To love what God loves, to hate what God hates

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Eksposisi Surat 1 Yohanes (7)
Tema: To love what God loves, to hate what God hates
Nats: 1 Yohanes 2:15-17

“Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu. Sebab semua yang ada di dalam dunia yaitu keinginan daging, keinginan mata dan keangkuhan hidup bukanlah berasal dari Bapa melainkan dari dunia. Dan dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah akan tetap selama-lamanya” (1 Yohanes 2:15-17).

Para penafsir Alkitab umumnya setuju bahwa rasul Yohanes adalah “rasul kasih,” the apostle of love, karena pada waktu kita membaca Injil Yohanes dan surat-surat pastoral 1, 2 dan 3 Yohanes, kata yang senantiasa berulang dan berkali-kali muncul adalah bicara mengenai kasih. Namun kita senantiasa harus tahu, kasih yang dibicarakan Yohanes bukan sekedar sensasi dan kasih sentimental. Kasih yang seperti apa? Paulus dalam 1 Korintus 13:1-3 mengatakan, “Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama seperti gong yang berkumandang dan canang yang bergemerincing. Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat, aku mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan dan sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna. Dan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikitpun tidak ada faedahnya bagiku.” Dalam bagian ini kasih menjadi satu tiang yang penting menopang dua aspek spiritual yaitu “knowledge and activities.” Dalam 300 tahun terakhir ini kita melihat dunia edukasi sangat menekankan dua aspek ini seolah hanya dua aspek ini yang paling penting yaitu aspek rasio dan aspek aktifitas karena pengaruh dari filsafat “Rationalism” dan “Empiricism.” Waktu melamar satu pekerjaan, resume kita yang paling penting, bukan? Lulusan sekolah mana, pengalaman kerja dimana, itu yang dilihat orang. Maka orang tua berlomba-lomba menyekolahkan anak ke sekolah yang terbaik dan mendapat gelar yang banyak. Semakin banyak pengetahuan yang engkau miliki, semakin tinggi pendidikan yang engkau peroleh maka hidupmu akan menjadi baik; semakin banyak pengetahuan yang engkau miliki, semakin tinggi pendidikan yang engkau peroleh maka hidupmu akan berhasil. Seolah-olah pengetahuan dan pendidikan tinggi dengan otomatis akan menjadikan hidup moralitas membaik; semakin banyak pengetahuan dan semakin tinggi pendidikan akan menjamin kesempatan untuk survive semakin besar. Tetapi realita menunjukkan pengetahuan dan pendidikan yang tinggi tidak tentu menghasilkan orang yang punya moralitas yang lebih baik. Bahkan kejahatan yang dilakukan oleh orang yang mempunyai pengetahuan yang banyak dan pendidikan yang tinggi lebih besar dan lebih destruktif, bukan? Realita menunjukkan orang yang punya pengetahuan dan pendidikan yang tinggi tidak tentu mempunyai bijaksana, kemampuan berelasi dan bekerja sama dengan orang lain. Inilah kekurangan yang disadari sehingga setelah konsep EQ Emotional Quotient atau Emotional Intelligence dipopulerkan maka perusahaan selain men-test IQ juga mulai men-test EQ seberapa besar empathy kepada orang lain dan juga SQ social skills orang itu apakah memiliki kemampuan untuk bekerja sama dengan orang lain. Aspek-aspek ini mulai disadari memegang peranan penting sehingga bukan hanya kemampuan intelektual seseorang yang diperhatikan. Sayangnya demikian juga Kekristenan sangat mementingkan dua aspek ini. Termasuk gereja mau mencari hamba Tuhan melayani hanya menekankan dua aspek ini: gelarnya apa, sekolah dimana, dan apa achievement dia. Kalau gereja atau yayasan Kristen mementingkan mencari yang seperti itu, mau mencari hamba Tuhan yang bisa membesarkan jumlah jemaat menjadi lipat ganda, tidak heran yang akan mengajukan lamaran kerja adalah orang-orang yang ambisius, yang punya jiwa dan sikap ingin besar, dsb, bukan?

