The Testing in Ministry

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Tema: The Testing in Ministry
Nats: Matius 10:34-42

Matius 10 adalah bagian yang menceritakan Kristus memilih, memanggil dan mempersiapkan 12 muridNya. Pilihan ini bukan untuk menyatakan eksklusifitas atau pun bahwa posisi mereka lebih tinggi daripada yang lain. Panggilan Tuhan Yesus kepada murid-murid adalah satu panggilan yang indah, satu anugerah dan hal yang istimewa dari Tuhan, tetapi sekaligus ada tanggung jawab dan responsibilitas yang tidak sembarangan adanya. Dalam Lukas 6:12 Lukas mencatat sebelum Tuhan Yesus memilih dan memangggil mereka, semalam-malaman Ia berdoa kepada Bapa di surga.

Eksposisi Matius 10 ini saya kupas dalam tiga tema, pertama “The Cost of Ministry” ada harga yang harus dibayar di dalam melayani Tuhan, ada nilai yang berarti kita menjadi pelayan-pelayan Tuhan. Tema yang kedua adalah “The Blessings and Protections from God to those who do Ministry,” ada berkat Tuhan dan ada perlindungan Tuhan bagi orang-orang yang melayaniNya. Hari ini kita akan melihat tema yang ketiga “Ujian bagi Mereka yang Melayani.” Ini adalah satu bagian yang indah sekali dan saya harap kita boleh mendapatkan berkat dari bagian ini. Tuhan memberi kita berbagai macam ujian, bukan untuk menjatuhkan kita tetapi justru untuk membuktikan bahwa kita adalah muridNya yang sejati. Setiap ujian testing yang Tuhan berikan kepada kita bukan supaya kita gagal, bukan supaya kita mendapat nilai yang “merah.” Ujian testing yang Tuhan berikan adalah supaya orang lain tahu engkau adalah anak Tuhan yang sejati dan engkau adalah murid Tuhan yang sungguh.

Pada waktu Tuhan Yesus memanggil murid-murid dan mempersiapkan mereka, dengan latar belakang sebagian dari mereka adalah nelayan dan tidak pandai, boleh dikatakan mereka bukanlah “star studded” disciples, mereka bukan orang yang berpendidikan, mereka bukan orang kaya, mereka bukan orang-orang yang duduk di jabatan yang tinggi di dalam masyarakat. Dan bukan itu semua memang yang menjadikan Tuhan memilih mereka menjadi murid-muridNya. Kita percaya orang-orang yang paling kecil dan sederhana tetapi dengan hati yang tulus dan murni mencintai Tuhan, kita menyaksikan Tuhan sanggup bisa merubah orang itu dan orang itu sampai akhir akan tetap berkata ‘bukan karena diriku, tetapi hanya oleh karena anugerah dan kekuatan Allah dalam hidupku’ itulah bagian yang indah yang kita saksikan dari diri murid-murid Tuhan yang sejati.

Bagaimana panggilan kepada kita yang mungkin sederhana tetapi panggilan itu tidak akan membuat kepala kita besar, bagaimana pada waktu kita dijadikan murid oleh Tuhan, kita bukan apa-apa, tetapi selama hati kita tidak pernah menyimpang dari motivasi yang murni, seorang hamba Tuhan yang ingin melayani Tuhan, walaupun dari latar belakang keluarga yang sederhana, dari hidup yang apa adanya, namun dengan setia melayani sampai kepada akhirnya dia mungkin menjadi seorang hamba Tuhan yang baik dan gerejanya berkembang baik, orang menghormati dan respek kepadanya, tetapi bisakah sampai akhirnya dia tetap menyadari bahwa di awal dia melayani Tuhan, dari titik start sampai dengan garis finish dia tidak pernah berubah hati di hadapan Tuhan. Kita patut bersyukur kepada Tuhan kadang-kadang Tuhan perlu memberikan ujian kepada kita untuk hal itu.

