The Cost of MInistry

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Tema: The Cost of Ministry
Nats: Matius 10:1-42, Yesaya 42:1-4

Apa artinya pelayanan? Mengapa kita melayani?

Hari ini kita akan bicara hal yang basic mendasar bagi setiap anak-anak Tuhan tentang hal ini. Banyak orang Kristen aktif dalam pelayanan, tetapi tidak pernah mengerti siapa sesungguhnya yang dia layani. Meskipun di mulut mengatakan “aku melayani Tuhan,” tetapi di dalam hati motivasi sedalam-dalamnya bisa jadi pelayanan itu menjadi kendaraan untuk kepentingan diri, untuk dilihat dan dihormati, untuk memakai kuasa mengatur orang-orang yang lain, untuk dianggap sebagai orang yang lebih banyak memberi daripada orang lain. Akhirnya ketika semua motivasi itu tidak terpenuhi, dia akan meninggalkan pelayanan itu.

Banyak sekali hamba-hamba Tuhan bisa tersandung dalam pelayanan oleh karena mengalami hal-hal yang sama sekali bertolak belakang dengan gambaran ideal sebuah pelayanan selama berada di sekolah teologi. Dia menjadi sedih, kecewa, confused luar biasa. Dia sendiri meneliti hatinya, dia melihat motivasinya tidak salah, dia memakai waktu dan perjuangan yang luar biasa bahkan mungkin mengorbankan begitu banyak hal dalam hidupnya termasuk keluarganya sendiri, tetapi dia tidak melihat ada sesuatu hasil yang memuaskan di dalam pelayanannya, akhirnya itu mendatangkan kekecewaan yang luar biasa, bahkan ada yang akhirnya berhenti dari pelayanan karena terlalu banyak kepahitan dan air mata di dalam pelayanan. Bukan saja bicara soal hasil yang tidak memuaskan dan goal yang tidak pernah tercapai, mungkin pun di dalam pelayanan ada benturan-benturan dengan rekan kerja bersama dia, hamba Tuhan senior yang bisa marah-marah seenaknya kepada dia, hamba Tuhan yang iri dan menggencet dia karena melihat dia lebih populer dan lebih disukai jemaat, sehingga tidak memberi dia kesempatan melayani sama-sama. Itu adalah kesalahan-kesalahan yang mungkin bisa dikerjakan satu hamba Tuhan kepada hamba Tuhan yang lain, atau dari jemaat kepada hamba Tuhannya, karena kita hidup di dalam dunia yang berdosa seperti ini. Tetapi pertanyaan kita adalah pertanyaan yang penting luar biasa, apa artinya pelayanan? Mengapa kita melayani?

Matius 10 adalah satu pasal yang unik penempatannya, sebab kalau kita bandingkan dengan penempatan Injil Markus dan Injil Lukas, Matius menaruh pemilihan para rasul itu bukan di awal melainkan lebih di bagian agak ke belakang. Bukan itu saja, seluruh pasal 10 ini merupakan satu rangkaian yang indah, bicara mengenai siapa yang dipilih, bicara mengenai apa yang Tuhan berikan kepada mereka untuk melayani, bicara mengenai apa yang harus mereka kerjakan, dan hal yang penting adalah apa sifat dasar dari pelayanan. Ada privilege, ada tugas dan ada harga yang harus dibayar. Saya mengharapkan kita kembali mempunyai keindahan dan kedewasaan mengerti pelayanan seperti itu. Maka tema yang pertama dari bagian ini saya bahas terlebih dulu, “the cost of ministry,” ada harga yang kita harus bayar. Kita bukan saja bicara soal waktu, kita bukan saja bicara soal uang, kita bukan saja bicara soal pikiran, tetapi kita juga bicara soal pandangan orang kepada kita, kita juga bicara soal betapa berat pelayanan gerejawi kita. Tuhan dari awal sudah menetapkan bagaimana anak-anak Tuhan pelayanan di atas muka bumi ini semuanya lahir dan keluar dari diri kita sendiri. Tuhan Yesus bukan seperti seorang konglomerat yang mengutus murid-muridNya dan memperlengkapi mereka dengan bank account yang limitless. Dia tidak mempersiapkan kita seperti itu.

