Berdosakah Kita Mengeluh?

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Tema: Berdosakah Kita Mengeluh?
Nats: Ratapan 3:22-57

“Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmatNya, selalu baru tiap pagi. Besar kesetiaanMu! TUHAN adalah bagianku, kata jiwaku, oleh sebab itu aku berharap kepadaNya. TUHAN adalah baik bagi orang yang berharap kepadaNya, bagi jiwa yang mencari Dia” (Ratapan 3:22-25).

Sebagai anak-anak Tuhan jikalau kita diijinkanNya memasuki tahun yang baru, kiranya setiap kita memasukinya bukan dengan apa yang menjadi planning, apa yang menjadi rencanaku, apa yang akan aku raih, apa yang menjadi target dan bagaimana saya mencapainya. Tetapi kita harus memulai tahun yang baru dengan satu sikap hati karena kita menengok ke belakang tahun yang lampau dan kita telah menyaksikan dan mengetahui kalau bukan Tuhan yang pimpin, kalau bukan Tuhan yang berjalan di depan kita, apa yang kita rencanakan semua akan menjadi sia-sia adanya. Maka kalimat itu muncul dalam pikiran saya: never walk alone, tidak pernah berjalan sendiri. Mari kita bawa hidup kita berjalan bersama Tuhan. Tuhan yang menjadi pusat hidup kita. KehadiranNya ada bersama kita, mengelilingi kita, di atas kita, di samping kita, di depan kita, di belakang kita. Tuhan memenuhi kita, Tuhan menggembalakan dan memimpin hidup kita.

Tetapi seringkali kalimat-kalimat ini hanya menjadi kalimat-kalimat yang “cliche” saja dan pada realitanya yang memenuhi pikiran kita adalah this is MY journey, ini adalah perjalanan-KU dan kita mau Tuhan beserta dengan kita tetapi Dia, tetapi bukan memimpin di depan melainkan kita taruh di samping, sebagai asisten pribadi yang memegang agenda kita dan tugasNya adalah memberi approval terhadap apa yang kita mau lakukan. Kita memperlakukan Tuhan seperti itu. Tetapi Tuhan adalah Tuhan, Tuhan tidak pernah mau dijadikan dan diperlakukan seperti itu. Ia akan bilang Tidak! Aku akan berjalan di depanmu. Aku akan pimpin engkau. Aku akan  menggembalakan engkau.

Kalau kita mau Tuhan pimpin dan hari yang pertama Tuhan pimpin perjalanan hidup kita masuk ke dalam lembah kekelaman, bagaimana sikap dan respons hati kita? Sepanjang minggu saya merenungkan hal ini. Ketika kita tahu Allah mengatur, Allah mengontrol, Allah memimpin hidup kita dalam kekelaman dan kegelapan yang paling gelap sekali pun, sikap kita adalah rendah hati, kita beriman, kita berdoa, kita bersabar, kita percaya kepadaNya. Namun kita manusia biasa, kita terdiri dari darah dan daging yang begitu terbatas adanya, kita berseru dan menangis. Maka pertanyaan saya, berdosakah kita menyatakan keluhan dan ratapan kepada Tuhan? Jawabannya ya dan tidak. Ya, kita berdosa jikalau kita mengeluh, kita complain, kita menyatakan cetusan kemarahan yang lahir dari sikap egoistis, kita hanya mau semua hal yang baik bagi diri kita dan kita merasa kita tidak berhak mendapatkan kesulitan dan tantangan. Kita marah dan complain kepada Tuhan karena kita merasa harus mendapatkan semua janji-janji Tuhan yang baik dan kita tidak mau hal-hal yang tidak menyenangkan dan tidak baik terjadi kepada kita. Maka di situ keluhan dan ratapan kita tidak mendatangkan hormat dan mulia bagi Tuhan. Di situlah kita berdosa kepada Tuhan karena kita menyatakan keluhan itu tidak dengan iman kepada Tuhan. Yang kedua, kalau kita tidak pernah meminta Tuhan mengontrol, Tuhan mengatur dan memimpin hidup kita, kita tidak punya hak untuk mengeluh kepada Dia. Kalau seluruh hidup kita itu kita semua yang atur dan kontrol, pada waktu tantangan dan kesulitan datang, kita tidak boleh marah kepada Tuhan.

