Yesus, Pengantara dan Pendamaian Kita

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Eksposisi Surat 1 Yohanes (4)
Tema: Yesus, Pengantara dan Pendamaian Kita
Nats: 1 Yohanes 2:1-6

Florence Chadwick dikenal sebagai seorang perenang jarak jauh yang mempunyai resilient spirit dan perseverance yang luar biasa. Dia adalah wanita pertama yang menyeberang selat English channel antara kepulauan Inggris dengan Perancis yang jaraknya 21 mile atau sekitar 33.6 km. Tahun 1952 pada usia 33 tahun dia memutuskan untuk menyeberang dari kepulauan Catalina menuju pantai California yang jaraknya 26 mile atau sekitar 41.6 km. Namun pada hari dia melakukan hal itu, cuaca sangat berkabut dan dingin luar biasa. Selama berenang itu dia didampingi oleh kapal-kapal kecil yang menjaga kalau-kalau ada ikan hiu atau kalau sewaktu-waktu Florence terluka atau kelelahan dan di situ ibunya mendampingi. Setelah berenang selama 15 jam di tengah-tengah kabut yang begitu tebal, Florence tidak bisa melihat laut di depannya dia mengatakan kepada mamanya, dia sangat lelah dan tidak bisa melanjutkan lagi. Mamanya mengatakan, tahanlah sebentar lagi. Satu jam kemudian dia menyerah dan minta diangkat ke perahu. Sesudah dia naik ke kapal, baru dia tahu sayang sekali ternyata pantai California hanya tinggal 1 mile saja. Dalam konferensi pers Florence mengatakan, “kabut itu membuat saya tidak bisa melihat kemana aku harus berenang. Jika seandainya saja saya bisa melihat garis pantai California itu, saya pasti bisa mencapainya.” Dua bulan kemudian dia ambil keputusan untuk mencoba berenang lagi dari tempat yang sama. Dan meskipun cuaca tidak berbeda dengan sebelumnya, di tengah kabut yang begitu tebal, Florence berhasil menyelesaikan misinya. Dia menghadapi kondisi yang tetap sama, cuaca yang tetap sama, problem yang tetap sama tetapi dengan attitude yang berbeda, menjalani dengan tekun dan sabar, tidak putus asa, tidak give up.

Dalam perjalanan kita mengikut Tuhan, kadang-kadang kita menghadapi kondisi yang begitu berat dan sulit. Kabut dan awan gelap mengelilingi dan membuat kita tidak bisa melangkah. Kabut ketakutan, kabut kesulitan, depresi, problem kesehatan, kehilangan pekerjaan, ada ketidak-pastian di dalam finansial, ada hubungan suami-isteri yang tegang dari hari ke hari, kehilangan orang yang kita kasihi, begitu banyak kabut tebal di dalam perjalanan hidup kita. Belum lagi ketika kita membangun hidup Kristen kita, kita begitu rindu ingin mencintai Tuhan, kita ingin mengasihi Tuhan, kita ingin melayani Tuhan, kita ingin hidup lebih baik, kita ingin hidup berintegritas, kita ingin menjalankan firman Tuhan, kita ingin lebih sabar sedikit, kita ingin lebih tekun, kita ingin lebih bersandar kepada Tuhan, kita jatuh bangun dan menghadapi tantangan yang berat luar biasa. Setiap hari kita mengumpul dan menimbun hati kita dengan begitu banyak sampah kotor. Perkataan kita pasti melenceng, tindakan kita mungkin merugikan orang, it is too easy for us to destroy our lives, tidak perlu suruh orang lain untuk menghancurkan hidup kita. It is too easy for us to destroy our community, tinggal benci dan marah-marah saja, tidak perlu tunggu orang luar untuk menghancurkan. It is too easy for us to destroy our marriage, no need so much effort dan orang ketiga sebenarnya, just silent duduk di situ, hancur sendiri. Kita bisa lemah dan putus asa; tangan kita bisa lemah, kaki kita bisa goyah. Darimana kita bisa mendapatkan kekuatan untuk terus bertekun, sabar dan tidak give up di tengah kondisi dan situasi seperti itu? Ibrani 12 menyatakan satu hal yang luar biasa, “Ingatlah selalu akan Dia, yang tekun menanggung bantahan yang sehebat itu terhadap diriNya dari pihak orang berdosa supaya jangan kamu menjadi lemah dan putus asa…” (ayat 3). Dari segala sudut, Tuhan kita Yesus Kristus menghadapi setiap serangan dan bantahan yang begitu hebat dari orang-orang yang membenciNya.

