Hidup berjalan di dalam Roh

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Tema: Hidup berjalan di dalam Roh
Nats: Roma 8:1-17

Roma 8 dimulai dengan satu deklarasi yang luar biasa akan apa yang sudah Tuhan Yesus kerjakan selesai, final, full completely bagi setiap kita. “Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus!” (Roma 8:1). Tidak ada kata “mudah-mudahan” di dalam keselamatan Kristus.Semuanya selesai dikerjakan oleh Kristus, bukan oleh kebenaran dan kebaikan kita.

Surat Roma pasal 1-3 adalah bagian dimana Paulus mengupas aspek keselamatan ini dengan begitu teliti. Karena manusia telah jatuh di dalam dosa, tidak ada kemungkinan dengan cara apa pun untuk bisa mendapatkan pembenaran. Adanya hukum Taurat yang Tuhan beri tidak menjadikan manusia sanggup untuk melakukannya, melainkan hanya memaparkan dan memberitahukan bahwa kita semua tidak bisa dan tidak sanggup mengerjakan apa yang tertulis di dalam hukum Allah. Itu sebab dari pasal 4-5 Paulus memberitahukan apa artinya dibenarkan melalui iman. Sama seperti Abraham yang percaya akan janji Allah yang secara akal manusiatidak mungkin terjadi. Sara isterinya sudah berusia begitu lanjut bagaimana mungkin bisa melahirkan anak?Namun yang impossible itu menjadi kenyataan, lalu lahirlah Ishak.Maka dia disebut sebagai “anak perjanjian.”Dengan penuh keyakinan Abraham percaya bahwa Allah berkuasa untuk melaksanakan apa yang telah Ia janjikan dan hal itu diperhitungkan Allah sebagai kebenaran(Roma 4:21-22). Dengan argumentasi itulah rasul Paulus selanjutnya mengatakan kepada kita pun Allah memperhitungkan iman percaya kita kepadaNya sebagai pembenaran bagi kita (Roma 4:24-25). Dan selanjutnya di pasal 5 Paulus memberitahukan apa artinya “justification” pembenaran itu yaitu kita dibenarkan oleh iman, kita percaya akan apa yang Tuhan telah kerjakan bagi kita tanpa dengan kita melakukan sesuatu dengan perbuatan baik kita, kita bisa diselamatkan. Itulah arti anugerah, tidak ada sesuatu yang layak di dalam diri kita tetapi oleh kasih karunia dan pemberian Allah kita boleh diselamatkan.

