11. The Enjoyment of Growing Old & Being Young

Eksposisi Kitab Pengkhotbah (11)
Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Tema: The Enjoyment of Growing Old & Being Young
Nats: Pengkhotbah 11:7 – 12:14

Tidak gampang dan tidak mudah memang kalau kita “growing old.” Setiap tahun usia kita makin bertambah, tubuh fisik kita juga semakin menua. Inilah realita hidup manusia di bawah matahari, setiap kita tidak bisa menolak hari demi hari kita lewati di dalam dimensi ruang dan waktu, kita terikat oleh natur alam berjalan. Dari lahir kita tumbuh menjadi besar, setelah besar kita akan menjadi tua, itu adalah perjalanan hidup yang wajar dan normal bagi semua orang. Waktu anak masih kecil, betapa senang dia bisa merayakan ulang tahunnya yang pertama, betapa bangga dia bisa meniup lilin ulang tahunnya. Sampai usia belasan anak muda masih senang meniup lilin ulang tahunnya. Tetapi begitu jumlah lilin semakin bertambah memenuhi kue ulang tahun, ketika usia sudah menanjak ke “kepala” lima, enam, tujuh, cerita menjadi lain. Nafas semakin pendek, semakin susah meniup banyak lilin sekaligus. Membayangkan bagaimana menjadi tua kadang-kadang menakutkan sekali bagi sebagian orang. Hampir semua orang berusaha menutupi berapa usianya dengan berbagai kosmetik yang membuat penampilannya lebih muda. Industri kosmetik dan operasi plastik adalah bisnis yang bernilai milyaran dan triliunan rupiah, karena banyak orang rela dan berani menghabiskan banyak uang untuk mencari cara dan usaha membuatnya awet muda. Bahkan ada satu lelucon kartun dari surat kabar the Strait Times Singapura yang sebetulnya merupakan sindiran buat orang Singapura, ada peringatan bertulis “Hati-hati, nasi bisa menyebabkan penyakit kencing manis!” tetap saja peringatan itu tidak membuat orang mengurangi atau berhenti makan nasi. Tetapi waktu peringatan diganti sedikit, “Hati-hati, nasi bisa menyebabkan penyakit kencing manis, kebotakan dan keriput pada wajah,” maka ramai-ramai orang berhenti makan nasi. Kelihatannya orang lebih concern dan lebih kuatir kebotakan dan wajah keriput daripada penyakit diabetes yang sebetulnya jauh lebih serius dan lebih berbahaya, bukan? Bagi pria, rambut yang mulai rontok dan menipis sangat mengganggu hati. Maka setiap kali pria berkumpul pasti bicara soal bagaimana mendapatkan obat yang ampuh untuk membuat rambut bisa tumbuh kembali. Bagi wanita, yang menjadi concern adalah semakin banyaknya uban dan keriput muncul di wajahnya. Maka ramai-ramai yang dicari adalah bagaimana membuat keriput di wajah itu berkurang, mulai dengan kolagen, vitamin E, sampai dengan membeli berbagai salep awet muda yang sangat mahal, operasi tarik dan operasi plastik, dsb. Dari situ kia tahu, menjadi tua, menuju ke sana, membuat hati orang sering terganggu. Tetapi sebetulnya salah satu ketakutan menjadi tua adalah kita takut anak-anak kita tidak lagi respek dan menghargai kita. Kita takut dianggap ugly, kuno, ketinggalan jaman, bodoh. Kita kuatir akan digeser dari kehidupan anak-anak, kita takut tidak diperhatikan dan tidak dianggap signifikan lagi dalam hidup mereka.

Namun hari ini kita akan belajar bagaimana bagian firman Tuhan ini indah luar biasa. Pengkhotbah 11:7 – 12:14 adalah bagian terakhir atau penutup dari kitab Pengkhotbah berisi mutiara bijaksana yang indah sekali yang Pengkhotbah berikan untuk kita belajar sama-sama memasuki usia tua. “The enjoyment of growing old and the enjoyment of being young” itu adalah panggilan Pengkhotbah kepada setiap kita.