Namun tidak semua keluhan dan ratapan itu berdosa. Jikalau kita bilang sebagai orang Kristen berdosalah kita menyatakan keluhan, kenapa ada satu kitab dalam Alkitab yang namanya “Ratapan”? Lima pasal kitab Ratapan seluruhnya berisi ratap kesedihan dan keluhan yang begitu banyak kepada Tuhan. Hanya pasal 3 di tengah yang berisi pengharapan tetapi pasal 1, 2, 4 dan 5 adalah ratapan air mata dan keluhan emosi yang dalam luar biasa. Ini adalah ratapan yang dinyatakan oleh umat Tuhan yang keluar dari negerinya menuju ke Babel menjadi orang-orang buangan di sana. Di tengah perjalanan itu air mata mereka tidak habis-habisnya mengalir mengalami segala kesulitan dan penderitaan yang dahsyat itu. Pada waktu kita membaca 150 mazmur dalam kitab Mazmur, tahukah sdr bahwa tidak semua berisi puji-pujian namun banyak mazmur-mazmur pujian itu dinyatakan dengan air mata dan hampir dua pertiga daripadanya adalah mazmur-mazmur ratapan adanya?

“Dari jurang yang dalam aku berseru kepadaMu, ya TUHAN! TUHAN, dengarkanlah suara permohonanku! Siang dan malam aku berseru-seru kepadaMU, sendengkanlah telingaMu kepada teriakku, sebab jiwaku kenyang dengan malapetaka. Mengapa ya TUHAN, Kau buang aku, Kau sembunyikan wajahMu daripadaku?” Ini hanya beberapa dari keluhan-keluhan dan seruan teriakan yang begitu besar dari begitu banyak anak-anak Tuhan dalam mazmur-mazmur ratapan.

Kenapa mengeluhnya kepada Tuhan? Kita mengeluh kepada Tuhan justru karena kita tahu Tuhan itu maha kuasa dan maha baik, yang mengatur dan memelihara hidup kita, maka kita mengeluarkan keluhan kepadaNya karena kita beriman seperti itu namun kita melihat realita hidup kita begitu berbeda. Apa yang kita imani kontras dengan apa yang kita alami. Itulah sebabnya kita menyatakan keluhan dan air mata kepadaNya. Kita bukan mempersalahkan situasi, bukan mempersalahkan orang yang berbuat tidak adil dan yang memperlakukan hal yang jahat kepada kita. Tetapi semua cetusan emosi, ratapan dan keluhan itu kita arahkan kepada Tuhan karena itulah satu-satunya cara Tuhan menyembuhkan kita. Kita menyatakan keluhan itu kepada Tuhan bukan karena ketidak-percayaan, tetapi di dalam satu pernyataan tidak ada tempat yang lain saya mendapatkan pertolongan dan kekuatan selain daripada Tuhan sendiri. Dia akan menyembuhkan kita. Kalau kita simpan dan suppress segala kesulitan dan tekanan itu kepada diri sendiri, justru akan membahayakan emosi kita secara tidak sehat dan satu kali dia akan meledak dan menghasilkan destruksi yang besar. Seperti kalau kita membuka kran air dan menaruh selang tetapi menutup ujung selang itu sehingga air tidak bisa keluar, apa yang terjadi? Yang terjadi adalah air itu akan berusaha keluar mungkin lewat bocoran yang ada di sepanjang selang, atau ketika tekanan air dari kran semakin kuat, dia akan meletus explode dengan kekuatan yang sangat besar. Kenapa hatimu penuh dengan kepahitan dan kebencian? Kenapa engkau gampang marah kepada orang untuk hal-hal yang sepele? Kenapa emosi cepat meledak untuk hal-hal yang mengganggu conveniency-mu? Kenapa engkau mudah irritated, annoyed, mengamuk kepada orang-orang di sekitar hanya untuk sesuatu urusan kecil saja? Itulah yang terjadi ketika kita memiliki emosi yang tidak sehat yang karena kita tidak pernah membereskannya bersama Allah dan yang kedua, pada waktu kita tutup saluran itu dengan menjauhkan diri kita dari Tuhan dan mencari penghilang pain and loss itu dengan “painkiller palsu” yang diberikan oleh dunia ini.

