The Blessings & Protections in Ministry

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Tema: The Blessings & Protections in Ministry
Nats: Matius 10:5-15

“Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati” (Matius 10:16). Syukur kepada Tuhan! Tuhan tidak akan pernah mengutus orang pergi pelayanan seperti domba di tengah serigala jikalau Tuhan tidak menyertainya dengan perlindunganNya. Tuhan tidak akan pernah memanggil kita masuk ke dalam pelayanan dengan memaparkan dengan gamblang segala harga cost yang kita bayar tanpa Dia memberitahukan kepada kita betapa limpahnya blessings yang Ia berikan di dalam pelayanan. Kita mengucap syukur sebab memang anak-anak Tuhan itu diutus oleh Tuhan pergi bagaikan domba-domba ke tengah-tengah serigala, tetapi fokus dari Matius 10 ini adalah bicara mengenai siapa Tuhan yang mengutus kita di tengah-tengah serigala dalam pelayanan itu. Dan itulah yang menjadi kekuatan, sukacita dan penghiburan bagi kita. Saya rindu setiap kita yang melayani mempunyai pikiran yang “crystal clear” apa itu pelayanan dan mengapa saya melayani. Maka dua seri khotbah saya berbicara mengenai aspek itu. Minggu lalu saya membahas “the cost of ministry,” ada harga yang kita harus bayar di dalam pelayanan. Dan hari ini khotbah saya melihat aspek yang lain lagi dari Matius 10 yaitu there are blessings and protections from your Lord for those who do the ministry. Ada berkat dan ada perlindungan dari Tuhan bagi mereka yang sedia hati untuk melayani.

  1. Inilah berkatmu kalau engkau melayani yaitu bahwa engkau boleh melayani dengan cuma-cuma. Pada waktu Yesus Kristus mengutus murid-murid melayani, muncul kalimat yang luar biasa indah dariNya, “kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma” (Matius 10:8). Itulah arti sebuah pelayanan. Pelayanan adalah anugerah, pelayanan tidak pernah karena terpaksa atau dipaksa. Itu adalah sebuah privilege, bukan keterpaksaan, tetapi itu dengan bebas keluar dari diri kita masing-masing. Itulah blessing yang pertama. Karena saya sudah menerima dengan cuma-cuma dari Tuhan semua berkat itu, maka saya bisa memberi pula dengan cuma-cuma. Hari ini mari kita melihat di tangan kita masing-masing berkat apa yang telah kita terima dari Tuhan, kita akan menemukan begitu banyak hal-hal yang manis dari Tuhan, bukan?

Seorang yang menyadari begitu banyak berkat yang telah Tuhan berikan di tangannya hatinya akan penuh dengan rasa syukur, dengan gratitude, menghargai kasih dan anugerah Tuhan yang begitu limpah. Hati yang bersyukur itu akan mendatangkan satu dorongan yang sangat kuat untuk membawa sesuatu kepada Tuhan. Pada waktu kita hadir di gereja sama-sama, inilah saat dan moment masing-masing kita melihat apa yang ada di tangan kita untuk kita bawa kepada Tuhan. Saya senang sekali dengan jiwa seperti itu. Waktu sdr tiba di gereja ini, kita melihat rumput rapi terpotong, berarti ada orang yang datang ke gereja diam-diam di antara hari Senin sampai Sabtu yang memotong rumput itu. Masuk ke hall, kita melihat kursi-kursi sudah tersusun rapi untuk anak-anak beribadah, kita tidak tahu siapa yang melakukannya dengan diam-diam datang lebih pagi. Di sebelah saya tahu-tahu ada secangkir cappuccino, tidak tahu siapa yang membuatkannya bagi saya. Point saya adalah ini menunjukkan jiwa pelayanan yang indah luar biasa. Tetapi sedih saya mendengar orang yang melihat hal seperti itu lalu keluar comment, kenapa pengurus tidak atur siapa yang harus potong rumput, kenapa pengurus tidak atur siapa yang susun kursi? Kita harus lepaskan kebiasaan negatif dan tidak boleh keluarkan kata-kata yang tidak perlu seperti itu. Kita harus mempunyai jiwa senantiasa bawa kepada Tuhan apa yang ada di tangan kita, ini yang saya punya, ini yang bisa saya kerjakan, ini yang saya lakukan, ini yang Tuhan beri kepada saya, yang paling penting adalah Tuhan sudah memberi saya dengan cuma-cuma, aku mau memberikannya dengan cuma-cuma pula. Senantiasa pegang baik-baik, kalau aku boleh melayani, ini adalah sebuah privilege. Inilah hal yang Yesus tekankan dengan sungguh-sungguh, engkau sudah menerima dengan cuma-cuma, bagaimana pun nanti di bawah perlakuan yang akan kita terima, berikan dengan cuma-cuma. Inilah the priority aspect yang luar biasa dari kalimat Yesus ini.

