Gereja yang berfungsi Efektif

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Tema: Gereja yang berfungsi Efektif
Nats: Efesus 4:1-16

Apa itu gereja? Gereja adalah suatu komunitas yang organis, satu komunitas yang hidup, berkembang dan bertumbuh.Dalam Efesus 4 jelas sekali Paulus memperlihatkanadanya aspek-aspek pertumbuhan ini.Di sini muncul satu istilah yang penting mengenai gereja “…supaya hidupmu sebagai orang-orang yang telah dipanggil berpadanan dengan panggilan itu” (Efesus 4:1).Gereja itu adalah engkau dan saya, kita adalah orang-orang yang dipanggil.Itu adalah status yang luar biasa.Sifat gereja dipanggil keluar, jelas artinya sebagai gereja kita tidak boleh diam, kita tidak boleh pasif, hanya duduk saja mengikuti kebaktian, itu bukan gereja, di situ berarti kita hanya “doing church” dan bukan “being church.”

Kitab Ulangan adalah satu kitab dimana Musa menulis kembali peristiwa-peristiwa yang telah dialami oleh generasi yang pertama yang keluar dari Mesir untuk mengingatkan generasi yang baru beberapa hal yang menjadi pelajaran yang harus diingat oleh bangsa Israel sebelum mereka masuk ke tanah perjanjian itu.Dari Ulangan 8 sampai ke belakang Musa senantiasa mengingatkan bangsa Israel kalau mereka bisa masuk ke tanah Kanaan yang besar, penuh dengan segala kekayaannya itu,ingat baik-baik bahwa bukan karena kekuatanmu, bukan karena kemampuanmu, bukan karena jasa-jasamu engkau bisa mendudukinya (Ulangan 9:4). Israel bukanlah sebuah bangsa yang besar, bahkan boleh dikatakan Israel adalah satu bangsa yang begitu kecil dan insignifikan.Ada bangsa Mesir yang besar adidaya, ada bangsa Asyur, ada bangsa Babel yang besar berkuasa pada waktu itu.Bangsa Israel itu kecil luar biasa tetapi Allah mencintai dan mengasihinya bagaikan biji mataNya.