Paulus mengatakan sekalipun dia memiliki seluruh pengetahuan dan dapat berkata-kata dalam berbagai bahasa [aspek knowledge]; sekalipun dia punya berbagai karunia dan iman yang sempurna, sekalipun dia di dalam pelayanan rela memberikan segala hartanya bagi pekerjaan Tuhan bahkan sampai mati bagi Tuhan [aspek activities], semua itu sia-sia dan tidak ada gunanya jika dia tidak mempunyai kasih. Kasih di sini bukan dimengerti sebagai sensasi emosi belaka tetapi itu bicara mengenai apa yang memotivasi kita melakukannya, bagaimana kita melakukannya. Kalau kita melakukan semua ini semata-mata untuk supaya semakin lama semakin sukses, semakin berkembang, semakin banyak hasilnya; jikalau motifnya adalah memenuhi the craving for my pride, for my success, semua itu salah. Orang lain bisa lihat dan kagum akan semua kesuksesan, kerajinan, kegiatan itu, tetapi Tuhan lihat hati kita. Bahkan sebagai hamba Tuhan kalau aku melayani sampai mati sekalipun buat pekerjaan dan pelayanan itu, tetapi kalau itu tidak didasarkan karena kasih Kristus dan demi kasih kepada Kristus, semua itu tidak ada artinya.

1 Yohanes 2:15-17 dalam versi New Living Translation (NLT) mengatakan, “Do not love this world nor the things it offers you, for when you love the world, you do not have the love of the Father in you. For the world offers only a craving for physical pleasure, a craving for everything we see, and pride in our achievements and possessions. These are not from the Father but are from this world. And this world is fading away, along with everything that people crave. But anyone who does what pleases God will live forever.” Di sini Yohanes berbicara mengenai “kasih akan dunia” dan “kasih akan Allah” sebagai hal yang dikontraskan. Kasih akan dunia dan kasih akan Allah itu tidak “compatible” sebagaimana terang dan gelap tidak compatible, kutub positif dan kutub negatif juga tidak compatible.

Mari kita kupas kalimat-kalimat Yohanes ini satu persatu. Apa yang dimaksud dengan kalimat “Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya”? Seorang penafsir bernama David Allen memberikan definisi ini, “In its essence love is two things: a desire for something and a commitment to something.” Kasih menuntut komitment dari waktu dan resources kita. Apa yang kita sukai, apa yang kita inginkan, apa yang menjadi komitment kita, semua itu akan menuntut waktu dan resources kita. Apa yang Yohanes maksud dengan kata “dunia” bukan sekedar mengacu kepada planet bumi dimana kita hidup ini, juga bukan sekedar mengacu kepada orang yang tinggal di bumi ini. Dunia yang Yohanes maksud lebih mengacu kepada apa yang menjadi sistem nilai duniawi yang telah menyebar dan merasuk ke dalam setiap aspek kehidupan, di dalam pengajaran, di dalam ide, budaya dan kultur, di dalam sikap dan segala aktifitasnya yang berlawanan dengan Allah kita. Hati-hati jikalau sebagai orang Kristen hati kita dipenuhi oleh berbagai keinginan yang sampai menjadi obsesi akan segala hal yang material, uang dan barang. Hati-hati jikalau sebagai orang Kristen kita menjadi terlalu nyaman dengan sistem nilai dunia sehingga kita menjadi berkompromi dan mengadopsi semua itu seperti orang yang tidak percaya Tuhan sehingga yang kita sukai, yang menjadi ambisi kita, yang mendorong kita semata-mata adalah sistem nilai dunia itu.

