Ibadah yang Mentransformasi

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Tema: Ibadah yang Mentransformasi
Nats: 2 Korintus 3:18

Hari ini kiranya kita boleh dibawa kembali memahami hal-hal yang mendasar di dalam hidup kita menjadi gereja, menjadi orang-orang yang datang berbakti di rumah Tuhan. Kita disebut di dalam Alkitab sebagai penyembah-penyembah Allah. Apa artinya menjadi seorang penyembah yang otentik di hadapan Allah? Kita dipanggil untuk datang berbakti dan menyembahNya, apa artinya? Kita datang berbakti, kita datang ke gereja, bukan karena kita ingin mencari teman, bukan karena kita mau kumpul-kumpul dengan orang-orang yang kita kenal, bukan karena ini adalah hal yang rutin bagi kita, bukan karena ini adalah suatu perkumpulan dimana kita boleh merasakan kedekatan satu dengan yang lain. Itu semua adalah aspek-aspek yang sekunder pada waktu kita datang ke gereja. Pada waktu kita datang berbakti kepada Tuhan banyak hal kita lakukan setiap hari Minggu. Kita mempersiapkan musik untuk mengiringi ibadah, kita mempersiapkan khotbah, kita mengadakan perjamuan kudus, kita mendengarkan firman, kita melakukan doa bersama dan doa-doa pribadi, kita membawa persembahan, lalu sesudah itu kita ada fellowship secara horizontal. Semua yang kita lakukan itu dalam pengajaran dari para teolog dan hamba Tuhan sebut dengan istilah “means of grace” yaitu sarana anugerah Allah yang melaluinya kita memuliakan dan berbakti kepada Tuhan. Namun semua aktifitas ibadah melalui means of grace itu adalah sarana, bukan tujuan akhirnya. Sebagai hamba Tuhan saya beryukur dan senang pada waktu sehabis kebaktian orang menjabat tangan kita dan berkata, “Thank you pastor, I feel blessed today through the sermon you delivered” tetapi bukan great sermon itu yang menjadi the goal of our worship. Puji Tuhan jikalau setelah mempersiapkan semua pelayanan di dalam bermain musik dengan baik, orang mengatakan “Terima kasih, jiwaku sungguh sangat dibangunkan oleh lagu-lagu pujian yang kita nyanyikan,” kita bersyukur pelayanan kita menjadi berkat bagi dia, orang itu bertemu Tuhan dan menikmati hubungan dengan Tuhan melalui pelayanan kita. Pada waktu kita menyambut dan menyapa satu dengan yang lain, mari kita lihat itu menjadi means of grace fellowship yang indah, tetapi tujuan terakhir adalah di situ kita datang kita menyembah Tuhan.

Paulus berkata dalam 2 Korintus 3:18, “Dan kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung dan karena kemuliaan itu datangnya dari Tuhan yang adalah Roh maka kita diubah menjadi serupa dengan gambarnya dalam kemuliaan yang semakin besar,” ayat ini bicara mengenai apa arti sebuah ibadah yang sejati, apa transformasi yang terjadi ketika engkau dan saya berbakti di hadapan Allah. Ayat ini indah luar biasa karena di saat kita menghampiri Allah, kita tidak akan sama lagi seperti sebelumnya. Paulus di sini memperbandingkan kemuliaan yang menyinari wajah Musa kalah jauh dengan kemuliaan dari ibadah anak-anak Tuhan karena kemuliaan itu datang dari Yesus Kristus. Ketika Musa bertemu dengan Allah di atas gunung Sinai, Musa tidak sadar kulit wajahnya bersinar membuat umat Tuhan yang lain menjadi takut dan menjauh dari Musa. Tetapi akhirnya demi supaya Musa bisa menyampaikan firman Allah kepada mereka maka Musa menyelubungi wajahnya supaya cahaya kemuliaan setelah bertemu dengan Tuhan itu tidak menakutkan bagi orang Israel (band. Keluaran 34:29-35). Tetapi Paulus mengatakan kemuliaan di dalam ibadah bagi orang-orang di dalam Perjanjian Baru jauh lebih daripada kemuliaan Musa. Kita adalah cermin kemuliaan Allah yang tidak terselubung wajah kita pada waktu kita datang menghampiri Dia, sebab kita akan diubah oleh Tuhan Yesus dengan kemuliaan yang semakin besar dari hari ke sehari. Apakah setelah saya keluar dari ruangan ini transformasi itu terjadi? Ayat ini menjanjikan ya. Dalam bahasa Inggris jauh lebih indah, “And we all, with unveiled face, beholding the glory of the Lord, are being transformed into the same image from one degree to another. For this comes from the Lord who is the Spirit.” Pada waktu kita datang menyembah dan berbakti kepada Tuhan setiap minggu, transformasi apa yang terjadi? Saya rindu waktu setelah kita datang menghampiri Allah, kiranya kita keluar dengan mencerminkan kemuliaan Allah karena kita dipenuhi oleh kemuliaan hadirat Allah. Semakin hari kita semakin serupa dengan Tuhan dan Juruselamat kita Yesus Kristus di dalam kemuliaan yang terus semakin indah “from one degree to another.”