  1. Panggilan untuk menikmati masa tua.

“Terang itu menyenangkan dan melihat matahari itu baik bagi mata. Oleh sebab itu jikalau orang panjang umurnya, baiklah dia bersukacita di dalamnya. Tetapi hendaklah dia ingat akan hari-hari yang gelap karena banyak jumlahnya” (Pengkhotbah 11:7-8). Ayat ini dibuka dengan kalimat “light is sweet for your eyes,” terang itu manis, terang itu indah. Setiap pagi hari melihat matahari terbit itu indah luar biasa. Kalau Tuhan beri kita umur panjang, bersukacitalah. Dalam konteks Perjanjian Lama kita tahu umur panjang itu adalah salah satu bagian dari berkat Tuhan yang indah. Dalam hukum Taurat yang ke lima terkandung blessing itu ketika dikatakan, “Hormatilah ayahmu dan ibumu supaya lanjut umurmu…” (Keluaran 20:12). Namun Pengkhotbah juga memberikan warning, jangan sampai kita kehilangan sukacita karena orang seringkali cenderung hanya melihat “hari-hari yang gelap,” hal-hal yang berat dan sulit dalam hidup itu ketimbang hal-hal yang manis dan indah. Itu sebab dia mulai dengan kalimat yang exciting itu, “light is sweet!” sebagai kontras dari sikap “bitterness” yang keluar dari orang melihat hidup ini dari kacamata negatif, selalu menggerutu dan hati penuh kepahitan. Pengkhotbah ingatkan setiap kita, pengalaman hidup kita, perjalanan hidup kita, kita akan mengumpulkan banyak hal. Buang semua yang memang sampah, yang tidak boleh kita simpan dalam kita: memori, kepahitan, bitterness yang ada dalam hati kita karena itulah yang akan menggerogoti sukacita kita hari demi hari tanpa kita menyaksikan indahnya Tuhan berkarya dalam hidup kita. Kalau kita diberi Tuhan umur yang panjang, biarlah kita menyimpan memori dan menyimpan nostalgia yang indah dan manis dalam hidup kita. Memang hidup kita tidak terlepas dari ada banyak hari-hari gelap, ada banyak masa-masa yang berat dan sulit dalam hidup ini, tetapi semua itu tidak boleh “overshadow” dan menghalangi pandangan mata kita pada pagi hari ketika melihat sinar matahari yang terang dan memberikan kesegaran dan kemanisan itu sebagai satu keindahan di dalam hidup kita karena anugerah Tuhan itu selalu indah dan cukup bagi kita. Janganlah kita menutupi kesulitan hidup kita lebih banyak tanpa akhirnya kita belajar mengucap syukur kepada Tuhan. Mazmur 118:24 mengatakan, “Ini adalah hari yang dibuat Tuhan, mari kita bersukacita.” This is the day the Lord has made, let us rejoice and be glad in it!” Tuhan Yesus juga mengingatkan dalam Matius 6:34, “Janganlah kamu kuatir akan hari esok, karena hari esok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.”

  1. Panggilan bagi anak muda.

“Bersukarialah hai pemuda, dalam kemudaanmu. Biarlah hatimu bersuka pada masa mudamu dan turutilah keinginan hatimu dan pandangan matamu. Tetapi ketahuilah bahwa karena segala hal ini Allah akan membawa engkau ke pengadilan!” (Pengkhotbah 11:9). Inilah hidup anak muda. Apa yang dilihat oleh mata dan apa yang  dijalani oleh hatinya, bebas dan tidak ada boundaries. Mereka bisa menikmati, mereka bisa jalan kemana saja, mereka bisa melakukan apa saja. Dan kadang-kadang waktu melihat seperti itu orang tua bisa “iri hati” dengan kebebasan mereka. Namun dalam bagian ini Pengkhotbah juga memberikan nasehat dan menaruh prinsip satu hari kelak kita akan berdiri di hadapan pengadilan Tuhan maka nikmati dan jalani hidupmu dengan responsible. Jangan mengumbar kenikmatan dengan tidak bertanggung jawab atau menganggap kebebasan itu adalah hak milik yang bisa mereka pakai semaunya. ‘Ini hidupku sendiri, aku bebas melakukan apa saja di masa mudaku. Bukan saja tidak ada yang bisa melarangku, aku sanggup bisa melakukan, aku mau melakukan, semua itu ada dalam kuasaku.’ Pengkhotbah mengatakan, hidup ini diberikan oleh Tuhan dan hidup ini tidak berhenti sampai di sini dan tidak berdiri pada dirinya sendiri, satu hari kelak kita akan berdiri di hadapan Tuhan mempertanggung-jawabkan segala yang kita lakukan selama hidup di dunia ini. Apa yang dikerjakan dengan tidak benar dan tidak baik akan menjadi kerugian yang menyedihkan di hadapan Tuhan. Itu sebab Pengkhotbah memanggil anak muda menyatakan sukacita dan antusias hidup dan tanggung jawab hidup mereka dengan hati yang bertanggung jawab.