Betapa luar biasanya dua belas orang itu bisa terpilih untuk menjadi murid-murid, bukan? Yesus tidak main-main di dalam proses memilih mereka, Yesus bergumul dan berdoa semalam suntuk, lalu sesudah itu dia memanggil murid-murid itu satu persatu, dan memanggil dua belas nama mereka (Lukas 6:12-15). Mari kita coba bayangkan pada waktu Dia menyebutkan dua belas nama itu kita bisa merasakan ada “sense of privilege,” ada perasaan bangga dari antara beberapa murid itu. Mereka kemudian didoakan oleh Tuhan Yesus Kristus, dan sejak hari itu mereka menjadi rasul. Tetapi pada saat yang sama, dengan panggilan dan tugas seperti itu, sebenarnya itu bukan sebagai sesuatu titel dan gelar atau hal yang patut mereka banggakan. Maka Matius 10 segera langsung mengatakan ada misi yang harus mereka kerjakan. Dan pada waktu misi itu diberikan, itu tidak gampang dan tidak mudah. Ada jabatan, jelas selalu ada tugas dan tanggung jawab. Yesus mengutus murid-muridNya dan Yesus berkata tempat pelayanan, utusan yang Tuhan beri kepada kita adalah sesuatu yang “sangat menakutkan” luar biasa, dibandingkan dengan sifat dan natur dari orang yang diutus. Yesus berkata, “Lihat, aku mengutus kamu seperti domba di tengah-tengah serigala. Sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati” (Matius 10:16). Yesus tidak menyembunyikan dan menutup-nutupi apa yang akan mereka hadapi di dalam pelayanan mereka. Ini bukan satu perjalanan yang patut dibanggakan, ini bukan satu pelayanan yang mendatangkan applause dan apresiasi, ini adalah satu pelayanan yang akan membuat mereka dicabik sana-sini seperti domba di tengah-tengah serigala. Sesuatu hal yang memerlukan kewaspadaan, sesuatu yang tidak gampang dan tidak mudah. Jelas sekali jika domba dan serigala itu bertemu, tidak akan mungkin domba itu menang melawan serigala, bukan? Tidak akan mungkin anak-anak Tuhan itu yang digambarkan oleh Kristus sebagai domba yang tidak punya kekuatan, yang defenceless bisa kuat bertahan di tengah-tengah kerumunan serigala yang begitu buas. Namun Yesus dengan terbuka mengatakan, “Aku mengutus engkau ke tengah-tengah serigala” sebagai domba-domba Allah. Inilah harga yang harus dibayar di dalam pelayanan. Harga itu berarti kita akan luka tercabik-cabik, mengalami resistansi, ketidak-mengertian. Hal itu bisa membuat murid-murid menjadi kaget, takut dan kuatir, bahkan loneliness itu muncul. Tetapi Yesus tidak hanya mengatakan anak-anak Tuhan diutus seperti domba ke tengah-tengah serigala, tetapi Ia juga memberi nasehat bagaimana mengantisipasi situasi itu dengan pesan, “hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.” Kita senantiasa harus bersiap hati bahwa situasi seperti itu cepat atau lambat akan kita hadapi, namun kita tidak boleh menjadi lemah dan pasrah, kita tidak boleh pasif dan tidak bergerak sama sekali. Yesus mengatakan, “Apabila mereka menganiaya kamu dalam kota yang satu, larilah ke kota yang lain” (Matius 10:23). Cerdik namun tulus, waspada namun penuh dengan inisiatif, cepat tanggap namun juga hidup dengan otentik dan integritas yang murni.

Sebagai orang-orang Kristen di negara-negara barat sekarang ini, betapa sulitnya menjadi orang Kristen, kita bukan saja hidup sebagai kelompok minoritas, tetapi di segala sisi dan segala segi nilai-nilai Kekristenan itu ditentang dan dilawan. Suatu hari kelak oleh karena berkhotbah dan menyatakan kebenaran hamba-hamba Tuhan bisa masuk penjara. Itu bisa terjadi karena iman Kristen kita yang mau menjunjung tinggi kebenaran. Seorang fotografer Kristen yang menolak foto pengantin yang sesama jenis, seorang baker yang menolak membuat kue buat pasangan sejenis, engkau bisa dituntut dan masuk penjara. Itulah realita yang engkau dan saya akan hadapi. Tetapi itu bukan sesuatu yang mengejutkan dan mengagetkan, karena Yesus Kristus sudah mengatakan sebelumnya itulah natur dan situasi tempat dimana Ia mengutus kita, seperti domba di tengah serigala. Yesus mengingatkan kita untuk waspada terhadap semua orang, karena ada akan yang memfitnah dan menyerahkan engkau ke depan pengadilan agama, ada yang akan menyesahmu di rumah ibadahnya. Orang akan menyerahkan saudaranya sendiri untuk dibunuh, anggota keluarga mengkhianati (Matius 10:17-18, 21-23), itu adalah harga dari sebuah pelayanan.

