Ibadah yang Mendatangkan Kebaikan

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Tema: Ibadah yang Mendatangkan Kebaikan
Nats: 1 Korintus 11:17-34

Gregory K. Beale, professor teologi dari Westminster Theological Seminary menulis sebuah buku dengan judul yang sangat menarik, “We become What We Worship.” Apa yang kita sembah, apa yang menjadi pusat hidup kita, entahkah objek penyembahan itu benar atau tidak, yang pasti apa yang kita sembah itu akan mempengaruhi hidup kita. Apa yang kita sembah, apa yang menjadi pusat hidup kita, objek penyembahan kita itu tidak bisa kita tutup-tutupi dia akan ternyata dan terlihat dari hidup kita. Sehingga pada waktu seseorang berkata “aku menyembah Tuhan” namun setiap kali ketemu dia yang dibicarakan selalu uang, uang dan uang dan dari hidupnya tidak terlihat cahaya kemuliaan Tuhan, dan yang memancar dari dia adalah kegelapan dan keserakahan, maka kita bisa melihat sesungguhnya bukan Tuhan yang dia sembah melainkan Mamon adanya. What we worship will shape our lives. Apabila kita sungguh-sungguh menyembah Allah, maka Allah akan mentransformasi hidup kita. Itulah yang Paulus katakan akan terjadi pada diri penyembah-penyembah Allah yang otentik. Worshiping God will transform our lives. Ibadah yang otentik kepada Allah akan membuat setiap orang yang keluar dari ruangan ini akan mengalami perubahan itu. Itulah janji yang diberikan oleh firman Tuhan dalam 2 Korintus 3:18, satu janji yang indah luar biasa karena menyembah Allah akan mengubahkan hidup kita. Paulus mengatakan setiap kali kita menghampiri Tuhan, kemuliaan dan keindahan itu makin bertambah “from one degree to another” dan kemuliaan itu tidak akan kita selubungkan dan sembunyikan dari wajah kita, setiap kali kita berbakti di hadapan Tuhan, perubahan itu terjadi, kita akan semakin serupa dengan Kristus.

Minggu lalu saya mengutip beberapa point yang diberikan oleh Bob Kauflin dari bukunya “Worship Matters.” Worshiping God should make us humble; menyembah Allah, beribadah kepada Allah harus membuat kita rendah hati. Worshiping God should make us secure, menyembah Allah harus membuat kita merasa aman sebab kita mengerti kita sudah ditebus olehNya. Worshiping God should make us grateful, menyembah Allah harus membuat kita menjadi orang yang penuh dengan hati yang bersyukur menghargai kasihNya. Worshiping God should make us holy, menyembah Allah harus membuat kita hidup suci. Worshiping God should make us loving, menyembah Allah harus membuat hati kita penuh dengan cinta kasih kepada orang lain. Worshiping God should make us mission minded, menyembah Allah harus membuat kita mempunyai mission minded, dengan kata-kata dan perbuatan kita keluar memberitakan akan Allah kepada orang lain. Itulah transformasi yang terjadi di dalam ibadah penyembahan yang otentik kepada Allah.

Namun hari ini kita akan melihat aspek yang lain dari sisi negatif warning yang muncul beribadah kepada Allah yang justru tidak mendatangkan kebaikan. Dalam 1 Korintus 11:17-34 Paulus menegur jemaat Korintus dengan sangat keras karena ibadah mereka, “When you come together it is not for the better but for the worse!” (1 Korintus 11:17), ibadahmu tidak mendatangkan kebaikan tetapi keburukan. Pada waktu kalimat ini didengar oleh jemaat Korintus, bayangkan betapa pedas teguran itu bagi telinga mereka. Paulus tidak mengatakan engkau menyembah Tuhan sia-sia adanya; Paulus tidak mengatakan apa gunanya engkau melakukan semua aktifitas, pelayanan dan program yang banyak tetapi engkau sendiri tidak merasa apa-apa dan kosong. Tetapi justru kalimat Paulus ini lebih keras daripada itu, “Aku tidak dapat memuji kamu sebab pertemuan-pertemuanmu tidak mendatangkan kebaikan, tetapi mendatangkan keburukan.” Paulus menegur karena jemaat Korintus harus memahami ibadah itu adalah ibadah kepada Allah yang hidup, Allah yang kudus, yang tidak boleh dilakukan dengan sembarangan. Kalimat itu juga seharusnya menggentarkan dan menempelak hati kita. Apa yang sedang terjadi di dalam jemaat Korintus ini sehingga Paulus menegur mereka sedemikian keras?