Ada satu peristiwa yang sangat menarik pada hari-hari terakhir Yesus sebelum masuk kota Yerusalem, dia tinggal di rumah Lazarus di Betania. Di situ kemudian, Maria yang begitu mengasihi Yesus mengambil minyak narwastu yang sangat mahal dan menuangkannya di kaki Yesus dan menyekanya dengan rambutnya (Yohanes 12:1-8). Minyak narwastu adalah parfum yang mahal yang akan dipakai seorang gadis pada hari pernikahannya, dia perlu mengumpulkan uang bertahun-tahun lamanya untuk membeli parfum itu. Tetapi Yudas Iskariot mulai “kas-kus” dengan murid-murid yang lain “mengapa minyak narwastu itu tidak dijual tiga ratus dinar dan uangnya diberikan kepada orang-orang miskin?” Makin kasak-kusuk, makin gusar dan kesal mereka melihat “pemborosan” seperti itu, lalu mereka menegur dan memarahi dia. Melihat hal itu, Yesus menegur dengan keras, “Leave her alone!” Yesus mengatakan ‘leave her alone’ adalah untuk mengingatkan Yudas dan murid-murid yang lain, mereka tidak berhak menghakimi dan mengomentari apa yang Maria lakukan melayani Tuhan. Apa yang bisa dilakukan oleh Maria adalah dia masuk ke dalam kamarnya, dia “buka tangannya” dan yang ada di tangannya adalah minyak narwastu yang sangat berharga itu, lalu dia berikan itu kepada Kristus. Yesus menegur Yudas, kalau memang dia “concern” dengan orang-orang miskin, kalau dia punya beban ingin melayani orang miskin, that’s your ministry, that’s your privilege, that’s what you want to give to God, then do it.

  1. Matius 10:9-15 kemudian Yesus menyuruh murid-murid untuk pergi dengan tangan kosong. Jangan membawa emas, jangan membawa perak dan tembaga. Jangan membawa bekal dan jangan membawa baju cadangan, kasut atau tongkat, lalu Yesus mengeluarkan kalimat ini, “Sebab seorang pekerja patut mendapat upahnya” (Matius 10:10). Inilah blessing yang kedua. Blessing yang kedua adalah engkau menikmati sendiri dengan sukacita dari hasil pelayananmu. Ini adalah sesuatu yang indah luar biasa, sesuatu yang tidak bisa kita transfer kepada orang lain karena “that satisfaction only belongs to you.” Dan hanya engkau sendiri yang bisa merasakan dan menikmati kepuasan atas jerih lelah dari pelayanan itu. Mungkin orang lain berkata, “Buat apa kamu susah-susah melayani, tidak ada yang menghargai!” Sering kita mungkin mengeluarkan kalimat seperti itu. Tetapi pada waktu engkau bertanya kepada orang yang melayani, dia merasakan kepuasan itu. Engkau tidak bisa makan buah itu, hanya dia yang makan karena buah itu datang dari hasil pelayanannya yang tidak mungkin bisa ditransfer kepada orang lain. When you do it, you will feel it, you will taste it. Tetapi urutan ini indah. Yesus tidak taruh iming-iming itu di depan, murid-murid tidak didorong oleh Tuhan pergi melayani supaya boleh mendapat upah. Murid-murid tidak pergi pelayanan supaya nanti dikasih uang. Itu tidak menjadi kalimat yang pertama keluar. Kalimat yang pertama keluar dari Tuhan Yesus adalah engkau telah menerima dengan cuma-cuma, maka berikanlah dengan cuma-cuma pula bagi ministry. Tetapi selanjutnya Yesus katakan ada blessing yang indah di dalam ministry dan blessing itu adalah setiap orang yang melayani berhak mendapat upah dari pelayanannya. Jadi prinsip ini bukan aturan gereja, prinsip ini diberikan oleh Tuhan Yesus sendiri sebagai suatu aspek yang luar biasa indah.