Rasul Yohanes mengawali suratnya di pasal 2 dengan memberikan ayat-ayat yang begitu memberikan penghiburan dan pengharapan bagi anak-anak Tuhan yang begitu down, despair dan penuh dengan dukacita dan putus asa, terbenam di dalam kegagalan dan kejatuhan dosa. “Anak-anakku, hal-hal ini kutuliskan kepadamu supaya kamu jangan berbuat dosa. Namun jika seorang berbuat dosa, kita mempunyai seorang pengantara kepada Bapa yaitu Yesus Kristus yang adil. Dan Ia adalah pendamaian untuk segala dosa kita…” (1 Yohanes 2:1-2). Yohanes berkata, “Anak-anakku…” atau “little children,” dia menulis surat ini pada waktu dia sudah berusia lanjut, seperti seorang ayah yang menghibur anaknya yang sudah berbuat salah dan menghadapi konsekuensi yang begitu berat.

Pdt. Robert Murray McCheyne dalam memoir biografinya mengatakan, “I feel, when I have sinned, an immediate reluctance to go to Christ. I am ashamed to go. I feel as if it would do no good to go as if it were making Christ a minister of sin and a thousand other excuses; but I am persuaded they are all lies, direct from hell.” Ketika saya telah berbuat dosa, saya seketika merasa begitu enggan untuk datang kepada Kristus. Saya merasa tidak ada gunanya datang kepadaNya sebab seolah-olah saya telah menjadikan Dia pelayan dosa dan saya menciptakan seribu satu alasan lain untuk menghindari Dia. Tetapi segera saya tahu bahwa semua perasaan dan alasan-alasan itu datangnya dari si pendusta, dari neraka. Masihkah Tuhan mau membuka tangan mengampuniku? Ya, tangan Tuhan yang penuh kasih itu terbuka dan mengampuni kita.

Ayat ini mengingatkan kepada kita tidak ada orang yang bisa membangun kehidupan Kristennya berdasarkan kekuatan dan kemampuan diri sendiri tanpa ditopang oleh anugerah Tuhan setiap hari. Tidak pernah kita bisa membangun segala sesuatu berdasarkan kebenaran diri. Setiap saat begitu gampang kita bisa jatuh dalam dosa dan berbuat salah. Kita perlu menyadari kita adalah orang yang berdosa dan bersalah di hadapan Tuhan namun kita dikasihi dan diampuni olehNya. Selama-lamanya kita tidak pernah punya kekuatan dan keyakinan untuk hidup dan bangkit bisa mencintai dan mengasihi Tuhan jikalau tidak diawali dengan satu confident keyakinan atau jaminan Dia sanggup mengampuni dosa kita yang sebesar dan sedahsyat apa pun dan Dia tidak mengingat-ingat lagi apa yang telah lewat dan yang telah lalu. Alkitab mengatakan “sejauh timur dari barat demikian dijauhkanNya daripada kita pelanggaran kita” (Mazmur 103:12).

Kemudian dua kata penting muncul di sini: Yesus Kristus adalah “pengantara” dan “pendamaian.” Kata “pengantara” terjemahan bahasa Inggris memakai kata “advocate” atau “pembela.” Dalam ruang pengadilan, ada empat pihak di situ: ada hakim, ada jaksa penuntut, ada pembela, lalu ada tertuduh yang duduk di kursi pesakitan. Jaksa penuntut akan mengeluarkan begitu banyak tuduhan untuk menuduh orang ini bersalah. Pembela kemudian berdiri di hadapan hakim untuk menyatakan pembelaan bagaimana bisa membebaskan yang tertuduh. Yohanes berkata, jika seorang berbuat dosa, kita mempunyai seorang pengantara. If anyone does sin, we have an advocate with the Father, Jesus Christ the righteous. He is the One who is called alongside to help in a time of need, He is the One who lends His voice in our defense, He is the One who speaks up to God the Father on our behalf. Puji Tuhan! Kita mempunyai Yesus sebagai pembela kita.