Di bagian 1 Yohanes 2:16 terjemahan English Standard Version (ESV) memakai kata “desire” tetapi saya lebih suka dengan terjemahan NLT yang memakai kata “craving.” Craving terhadap apa? Yohanes menyebut tiga aspek: craving terhadap kenikmatan fisik, craving terhadap segala yang kita lihat, and kesombongan diri terhadap kesuksesan dan harta benda. Craving adalah satu kata yang dipakai bicara mengenai soal bagaimana kita melihat, kita bereaksi dan berespons kepada apa yang ada di luar kita. Craving itu sesuatu yang tidak gampang dan tidak mudah untuk dikontrol dan ditaklukkan meskipun kita tahu apa yang kita sangat kepingin itu adalah sesuatu yang salah dan tidak patut kita inginkan. Obesitas menjadi satu fenomena yang sangat real kita hadapi dalam dunia yang makmur ini. Kemarin saya melihat berita anak di Indonesia yang beratnya sampai mencapai 150 kg, berat sekali. Tetapi dia tidak bisa berhenti makan dan tidak tahan untuk mengurangi makannya. Banyak hal kita sudah tahu makanan itu tidak baik, tetapi kita terus makan. Lifestyle itu tidak baik, tetapi kita terus hidup dengan lifestyle seperti itu.

Pertama, craving terhadap kenikmatan fisik, keinginan daging, the desire of the flesh. Keinginan daging meliputi semua keinginan yang berpusat kepada natur diri yang selalu berlawanan dengan kehendak Allah. Paulus memberikan kontras itu di dalam Galatia 5:19-21 “percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembaan berhala, sihir, perseteruan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora, dsb.” Siapakah orang yang duniawi itu? Kita sering mengatakan, orang yang duniawi itu ditandai oleh lifestyle yang duniawi, yang hanya memikirkan, membicarakan dan menginginkan semua hal yang bersifat duniawi seperti materialistik, nafsu seks, tidak setia dengan pasangan dan ingin berselingkuh, ingin punya rumah yang besar, hidup dalam kemewahan dan pesta pora, dsb. Dengan mengatakan definisi seperti itu kita bisa terjatuh kepada “the trap of negative holiness” yaitu sehingga banyak orang Kristen bersibuk diri menghindari kegiatan tertentu, tempat tertentu, seolah jika kita tidak melakukan hal-hal itu berarti kita bukan orang yang duniawi. Tetapi pengertian duniawi bukan sekadar menghindar seperti itu karena sesungguhnya duniawi atau cinta kepada dunia itu bersumber dari hati. Hubungan kita dengan dunia harus senantiasa dipandu oleh prinsip firman Tuhan yang senantiasa mengingatkan kita kepada apa yang Tuhan suka, apa yang Tuhan kehendaki bagi kita anak-anakNya. Siapakah orang yang duniawi itu? John Calvin memberikan satu definisi yang baik sekali: “When worldly men, desiring to live softly and delicately, are intent only on their own convenience.” Calvin lebih jauh mengatakan orang yang duniawi adalah orang yang senantiasa menginginkan hidup yang nyaman dan enak bagi dirinya sendiri. Kita harus mengakui banyak kali kita bereaksi tidak senang ketika conveniency kita terganggu entah oleh isteri, suami, anak, atau teman kita untuk hal-hal yang sepele saja. Kita bereaksi tidak senang ketika Tuhan memanggil dan menuntut kita melakukan sesuatu di luar conveniency dan comfort zone kita.

Kedua, craving terhadap segala yang kita lihat. Alkitab memberi peringatan betapa besarnya peranan mata mendireksi hati kita bisa melenceng dan jatuh ke dalam pencobaan. Daud jatuh ke dalam dosa perzinahan dan pembunuhan yang keji bermula dari matanya yang melihat Batsyeba. Apa yang kita lihat, mobil mewah yang mengkilap, baju pesta dan assesori berlian yang berkilau, dsb pada dirinya sendiri bukanlah dosa. Tetapi ketika hati kita menjadi terobsesi dan menginginkan untuk memperoleh apa yang dilihat oleh mata ini dengan menggunakan segala cara, di situ pencobaan bisa menjatuhkan kita.

Ketiga, kesombongan diri, pride of life, yang termasuk “egostistic arrogance.” Kata ini meliputi keinginan yang sangat kuat untuk memperoleh pengakuan, pujian, status, penghormatan dan kekaguman dari orang.

