09. Hidup Kita ada di Tangan Allah

Eksposisi Kitab Pengkhotbah (9)
Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Tema: Hidup Kita ada di Tangan Allah
Nats: Pengkhotbah 9:1-10

Membaca Pengkhotbah 9 secara sepintas kita bisa mengambil kesimpulan betapa “gloomy” perasaan hati Pengkhotbah mengungkapkan apa yang dia lihat dan amati tentang hidup di bawah kolong langit ini, betapa sedih kondisi hidup orang di dunia ini, apa saja yang dikerjakan seolah tidak ada guna dan tidak ada manfaatnya. Engkau berbuat benar, apa gunanya? Engkau berbuat baik, apa gunanya? Engkau berusaha hidup bersih dan bermoral, apa gunanya? Bahkan engkau berbakti dan beribadah dengan taat, mempersembahkan korban bagi Tuhan, apa gunanya? Secara fenomena apa yang Pengkhotbah lihat dan amati, tidak ada bedanya orang benar maupun orang fasik; orang baik maupun orang jahat; orang saleh maupun orang najis; orang yang beribadah maupun orang yang tidak percaya Tuhan. Nasibnya semua sama, segala sesuatu yang manusia jalani di dunia ini semua tidak ada bedanya. Orang yang tidak percaya Tuhan miskin, orang yang percaya Tuhan bisa miskin; orang yang tidak percaya Tuhan kena kanker, orang yang percaya Tuhan bisa kena kanker. Orang yang tidak percaya Tuhan meninggal mendadak, orang yang percaya Tuhan juga bisa meninggal mendadak, bukan? Secara fenomena, rumah orang yang cinta Tuhan bisa terbakar habis, sama seperti orang lain. Orang yang cinta Tuhan hidupnya bisa terjerat oleh kemiskinan dan penderitaan, walaupun seumur hidup bekerja keras, tidak ada perubahan. Orang yang jujur dan saleh, banyak di antara mereka yang sulit mendapatkan pekerjaan. Ada yang terus berdoa tanpa henti di hadapan Tuhan, nampaknya segala doanya tidak diindahkan oleh Tuhan. Kalau begitu, buat apa berdoa, buat apa ke gereja, buat apa melayani dan memberikan persembahan, kalau ternyata hidup dari orang-orang percaya Tuhan akhirnya sama saja dengan yang tidak percaya Tuhan?

Inilah yang kita alami, inilah yang kita lihat, inilah yang kita amati dan yang kita temukan. Namun kita tidak boleh terkecoh akan fenomena seperti itu. Meskipun secara fenomena sama, tidak berarti tidak ada perbedaannya. Pengkhotbah 8:12-13 menyatakan ada aspek kebahagiaan yang tidak dimiliki oleh orang yang tidak percaya Tuhan, “Walaupun orang yang berdosa dan berbuat jahat seratus kali hidup lebih lama namun aku tahu bahwa orang yang takut akan Allah akan beroleh kebahagiaan sebab mereka takut terhadap hadiratNya. Tetapi orang yang fasik tidak akan beroleh kebahagiaan dan seperti bayang-bayang dia tidak akan panjang umur karena ia tidak takut terhadap hadirat Allah.”

Pengkhotbah mengajak kita melihat dari satu kacamata dan perspektif yang berbeda luar biasa. Apa bedanya hidup yang kita jalani sebagai orang percaya yang dari permukaan seorang tidak ada bedanya dengan orang-orang lain yang tidak percaya Tuhan?

