08. Live only by Grace

Eksposisi Kitab Pengkhotbah (8)
Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Tema: Live only by Grace
Nats: Pengkhotbah 7:10-22

 

Setiap orang masing-masing mempunyai kesulitan yang berbeda. Kesulitan kita sendiri pun kadang-kadang terlalu overwhelmed bagi kita, sehingga kita tidak tahu darimana lagi kita bisa mendapatkan jalan keluar. Apalagi jika kita harus memikirkan kesulitan orang lain, mencoba menyelami dan memakai sepatu orang itu, kita merasa berat luar biasa. Sebagai seorang hamba Tuhan, kita yang melayani seringkali juga di dalam keadaan overwhelmed seperti itu dan kadang-kadang hati kita tidak berdaya ketika kita mendengarkan satu persatu persoalan kesulitan dari jemaat dan pada waktu kita datang kepada mereka kita hanya bisa bersimpati mengulurkan tangan dan berkata “I will pray for you.” Sejujurnya kadang hati kita mengakui dan merasa itu tidak cukup.

Tetapi puji Tuhan! Meskipun kita kadang-kadang sulit untuk bisa ikut merasakan kesulitan orang lain; engkau dan saya mungkin merasa mengapa temanku, sahabatku, orang yang terdekat denganku, orang yang segerejaku, tidak memberikan perhatian di saat-saat yang paling kubutuhkan; tetapi pada waktu engkau dan saya masuk ke ruang ibadah masing-masing dengan membawa pergumulan dan kesulitan kita yang terpendam itu, dan bukan kita saja, di luar sana ada beribu-ribu bahkan berjuta-juta anak Tuhan di berbagai belahan bumi yang datang ke rumah Tuhan membawa pergumulan dan kesulitannya di hadapan Tuhan, Tuhan kita melihat dan mengetahui dan mendengarkannya, dan puji Tuhan, Ia tidak pernah overwhelmed adanya. Bayangkan jika kita memiliki Tuhan yang terbatas dan yang sama seperti kita, melihat begitu banyak pergumulan orang lain, lalu berkata, ‘Aku tidak sanggup bisa menanggung dan menyelesaikan kesulitan mereka. Aku quit saja.’ Puji Tuhan! Tuhan kita adalah Allah yang kuasaNya tidak terbatas.

Pengkhotbah hari ini mengajak kita melihat aspek ini. Pada waktu engkau pergi ke pengadilan dan melihat ketidak-adilan terjadi, hukum dan keadilan diperkosa, jangan heran. Pada waktu engkau pergi ke rumah ibadah engkau melihat justru di rumah ibadah penuh dengan segala kemunafikan dan orang memperdaya orang lain dengan berkedok kesalehan, betapa sedih hati kita. Tetapi bukan itu saja, Pengkhotbah melihat apa yang terjadi lebih ironis lagi, ada orang yang saleh di dalam kesalehannya menjadi hancur dan miskin; namun ada orang yang jahatnya luar biasa justru panjang umurnya dan selalu ada di dalam kesuksesan (Pengkhotbah 7:15). Kita melihat di ayat 15 Pengkhotbah mengangkat aspek ini, ada orang yang taat beragama dan hidup dalam kesalehan tetapi ada orang yang jahat dan fasik hidup begitu lancar dan sukses kelihatannya. Itu yang kita lihat di bawah kolong langit ini. Ada orang yang cinta Tuhan, hidup baik dan jujur, mengalami sakit kanker dan tidak punya uang untuk berobat; ada orang yang punya uang begitu banyak dan berlimpah-limpah koq tetap sehat dan makmur, tidak pernah kena penyakit apa-apa sampai hari tuanya. Umur panjang di tangan kanannya, kekayaan dan kehormatan di tangan kiri, hidup orang fasik seperti itu. Pemazmur Asaf menyatakan kecemburuan dan kekecewaannya melihat hidup orang fasik begitu mujur, sehat dan kekayaannya terus bertambah-tambah dan senang selamanya. Padahal di dalam kesuksesan itu dengan lancang mereka menghina Allah dan menghina orang lain dengan kata-kata yang jahat (Mazmur 73:3-12). Ada orang terlalu baik, terlalu saleh, justru cepat sekali “pergi.” Tetangga kita yang jahat malah tidak pergi-pergi. Semua itu membuat kita merasa betapa tidak adilnya hidup ini. Pengkhotbah mengatakan itulah fakta dan realita yang kita lihat di bawah matahari. Pada waktu kita mengalami hal seperti itu, bahkan dengan hikmat apapun kita tidak bisa menyelami akan hal itu, ketika engkau dan saya melepaskan Allah dari aspek itu. Kita akan mengalami betapa lelah dan berat hidup ini, menjalaninya dengan perasaan kecewa dan putus asa, bahkan bisa sampai kepada kegilaan yang tidak bisa kita selesaikan.