Peristiwa Keluaran exodus adalah peristiwa dimana Tuhan memanggil dan membawa bangsa Israel keluar dari perbudakan. Kalau bukan tangan Tuhan yang membawa mereka keluar, bangsa ini tidak akan pernah ada.Allah memanggil mereka keluar, untuk apa? Sejarah memberitahukan kepada kita bangsa Israel hidup di dalam kegagalan.Panggilan itu menyebabkan mereka congkak, panggilan itu menyebabkan mereka merasa sebagai bangsa yang eksklusif adanya, padahal bukan sedemikian seharusnya sikap mereka. Karena pada waktu Abraham dipanggil keluar dari negerinya Ur Kasdim, Allah berjanji untuk menjadikannya bangsa yang besar, seperti banyaknya bintang di langit dan pasir di laut demikian banyaknya keturunannya  supayadia boleh menjadi berkat bagi bangsa-bangsa yang lain. Sampai kepada kitab di Perjanjian Baru, ada konsep yang lebih dalam lagi, kita dipanggil keluar bukan dari perbudakan dan penindasan saja, tetapi kita dipanggil keluar dari kegelapan, dipanggil keluar dari keadaan tidak berpengharapan, dipanggil keluar dari kebinasaan, dipanggil keluar dari segala tipu daya dunia ini. Itulah artinya umat Tuhan yang dipanggil dan ditebus. Maka kata “Gereja” di dalam bahasa Yunani “Ekklesia,” gabungan dari kata “ek” out from and to dan “kaleo” to call; yaitu umat yang dipanggil keluar dari dunia kepada Allah. Kata ini muncul dalam Matius 16:18 “…di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaatKu dan alam maut tidak akan menguasainya.” Pada waktu Yesus mengatakan umatKu, jemaatKu dengan kata “ekklesia,” di situlah kita memahami esensi apa artinya menjadi gereja. Dia tidak boleh sama dengan dunia ini karena mereka telah dipanggil keluar, dikuduskan dan dipisahkan, tetapi tidak menjadi eksklusif, antik dan tidak relevan kepada dunia ini. Gereja harus kembali kepada dunia ini, diutus menjadi garam dan terang daripada Tuhan kita Yesus Kristus, sebagai satu umat yang sudah mengerti betapa berharga penebusanNya, yang sudah mengerti kasihNya, yang sudah mengerti apa artinya kita itu ditarik keluar daripada dunia dan kegelapan. Yohanes 17 adalah doa yang sangat indah dari Tuhan Yesus sebelum Dia ditangkap dan Yesus berdoa “Aku berdoa untuk mereka, Bapa, mereka masih ada di dalam dunia (ayat 11). Dunia membenci mereka karena mereka bukan dari dunia, sama seperti Aku bukan dari dunia (ayat 14). Aku tidak meminta supaya Engkau mengambil mereka dari dunia tetapi supaya Engkau melindungi mereka daripada yang jahat. Mereka bukan dari dunia, sama seperti aku bukan dari dunia (ayat 16). Sama seperti Engkau telah mengutus Aku ke dalam dunia, demikian pula Aku telah mengutus mereka ke dalam dunia (ayat 18).” Sama seperti umat Israel di dalam Perjanjian Lama, satu bangsa yang kecil dan tidak punya arti, kadang-kadang kita mungkin bertanya di dalam hati kita sedalam-dalamnya sanggupkah kita yang kecil dan sederhana ini memberikan perbedaan dan pembedaan yang signifikan di atas muka bumi ini? Di dalam Kolose 3:11 Paulus berkata “Dalam hal ini tiada lagi orang Yunani atau orang Yahudi, orang bersunat atau orang tidak bersunat, orang Barbar atau orang Skit, budak atau orang merdeka, tetapi Kristus adalah semua dan di dalam segala sesuatu.” Kita bersyukur 2000 tahun setelah Yesus Kristus datang, dunia ini mengalami perubahan yang besar luar biasa.Adanya demokrasi, adanya penghapusan perbudakan dan eksploitasi penjualan budak di atas muka bumi ini karena diperjuangkan oleh orang-orang yang mencintai dan mengasihi Kristus, yang melihat praktik ini tidak benar adanya.Pernikahan yang ditegakkan sebagai monogamous antara satu pria dan satu wanita, hak-hak asazi dan hak kaum minoritas dihargai, itu adalah pengaruh daripada nilai-nilai Kekristenan.Pendidikan yang setara bagi semua lapisan masyarakat, penghormatan dan cinta respek dan emansipasi wanita di tengah-tengah masyarakat, semua itu adalah pengaruh yang luar biasa daripada Kekristenan.DR. Ross Clifford, principal dari sekolah teologi Morling Collegemengatakan, gereja harus menjadi “prophetic voice” suara kenabian di dalam dunia, itu panggilan kita. Tidak soal besar kecil, tidak soal apakah kita sanggupmempunyai signifikansi, tetapi itulah panggilan Tuhan kepada gereja yang telah dipanggil keluar, yang sudah dibersihkan disucikan supaya kita boleh menjadi hati nurani bagi masyarakat, kita boleh menjadi suara nabi yang berseru-seru kepada dunia ini. Namun kita harus jujur mengakui seringkali kita sebagai orang Protestan kurang memiliki kekuatan bersatu sebagai orang Protestan.Di dalam menghadapi serangan yang akan membongkar habis dan meluluh-lantakkan nilai-nilai Kekristenan dalam masyarakat, gereja hanya diam dan “silent.”