Umumnya hamba Tuhan mengutip 1 Korintus 11 ini di dalam acara perjamuan kudus khususnya ayat 23-26, untuk menyatakan aspek positif dari perjamuan kudus, menjelaskan apa arti dan makna perjamuan kudus. Tetapi bagian ini harus kita lihat baik-baik bahwa di sini Paulus mau membawa jemaat untuk mengerti arti dan makna perjamuan kudus itu oleh karena dari ayat 17-22 setiap kali jemaat Korintus berkumpul mereka melakukan sesuatu ibadah yang tidak mendatangkan kebaikan, tidak mendatangkan keindahan, tidak mendatangkan hal-hal yang membangun, melainkan justru menghasilkan hal-hal yang lebih buruk. Kita akan melihat apa yang menjadi konteks latar belakangnya ini terlebih dahulu. Konteks ini penting sebab apa yang terjadi pada waktu itu mungkin konteksnya tidak sama dan tidak kita kerjakan dan lakukan lagi di dalam ibadah kita sekarang. Dari 1 Korintus 10:16-17 kita mengetahui pada waktu perjamuan kudus mereka seharusnya makan satu roti dan minum dari cawan pengucapan syukur yang sama. Tetapi yang terjadi pada jemaat Korintus perjamuan itu menjadi ajang pesta pora di antara mereka. Mereka membawa roti dan makanan dari rumah, dan sampai ke gereja dikumpulkan semua dan dimakan sama-sama. Kita bisa membayangkan dengan latar belakang strata sosial yang berbeda maka lumrah jemaat yang kaya akan membawa makanan yang mewah sedangkan melihat dari kalimat Paulus kelihatannya jemaat yang miskin tidak membawa apa-apa (1 Korintus 11:22). Jemaat yang miskin mereka adalah para budak dan orang-orang yang bekerja bagi orang-orang kaya, pekerjaan yang menuntut fisik yang sangat tinggi, waktu kerja yang panjang dan bayaran yang sangat rendah. Maka betul-betul tidak ada yang namanya waktu istirahat, sehingga mereka harus “curi-curi waktu” untuk pergi berbakti. Maka inilah yang terjadi pada waktu mereka berkumpul, mereka yang membawa makanan lalu makan sendiri makanan mereka sendiri, mereka pesta-pesta sedangkan yang tidak membawa apa-apa tidak mendapat makanan apa-apa. Sehingga yang terjadi seperti yang Paulus katakan, ada yang lapar, ada yang mabuk kekenyangan.

Dalam 1 Korintus 11 ini ada 2 ayat yang perlu kita teliti bagaimana menafsir ayat ini, sehingga kalau kita sudah menangkap pengertiannya, kita bisa menangkap aspek yang penting di dalam firman Tuhan ini.

Pertama, ayat 19, “Sebab di antara kamu harus ada perpecahan, supaya nyata nanti siapakah di antara kamu yang tahan uji.” Nampaknya Paulus bernada positif seolah-olah Paulus menganjurkan adanya perbedaan pendapat supaya nanti dari situ kita tahu mana yang benar yang tahan uji. Tetapi bisa jadi justru Paulus di sini menyindir dengan sarkastik: apa gunanya kamu mau menyatakan diri melakukan pembedaan-pembedaan, apa sih sebenarnya yang ingin kamu achieve? Apa yang kamu mau buktikan? Apakah dengan membuat pembedaan-pembedaan ini kamu ingin membuktikan kamu benar? Kita tentu tahu di awal surat 1 Korintus ini Paulus menegur mereka karena di dalam jemaat Korintus sedang terjadi perpecahan dengan adanya “golongan Paulus,” “golongan Apolos,” “golongan Kefas” dan “golongan Kristus” (1 Korintus 1:12). Jadi mereka merasa mereka orang-orang yang mengikuti ajaran seseorang hamba Tuhan yang lebih popular. Tetapi bukan itu saja, dari sini kita bisa melihat mereka melakukan pembedaan ini kelompok yang kaya, ini kelompok yang miskin, ini kelompok majikan, ini kelompok budak, ini kelompok orang Yahudi, ini kelompok orang Yunani, terlalu banyak pembedaan seperti itu. Maka di sini Paulus menegur, apa sih yang kamu achieve dari pembedaan dan pengelompokan itu? Apakah kamu merasa dengan melakukan itu lalu kamu merasa lebih benar daripada yang lain?

