Mengalami Kelepasan dari Kebencian

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Eksposisi Surat 1 Yohanes (6)
Tema: Mengalami Kelepasan dari Kebencian
Nats: 1 Yohanes 2:9-14

“Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu…” (Efesus 4:31).Paulus menyebutkan 5 kata sifat yang penting di sini yang memberitahukan kepada kita betapa destruktifnya aspek emosi yang tidak sehat bagi spiritual kita.Paulus memanggil kita untuk membuang manusia lama dan mengenakan manusia baruyang penuh cinta kasih, ramah satu dengan yang lain, hati yang penuh pengampunan, sebagai orang yang telah menerima pengampunan dari Allah di dalam Yesus Kristus.Namun dalam mengimplikasi panggilan Paulus itu seringkali orang lupa apa sebenarnya manusia lama atau “old self” itu sepenuhnya. Ketika seseorang menjadi manusia baru, sangat kelihatan dari aspek eksternal orang itu mengalami perubahan. Orang itu tadinya pemalas, sekarang menjadi orang yang rajin bekerja; orang itu tadinya suka“swearing,” sekarang dia berkata dengan sopan dan bahkan rajin mengutip firman Tuhan; orang itu tadinya malas ke gereja, sekarang menjadi orang yang rajin ke gereja; orang itu tadinya tidak suka membaca Alkitab, sekarang begitu suka membaca Alkitab dan buku-buku rohani; orang itu tadinya suka berjudi di casino dan ke nightclub, sekarang dia memakai waktu untuk membesuk orang yang dalam kesulitan dan uangnya untuk menolong mereka yang membutuhkan. Tetapi menanggalkan old self manusia lama bukan hanya aspek eksternal yang mengalami perubahan, namun yang lebih penting adalah terjadinya perubahan dari aspek internal dari apa yang tidak kelihatan, yang tersembunyi di bawah permukaan. Maka Paulus mengeluarkan 5 aspek itu, “Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu…” sehingga kita memiliki spiritualitas yang sehat. Relasi yang otentik bersama Tuhan bukan saja menghasilkan pertumbuhan di dalam aspek pengetahuan knowledge kita, atau apa yang kita kerjakan dan lakukan di dalam aspek pelayanan kita, tetapi terutama bicara soal bagaimana Tuhan membersihkan dan membereskan apa yang ada di bawah permukaan ini, bicara soal aspek hati kita yang tersembunyi. Dalam 1 Yohanes 2:9 Yohanes mengingatkan satu warning yang sangat penting, “Barangsiapa berkata bahwa ia ada di dalam terang tetapi ia membenci saudaranya, ia berada di dalam kegelapan sampai sekarang.”Dan dilanjutkan, “Barangsiapa membenci saudaranya, ia berada di dalam kegelapan dan hidup di dalam kegelapan.Ia tidak tahu kemana ia pergi karena kegelapan itu telah membutakan matanya” (1 Yohanes 2:11).Engkau sudah mengenal kasih Allah, sekarang lakukan apa arti kasih Allah itu; engkau tahu akan firmanNya, sekarang lakukan itu. Yohanes berbicara mengenai bukti dari cinta dan kasih kita kepada Tuhan itu dinyatakan dalam hal apa? Bukti itu bukan dinyatakan dalam hal apa yang engkau kerjakan dalam pelayanan; bukan dinyatakan dalam hal berapa banyak engkau tahu isi Alkitab dan segala doktrin Alkitab, itu adalah aspek-aspek yang penting dan perlu; tetapi Yohanes memberikan satu ujian adakah kita sungguh-sungguh memiliki hubungan yang otentik dengan Allah dan sungguh-sungguh mengasihi Allah itu dinyatakan dengan adakah kita mengasihi saudara kita. Apa artinya kita mengasihi saudara kita? Kita mengatakan kita mengasihi dengan berbuat baik kepada orang itu, kita melakukan ini dan itu buat dia; kita ramah menyapa dia, dst. Namun bukan aspek itu yang Yohanes angkat di sini.Dua kali Yohanes memakai kata yang sangat keras “if you say that you love God but you hate your brothers.” Kebencian adalah satu reaksi emosi yang negatif dan mungkin tidak langsung bisa terdeteksi oleh orang lain karena kita bisa menyembunyikannya di dalam hati kita. Namun kebencian bisa menjadi sangat berbahaya karena perlahan tapi pasti dia akan tinggal dan bertumbuh menjadi akar pahit yang semakin lama semakin kuat. Jika kita membiarkan kebencian ini tertancap dalam hati kita, maka satu saat dia akan meledak menjadi satu ekspresi kemarahan yang sangat destruktif dan menghasilkan kerusakan yang luar biasa. Ketika kemarahan dan kebencian mengontrol kita, hati-hati, firman Tuhan mengingatkan ada empat hal terjadi. Pertama, orang itu berada di dalam kegelapan “they are in the darkness.” Kedua, kebencian itu menghasilkan kebutaan rohani, “they walk in the darkness” karena kebencian itu akan membutakan matanya. Ketiga, dia tidak tahu direksi hidupnya dengan benar. Kebencian dan kemarahan akanmembuatmu tersandung dan jatuh dan segala sesuatu yang engkau lakukan untuk memuaskan emosi oleh karena kebencian dan kemarahan itu bagaikan “the path of destruction” yang sama seperti kerusakan yang terjadi setelah twister, hurricane, gempa dan tsunami meninggalkan bekas luka yang dalam dan merusak luar biasa.Keempat, kebencian dan kemarahan yang terus memenuhi hati orang itu mungkin adalah tanda dan bukti bahwa kasih Allah tidak ada di dalam diri orang itu.Seorang anak Tuhan suatu waktu bisa jatuh di dalam dosa kebencian terhadap seseorang, tetapi jika dia adalah seorang anak Tuhan yang sejati, dia tidak dapat terus berada di dalam kebencian itu karena hatinya akan kehilangan damai sejahtera dan kebencian itu membuat relasinya dengan Tuhan tidak bisa dia nikmati dengan indah. Maka di sinilah test atau ujian yang akan membuktikan adakah betul-betul kita memiliki a wonderful and genuine fellowship dengan Tuhan.