  1. Hidup kita ada di dalam tangan Tuhan.

Pengkhotbah 9:1 mengatakan, “Sesungguhnya, semua ini telah kuperhatikan dan kuperiksa, yakni bahwa orang-orang yang benar dan orang-orang yang berhikmat dan perbuatan-perbuatan mereka, baik kasih maupun kebencian, ada di tangan Allah…” Kalimat ‘baik kasih maupun kebencian’ ini dua ekstrim emosi yang muncul bukan berarti kita adalah orang yang bermuka dua, tetapi Pengkhotbah mengajak kita melihat hidup kita bisa “up and down,” kadang dalam kondisi baik tetapi juga kadang dalam kondisi yang tidak baik. Namun demikian ada satu hal yang membedakan kita sebagai orang percaya dengan orang tidak percaya, yaitu hidup kita ada di tangan Allah dan ada final justice. Itulah yang membuat kita berbeda ketika kita mengalami pengalaman hidup yang sama dengan orang lain. Apa yang engkau dapatkan sebagai balasan atas kebaikanmu? Mungkin bahkan sampai titik terakhir pada waktu kita menutup mata apa yang kita kerjakan, apa yang kita lakukan selama hidup kita, kebaikan yang kita beri, cinta kita kepada sesama, bahkan ibadah dan pengabdian kita kepada Tuhan Yesus Kristus, kita tidak melihat apa hasil dari semua yang kita lakukan itu. Tetapi apakah karena itu lalu menjadi alasan kita berhenti melakukan segala yang baik? Kita mungkin menghadapi awan gelap yang sama di dalam perjalanan hidup kita, tetapi bisakah kita melihat bahwa di balik awan gelap itu ada cahaya pengharapan dari Tuhan? Bisakah kita melihat di tengah keruhnya kehidupan ada tangan Tuhan yang menuntun kita? Secara fenomena kita melihat hal yang sama di permukaan, tetapi bedanya adalah hidupku ada di tangan Allah. Dan satu kali kelak akan ada penghakiman yang terakhir, artinya semua yang kita kerjakan selama di dunia ini tidak akan pernah sia-sia sekali pun pengalaman dan kondisi yang kita alami mungkin kelihatannya sama.

Hidup orang percaya ada di dalam tangan Tuhan. Kata “tangan Tuhan” adalah konsep yang sangat penting di dalam Alkitab kita. Tangan Tuhan adalah satu lambang dan simbolisasi yang penting di dalam Alkitab kita. Tangan Tuhan menyatakan Ia adalah Tuhan yang berkuasa, tangan Tuhan menyatakan Ia adalah Tuhan yang mengontrol segala sesuatu. Tangan Tuhan itu adalah tangan yang memimpin hidup kita. Tangan Tuhan bukan saja tangan yang mengatur dan mengontrol segala sesuatu tetapi itu juga adalah tangan yang penuh dengan kasih yang mengasihi kita sampai selama-lamanya. Tidak ada satu hal pun terjadi di luar daripada ijin dari tanganNya yang berdaulat mengontrol dan tidak ada hal yang menimpa hidup kita terlepas dari tangan Tuhan yang melindungi dan proteksiNya. Itulah sebabnya hidup kita di muka bumi ini adalah hidup yang berjalan dengan kekuatan, penghiburan dan pengharapan seperti ini.

  1. Hidup kita mempunyai pengharapan.

Pengkhotbah 9:4 “Tetapi siapa yang termasuk orang hidup mempunyai harapan, karena anjing yang hidup lebih baik daripada singa yang mati.” Dari dulu sampai sekarang singa menjadi lambang binatang yang istimewa. Itu menyatakan nobility, keagungan, kebesaran, kekuatan, ketenangan. Sebaliknya anjing itu adalah seekor binatang yang hina, yang jijik, yang kotor, yang tidak ada arti dan harganya. Namun Pengkhotbah mengatakan, apa gunanya lambang yang bagus, besar, agung, kuasa, hebat, penampilan baik, gelarnya banyak, tetapi mati. Daripada kurus, miskin, kotor, hina, tidak punya apa-apa, agak kurang mampu, tetapi hidup. Mana yang lebih baik? Ketika masih ada hidup di dalam diri orang itu, semiskin-miskinnya, sehina-hinanya, sekurang-kurangnya dia, tetap ada pengharapan. Hidup di sini bukan hanya berarti kita masih bernafas, tetapi kita mempunyai hidup yang baru, yang sudah diubah oleh Tuhan. Hidup kita tidak boleh sama dengan hidup yang sebelumnya. Kita tidak boleh ditipu oleh dunia ini untuk menghabiskan hidup kita dengan sia-sia, membuang semua waktu, tenaga, potensi, karunia dan kesempatan yang ada dengan sia-sia. Kita tidak boleh melihat hidup kita sebagai hidup yang tidak berharga, sekalipun semua di-stripped habis dari hidup kita sampai tidak ada yang tersisa, tetapi selama Tuhan masih memberi kita kesempatan untuk hidup di dunia, berapa panjang berapa sedikit waktu yang ada itu kita tidak boleh kecewa dan putus asa.