Namun mengerti akan anugerah seperti ini bisa membuat manusia salah mengartikannya dengan keliru. Sehingga di pasal 6:1 “side effect” mungkin terjadi bagi mereka yang melihat kasih karunia Allah yaitu bisa membuat ada orang meremehkan kasih karunia itu dengan berbuat dosa dan berbuat salah terus menerus karenamerasa itu tidak berakibat bagi keselamatannya. Maka mulai dari pasal 5,6 dan sampai kepada pasal 8 Paulus bicara mengenai apa artinya orang yang sudah ditebus oleh Tuhan hidup di dalam pengudusan. Sayang sekali banyak orang Kristen menawarkan Kekristenan yang murah dan gampang.”Hanya percaya Yesus saja pokoknya dijamin engkau akan selamat masuk surga.”Kalimat itu memiliki kebenaran separuh saja, tetapi efeknya berbahaya sekali.Jelas Alkitab memang berkata, keselamatan itu pemberian Allah, itu bukan hasil usaha kita, itu bukan hasil kebaikan kita, tetapi hal itu bisa terjadi bukan melalui jalan yang mudah.Yesus Kristus menderita sengsara dan mati di kayu salib untuk menanggung dan membayar hutang dosa kita.Dietrich Bonhoeffer pernah mengatakan, “Cheap grace is grace without cross.” Anugerah yang murah adalah anugerah tanpa salib.We are justified by faith alone, kita dibenarkan hanya oleh iman dan tidak ada jasa dari diri kita. Upah dosa adalah maut.Saya seharusnya mati binasa oleh karena dosa-dosaku.Apa pun usaha yang kulakukan dengan berbuat baik, aku tidak akan bisa mendapatkan pembenaran itu. Itulah sebabnya saya menerima satu-satunya jalan keluar yang diberikan oleh Tuhan, yaitu dengan percaya kepadaNya, aku yang orang berdosa ini disayangi dan dikasihiNya dan dosa-dosaku diampuniNya dengan cara Yesus menderita dan mati di kayu salib menggantikan aku. Maka kita sebagai orang Kristen tidak boleh mengatakan pokoknya asal sudah percaya Yesus pasti selamat dan tidak perlu menjaga hidup kita.Bukankah dosa kita sudah dipakukan di kayu salib?Bukankah kita sudah mati bersama Kristus?Dan bukan itu saja, bukankah Yesus sudah bangkit dari kematian bersama kita?Maka di dalam hidup kita mengalir darah dan penebusan di dalam Tuhan kita Yesus Kristus.Konsep ini penting. Inilah konsep yang disebut dengan “union with Christ” sehingga menjadi seorang manusia rohani memahami penebusan Kristus mati menggantikan kita itu akan membuat kita gentar dan takut, betapa mahalnya penebusan Yesus Kristus di atas kayu salib itu (Roma 6:1-5). Sehingga pada waktu Paulus berbicara kepada jemaat Korintus dan menegur beberapa di antara mereka yang pergi ke pelacuran, Paulus mengatakan seksual impurity adalah dosa yang kita lakukan bukan “di luar tubuh” tetapi “di dalam tubuh.” Dan keluarlah kalimat yang sangat mengejutkan dari Paulus, “Akan kuambilkah anggota Kristus untuk menyerahkannya kepada pelacuran?Sekali-kali tidak!”(1 Korintus 6:15-20). Akankah tubuh Kristus itu engkau jadikan berdosa dengan perbuatan dosamu? Sama sekali tidak! Kristus sudah menebus kita, hidup kita bukan lagi menjadi milik kita, melainkan kita menjadi bagian di dalam Dia dan Dia di dalam kita.Itulah sebabnya Paulus mengatakan di bagian ini Allah telah menjatuhkan hukuman atas dosa-dosa kita di dalam daging, di dalam diri Yesus Kristus.Maka janganlah engkau hidup di dalam daging lagi, melainkan hiduplah di dalam roh karena Yesus Tuhan telah menjadi Tuhan dan Juruselamat kita (Roma 8:3-4).

Hal kedua, Paulus mengatakan kita tidak lagi hidup di dalam daging, kita hidup di dalam roh.Segala sesuatu yang kita pikirkan dan lakukan, kita pasti lakukan itu di dalam roh.Karena roh memikirkan hal-hal yang bersifat rohani adanya.

Di dalam sejarah gereja, hidup suci yang ekstrim, cara hidup asketik melawan dosa, hidup yang memikul salib, menyingkirkan segala kehidupan duniawi, membuang segala keinginan dan hasrat dari apa yang ada di dunia ini dan segala ambisinya, itu hanya dilakukan oleh segelintir orang saja. Orang-orang ini dikenal dan disebut sebagai “saints” atau orang-orang kudus, yang dianggap memiliki status yang lebih tinggi dan lebih khusus daripada orang-orang Kristen yang lain. Ini adalah kesalahan konsep yang patut disayangkan sehingga orang-orang yang masuk ke dalam kelompok “jemaat biasa” tidak merasa perlu untuk menjalani hidup yang suci dan kudusseperti santo-santo itu. Lalu dari situ berkembanglah konsep yang entah datang dan mulai dari mana, orang-orang yang Kristen biasa itu merasa “tabungan” selalu defisit karena perbuatan saleh kita tidak banyak lalu kalau begitu mungkin tabungan para santo itu banyak maka kita bisa meminta dari mereka melalui doa-doa penyembahan kepada santo-santo tersebut. Konsep ini keliru karena memisahkan dan membagi pemisahan hanya saints orang-orang kudus yang harus hidup suci dan kudus sedangkan ordinary people itu adalah orang yang hidupnya biasa-biasa saja, tidak perlu striving dan mengejar bagaimana untuk bisa menjadi orang Kristen yang hidup dengan suci dan kudus adanya. Akhirnya banyak orang Kristen tidak ada dorongan untuk mengejar kekudusan dan kesucian di dalam hidupnya.