  1. Oswald Sanders, direktur utama OMF tahun 1950-60an menulis dua buku klasik yang patut dibaca, meskipun bukunya tipis dan sederhana, kalau kita mau rohani kita bertumbuh dengan indah selain Alkitab mari kita membaca dua buku ini, “Spiritual Maturity” dan “Spiritual Leadership” dua-dua sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, “Kedewasaan Rohani” dan “Kepemimpinan Rohani.” Dalam buku Spiritual Leadership, Oswald Sanders mengatakan, hanya Yesus Kristus sebagai seorang pemimpin yang waktu memilih ke 12 muridNya, mereka bukan orang pintar, bukan orang genius atau pun orang yang banyak harta, tetapi orang-orang yang kecil dan sederhana, nelayan yang tidak berpendidikan, ada orang skeptik yang sederhana, ada orang Zelot yang “berangasan,” yang selalu menyandang pisau di pinggangnya yang siap sedia kalau melihat orang Yahudi yang bekerja kepada orang Romawi dianggapnya sebagai orang yang siap dia gorok kalau ada kesempatan. Pada waktu kita lihat data keberagaman itu kita melihat semuanya sederhana, tidak ada yang “star-studded” people, tidak ada orang yang hebat dan pintar di situ. Itulah sebabnya Oswald Sanders mengatakan Kristus membangun satu konsep hidup pelayanan yang revolusioner, “leader” itu disamakan dengan “servant.” Kalau kita belajar management leadership sekuler, mendengar kata “servant leader” itu orang akan mengacu melihat itulah prinsip yang hanya diajarkan oleh Tuhan Yesus Kristus. Pada waktu Yesaya bicara mengenai mesias yang akan datang itu, dia menyebutnya sebagai hamba. “Nyanyian Hamba TUHAN” dalam Yesaya 42 memperlihatkan betapa indah sikap dan motivasi di dalam diri Mesias memperlihatkan keindahan seorang hamba Allah. Prinsip-prinsip ini kiranya boleh menjadi pola bagi pelayanan kita.