Saya tidak meragukan begitu banyak orang mengalami pressure dalam hidup mereka bekerja. Kita mendengar orang yang tidak kuat menanggung pressure akhirnya bunuh diri dengan overdose, entah itu selebriti, bintang film, politisi, orang yang super kaya dan terkenal atau ibu rumah tangga biasa. Dari luar tidak kelihatan orang-orang ini punya problem, karirnya sukses, uang dan hartanya begitu banyak, semua hal yang bisa dilihat di atas permukaan justru diidam-idamkan banyak orang. Tetapi siapa yang tahu setiap malam dia tidak pernah bisa tidur dengan nyenyak dan harus terus bergantung dengan obat antidepressant dan painkiller sampai akhirnya tubuhnya tidak kuat menanggung dan overdosis? Bukan hanya orang-orang yang kita bilang “duniawi” yang bisa jatuh kepada situasi seperti itu, tidak sedikit hamba-hamba Tuhan yang sangat terkenal dan orang-orang yang berkecimpung dalam pelayanan hidupnya “breakdown” dan menghasilkan begitu banyak kesedihan bagi orang-orang di sekitarnya. Itu semua “leaking” yang terjadi dari unhealthy spiritual yang tidak pernah dia mau bereskan bersama Tuhan. Orang lari kepada obat penenang, orang lari kepada pornografi, orang lari kepada drugs dan minuman keras, tanpa sadar mereka sedang lari kepada painkiller palsu yang cepat atau lambat akan menghancurkan hidup mereka.

Kitab Ayub ada 42 pasal, tetapi umumnya orang hanya membaca tidak lebih daripada 3 pasal saja, yaitu pasal 1 dan 2 lalu skip ke pasal 42. Kenapa pasal 3 – 41 dilompat? Karena merasa pasal-pasal itu begitu panjang sekali, kita mau konflik yang ada di pasal 1 dan 2 langsung dibereskan di pasal 42. Pasal 1 dari kitab Ayub bicara mengenai realita hidup yang terbalik 180 derajat di luar dari apa yang pernah dibayangkan dan dimimpikan orang. Dari seorang milyarder yang terkaya di dunia, dalam satu hari Ayub kehilangan seluruh hartanya, seluruh anak-anaknya mati, dan bahkan pada akhirnya kesehatannya pun hilang diganti dengan penyakit kulit yang begitu menjijikkan. Total kesulitan yang mungkin menimpa kepadamu, ada pada Ayub. Namun di tengah semua malapetaka itu Ayub tetap menyatakan kalimat yang begitu indah, “Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN” (Ayub 1:21). Di pasal 42 kita tahu akhirnya Tuhan merestorasi keadaan Ayub dan bahkan memberi dua kali lipat daripada yang Ayub miliki sebelumnya. Tetapi kenapa perlu ada pasal 3 – 41? Pasal-pasal itu harus ada karena itulah yang menyembuhkan konflik emosi dan spiritual Ayub. Ada kemarahan, ada rasa tidak fair, bagaimama Ayub harus menghadapi semua tuduhan yang jahat kepadanya, keadaan yang begitu tersendiri di situ dia harus menghadapi problem dan situasi yang tidak kelihatan ada jalan keluar. Bahkan Ayub merasa doa-doa yang dia bawa ke hadapan Tuhan pun tidak sampai ke hadapan Tuhan. Maka di sinilah indahnya Tuhan menyembuhkan dan merestorasi Ayub. Bagi Tuhan memberi kembali kepada Ayub semua harta yang hilang, itu urusan mudah. Bagi Tuhan rumah terbakar diganti dengan rumah yang lebih besar, tidak masalah.

Tetapi ada dua hal yang Tuhan mau bereskan yaitu aspek internal dari hati Ayub sebelum merestorasi aspek eksternalnya. Yang pertama merubah Ayub yang sombong dan self-righteous menjadi rendah hati di hadapan Tuhan, itu yang Tuhan pulihkan; lalu yang kedua, Tuhan suruh Ayub datang kepada 3 orang temannya yang jahat kepadanya itu dan mendoakan mereka supaya Tuhan memulihkan mereka. Kita pasti akan disembuhkan pada waktu kita bawa semua keluhan dan air mata kita kepada Tuhan dan sampaikan kepada Dia. Di situ kita akan sembuh karena kita tidak akan marah kepada orang dan marah kepada situasi. Sehingga kalau kita tidak mencari kesembuhan dari Tuhan, kita akan mencari kesempatan dan waktu kapan kita bisa membalas dendam kepada orang yang berbuat jahat kepada kita. Jikalau ada tekanan, ada kesulitan, ada air mata, kalau engkau merasa ada hal-hal yang unfair terjadi kepadamu, bawa semua itu kepada Tuhan hari ini. Jangan pernah mencari painkiller yang palsu dalam hidupmu. Jangan lari daripada kesulitanmu, jangan pikir persoalan dengan isterimu menjadi hambatan dalam hidupmu akhirnya engkau pergi mencari wanita lain. Itu tidak akan pernah menjadi solusi dalam hidupmu. Jika ada kesulitan dan tantangan di dalam hidupmu, engkau kemudian bereaksi dengan kebencian, kepahitan dan kemarahan kepada orang-orang yang dekat di sekitarmu dan kepada orang-orang yang memperlakukan hal-hal yang buruk kepadamu, engkau tidak akan pernah disembuhkan.