Kedua, ayat 20, “Apabila kamu berkumpul, kamu bukanlah berkumpul untuk makan perjamuan Tuhan.” When you come together, it is not the Lord’s supper! Betapa keras teguran Paulus di sini. Dengan kata lain Paulus mengatakan ibadahmu itu bukan punyanya Tuhan. Apa maksudnya? Mereka membawa makanan dari rumah dan pada waktu sampai ke gereja mereka terus menganggap makanan itu punyanya mereka. Makanan itu dibawa untuk perjamuan, untuk ibadah, tetapi mereka tidak melihat itu miliknya Tuhan.

Dari teguran ini kita belajar satu prinsip yang penting, apa yang kita bawa dan serahkan di dalam ibadah, itu semua miliknya Tuhan, bukan milik kita sendiri. Pada waktu kita datang beribadah kepada Tuhan, talenta bermain musik itu talenta milik kita, keluar dari ruangan ini tetap talenta itu milik kita. Namun pada waktu talenta itu kita pakai melayani Tuhan, itu menjadi miliknya Tuhan. Sebelum saya memberi persembahan dengan memasukkan uang ke dalam kantong persembahan, uang yang ada di dompet saya itu adalah uang saya. Tetapi begitu masuk ke dalam kantong persembahan itu, uang itu menjadi miliknya Tuhan. Waktu kita membawa persembahan, waktu kita mendedikasikan gedung, waktu hari ini kita datang beribadah, masuk ke dalam gedung gereja ini, apa yang ada di dalam rumah Tuhan semua itu milik Tuhan. Dengan memahami prinsip ini maka kita tidak akan pernah merasa besar kepala harus dipuji orang pada waktu kita memberi sesuatu kepada Tuhan. Kita juga tidak akan perlu kecil hati pada waktu kita rasa tidak banyak yang bisa kita beri dan bawa kepada Tuhan. Dan tidak boleh lagi kalau setiap kali uang saya masuk ke kantong persembahan ini saya masih bilang itu uang saya. Tetapi mentalitas itu bisa terjadi, orang sudah memberi persembahan kepada Tuhan tetapi masih berpikir itu uangnya dia. Itu yang terjadi pada jemaat Korintus, mereka membawa makanan, sampai ke rumah Tuhan itu tetap mereka anggap mereka punya. Kita bisa melihat secara indikatif itu yang terjadi sehingga itu bukan lagi menjadi ibadah, itu sudah menjadi sesuatu pertemuan yang justru menghina kemuliaan Tuhan.