Tidak ada gunanya singa yang hebat tetapi mati, lebih baik anjing yang kurus dan dihina orang tetapi hidup. Di situlah keindahannya. Kita tidak boleh menghina anak orang miskin tukang cukur, kita tidak boleh merendahkan anak supir bus, karena sesudah anak itu besar dia bisa menjadi major kota London, bukan? Kita juga tidak perlu malu kalau kita tidak punya apa-apa tetapi selama Tuhan memberi kita hidup, pasti ada pengharapan, pasti ada kesempatan, dan hidup itu adalah hidup yang berarti. Tidak perlu takut pada waktu kita habis segala-galanya, harta kita hilang lenyap dan kita tidak punya apa-apa lagi, kita bisa start dari awal, kita mulai lagi, kita tidak perlu kuatir dan takut karena selama masih ada hidup ada pengharapan. Yang celaka dan kasihan adalah orang yang masih hidup namun menjalani hidup ini dengan kehilangan pengharapan. Pengharapan itu tidak boleh hilang dari hidup orang yang percaya Tuhan.

  1. Hidup kita adalah hidup yang dijalani dengan sukacita dan kepuasan hati.

Pengkhotbah 9:7 “Mari, makanlah rotimu dengan sukaria, dan minumlah anggurmu dengan hati yang senang, karena Allah sudah lama berkenan akan perbuatanmu.” Dan Pengkhotbah 9:9, “Nikmatilah hidup dengan isteri yang kau kasihi seumur hidupmu yang sia-sia, yang dikaruniakan TUHAN kepadamu di bawah matahari, karena itulah bahagianmu dalam hidup dan dalam usaha yang kau lakukan dengan jerih payah di bawah matahari.” Apa yang membedakan hidup orang Kristen bukan ditentukan oleh berapa banyak yang kita miliki, bukan ditentukan oleh berapa banyak yang masih tersisa dari segala yang kita pakai dalam hidup ini, bukan itu yang membedakan hidup kita dengan hidup orang lain. Kita juga tidak boleh kecewa dan mempersalahkan keadaan mengapa kita tidak memiliki banyak seperti orang-orang lain. Tetapi yang membedakan kita menjalani hidup ini adalah karena kita menjalani hidup yang penuh dengan sukacita dan contentment, hidup yang puas dan menikmati segala yang kita miliki dengan syukur kepada Tuhan.

Ada dua bahaya yang harus kita hindari. Bahaya yang pertama adalah konsep hidup yang “super spiritual” yang tidak mau menikmati segala hal yang baik yang Tuhan beri di dalam hidup ini karena menganggap semua yang ada di dalam hidup kita itu harus kita tolak. Bahaya yang kedua yang harus kita hindari adalah bahaya dari menjadikan semua yang baik yang Tuhan berikan itu menjadi tujuan hidup kita dan menjadi the ultimate kita hidup. Dua ekstrim itu harus kita waspadai dan hindari. Pengkhotbah mengatakan nikmatilah dengan sukaria dan hati yang senang atas semua yang Tuhan karuniakan kepadamu. Kata ‘pemberian’ gift itu juga mengingatkan kita tidak boleh merasa guilty menikmati God’s good creation itu sebagai sesuatu yang indah dari Tuhan.