Seorang filsuf Yunani bernama Aristoteles di abad 4BCsudah memberikan pengamatan dan analisa yang begitu dalam luar biasa mengenai emosi kemarahan manusia.Dari semua emosi manusia, emosi yang paling tidak mudah untuk keluar dengan pas dan tepat adalah ekspresi kemarahan.Tidak mudah mengekspresikan kemarahan kepada orang yang tepat, dengan porsi kemarahan yang tepat, dengan alasan yang tepat, dengan cara yang tepat. “Anybody can become angry. That is easy. But to be angry with the right person, and to the right degree, and at the right time, and for the right purpose, and in the right way, that is not within everyone’s power and is not easy.” Hanya sedikit orang yang belajar mengekspresikan emosi marah dengan cara yang tepat. Terlalu sering kita membiarkan kemarahan dan kebencian itu menyeret kita kepada pencobaan dan dosa.Terlalu sering kita mencampur-adukkan emosi kemarahan itu dengan kesombongan, kecongkakan, iri, keserakahan.Paulus mengingatkan, “Apabila kamu menjadi marah janganlah kamu berbuat dosa; janganlah matahari terbenam sebelum padam amarahmu dan janganlah beri kesempatan kepada Iblis” (Efesus 4:26-27).Ayat ini mengingatkan kita emosi marah itu tidak boleh dipelihara dan disiram dengan bensin kebencian sehingga membuka kesempatan bagi Iblis menguasai hati kita.Yakobus berkata, “Setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar tetapi lambat untuk berkata-kata dan juga lambat untuk marah, sebab amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah” (Yakobus 1:19-20).

Kenapa bisa timbul kebencian dan kemarahan dalam hidup kita?Sudah tentu kita tidak bisa suka kepada semua orang. Kadang kita bisa “dislike” kepada orang dengan alasan tertentu atau tidak ada alasan sama sekali. Tetapi “dislike” tidak berarti kita otomatis membenci orang itu, bukan? Itu dua hal yang berbeda. Ada orang yang memang kita rasa “annoyed” tidak punya skill untuk bergaul, “kepo” dan “reseh” suka mau tahu urusan orang. Kita bisa jadikan itu alasan untuk tidak suka dengan dia. Tetapi dari “dislike” menjadi “hate,” dari “hate” menjadi “resentment” untuk sampai ke situ memerlukan beberapa tahap sebetulnya. Sdr bisa dislike Donald Trump, tetapi kalau akhirnya kita sampai membenci dia apalagi sampai muak dan ingin melukainya, saya rasa sdr sudah melibatkan emosi yang tidak semestinya karena sdr tidak pernah kenal dia secara pribadi dan tidak ada urusan pribadi denganmu.