Murid-murid pergi pelayanan, mungkin ada yang bisa terima dan menghargai, tetapi mungkin ada yang tidak terima. “Waspadalah terhadap semua orang!” Yesus ingatkan mereka bersiap mengalami ancaman dan mara bahaya dan bisa jadi mereka mungkin dibunuh (Matius 10:17-23). Pada waktu keluar Yesus memberikan prinsip yang penting yang membikin hati mereka tidak akan gelisah dan takut, “Seorang murid tidak lebih daripada gurunya, atau seorang hamba daripada tuannya. Cukuplah bagi seorang murid jika ia menjadi sama seperti gurunya dan bagi seorang hamba jika ia menjadi sama seperti tuannya. Jikalau tuan rumah disebut Beelzebul [itu adalah sebutan yang dipakai pemimpin agama Yahudi menyebut Yesus, yaitu bapanya setan-setan, Matius 12:24], apalagi seisi rumahnya” (Matius 10:4-25). Apa arti kalimat itu? Tidak lain dan tidak bukan pelayanan itu adalah pelayanan yang mengikuti dan melihat Kristus senantiasa menjadi contoh bagi kita bagaimana melayani sebagai pelayan Tuhan. Kalau kita pernah dihina, ingat Yesus pernah mengalami penghinaan yang paling hina. Dan pada waktu engkau menghadapi penderitaan, ingat Tuhan kita yang jauh lebih sengsara. Jangan melihat kepada diri sendiri, melihat kepada diri sendiri kita gampang menjadi congkak, kita gampang menjadi kecewa. Jangan melihat kepada orang lain, melihat kepada orang lain kita gampang menjadi iri dan marah, kita juga gampang bisa menghina orang. Tetapi pada waktu kita melihat kepada Tuhan kita Yesus Kristus akan berbeda. Jangan melihat orang yang kita layani, kita mungkin bisa sakit hati karena kurang perhargaan, kita mungkin bisa menghina mereka karena kita merasa mereka sudah dilayani tetapi tidak mengalami perubahan apa-apa. Hal-hal seperti itu mudah membuat hamba-hamba Tuhan yang melayani di ladang pelayanan menjadi kecewa. Hari ini engkau dan saya melihat pelayanan kita bukan lagi soal melihat apa yang akan dan bisa kita kerjakan. Yang paling penting adalah apakah dan bagaimanakah kita senantiasa mengikuti Kristus menjadi pattern pelayanan kita. “Anak Manusia datang bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani.” Oswald Sanders mengatakan itulah prinsip dari servant leadership. Servant leadership is not about how many talents you have; it is not about how skilful you are. Servant leadership is about how right your relationship with God. Right relationship with God sesuatu hal yang tidak bisa dilihat secara eksternal. Itulah sebabnya kenapa perlu ada beberapa aspek eksternal yang kemudian dikeluarkan oleh rasul Paulus di dalam suratnya kepada Timotius. Hamba Tuhan yang mau melayani haruslah seorang yang baik moralnya, suami dari satu isteri, tidak gampang marah, bijaksana, sopan, murah hati, cakap mengajar, bukan hamba uang, seorang kepala keluarga yang baik, disegani dan dihormati oleh anak-anaknya. Janganlah ia seorang yang baru bertobat supaya tidak jatuh dalam kesombongan. Dengan orang luar juga mempunyai relasi yang baik…” (1 Timotius 3:1-7). Meskipun semua aspek-aspek eksternal baik tetap belum tentu menyatakan hubungannya baik dengan Tuhan. Tetapi ketika hubungan orang itu baik dengan Tuhan, dengan sendirinya kita bisa lihat dia seorang yang baik secara horizontal.

Maka dalam Yesaya 42 kita menemukan begitu banyak prinsip yang indah. TUHAN Allah berkata, “Inilah HambaKu yang Aku berkenan kepadaNya…” Here is my servant, whom I uphold (42:1). Approval itu datang dari Allah. Yesus melayani bukan cari applause dan approval manusia. Yesus adalah Hamba yang senantiasa bersandar kepadaNya. Dependence, not arrogant. Dia mengosongkan diri-Nya dan menjadi hamba. As we become “empty” of self and dependent on God, the Holy Spirit will use us. Yang terutama biarlah kita melihat bagaimanakah Tuhan berkenan kepada kita masing-masing. Kita bukan mencari bagaimana approval orang.

Yesaya 42:3 mengatakan “Dia tidak berteriak menyaringkan suaranya di pinggir jalan…” Ini adalah sifat yang luar biasa pada diri Kristus, teduh dan sabar, modesty. Begitu banyak orang “over-exagerrated” saat menghadapi kesulitan. Namun itu tidak terjadi pada diri Kristus. Ia dihina, Ia tidak teriak-teriak di pinggir jalan. Kita mungkin penuh kesulitan, tetapi kita tidak boleh membesar-besarkan kesulitan kita. Kita punya kelemahan, tetapi kita tidak boleh mengeluhkan itu terus-menerus.

Ia sangat empathy luar biasa, “buluh yang patah terkulai tidak diputuskannya, sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkannya” (Yesya 42:3). Ayat itu indah luar biasa. Di situlah kita belajar memperbaiki sesuatu dan menunggu sampai yang patah itu “sembuh” dan lurus kembali itu adalah sikap empathy pelayanan Tuhan Yesus.

Optimisme di dalam pelayanan adalah sifat pelayanan yang tidak boleh pupus dan hilang di dalam hidup setiap kita. Mesias, Hamba Allah itu sabar sampai akhirnya kebenaran, keadilan dan hukum Tuhan itu tegak selama-lamanya. Itulah jiwa pelayanan Tuhan Yesus Kristus. “He will not falter or be discouraged till he establishes justice on earth” (Yesaya 42:4). Pengharapan dan jiwa yang optimistik adalah kualitas yang begitu esensial bagi para pemimpin spiritual yang bertarung dengan kuasa kegelapan untuk merebut jiwa-jiwa yang terhilang. Maka kita perlu senantiasa disegarkan oleh Tuhan. Apa yang kita kerjakan sekarang itu tidak boleh berhenti sampai di sini.