Yang kedua, kenapa ada mazmur-mazmur keluhan dan ratapan di dalam Alkitab? Tujuannya supaya kita “pay attention” bukan hanya kepada apa yang ada di atas permukaan yang dilihat orang, tetapi kepada apa yang tersimpan dan tersembunyi di dalam jiwa. C.S. Lewis mengatakan Allah berseru dengan keras di telinga kita waktu kita melihat penderitaan dan kesulitan orang lain.

Sayang sekali gereja terlalu miskin memahami penderitaan, air mata dan kesulitan orang. Banyak orang bergereja hanya mau hura-hura, hanya mau dibikin senang, di-entertained. Siapa bilang, bahwa orang datang ke gereja harus digembirakan dan di-entertain? Kenapa khotbah harus terus-menerus berisi humor-humor dan hal-hal yang menyukakan telinga dan membuat yang mendengar merasa baru terberkati kalau pendeta khotbah seperti itu? Lalu kemudian kita harus datang dengan senyum, harus memakai baju-baju bagus dengan alasan ‘kan namanya mau menghadap Tuhan’? Akhirnya di tengah kedukaan kita tidak ke gereja karena tidak mau orang awkward dan canggung melihat kita? Siapa yang melarang kita di dalam sakit kita tidak datang ke gereja? Siapa yang melarang kalau kita tidak punya baju yang baik lalu kita tidak boleh ke gereja? Ibadah tidak boleh pincang, ibadah tidak boleh “not in the balance.” Kenapa kita mau orang harus pasang muka senang dan penuh sukacita dan kita menjadi awkward waktu melihat orang menyanyi dengan air mata mengalir di pipinya? Mungkin engkau tidak bisa menolong orang tetapi pada waktu kita tahu ada orang yang dalam kesulitan, melihat dia datang ke gereja tidak sempat pakai make up dan mungkin sedikit lusuh belum ganti baju, di situ mungkin membuat kita pay attention mungkin ada beban berat sedang ditanggung oleh orang itu. Jangan kita terjatuh dengan sikap sinis, “Huh! Ke gereja koq bajunya lusuh?” Tidak ada orang yang boleh melarang orang yang memakai baju lusuh berbakti kepada Tuhan. Tidak ada yang boleh kasih peraturan ke gereja itu harus seperti apa. We need to pay attention dengan seluruh aspek dari pergumulan hidup saudara kita. Di situlah kita menjadi satu komunitas yang indah. Kita datang ke gereja bukan untuk mencari pertemanan, kita datang untuk meng-encourage satu sama lain makin hari menjadi semakin serupa dengan Kristus. Maka mata kita harus senantiasa pay attention. Yakobus dengan keras menegur pada waktu ibadah gereja mula-mula datanglah orang-orang kaya yang berpakaian mewah duduk di kursi paling depan, sedangkan orang-orang yang miskin sederhana disuruh duduk di belakang, sikap memandang muka seperti itu adalah hal yang jahat (Yakobus 2:1-4).