Bob Kauflin dalam bukunya “Worship Matters” memberikan beberapa hal mengenai transformasi apa yang seharusnya terjadi pada waktu kita beribadah kepada Tuhan.

  1. Worshiping God should make us humble.

Mazmur 145:3 berkata, “Besarlah TUHAN dan sangat terpuji, dan kebesaranNya itu tidak terduga.” Great is the LORD, and most worthy of praise, and His greatness no one can fathom. Ibadah yang sejati is not about us, it is not about ME. Sebuah ibadah yang sejati akan membawa kita kepada kesadaran betapa besar Allah Tuhan kita, Dia layak dan patut dihormati dan dimuliakan. Setiap kali kita boleh melihat sepercik saja kemuliaan dan keagungan Allah saat kita datang menyembahNya, itu akan menghasilkan satu perasaan kagum, hormat dan kerendahan hati karena tidak layak kita yang hina ini namun boleh dilayakkan olehNya. Hati kita akan penuh dengan “awesomeness” akan kemegahannya. Itulah yang menjadi kesadaran dan respons dari Musa, Yesaya, Yeremia, Petrus, Paulus, Yohanes dan semua orang-orang yang pernah diperhadapkan kepada kemegahan kemuliaan Allah. Kita seketika akan merasa begitu kecil, sederhana, insignifikan, tidak berdaya, itu menciptakan sesuatu perasaan humble kita di hadapan Allah yang begitu agung mulia.

Satu hal yang seringkali membuat kita gagal untuk melihat kemegahan kemuliaan Allah dan menjadi rendah hati saat berbakti kepada Allah adalah karena kita mungkin lebih fokus dan distracted kepada hal-hal lain. Kalau kita tidak bisa melihat kebesaran Allah, yang problem bukan Allah tetapi problem itu ada pada mata rohani kita yang mungkin sudah lamur dan blur tidak bisa melihatnya dengan jelas. Kadang kita terganggu dengan tempat duduk, kadang kita terganggu dengan sedikit kesalahan kecil di dalam ibadah, kadang kita terganggu mungkin waktu di perjalanan kena macet, kadang kita terganggu dengan cara pemimpin pujian sehingga kita merasa ibadah itu tidak khusuk, dsb.