Dalam Perjanjian Lama ada aturan yang jelas, “Jangan memberangus mulut lembu yang sedang mengirik” (Ulangan 25:4). Waktu lembu dan sapi itu sedang bekerja di ladang dia boleh melakukan pekerjaannya sambil makan rumput yang ada di situ. Rasul Paulus dua kali mengutip ayat ini di dalam konteks bagaimana jemaat harus menghargai orang-orang yang melayani di dalam ministry dengan mencukupkan kehidupan jasmaninya (1 Korintus 9:4-14; 1 Timotius 5:17-18). Paulus menggabungkan dua kalimat dari Ulangan 25:4 dan kalimat Yesus “sebab seorang pekerja patut mendapat upahnya” menjadi prinsip yang jelas bagaimana seharusnya dan sepatutnya jemaat menghargai pelayan-pelayan Tuhan. Setiap orang yang melayani patut menerima bagian dari pelayanannya. Ada kesukacitaan, ada respek yang engkau terima, ada imbal balik dari buah pelayanan yang engkau dapatkan dalam melayani Tuhan, that satisfaction belongs to you. Betul, ada hamba-hamba Tuhan yang dikhususkan oleh Tuhan melayani. Betul, secara sifat kita semua sama rata di dalam Tuhan, kita perlu dan harus melayani sama-sama. Tetapi ada jabatan panggilan Tuhan kepada mereka yang melayani secara penuh, maka di dalam surat Efesus diberitahukan ada yang dipanggil dan disiapkan oleh Tuhan di dalam jemaat dengan jabatan sebagai gembala, guru dan penginjil. Struktur itu sebetulnya kita juga temukan di dalam sinagoge orang Yahudi sehingga di dalam aturannya apabila ada 10 keluarga di satu wilayah, mereka bisa membuka satu sinagoge dan berkomitmen untuk mencukupkan biaya hidup seorang rabi di dalam sinagoge itu. Model itu ada di dalam kehidupan orang Yahudi sampai hari ini. Dan nampaknya struktur ini juga menjadi sesuatu yang selanjutnya diadopsi oleh gereja mula-mula.

Kita tidak menutup kemungkinan ada orang-orang tertentu dengan motivasi yang salah mau melayani karena sesuatu apa yang dia dapat daripada pelayanan itu. Namun mari kita lihat prinsip Tuhan Yesus adalah kalau cuma itu, yaitu keuntungan finansial yang menjadi motif pelayanan dia, ya sudah, dia sudah menerima “upahnya.” Tetapi kalau memang pelayanan itu adalah berangkat dari hati yang cinta Tuhan dan motivasi yang murni, dia akan mendapatkan blessing yang luar biasa daripada pelayanan itu, sukacita, kepuasan, rasa bangga dan privilege layak boleh melayani Tuhan, yang tidak ada orang yang bisa rebut dan ambil dari dia.

Di tengah-tengah itu kita menemukan dua hal muncul menjadi prinsip pelayanan itu dijabarkan oleh Yesus Kristus dengan luar biasa “ekstrim” sekali. Yesus melarang murid-murid membawa emas, perak dan tembaga, jangan membawa tongkat, jangan membawa baju cadangan, jangan membawa bekal. Saya percaya yang Yesus maksudkan adalah bukan mengambil secara harafiah setiap aspek seperti itu, tetapi yang paling penting adalah apakah hidup kita sepenuhnya bergantung kepada Tuhan.

Di dalam sejarah gereja, Francis Assisi yang lahir sebagai anak dari keluarga yang kaya-raya meninggalkan segala sesuatu dan hidup di dalam kemelaratan melakukan secara harafiah perkataan Yesus ini di dalam hidupnya menjadi seorang pastor Katolik. Dia hanya mengenakan jubah yang sederhana dan hidup hanya mengandalkan dari apa yang diberikan oleh orang. Di dalam dunia modern kita menemukan George Muller, seorang hamba Tuhan yang begitu setia dipakai Tuhan merawat dan membesarkan lebih dari sepuluh ribu anak yatim piatu. Dia memulai pelayanan panti asuhan dan sekolah tanpa pernah meminta sepeser pun bantuan orang dan hanya bersandarkan doa kepada Tuhan untuk mencukupkan kebutuhan mereka. Pernah satu kali panti asuhan ini tidak punya apa-apa dalam keadaan lapar di depan meja yang kosong, George Muller memimpin 300 anak-anak mengucap syukur untuk makanan yang Tuhan sediakan. Selesai berdoa, mereka mendengar ketukan pintu dan hari itu pabrik roti mengirimkan roti bagi mereka dan tukang susu yang gerobaknya patah pas di depan panti asuhan membawa berember-ember susu segar untuk mereka.