Dalam 1 Timotius 4:1-5 Paulus menegur sekelompok orang yang “super spiritual” yang melarang orang untuk menikah dan berhubungan seks dengan pasangannya dan juga melarang orang untuk makan makanan-makanan tertentu. Paulus mengatakan, semua yang diciptakan Allah itu baik dan suatu pun tidak ada yang haram. Semua itu harus diterima dan dinikmati dengan ucapan syukur. Pada jaman itu ada sekelompok orang yang jatuh kepada sikap super spiritualitas yang keliru dan mengajarkan berbagai larangan seolah-olah dengan hidup “menderita” seperti itu dan melakukan hidup yang bertarak itulah artinya hidup yang lebih rohani. Kita tidak boleh melihat dan menganggap pemberian Allah yang baik itu sebagai sesuatu yang jahat; God’s good creation itu diberikan oleh Tuhan kepada kita supaya kita bisa menikmati apa yang Tuhan beri, tetapi kita menikmatinya bukan demi untuk kenikmatan itu sendiri, melainkan kita nikmati sebagai suatu ucapan syukur kita kepada Tuhan. Kita tidak cepat-cepat mengeluh, kita tidak cepat-cepat mengeluarkan kata-kata yang pahit dan sinis di dalam hidup ini tetapi kita senantiasa melihat ada keindahan dan kebaikan yang Tuhan beri kepada kita.

  1. Hidup kita memiliki kesigapan atas setiap kesempatan.

Pengkhotbah 9:8 “Biarlah selalu pakaianmu putih dan jangan tidak ada minyak di atas kepalamu.” Ayat ini mengatakan hendaklah kita selalu siap sedia karena kesempatan itu tidak selalu ada. Ketika kita tidak siap sedia waktu kesempatan itu datang, kesempatan itu akan lalu pergi. Setiap hari, setiap saat waktu kesempatan datang, kita sudah siap sedia. Tetapi kalau selalu kita approach hidup dengan berkata, sudahlah tidak mungkin ada kesempatan, dia memang tidak akan datang kepadamu. Terlalu banyak hal di dunia ini terjadi karena orang itu mendapat kesempatan yang tiba-tiba datang ke dalam hidupnya, dan sikap yang selalu siap sedia kapan saja kesempatan itu datang.

Film “Something the Lord made” berkisah mengenai seorang kulit hitam anak tukang kayu miskin bernama Vivien Thomas, yang pada akhirnya menjadi seorang pionir bagi operasi jantung terhadap manusia. Vivien sejak muda bercita-cita untuk menjadi seorang dokter dan keluarga yang miskin dengan sekuat tenaga mengumpulkan uang untuk biaya kuliahnya. Namun depresi ekonomi menyebabkan bank tutup dan uangnya lenyap, akhirnya dia berhenti sekolah sampai di SMA. Dr. Alfred Blalock kemudian mempekerjakan Vivien sebagai tukang bersih-bersih dan teknisi di lab, namun kemudian Dr. Blalock melihat keunikan tangan Vivien yang begitu stabil dan kerajinannya belajar buku-buku kedokteran, sehingga mengajaknya untuk menjadi asistennya. Mulanya bersama Vivien Dr. Blalock melakukan eksperimen operasi jantung pada anjing dan kemudian melakukan operasi terhadap seorang bayi. Operasi jantung itu membuat nama Dr. Blalock termasyur dan dia mendapatkan perhargaan atas kesuksesan itu, namun di saat menerima penghargaan Dr. Blalock sama sekali tidak menyebut sumbangsih Vivien. Hal itu membuat Vivien sangat kecewa dan kemudian meninggalkan pekerjaannya sebagai asisten Dr. Blalock dan bekerja sebagai salesman obat. Ayahnya yang menyaksikan anaknya menjadi pahit dan kecewa lalu mengatakan kepadanya, engkau hanya punya dua pilihan, pertama marah dan kecewa mengapa bus itu tidak datang-datang tetapi itu tidak akan membawamu kemana-mana; atau pilihan kedua melangkah berjalan berapapun lamanya yang diperlukan, engkau pasti akan sampai ke tujuan. Itu kemudian yang menyentak dia dan membuat dia kembali bekerja dengan Dr. Blalock sampai kemudian dia menjadi seorang yang sangat ahli membedah jantung manusia. Menjelang usia 66 tahun universitas Johns Hopkins memberinya gelar doktor kehormatan atas jasa-jasanya dalam dunia kedokteran.

