The Promised King

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Tema: The Promised King
Nats: Matius 2:1-6

Tema Natal kita tahun ini adalah “The Promised King,” Yesus Kristus adalah Raja yang dijanjikan itu. Semakin maju kita hidup dalam kemajuan teknologi, semakin cepat derap hidup kita. Dulu di jaman saya masih muda, kita dilatih untuk bersabar menanti surat dari kekasih yang baru datang setiap 2 minggu, itu pun pakai perangko ekspres. Kita dilatih untuk bersabar dengan proses yang natural dalam banyak aspek. Tetapi sesudah ada mie instant, sesudah ada internet, kemajuan teknologi yang sangat mutakhir, hidup kita berderap menjadi semakin cepat dan akhirnya kita menjadi orang yang kurang sabar menanti di dalam proses waktu. Tetapi jaman dulu segala sesuatu berjalan begitu lambat, sehingga waktu janji diberikan, orang masih mengerti dan belajar bersabar menanti, tidak punya ekspektasi untuk menerima realisasi janji itu dengan segera. Tidak seperti kita yang hidup di tengah jaman yang instant dan cepat seperti ini akhirnya sanggup juga merubah dan mempengaruhi hati setiap kita sehingga kita menjadi orang yang tidak mudah lagi bertekun dan sabar. Seperti anak kecil, kita mau sesuatu dan kita mau sesuatu itu langsung muncul di hadapan kita. ‘I want it, and I want it now!’

Injil Matius mencatat kelahiran Raja yang telah dijanjikan itu. Ketika orang-orang majus yang datang dari tempat yang jauh tiba di Yerusalem dan bertanya, “Dimanakah Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintangNya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia” (Matius 2:1-2). Ketika raja Herodes mendengar hal itu, dia sangat terkejut. Raja yang baru lahir? Siapa itu? Bagaimana mereka bisa tahu ada seorang raja Yahudi baru dilahirkan? Orang-orang Majus ini melihat sebuah bintang besar, itu adalah penyataan Allah secara general revelation bagi mereka, sesuatu yang Allah nyatakan melalui alam semesta. Herodes segera memanggil semua imam kepala dan ahli Taurat untuk mencari tahu apa yang telah dinubuatkan dalam Perjanjian Lama mengenai Raja yang dijanjikan itu. Mereka membuka Alkitab mereka dan menemukan satu bagian dari Mikha 5:1, “Tetapi engkau, hai Betlehem Efrata, hai yang terkecil di antara kaum-kaum Yehuda, dari padamu akan bangkit bagiKu seorang yang akan memerintah Israel, yang permulaannya sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala.”

Berita kelahiran Tuhan Yesus yang dicatat di dalam Perjanjian Baru ini mungkin tidak terasa signifikansinya dan mungkin tidak membuat orang kagum luar biasa akan pekerjaan Tuhan yang ajaib jikalau kita tidak melihatnya melalui janji-janji yang sudah Allah nyatakan dan nubuatkan di dalam Perjanjian Lama. Sehingga pada waktu kita memisahkan Perjanjian Baru dan Perjanjian Lama, kita tidak akan melihat keindahan yang luar biasa daripada Perjanjian Baru itu karena semua yang terjadi di situ adalah penggenapan dari apa yang dijanjikan dan dinubuatkan dalam Perjanjian Lama. Sebaliknya pula, pada waktu orang Yahudi sekarang ini hanya menerima Perjanjian Lama, waktu mereka tidak membaca Perjanjian Baru, bukankah mereka akan terus bertanya-tanya dalam hati, kapan semua janji-janji Allah itu akan tergenapi dan mereka masih terus menanti dan menunggu janji itu digenapi.

Antara kelahiran Tuhan Yesus yang dicatat di Matius 2 ini dan nubuat yang dicatat dalam Mikha 5:1 tebal halamannya hanya sedikit saja. Kalau kita membacanya hanya menghabiskan waktu sekitar 20-30 menit saja, atau paling lama hanya 1 jam. Tetapi sesungguhnya jedah waktu antara nubuat Mikha dengan penggenapannya kelahiran Yesus itu berselang 700 tahun lamanya. Bangsa Israel pada waktu Yesus lahir ada dalam konteks sedang mengalami penjajahan dari sejak dari masa pembuangan terus-menerus dijajah dari satu bangsa kepada bangsa yang lain. Dari tangan Asyur, Babel, Persia, Yunani dan sampai kepada bangsa Romawi. Bait Allah yang sangat mereka banggakan pernah dihancurkan dan diporak-porandakan. Ada bangsa yang menghina ibadah mereka dengan masuk ke dalam Bait Allah membawa darah binatang yang najis dan tindakan itu begitu melukai hati mereka. Di tengah-tengah kesulitan, air mata dan penderitaan seperti ini seolah-olah Tuhan tidak lagi berkarya dan hadir di dalam sejarah hidup mereka. Mungkin orang-orang ini merasa janji-janji Allah tidak pernah dan tidak akan mungkin digenapi karena hati mereka yang kecewa melihat realita seolah Allah sudah lupa kepada mereka dan lalai terhadap apa yang telah Ia janjikan bagi mereka.