Siapakah “the accuser” yang mendakwa kita? Dalam Wahyu 12:10b dikatakan, “karena telah dilemparkan ke bawah pendakwa saudara-saudara kita, yang mendakwa mereka siang dan malam di hadapan Allah kita.” Dia adalah “naga besar itu, si ular tua, yang disebut Iblis atau Satan yang menyesatkan seluruh dunia” (Wahyu 12:9). Kadang-kadang kita perlu diingatkan firman Tuhan mengenai courtroom di hadapan tahta Allah kita Bapa di surga, ada sang pendakwa berdiri di situ, dia bukan menuduh kita sewaktu-waktu tetapi siang dan malam dia menuduh kita terus-menerus tanpa henti. Setiap hari kita mengalami teguran dan tuduhan dari accuser kita yang begitu bertubi-tubi sehingga bisa membuat kita dipenuhi oleh perasaan bersalah, putus asa, kecewa, kita merasa kita tidak sanggup bisa melakukan kebenaran dan kebaikan di dalam hidup ini, terlalu susah dan sulit. Banyak hal kesalahan yang kita lakukan, banyak mistakes yang kita buat, hal-hal yang mungkin tidak dengan bijaksana kita lakukan. Hal-hal ini tidak akan pernah terlepas dari hidup kita dan kita merasa jalan hidup kita berputar-putar. Tetapi di tengah-tengah keadaan seperti itu, firman Tuhan ini mengingatkan kita punya seorang pembela. Di tengah siang dan malam tanpa henti kita didakwa dan dituduh oleh pendakwa kita dalam segala hal di depan Allah Bapa, bisa apa kita? Kita hanya bisa berdiam diri, kita kelu di situ dengan mata yang hanya bisa menatap pembela kita menolong kita. Puji Tuhan, kita bisa berlindung kepada Tuhan Yesus Kristus yang menjadi pengantara dan pembela kita.

Kata yang kedua, “pendamaian” yang dalam terjemahan bahasa Inggris adalah propitiation, the atoning sacrifice, dalam bahasa Yunani adalah  “hilasterion” atau dalam konteks Perjanjian Lama ini adalah penutup tabut perjanjian atau “tutup pendamaian” (Keluaran 25:17) atau dalam terjemahan KJV adalah “mercy seat” (Ibrani 9:5). Dalam Imamat 16 Allah memberitahu Musa bagaimana persyaratan imam besar Harun boleh masuk ke dalam tempat maha kudus yaitu dengan memercikkan darah binatang ke atas tutup tabut pendamaian. Hanya dengan cara itu dia tidak akan binasa. Sebelumnya sudah ada kejadian dua anak Harun dengan kurang ajar melongok ke dalam tabut itu sehingga Allah membuat mereka mati. Maka dalam Perjanjian lama upacara memercikkan darah binatang untuk memperdamaikan Allah dengan manusia terus dilakukan setiap kali umat Allah datang menghampiriNya menjadi bayang-bayang kegenapannya nanti di dalam pengorbanan Kristus,

karena hanya darah Kristus satu-satunya yang tidak ada dosa sanggup membereskan relasi keberdosaan manusia kepada Allah yang mengasihi dia. Ketika kemarahan dan murka Allah ditumpahkan dan dijatuhkan kepada orang berdosa, ketika cambuk hukuman itu datang kepada orang berdosa, Yesus Kristus, Anak Allah yang tidak berdosa itu datang menutupi dan melindungi orang yang berdosa sehingga cambuk dan murka itu ditimpakan kepadaNya (Roma 3:25).

