Kado Natal untuk anak-anak

Question and Answer (Q and A)

Question: Natal sudah dekat, artinya siap-siap mencari kado buat anak-anak.
Sebagai orang tua Kristen, bagaimana memilih kado yang tepat supaya tidak mengajarkan anak jadi konsumtif?

Answer: Natal, bagi dunia sekuler, adalah masanya memanjakan jiwa konsumerisme. Berbagai mall saling bersaing menjajakan berbagai jenis barang untuk memuaskan mereka. Keluarga Kristen sering terjebak kepada jiwa konsumtif ini dan terbawa-bawa memberikan kado-kado Natal yang mahal buat anak-anaknya. Dengan alasan sayang dan cinta kepada anak, ingin memberikan yang terbaik untuk anak, kita – termasuk kakek-nenek, om dan tante, sepupu dan teman, menghujani anak kita dengan berbagai hadiah.

Apa yang kemudian terjadi?
Randy Alcorn memberi warning ini, “Far from being filled with the spirit of thankfulness for all that Christmas means, the children are grabby, crabby, picky, sullen, and ungrateful for what they have received – precisely because they have received so much.”

Ketimbang menghargai dan mengapresiasi tumpukan kado-kado Natal itu, kita mungkin sedang membentuk jiwa anak kita menjadi konsumtif, cepat bosan dengan mainan dan barang yang mereka miliki, dan selalu menuntut untuk mendapatkan mainan dan gadget yang mahal untuk menyenangkan mereka. Tengok kamar dan gudang di rumah, berapa banyak mainan dan kado Natal yang segera jadi rongsokan dan terabaikan begitu saja?

Lebih jauh lagi, apa yang kita kira sebagai ekspresi cinta dan kasih kepada anak, bisa menjadi benih-benih yang akan merusak karakter anak di kemudian hari.

“When we mistake the giving of material things for the sharing of grace, we do a great disservice to our children .A child who grows up getting most of what he wants has a predictable future. He will misuse credit, default on his debts, and be a poor worker. He will function as an irresponsible member of his family, church and society. He will be quick to blame others, to pout about his misfortunes, and to believe that his family, church, country and employer – if he has one – owe him.”

Natal seharusnya menjadi kesempatan kita mengembangkan jiwa yang bersyukur kepada anak-anak kita, “the spirit of thankfulness and gratitude.”

Mari kita mulai kembangkan tradisi kesederhanaan dalam perayaan Natal kita, membawa makna Natal yang sesungguhnya “Yesus, Anak Allah yang kaya dan mulia datang ke dunia dalam segala kesederhanaan, menjadi manusia yang miskin dan hina bagi kita.” Mari kita fokus kepada Kristus ketimbang diri kita dan anak-anak kita.

Beberapa hari sebelum Natal, seluruh anggota keluarga duduk di seputar meja makan, dengan lilin yang menyala, masing-masing bergiliran menyatakan “Terima kasih Yesus, untuk…” (encourage anak-anak untuk belajar mengekspresikan secara verbal rasa syukur mereka kepada Tuhan, bukan saja untuk barang-barang yang mereka punya, tetapi juga untuk orang-orang di sekitar mereka. Lalu sebelum makan malam, bersama menyanyikan beberapa lagu Christmas carols. Pasti akan menjadi acara yang sangat berkesan di hati anak sampai mereka dewasa nanti.

Juga ada beberapa ide yang cukup baik untuk kita coba:
* “Happy Birthday Jesus” party (after all, whose birthday is it?)
Setiap anak membawa satu hadiah yang mereka buat secara pribadi buat Bayi Yesus.

* Melibatkan anak dalam projek berbagi kepada yang lebih kurang daripada mereka. Biasanya beberapa bulan sebelum Natal, beberapa organisasi Kristen merilis beberapa projek seperti ini.

-> Anglicare mengadakan projek “TOYS ‘N TUCKER” mengumpulkan sumbangan dari anak berupa mainan, board games, sports equipment, gift cards atau berupa makanan Christmas pudding, kue, makanan kaleng, dsb (visit: http://toysntucker.org.au/)

-> “Samaritan Purse Shoe Box” (visit: https://www.samaritanspurse.org.au/operation-christmas-child/)

-> Anak juga bisa memberi uang yang ditujukan secara spesifik kepada saudara seiman yang berkekurangan. Uang itu nanti akan ditukarkan dalam bentuk ternak (ayam, anak kambing, anak sapi), sepeda, bibit untuk ditanam, dsb (visit: www.gospelforasia.org.au)

Selamat berkreasi! (kz)