Paulus mengatakan, “Apakah kamu tidak mempunyai rumah sendiri untuk makan dan minum? Atau maukah kamu menghinakan jemaat Allah dan memalukan orang-orang yang tidak mempunyai apa-apa? Apakah yang kukatakan kepada kamu? Memuji kamu? Dalam hal ini aku tidak memuji!” (1 Korintus 11:22). Jemaat Korintus makin memperlihatkan keegoisan diri mereka dan mereka kehilangan aspek apa artinya berkorban bagi orang lain, mereka memalukan orang-orang Kristen yang tidak punya apa-apa. Di dalam komunitas gereja, ada garis yang membedakan kita secara alamiah yang tidak bisa tolak. Ada orang tua, ada anak muda; ada yang menikah, ada yang tidak menikah; ada yang kaya, ada yang miskin; ada dari ras tertentu, itu semua adalah hal-hal yang membedakan kita. Wajar-wajar saja kita berbeda oleh karena garis natural seperti itu. Usia kita berbeda, latar belakang kita berbeda, ada ras dan suku yang berbeda, status sosial yang berbeda satu dengan yang lain. Tetapi perbedaan itu tidak boleh membuat kita melukai hati orang. Perbedaan itu tidak boleh membuat kita mencederai orang lain. Paulus menegur karena apa yang mereka lakukan di dalam perjamuan kudus telah menghina dan mempermalukan orang Kristen yang lain. Maka kata Paulus, kalau engkau memang lapar silakan makan di rumah, biar supaya makanan yang engkau bawa bisa di-share dan dinikmati oleh saudara-saudara yang lain yang miskin dan yang tidak punya makanan. Ibadah kepada Tuhan senantiasa harus membuat kita belajar untuk berkorban lebih memperhatikan orang lain daripada diri kita sendiri. Tidak ada ruginya kita tahan diri, mungkin ada orang yang minder karena miskin dan setiap kali mendengar keluhannya tidak ada ruginya untuk sabar. Karena dia miskin mungkin setiap kali selalu kita yang traktir, tidak ada ruginya kita melakukan hal itu. Itulah sebabnya perjamuan kudus harus menjadi moment kita semua sama rata di hadapan Tuhan. Perjamuan kudus harus membuat kita tidak ada yang lebih tinggi, tidak ada yang lebih rendah posisinya satu sama lain. Perjamuan kudus harus membuat kita tidak mengedepankan perbedaan dan pembedaan. Di rumah makanan kita bisa berbeda, tetapi pada waktu kita perjamuan kudus kita makan roti yang sama. Di rumah minuman kita boleh berbeda, tetapi pada waktu kita perjamuan kudus kita minum cawan anggur yang sama. Itulah arti dari perjamuan kudus.

Mari kita belajar dari firman Tuhan ini, di tengah segala perbedaan itu kemudian prinsip perjamuan kudus itu diangkat oleh rasul Paulus supaya melalui perjamuan kudus ini kita tahu kita semua sama rata di hadapan Tuhan. Kita semua adalah orang berdosa, yang tidak punya pengharapan, namun yang dipilih, dikasihi, diampuni dan ditebus oleh Tuhan. Terlalu gampang kita mengeluarkan perbedaan kita, tetapi justru di dalam perjamuan kudus kita harus membawa persamaan kita, Kristus sudah mati bagi kita.

Maka ada empat hal yang muncul memahami makna perjamuan kudus.

  1. Dalam perjamuan kudus kita sama-sama mengingat apa yang Tuhan Yesus sudah lakukan bagi kita. Cara melaksanakan perjamuan kudus di tiap gereja mungkin berbeda, apa yang dilakukan dalam denominasi gereja mungkin berbeda tetapi maknanya tetap sama. Semua itu adalah hal yang tidak akan pernah membedakan denominasi apapun. Melalui perjamuan kudus ini kita diingatkan akan apa yang telah Tuhan Yesus lakukan bagi kita, kata Paulus, Ia telah mati bagi penebusan dosa-dosa kita. TubuhNya dipecah-pecahkan bagi kita, darahNya dicurahkan bagi kita. Perjamuan kudus menjadi moment kita merenung dan mengingat betapa berharga dan mahal pengorbanan yang Yesus lakukan untuk mengampuni dosa-dosa kita. Kita bersukacita karena kasihNya, kita memuji kebaikanNya, kita mengingat kasih setia dan penyertaanNya dalam hidup kita.
  2. Pada waktu kita datang menghampiri meja perjamuan kudus kita semua sama-sama memperbaharui komitmen dan perjanjian covenant kita dengan Kristus. Kita senantiasa diingatkan akan apa yang harus kita kerjakan dan lakukan bagi Tuhan dan bagi orang lain. Perjamuan kudus membuat kita tidak pernah egois, tidak pernah selfish. Perjamuan kudus selalu membuat kita sacrifice karena Tuhan kita telah memberi contoh teladan itu. Dua aspek yang gagal di dalam ibadah jemaat Korintus yang ditegur oleh Paulus yaitu mereka egois dan thoughtless, hanya pikir diri sendiri, tidak pikir matang-matang dan dalam-dalam bahwa kita datang sebagai umat yang telah ditebus oleh Tuhan.
  3. Melalui perjamuan kudus kita diingatkan untuk memproklamirkan kematian Tuhan Yesus. “Sebab setiap kali kamu makan roti dan minum cawan ini, kamu memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang” (1 Korintus 11:26). Kita memberitahukan orang lain Kristus telah mati bagi kita, ini adalah sentral dan berita utama dari perjamuan kudus.
  4. Melalui perjamuan kudus kita sama-sama menanti kapan Tuhan kita Yesus Kristus akan datang kembali, artinya pikiran kita senantiasa dibawa kembali kepada Tuhan dan kapankah Ia akan datang kembali. Kelak Ia akan datang dan membawa kita semua yang telah ditebusNya untuk menikmati perjamuan yang terbesar di dalam kemuliaan Anak Domba yang telah disembelih itu.

