Ayah Dan Anak Perempuannya

Momen pertama seorang ayah menatang sosok bayi perempuannya yang begitu cantik, mungil dan rentan menjadi momen yang tidak akan lepas dari benaknya. Perasaan yang begitu kuat untuk melindungi dan memprotek bayi yang tidak berdaya ini hingga tumbuh dewasa dan satu kali kelak akan dituntunnya berjalan menuju altar pelaminan, itulah impian dan janji seorang ayah. Saat ini puterimu mungkin masih kecil, “Daddy’s little girl,” tetapi seiring waktu berjalan dia akan tumbuh menjadi seorang wanita. Sebagai ayah, adakah engkau menjadi sosok figur yang akan membimbingnya menemukan seluruh potensi yang Tuhan Allah berikan baginya? Adakah engkau mengerjakan panggilan Tuhan bagimu, yang bersama isterimu membangun karakter dan menumbuhkan kerohanian puterimu, sejak dari bayi hingga melewati masa remaja yang penuh gejolak memasuki dunia orang dewasa? Apakah engkau menjadi sumber hikmat dan bijaksana baginya memilih teman dan pasangan hidup yang benar, memilih karier dan masa depan dan mempersiapkannya memasuki pernikahan dan membina keluarganya?

Dalam buku berjudul “Daddy’s Girl, Mama’s Boy,” penulisnya James Rue dan Louise Shanahan mengatakan hubungan antara ayah dan anak perempuannya serta ibu dengan anak lelakinya merupakan faktor yang sangat penting bagi sang anak di dalam keputusan memilih pasangan hidupnya di masa mendatang. Seorang anak perempuan yang memiliki ayah yang penuh kasih dan perhatian cenderung akan mencari pasangan yang memiliki kepribadian dan karakteristik yang serupa dengan ayahnya. Demikian juga bagaimana peran seorang ayah terhadap puterinya akan berefek sampai seumur hidupnya. Bahkan terlebih lagi sikap dan tindakanmu sebagai ayah di dunia ini akan mempengaruhi pandangannya terhadap Bapa Surgawi. Satu tanggung jawab yang tidak ringan bagi seorang ayah, sesungguhnya.

Yang menyedihkan di dalam dunia khususnya dunia Barat, figur seorang ayah yang ideal sudah amat jarang ditemukan dalam masyarakat yang sekular. Dalam buku “Fatherless America,” David Blankenhorn mengatakan hanya 61.7% anak yang hari ini hidup bersama ayah biologisnya. Banyak anak dibesarkan di dalam rumah yang tidak memiliki ayah, yang absent secara fisik, mental dan spiritual dalam hidup anak-anaknya. Tidak adanya figur ayah yang tegas sekaligus lembut, kuat sekaligus penuh kasih dan perhatian, serius sekaligus hangat dan mudah diajak bicara dan bermain akan menghasilkan kekosongan yang mendalam pada jiwa anak-anak ini yang senantiasa akan mendorong mereka mencari pemenuhannya pada tempat-tempat yang lain, yang tidak jarang bahkan akan menghancurkan mereka. Tidak sedikit dari mereka jatuh kepada kriminalitas, dunia pelacuran, obat-obatan, serta berbagai aspek amoral sekadar memenuhi kekosongan ini.

KONEKSI EMOSI BERSAMA AYAH

Seorang anak perempuan memiliki keinginan yang sangat intense untuk dekat dan erat dengan “pria pertama” yang memasuki kehidupannya sejak dia lahir di atas muka bumi ini, ayahnya. Jika figur ayah ini absent dari hidupnya, entahkah karena ayah itu meninggalkan dia secara fisik, ataupun ayah itu ada secara fisik namun tidak pernah terlibat dalam segala aspek mental, emosional dan spiritual dalam hidupnya, dia akan hidup di dalam satu kekosongan yang tidak mudah, bahkan dalam beberapa kasus kekosongan itu menghasilkan pergumulan yang begitu berat sepanjang hidupnya. Bagaimana penerimaan dan kasih seorang ayah akan membentuk rasa penghargaan terhadap diri dan martabat pribadi puterinya sampai dewasa. Anak perempuan yang tumbuh bersama ayah yang memperlihatkan rasa sayang dan cinta kepadanya, yang nampak di dalam kasih dan perhatian serta selalu sedia di saat yang paling dibutuhkannya akan menjadi fondasi yang solid dan kokoh bagi puterinya, menjadi akar yang kuat untuk dia menghadapi berbagai terpaan dan kesulitan hidup di masa dewasa.