Maka di bagian ini Pengkhotbah mengajak kita melihat aspek itu. Pengkhotbah 7:10 “Janganlah mengatakan mengapa zaman dulu lebih baik daripada zaman sekarang, karena bukannya berdasarkan hikmat engkau menanyakan hal itu.” Jangan bilang, koq dulu lebih baik daripada sekarang, koq dulu hidup lebih gampang daripada sekarang, kita bisa menanyakan seribu satu pertanyaan ketika kesulitan datang ke dalam hidup kita. Namun kata Pengkhotbah it is not wise to ask such questions, tidak ada gunanya kita bertanya seperti itu. Pada waktu kita tidak memasukkan Tuhan di dalam segala kesulitan dan persoalan, malapetaka yang seolah ‘senseless’ terjadi dalam hidup kita, ketika kita merasa sudah berjalan lurus dan justru di situ semakin mengalami banyak kesulitan, dilihat dari permukaan sama seperti orang-orang lain, bahkan orang-orang yang tidak percaya Tuhan mungkin hidupnya lebih baik daripada kita dari sudut pandang mata kita, tetapi pada waktu kita membawa Tuhan di dalam aspek hidup kita, kita akan memiliki penglihatan yang jauh lebih jelas dan pemahaman yang lebih dalam. Dengan demikian kita tidak bersegera mengeluarkan kata-kata yang mengecewakan hati orang lain dan menyatakan kekecewaan kepada Tuhan. Dan juga sekaligus membuat mata rohani kita tidak hanya melihat diri kita sendiri saja. Belajar melihat orang lain, melihat apa yang menjadi kesulitannya yang mungkin tidak keluar dari mulutnya. Ada beberapa hal yang sangat indah dan sederhana yang mari kita lihat menjadi prinsip yang penting bagaimana kita hidup indah di tengah kesehari-harian yang kita jalani.

  1. Belajar hidup mengerti bahwa apa yang bengkok itu bukan kutukan Tuhan bagi kita.

Pengkhotbah 7:13 “Perhatikanlah pekerjaan Allah! Siapakah dapat meluruskan apa yang telah dibengkokkanNya?” Who can straighten what He has made crooked? Puji Tuhan! Ada hal-hal yang kita rasa tidak lagi bisa lakukan apa-apa, persoalan sudah begitu kusut “menjelimet” mustahil diurai dan diluruskan, kita bersyukur kita memiliki Tuhan, sehingga itu tidak membuat kita menjadi putus asa dan kehilangan harapan, sebab yang bengkok bisa diluruskan oleh Tuhan. Namun ketika Tuhan justru membuat hal yang lurus menjadi bengkok, bagaimana? Tidak gampang pada waktu kita membaca ayat ini, kalau Tuhan memberikan yang bengkok tidak ada orang yang bisa meluruskannya. Kata ‘bengkok’ yang dimaksud di sini bukanlah mengacu kepada sesuatu sikap atau tindakan yang di luar hukum atau sesuatu yang inappropriate. Kita percaya Allah kita adalah Allah yang berdaulat, yang di dalam kebenaranNya tidak akan bertentangan dengan sifat keindahanNya yang penuh kasih dan rahmat. Kata ‘bengkok’ lebih menyatakan suatu persoalan atau kesulitan dalam hidup yang kita berharap dapat berubah namun tidak dapat kita hindarkan. Kita hidup di dalam fisik yang terbatas. Sakit-penyakit bisa melemahkan kita; kita bisa mengalami kesedihan oleh karena konflik terjadi dalam hubungan keluarga, dsb.