Selanjutnya Pengkhotbah mengatakan, “Buanglah kesedihan dari hatimu dan jauhkanlah penderitaan dari tubuhmu, karena kemudaan dan fajar hidup adalah kesia-siaan” (Pengkhotbah 11:10). Anak muda menjalani hidup mungkin sukses, lancar, bebas, itu aspek yang kita lihat. Orang yang tua mungkin menengok ke belakang melihat hal-hal yang susah, yang berat dan mengecewakan. Di dalam perjalanan hidup itu apa yang kita akumulasi dan kumpulkan? Ayat 10 ini maksudnya apa? Dalam terjemahan bahasa Inggris “banish anxiety from your heart and cast off the troubles of your body” konsep yang muncul satu pengertian atau satu prinsip yang sangat indah sekali. Di dalam menjalani hidup ini kita akan mengakumulasi banyak hal, namun mari kita pikirkan baik-baik apa yang tidak boleh kita akumulasi? Tidak ada di dalam hidup kita yang tidak mengumpulkan sesuatu. Waktu di awal pernikahan, masih belum punya apa-apa, masuk rumah kecil sederhana, mungkin belum punya meja kursi dan tempat tidur, hanya kasur saja. Setelah beberapa waktu lama-lama barang makin banyak. Akhirnya kita rasa rumah terlalu kecil, harus punya rumah yang lebih besar. Tidak sampai berapa lama rumah yang lebih besar itu pun akan terasa sempit karena barang-barang sudah bertambah banyak lagi. Itulah yang kita alami dalam hidup ini.

Kepada anak muda menjalani hidup ini, Pengkhotbah menasehatkan jangan menyimpan hal-hal yang tidak perlu disimpan. Beranilah membuang apa yang perlu dibuang. Maka keluar nasehat ini, “Buanglah kesedihan dan penderitaan…” karena waktu kita menjalani hidup ini menuju makin tua, sukacita dan kegembiraan serta rasa bersyukur akan hilang jikalau kita menumpuk sesuatu yang tidak perlu kita tumpuk dalam hidup kita. Terjemahan Indonesia memakai kata “buanglah kesedihan” tetapi mungkin sebaiknya diterjemahkan “buanglah kepahitan.” Jauhkanlah hatimu dari kesusahan hati yang tidak perlu engkau bawa-bawa sampai tua. Kegagalan, kebankrutan, itu bicara soal eksternal hidup banyak susahnya. Tetapi semua pengalaman eksternal itu tidak boleh menaruh sesuatu yang tidak kelihatan menghantui dan akan merusak banyak hati orang. Dalam Filipi 4:6-8 Paulus mengingatkan kita, “Janganlah kamu kuatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah yang melampaui segala akal akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus. Jadi akhirnya, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.”

Pengkhotbah 11-12 adalah bagian yang menutup satu aspek yang tidak mempunyai tujuan melihat hidup itu dari kacamata negatif dan pesimistik. Kalau membaca Pengkhotbah 1 kita langsung kaget karena dia membukanya dengan kalimat “segala sesuatu itu sia-sia adanya.” Tetapi sampai kepada bagian belakang khususnya di pasal 9 sampai 12 berkali-kali nama Allah disebutkan olehnya. Di situ kita diingatkan hidup ini memang akan menjadi sia-sia jikalau kita tidak menaruh itu di dalam kaitannya dengan Allah kita. Jadi tujuan Pengkhotbahmenuliskan kitab ini bukan untuk membuat hidup kita stress atau membuat kita akhirnya melihat terlalu banyak kesusahan dalam hidup kita, tetapi justru dia ingin mengajak kita dalam mengalami hal yang sama dengan orang yang tidak percaya Tuhan, mari kita meresponinya dengan hati yang berbeda, menjalani dengan sukacita walaupun banyak susahnya.