Terakhir, Paulus memberikan satu peringatan, “Barangsiapa dengan cara yang tidak layak makan roti atau minum cawan Tuhan, ia berdosa terhadap tubuh dan darah Tuhan” (1 Korintus 11:27). Kalimat itu mengingatkan kita jangan bermain-main dengan kekudusan Tuhan; jangan menganggap ibadah itu sesuatu yang bisa sembarangan, ibadah itu adalah ibadah kepada Tuhan. Dan bukan saja demikian Paulus juga mengingatkan ada penghukuman Tuhan bagi mereka yang sembarangan dan tidak menghormati kekudusan Tuhan, “Sebab itu banyak di antara kamu yang sakit dan tidak sedikit yang meninggal…” (1 Korintus 1130). Kalimat itu tidak berarti bahwa semua sakit dan kematian berarti orang itu dihukum oleh Tuhan, tetapi sakit itu mengingatkan kita Tuhan menghukum dan mendisiplin kita supaya kita sadar kita tidak boleh mempermainkan Tuhan di dalam setiap kali kita beribadah kepadaNya.

Kisah tragis Ananias dan Safira dicatat dalam Kisah Rasul 5 menjadi peringatan yang sangat serius untuk tidak mempermainkan kekudusan Tuhan. Mereka datang memberikan persembahan dengan hati yang tidak tulus lalu berkata semua uang yang mereka bawa di hadapan Tuhan padahal itu adalah hanya sebagian yang diberikan. Petrus berkata kepada Ananias, “Selama tanah itu tidak dijual, bukankah itu tetap kepunyaanmu? Bahkan setelah dijual, bukankah hasilnya itu tetap dalam kuasamu?” Ananias berdosa bukan karena dia pelit dan kikir. Ananias berdosa bukan karena dia harus memberi semua uang dan hartanya buat Tuhan. Ananias berdosa karena dia mendustai Roh Kudus dengan menahan sebagian uang yang sudah dia dedikasikan bagi Tuhan. Ananias memberikan persembahan itu untuk membuat orang lain menghormati dan memuji sacrifice yang telah dia lakukan bagi Tuhan, seolah dia tulus melayani tetapi tidak demikian adanya. Maka Paulus mengingatkan jikalau kita tidak menghormati dan menghargai kekudusan Tuhan, hati-hati, Tuhan pun bisa menghukum dan mendisiplin kita dengan keras.

Harap firman Tuhan ini membukakan hati dan pikiran kita, how worshiping God changes our lives and transforms us. Bagian ini mengingatkan kita setiap kali kita berbakti, menyampaikan firman Tuhan, setiap kali kita berdoa, memberikan persembahan, kita melayani, tidak boleh ada selfishness dalam hati, demi untuk diri kita sendiri dan bagi diri kita sendiri; semua itu untuk Tuhan. Kiranya hari ini kita dibawa untuk menghargai peristiwa pada malam Yesus melakukan perjamuan yang terakhir, dimana melalui perjamuan itu kita diingatkan dan diingatkan setiap kali kita mengadakannya, Ia mengasihi kita dengan kasih yang tidak berkesudahan. Tubuhnya yang dipecah-pecahkan, darahNya yang dicurahkan, menjadi karya yang nyata dari kasihNya kepada kita. Perjamuan kudus membuat kita sama di hadapan Tuhan, tidak ada yang lebih tinggi, tidak ada yang lebih rendah; tidak ada yang lebih mulia, tidak ada yang lebih hina, tidak ada yang lebih besar, tidak ada yang lebih kecil, tidak ada yang lebih kaya, tidak ada yang lebih miskin, tidak ada yang lebih benar, dan tidak ada yang lebih salah. Karena dengan roti yang sama kita makan, dengan cawan yang sama kita minum, kita ingat baik-baik apa yang sudah Tuhan Yesus kerjakan bagi kita semua.(kz)