Alkitab sama sekali tidak melakukan pembedaan seperti itu. Kita semua adalah orang-orang kudus adanya, setiap kita pasti akan memikirkan hal-hal yang rohani pada waktu Roh Allah itu ada di dalam hidupmu. “Sebab mereka yang hidup menurut daging memikirkan hal-hal yang dari daging; mereka yang hidup menurut Roh memikirkan hal-hal yang dari Roh” (Roma 8:5).Dan Paulus melanjutkan, “jika memang Roh Allah diam di dalam kamu. Tetapi jika orang tidak memiliki Roh Kristus, ia bukan milik Kristus”(Roma 8:9). Jadilah manusia rohani oleh sebab Roh Allah itu tinggal di dalam diri kita.Biar Roh Allah itu mendorong kita hari ini supaya kita tahu kita perlu berjuang, kita perlu “striving,” kita perlu “pursuing holiness” itu di dalam hidup setiap kita.Kesucian adalah sesuatu yang tidak terjadi dengan pasif begitu saja.

Itu sebab di dalam bagian ini kita akan belajar apa artinya kita hidup di dalam roh. Konsep bicara mengenai Pribadi Oknum ketiga dari Allah Tritunggal yaitu Roh Kudus seringkali menjadi konsep yang keliru dan abstrak bagi banyak orang Kristen. Konsep siapakah Allah Bapa dan siapakah Allah Anak yaitu Yesus Kristus mungkin lebih banyak dibicarakan dengan luas dan lebih mudah dipahami karena konsep “Bapa” dan “Anak” itu adalah sesuatu konsep yang lebih konkrit sebagai suatu pribadi. Tetapi bicara mengenai Roh Kudus, seringkali orang memikirkanNya hanya semacam “power” kekuatan dan kuasa saja, bukan sebagai pribadi.Sehingga sebagian orang Kristen mengira hidup yang dipimpin oleh Roh Kudus mendatangkan aspek yang bersifat sensasi emosi, bersifat kuasa energi, atau bahkan yang lebih ekstrim mencari pengalaman yang bersifat mistis memahami Roh Kudus. Tidak! Roh Kudus adalah Pribadi Allah yang tinggal di dalam diri kita, yang mengerjakan proses pengudusan dalam hidup kita tidak seperti itu.

Hal yang menarik adalah perbedaan antara hadirnya Roh Allah yang suci dan tinggalnya roh jahat di dalam diri seseorang. Alkitab mencatat dengan jelas ketika roh jahat berada di dalam diri seseorang, kata yang dipakai adalah “possessed by demons” atau roh itu merasukinya. Dengan memakai kata “posses” kita mengerti di situ kuasa roh jahat itu “take control over” atau mengambil alih kesadaran diri orang itu sepenuhnya sehingga orang itu tidak menjadi dirinya lagi. Suaranya berubah, pandangan matanya berubah, gerak-geriknya berbeda dan pikirannya menjadi tidak waras sehingga sering disalah-mengerti sebagai orang gila.Dan terutama ada kekuatan supranatural yang luar biasa di dalam tubuhnya sehingga rantai besi yang mengikat dia pun bisa dengan mudah dia putuskan dan hancurkan.Tidak ada orang yang bisa mengontrol orang kerasukan seperti ini.Sangat berbeda pada waktu Roh Allah tinggal di dalam diri kita, tidak pernah dipakai kata orang itu “dirasuk” oleh Roh Kudus.Kata yang dipakai oleh Alkitab adalah orang itu “dipenuhi” oleh Roh Kudus, “dipimpin” oleh Roh Kudus. Yang diuraikan oleh rasul Paulus dalam surat Galatia “walk in the Spirit,” berarti direksi dari our path berada di dalam pimpinanNya. Maka hidup yang dipenuh oleh Roh Kudus berarti kita surrender sepenuhnya kita serahkan kepada pimpinanNya. Roh Kudus tidak merasuki diri seseorang, tetapi Roh Kudus memimpin dan menyertai kita dengan melakukan sesuatu yang tidak secara paksa di dalam diri kita.Sehingga dalam Efesus 4:30 Paulus mengingatkan kita janganlah mendukakan Roh Kudus Allah yang diam di dalam diri kita. Berarti kita bisa mendukakan Dia, dengan satu tindakan dimana kita bisa menolak dan melawan apa yang Roh Kudus inginkan. Roh Kudus dengan lembut memimpin kita, dengan secara terbuka Dia menyerahkan kepada kita untuk taat kepadaNya. Apakah kita mau dengan taat mengikuti pimpinanNya, apakah kita dengan hati yang terbuka lebar bersedia dipimpin dan disertaiNya, kita surrender sepenuhnya kepada Dia. Berarti di situ ada keaktifan dari kita, ada dorongan di dalam diri kita, ada desire yang kuat dari hati kita untuk mau dipenuhi oleh Roh Kudus dan memberi Roh Kudus sepenuhnya take control dengan indah menyertai kita. Di situ kita belajar menyingkirkan dari diri kita kepada pikiran-pikiran yang membawa kita kepada hal kedagingan, dan memenuhi pikiran kita dengan hal-hal yang indah dan mulia dari Tuhan.

