The Test for Genuine Salvation

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Eksposisi Surat 1 Yohanes (5)
Tema: The Test for Genuine Salvation
Nats: 1 Yohanes 2:3-14

Setiap kita perlu confidence dan assurance, keyakinan dan jaminan untuk menjalani hidup ini. Bukan saja keyakinan kita tidak mengambil pilihan yang salah, kita perlu jaminan bahwa kita memang mengambil pilihan yang benar. Memilih sekolah dan karir, memilih pasangan hidup, memilih tempat tinggal, memilih usaha bisnis, dsb, dsb. Di dalam menjalani kehidupan Kristen kita pun perlu memegang keyakinan dan jaminan ini. Apakah aku sudah menjadi anak Tuhan yang sejati? Bagaimana aku tahu aku sudah selamat? Apakah Tuhan sungguh mengampuni dosa-dosaku? Apakah aku memiliki hubungan yang otentik dengan Tuhan? Dan melalui itu baru kita tahu apa yang kita jalani di depan itu benar adanya. Your salvation is not a matter of guesswork. God wants you to have assurance of your salvation. Itulah yang diberikan oleh firman Tuhan dalam 1 Yohanes ini, ketika kita menjadi orang percaya, kita memiliki persekutuan yang hidup dengan Allah Bapa, dan dengan Anak Allah yaitu Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kita. 1 Yohanes 2 dibuka dengan kalimat “kita mempunyai seorang pengantara dan pendamaian bagi kita” (ayat 1-2). Kita punya “the Advocate,” sang Pembela itu yaitu Yesus Kristus yang telah menghapus dosa kita dengan darahNya yang suci itu. Yesus telah lunas membayar semua hutang dosa kita yang sebesar apa pun, seberat apa pun, segelap apa pun di dalam hidupmu yang pernah menghancurkan dan memberikan keputus-asaan, tidak ada yang tidak bisa diampuni olehNya. Itulah confidence dan assurance untuk kita berjalan in the right path itu.

Selanjutnya Yohanes memberikan “test of assurance” dengan kalimat “by this we know, inilah tandanya” bahwa kita memang sungguh-sungguh memiliki iman yang otentik, bahwa kita anggota keluarga Allah dan seorang Kristen sejati.

  1. Yang pertama adalah “the test of obedience to God’s commandments.”

Yohanes berkata, “Dan inilah tandanya bahwa kita mengenal Allah yaitu jikalau kita menuruti perintahNya” (ayat 3). Engkau sudah tahu? Engkau sudah kenal? Tibalah masanya “test” atau ujian: adakah kita setia dan taat kepada perintah-perintah Allah? Yohanes menegur sebagian orang Kristen yang selalu berkata “aku mengenal Allah,” jangan-jangan orang itu hanya mengaku di mulut bahwa dia adalah pengikut Kristus, padahal tidak. Kalau dia sungguh mengenal Allah, dia akan hidup menuruti perintahNya. Saat Yohanes menulis surat ini, gereja sedang dilanda oleh pengajaran yang salah yang disebut Gnosticism yang sangat menomor-satukan pengetahuan. Knowledge itu yang paling penting; kasih itu nomor dua. Bagi Yohanes memang benar pengetahuan akan kebenaran adalah sangat penting dan tidak boleh diabaikan. Tetapi pengetahuan yang hanya mengisi otak saja tanpa kita lakukan dan praktekkan, itu tidak benar. Pengetahuan itu akan membikin kita menjadi sombong dan arogan karena kita anggap kita tahu lebih banyak daripada orang lain. Seseorang melakukan dan mempraktekkan dengan benar sebelumnya harus melalui proses sudah tahu lebih dulu apa yang benar dan kalau seseorang sudah tahu apa yang benar, pasti dia lakukan dengan benar.