Sehingga pada waktu orang-orang majus itu datang menyatakan ada bintang besar di langit yang menjadi tanda ada seorang raja yang lahir yaitu raja Israel yang telah dijanjikan itu maka para ahli Taurat mereka cepat-cepat mulai membuka dan mencari tahu kelahiran raja yang akan memerintah Israel itu sudah dinubuatkan dalam Mikha 5:1. Ia akan lahir di satu kota yang sangat kecil yaitu kota Betlehem, kota kelahiran raja Daud sendiri. Yesus sampai pada akhir pelayananNya terus-menerus ditolak oleh pemimpin-pemimpin agama dan orang-orang Yahudi karena mereka hanya tahu Yesus datang dari Nazaret, satu tempat yang sangat dihina. Salah satu murid Yesus yang pertama yaitu Natanael waktu hendak dibawa oleh Filipus kepada Yesus sebagai ‘anak Yusuf dari Nazaret’ sendiri dengan sinis pernah mengatakan, “Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?” (Yohanes 1:45-46). Sayang sekali pada jaman itu Yesus tidak punya akte kelahiran dan KTP sehingga sulit untuk membuktikan bahwa sebenarnya Ia lahir di Betlehem, bukan? Tetapi Lukas 2:4 mencatat Yusuf dan Maria] pergi ke kota asal mereka yaitu Betlehem karena Yusuf berasal dari keluarga dan keturunan Daud. Mikha mengatakan di Betlehem kota yang kecil itu akan lahir seorang yang akan memerintah Israel. Itulah bagian yang dibuka oleh para ahli Taurat.
Tetapi janji mengenai Yesus bukan 700 tahun saja kalau kita terus buka Alkitab ke belakang, Musa pernah menubuatkan akan datang seorang nabi yang seperti dia dalam Ulangan 18:15 “Seorang nabi dari tengah-tengahmu, dari antara saudara-saudaramu, sama seperti aku, akan dibangkitkan bagimu oleh TUHAN, Allahmu. Dialah yang harus kamu dengarkan.” Inilah janji bahwa Tuhan akan membangkitkan seorang nabi, seorang yang akan membawa berita Allah, seorang yang akan memimpin bangsa Israel sama seperti Musa memimpin bangsa Israel keluar dari Mesir, lepas dari perbudakan. Maka orang Yahudi tahu satu hari kelak akan bangkit seseorang yang begitu besar karismanya setara dengan Musa. Janji itu Tuhan beri kepada Musa diukur dari waktu kelahiran Yesus adalah berselang 1500 tahun.

Dalam Galatia 3:16 Paulus bicara khusus mengenai janji Allah kepada Abraham bahwa satu kali kelak seorang keturunan Abraham menggenapkan semua janji Allah melaluiNya, yaitu Kristus. “Adapun kepada Abraham diucapkan segala janji itu dan kepada keturunannya. Tidak dikatakan kepada ‘keturunan-keturunannya’seolah-olah dimaksud banyak orang, tetapi hanya satu orang: ‘dan kepada keturunanmu’ yaitu Kristus.” Di sini Paulus menyatakan secara unik luar biasa apa yang menjadi janji Tuhan kepada Abraham. Waktu kita membaca mungkin kita tidak terlalu memperhatikan antara bentuk “plural” [jamak] dengan “singular” [tunggal]. Tetapi Alkitab begitu teliti akan hal ini. Dan kalau kita tarik lagi dari janji Allah kepada Abraham sampai kepada kelahiran Yesus, maka janji itu berselang 2000 tahun. Dan kalau kita mau tarik lagi sampai kepada janji yang paling awal yang Tuhan beri kepada umat manusia, janji itu itu kita temukan di dalam Kejadian 3:15 ketika manusia telah jatuh ke dalam dosa, Allah berkata kepada Ular, “Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya. Keturunannya akan meremukkan kepalamu dan engkau akan meremukkan tumitnya.” Itu adalah janji paling awal akan kedatangan Yesus Kristus juruselamat yang akan menghancurkan kepala Ular yaitu Iblis. Itu adalah janji keselamatan yang Allah berikan bagi manusia. Oleh Yesus Kristus, yang adalah keturunan dari Hawa akan meremukkan kepala si Ular, meskipun Ular akan meremukkan tumitNya yang digenapi dengan penderitaan Yesus di atas kayu salib. Kematian Yesus di atas kayu salib adalah kematian yang mematikan kuasa kegelapan itu sendiri. Dari awal kitab Kejadian Allah sudah menjanjikan akan Yesus Kristus. Puji Tuhan! Penantian kepada Dia yang akan datang itu bukan sebentar saja, 700 tahun, 1500 tahun, 2000 tahun bahkan dari sejak awal setelah manusia jatuh ke dalam dosa, janji itu terus bergaung membawa pengharapan satu hari kelak akan digenapi oleh Allah yang memberi janji.