Tetapi pada saat yang sama, hati yang dependent dan rendah hati hidup bergantung kepada Tuhan tidak boleh membuat seorang hamba Tuhan kehilangan dignitasnya dan boleh diperlakukan sebagai orang yang tidak punya. Maka kemudian Yesus menyatakan satu prinsip dignitas daripada orang yang melayani. Memang dia pergi sebagai orang yang “kere” dan tidak membawa apa-apa, tetapi message yang dibawanya adalah message yang tidak boleh dihina. Berita akan Kerajaan Allah itu tidak boleh dianggap remeh dan direndahkan. Sebab itu Yesus berkata, “Apabila kamu masuk kota atau desa, carilah di situ seorang yang layak dan tinggallah padanya sampai kamu berangkat. Apabila kamu masuk rumah orang, berilah salam kepada mereka. Jika mereka layak menerimanya, salammu itu turun ke atasnya. Jika tidak, salammu itu kembali kepadamu” (Matius 10:11-13). Perhatikan kata yang Yesus pakai, “seorang yang layak,” “jika mereka layak” berarti menunjukkan penerimaan dan pelayanan mereka kepada hamba-hambaNya adalah sesuatu privilege yang Tuhan berikan. “Dan apabila seorang tidak menerima kamu, tinggalkanlah rumah itu dan kota itu,” (Matius 10:14) just go, karena urusan orang itu dan kota itu sekarang kepada Tuhan yang akan menghakimi mereka. Jadi harus ada balance antara kerendahan hati di hadapan Allah dan dignitas di hadapan orang-orang yang mereka layani, dihargai dan dihormati selayaknya. Tuhan menuntut kita melayani dengan kerendahan hati tetapi Tuhan tidak pernah merendahkan semua orang yang melayani.

  1. Ketiga, apa blessing dan berkat bagi sdr melayani di ayat 19-20, konteksnya adalah jelas ketika murid-murid di dalam keadaan terpojok, di dalam keadaan tidak bisa dibela lagi karena tempat pengadilan mahkamah agama yang menarik dan membawa mereka justru adalah tempat yang menuduh dan membuat mereka dianggap sebagai orang yang mengabarkan ajaran yang sesat dan salah, maka siapa lagi yang bisa membela murid-murid seperti itu? Di dalam hal seperti itulah the protection of the Lord itu nyata bagi orang yang melayani. Jangan takut, jangan gelisah, jangan kuatir, Tuhan akan melindungimu pada waktu itu dengan satu intervensi yang di luar daripada kemampuanmu oleh karena RohNya akan melakukannya bagimu.

Bukan saja dalam konteks penganiayaan, dalam keadaan lancar blessing dan proteksi Allah turun bagi orang yang melayani dengan memberikan kesanggupan dan kekuatan itu adalah karena ada Roh Allah di dalam dirimu. Maksudnya berarti, engkau dan saya mudah mungkin dihina orang seperti murid-murid Tuhan Yesus yang bukan dari kaum terpelajar dan bukan dari latar belakang status sosial yang tinggi. Kita tidak boleh mengukur orang yang melayani dari aspek itu. Bukan karena uang, dan bukan karena terpelajar seseorang melayani, tetapi karena ada kuasa Roh Allah dan kedewasaan spiritual yang ada di dalam diri orang itu, sehingga engkau dan saya mungkin harus takluk dan malu pada waktu engkau menemukan seorang nenek tua yang sederhana tidak lulus SD bisa memberikan nasehat dan bijaksana lebih daripada seorang yang bergelar PhD. Engkau dan saya bisa melihat contoh komitmen dari seorang anak sekolah minggu yang masih kecil mendukung pelayanan dengan uangnya yang terbatas daripada seorang konglomerat yang kaya raya. Kenapa? Karena ada Roh Allah di dalam dirinya. Engkau bisa menemukan seorang bapak yang sederhana, ibu yang sederhana namun memiliki wisdom bijaksana yang dalam dan hati yang cinta Tuhan. Di situlah kita melihat keindahan itu hadir dan mengalir di dalam diri orang itu lebih daripada aspek yang lain. Maka point ke tiga ini penting: the blessing of the ministry adalah bukan karena apa yang engkau miliki dan apa yang sudah engkau achieve, tetapi oleh karena penyertaan Roh Kudus yang berdiam di dalam diri kita. Dengan demikian, jangan merasa tidak mampu, jangan merasa tidak punya, jangan merasa kurang, jangan merasa tidak bisa karena bukan itu yang menjadi faktor penentu. Yang menjadi faktor penentu adalah Tuhan mengatakan bahkan di dalam hal engkau sudah terpojok, jangan kuatir karena ada kuasa dan perlindungan dari Roh Kudus pada saat itu.