Anselmus, seorang bapa Gereja di abad 11AD pernah ditanya orang, “Kenapa sih Tuhan menebus dosa manusia dengan sangat rumit? Mengapa perlu Yesus mati menjadi korban menebus dosa? Bukankah itu terlalu ‘complicated’ dan ‘primitif’? Saya sendiri, kalau ada orang yang bersalah kepada saya, tinggal bilang ‘I forgive you,’ selesai.” Anselmus menjawab pertanyaan ini di dalam bukunya “Cur Deus Homo,” Mengapa Allah menjadi Manusia? Kalau ada orang bertanya seperti itu, kata Anselmus, artinya orang itu tidak mengerti dua hal. Pertama, dia tidak mengerti dengan jelas apa arti kedalaman kejatuhan kita di dalam dosa. Kedua, dia tidak mengerti dengan jelas apa yang namanya suci sesuci-sucinya menurut kesucian Tuhan. Murka Allah tidak boleh disamakan dengan murka kita. Kita murka karena hak kita terganggu. Dan kalau kita murka kita jadi garang. Jadi pada waktu memikirkan tentang murka Allah, jangan dengan konsep Allah itu seperti seorang yang darah tinggi yang pemarah. Allah murka bukan sebagai satu reaksi emosi yang berkelebihan untuk menyatakan penghukuman. Murka Allah adalah Allah tidak mungkin bisa menyangkal kesucian  dan keadilan diriNya sendiri. Allah harus ‘truthful’ dengan diriNya sendiri. Maka murka itu adalah satu reaksi normal dari sifat kesucian dan keadilanNya yang tidak bisa diganggu gugat. Itu sebab dengan memahami penebusan Kristus mengandung dua unsur yang tidak boleh lepas. Ke satu, Yesus Kristus menebus dosa kita, tetapi unsur kedua yang lebih penting adalah memahami penebusan Kristus membereskan murka Allah. Itu arti kata “jalan pendamaian.”

Kenapa Yesus Kristus berhak menjadi pengantara dan pendamaian bagi dosa-dosa kita? Karena hanya Yesus Kristus Allah Anak yang tidak berdosa itu yang sanggup bisa mewakili engkau dan saya berdiri di hadapan Allah Bapa untuk membelamu. Semua dosa yang dikatakan oleh si pendakwa itu kepadamu telah Dia tanggung. Dia telah mati disalib bagimu. Itulah yang dikerjakan dan dilakukan oleh Kristus sebagai pembela dan pengantara bagi engkau dan saya. Apalagi yang kurang? Bukan saja dosa-dosa kita berapa besar atau berapa kecil atau berapa banyak, dosa seluruh dunia ini ditanggungNya. Siapa saja, berapa pun berat dan besarnya dosa-dosamu, Dia sanggup mengampuni setiap orang yang datang menyesali segala dosa-dosanya dan meminta pengampunan dari Tuhan kita Yesus Kristus. Puji Tuhan! Ayat-ayat ini menjadi kekuatan yang indah dan menjadi satu dorongan yang luar biasa kepada setiap anak-anak Tuhan yang datang menghampiri Tuhan di tengah-tengah segala tuduhan yang dilontarkan oleh Setan kepadanya. Jangan lari; jangan pergi; jangan kecewa; jangan putus asa, karena kita mempunyai pengantara yang namanya Yesus Kristus Tuhan. Kalau Yesus Kristus tidak sanggup mengampuni segala dosa-dosamu, aku tidak bisa menawarkan assurance jaminan ini bagimu. Jikalau Tuhan tidak sayang kepadamu sebagai orang berdosa apa adanya, saya tidak akan berani untuk menawarkan assurance dan keyakinan ini kepada engkau. Kalau kita tidak cinta satu dengan yang lain dan berani memaafkan satu dengan yang lain, kita tidak sanggup bisa menawarkan confident keyakinan ini. Tetapi karena kita tahu ini adalah jaminan dan keyakinan yang pasti, engkau bisa datang kepadaNya dan memperoleh pengampunan dariNya dan engkau bisa mulai menata hidupmu dengan indah dan sukacita.

Tahun 1863, Charitie L. Bancroft menulis satu syair yang begitu indah berjudul “The Advocate” yang menyatakan kita sebagai orang percaya memiliki jaminan perfect security dari pembela kita. Syair ini kemudian menjadi lagu yang kita kenal berjudul “Before the Throne of God Above.”