Kita bersyukur pada waktu Tuhan Yesus berkata, “Di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaatKu,” waktu itu Yesus mungkin hanya berbicara kepada 12 orang murid, atau paling banyak mungkin kepada 70 murid saja. Tetapi Tuhan memakai orang-orang yang sederhana dan kecil itu, di situlah kita melihat kuasa dan pekerjaan Tuhan itu nyata.Maka Paulus mengatakan kepada jemaat Efesus kita adalah orang-orang yang sudah dipanggil keluar oleh Tuhan, biarlah kita hidup berpadanan dengan panggilan itu. Dan pada waktu kita membaca bagian ini kita melihat secara hubungan yang vertikal gereja itu adalah umat yang dipanggil Tuhan keluar karena dia ditebus oleh Yesus Kristus, dia adalah milik Kristus dan punya Kristus, itu adalah relasi vertikal yang penting. Siapa pun kita, meskipun berbeda ras, status sosial, dsb di hadapan Tuhan kita semua sama sebab relasi kita diikat “di atas” bukan diikat “di samping” secara horisontal di antara kita, itu yang paling penting. Ada satu ayat yang begitu menggugah hati saya setiap kali membacanya mengingatkan saya sebagai seorang hamba Tuhan, “Karena itu jagalah dirimu dan jagalah seluruh kawanan karena kamulah yang ditetapkan Roh Kudus menjadi penilik untuk menggembalakan jemaat Allah yang diperolehNya dengan darah AnakNya sendiri” (Kisah Rasul 20:28). This church belongs to God. Semua umat Allah yang ditebus dan dipanggil adalah milik Allah sendiri, bukan milik organisasi, bukan milik denominasi, bukan milik perorangan.Paulus bicara kepada para gembaladi Efesus pada waktu itu, gembalakanlah jemaat Allah, itu bukan jemaat milikmu, itu milik Tuhan.Bukan itu saja, ayat ini juga menekankan nilai yang luar biasa, orang-orang yang kecil dan sederhana, yang mungkin tidak punya apa-apa dan tidak ada artinya bagi orang lain, namun di mata Tuhan begitu bernilai dan berharga karena ditebus oleh darah Anak Allah yang mahal.Itulah nilai gereja yang luar biasa. Kita percaya tidak ada yang bisa menggantikan nilai gereja seperti ini dan tidak ada orang yang bisa obrak-abrik bagaimana gereja Tuhan, karena gereja itu miliknya Tuhan dan Tuhan pasti akan mencintai dan memelihara dan melindunginya dari tangan yang jahat, dari si Iblis yang akan menghancurkannya, gereja Tuhan tetap bersinar dan menjadi cahaya kemuliaan Tuhan.

Aspek yang kedua, bagaimana gereja yang sudah ditebus oleh Tuhan itu di dalam ketidak-sempurnaan kita satu dengan yang lain boleh menjadi satu gereja yang efektif, menjadi satu komunitas yang efektif, menjadi satu komunitas yang bermanfaat, beautiful, menghasilkan keindahan, unity, dan memberikan impact yang indah luar biasa. Itulah panggilan rasul Paulus di dalam Efesus 4 ini.Ada dua aspek yang dia minta kepada kita, aspek yang satu adalah aspek unity-nya, aspek yang kedua aspek diversity-nya, di dalam keperbedaan kita masing-masing kita dipanggil oleh Tuhan untukberbagian di dalamnya.

Pertama, aspek unity.Ada dua kata yang muncul di dalam unity itu.Paulus berkata, “Hendaklah engkau rendah hati dan lemah lembut” (Efesus 4:2).Humble and meekness bukanlah virtue yang dihargai dan dihormati oleh masyarakat umum orang Yunani pada waktu itu.Bagi orang Yunani dan Romawi yang dihargai adalah courage and wisdom.Courage, keberanian yang menyatakan kejantanan, orang yang menjadi hero dan pahlawan dengan kekuatan. Tetapi di sini Paulus memanggil anak-anak Tuhan berkumpul menyatakan humbleness and meekness, hidup di dalam kerendahan hati dan kelembutan satu dengan yang lain. Kenapa? Karena dasarnya cuma satu, berkaitan dengan bagaimana relasi Allah satu dengan yang lain, Allah Bapa, Allah Anak, Allah Roh Kudus di dalam keutuhan kesatuan. Kita satu karena kita punya satu roh, kita satu karena kita adalah satu tubuh di dalam Kristus, satu baptisan, satu Tuhan, itulah yang menjadi dasar yang harus kita letakkan sebagai gereja Tuhan.Kalau kita cuma mau menaruh perbedaan di depan, pasti semua beda. Tetapi meletakkan kesatuan dan kebersamaan itu di depan, yang berbeda menjadi tidak menjadi lebih penting. Dalam surat kepada jemaat Korintus Paulus menegur mereka, kenapa engkau mengatakan aku dari golongan Paulus, aku dari golongan Apolos, aku dari golongan Kefas, aku dari golongan Kristus? Apakah Kristus bisa dibagi-bagi?Tidak. Tetapi ketika engkau menempatkan salib Kristus menjadi di depan, kita menjadi satu adanya. Denominasi bukanlah gereja, walaupun pengakuan dan pernyataan komitment iman itu penting, tetapi itu bukan menjadi hal yang mempersatukan kita.Persatuan kita ada di dalam Kristus yang telah mati membeli dan membayar kita. Maka Paulus meminta jemaat memiliki hati yang humble dan hati yang lembut, dengan memperhatikan satu dengan yang lain.