Dalam epilogue Pengkhotbah 12:9-10 mengatakan, “Pengkhotbah mengajarkan hikmat dan pengetahuan kepada umat Tuhan. Ia menimbang, menguji dan menyusun banyak amsal. Pengkhotbah berusaha mendapat kata-kata yang menyenangkan dan menulis kata-kata kebenaran secara jujur.” Puji Tuhan, pada waktu kita mendapat kesulitan dalam hidup, Pengkhotbah menjadi indah luar biasa karena dia mengatakan inilah motifnya semua yang dia katakan ini walaupun ada air mata, walaupun betapa sulit dan berat hidup di dalam dunia ini tetapi ini adalah kata-kata yang jujur dari Pengkhotbah ingin mengangkat hatimu dan jiwamu di hadapan Tuhan.

Pada waktu kita growing old menjadi tua senantiasa hidup dengan penuh sukacita dan enjoyment melihat pengalaman hidup kita, jangan lihat berapa banyak kesusahan yang ada tetapi selalu jalani hari yang baru itu dengan hati yang bersyukur. Kalau hidup kita boleh bertambah satu hari itu adalah blessing Tuhan yang indah. Pengkhotbah ingin kita belajar baik-baik, kita tidak bisa lari dari hal menjadi tua itu tetapi mari kita bagaimana enjoy ikut Tuhan di dalam melewati hari ke sehari memasukinya dengan anugerah dan berkat Tuhan. Hai anak muda, kalau engkau diberi banyak kesempatan oleh Tuhan, mempunyai kesempatan dan kemampuan, kemungkinan dan kebebasan yang ada, ingat baik-baik, jalani dan nikmati itu dengan hati yang bertanggung jawab karena satu kali kelak kita akan mempertanggung-jawabkan semua yang kita lakukan selama hidup kita di hadapan Allah. “Takutlah akan Allah dan berpeganglah pada perintah-perintahNya karena ini adalah kewajiban setiap orang. Karena Allah akan membawa setiap perbuatan ke pengadilan yang berlaku atas segala sesuatu yang tersembunyi, entah itu baik, entah itu jahat” (Pengkhotbah 12:13-14).

Maka masuk kepada pasal 12 kita melihat sebuah rangkaian metafora yang begitu unik dipakai oleh Pengkhotbah menggambarkan apa itu usia tua dengan bahasa yang humoris dan jenaka. Pasal 12 dimulai dengan kalimat penting ini, “Ingatlah akan Penciptamu pada masa mudamu (Pengkhotbah 12:1). Pada saat seseorang menaruh Allah sebagai sentral di dalam hidupnya, dia tidak perlu gelisah dan takut akan hidup ini. “Sebelum matahari dan terang, bulan dan bintang-bintang menjadi gelap, dan awan datang kembali sesudah hujan,” dia bicara mengenai fase usia tua.

“Pada waktu penjaga-penjaga rumah gemetar, dan orang-orang kuat membungkuk dan perempuan-perempuan penggiling berhenti karena berkurang jumlahnya,” ini bicara mengenai tangan dan kaki kita yang sudah mulai tidak kuat, punggung yang bungkuk dan gigi-gigi yang mulai copot satu persatu.

“Yang melihat dari jendela semuanya menjadi kabur,” mata menjadi lamur dan rabun.

“Pintu-pintu di tepi jalan tertutup,” telinga mulai kurang mendengar dan tuli.

“Bunyi penggilingan menjadi lemah,” sudah mulai susah makan dan tidak ada nafsu makan.

“Suara seperti kicauan burung,” suara menjadi agak sedikit kurang bagus seperti burung berkicau.

“Penyanyi-penyanyi perempuan tunduk,” bicara mengenai the shape of your body.

“Orang menjadi takut tinggi, ketakutan ada di jalan,” orang tua takut akan ketinggian dan keramaian.