“Jangan kamu menyangka bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi melainkan pedang…” (Matius 10:34). Kalimat Tuhan Yesus di sini adalah satu kalimat yang begitu intriguing dan begitu kontras sekali, karena kita menemukan di bagian-bagian Alkitab yang lain, bukankah sang Mesias di dalam Perjanjian Lama digambarkan sebagai Raja Damai “Prince of peace” (Yesaya 9:5), yang lemah lembut mengendarai keledai muda (Zakharia 9:9), dan kita tentu ingat di dalam Injil Lukas para malaikat menyanyi di hadapan para gembala, “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang maha tinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepadaNya” (Lukas 2:14) Dia datang membawa damai di bumi? Tetapi kalimat Yesus di sini sangat mengejutkan dan kontras yang luar biasa. Apa yang dimaksudkan Yesus datang membawa pedang? Itu berarti hidup menjadi murid Tuhan adalah sebuah peperangan; hidup melayani Tuhan adalah sebuah peperangan.

Paul David Tripp seorang hamba Tuhan senior menulis satu buku yang sangat baik berjudul “Dangerous Calling,” ditujukan bagi setiap orang yang melayani Tuhan secara penuh waktu. Isi buku itu begitu menyentak hati saya, dia membahas dua hal: bagaimana hati kita di hadapan Tuhan dan bagaimana hati kita kepada diri kita sendiri. Seringkali di dalam sekolah teologi orang yang dipersiapkan melayani namun banyak hal kita tidak siap soal hati kita. Persoalan menjadi hamba Tuhan bukan persoalan kurang pandai dan brilliant orang itu, bukan kurang pandai berkhotbah dan mengajar, bukan kurang hebat membaca dan mengupas isi Alkitab. Persoalan kita adalah soal hati. Maka David Tripp menulis satu kalimat ini, “Ministry is a war.” Satu kalimat yang sangat mengejutkan. “War” bukan berarti setiap kali pelayanan kita ribut melulu; bukan berarti setiap kali pelayanan kita mau berantem dengan rekan kerja.

Pada waktu Petrus bertanya kepada Yesus, “Guru, berapa kalikah aku harus mengampuni saudaraku? Sampai tujuh kalikah?” Petrus sangat “generous” menawarkan pengampunan sampai tujuh kali, sebab perintah rabi pada waktu itu mereka wajib mengampuni maksimum tiga kali. Tetapi Yesus menjawab, “Bukan tujuh kali, tetapi tujuh puluh kali tujuh kali.” Ayat ini seringkali dipakai oleh orang Kristen, pokoknya kita harus mengampuni orang yang berbuat salah kepada kita. Ini adalah konsep yang keliru mengerti soal pengampunan. Kita perlu memahami pengampunan orang Kristen bukan pengampunan yang murah. Pengampunan itu adalah pengampunan yang “conditional” adanya. Demikian halnya penebusan dan keselamatan Yesus Kristus juga tidak boleh dianggap sebagai “cheap grace” pokoknya asal percaya Yesus engkau pasti masuk surga. Bahaya, kita menawarkan pengampunan Tuhan tanpa menyertakan di dalam pengampunan itu dosa kita diampuni, kesalahan kita dihapus, itu tidak Tuhan Yesus lakukan seperti mengebaskan tongkat sakti dan mengeliminasi dosa kita tetapi itu adalah “forgiven sins” yang tidak akan terjadi tanpa ada penebusan oleh Kristus Yesus. Kita tidak dihukum lagi dari dosa-dosaku bukan oleh karena Tuhan tutup mata lalu terjadi begitu saja. Tetapi karena upah dosaku yaitu maut itu sudah ditanggung oleh Yesus Kristus. Kita seringkali menawarkan “cheap forgiveness.” Bahayanya adalah kalau kita bilang pokoknya setiap orang yang bersalah kepada kita, kita harus mengampuninya, di situ kita menawarkan konsep forgiveness without repentance. Alkitab tidak mengatakan seperti itu.

Pada waktu orang membawa seorang wanita yang kedapatan berjinah ke hadapan Yesus, Yesus mengampuni dia dan berkata, “Dosamu diampuni. Pergilah dan jangan berbuat dosa lagi” (Yohanes 8:1-11). Alkitab berkata, “Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita…” (1 Yohanes 1:9). Dan sebaliknya, jika seseorang berkata bahwa dia tidak berdosa, orang itu menipu dirinya sendiri dan kebenaran Allah tidak ada di dalam dirinya (1 Yohanes 1:8). Pada waktu kita menaikkan doa “Bapa Kami” di situ kita mengatakan, “Ampunilah kami akan kesalahan kami…” this is a spirit of repentance. Ada pengakuan bahwa saya bersalah, barulah ada pengampunan Allah itu terjadi.