Yang kedua, aspek diversity.Unity menyatakan kita bukan “uniform” atau satu model yang seragam. Unity berarti kita masing-masing orang yang memiliki diversity yang berbeda.Di dalam bagian ini Paulus menyebutkan dua hal yang penting, yang pertama bicara mengenai kita masing-masing memiliki fungsi yang berbeda, yang disusun rapi satu dengan yang lain. Yang kedua Paulus membahas mengenai limakarunia jabatan yang berbeda diberikan oleh Tuhan kepada gerejaNya: rasul, nabi, gembala, guru dan penginjil.

Kita akan melihat secara spesifik mengenai jabatan rasul dan nabi. Dalam Efesus 2:19-20 Paulus berkata, “Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah yang dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru.” Dasar gereja dibangun tidak lain dan tidak bukan harus dibangun di atas fondasi para rasul dan para nabi dengan Yesus Kristus sebagai batu penjuru. Dalam 1 Korintus 3:11 demikian Paulus juga mengatakan, “Karena tidak ada seorang pun yang dapat meletakkan dasar lain daripada dasar yang telah diletakkan yaitu Yesus Kristus.”Pada waktu Paulus menulis surat Efesus masih ada rasul dan nabi pada era itu, sehingga gereja pada waktu itu masih memiliki rasul, nabi, gembala, guru dan penginjil. Tetapi Efesus 2 memberitahukan kepada kita khususnya dua karunia jabatan yang disebutkan yaitu rasul dan nabi adalah karunia jabatan yang bersifat fondasional bagi gereja.Gereja dibangun di atas Kristus sebagai batu penjuru dan di atas dasar rasul dan nabi. Di dalam proses membangun satu bangunan kita tahu tidak pernah orang terus membangun fondasi. Fondasi hanya terjadi satu kali.Maka menyebut jabatan rasul dan nabi di Efesus 2 jelas sekali dua jabatan ini adalah karunia yang bersifat fondasi di awal gereja mula-mula. Dengan kata lain pada waktu Tuhan masih memberikan wahyu bagi gereja yang diberikan melalui pengajaran para rasul dan nabi, maka jabatan rasul dan nabi itu masih ada. Tetapi pada waktu era fondasi itu selesai dan Alkitab sudah lengkap maka dengan sendirinya dua jabatan ini tidak ada lagi di dalam gereja. Tidak boleh kita menafsir bagian ini dengan cara begini: karena Efesus 2 bilang ada lima jabatan dalam gereja maka gereja kita sekarang juga harus ada lima jabatan ini. Cara menafsir seperti ini memiliki kesalahan. Kita tidak boleh asal comot dengan alasan “karena Alkitab bilang begini…” sebab sekali lagi surat Efesus Paulus tulis di saat ketika itu gereja masih dalam proses fondasi belum selesai sehingga jabatan rasul dan nabi masih ada. Dari situ berarti dua jabatan ini tidak lagi menjadi jabatan yang kontinu kepada gereja sekarang sebab dua jabatan itu sudah selesai fungsinya pada era fondasi gereja dibangun.

Menarik sekali, dari penggunaan 3 istilah ini kita bisa melihat 3 jabatan itu juga mewakili 3 pekerjaan penting yang harus dikerjakan oleh gereja. Guru bicara mengenai teaching, gembala bicara mengenai pelayanan pastoral, penginjil bicara mengenai outreach bagaimana kita menjadikan gereja itu menjadi terang dan cahaya membawa orang keluar dari kegelapan kepada terang Kristus. Maka kalau kita baca selanjutnya di dalam surat Paulus kepada Timotius di dalam gereja selanjutnya kita melihat ada dua jabatan kemudian muncul, yaitu jabatan diaken yang khusus mengurusi soal diakonia, pelayanan jemaat yang saling memperhatikan satu sama lain, pelayanan kepada jemaat yang miskin dan berkekurangan dan jabatan penatua atau elder, gembala, guru yang memberikan teaching kepada jemaatnya.