Ketika kita berkata, “Aku mengenal Allah,” itu bukan hanya bicara tentang pengetahuan intelektual, fakta-fakta atau data. Itu bukan hanya pengetahuan tentang siapa Allah, tetapi sesungguhnya bicara mengenai relasi personal dengan Allah yang diawali oleh beriman kepadaNya dan relasi persekutuan itu semakin dalam ketika kita mengasihi dan taat kepadaNya. Salah satu tanda kita adalah seorang Kristen yang memiliki iman sejati adalah jika kita memiliki hasrat dan keinginan untuk taat kepada Tuhan. Jika engkau tidak memiliki hasrat dan keinginan itu, jika engkau tidak peduli melakukan apa yang Tuhan katakan, jika prinsip firman Tuhan bukan sesuatu yang penting bagimu, mungkin itu menjadi satu tanda awas bahwa engkau bukan pengikut Kristus yang sejati. Maka engkau yang berkata “Aku mengenal Allah,” sekarang aku memberikan ujian ini, kata Yohanes, apakah engkau setia dan taat menjalankan apa yang engkau tahu itu? Yohanes memakai kata “keep” secara hurufiah berarti memperlakukannya sebagai harta yang berharga. Kita memelihara dan menjalankan perintah Allah secara eksternal “in the outward act” dan secara internal “in the inner attitude.”

“Barangsiapa berkata: aku mengenal Dia tetapi ia tidak menuruti perintahNya, ia adalah seorang pendusta dan di dalamnya tidak ada kebenaran. Tetapi barangsiapa menuruti firmanNya, di dalam orang itu sungguh sudah sempurna kasih Allah. Dengan itulah kita ketahui bahwa kita ada di dalam Dia” (1 Yohanes 2:4-5). Whoever keeps His word, in Him truly the love of God is perfected. Kalimat yang indah luar biasa “in him truly the love of God is perfected.” Kata perfect seringkali kita anggap sebagai sesuatu yang tidak ada cacatnya, sesuatu yang mulus, yang “kinclong” seperti mobil yang mulus lalat hinggap pun bisa terpeleset. Namun lebih baik sebenarnya kata ini lebih dimengerti sebagai kasih yang mature atau dewasa. Orang yang dewasa perlu memiliki a growing and mature love. Hubungan kita satu dengan yang lain menjadi hubungan relasi yang mature, tidak berarti tidak ada kesulitan di antara kita. Tetapi jika kesulitan itu terus berulang-ulang dan menjadi sesuatu kesulitan yang membuatmu tidak pernah “move on” dan membuatmu menjadi “back and forth” bolak-balik bagaikan kapal yang terombang-ambing dengan tidak ada nakhoda di tengah lautan barangkali kasihmu adalah kasih yang tidak pernah bertumbuh dewasa.

“By this we may know that we are in Him: whoever says he abides in Him ought to walk in the same way in which He walk” (ayat 4-6). Firman Tuhan ini luar biasa indah meminta kita yang mengenal Allah, menjadikan pengetahuan dan pengenalan akan Allah itu hadir dan nyata di dalam hidup kita dan salah satunya adalah bagaimana you mem-build up a healthy relationship yang indah dengan sesamamu orang Kristen, lebih daripada itu orang lain yang bukan Kristen bisa tertarik kepada Allah karena hidupmu sebagai orang Kristen. Yesus berkata, “Dengan demikian semua orang akan tahu bahwa kamu adalah murid-muridKu yaitu jikalau kamu saling mengasihi” (Yohanes 13:35). Di dalam kultur yang sangat individualistis ini kita dipanggil untuk mengasihi orang-orang yang ada di gerejamu, membangun relasi yang akrab dengan saudaramu seiman, dan lebih daripada itu orang-orang yang ada di dalam rumahmu, semakin dekat engkau dengan orang itu semakin gampang engkau terluka, semakin dekat engkau dengan orang itu semakin gampang terjadi friksi engkau alami. Itulah sebabnya kita membutuhkan cinta kita bertumbuh menjadi dewasa.

Maka kembali kepada ayat tadi, barangsiapa berkata ia mengasihi Allah, ia harus hidup sebagaimana Yesus hidup (1 Yohanes 2:6). Kita bisa melihat terobosan yang luar biasa, Yesus bisa makan bersama para pemungut cukai, Yesus bisa bercakap-cakap dengan perempuan Samaria di pinggir sumur yang malu bertemu dengan orang lain karena hidup moralnya tidak benar, Yesus bisa mencintai dan mengasihi orang kusta, Yesus menerima orang-orang Samaria yang dihina dan direndahkan oleh orang Yahudi. Yesus bukan saja menyuruh kita mengasihi saudara kita, tetapi Yesus mengajar kita untuk mengasihi musuh. Yesus memperlihatkan bagaimana Ia mengasihi musuh-musuhNya yang menyalibkan Dia, Yesus berdoa bagi mereka.