Seorang ayah yang tidak pelit menyatakan rasa sayangnya, memberi pujian dan menyatakan kekaguman kepada diri anak-anaknya, terutama kepada puterinya akan menghasilkan efek yang sangat positif bagi sang anak. Sebaliknya, seorang ayah yang selalu melemparkan kritikan yang tajam, komentar yang sarkastis dan humor yang merendahkan dan menertawakan anak akan begitu menyakitkan hati anaknya ketimbang itu dilakukan oleh orang-orang lain. Seorang ayah yang pasif dan tidak pernah berbagian di dalam hidup anaknya akan dianggap sebagai penolakan yang sangat menyakitkan bagi anak perempuannya. Anak perempuan membutuhan opini ayahnya tentang hal yang benar dan salah, bijak menyatakan bimbingan dan memberi batasan baginya, dan itu semua dilihat oleh sang puteri sebagai wujud dari kasih dan perhatian ayahnya.

Dalam bukunya “What a Daughter needs from Her Dad,” Michael Farris memberikan panduan praktis bagaimana seorang ayah membangun fondasi hubungan yang erat dan positif dengan anak perempuannya dalam 4L, Love, Laughter, Learning, Listening.

LOVE

Anak perempuan membutuhkan kelembutan sekaligus kejantanan proteksi seorang ayah. Namun ada dua tendensi di dalam diri seorang pria yang bisa membatasi kapasitasnya menyatakan kasih yang lembut sekaligus jantan bagi anak perempuannya. Pertama, sebagian pria merasa identitasnya sebagai seorang yang jantan harus dinyatakan dan dibuktikan dengan kekuatan, kegagahan, kekasaran. Mereka berpikir bahwa sikap jantan berlawanan dengan kelembutan dan kebaikan.

Ini adalah pandangan yang keliru! Kejantanan dan kekuatan berlawanan dengan kelemahan, namun sikap kasar, jahat dan tidak peduli adalah berlawanan dengan kelembutan dan kebaikan. Jangan dicampur aduk. Tendensi kedua, sebagian pria mengira anak perempuan dan wanita umumnya memiliki kebutuhan dan keinginan sama banyaknya dengan anak lelaki dan pria dewasa. Namun dalam hal ini anak perempuan dan wanita dewasa membutuhkan kasih dan kelembutan lebih banyak daripada pria.

LAUGHTER

Satu keunikan dari pembentukan karakteristik masa kecil seorang anak yang sehat dan bahagia adalah bermain bersama orang-orang terdekatnya. Seorang ayah harus sepenuhnya mampu dan suka bermain dengan puterinya sejak usia paling dini. Mewarnai gambar, bermain kuda-kudaan, bahkan kadang bermain dengan boneka-bonekanya akan menjadi momen-momen yang sangat disukai puterinya. Saat anak bertambah besar, bermain lompat tali, bermain jingkat, bola bekel dan congklak bersama ayah menjadi permainan yang seru dan menyenangkan.

Jika ayah menjadi figur yang kaku dan serius, selalu sibuk di tempat kerja, selalu mendisiplin, mengatur dan mencela, anak perempuannya akan kehilangan satu aspek yang sangat penting yakni memahami bahwa kasih itu bisa dinyatakan dengan hangat dan menyenangkan. Ayah yang kaku dan keras akan menciptakan sosok figur yang sulit didekati dan diajak bicara. Jangan “ja-im” karena takut kehilangan wibawa atau akan kurang direspek oleh anak jika ayah bermain dengan anak, karena justru bermain bersama akan membentuk anak melihat sosok ayah yang kuat dan jantan sekaligus begitu dekat dan akrab dengannya.