Gereja jaman dulu dibangun dengan arsitektur yang megah, dengan kubah yang tinggi menjulang, untuk membuat orang pada waktu datang berbakti membayangkan Allah yang besar dan agung, masuk ke dalam rumah Tuhan merasakan the majestic and the greatness of God. Tetapi saya kira kurang benar kalau orang baru merasa Tuhan itu besar setelah punya gedung yang megah. Gedung yang megah, musik yang ditata apik, khotbah yang bagus, pendeta yang ramah, fellowship yang akrab, semua itu adalah aspek-aspek sekunder yang tidak boleh menentukan keindahan ibadah kita menyadari Allah itu besar dan agung. Tidak semua orang Kristen bisa mendapatkan privilege berbakti di dalam gedung yang megah dan mewah. Tidak semua orang Kristen bisa mendapatkan privilege menikmati ibadah yang ditata apik dan musik yang ciamik. Tidak semua orang Kristen bisa mendapatkan privilege ada pendetanya berkhotbah setiap minggu. Tidak semua orang Kristen punya privilege bisa duduk berbakti seperti kita saat ini. Mungkin mereka berbakti di dalam ruang yang sesak dan sempit, di dalam kegelapan tanpa listrik dan alat musik, tetapi itu adalah ibadah yang tidak boleh kehilangan the majesty of our God sebab mereka datang berbakti dan mereka tahu tidak ada yang lebih agung dan lebih mulia pada waktu mereka bisa melihat salib Yesus di depan matanya. Ketika hati kita berfokus kepada apa yang telah Tuhan kita Yesus Kristus kerjakan di atas kayu salib, di situlah kita tersungkur dengan rendah hati dan dalam kekaguman kepadaNya. Kemuliaan salib Yesus itu lebih mulia daripada wajah Musa yang bercahaya. Bob Kauflin berkata, “Nothing humbles us more that worshiping at the foot of the cross.” Ibadah kita berpusatkan kepada salib Tuhan Yesus yang telah menyelamatkan kita, yang telah mempersatukan kita, menjadikan kita milik Tuhan selama-lamanya. Dia yang agung dan mulia rela turun menjadi manusia, bahkan bukan saja menjadi manusia, Dia menjadi budak dan hamba yang melayani. Dan bukan sampai di situ saja, Dia mati di kayu salib begitu terhina oleh banyak orang. Segala hormat, puji dan kemuliaan itu layak Tuhan Yesus terima dan setiap kita yang memperhambakan hidup kita bagiNya melayani Raja di atas segala raja. Maka setiap kali kita datang beribadah kepada Tuhan dengan perspektif ini kita akan dibentuk menjadi penyembah-penyembah Allah yang rendah hati sebab kita menyembahNya dengan memandang salib Kristus dan di situ kita tahu kita adalah seorang yang tidak layak, kita begitu kecil dan tidak patut menerima segala anugerah dan kebaikan Tuhan namun Ia mau menerima kita.

  1. Worshiping God should make us secure.

Setiap kali engkau dan saya menyembah Allah, penyembahan kita harus membuat kita memiliki rasa aman di hadapan Tuhan. Kenyamanan dan kekuatan yang dihasilkan dari ibadah itu bukan karena kenyamanan gedung, bukan oleh keramahan orang menyambut kita dan bukan oleh musik yang menyenangkan. Kenyamanan dan kekuatan yang dihasilkan dari ibadah itu datangnya dari suatu ibadah yang berpusatkan kepada Juruselamat kita Yesus Kristus telah disalib dan bangkit dan kasihNyalah yang menjadi perlindungan yang memelihara iman kita. Seperti Paulus mengatakan dalam Roma 8:36 dan 39, “Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan atau kelaparan atau ketelanjangan atau bahaya atau pedang? Tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” Itulah jangkar yang aman bagi iman kita, itulah yang membuat ibadah kita senantiasa akan mendatangkan rasa aman dan tentram di hadapan Allah. Comfort and strength itu tidak sama dengan perasaan warm and cosy karena ruangan kita berbakti begitu nyaman, atau karena kita dikelilingi oleh orang-orang yang kita kenal. Comfort and strength itu datang karena kita menerima kasih yang tidak pernah berubah dari Allah kita di dalam Yesus Kristus itu. Maka setiap kali kita beribadah di dalam rumah Tuhan, firman Tuhan senantiasa mengingatkan kita bahwa di dalam Kristus jiwa kita secure dan aman.