Hari ini kita merayakan Natal sebagai peringatan syukur memahami janji itu digenapi di dalam kelahiran Tuhan kita Yesus Kristus. Kita bersyukur oleh anugerah Allah kita boleh menerima janji itu.

Waktu Allah memberi janji melalui nabi Mikha, bangsa Israel berada di dalam situasi yang penuh dengan kesulitan dan keputus-asaan. Tuhan bilang mengapa engkau mengeluh, menangis, mengeluarkan air mata? Kita bisa melihat dalam Mikha 4:6-7 “Pada hari itu, demikianlah firman TUHAN, Aku akan mengumpulkan mereka yang pincang, dan akan menghimpunkan mereka yang terpencar-pencar dan mereka yang telah Kucelakakan. Mereka yang pincang akan Kujadikan pangkal suatu keturunan, dan yang diusir suatu bangsa yang kuat. Dan TUHAN akan menjadi raja atas mereka di gunung Sion, dari sekarang sampai selama-lamanya.” Sebelum Yesus naik ke surga, pertanyaan yang muncul dari murid-muridNya adalah ekspresi dari pengharapan ini, “Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?” Yesus menjawab mereka, “Engkau tidak perlu mengetahui masa dan waktu yang ditetapkan Bapa sendiri menurut kuasaNya. Tetapi kamu akan menerima kuasa kalau Roh Kudus turun atasmu dan kamu akan menjadi saksiKu” ((Kisah Rasul 1:6-8). Kapankah janji Allah itu sepenuhnya akan Ia genapi, kita tidak perlu tahu akan hal itu. Tetapi yang menjadi tugas kita adalah membawa kabar sukacita itu kepada orang-orang yang belum pernah mendengarnya, karena hanya melalui itu mereka boleh dibawa kepada pintu keselamatan di dalam Yesus Kristus dimana satu kali kelak keadilan Allah, pemerintahan Allah di atas muka bumi yang penuh dengan shalom damai sejahtera itu.
Waktu berita Natal disampaikan, ada dua macam ketakutan muncul. Ketakutan yang bercampur kekaguman dari para gembala ketika malaikat Tuhan menampakkan diri di hadapan mereka menyatakan berita kelahiran Yesus (Lukas 2:8-9). Ketakutan itu adalah ketakutan yang positif karena ketakutan berjumpa dengan Tuhan. Ketakutan itu adalah ketakutan yang membuat kita menjadi lebih indah dan lebih hormat kepadaNya. Ketakutan yang kedua adalah ketakutan dari Herodes ketika mendengar kalimat dari orang-orang majus, “dimanakah raja Israel yang baru dilahirkan itu?” Herodes menjadi depressed dan takut akan hal itu dan segera mencari-tahu dan berusaha memusnahkan bayi itu (Matius 2:3,16). Apa yang membuat Herodes takut kepada bayi kecil yang lemah dan tidak bisa berbuat apa-apa sampai dia membunuh semua bayi-bayi yang lain? Dia punya tentara, dia punya kekuatan militer, kenapa dia takut? Apa sih yang perlu dia takutkan? Itulah semacam takut yang muncul dari Herodes dan ketakutan seperti itu ada pada diri orang-orang yang menolak Tuhan karena takut itu lahir dari kegelapan yang tidak suka dan tidak ingin terang Tuhan menyingkapkan kekotoran, kebusukan dan kerusakan yang dilakukan orang di dalam kegelapan. Yang membuat mereka takut adalah pada waktu anak-anak Tuhan berkumpul dan dikuatkan kembali kepada panggilan untuk menjadi terang-terang Kristus di dalam keluarga, komunitas dan tempat-tempat dimana mereka berada, menjadi lilin-lilin kebenaran, lilin-lilin kesucian, lilin-lilin pelayanan, lilin-lilin pengorbanan. Satu lilin saja yang seperti itu sudah cukup membuat mereka takut dan gentar. Tetapi jikalau orang Kristen berkumpul dalam kemegahan Natal, berkumpul di dalam pesta pora, berkumpul hanya untuk memuaskan sesuatu yang menjadi hura-hura dan memuaskan hawa nafsunya, orang tidak takut. Mau berapa ratus, mau berapa ribu pun yang kumpul-kumpul seperti itu, orang tidak takut, karena bukan jumlah yang menakutkan mereka, bukan atribut-atribut Natal yang menakutkan mereka. Tetapi pada waktu lilin kebenaran itu menyala, jangan kaget dan heran kepada reaksi orang-orang yang takut dan tidak suka dan berusaha memadamkannya. Jangan kaget dan heran waktu orang berusaha menekannya, melarangnya, mengintimidasinya. Itulah yang menakutkan mereka, ketika anak-anak Tuhan menyatakan keberadaan mereka yang otentik seperti Kristus adanya.