Point muncul ketika firman Tuhan ini mengajak kita merenungkan apa sih yang membuat hati kita sensitif dan bereaksi marah dan benci? Kita perlu mengevaluasi dengan sejujurnya kepada diri sendiri apakah kemarahan dan kebencian kita itu memang merupakan respons yang sepatutnya?Kita perlu berdoa dengan terbuka di hadapan Tuhan apakah kita sendiri sudah bersalah di dalam kata-kata dan perbuatan kita, dan kita perlu membereskan hal itu di hadapan Tuhan dan meminta pengampunanNya. Demikian juga ketika ada orang yang sudah bersalah kepada kita di dalam kata-kata dan perbuatannya, kita minta Tuhan kekuatan untuk mengampuni dan memaafkan dia. Warren Wiersby mengatakan, “We must develop the right attitude in our hearts to build a right relationship with God and others.”

Ada beribu alasan bisa kita munculkan sebagai excuses kita membenarkan kemarahan itu. Kita merasa layak untuk marah ketika rasa keadilan kita terganggu.Kita merasa layak untuk marah ketika kita merasa orang tidak respek kepada prinsip kita.Kita merasa layak untuk marah karena ada rejection dan penolakan orang.Kita merasa layak untuk marah karena hati kita terluka.Ada orang yang cenderung menyimpan hati yang terluka bagi diri sendiri, mengira dengan menyimpannya dalam-dalam luka itu akan sembuh seiring dengan berjalannya waktu tetapi sebetulnya tidak menyembuhkan sebelum kita menyelesaikannya bersama Tuhan. Banyak hamba Tuhan menyimpan kemarahan dan ketidak-stabilan emosi di dalam pelayanan oleh sebab di dalam kesendiriannya dia menyimpan semua luka hati itu seorang diri.Dan pada waktu menghadapi konfrontasi kemarahan orang, dia cenderung hanya freeze membeku dan tidak bisa melakukan apa-apa.Ironi sekali, sebagai hamba Tuhan kita sering menemukan ada orang yang sedikit dilayani, tetapi mengucap syukur dan bahagia dan penuh dengan gratitude.Itu memberikan penghiburan dan sukacita bagi kita.Tetapi ada orang yang semakin diberi, semakin dilayani, semakin diperhatikan, semakin besar menuntut semua bagi dirinya, semakin banyak gerutu keluar dari mulutnya.Kita bisa membayangkan bagaimana hati dari hamba-hamba Tuhan yang melayani seperti itu.Jikalau luka hati itu tidak pernah dibuka di hadapan Tuhan dan Roh Kudus memberi kesembuhan, maka luka itu menjadi infeksi berdarah setiap kali dikorek dan diganggu.Sebagai hamba Tuhan kita bisa menghadapi kesulitan di dalam melayani orang, kita mengalami gesekan, konflik dan ketegangan yang membuat hati kita terluka.Kadang kita bisa lelah fisik, mental dan spiritual karena terus hanya menyimpan itu bagi diri sendiri. Tetapi pada waktu sdr menyimpan luka itu di dalam hatimu, apakah berarti keterlukaan itu akan sembuh dengan sendirinya? Tidak.Dan itulah yang seringkali terjadi pada waktu luka itu terkorek dan tanpa sadar luka itu seperti nanah yang sudah membusuk dan meledakkan emosi kemarahan yang sangat besar. Mari kita masing-masing mengoreksi hati kita pada hari ini dan menanyakan dengan sejujurnya jikalau sdr sedang marah dan benci kepada seseorang, apa yang menyebabkan kemudian engkau meledakkan kemarahanmu dengan kebencian dan kata-kata yang keras kepada orang itu? Mengapa engkau benci dan marah?Apakah itu respon yang tepat terhadap situasi yang sedang engkau hadapi?