Pdt. Thomas Boston seorang hamba Tuhan yang hidup di dalam era Puritan di Amerika, seorang yang begitu sederhana, melayani sebuah gereja kecil selama lebih daripada 25 tahun, padahal dia adalah seorang yang pandai luar biasa. Dalam hidupnya dia menulis 12 volume buku teologi yang begitu tebal mengupas hampir semua dokrin di dalam iman Kristen, dengan seri khotbah dari seluruh kitab di Alkitab yang begitu dalam, layak dan memenuhi syarat untuk menjadi analisa tesis doktorat bagi orang yang mengambil program PhD. Tetapi bukan karena kesederhanaannya itu yang membuat dia menjadi seorang yang agung, bukan juga karena kepintaran dan kesetiaannya melayani yang membuat dia menjadi seorang yang indah. Tetapi lebih daripada itu hidupnya, pergumulannya menjadi suatu contoh teladan yang luar biasa bagi jemaatnya dan bagi orang yang mengenal dia, bagaimana dia mengalami dan mengatasi setiap hal yang sulit dan berat di dalam hidupnya. Bayangkan, dari 10 anak yang lahir di dalam keluarga ini, enam di antaranya meninggal pada waktu bayi, enam kali dia harus menguburkan anaknya. Dari memoir yang ditulis di dalam kesedihannya, dia mengatakan “It pleased the Lord that he also was removed from me.” Sama seperti Ayub yang berkata, “Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil, terpujilah nama Tuhan!” (Ayub 1:21). Tidak berarti dengan mengatakan seperti ini dia meringankan kesulitan dan persoalannya. Kalimat ini keluar karena dia tahu, engkau dan saya tidak akan mungkin bisa menjalani hidup seperti itu kalau kita tidak mengkaitkannya dengan Tuhan.

Tuhan kita bukanlah Tuhan yang “joy-killer” merebut sukacita kita, Tuhan kita bukanlah Tuhan yang suka “spoil” hidup kita sehingga menjadi susah dan menderita. Bukan Tuhan seperti itu yang kita miliki. Tetapi pada waktu kita tahu ada hal-hal yang memang tidak pernah sempurna hidup di dalam dunia ini, bukan saja karena kesulitan dan kesalahan yang kita buat, tetapi itu mungkin dilakukan oleh orang lain kepada kita, atau misalnya anak kita ditabrak oleh mobil yang dikendarai orang yang mabuk, pada waktu uang kita dirampas orang, pekerjaan kita di-sabotage orang, kita tidak akan dendam dan benci kepada orang itu dan kita juga tidak memiliki hati yang ingin menjadi buas membalas dendam dan kemudian melakukan hal yang sama kepada orang itu. Pada waktu semua hal yang ‘senseless’ itu terjadi dalam hidup kita, kita kaitkan dengan kalimat ‘jikalau Tuhan sendiri yang membengkokkan jalan itu, siapa yang dapat meluruskannya?’ itu yang membuat hati kita menjadi teduh adanya. Kita belajar hidup dengan melihat bahwa di dalam seluruh yang Tuhan beri kepada kita, kita tidak hanya menuntut bahwa semuanya harus lurus dan lancar. Pada waktu di dalamnya ada hal-hal yang tidak lurus, kita tetap bisa mengucap syukur kepada Tuhan dan menerimanya dengan hati lapang karena kita percaya di dalam semuanya itu Tuhan tidak berbuat salah. Ayub berkata, “Apakah kita hanya mau menerima yang baik dari Allah tetapi tidak mau menerima yang buruk?” (Ayub 2:10). Paulus mengatakan ada satu duri dalam dagingnya yang begitu menyakitkan. Sudah tiga kali dia berseru kepada Tuhan meminta supaya duri itu diambil darinya, tetapi Tuhan menjawab dia, “Cukuplah kasih karuniaKu bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasaKu menjadi sempurna” (2 Korintus 12:7-9). Itulah crook yang akan dia bawa terus seumur hidupnya. Kita bersyukur karena kekuatan Tuhan semakin nyata di dalam kelemahan dan kesulitan kita. Biar Tuhan pimpin engkau melewati perjalanan hidup dengan hati seperti ini.