Perhatikan, tiga aspek ini muncul menjadi tema yang berulang di dalam Alkitab untuk mengingatkan kita janganlah engkau craving terhadap hal yang bersifat daging, janganlah craving kepada apa yang dilihat oleh matamu, dan janganlah craving kepada the boastful pride of life. Tiga hal ini bukanlah tema yang baru, tetapi ini adalah tema yang ada sejak semula dan akan terus ada menjadi peringatan untuk hidup kita tidak jatuh seperti Adam dan Hawa. Dalam Kejadian 3, Iblis datang kepada Hawa dan Hawa “melihat buah itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, dan menarik hati karena memberi pengertian” (ayat 6). Setelah melihatnya maka timbul keinginan pada diri Hawa untuk memetik dan memakannya dan mengajak Adam ikut makan bersama dia. Buah itu “baik untuk dimakan” [lust of the flesh] “sedap kelihatannya” [lust of the eyes], “menarik hati karena memberi pengertian” atau “desired to make one wise” [pride of life]. Inilah tiga hal yang juga Iblis pakai untuk mencobai Yesus di padang gurun (Matius 4:1-11). Saat Yesus mengalami pencobaan itu betapa kontrasnya situasi dan kondisi Yesus dibanding dengan situasi dan kondisi Adam dan Hawa di taman Eden. Adam dan Hawa ada di dalam kondisi yang nyaman, Yesus ada di padang gurun yang panas terik dan kering. Di tengah keadaan lapar yang luar biasa, Iblis mengatakan, “Jika Engkau Anak Allah, ubahlah batu ini menjadi roti.” Kemudian Iblis membawa Yesus naik ke atas bubungan Bait Allah dan berkata, “Jika Engkau Anak Allah, jatuhkanlah diriMu ke bawah, sebab ada tertulis mengenai Engkau, Ia akan memerintahkan malaikat-malaikatNya dan mereka akan menatang Engkau di atas tangannya supaya kakiMu jangan terantuk kepada batu.” Kemudian Iblis membawa Yesus ke atas gunung yang sangat tinggi dan memperlihatkan kepadaNya semua kerajaan dunia dengan kemegahannya dan berkata kepadaNya, “Semua itu akan kuberikan kepadaMu jika Engkau sujud menyembah aku.” Tiga hal yang sama dipakai Iblis untuk menjatuhkan Adam dan juga dipakai untuk mencobai Yesus, tiga hal ini juga yang akan selalu dia pakai untuk menjatuhkan kita, anak-anak Tuhan. Karena itu Yohanes memberikan peringatan yang sangat serius ini karena betapa gampang dan mudahnya kita bisa jatuh di dalam pencobaan ini dan betapa besarnya destruksi yang dihasilkannya bagi relasi kita dengan Allah. Yohanes mengatakan, pertama, “jika kita mengasihi dunia ini maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu” you do not have the love of the Father in you. Kedua, semua itu “bukanlah berasal dari Bapa melainkan dari dunia.” Ketiga, “dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya” this world is fading away, semua itu akan berlalu dan hanya mereka yang melakukan kehendak Allah akan hidup selama-lamanya. Apa artinya “berlalu”? Seringkali kita keliru dan salah kita pikir berlalu itu berarti soal “things” atau bendanya. Tetapi arti ayat ini sesungguhnya bicara mengenai hati kita, apa yang ada di dalam hidup kita, apa yang kita miliki, itu semua tidak boleh melekat dan menjadi identity, “mine” “my life” dalam hidup kita karena semua itu sementara adanya.

