Fokus Kepada Hati

SENI ASUH ANAK

“Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan”(Amsal 4:23).

Alkitab senantiasa mengingatkan bahwa hati adalah pusat yang mengontrol hidup. Segala sikap, tindakan, perkataan dan perbuatan datang dari orientasi hati kita (Lukas 6:45). Karena itu perilaku bukan menjadi isu yang paling utama. Isu yang paling utama adalah apa yang ada di dalam hati, masalah hati.

Orang tua seringkali terganggu dengan perilaku anak. Tidak sopan, teriak-teriak, pukul anak lain, merusak barang. Kita menjadi kesal, malu dan merasa gagal sebagai orang tua, tidak mampu mendidik anak.

Lalu apa tindakan kita? Kita berusaha mengoreksi dan merubah perilakunya. Menjadikannya anak yang sopan, bicara tidak teriak-teriak, tidak boleh pukul teman, jangan merusak barang. Itu yang menjadi fokus kita. Dan itu kita usahakan dengan segala cara: dengan bujukan, dengan pujian, dengan hadiah, dengan marah-marah, dengan pukulan. Satu dua kali cara itu berhasil. Tetapi seperti candu, dosisnya makin hari harus makin banyak. Lebih banyak bujukan, lebih banyak pujian, lebih banyak hadiah, lebih banyak marah-marah, lebih banyak pukulan.

Sejujurnya, strategi seperti itu bukan jawabannya, karena bukan itu masalah utamanya. Ingatkan sekali lagi, masalah utamanya adalah hati. Perilakunya merefleksikan apa yang ada di dalam hati. Koreksi terhadap perilaku tanpa koreksi kepada hati tidak akan jalan, karena kita membuat prosesnya terbalik. Kita akan menjadi frustrasi, cape hati, marah, rasa bersalah karena semua usaha kita tidak mendatangkan hasil yang memuaskan. Sebaliknya anak tumbuh menjadi manipulator cilik yang terus menuntut reward dan hadiah untuk “well behaved” tidak bikin malu orang tua, atau secara ekstrim menjadi remaja yang pemberontak dan melukai hati orang tua yang tidak mampu mengontrolnya.

Fokus disiplin kita bukan koreksi terhadap perilaku anak, tetapi koreksi kepada yang tersembunyi di dalam hatinya. Yesus mengatakan, dari pohonnya keluar buahnya. Pohon yang baik menghasilkan buah yang baik (Lukas 6:43-44).

Mari sekarang kita melihat dari perspektif yang berbeda.

Ini skenario yang lazim terjadi saat dua anak atau lebih berkumpul di satu tempat. Mereka bermain, lalu beberapa menit kemudian anak berebut mainan yang sama. Dua-dua tidak mau mengalah. Tarik-tarikan, sambil berteriak, lalu yang lebih kuat berhasil merebut, yang lebih lemah menangis, atau lalu memukul anak yang merebut mainan itu.

Bagaimana respons kita?

Biasanya ini yang kita lakukan: kita ambil mainan itu lalu kita tanya, “Siapa yang duluan [pegang mainannya]?” Dua-dua teriak masing-masing berusaha lebih keras, “Saya yang duluan! Saya yang duluan!” Kita jadi bingung, langkah apa yang harus kita ambil selanjutnya? Kita cari jalan kedua, “Kakak mengalah ya, kasih adik main dulu, boleh?” Kakak menjerit, “Tidaaaakkkk! Kenapa selalu aku harus mengalah?!” “Hmm, kalau begitu, adik mengalah ya, kasih kakak main dulu?” Adik mengamuk, “Huuoooaahhh! Tidak mau!” Akhirnya dengan asumsi “demi keadilan bagi dua belah pihak,” kita ambil mainan itu, lalu masing-masing kita bujuk untuk mengambil mainan yang lain. Problem selesai. Benarkah? Kalau ini adalah isu keadilan, dua-dua anak akan murka besar karena merasa kita sudah bertindak sangat tidak adil kepada dia.

Ini bukan isu keadilan, ini adalah masalah hati.

Dua-dua anak memperlihatkan hati yang mementingkan diri sendiri. Dua-dua sedang berkata, “Aku tidak peduli terhadap kamu. Aku hanya peduli dengan diriku sendiri. Aku mau mainan ini. Kebahagiaanku terletak pada mainan ini. Aku harus mendapatkannya, dengan cara apapun!”

Ini yang menjadi prihatin kita sebagai orang tua.

Dalam keluarga Kristen, fokus utama kita bukan menciptakan anak yang “well behaved” dan membuat kita bangga, tetapi adalah Injil Yesus Kristus. Sebagai orang tua, kita membimbing anak mengerti apa yang ada tersimpan di dalam hatinya, bukan memarahi, menegur, mencela dosa dan kesalahannya, tetapi mengapa hal itu bisa terjadi. Ini masalah hati. Bimbing anak mengerti dirinya berdosa dan membutuhkan pengampunan dan hidup baru di dalam Tuhan. Hanya Tuhan yang bisa merubah hatinya menjadi anak yang taat dan takluk kepadaNya, yang seumur hidupnya memuliakan Tuhan senantiasa.

Dengan demikian, perspektif kita akan berubah, tujuan kita akan berubah, metode kita akan berubah, strategi disiplin kita akan berubah. Membawa hati anak takluk kepada Kristus bukan proses instant. Ini adalah proses yang panjang, seperti seorang petani yang menanam sebuah pohon, seperti seorang arsitek yang sedang membangun rumah, seperti seorang pemahat di depan sepotong kayu yang belum berbentuk. Sebuah proses yang panjang, membutuhkan kesabaran dan bijaksana, fokus yang tidak berubah.

Gampang kita menjadi lemah, patah semangat, merasa tidak berdaya, merasa gagal dan tidak mampu menyelesaikan tugas ini. Karena itu kita senantiasa berdoa kepada Tuhan, Sumber hidup dan Sumber kekuatan kita, Sumber segala bijaksana, yang akan menolong dan memampukan kita menjadi orang tua yang membesarkan anak-anak kita di dalam Tuhan.(kz)

 

(sumber: Shepherding a Child’s Heart, Tedd Tripp)