  1. “The Test of Love” Adakah engkau mengasihi saudaramu?

Di sini kasih kepada Allah dan ketaatan kepada perintah Allah diuji di dalam kasih kepada saudara seiman. Yohanes mengatakan test ini: jika engkau memiliki iman yang sejati itu, engkau harus mengasihi saudaramu. “Setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah” (1 Yohanes 4:7). Kita bilang kita mengasihi Allah, buktinya apa? Perlu keluar hal yang konkrit yaitu apakah engkau mengasihi saudara-saudaramu? Engkau katakan engkau mengasihi Allah, bagaimana engkau bisa mengasihi Allah yang tidak kelihatan itu sedangkan engkau tidak bisa mengasihi saudaramu yang kelihatan? Kalau kepada saudara-saudaramu yang kelihatan saja, engkau tidak mengasihi, bagaimana engkau bisa membuktikan engkau mengasihi Allah yang tidak kelihatan? (1 Yohanes 4:20).

Dalam surat 1 Yohanes ini ada lebih dari 20x kata kasih muncul kasih yang dalam bahasa Yunani adalah “agape.” Itu bukan kasih yang sentimental, bukan berdasarkan kita suka atau tidak terhadap orang itu. Kasih itu merupakan satu komitmen dengan benar dari hati kita untuk melakukannya dengan unconditional, no matter what. Itulah kasih agape. Bagi kita mungkin tidak terlalu sulit untuk mengasihi orang yang mengasihi kita. Tetapi mungkin sangat tidak mudah untuk mengasihi semua orang, terutama orang-orang yang tidak menghargai dan membalas kasih kita. Orang itu mungkin tidak terlalu baik kepadamu, dapatkah engkau tetap mengasihi dia? Orang itu mungkin menyebabkan kesulitan dan tantangan datang kepadamu, dapatkah engkau tetap mengasihi dia? Itulah kasih agape.

Mengasihi saudara, buktinya apa? 1 Yohanes 2:7-11 Yohanes memberikan guidance itu. Muncul kalimat menarik di sini “ini bukan perintah baru melainkan perintah lama” tetapi dilanjutkan dengan kalimat “ini juga perintah baru,” jadi sebenarnya ini perintah lama atau perintah baru? Dua-duanya: perintah lama dan juga perintah baru. Kenapa ini dikatakan sebagai perintah lama? Sebab seluruh isi kitab suci khususnya dalam hal ini adalah Perjanjian Lama esensinya hanya dalam dua kalimat ini: “Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu, dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu” dan “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Tetapi kalau esensinya hanya dua kalimat itu, lalu mengapa Alkitab harus ditulis sampai begini tebalnya? Lalu kenapa Yohanes mengatakan ini sebagai perintah baru? Karena Yesus memberikannya dengan kalimat ini, ”Aku memberikan perintah baru kepada kamu yaitu supaya kamu saling mengasihi, sama seperti Aku telah mengasihi kamu, demikian pula kamu harus saling mengasihi” (Yohanes 13:34). Jadi meskipun ini adalah perintah yang sudah lama Tuhan berikan, menjadi perintah yang baru sebab dengan konkrit luar biasa Yesus memperlihatkan kasih itu bukan berupa hal yang tertulis, kasih itu bukan teori dan knowledge saja yang engkau tulis dan engkau hafalkan, kasih itu menjadi sesuatu yang baru karena Yesus melakukannya. Perintah ini lama tetapi sekaligus juga perintah baru dalam hal kualitas dan otoritasnya.