  1. Worshiping God should make us grateful.

Menyembah Allah harus membuat hati kita penuh dengan rasa syukur. Mazmur 100 adalah mazmur yang begitu familiar bagi telinga kita, satu mazmur yang pendek namun penuh dengan keindahan mengajar kita apa artinya kita datang menyembah Allah. “Bersorak-soraklah bagi TUHAN! Beribadahlah dengan sukacita, masuklah ke dalam pelataranNya dengan puji-pujian!” Kenapa kita mempunyai sikap seperti itu? Di ayat 5 pemazmur berkata, “Sebab TUHAN itu baik.” Kebaikan Tuhan senantiasa harus membuat kita datang dengan hati yang penuh dengan ucapan syukur dan grateful di hadapan Tuhan. Itulah transformasi yang terjadi di dalam ibadah yang sejati. Kita penuh dengan grateful heart, penuh dengan thanksgiving di hadapan Tuhan. Seorang yang grateful di hadapan Tuhan selalu akan menyadari “better than I deserve” kita menghargai kebaikan Tuhan bagi kita.

Setiap anak Tuhan senantiasa perlu menyadari Tuhan tidak pernah wajib mengasihi kita dan kita tidak pernah berhak menerima kasih Tuhan. Dalam 2 Petrus 2:4 dikatakan, “Sebab jikalau Allah tidak menyayangkan malaikat-malaikat yang berbuat dosa tetapi melemparkan mereka ke dalam neraka…” Ini adalah satu ayat yang seharusnya sangat menggentarkan hati kita. Tuhan juga berhak untuk melakukan hal yang sama kepada kita, manusia-manusia yang telah melawan dan berdosa kepadaNya. Tuhan tidak berkewajiban untuk menyelamatkan kita sebenarnya, namun Ia memilih untuk mengasihi kita. We all deserve hell, o God, yet we receive much more than. Bukan saja aku tidak lagi dihukum, aku boleh menerima keselamatan di dalam Yesus Kristus, dan aku boleh menerima warisan kemuliaan di dalam surga milikMu. Itulah attitude dari hati yang telah ditransformasi oleh Tuhan.

  1. Worshiping God should make us holy.

Menyembah Allah harus membuat kita hidup di dalam kesucian dan kekudusan. Banyak orang salah kaprah menghindari tema “Allah itu adil, Allah itu suci” jangan dikhotbahkan kepada orang-orang yang belum percaya Tuhan atau “seekers” yang baru datang ke gereja karena mereka pasti tidak akan terlalu tertarik dengan tema seperti ini. Khotbahkanlah selalu “Allah itu kasih, Allah itu penuh dengan kebaikan, Allah itu maha pemurah yang memberi apa yang engkau minta.” Ini adalah konsep yang sama sekali keliru. Justru kita perlu dibawa dan diingatkan kepada kekudusanNya yang murka kepada dosa dan ketidak-adilan, serta kebenaranNya yang akan menghakimi ketidak-benaran. Alkitab memberitahukan kepada kita betapa indahnya kekudusan Allah itu. Justru ketika kita dengan penuh keberanian boleh menghampiri tahta kesucian dan kemuliaan Allah di dalam Yesus Kristus, kesucian Allah itu tidak menghanguskan kita. Kesucian Allah itu memurnikan kita. Tidak akan pernah mungkin kita bisa memahami dengan benar kasih Allah tanpa memahami kasih Allah di dalam kekudusanNya. Pada waktu kita memahami kasih Allah tanpa melihat konsep kekudusan, maka kasih itu pasti kasih yang salah, kasih yang sembarangan, kasih yang membabi-buta, dan kasih yang punya motif yang tidak benar. Itulah sebabnya memahami kasih Allah harus memahaminya dengan kasih itu di dalam kekudusanNya. Itu berarti Allah baik kepada kita tidak pernah ada motif yang tidak baik karena kebaikan itu diberikan di dalam kekudusanNya. Maka sikap penyembahan yang sungguh dan otentik kepada Allah membawa kita bertemu denganNya dan perubahan hidup kita terjadi di dalamnya harus membuat kita hidup kudus, karena Ia adalah Allah yang kudus.

