Renungan Minggu Ini

BIJAKSANA HIDUP MENURUT PENGKHOTBAH

Senin 28 November 2016
Nats: Pengkhotbah 4:17-5:6 – “The Approach to God”
(1) Apa yang lebih penting bagi Pengkhotbah pada waktu kita datang ke rumah Allah?
(2) Apa nasehat Pengkhotbah berkaitan dengan perkataan dan janji kita kepada Tuhan?
(3) Perkataan yang terburu-buru dan janji yang keluar karena ‘impulse’ bisa berbahaya, mengapa?

Selasa 29 November 2016
Nats: Pengkhotbah 5:7-8 – “The Poor under Oppressive”
(1) Bagaimana Pengkhotbah melihat kejahatan dan penindasan dalam dunia yang real ini?
(2) Birokrasi dan korupsi menjadi aspek utama orang miskin mengalami penderitaan. Bagaimana Pengkhotbah melihat jalan keluar dari masalah klasik ini?

Rabu 30 November 2016
Nats: Pengkhotbah 5:9-11 – “Money and Its Drawbacks”
(1) Ada tiga hal yang dilihat Pengkhotbah menjadi sumber kepahitan dari uang, apa sajakah itu?
(2) Apabila orang miskin menderita karena birokrasi dan korupsi, apa yang menjadi penderitaan bagi orang kaya?
(3) Mengapa orang yang menjadi pegawai bisa lebih bahagia daripada boss-nya?

Kamis 1 Desember 2016
Nats: Pengkhotbah 5:12-16 – “Wealth – Loved and Lost”
(1) Bagaimana Pengkhotbah menggambarkan kesia-siaan dari kekayaan?
(2) Apakah ini berarti tidak ada gunanya kekayaan bagi manusia?
(3) Apa yang menjadi drive dalam hidup sehingga seseorang bisa menjadi berkat di dalam kekayaannya?

Jumat 2 Desember 2016
Nats: Pengkhotbah 5:17-19 – “Remedy Recalled”
(1) Pengkhotbah memperlihatkan bukan kemiskinan ataupun kekayaan yang membawa bahagia ataupun derita. Apa yang ia anggap bisa memberi kebahagiaan sejati?
(2) Bagaimana Allah memberi kepada orang percaya kuasa untuk menikmati kekayaan dan sibuk dengan kesenangan hatinya?

Sabtu 3 Desember 2016
Nats: Pengkhotbah 6:1-6 – “Wealth and Its Insecurity”
(1) Paradoks apa yang dilihat Pengkhotbah pada diri orang yang kaya di luar Tuhan?
(2) Pengkhotbah melihat anak banyak dan usia panjang tidak ada gunanya apabila diisi dengan kesedihan. Padahal bukankah dua hal ini seringkali menjadi tolok ukur bagi kebahagiaan seseorang? Bagaimana respon kita atas prinsip itu?