“Tuhan memberi gembala, guru dan penginjil untuk memperlengkapi umatNya.” Dalam bukunya “Multiply,” Francis Chan mengatakan kalimat ini harus kita pahami baik-baik, Tuhan tidak bilang Dia memberi gembala, guru dan penginjil untuk mengerjakan semuanya. Tuhan memberi mereka untuk memperlengkapi, mendidik dan meng-edify jemaat untuk bisa maksimal dan efektif berfungsi sebagai anggota tubuh Kristus. Dengan demikian berarti sebagai jemaat kita tidak dipanggil berpangku tangan dan menyerahkan pelayanan ke tangan pendeta, guru dan penginjil.Kita semua harus terlibat.Kenapa?Karena semua kita diberi karunia yang berbeda oleh Tuhan untuk saling melengkapi. Tugas para pemimpin ini untuk memperlengkapi, artinya membuat setiap setiap kita dewasa bertumbuh sehat, aktif dan kita berbagian di dalam pelayanan kita satu dengan yang lain dengan memberikan apa yang ada dan indah di dalam hidup kita. Di situlah indahnya gereja Tuhan dibangun dengan dinamika yang organis hidup dari jemaatNya.

Doug Spada, pemimpin dari WorkLife ministry mengatakan betapa sayangnya banyak gereja dijalankan seperti kita sedang naik kapal pesiar, orang berbakti seperti penonton yang menikmati pertunjukan, makan enak, dan hanya mau menikmati sesuatu. Gereja yang seperti itu hanya berputar-putar dari satu tempat ke tempat lain, tapi sebetulnya tidak akan kemana-mana. Gereja harus beroperasi seperti “aircraft carrier” atau seperti battleship, karena di situ anak-anak Tuhan diperlengkapi dengan segala “senjata” dan perlengkapan yang diperlukan untuk berperang. Paulus mengatakan kita telah dipanggil keluar kiranya kita hidup berpadanan dengan panggilan itu.Saya setuju dengan metafora itu.Hidup komunitas kita bergereja bukanlah bagaikan sebuah kapal pesiar. Kita datang berbakti bukan untuk di-entertain, kita bukan hanya ingin apa yang baik dan good bagi kita tetapi komunitas kita dipanggil oleh Tuhan untuk menjadi battleship ke dalam dunia ini. Mari kita di-equip di dalam pelayanan yang dewasa dengan memperhatikan satu dengan yang lain di dalam gentleness and meekness melihat orang lain dan kebutuhan mereka dan kesulitan mereka lebi daripada kita. Saya rindu hidup pelayanan kita, diakonia kita satu dengan yang lain menjadi indah dan dewasa. Kita dipanggil untuk juga memiliki pengajaran yang solid, kita dilengkapi dengan pengertian yang dalam sehingga kita tidak gampang diombang-ambingkan dengan pengajaran yang salah. Hati kita penuh dengan kebenaran yang melimpah sehingga hidup kita nyata di tengah di dalam setiap aspek itu nilai Kekristenan kita bersinar kepada orang lain. Yang ketiga, kita dipanggil menjadi orang yang membawa kabar Injil. Dengan demikian komunitas akan menjadi mercusuar yang indah menarik orang melihat inilah orang-orang Kristen yang baik, komunitas yang indah dimana Tuhan dihargai, dihormati, dimuliakan dan kita menjadi satu umat yang memuliakan Tuhan.

Bersyukur untuk firman Tuhan yang mengingatkan kita sekali lagi kita adalah umat yang telah dipanggil keluar oleh Tuhan, kita memiliki kewargaan surgawi dengan segala kekayaan sukacita dan janji yang pasti dan indah. Kita tidak pernah takut dan gelisah lagi, apa yang akan kita terima itu begitu berarti dan berharga, biarlah hidup kita boleh menjadi berkat sehingga banyak orang juga boleh melihat keindahan di dalam Tuhan kita Yesus Kristus. Meskipun kita menghadapi perjuangan yang tidak mudah, kita tidak ingin menjadi orang Kristen yang tidak memancarkan nilai firman Tuhan yang benar dan kebenaran Tuhan dalam hidup kita.Dan biar orang yang hidup dengan nilai-nilai Kekristenan dan kebenaran Tuhan, menjadikan hidup kita menjadi daya tarik yang baik, sukacita yang indah karena mereka melihat Kristus begitu nyata dalam hidup kita.(kz)