Maka Yesus memberikan prinsip ini, “Jangan takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa. Takutlah terutama  kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka” (Matius 10:28). Hidup di dunia ini sampai sekuat-kuatnya toh memang akhirnya akan selesai juga. Kita juga di dalam pelayanan tidak boleh berhenti hanya karena soal sampai di kita. Kita tidak boleh hanya pikir, ‘pokoknya sampai pelayananku selesai,’ habis itu masa bodoh. Kita harus pikir setelah kita tidak melayani lagi bagaimana ke depannya. Itu adalah sifat yang indah dan baik. Pada waktu Hizkia diperingatkan oleh nabi Yesaya karena kesombongan dan keteledorannya memamerkan harta bendanya kepada utusan-utusan raja Babel, Hizkia tidak peduli dan dengan ringan mengatakan, “Asal ada damai dan keamanan seumur hidupku” (Yesaya 39:1-8). Kalimat itu adalah kalimat yang egois luar biasa.

Maka dalam Matius 10:37-39 Yesus kemudian menyatakan the cost of ministry dan the cost of discipleship kepada murid-muridNya. “Barangsiapa mengasihi orang tuanya lebih daripadaKu, ia tidak layak bagiKu. Barangsiapa mengasihi anak-anaknya lebih daripadaKu, ia tidak layak bagiKu. Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagiKu. Barangsiapa mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya. Barangsiapa kehilangan nyawanya  karena Aku, ia akan memperolehnya.” Hanya dengan menyerahkannya dan memberikan segala sesuatu justru dari situ kita memperoleh kembali selama-lamanya. Mari kita menilik hati kita masing-masing, apakah kita memiliki komitmen yang penuh kepada Tuhan kita Yesus Kristus sehingga kita rela mengambil resiko dipermalukan bagi Dia? Apakah kita rela mengambil resiko diperlakukan dengan kasar oleh karena setia melakukan apa yang Tuhan inginkan? Standar yang Tuhan Yesus berikan begitu tinggi, dan orang yang menurunkan standar itu dianggap tidak layak bagiNya.

Terakhir, berkali-kali Yesus mengeluarkan kalimat, jangan takut dan jangan menjadi gelisah dan kuatir, bukankah burung pipit yang tidak ada artinya itu dipelihara oleh Tuhan, janganlah kamu takut karena kamu lebih berharga daripada banyak burung pipit (Matius 10:29-31). Tuhan mengingatkan kita di tengah harga yang harus dibayar dalam sebuah pelayanan, pemeliharaanNya yang tidak pernah putus dan terus menyertai hidup kita. Kiranya hati kita senantiasa kembali dibawa kepada salib Kristus karena pada waktu kita melihat Kristus Tuhan yang melayani, sebagai Guru yang agung dan teladan kita satu-satunya, di situ hati kita dihibur dan dikuatkan sekali lagi. Kiranya Tuhan memberi kita kekuatan setia sampai akhir. Kita melayani Tuhan bukan karena pernah sekolah teologi; kita melayani Tuhan bukan karena sanggup dan mampu. Kita melayani Tuhan karena kita sudah memiliki satu hubungan yang indah dengan Tuhan. Pada waktu kita menyadari betapa indah kita belajar meneladani Tuhan Yesus, di situlah hati kita bersyukur melihat setiap anak-anak Tuhan bertumbuh di dalamnya. Kalau kita kecewa kiranya Tuhan memberi kekuatan kepada kita; jikalau kita letih dan lesu, kiranya Tuhan memberi kekuatan dan sukacita. Jika kita dihimpit oleh kekuatiran, kiranya Tuhan menguatkan kita. Jika kita dihina dan diejek sebagai anak Tuhan, kiranya Tuhan memberi kita sukacita menerimanya. Tidak ada satu pun yang kita lakukan dan kerjakan di dalam Tuhan kita Yesus Kristus yang menjadi sesuatu yang terhilang di dalam hidup kita.(kz)