“Bukan perintah baru yang kutuliskan kepada kamu, melainkan perintah lama; namun perintah baru juga yang kutuliskan kepada kamu” (1 Yohanes 2:7-8).Rasul Yohanes di sini bicara tentang “perintah lama dan perintah baru” memberikan aspek yang penting untuk kita senantiasa ingat bahwa kita tidak bisa mengandalkan pengalaman kemenangan iman di masa lalu menjadi jaminan kita selalu ada dalam kondisi seperti itu selalu.Kemarin mungkin kita bisa kuat, hari ini kita bisa lemah.Interaksi kita dengan firman Tuhan harus selalu bersifat “present tense” dalam hidup kita.Kita perlu mengalami untuk mengerti kebaikan Tuhan, kita resapi setiap moment dalam hidup kita menikmati kasih setia Tuhan. Berkali-kali Yohanes mengatakan di bagian ini, “ini adalah firman yang telah kita dengar…” (1 Yohanes 2:7), “kamu telah mengenal Dia yang ada dari mulanya…” (1 Yohanes 2:13), “kamu telah mengenal Dia yang ada dari mulanya…” (1 Yohanes 2:14) perhatikan bentuk yang dipakai Yohanes adalah bentuk “past tense” merujuk kepada masa yang sudah lampau. Ini satu hal yang kalau kita baca sepintas kita mungkin bisa miss out apa yang ingin Yohanes sampaikan di sini. “You have to obey” [present tense], tetapi juga “you’ve already know and obey” [past tense]. Mengapa kita perlu memperhatikan penekanan ini?Saya melihat di sini betapa penting kita tidak hanya mengandalkan pengalaman masa lalu dan akhirnya kita tidak mawas diri bahwa hari ini, saat ini, dalam momen ini kita bisa menjadi lemah dan jatuh dalam dosa. Dengan bentuk present tense berarti kita dipanggil untuk membiasakan satu “habitual lifestyle” dalam pola kita berpikir dan berespons dengan sikap yang sepatutnya dan sesuai dengan kebenaran firman Tuhan.

Mari kita melihat hidup dari nabi Elia dalam 1 Raja 19. Beberapa hari sebelumnya dia begitu berhasil dalam pelayanannya; dia mengalahkan 400 nabi Baal, dia memanggil api Tuhan turun dari langit membakar korban persembahannya, dia mengatakan tidak ada hujan dan hujan tidak turun selama lebih dari 3 tahun, dia mengatakan sebentar lagi akan hujan, dan hujan lalu turun dengan derasnya. Itu semua prestasi dan achievement Elia di masa lampau.Mengherankan sekali bagaimana kemudian ketika ratu Izebel mengeluarkan ancaman mati, dia menjadi takut dan lari.Apa yang menyebabkan Elia lari? Ada dua hal.Pertama, karena dia dulu [in the past] kuat.Tetapi firman Tuhan mencatat betapa dengan segera Elia menjadi lemah oleh karena tekanan eksternal itu. Kedua, Elia lari karena dia lupa akan kehadiran Allah. Di tengah padang gurun di dalam kemarahan dan kekecewaannya kepada Tuhan kenapa membiarkan hal itu terjadi, Elia minta mati. Di gunung Horeb Tuhan menyatakan kehadiranNya dengan fenomena alam: angin yang besar dan dahsyat, gempa dan api. Dan yang terakhir dalam angin yang sepoi-sepoi Tuhan datang kepada Elia dengan lembut mengingatkan dia, “Apa kerjamu di sini, hai Elia?” dua kali (1 Raja 19:9 dan ayat 13).Tuhan bertanya dalam bentuk present tense tetapi Elia menjawab “aku telah bekerja segiat-giatnya” dalam bentuk past tense. Dari sini kita bisa melihat betapa kita membutuhkan satu kesadaran kita perlu bersandar kepada Tuhan setiap waktu.