Jadi sekarang kita menemukan satu hal yang unik luar biasa dari konsep kasih agape dari 1 Yohanes 2 ini. “Barangsiapa berkata aku mencintai saudaraku,” yang kita buktikan dengan memberi dia makan saat dia lapar, dengan melakukan ini dan itu baginya. Saya tahu dia susah dan sulit, saya bantu dia; saya tahu dia ada pergumulan, saya doakan dia; saya tahu, maka saya melakukan sesuatu; itulah buktinya saya mengasihi. Namun Alkitab tidak bicara soal ‘what you do’ sekalipun itu penting dan perlu. Bukan yang di permukaan yang eksternal, di sini firman Tuhan masuk kepada bagian bawah internal yang tidak kelihatan, bukti negatif yang justru memberitahukan kita, kita tidak mempunyai kasih yang dewasa dan mature kalau kita membenci saudara kita. Benci. Hatred. Rage. Bitterness. Kata-kata yang keras dan kasar keluar dari mulutmu. Itu menjadi satu bukti negatif di dalam hidup orang ini bahwa tidak ada kasih padanya. Dua kali kalimat ini muncul, “Barangsiapa membenci saudaranya”(ayat 9), “Barangsiapa membenci saudaranya” (ayat 11). Engkau mengasihi tidak diukur dengan apa yang engkau lakukan secara positif bagi orang itu tetapi diukur dari sisi aspek emosi negatif ini. Dalam relasi dengan saudara seiman, salah paham bisa terjadi. Kita bisa saja masuk ke dalam konflik dan pertengkaran. Kata-kata yang menyakitkan hati bisa keluar dari mulut kita satu sama lain. Kita akhirnya menjadi marah kepada saudara kita itu. Jika kita tidak mawas diri, kemarahan itu akhirnya berlanjut menjadi kepahitan, dan akhirnya berbuah menjadi kebencian, dan akhirnya menjadi racun yang menjangkiti seluruh kehidupan rohani kita.

Dalam Efesus 4:21-32 Paulus memanggil kita untuk menanggalkan manusia lama dan mengenakan manusia baru, di situ kita menemukan aspek “doing” dari sisi eksternal dan dari sisi internal yang tidak kelihatan, dan dua aspek ini adalah bicara bagaimana perubahan hidup yang terjadi pada diri orang percaya sebagai manusia baru. Seringkali kita tidak melihat yang tersembunyi di bawah permukaan sebab memang tidak kelihatan. Orang biasanya langsung bisa melihat aspek yang kelihatan dari seseorang yang sudah lahir baru. Misalnya dulu seorang perokok berat, sekarang dia tidak merokok lagi; dulu pemalas, setiap malam keluyuran dan begadang, luar biasa Tuhan ubah, sekarang dia menjadi seorang yang rajin, setiap hari bangun pagi dan bekerja dengan baik; dulu dia suka berjudi, sekarang dia suka membantu orang yang kesusahan finansial. Dulu suka berbohong, sekarang dia menjadi seorang yang jujur dan dapat dipercaya. Dulu pemarah, sekarang orangnya sabar (Efesus 4:25-29). Paulus berkata, “Orang yang dulunya mencuri, janganlah mencuri lagi. Orang yang dulunya malas, sekarang bekerjalah baik-baik. Jangan lagi ada perkataan kotor dari mulutmu, keluarkan kata-kata yang konstruktif membangun semangat orang.” Ini semua adalah aspek yang kelihatan, yang eksternal, yang bisa kelihatan bagaimana orang itu berubah setelah dia percaya Tuhan. Tetapi Paulus tidak berhenti sampai di situ. Dia kemudian mengupas hal-hal yang tidak kelihatan, yang tersimpan di dalam hati, yang bisa disembunyikan begitu rupa dengan kata-kata dan perilaku yang sebaliknya sehingga orang lain tidak tahu. Paulus menyebutkan ada lima kondisi emosi yang sangat tidak sehat dan begitu destruktif yang tidak boleh ada lagi. “Buanglah segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah” (Efesus 4:31). Kepahitan, kegeraman, kemarahan yang dinyatakan dengan kebencian.

Jika seorang anak kecil menyatakan frustrasi dan kemarahannya dengan melempar barang atau mainannya, kita bilang itu tantrum. Kenapa? Karena kita tahu besok dia sudah lupa dan lewat begitu saja. Kita tidak bisa bilang anak itu “rage.”  Jika seorang remaja menyatakan frustrasi dan kemarahannya dengan emosi meledak membanting pintu, kita bilang itu akibat perubahan hormonal dan aspek fisiologis dalam fase remaja. Tetapi ketika orang yang sudah dewasa menyatakan frustrasi dan kemarahannya dengan cara yang sama seperti anak kecil dan anak remaja, ketika seorang suami menyatakan frustrasi dan kemarahannya kepada isterinya dengan melempar piring ke mukanya atau meninjunya sampai patah rahangnya, kita tidak bisa mentolerir akan hal itu. Itu adalah “rage” kegeraman, karena di situ dia menyatakan kemarahan dengan kebencian yang meluap-luap. Jikalau hidup relasimu kehilangan aspek kedewasaan dan dipenuhi dengan kebencian dan kemarahan, engkau “bring destructive” in your path. Kita tidak boleh terus mencari pembenaran dan excuses untuk mengatakan engkau berhak untuk marah. Kalau engkau pulang ke rumah, anakmu mulai lari menyingkir darimu karena takut amarahmu meledak, you bring an unhealthy emotion in your family life. Hari ini buang dan singkirkan karena itulah sikap yang destruktif.