  1. Terakhir, blessing dan proteksi bagi engkau dan saya adalah Matius 10:40-42. “Barangsiapa menyambut kamu, Ia menyambut Aku. Dan barangsiapa menyambut Aku, ia menyambut Dia yang mengutus Aku. Barangsiapa menyambut seorang nabi sebagai nabi, ia akan menerima upah seorang nabi, dan barangsiapa menyambut seorang benar sebagai orang benar, ia akan menerima upah orang benar.” Prinsip ini penting untuk kita mengerti karena banyak orang “silau” dan terkagum-kagum kepada pendeta yang fasih lidah dan pandai berkhotbah, mengira bahwa orang-orang yang punya banyak karunia seperti itu pasti akan menerima berkat jauh lebih banyak daripada orang yang “biasa-biasa saja,” yang sederhana dan melayani di belakang layar. Tuhan tidak melakukan pemisahan dan penilaian yang seperti itu. Jika engkau menerima seorang nabi, engkau akan mendapat yang sama dengan berkat dia sebagai nabi. Pelayananmu yang sederhana mungkin tidak dilihat manusia, tetapi Tuhan menghargainya sama seperti pelayanan-pelayanan lainnya yang bisa dilihat manusia. Betapa indah, yaitu Tuhan sendiri mengidentikkan diri dengan apa yang kita layani. Yesus mengatakan, “Barangsiapa memberi air sejuk secangkir saja pun kepada salah seorang yang kecil ini karena ia muridKu, Aku berkata kepadamu, sesungguhnya ia tidak akan kehilangan upahnya dari padanya” (Matius 10:42). Satu gelas air mungkin dilihat tidak sesignifikan orang yang khotbah di mimbar, bukan? Dalam konteks yang berbeda, mungkin itu adalah popok bayi yang kotor dan perlu diganti di tengah malam yang dingin, mungkin itu adalah seorang guru sekolah minggu yang berdoa bagi anak muridmu, mungkin itu kesetiaanmu membersihkan toilet dan wc setiap minggu pagi, dsb. Itu adalah hal-hal yang simple dan kecil di mata orang, tetapi bagi Tuhan Yesus, orang itu sudah melayani Tuhan dan orang itu tidak akan pernah kehilangan upahnya. Kalimat ini indah luar biasa. Di situlah pada waktu kita mencintai orang yang kita layani, kita tidak bilang soal orang itu tetapi kita sedang mengasihi Tuhanku. Maka the blessing of the ministry menjadi milik engkau dan saya. Setiap cangkir air yang sederhana yang kita beri, setiap doa yang sederhana yang kita panjatkan, setiap waktu yang kita berikan, setiap perkataan yang menguatkan orang dan nasehat yang membimbing orang di dalam kebenaran, setiap perhatian dan setiap rumput yang kita cabut, setiap bangku yang kita lap, setiap anak yang kita layani, setiap buku yang kita rapikan, semua itu adalah bagian dari pelayanan kita yang Tuhan hargai. Kita bersyukur untuk semua itu. Kiranya nama Tuhan senantiasa kita puji dan muliakan dan di situ hati kita dikuatkan lagi bahwa Tuhan tidak pernah mengabaikan memberi blessing yang indah dan perlindungan yang kuat bagi setiap orang yang melayaniNya.(kz)