Waktu seorang anak kecil yang sedang memegang mainan, tiba-tiba kakaknya merebut mainan itu dari tangannya, dia menangis dengan sangat marah. Mamanya segera datang meminta kakaknya mengembalikan mainan itu, dengan tujuan supaya dia berhenti menangis dan bisa melanjutkan bermain lagi. Tetapi heran reaksi yang dinyatakan anak ini adalah dia menolak mainan yang dikembalikan oleh kakaknya dan tetap menangis marah. Kenapa reaksinya bisa seperti itu? Ada beberapa hal yang kadang-kadang kita missed out memahami proses ini. Karena persoalannya pada waktu anak itu kehilangan mainannya tidak bisa langsung terselesaikan ketika mainan itu dikembalikan kepadanya. Dia marah karena selain ada objek yang terambil darinya, ada sesuatu di dalam hatinya yang kita tidak tahu. Dia tidak mau menerima kembali mainan itu karena hatinya sudah terluka, dia marah karena kesenangannya terganggu, dia marah kenapa kakaknya jahat sama dia dengan mengambil mainan kesayangannya. Jika kita hanya membereskan yang dipermukaan dan tidak membereskan apa yang di dalam hati, kita tidak bisa mengerti kenapa reaksinya seperti itu. Mainan itu hanya contoh; kita bisa aplikasi itu kepada hal-hal lain yang ada di dalam hidup kita. Waktu sdr kehilangan pekerjaan, engkau sangan sedih, kecewa dan marah kenapa hal itu terjadi. Lalu setelah beberapa waktu kemudian mendapat pekerjaan yang baru, apakah perasaan emosi itu berubah? Atau tetap marah? Kenapa seseorang bisa bereaksi dengan emosi seperti itu?

Kadang-kadang kita begitu gampang menghibur orang ‘tidak apa kehilangan pekerjaan, nanti sebentar Tuhan kasih ganti pekerjaan baru’ betul memang akhirnya dia mendapatkan pekerjaan yang baru. Tetapi seseorang yang bereaksi tetap marah menunjukkan sebenarnya engkau menaruh pekerjaan yang lama itu sebagai jati dirimu, harga dirimu, bukti kesuksesanmu, kebanggaanmu, dsb. Itu menjadi sesuatu yang membekas dan perlu disembuhkan dan perlu perawatan dari anugerah firman Tuhan untuk dibereskan. Senantiasa mengoreksi hati dan mengintrospeksi diri dengan jujur dan relah dikoreksi oleh Tuhan. Itu yang akan membuat hidup kita disembuhkan oleh Tuhan. Aspek ini penting karena di situlah Tuhan membentuk rohani kita dengan indah, di situlah Tuhan membentuk emosi kita dengan indah. Jangan kita “ngotot” mau memiliki semua itu, jangan obsesi mau mencapai status tertentu. Kiranya Tuhan memimpin hati kita. Waktu semuanya terhilang dan terambil dari hidup kita, kita bisa tetap tenang, kita bisa tetap bersyukur, karena itu semua tidak pernah menempati tempat tertinggi di dalam hati kita. Di situ kita baru mengerti kalimat pemazmur, “Sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap, gunung batu dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya” (Mazmur 73:26). Tuhan adalah my treasure, Tuhan adalah my portion, Tuhan adalah my possession forever. Di situlah kita menempatkan hati kita dengan indah di hadapan Tuhan.

Apa yang paling engkau inginkan di dalam hidupmu hari ini? Kiranya hanya kemauan Tuhan yang aku utamakan, to glorify God and to enjoy Him forever, itu yang menjadi keindahan bagi hidupku. Jangan menaruh nilai dirimu, harga dirimu, kesuksesan dirimu, boastful pride of your life kepada keluargamu, kepada sukses bisnismu, kepada pelayananmu, kepada segala hal yang engkau raih dan peroleh dan miliki karena semua itu bukan menjadi tujuan dan nilai hidupmu.

Kiranya kita  bisa datang kepada Tuhan dan meletakkan semua keinginan kita. Mari kita letakkan semua emosi kita di hadapan Tuhan untuk diperbaharui, dikoreksi, dibentuk, dikuatkan, dan disembuhkan dengan indah oleh Tuhan. Kita bersyukur kepada Tuhan sebab firmanNya selalu menolong, menghibur, menguatkan, mengarahkan kita. Kuasa dari Roh Kudus kiranya bekerja dengan leluasa di dalam hati kita, memberikan dan menghasilkan buah-buah kebenaran Roh yang hidup dari setiap hati kita, penuh sukacita, damai sejahtera, kasih yang melimpah, pengontrolan diri, ketekunan dan kesabaran yang tidak pernah sirna dan sukacita itu memenuhi kita.(kz)