Maka disini Paulus bicara soal mari hidup kita itu disertai dan dipimpin oleh Roh Allah pada waktu Ia berada di dalam hati dan diri engkau dan saya.

Dalam Roma 8:12-6 paling tidak ada tiga point yang penting muncul di sini.

  1. “Oleh Roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu…” (Roma 8:12-13).

Banyak orang Kristen memahami Roh Allah memimpin dan menyertai hidupnya adalah tindakan yang bersifat pasif saja. Let God do something lalu kita hanya pasrah lalu akhirnya hanya menjadi satu sensasi rohani yang tidak bertanggung jawab. Sesungguhnya kalau kita baca dengan teliti di sini hidup di dalam pimpinan Roh Allah membutuhkan satu disiplin rohani yang dalam.Disiplin pertama yang bersifat negatif adalah disiplin mematikan the activity of sins in your life.Kita harus melakukannya setiap hari setiap saat, lakukan itu dengan kesungguhan, dengan terus-menerus, dan itu bukanlah hal yang gampang adanya.Tidak ada jalan pintas.

Sayangnya ada pendeta yang menawarkan jalan pintas, “barangsiapa mau dilepaskan dari kecanduan judi, siapa yang ingin lepas dari perjinahan seks, dari minuman keras, hari ini dalam nama Yesus, keluarlah roh judi, roh jinah, roh minuman keras dari dirimu!” Konsep ini salah secara teologis karena di situ kita mencari excuses bahwa apa yang terjadi dalam hidup kita adalah karena sesuatu dorongan kuasa yang dari luar, bukan dari diri kita sendiri. Lalu jalan pintas kedua adalah orang yang mau dipenuhi Roh Kudus mencari sensasi pengalaman dan fenomena-fenomena muntah lalu merasa bersihlah orang itu.Tetapi tidak seperti itu yang Alkitab katakan kepada kita.

Hidup di dalam Roh, prinsip pertama yang Paulus katakan, engkau mematikan perbuatan-perbuatan kedagingan itu.Inilah kata yang sekali lagi harus kita gali keluar dari kosakata orang percaya yaitu kata “mortification” atau put to death ‘mematikan’ di dalam istilah teologinya. Masing-masing kita bisa gampang ditipu oleh setan oleh karena dia tahu kelemahan kita masing-masing.Dan melalui tempat paling lemah itu serangannya yang paling sering datang kepada kita.Kristus ingatkan kepada murid-murid, “Berjaga-jagalah dan berdoalah supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan; roh memang penurut tetapi daging lemah” (Matius 26:41). Itu sebab kata yang dipakai adalah “put to death in daily life” mematikan kedagingan itu.

  1. Yang kedua Alkitab memakai kata “cultivating.”Maka salah satu keindahan hidup yang dipimpin oleh Roh Kudus adalah keluarnya buah roh dari hidup orang itu.Adanya kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan hati, kebaikan, kesetiaan, kelemah-lembutan dan penguasaan diri, keluar dengan indah (Galatia 5:16-26).Semua itu adalah aspek-aspek yang berkaitan dengan diri orang itu. Pada waktu kata “buah” yang dipakai, kita tahu ada proses menanam, ada proses menyiram, proses memelihara dan cultivate buah yang dihasilkan daripadanya. Buah itu keluar menjadi satu proses yang panjang di dalam hidup kita. Kita bukan hanya menghindar dari apa yang salah dan dosa, untuk tidak melakukan apa yang tidak baik, tetapi kita harus secara aktifmenghasilkan buah yang indah di dalam hidup kita.
  2. Yang ketiga kita harus imitasi Kristus seumur hidup kita. Paulus berkata, kelak kita akan menerima kemuliaan pada waktu kita berjalan di dalam penderitaan dan kesengsaraan Yesus Kristus. Tidak ada sukacita dan kemuliaan tanpa penderitaan dan air mata.Tidak semua kita mungkin mengalami penderitaan, dianiaya, harta dirampas karena iman kepada Kristus, tetapi kita dipanggil untuk “imitatio Dei” hidup mengimitasi Tuhan kita.Kesulitan dan penderitaan dalam mengikut Kristus tidak boleh membuat kita putus asa, kecewa, marah dan merasa malu menjadi orang Kristen; justru senantiasa harus membuat kita bersukacita, bersyukur kepada Tuhan sekarang kita makin menjadi serupa dengan Dia.