Before the throne of God above, I have a strong and perfect plea
A great High Priest whose name is Love, who ever lives and pleads for me
My name is graven on His hands, my name is written on His heart
I know that while in Heaven He stands, no tongue can bid me thence depart
No tongue can bid me thence depart

When Satan tempts me to despair and tells me of the guilt within
Upward I look and see Him there who made an end to all my sin
Because the sinless Saviour died, my sinful soul is counted free
For God the just is satisfied, to look on Him and pardon me
To look on Him and pardon me                                                              

Behold Him there the Risen Lamb, my perfect spotless righteousness
The great unchangeable I am, the King of glory and of grace
One with Himself, I cannot die; my soul is purchased with His blood
My life is hid with Christ on high, with Christ my Saviour and my God
With Christ my Saviour and my God

Banyak hal kita pelajari dalam hidup ini hanya sampai kepada informasi dan knowledge yang mengisi otak kita, tetapi engkau dan saya mengakui banyak bijaksana yang kita pelajari dalam hidup ini bukan datang dari bangku sekolah atau dari informasi yang kita baca dan dengar. Banyak bijaksana yang kita pelajari justru datang dari pengalaman-pengalaman hidup kita di luar pada waktu kita bersentuhan dengan firman Tuhan dan kita alami. Experience itu menjadi pengalaman yang indah. Pengalaman-pengalaman yang kita dapat dari berani ikut Tuhan, belajar ikut Tuhan, kita salah, kita gagal dan menghadapi berbagai macam konsekuensi dari semua itu. Itu adalah pengalaman-pengalaman yang membentuk bijaksana dalam hidup kita.

Terakhir, kembali kepada Ibrani 12:3 “Ingatlah selalu akan Dia, yang tekun menanggung bantahan yang sehebat itu terhadap diriNya dari pihak orang berdosa supaya kamu jangan menjadi lemah dan putus asa…” Mari kita resapi kalimat-kalimat ini supaya kita tahu betapa dahsyat luar biasa apa yang telah Yesus alami di tengah bantahan dan serangan yang begitu hebat dari orang-orang yang membenciNya. Ingatlah kepada Yesus Kristus yang selama hidupNya menanggung serangan dan bantahan yang tidak habis-habisnya padahal Dia tidak berdosa dan sempurna adanya.

Doakan banyak anak-anak Tuhan yang melayani dengan baik di dalam berbagai macam area kehidupan. Kalau dari pagi sampai tengah malam hidupmu terus disorot dan dicari-cari, kata-kata yang sedikit salah keluar dari mulutmu akan menjadi kesulitan bagi engkau dan tindakan kita yang sedikit keliru langsung menjadi berita yang diwartakan di koran dan berbagai social media untuk menjatuhkan dan menghancurkanmu, dapat kita bayangkan betapa sulit hidup sebagai pemimpin seperti itu. Dan sekuat-kuatnya kita menjaga hidup sebagai pemimpin, kita hanya manusia biasa, kita bisa lalai dan khilaf. Kita bisa saja melakukan satu decision making yang keliru dan mungkin tidak memuaskan semua orang. Setiap hari kalau terus dihantam sanggupkah engkau kuat dan tahan dan sabar? Satu kalimat yang tidak ada intention apa-apa saja bisa dipelintir, bisa bayangkan kalau orang terus mencari-cari dari kalimat yang keluar dari mulutmu di pagi hari sampai malam dan perbuatanmu kepada satu orang dan kalimat yang disalah-mengerti itu bisa menjadi serangan dan bantahan yang sangat hebat engkau hadapi. Jangan lemah, jangan putus asa, jangan kecewa, demikian firman ini mengingatkan kita. Kita mempunyai pengantara dan pembela yang mengasihi engkau dan saya. Berdirilah teguh, kuatkan kakimu yang sedang goyah, berjalan ikut Tuhan lagi, berjanji lagi di hadapanNya, teguhkan hatimu dan refocus lagi. Jatuh sedikit, bangun lagi. Tidak bisa berjalan, pelan-pelan melangkah ikut Tuhan. Pandang kepada Dia, cintailah Dia yang telah lebih dahulu mencintai engkau dan saya.(kz)

 

*Silahkan klik Audio_Icon untuk mendengarkan audio khotbah ini