Pada waktu Yesus mengatakan “Aku datang membawa pedang,” maka peace baru akan terjadi di atas muka bumi ini. Dia datang membawa damai itu, tetapi damai itu tidak akan mungkin terjadi sebelum Tuhan berperang dengan kejahatan; sebelum Tuhan menyingkirkan dosa; sebelum Tuhan mengkorek semua segala sesuatu yang tidak baik. Tidak pernah damai itu akan terjadi sebelum peperangan rohani itu tuntas selesai; itu yang harus kita pahami. Maka keselamatan di dalam Kristus Yesus terjadi oleh sebab ada peperangan Tuhan terlebih dahulu mengalahkan dosa dan kejahatan. Injil berarti Yesus Kristus berperang dengan kuasa kegelapan, merebut dan menarik kita keluar dari belenggu Iblis. Dalam surat Efesus Paulus mengingatkan, perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging tetapi melawan pemerintah penguasa penghulu dunia yang gelap dan melawan roh-roh jahat di udara (Efesus 6:12). Maka melayani Tuhan berarti ketika kita memberitakan Injil ada peperangan yang dahsyat di situ; Tuhan menarik orang keluar dari belenggu dosa, menarik orang dari kegelapan, itu adalah peperangan yang luar biasa sebab si Jahat pasti tidak akan pernah membiarkan apa yang pernah menjadi miliknya itu hilang begitu saja. Dia akan sekuat tenaga mempertahankannya.

Matius 10 dari ayat pertama sampai terakhir kita akan menemukan keunikan, dimulai dengan Yesus mengutus murid-murid dengan prinsip yang penting: engkau telah mendapatkannya dengan cuma-cuma, berikanlah dengan cuma-cuma juga. Tetapi kemudian diteruskan dengan satu larangan: jangan membawa apa-apa, jangan membawa uang, baju cadangan, jangan membawa bekal makanan, semua ini menunjukkan kita benar-benar harus melepaskan segala sesuatu. Tetapi kalau kita membaca sampai di akhir, kita menemukan keindahan yang luar biasa dari satu “paket khotbah” Tuhan Yesus, ditutup dengan kalimat “Sesungguhnya ia tidak akan kehilangan upahnya” (Matius 10:42). Inilah pola panggilan Tuhan Yesus, dimulai dengan melepaskan segala sesuatu diakhiri dengan engkau mendapat segala-galanya, engkau tidak akan pernah kehilangan semua itu. Hal ini tidak gampang dan tidak mudah, bukan? Seolah-olah Tuhan ingin berkata kepada kita, Ia tidak menjanjikan apa-apa kepada orang yang mengikut Dia. Kita sudah kaget dulu. Padahal kalimat itu Tuhan Yesus berikan untuk menguji seberapa setia dan murninya hati kita mencintai Dia. Karena terakhir nanti muncul kalimat ini: engkau tidak akan pernah kekurangan apa-apa.

Maka testing yang pertama dari Tuhan adalah seberapa sungguh kesetiaan hati kita kita berikan kepada Tuhan. Tuhan Yesus berkata, “Barangsiapa mengasihi orang tuanya, barangsiapa mengasihi anak-anaknya lebih daripada mengasihi Aku, dia tidak layak bagiKu. Barangsiapa tidak mau memikul salibnya dan tidak sepenuhnya mengikut Aku, dia tidak layak bagiKu” (Matius 10:37-38). Kalimat-kalimat ini tidak berarti kita harus meninggalkan dan menyingkirkan mereka. Kalimat-kalimat ini berarti ketika kita menjadi murid Tuhan dan melayani Tuhan, dari hari itu sampai selama-lamanya engkau dan saya mengalami peperangan rohani dan tiap hari kesetiaan hati kita diberikan kepada siapa. Ini adalah “term dan condition” menjadi seorang murid dan pelayan Yesus yang sejati. List itu harus diperpanjang bukan saja kita dipanggil mengutamakan Tuhan lebih daripada mengutamakan anggota keluarga kita; list itu harus diperpanjang dalam banyak aspek lain: barangsiapa lebih mencintai dan memperhatikan harta dan bank account-nya lebih daripada Aku, dia tidak layak bagiKu. Barangsiapa lebih memperhatikan dan mementingkan reputasi dirinya sendiri lebih daripada Aku, dia tidak layak bagiKu. Barangsiapa lebih mementingkan harga diri dan identitasnya lebih daripada Aku, dia tidak layak bagiKu. Barangsiapa ingin mempertahankan nyawanya demi dirinya sendiri, dia tidak layak bagiKu. Tetapi barangsiapa yang kehilangan nyawanya karena Aku, dia tidak pernah kehilangan segala-galanya. Barangsiapa yang kehilangan harta bendanya karena Aku, dia tidak pernah kehilangan hal itu. Barangsiapa yang karena kesetiaannya kepada Kristus harus menderita aniaya, dikucilkan, dibuang dari keluarganya, dia tidak akan kehilangan semua itu. Itu adalah tuntutan yang kadang-kadang kita tidak mengerti tetapi kalimat-kalimat itu memberitahukan kepada kita ketika mengatakan kita ikut Tuhan, kita tidak akan pernah lepas dari peperangan itu. Menjadi murid Tuhan dengan setia mengikut Dia, selama-lamanya ada peperangan yang penting dan peperangan itu ada di dalam hati kita: kepada siapa hati ini senantiasa harus memberikan kesetiaan penuh itu? Kesetiaan penuh harus diberikan kepada Tuhan Yesus.