Yang ketiga, Ratapan 3:25-26 berkata, “TUHAN itu baik bagi orang yang berharap kepadaNya dan bagi jiwa yang mencari Dia. Adalah baik untuk menanti dengan diam pertolongan TUHAN.” Berdiam diri, berteduh, menanti dengan sabar pertolongan Tuhan di dalam menjalani itu semua. Pada waktu sesuatu hal terjadi kita cenderung cepat sekali mau cari jalan keluar. Kita langsung berpikir kalau situasinya seperti ini, langkah apa saja yang harus kita ambil.  Kalau begini, stepnya begini, stepnya begini, stepnya begini. Karena mungkin terbiasa bermain catur lalu kita pikir hidup kita juga seperti permainan catur yang bisa kita atur langkah-langkahnya. Tetapi sesudah itu kita akan end up begitu overwhelmed dengan hal itu semua. Akhirnya kita merasa begitu tidak berdaya, lalu kita mulai mempersalahkan keadaan, kenapa kita dilahirkan dari keluarga yang terbatas ekonominya, kenapa hidup orang lain tidak sesulit hidupku, dsb. Akhirnya kita akan menjadi marah karena pikiran kita dipenuhi oleh semua itu dan kita tidak berdaya apa-apa. Itulah sebabnya firman Tuhan mengatakan kita hanya bisa datang kepada Tuhan, berdiam di situ dan membiarkan Tuhan yang take control. Kalau Tuhan pimpin biarlah kita taat Tuhan pimpin ke depan, meski pun pada waktu Tuhan pimpin Dia pasti akan mengeluarkan kalimat yang engkau dan saya kurang suka, “One step at a time, my child. I will lead you one step at a time.” Tuhan pimpin hidup kita seperti itu. Rendah hati adalah sikap yang muncul pada waktu kita mau taat berjalan bersama Tuhan one step at a time. Jangan kita cepat-cepat mau mengambil langkah sendiri.

Waktu Abraham berumur 75 tahun, TUHAN berfirman kepadanya untuk memberinya keturunan yang seperti bintang di langit dan pasir di laut banyaknya. Abraham percaya janji Tuhan itu ya dan amin, namun di dalam realitanya apa yang dia imani mengalami benturan dengan apa yang dialami. Satu tahun menanti, no problem. Dua tahun, masih oke. Setelah tiga tahun hati mulai kuatir. Tahun ke empat iman mulai goyah. Tahun ke lima sulit untuk bisa berdoa menengadah ke atas. Tahun ke sepuluh, tahun ke sebelas Abraham menanti janji Tuhan itu belum ada tanda-tanda tergenapi. Akhirnya Abraham tergoda untuk mencari solusinya sendiri dan mengambil Hagar untuk melahirkan Ismael. Menanti 11 tahun lamanya bukanlah hal yang gampang dan mudah. Maka step yang kita ambil adalah step yang kita rasa logis dan masuk akal. Namun Tuhan berkata kepada Abraham, bukan anak ini, bukan Ismael yang menjadi anak yang Aku janjikan tetapi anak yang lahir dari Sara adalah anak yang Aku janjikan. Tunggu berapa lama lagi? Tunggu 14 tahun lagi barulah Ishak lahir. Kita baca kisah ini hanya tiga empat pasal saja, kita lupa janji itu baru tergenapi setelah 25 tahun. Itulah ikut Tuhan one step at a time. Kita tidak tahu berapa panjang dan berapa lama, tetapi jangan kita gelisah dan takut. Kita bisa di-overwhelmed oleh banyak hal, bagaimana kalau begini, bagaimana kalau begitu, apa hasilnya, dst. Kadang-kadang kita hanya bisa berdiam di hadapan Tuhan dengan kelu, tidak bisa mengatakan apa-apa. Kita hanya bisa berserah kepada Tuhan kiranya Dia memimpin kita kepada jalan yang kita belum tahu kemana. Allah tidak pernah bersalah dalam pimpinanNya dan selalu indah dan baik bagi kita.

Rendah hati berarti kita tahu siapa kita. Kata ‘kerendahan hati’ dalam bahasa Inggris adalah “humility” yang berakar dari bahasa Latin “hummus” atau dari tanah asalnya. Maka pada waktu kita rendah hati di hadapan Tuhan artinya kita sadar kita hanya dibentuk dari tanah liat belaka. Dengan dibentuk dari tanah liat kita tahu kita adalah manusia yang terbatas adanya. Terima fakta realita itu bukan dengan hati yang gelisah dan bukan dengan marah, bukan dengan kecewa, tetapi mengakui hanya Tuhan yang tidak terbatas yang bisa memimpin dan menyertai kita tahun ini. Dan biar firman ini memberi kekuatan bagi kita.

Heavenly Father, teach me to trust You, even when I do not know where You are going.
Help me to surrender and not turn inward into myself out of fear. The storms and winds of life, o Lord, blow strongly all around me. I cannot see in front of me. Sometimes I feel like I am going to drown.
Lord, You are centred, utterly at rest and peace.
Open my eyes that I might see You are with me on the boat. I am safe.
Awaken me, Jesus, to Your presence within me, around me, above me, and below me.
Grant me grace to follow You into the unknown, into the next place in my journey with You.
In Your name, Amen.
(kz)