Setiap kali kita merayakan Natal, kita tidak akan pernah bilang “Ah, Natal lagi, Natal lagi,” karena itulah kerinduan kita bahwa janji-janji Allah telah digenapi di dalam Kristus dan pasti akan digenapi lagi. Begitu banyak janji-janji Tuhan yang engkau dan saya alami dan nikmati selama hidup kita mengikut Dia. Kenapa kita menjadi kecewa dan undur hanya ketika satu dan dua hal kita merasa janji Tuhan tidak ternyata dan tidak digenapi di dalam ‘term and condition’ kita? Kenapa kita menjadi marah dan tidak bersabar diri ketika Tuhan mau kita menanti dalam waktu yang sedikit lebih panjang daripada yang kita inginkan, padahal di situ mungkin Tuhan ingin menempa kesabaran kita, ketekunan kita, kebersandaran kita kepadaNya? Kenapa engkau menjadi kecewa dan berhenti berdoa kepadaNya? Kenapa engkau menjadi lemah dan tawar sehingga engkau akhirnya menjauh dariNya? Tuhan Allah baru menggenapi janjiNya bagi kedatangan sang Raja yang telah dijanjikan di dalam penantian yang begitu panjang, tujuh ratus tahun, seribu lima ratus tahun, dua ribu tahun, bahkan dari sejak awal kemanusiaan itu. Apa artinya penantian kita yang tidak seberapa dibandingkan dengan penantian Israel itu? Ingatlah, janji itu diberikan oleh Siapa? Janji itu bukan diberikan oleh manusia, yang hari ini berjanji mungkin segera lupa dan ingkar kepada janji itu. Janji itu bukan diberikan oleh manusia, yang kekuatannya amat terbatas dan tidak selalu mampu menepatinya. Karena memang tidak ada satu manusia pun yang bisa mengatur dan mengontrol apa pun juga sehingga bisa menepati sepenuhnya akan janji-janjinya. Tidak ada jaminan atau kepastian yang bisa kita pegang dari janji-janji manusia. Janji-janji kita sendiri pun tidak mungkin bisa menjadi janji yang pasti. Tetapi kita tahu karena yang berjanji itu adalah Allah yang berjanji maka janji-janji itu pasti akan digenapinya. Itulah sebabnya kita bersyukur karena Allah yang berjanji adalah Allah yang berkuasa, Allah yang di dalam kontrol dan kekuatan dan bijaksanaNya sepenuhnya yang pasti akan merealisasikan semua yang dijanjikanNya.
Kita mungkin belum mendapatkan semua janji-janji Allah itu sekarang. Tetapi apa bedanya iman kita sekarang yang telah melihat begitu banyak penggenapan janji Allah dibandingkan dengan iman Ayub, empat ribu tahun yang lalu, yang di tengah hidupnya yang sudah kehilangan segala sesuatu dan di tengah sakit boroknya yang memakan habis dagingnya masih bisa berkata, “I know that my Redeemer lives! Aku tahu bahwa Penebusku hidup dan satu kali kelak Ia akan bangkit di atas debu. Juga sesudah kulit tubuhku sangat rusak, tanpa dagingku pun aku akan melihat Allah” (Ayub 19:25). Iman Ayub sampai hari ini masih belum digenapi, bukan? Tetapi dia menyatakan hal itu di dalam pengharapan dan keyakinan yang sungguh. Pada waktu Tuhan berjanji kepada Abraham untuk memberinya seorang anak, sepuluh tahun lamanya Abraham dan Sara menanti, akhirnya Sara tidak bersabar dan menyuruh Abraham tidur dengan Hagar supaya bisa memperoleh seorang anak. Akhirnya kita bisa melihat betapa banyak kesulitan dan betapa kasihannya orang yang tidak bersabar menunggu dan menanti Tuhan menggenapi janjiNya (Kejadian 15-16). Akhirnya berapa tahun mereka harus menunggu sampai Ishak lahir? Dua puluh lima tahun mereka harus menunggu dan menanti sampai janji itu digenapi. Dan di situ mereka bisa menyaksikan kuasa dan kebesaran Allah, di tengah kondisi fisik Sara yang sudah tidak mungkin bisa melahirkan anak, yang mustahil sekalipun bisa terjadi. Itulah yang kita bisa saksikan di dalam peristiwa Natal sehingga seperti malaikat Gabriel, kita bisa melihat, “Bagi Allah tidak ada yang mustahil” (Lukas 1:37).