Namun di dalam bermain dan bercanda, seorang ayah harus sadar untuk tidak kelewat batas. Ada perbedaan yang besar antara bercanda menertawakan diri sendiri dengan menertawakan orang lain. Jangan bercanda dengan menertawakan puterimu, apalagi sampai menjadikannya objek tertawaan orang lain. Jangan menertawakan rambutnya, bentuk tubuhnya, nilai matematikanya yang rendah atau hal-hal yang sensitif baginya. Kalau sampai puterimu menangis atau marah akibat candaanmu, jelas artinya bercanda sudah kelewat batas.

LEARNING

Ayah menjadi figur tempat anaknya mencari nasehat, belajar hal-hal yang baru dan sumber bijaksana memahami hal-hal yang terjadi di luar sana. Dan bukan saja memberikan pengetahuan secara informatif, seorang ayah perlu memberikan bimbingan dan arahan dalam aspek-aspek yang lain. Alkitab memanggil setiap ayah untuk menjadi pembimbing dan pengajar rohani sebagai panggilan yang paling prioritas di dalam keluarga. Bawalah anakmu ke gereja, berdoalah bersamanya secara teratur, lakukanlah ibadah keluarga. Ini sedikitnya tiga hal yang menjadi tugas seorang ayah sebagai imam bagi keluarganya. Bimbing puterimu untuk mengenal Tuhan dan menjadi anak Tuhan. Doronglah dia untuk mengasihi Tuhan dan koreksi dia ketika dia mulai menyimpang dari jalan Tuhan. Seorang ayah juga menjadi guru yang baik dalam aspek-aspek lain, ayah bertanggung jawab untuk mengajar anaknya bagaimana bersikap dan menempatkan diri dalam masyarakat, takluk kepada otoritas dan memiliki etiket, kesopanan, cara bergaul yang benar, serta pelajaran hidup dalam masyarakat.

LISTENING

Apa sesungguhnya tujuan dari komunikasi atau sebuah percakapan? Pria dan wanita mempunyai tujuan yang berbeda dalam berkomunikasi. Pria umumnya berkomunikasi dengan tujuan berbagi informasi, menganalisa persoalan dan mencari jalan keluar. Wanita berkomunikasi untuk membangun relasi lebih mendalam. Seorang ayah sangat perlu mengerti akan aspek ini karena dengan melakukan percakapan, puterimu belajar mengekspresikan diri sepenuhnya dan membangun skill berelasi dengan orang-orang di sekitarnya. Seorang ayah yang pendiam mungkin tidak gampang bersabar dan menciptakan percakapan yang menyenangkan dimana dua belah pihak saling mendengar dan saling aktif berkata-kata, apalagi kalau anak perempuanmu adalah “chatterbox” yang tidak henti-hentinya bercakap-cakap lompat dari satu hal kepada hal yang lain. Ayah akan tergoda untuk menyuruhnya berhenti bicara dan mempersempit kemungkinan untuk menciptakan suasana mengobrol dan bercakap-cakap dengan membaca koran atau menonton televisi. Sangat disayangkan ketika seorang ayah memilih untuk berdiam diri dan masuk ke dalam keheningan, di situ dia kehilangan kesempatan untuk memenuhi kebutuhan emosional anaknya membangun relasi lebih dalam dengannya. Pakai momen yang ada untuk menciptakan percakapan yang indah, dan yakinlah momen-momen seperti itu akan menghasilkan memori yang manis dan indah bagimu dan bagi puterimu. Banyak wanita dewasa yang mengenang momen-momen masa kecilnya mengingat ketika ayahnya memberikan perhatian sepenuhnya kepadanya di dalam perasaan cinta yang begitu dalam.

That’s what we’re all after.(kz)