Di dalam proses ini ada dua warning yang penting.

Yang pertama, Roma 8:14-16 “Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita…” Roh yang ada di dalam diri kita berseru ‘ya Abba, ya Bapa.’ Kata yang menarik adalah kata ‘berseru’ di dalam terjemahan Inggris “cried out,” yang lebih tepatnya adalah satu teriakan tangisan, kata yang dipakai mirip sekali dengan kata yang dipakai pada waktu Yesus Kristus berada di atas kayu salib berseru dengan suara nyaring, “Eli, Eli, lama sabakhtani” (Matius 27:46), sehingga kita bisa memahami seperti itulah Roh Kudus berseru dengan suara nyaring, “Ya Abba, ya Bapa.” Ayat ini indah luar biasa.“Abba” adalah satu panggilan yang begitu intim dan akrab kepada ayah, tetapi ‘berseru dengan suara nyaring’ itu menyatakan distance, ada jarak.Sama seperti Yesus berseru dengan suara nyaring di atas kayu salib bahwa Allah Bapa pada saat itu telah menjauh dan meninggalkan Yesus.Tetapi seruan di sini adalah seruan yang merasa Allah begitu jauh dan distance, tetapi sekaligus seruan itu adalah seruan yang intimate, ‘ya Abba, ya Bapa.’Mengapa seperti itu? Karena itulah proses pengudusan yang terjadi di dalam hidup orang Kristen yang sungguh-sungguh pasti mendatangkan pergumulan hati seperti itu, betapasusah dan berat hidup sebagai anak-anak Tuhan.

Yang kedua, Roh itu turut bersaksi dengan engkau bahwa engkau adalah anak Allah.Mengapa perlu seperti itu?Karena di dalam diri orang yang percaya Tuhan selalu ada tiga suara yang muncul.Suara yang pertama adalah suara tuduhan dari si Jahat yang selalu mengatakan, “Engkau bukan lagi anak Tuhan.Tuhan sudah jemu melihat hidupmu yang selalu melakukan dosa.Tuhan malas mendengar doamu yang selalu minta pengampunan.Katanya engkau berjanji mau setia menjadi anak Tuhan, tetapi engkau selalu tidak taat kepada Bapamu.”Suara yang kedua adalah suara hati nurani yang selalu mengaakmu untuk kompromi, “Sudahlah, jangan hidup terlalu saleh. Toh orang Kristen yang lain melakukan hal yang sama, bahkan lebih buruk daripadamu.” Di tengah dua suara itu, suara Roh Kudus yang tinggal di dalam hati kita selalu memberikan assurance itu, “Engkau adalah anak Allah.”Seberapa memberontak dan tidak taatnya kita kepada Bapa, kita tetap adalah anak-anaknya. Maka di dalam proses pengudusan kita, kita bisa jatuh bangun. Tetapi kita tidak boleh tidak berjuang. Pengudusan itu tidak akan terjadi jikalau kita tidak mau berjuang mematikan perbuatan kedagingan kita. Kita harus tegas menolak godaan untuk hidup duniawi, kita mau hidup benar dan suci, kita mau cultivate buah Roh yang indah di dalam hidup kita. Kita senantiasa hidup mengimitasi Kristus di dalam hidup kita. Pengudusan yang salah adalah orang itu menjadi merasa suci dan kudus dan merasa lebih baik daripada orang lain. Akhirny dia menjadi farisi-farisi Kristen yang salah.“Aku berpuasa, dia tidak.Aku memberi perpuluhan dengan teratur, dia tidak.Aku rajin berbakti, dia tidak.”Pengudusan yang sejati adalah kita melihat wajah Kristus, ketika kita berjalan makin dekat kepadaNya, kita makin mengaku betapa tidak mirip.Makin dekat lagi, makin kita merasa tidak layak dan begitu jauh dari keindahan kekudusan Tuhan.Itu membuat kita semakin rendah hati di hadapan Tuhan. Kiranya Roh Kudus memenuhi setiap kita dan berkarya dengan indah di dalam hidup kita sebab kita mau menyerahkan hidup kita dipimpin dan diatur oleh Tuhan.(kz)