“Pohon badam berbunga,” itu adalah metafora rambut yang mulai beruban karena bunga badam itu berwarna putih.

“Belalang menyeret diri dengan susah payah, nafsu makan tidak dapat dibangkitkan lagi.” Baru kemudian yang terakhir, “Manusia pergi ke rumahnya yang kekal dan peratap-peratap berkeliaran di jalan,” artinya di fase terakhir maka kematian datang menjemputnya.

“Rantai perak diputuskan, pelita emas dipecahkan, tempayan dihancurkan dekat mata air, roda timba dirusakkan di atas sumur,” bicara mengenai berhentinya internal organ tubuh manusia yang mulai rusak, seperti jantung, otak, digestive system, dsb. Dan terakhir, “Debu kembali menjadi tanah dan roh kembali kepada Allah yang mengaruniakannya.”

Maka seluruh bagian ini melukiskan ini akan menjadi hari tua kita.

Salah satu ketakutan kita selain menjadi tua dan insignifikan lagi dalam hidup anak-anak kita, tidak gampang dan tidak mudah juga kalau saya menjadi tua, lalu di tengah jalan tidak bisa ingat sedang ada dimana kita; sudah bawa mobil pergi kemana, belanja lalu mau kembali ke mobil, lupa tadi parkir dimana; saya mulai lupa siapa saya dan lupa dengan isteri dan anak, itu adalah hal yang sangat menakutkan. Pada waktu keluar pertanyaan itu, anak-anak akan berkata, “Mama, Papa, tidak usah takut. Mama papa tidak ingat saya, yang penting saya ingat papa mama dan saya akan memeliharamu.” Kita mungkin makin tua, kita bisa tidak ingat lagi Tuhan dalam pikiran kita, kita lupa siapa Dia. Tetapi Alkitab mengingatkan kita, bukan soal seberapa kita ingat Tuhan, yang paling penting adalah seberapa Tuhan ingat kepada kita. Maka Yesaya 46:4 menjadi penghiburan yang sangat indah bagi kita, “Sampai masa tuamu, Aku tetap Dia, dan sampai masa putih rambutmu, Aku menggendong kamu.” Tuhan senantiasa ingat kepada kita dan Tuhan tidak akan meninggalkan kita sampai pada masa tua dan lanjut usia kita.

Di dalam proses kita hidup di bawah kolong langit ini ada hal-hal yang kita tidak bisa hindari, menghadapi kesulitan, berjalan menuju ke usia tua, ada kematian yang tidak bisa ditolak oleh siapapun, meskipun manusia berusaha mencoba me-reverse akan semua hal itu sia-sia adanya, itu tidak boleh menjadi sesuatu yang mengganggu hati kita. Pada waktu kita ingat, kita tahu kita punya Tuhan, meskipun hidup kita di dalam kesusahan kesulitan itu akan berarti dan bermakna pada waktu kita tahu ada Tuhan sebagai sentralitas hidup kita. Melewati proses itu kita tidak pernah menjadi takut. Proses menjadi tua itu tidak menakutkan kita, melainkan makin mendekatkan kita kepada Tuhan. Itulah sebabnya mari kita menutup kitab Pengkhotbah ini dengan satu keindahan, menikmati hari-hari yang Tuhan beri dengan sukacita, menjadi berkat dimana saja kita berada.

Bersyukur kepada Tuhan untuk sebuah kitab yang penuh dengan bijaksana yang diberikan oleh Tuhan bagi kita. Pada waktu kita berjalan di dalam dunia ini, pada waktu kita menghadapi berbagai persoalan, pengalaman hidup yang sama seperti orang-orang lain, kita diajarkan dengan penuh bijaksana bagaimana hidup kita berespon dengan berbeda di dalam setiap hal yang kita alami. Kita bersyukur mengingat betapa baiknya dan betapa manisnya penyertaan Tuhan kepada setiap hari yang baru Ia berikan kepada kita, karena hari yang Tuhan berikan menjadi kesempatan bagi kita hidup dengan penuh sukacita, bertanggung jawab di hadapan Tuhan, memberikan yang terindah dan terbaik, menjadi berkat bagi orang lain.(kz)