian bisa membuat mereka membina keluarga dengan baik, yang semuanya menjadi tolok ukur kebahagiaan hidup. Bukankah kalau mereka lulus menjadi lawyer, dokter, arsitek, pilot, akuntan, otomatis pintu kesempatan kerja terbuka lebar untuk mereka? Untuk mencapai hal itu, dari kecil anak belajar dengan keras, toh semuanya itu akan mereka petik hasilnya di kemudian hari.

Maka apa yang kemudian orang tua lakukan untuk mempersiapkan anak mereka menjadi anak yang berhasil? Sebagian orang tua melibatkan anak-anaknya dengan berbagai aktifitas, les ini dan itu. Les itu sendiri tidak ada salahnya dan mempunyai kesempatan belajar banyak hal dan bisa melakukan banyak hal adalah baik adanya.

Namun ukuran apa yang dipakai orang tua di dalam hal ini? Apakah semakin banyak les berarti orang tua semakin kelihatan perhatian dan tanggung jawab? Dan ukuran apa yang dipakai anak? Banyaknya skill yang dia miliki? Apakah terjadi pembentukan karakter yang indah dalam diri anak, seperti citra diri yang benar, sikap sportif, loyalitas, ketenangan, ketahanan, ketekunan, persahabatan, integritas, menghargai hak orang lain, jiwa kompetitif, respek terhadap otoritas, melalui semua aktifitas itu? Ini hanyalah contoh dari beberapa aspek yang sangat penting ketimbang skill dan pengetahuan/knowledge.

Memahami bahwa bakat, karunia dan kemampuan adalah bagian dari talenta yang Tuhan percayakan untuk mereka kembangkan sebagai penatalayan yang setia dan melaluinya membawa kemuliaan bagi Tuhan adalah aspek lain lagi yang perlu menjadi tujuan anak belajar semua itu. Dan sebagai orang tua kita perlu melatih anak untuk menemukan hati yang bersandar kepada Tuhan di dalam pressure menghadapi pertandingan lebih penting daripada angka/score dan prestasi kemenangan itu sendiri.

Tujuan dari artikel ini adalah untuk menggugah kita sekali lagi untuk mengevaluasi ulang segala motif dan keinginan hati kita di dalam membesarkan anak-anak yang Tuhan percayakan, sehingga kita tidak serta-merta dan bereaksi dengan impulsif saat mengambil keputusan memberikan les tambahan kepada anak. Yang terutama di ujung daripada semua pendidikan kita kepada mereka adalah pembentukan karakter yang “godliness” yang mempersiapkan mereka menjadi saksi, garam dan terang bagi dunia di masa dewasa mereka.(kz)