  1. Worshiping God should make us loving.

Menyembah Allah harus membuat kita menjadi orang Kristen yang penuh dengan cinta kasih. Pada waktu kita hanya memusatkan ibadah kepada diri kita, di situ kita akan datang dengan hati yang bersifat egosentris. Maka firman Tuhan mengingatkan kita selalu di dalam kita berbakti dan beribadah satu dengan yang lain kita senantiasa memiliki loving kindness, bukan memperhatikan kepentingan diri sendiri. Pada waktu kita datang menyembah Tuhan, perubahan yang terjadi tidak boleh berhenti hanya sampai aku menerima kasih itu tetapi harus sampai kepada bagaimana saya bisa menyatakan kasih Allah itu kepada orang lain. Yohanes mengatakan “Jikalau seorang berkata aku mengasihi Allah dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah yang tidak dilihatnya” (1 Yohanes 4:20). Demikian juga Yakobus mengatakan “Jikalau ada seorang menganggap dirinya beribadah tetapi tidak mengekang lidahnya, ia menipu dirinya sendiri, maka sia-salah ibadahnya” (Yakobus 1:26) menjadi satu aspek penting di dalam ibadah kita membangun orang lain dengan kata-kata kita. Dan Yakobus memberikan kepada kita satu aspek lain dalam definisi apa itu ibadah yang sejati, “Ibadah yang murni dan yang tidak bercacat di hadapan Allah, Bapa kita, ialah mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka” (Yakobus 1:27). Kalimat ini di dalam konteks maksudnya ketika kita beribadah kepada Allah tidak pernah berhenti sampai kepada diri sendiri. Ibadah kepada Tuhan harus membuat kita mengasihi dan memperhatikan orang lain, ini transformasi yang Tuhan kerjakan bagi kita.

  1. Worshiping God should make us mission minded.

Berbakti kepada Tuhan harus membuat kita memiliki jiwa dan pikiran yang bermisi. Mission-minded people are those who love to share the good news of God’s salvation with others through their words and their lives. Ibadah tidak pernah berhenti bagi diri kita sendiri, ibadah kepada Tuhan harus membuat kita mengalirkan kabar baik keselamatan di dalam Yesus Kristus kepada orang di luar melalui perkataan dan perbuatan kita.

Hari ini kiranya firman Tuhan kembali menjadi cermin bagi kita, karena demikianlah 2 Korintus 3:18 memberikan kita pengertian apa yang terjadi di dalam sebuah ibadah yang sejati, “Dan kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung dan karena kemuliaan itu datangnya dari Tuhan yang adalah Roh maka kita diubah menjadi serupa dengan gambarnya dalam kemuliaan yang semakin besar.” Transformasi ini tidak pernah bisa tertahankan, transformasi ini adalah transformasi yang akan merubah kita dari tahap kemuliaan yang satu makin menuju kepada tahap kemuliaan selanjutnya pada waktu kita menjadi penyembah-penyembah Allah yang sejati.

Kiranya kita semua boleh menjadi penyembah-penyembah Tuhan yang sejati dan otentik. Kita bawa pelayanan kita meskipun itu tidak sempurna, kita bawa tutur kata kita yang terlalu sedikit dan terlalu terbatas untuk memuliakan Tuhan, kita bawa di dalam segala kekurangan kita. Kita mau bawa itu semua karena kita ingin semua yang kita kerjakan dan lakukan semata-mata demi hormat dan kemuliaan nama Tuhan. Kiranya darah Domba Allah boleh membungkus kita yang tidak layak ini untuk bisa berdiri di hadapan tahta Allah yang suci. Kita bersyukur untuk firman Tuhan yang sekali lagi mencerahkan hati kita, membukakan pikiran kita dan membawa ibadah kita menjadi ibadah yang memuliakan Allah, menjadi ibadah yang menyadarkan kita bahwa kita menyembah Allah yang hidup. Mari kita memberi yang terbaik, kita berkata-kata dengan segala persiapan, kita melakukan semuanya dengan persiapan yang baik. Biar itu semua boleh menjadi sarana yang indah supaya kiranya kita menjadi penyembah-penyembah Tuhan yang sejati yang hidup lebih rendah hati, lebih bersandar dalam tangan Tuhan yang aman, hidup lebih suci, lebih bersyukur, lebih penuh dengan kasih, membawa hidup kita senantiasa digairahkan oleh kasih Tuhan untuk mengasihi orang yang belum percaya Tuhan.(kz)