  1. Belajar hidup senantiasa di dalam iman percaya di setiap hal dan peristiwa, bersandar dan percaya Tuhan setiap hari. Pengkhotbah 7:14, “Pada hari mujur bergembiralah, tetapi pada hari malang ingatlah bahwa hari malang ini pun dijadikan Allah seperti juga hari mujur…” Kita tidak tahu apa yang akan terjadi pada hari esok. Pada waktu Pengkhotbah mengatakan pada hari mujur bergembiralah, bukan berarti kita menjadi orang Kristen yang hedonistik berfoya-foya. Tetapi di saat kita memperoleh hari yang lancar dan baik hari ini kiranya hati kita penuh dengan sukacita dan syukur kepada Tuhan. Namun ada hari-hari yang tidak secerah hari ini, di saat kita menghadapi ‘hari kemalangan’ kita, kita juga menjalani hari itu dengan living by faith di hadapan Tuhan. Belajar hidup dengan iman bersandar kepada Tuhan karena Dia memberi itu sehari lepas sehari. Yesus Kristus mengatakan, “Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari esok, karena hari esok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari” (Matius 6:34). Bukan berarti hari ini kita jalani lalu besok kita mati dengan sikap fatalistik, tetapi kita jalani setiap hari dengan hati yang percaya ini adalah hari yang Tuhan berikan dan kita percaya ini adalah hari yang indah, kita bersyukur kepadaNya. Kita melewati minggu depan dengan situasi yang berat dan susah, mari kita pegang tangan Tuhan, jalan dengan sabar, jalan dengan tekun di hadapan Tuhan.

Apa yang ada hari ini, kita menghargai dan bersyukur kepada Tuhan. Karena tanggung jawab kita hari ini dan bagaimana kita bersyukur kepada Tuhan dan menjadi berkat bagi orang lain hari ini. Jangan menunda dan mengatakan nanti, tunggu 10 tahun lagi, kalau persoalanku sudah beres, kalau kebutuhanku sudah terpenuhi, kalau sudah lebih lega, baru bisa melihat dan memperhatikan orang lain. Jangan. Kalau tunggu sampai kita rasa bisa dan mampu mungkin kesempatan itu tidak pernah ada. Hari ini biar kita menjadi hari yang indah bagi engkau dan saya berbagi berkat dengan orang lain, melakukan tugas dan tanggung jawab yang Tuhan beri dengan setia.

Pengkhotbah mengatakan “Janganlah terlalu saleh, janganlah perilakumu terlalu berhikmat… janganlah terlalu fasik, janganlah bodoh! Mengapa engkau mau mati sebelum waktumu?” (Pengkhotbah 7:16-17). Bukan berarti kalau begitu kita “sedang-sedang” saja, tidak usah terlalu baik, tidak usah terlalu jahat, bukan seperti itu. Tetapi kalimat itu berarti engkau dan saya tidak bisa menerima dengan hati terbuka melihat segala ketidak-adilan seperti itu jika engkau memiliki “the sense of self-righteous” yang terlalu kaku, hidup mu akan lebih susah. Jadi bukan berarti kita tidak perlu hidup menjadi orang baik, tetapi pada waktu kita merasa berhak, pada waktu kita merasa harus dapat, maka itu yang bikin kita lebih susah hidupnya. Ketika kita mempunyai self-righteous lalu melihat sesuatu yang unfair dan tidak adil terjadi, kemudian membuat kita cepat-cepat bereaksi marah dan menuntut keadilan terjadi, kita akan lebih susah menjalani hidup. Seorang yang mempunyai self-righteous terlalu tinggi bahkan merasa adalah hak dia kalau setia ikut Tuhan pasti hidup lancar diberkati. Seorang yang mempunyai self-righteous terlalu tinggi, lalu merasa dia adalah seorang yang baik, seorang yang saleh dan bermoral, seharusnya Tuhan memberkati hidupnya, memberinya “special treatment.” Orang seperti ini akan merasa Tuhan berkewajiban memberinya hidup yang baik dan lancar, memberikan jalan keluar saat ada persoalan, menghindarinya dari segala malapetaka dan kecelakaan. Lalu ketika hal itu tidak terjadi, dia akan marah dan kecewa kepada Tuhan. Satu hal lagi, kenapa kita jangan self-righteous? Karena orang itu pasti akan hidup dengan munafik. Hanya menuntut hak, hanya menuntut orang memperlakukan, tetapi selalu tidak pernah sadar dia juga melakukan hal yang sama kepada orang lain.

Belajar dengan bijaksana dari Tuhan untuk hidup di dalam keadaan dunia seperti ini menjadikan Tuhan berkarya dengan baik dan indah dengan senantiasa melihat bahwa banyak hal yang terjadi dalam hidup kita it is only by grace. Kita tidak berhak dan tidak layak, itulah yang bikin hidup kita lebih indah. Kalau tidak, semua yang di tangan kita akhirnya selalu kita genggam erat-erat karena merasa itu adalah hak dan milik kita. Kalau kita tahu itu bukan hak dan kita tidak boleh merasa itu “entitled” hidup kita akan lebih lega dan sukacita.

