Cita-Citaku: Jadi Orang Sukses

“Nak, kalau sudah besar, mau jadi apa?”
Tidak ada orang tua yang bercita-cita anaknya kalau sudah besar jadi “loser” di dalam masyarakat. Semua orang tua bercita-cita anaknya kalau sudah besar menjadi orang yang sukses, yang bisa membuat mereka bangga dan bahagia. Maka tidak heran berbagai upaya dilakukan untuk mencapai hal itu. Bukan saja orang tua berlomba-lomba memasukkan anaknya ke sekolah elite, sekolah internasional, sekolah anak berbakat, dan sekolah apa saja yang bisa menjamin anaknya lulus menjadi orang yang sukses, orang tua akan menambah les ini dan itu tanpa menghitung lagi berapa besar biaya yang dikeluarkan, semua dianggap sebagai investasi masa depan. Mari kita berhenti sejenak dan berpikir dalam-dalam, apakah itu yang Tuhan mau kita lakukan bagi anak-anak kita?

APA SEBENARNYA DEFINISI “SUKSES” ITU?
Kita bilang, kalau sudah besar kita ingin anak kita menjadi orang yang sukses. Mari kita pikirkan, apa yang kita definisikan dengan kata “sukses” itu? Apakah: SUKSES = KAYA? Apakah: SUKSES = TERKENAL? Apakah: SUKSES = PUNYA KUASA DAN JABATAN?

Definisi yang kita buat sesungguhnya akan mengarahkan kemana kita menuntun anak kita.
Jangan-jangan kita ikut terseret dan terbawa-bawa dengan nilai dan lifestyle yang berlaku di dalam masyarakat tanpa kita dengan peka menyaring mana yang sepatutnya kita lakukan, sebagai orang tua Kristen, di dalam sebuah keluarga yang mengaku Yesus Kristus adalah Tuhan dan Juruselamatnya.

VALUE DARI HIDUP YANG SEKULER
Hati kita begitu mudah tertipu dan tergoda oleh filosofi dunia sekuler yang kosong dan hampa (Kolose 2:8). Dia merayap masuk ke relung-relung rumah dan hati kita, seperti udara yang kita hirup tanpa menyadarinya. Seringkali bahkan keluarga Kristen yang tulus ingin menjalankan kehendak Tuhan tidak menyadari nilai dan value dunia yang menjadi tolok ukur dan patokan mereka membesarkan anak. Dengan naif kita menuruti saran-saran dari orang-orang yang dianggap “expert” sebagai edukator yang mengajar kita bagaimana hidup yang seharusnya. Dan kemudian media elektronik mensosialisasi kultur kita.

DUNIA SEKULER SANGAT MENGAGUNGKAN MATERIALISME.
Coba masuk ke toko dengan baju yang lusuh dan sederhana, pegawai toko akan memandang sebelah mata kepadamu. Tetapi di hari lain, coba masuk ke toko yang sama dengan baju dan asesori yang bermerk, pasti engkau akan dilayani dengan penuh hormat oleh pegawai toko yang sama. Itu hanya salah satu contoh bagaimana dunia sekuler sangat mengagungkan materialisme.
Buka majalah di pesawat, apa yang ditawarkan? Jam tangan mewah, perhiasan mutiara, berlian yang berkilauan, baju-baju, tas, parfum designer ternama, tempat-tempat liburan dan hotel mewah. Semua itu perlu uang yang banyak untuk mendapatkannya.

Maka kita tergoda, kita bekerja sekeras-kerasnya untuk mendapatkan uang yang bisa kita tukarkan dengan semua itu. Kita terkagum-kagum kepada orang-orang yang sudah mencapai level “UP” yang bisa memperoleh semua itu. Dan jangan-jangan kita tergoda untuk berhutang supaya bisa mendapatkan semua itu. Dan kalau kita tidak bisa mencapai dan meraih semua, kita merasa diri sebagai “loser” dan kita akan berusaha sekuat tenaga supaya anak kita tidak seperti itu.

Jangan sampai kita juga mendefinisi kata “LOSER” atau gagal itu semata-mata dari perspektif materialisme.

MENJADI ORANG SUKSES DI MATA ALLAH
Mari kita kembali kepada firman Tuhan yang memimpin kita kepada perspektif yang benar bagaimana memahami hidup yang sukses dari pandangan Tuhan Allah kita. Tuhan memberi kita hidup, memberi kita keluarga dan anak-anak, memperlengkapi kita dengan segala perlengkapan – bakat, karunia, kemampuan, kecerdasan, ketrampilan, karakter, kesempatan, semua yang kita perlukan di dunia ini, untuk apakah sebenarnya? Sebagai orang percaya yang mengerti apa makna hidup yang sesungguhnya di dalam Tuhan, kita dipanggil untuk memuliakan Dia dalam segala aspek hidup kita.

Kekayaan tidak boleh menjadi tolok ukur keberhasilan. Kekayaan tidak boleh menjadi tempat kita bersandar. Kalau kita memiliki banyak harta, entah itu warisan, entah itu karena gaji dan pemasukan, mari kita melihat kekayaan menjadi resources yang Allah percayakan untuk kita kelola dengan bijaksana dan memuliakan Tuhan melaluinya.

Demikian kita juga dipanggil membimbing anak-anak kita dengan konsep seperti itu. Bawalah mereka untuk mengembangkan segala bakat, karunia, kemampuan, kecerdasan, ketrampilan, karakter dan kesempatan yang mereka miliki dengan mengerti bahwa semua itu Tuhan beri agar mereka menjadi “man of God” manusia-manusia Allah, yang mengerti menempatkan Tuhan di atas materi dan kekayaan (baca: 1 Timotius 6:7-19).(kz)