Identitas kita menjadi anak-anak Tuhan, identitas kita menjadi murid Tuhan, identitas itu bukan kepada jabatan kita, bukan kepada pelayanan kita dan apa yang kita capai. Identitas kita itu di dalam Yesus Kristus. Reputasi kita melayani bukan kepada pujian yang orang berikan, reputasi kita adalah mengutamakan dan memuliakan Kristus. Kita akan senantiasa ditarik terus menerus untuk tergoda melihat apa yang kita capai, apa yang kita dapat, bahkan pujian yang kita cari dan kejar, reputasi kebanggaan kita, dan apa yang bisa kita dapat semuanya menjadi “kredit” bagi diri kita sendiri. Kepada setiap hamba Tuhan, di dalam kita melayani, kita tidak boleh “merampok” keberhasilan pelayanan itu demi untuk pujian dan reputasi bagi diri sendiri. Kita tidak boleh selalu menganggap itu adalah hasil yang kita dapat, hal yang kita capai dan raih di dalam hidup ini. Ayat-ayat ini selalu harus mengingatkan kita baik-baik, justru kalau kita terus mau pegang dan genggam, Yesus mengatakan kita akan kehilangan semuanya. Tetapi yang barangsiapa karena Yesus justru kehilangan segala-galanya, engkau tidak akan pernah kehilangan semua itu, bahkan kita akan memperolehnya kembali di dalam kekekalan untuk selama-lamanya. Tuhan panggil kita sekali lagi meneropong ke dalam hati kita sedalam-dalamnya, kesetiaan hati kita itu kepada siapa? Kadang-kadang Tuhan perlu menaruh ujian testing itu untuk membuat kita sadar sejauh mana hati kita itu setia dan taat kepada Dia.

Testing kedua, Tuhan menguji seberapa bersandarnya kita kepada pemeliharaan Tuhan. Ini adalah suatu testing yang penting. Banyak orang yang melayani Tuhan akhirnya tersandung dan kecewa karena betapa berat dan sulitnya hidup yang dijalani, terutama bicara soal kesulitan finansial. Banyak anak-anak dari hamba Tuhan hidup di dalam kekurangan, tidak mampu menyelesaikan sekolah karena tidak ada biaya, akhirnya menjadi kecewa dan meragukan pemeliharaan Tuhan kepada mereka yang melayani Dia. Tuhan menguji kita bukan untuk menyusahkan hidup kita. Tuhan menguji kita apakah melewati semua itu kita sungguh hidup bersandar penuh kepada pemeliharaanNya. Dalam Matius 10:29-31 Tuhan Yesus memberi jaminan ini, “Bukankah burung pipit dijual dua ekor seduit? Namun seekor pun daripadanya tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak Bapamu,” yang sejajar teksnya dengan Lukas 12:6 “Bukankah burung pipit dijual lima ekor dua duit? Sungguh pun demikian tidak seekor pun daripadanya yang dilupakan Allah.” Menarik sekali kita menemukan detail ini, menurut Matius, harga burung pipit di pasar waktu itu 2 ekor = 1 duit, dan tambahan informasi dari Lukas, 5 ekor = 2 duit. Berarti burung pipit yang ke lima adalah burung “imbuhan” yang diberikan secara gratis oleh penjualnya. “Duit” adalah satuan mata uang yang paling kecil pada waktu itu. Dalam penekanan ini kita melihat indahnya firman Tuhan hendak mengatakan meskipun bagi penjualnya, burung yang ke lima itu tidak ada harganya, bagi Tuhan dia tetap burung yang berharga. Maka sama seperti burung pipit yang ke lima itu, Tuhan tidak melupakan dan meninggalkan kita. Ayat ini menyentuh hati saya sebab demikian pula waktu Tuhan memanggil saya menjadi hamba Tuhan, inilah ayat yang saya pegang selalu. Saya pun adalah “burung pipit yang ke lima” itu.