Selanjutnya Pengkhotbah memberikan kita prinsip yang baik agar hidup kita lebih lega dan tidak selalu dipengaruhi oleh berbagai hal yang negatif, salah satunya dengan menjaga mulut dan telinga kita. “Janganlah memperhatikan segala perkataan yang diucapkan orang, supaya engkau tidak mendengar pelayanmu mengutuki engkau. Karena hatimu tahu bahwa engkau juga telah kerapkali mengutuki orang-orang lain” (Pengkhotbah 7:21-22). Jangan terlalu cepat bereaksi dengan benci dan marah pada waktu kita mendengar kalimat-kalimat yang tidak baik kepadamu.

Kalau jadi mananger, sabarlah sedikit kalau bawahanmu mengeluarkan kata-kata yang tidak puas dan mengutuk menyumpahimu. Jangan dimasukkan ke dalam hati terlalu dalam. Masuk telinga kiri, keluarkan dari telinga kanan dengan lega. Jangan menjadikan diri kesal dan terganggu oleh omongan negatif yang tidak perlu didengar. Hati jadi terluka dan sakit. Kita juga tidak lepas dari perilaku yang sama, kita juga mengeluarkan kata-kata yang tidak baik kepada orang lain. Biarkan kata-kata itu lewat, tidak usah terlalu ditaruh di dalam hati. Pembantu dengan pembantu tetangga berkumpul biasanya siapa yang dibicarakan? Tentu majikannya.  Buruh dengan buruh berkumpul “ngrasani” siapa? Tentu mandornya. Tidak ada lagi hal lain.

Bagi saya ayat ini implikasinya bisa menyangkut banyak aspek. Jangan terlalu mempertahankan hal-hal yang kita rasa adalah hak kita. Bisa jadi hal-hal itu tidak terjadi kepadamu. Pada waktu kita jalani hidup ini only by grace, semua yang datang ke dalam hidup kita hanya anugerah, kita merasa itu bukan hak kita dan bukan kewajiban Tuhan memberi, maka di situ baru kita bisa menjalani hidup yang penuh dengan syukur melimpah di hadapan Tuhan.

Apa yang kita sudah raih dalam hidup kita jangan pegang erat-erat dan simpan bagi diri sendiri. Senantiasa membawa Tuhan di dalam setiap aspek hidup kita. Ketika ada turbulence yang menggoncang dan hal yang berat terjadi dalam hidupmu, engkau hanya bisa bersandar di tengah-tengah angin badai itu, dengan sabar memegang tiang itu erat-erat di dalam Tuhan. Tidak usah marah, tidak usah kecewa, tidak usah sakit hati. Biar kita berdoa, Tuhan, Engkau yang memberikan ini bagiku, aku percaya ada tujuan dan maksudMu yang baik bagiku. Hari ini awan begitu tebal dan gelap, tetapi tidak selamanya demikian. Akan ada waktunya matahari terbit dan udara segar bertiup, ingatkan aku selalu bersyukur kepadaMu. Kiranya kita tidak hanya melihat kesulitan kita sendiri dan menjadikan diri kita sebagai sentral dan kesulitan kita menjadi yang terutama dan terpenting dalam hidup kita. Ada orang-orang di sekitar kita, di sebelah kanan dan kiri yang mengalami pergumulan dan kesulitan yang jauh lebih besar daripada kita, yang tidak mereka ungkapkan. Mari kita membuka telinga dan hati kita supaya tidak terlalu overwhelmed dengan apa yang terjadi dalam hidup kita dan masih menyisakan tempat dalam hati kita untuk menyaksikan kesulitan orang lain dan kita mau menyisihkan waktu dan menaruh telinga untuk mendengar keluh-kesah orang lain dan mendoakan mereka. Di situlah kita boleh menjadi penyalur berkat Tuhan yang indah bagi orang lain karena hidup kita sendiri adalah anugerah dan berkat Tuhan yang indah. Pada waktu hari mujur biar kita mengucap syukur dan bersukacita, kita menyisihkan sebagian berkat itu bagi orang yang membutuhkan; pada waktu hari malang itu tidak menjadikan kita putus asa dan kehilangan pengharapan karena kita tahu Tuhan tetap indah berkarya dalam hidup orang-orang yang bersandar dan menaruh percaya kepadaNya.(kz)