Siapa di antara kita yang rutin setiap tahun periksa darah dan cek kesehatan? Begitu kita periksa kesehatan lalu dokter bilang, ‘wah, jantungnya mampet, kolesterol naik’ bagaimana reaksi kita? Kita mungkin kaget mendengar berita seperti itu. Tetapi mari kita ubah cara kita berpikir. Kalau sudah sampai usia 60 tahun 70 tahun, dokter bilang ada yang tidak beres di dalam organ tubuh kita, itu adalah hal yang normal dan natural karena semakin tua fisik kita semakin lemah, jadi kenapa kita perlu kaget? Yang harus kaget kalau baru umur 20 tahun kolesterolnya sudah tinggi, bukan? Malah sebenarnya kita perlu kaget kalau sampai umur 70 tahun periksa darah, dokter bilang semuanya masih bagus, bukan? Karena barangkali malah ada yang tidak beres tetapi tidak bisa terdeteksi. Jadi jangan kaget kalau kita mendengar kesehatan kita makin hari makin menurun atau ada sakit penyakit datang ke dalam hidup kita, kita terima itu sebagai hal yang natural dan wajar karena hidup di dalam dimensi ruang dan waktu kita memang terbatas adanya. Jangan menjadi kaget, jangan merasa tidak sepatutnya kita menerima semua yang tidak baik. Justru attitude kita harus dibalik, kalau sampai umur 70 tahun saya masih bisa menjalani hidup tidak mengalami itu semua, itulah yang kita harus kaget. Kita bersyukur dan kagum kepada kebaikan Tuhan sepanjang waktu, baik di tengah kelancaran kesehatan kita menghargainya, baik di tengah sakit dan penderitaan kita mengalami kekuatan Tuhan menopang kita.

Percayalah, janji Tuhan tidak pernah bersalah adanya. Mungkin banyak hal engkau tidak tahu bagaimana Tuhan berkarya dalam hidupmu. Tetapi kita tahu Siapa yang berjanji itu, pasti Ia akan menyatakan dan menggenapi janji itu dengan indah di dalam hidup engkau dan saya. Yang kita perlu minta kepada Tuhan hari ini kiranya Ia memampukan kita menanti dengan tekun dan sabar, jangan mendahului Tuhan di dalam hidupmu dengan gegabah. Percaya dan bersandar kepada Tuhan. Hadapi tantangan dan kesulitan dalam hidup, hadapi awan yang gelap di depan, jangan kecewa dan putus asa. Hidup kita tidak dinilai dengan apa yang terjadi dan tidak terjadi di waktu yang telah lewat, hidup kita ditentukan oleh Allah yang berjanji dan yang tidak pernah berubah dahulu sekarang dan selamanya, dan yang berkuasa menggenapi janjiNya bagi engkau dan saya.

Bersyukur hari ini kita pegang janji-janji Tuhan sekali lagi, karena Allah yang berjanji adalah Allah yang tidak pernah lupa dan lalai menggenapkan janjiNya bagi setiap kita yang mengasihiNya dan hidup bersandar kepadaNya. Ia berjanji akan mendatangkan shalom damai sejahtera bagi setiap kita yang ikut Tuhan. Di tengah-tengah perjalanan kita ikut Tuhan, kita pegang janji Tuhan, kita beriman dan percaya dengan tekun dan sabar dan kita menghasilkan hidup yang indah bagi orang lain karena kita tahu Allah kita tidak pernah menyatakan dan memberikan suatu janji tanpa menggenapinya bagi kita.(kz)