Testing ini adalah suatu ujian yang kita tidak akan pernah mengerti kalau kita tidak betul-betul menjalani dan mengalaminya. Kita manusia yang terbatas. Kita harus akui tidak ada di antara kita yang bisa tahu terlebih dahulu “in advance.” Kita selalu baru tahu setelah beberapa waktu lamanya, mungkin setelah lima tahun, setelah sepuluh tahun, pada waktu kita menengok ke belakang, barulah kita akan yakin dan percaya betapa Tuhan pada titik dan moment tertentu dalam hidup kita Ia memelihara dan menjaga hidup kita dan Tuhan mencukupkan kita lebih daripada apa yang pernah kita pikirkan. Tetapi pada saat itu sedang terjadi mungkin kita menangis, mungkin kita sedih dan menyesalkan kenapa peristiwa itu terjadi di dalam hidup kita. Firman Tuhan ini senantiasa mengingatkan kita, Tuhan bukan memperlihatkan apa yang akan kita dapatkan terlebih dahulu di depan baru kita siap jalan. Tetapi karena Dia sudah berjalan lebih dahulu di depan kita maka kita siap berjalan dengan memegang janjiNya ini, barangsiapa bertahan sampai kesudahannya akan selamat (Matius 10:22).

Ikut Tuhan itu bukan soal berapa lama dan berapa panjang, tetapi soal berapa tekun, berapa sabar dan hati kita tidak melenceng dariNya. Kalimat ini penting untuk mengingatkan kita sebagai murid-muridNya Tuhan memberi kita banyak ujian supaya kita murni bertumbuh di dalam Tuhan. Kita ingat baik-baik, semua murid yang dipilih oleh Tuhan, Tuhan mendoakan dengan sungguh-sungguh. “Semalam-malaman” Dia berdoa bagi engkau dan saya, berarti pemilihan itu adalah sesuatu hal yang begitu indah dan begitu serius dan berharga. Menjadi pengikut Tuhan, menjadi murid Tuhan, menjadi anak Tuhan bukan hal yang sembarangan. Itu adalah privilege yang indah, itu adalah hal yang istimewa luar biasa. Pada waktu kita berjalan di situ kita tidak perlu kuatir dan takut, justru pada waktu kita salah melihat mungkin kita perlu mengoreksi dan mengintrospeksi hati kita jangan-jangan kita sudah mengikut Tuhan dengan salah. Tetapi kita tahu di balik kemiskinan itu ada kemuliaan; di balik baju yang lusuh itu kita tahu Ia adalah Raja di atas segala raja; di balik dari perjalanan yang berkerikil tajam ini kita tahu di ujungnya ada jalan berlapis emas berkemilau adanya; di balik dahaga, lapar dan air mata sekarang di sini kelak ada perjamuan besar yang penuh dengan sukacita dan bahagia di sana. Kiranya Tuhan memimpin perjalanan kita masing-masing sebagai murid Tuhan sampai akhirnya. Kalau hari ini kita mengalami ujian testing dari Tuhan jangan tawar hati dan menjadi lemah, karena Ia mau supaya kita bertumbuh dan setia hanya kepadaNya. Jangan sampai hati kita pernah bercabang adanya. Bersyukur untuk panggilan menjadi murid-murid Tuhan adalah satu panggilan yang indah luar biasa. Kita dipanggil, dipilih dan ditebus menjadi milik Kristus dan kita ingin setia ikut Dia selama-lamanya.(kz)