Gereja Dan Keluarga, Mari Bergandeng Tangan

TUGAS SIAPA? URUSAN SIAPA?

Sudah tentu orang tua Kristen menginginkan anak-anak mereka beriman kepada Tuhan Yesus dan hidup sebagai anak-anak Tuhan. Tetapi bagaimana hal itu bisa terjadi?

Inilah situasi yang terjadi sehari-hari: papa dan mama pulang ke rumah setelah seharian bekerja, dua-dua lelah fisik dan mental, buru-buru masak dan menyiapkan makan malam, mencuci piring, merapikan rumah yang berantakan, membantu anak menyelesaikan pe-er, mencuci baju,

Setelah semua kerutinan itu akhirnya selesai, mereka ingin memakai waktu yang ada untuk memupuk spiritual anak dengan membaca firman Tuhan dan berdoa, tidak ada lagi energi yang tersisa. Semua teparrr.

Mau mengadakan family devotion di Sabtu pagi? Orang tua tidak siap, merasa tidak mengerti kebenaran Alkitab terlalu dalam, tidak tahu mau bicara apa, mulai darimana, mengatakan apa, untuk dibahas dan dibicarakan bersama anak. Anak tidak tertarik, mau cepat-cepat selesai. Rasa bersalah dalam hati mulai merayap, rasa gagal sebagai orang tua.

Akhirnya orang tua menyerahkan pembinaan spiritual itu kepada Gereja, khususnya Sekolah Minggu untuk membimbing anak mereka beriman kepada Tuhan Yesus dan mengajar mereka bagaimana hidup sebagai anak-anak Tuhan. Tetapi apakah Sekolah Minggu bisa memenuhi tanggung jawab ini dengan system yang ada, dengan hanya dua jam setiap minggunya? Sekolah Minggu umumnya didasarkan kepada model pendidikan Kristen yang mengajarkan hal-hal spiritual dengan format, kurikulum dan struktur yang teratur. Secara tradisi, Sekolah Minggu begitu mengutamakan pemberian informasi, pengetahuan Alkitab. “Ayo kita pelajari, ini yang Alkitab katakan,” “Hafalkan ayat buat dites minggu depan!” “Ayo berdoa. Lipat tangan, tutup mata,” “Ingat, akhir bulan kita ada kontes hafal ayat dan Bible kuis ya!”

Inilah aspek-aspek dalam sistem belajar mengajar di dalam kelas sebuah Sekolah Minggu:

  • Intelektual
  • Dogmatik dan didaktik
  • Menghafal
  • Mengulang
  • Belajar bersama dalam grup
  • Aplikasi dengan motivasi ekstrinsik

Puji Tuhan, Sekolah Minggu sekarang mulai menyadari kelas yang sehat bukan sekedar memberikan dan mencekokkan anak dengan informasi. Kelas yang sehat tidak berhenti sampai anak bisa menjawab dimana letak kota Niniwe, siapa raja Israel yang kedua, sebutkan tujuh gereja yang ada di kitab Wahyu. Mengetahui isi Alkitab dari depan sampai belakang bukan segala-galanya. Jika anak tahu semua data dan informasi Alkitab namun tidak memiliki hubungan pribadi dengan Tuhan Yesus, apa gunanya semua pengetahuan itu? Jika anak tahu, percaya Yesus pasti kelak masuk surga di sana namun tidak mengerti apa artinya hidup di sini, tugas kita belum tuntas.

Maka yang dibutuhkan adalah sebuah formasi spiritual, kerja sama antara gereja dan rumah tangga, dimana aspek-aspek ini memperlengkapi apa yang sudah berjalan dalam sitem belajar mengajar di Sekolah Minggu:

  • Pengalaman mendampingi aspek intelektual
  • Subyektif dan intuitif mendampingi aspek dogmatik dan didaktik
  • Merenungkan mendampingi aspek menghafal
  • Merefleksi mendampingi aspek mengulang
  • Pendekatan pribadi mendampingi aspek belajar bersama dalam grup
  • Meminta respons dengan motivasi instrinsik mendampingi aplikasi dengan motivasi ekstrinsik

Perjalanan iman bukan sesuatu yang terjadi hanya pada hari Minggu. Perjalanan iman adalah pengalaman perjalanan hidup. Gereja dan rumah sama-sama punya peran.

God’s plan bagi pertumbuhan spiritual anak melibatkan komunitas orang percaya. Dalam Perjanjian Lama, keluarga dan kehidupan masyarakat  berpusat di sekitar perayaan akan apa yang Allah telah lakukan bagi mereka (Ulangan 6:4-6, 11:18-20, 6:20-25). Anak berada di tengah-tengah perayaan itu. Orang tua adalah guru utama mereka, dan ruang kelas adalah lingkungan yang aktif, multi-sensory dimana mereka tinggal.

Entahkah mereka menyadari atau tidak, sesungguhnya orang tua jauh lebih berperan mempengaruhi pertumbuhan iman anak-anaknya daripada apa yang guru atau program gereja lakukan.

Gereja dan rumah tangga perlu bergandeng tangan dalam kehidupan anak. Apabila anak itu menyaksikan kebenaran firman Tuhan yang mereka pelajari di Sekolah Minggu teraplikasi dan dijalankan oleh orang tua mereka, maka mereka percaya apa yang diajarkan itu benar adanya. Ketika perintah Tuhan “hendaklah kamu saling mengasihi” seolah abstrak, orang tua dapat memperlihatkan bagaimana mengaplikasikannya secara konkrit di rumah. Ketika “ampunilah seorang dengan yang lain” seolah mustahil, adakah contoh yang lebih baik daripada family relationships?

Orang tua dan Guru Sekolah Minggu saling berbagi tujuan yakni melihat anak mengembangkan hubungan pribadinya dengan Yesus dan membimbingnya bertumbuh semakin hari semakin menyerupai Tuhan. Ini bukan perkara siapa mengerjakan apa, ini adalah kerja sama dari dua belah pihak, kerja sama Gereja dan Rumah Tangga.(kz)