Yohanes menyatakan di ayat 9-11 tiga aspek muncul. Satu, dikatakan dia berjalan di dalam kegelapan. Kedua, dia tidak tahu direksi jalannya kemana. Ketiga, dia tersandung atau berjalan di dalam “the path of destruction.” Orang yang dipenuhi dengan kebencian itu seperti orang buta yang berjalan di dalam kegelapan. Orang itu akan berjalan menabrak dan merusak, dan jalan yang dia jalani itu begitu destruktif dan menghancurkan orang lain. Kadang-kadang kita tidak sadar akan hal ini. Kita pikir kata ‘tersandung’ seolah-olah cuma berkaitan dengan sakit dan ruginya dia sendiri. Perjalanan orang itu merusak dan merugikan orang lain. Engkau akan merusak dirimu, engkau akan merusak keluargamu. Bayangkan kalau saya hidup dengan orang yang bisa meledak emosinya kapan saja, kita seperti hidup dikelilingi oleh ranjau bom yang kita sedikit saja salah melangkah, dia akan meledak dan menghasilkan kerusakan yang luar biasa. Kalau sudah begitu, sdr jadi serba salah. Sdr pulang ketemu papamu terus seperti itu, engkau akan bilang lebih baik pulang langsung masuk kamar, selesai. Jangan biarkan hati kita yang benci, hati kita yang rage, itu bikin sesuatu yang destruktif di dalam hidup rumah tangga kita. Hari ini dengan sangat saya meminta engkau kiranya firman Tuhan ini biar menjadi firman yang engkau lakukan di dalam hidupmu. Biar kita boleh menjadi orang Kristen yang dewasa, orang Kristen yang sudah diampuni dosanya, orang Kristen yang sudah Tuhan bilang jalan in the right path, dan pada waktu engkau berjalan di situ karena engkau sudah diampuni oleh Tuhan, jalan dengan mata yang terbuka, tahu apa yang benar, cinta firman Tuhan, kita lakukan firman Tuhan dan tidak ada kebencian di dalam hati kita. Jika hidup kita dipenuhi oleh kebencian dan amarah, kita berada di dalam kegelapan rohani dan kita tidak hidup di dalam terang Injil.

Kadang orang bertanya, ketika firman Tuhan menyuruhku untuk mengasihi semua orang, apakah itu berarti aku harus menyukai semua orang? Tidak berarti kita harus suka sama semua orang, tetapi kata itu berarti engkau tidak boleh menyimpan kebencian dan melakukan sesuatu yang sangat destruktif. Jikalau demikian maka orang yang penuh dengan kebencian dan kemarahan mungkin dalam hidupnya orang itu tidak mengalami regenerasi kelahiran baru oleh Roh Kudus karena Tuhan pasti akan menjadikan hati setiap orang yang lahir baru penuh dengan kelembutan dirubah oleh firman. Saya rindu kita bukan hanya memperhatikan apa yang eksternal, firman Tuhan ini membawa kita masuk ke dalam hatimu dan kita katakan sama Tuhan, “Tuhan, jangan biarkan aku terus menyimpan kebencian dan kemarahan di dalam hatiku. Kiranya hatiku berlimpah dengan kasihMu yang penuh pengampunan itu menjadi kesembuhan bagi kehidupan emotionalku. Beri aku hasrat dan kesungguhan mentaati firmanMu.” Biar hati kita yang sekeras batu boleh dilembutkan oleh kuasaNya. Biar segala luka hati, kemarahan, kekecewaan, kesedihan, cacat dan kerut di dalam kehidupan kita disembuhkan olehNya sehingga indahlah kehidupan spiritual kita.(kz)

 

*Silahkan klik Audio_Icon untuk mendengarkan audio khotbah ini