Kalau hari ini saya berhenti berdoa, dan sepuluh tahun saya tidak berdoa, apakah pengetahuan saya tentang bagaimana berdoa akan hilang? Tidak.Apakah saya masih bisa mengingat isi kalimat “Doa Bapa Kami”?Bisa.Hari ini saya tidak baca Alkitab, sepuluh tahun saya tidak ke gereja, apakah pemahaman doktrin saya berubah?Tidak.Apakah saya masih bisa menghafal isi pengakuan Iman Rasuli?Bisa.Selama sepuluh tahun itu tidak ada yang berubah dari knowledge saya, bahkan saya tetap bisa naik mimbar dan berkhotbah mengutip ayat-ayat dengan benar.Tetapi apakah ada perbedaan selama sepuluh tahun itu?Jelas ada perbedaannya.Perbedaannya adalah saya menjadi kerdil dan menciut, bukan dalam hal knowledge, bukan dalam aspek pengetahuan, tetapi saya berubah dari bapa-bapa rohani menjadi kanak-kanak dan bayi rohani lagi.Maka di bagian ini rasul Yohanes mengatakan, “aku menulis kepada kamu hai bapa-bapa, aku menulis kepada kamu hai orang muda, aku menulis kepada kamu hai anak-anak” (1 Yohanes 2:12-14) dua kali berulang, kebanyakan penafsir setuju ini bukan bicara soal kelompok umur, tetapi soal fase kematangan rohani dan stage pertumbuhan rohani tiap-tiap kita. Ada yang baru menjadi bayi rohani, yang baru percaya Tuhan; ada yang mulai mature rohaninya seperti orang muda yang tidak lagi dependence dengan bimbingan dalam hal yang basic dasar-dasar iman. Ada yang menjadi bapa rohani, yang mengayomi, yang membimbing dan menjadi teladan bagi anak-anak dan orang muda, tetapi kalau spiritualitas itu tidak di-maintain mungkin minggu depan saya bisa tiba-tiba menjadi bayi yang selfish dan demanding. Itulah sebabnya mengapa Yohanes memakai kata present tense. Minggu ini saya bisa taat kepada firman Tuhan, minggu depan saya bisa tidak taat kepada firman Tuhan. Waktu tidak taat, apakah pengetahuan saya berkurang?Tidak. Maka ini selalu harus menjadi panggilan bagi setiap kita: kalau saya sudah tahu hukum Tuhan sebagai perintah lama, kenapa tidak saya lakukan? Firman Tuhan, perintah-perintah Tuhan yang engkau renungkan itu harus terus menjadi baru di dalam hidupmu. David Allen mengatakan, “the idea is a progressive knowledge that is gained by experience, we are continually being able to know God in a real, genuine and complete way.” Memiliki pengetahuan yang terus bertumbuh secara progresif yang kita peroleh dari pengalaman yang real, yang otentik dan komplit di dalam relasi bersama Allah.

Bagaimana melepaskan diri dari kebencian dan kemarahan?Terakhir, saya ingin memberikan nasehat dariIgnatius Loyola seorang pastor Katolik di abad 16AD yang mengajar bagaimanamelatih diri untuk selalu ada kesadaran menghadirkan “the presence of God” di dalam hidup kita melalui momen kontemplasi di malam hari, merefleksi satu persatu hal yang terjadi sejak pagi tadi, apa saja yang engkau lakukan, hadirkah Tuhan di situ? Dalam refleksi itu biar hati kita terbuka dan responsif kepada Tuhan. Disiplin seperti ini membantu bagaimana kita memproses respons kita terhadap apa yang kita jalani, bagaimana sikapmu kepada kolega atau anggota keluargamu, kenapa kita bereaksi seperti itu, bagaimana sikap kita kepada Tuhan, apa yang engkau perlu confess di hadapan Tuhan, dsb.  Itu adalah satu disiplin rohani yang penting sekali dan tidak boleh kita abaikan dan lupakan.Banyak orang berpikir bagaimana mungkin Tuhan bisa hadir dalam hidupnya karena barangkali memang dia tidak pernah menghadirkan Tuhan di dalam hidupnya, padahaldi situlah fellowship dengan Tuhan secara konkrit terjadi.Mari kita jalankan prinsip ini di dalam hidup kita dan kita menyaksikan firman ini menyembuhkan kita, menyebabkan hati kita dipenuhi dengan sukacita karena kita memiliki fellowship yang indah dengan Tuhan.Jangan lagi ada kebencian dan kemarahan menguasai hatimu.Selalu tanyakan: mengapa engkau marah? Mungkin karena sombong, mungkin karena congkak, mungkin karena ada hati yang terluka, mungkin ada pikiran-pikiran negatif berpikir orang itu punya motivasi yang tidak baik kepada kita. Dispute semua pikiran itu dengan firman Tuhan pada hari ini. Jikapersoalannya ada pada hatimu sendiri, mintalah Tuhan memberikan kesembuhan itu.Hadirkan Allah di dalam setiap aspek hidupmu dan biar firmanNya memberikan kekuatan dan kesegaran bagi kesehatan rohanimu.(kz)

 

*Silahkan klik Audio_Icon untuk mendengarkan audio khotbah ini