Dalam hidup kita, pilihan apa yang kita ambil? Kita lebih suka “naik bus” daripada “berjalan kaki,” karena naik bus lebih nyaman, tidak perlu berkeringat, sampai di tujuan lebih cepat, ketimbang jalan kaki harus mengeluarkan tenaga dan waktu yang panjang untuk sampai di tujuan. Tetapi hanya terus diam di situ mengeluh dan menanti entah sampai kapan bus itu datang, kita tidak akan kemana-mana dan itu tidak akan merubah apa-apa di dalam hidup kita.

Ada beberapa aspek dan interpretasi terhadap ayat ini. Pertama, sikap dan attitude kita siap sedia kapan saja kesempatan itu datang ke dalam hidup kita. Kedua, “pakaian putih” di dalam beberapa pemakaian di Alkitab mengacu kepada kesalehan, integritas, kesucian dan otentisitas dalam prilaku moral. “Kepala berminyak” bukan saja kepada sikap siap sedia, tetapi menunjukkan hidup yang dijalani dengan sukacita dan sikap positif. Tuhan Yesus mengajar orang Kristen jangan seperti orang Yahudi di dalam berpuasa memperlihatkan sikap eksternal wajah yang muram dan rambut yang lusuh, “Tetapi apabila kamu berpuasa, minyakilah rambutmu dan cucilah mukamu” (Matius 6:17). Ketiga, berbicara mengenai aspek “kesempatan” di dalam hidup, kita percaya Tuhan bukan saja memanggil kita untuk siap sedia kapan saja kesempatan itu datang ke dalam hidup kita, tetapi kita juga dipanggil untuk secara aktif mencari kesempatan dan bahkan menciptakan kesempatan itu. Dalam konteks pekerjaan Tuhan dan pengabaran Injil, Paulus mengatakan, “Siap sedialah, baik atau tidak baik waktunya” (2 Timotius 4:2).

  1. Terakhir, selalu melakukan yang terbaik.

Pengkhotbah 9:10, “Segala sesuatu yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan, kerjakanlah itu dengan sekuat tenaga.” Do all your best always. Ini adalah panggilan yang penting di dalam etos kerja orang Kristen. Kita mengerjakan segala sesuatu yang ada di tangan kita dengan sebaik mungkin, serajin mungkin dan seindah mungkin. Bukan saja kita dengan efektif dan produktif menghasilkan sesuatu dari tangan kita untuk kepentingan finansial pribadi, untuk keamanan posisi kerja dan karir; bukan saja kita mengerjakan segala sesuatu dengan sekuat tenaga demi perusahaan dan demi menyenangkan boss kita. Terlebih dari semua itu, kita mengerjakan segala sesuatu dengan sungguh-sungguh, dengan sekuat tenaga dan sebaik mungkin karena kita mengerjakannya bagi Tuhan. Seperti rasul Paulus mengatakan kepada jemaat Kolose, “Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia” (Kolose 3:23).

Ayat-ayat firman Tuhan senantiasa mengingatkan kita di dalam setiap prinsip-prinsip rohani yang selalu mengajarkan kita untuk “down to earth” dalam hidup kita sehari-hari, yang mengingatkan kita itulah bedanya orang Kristen dengan orang yang lain. Orang Kristen berbeda dengan orang yang bukan Kristen bukan karena kita lebih banyak berdoa daripada mereka; bukan karena kita lebih banyak berbakti; bukan itu yang membedakan. Apa yang membedakanku sebagai anak Tuhan? Sebagai anak Tuhan aku tahu tangan Tuhan memimpin hidupku. Apa yang membedakanku sebagai anak Tuhan? Anak Tuhan memiliki pengharapan hidup. Apa yang membedakanku sebagai anak Tuhan? Anak Tuhan hidup dengan joy dan contentment. Apa yang membedakanku sebagai anak Tuhan? Kita siap sedia kapan saja Tuhan membuka pintu kesempatan bagi kita, kita tidak boleh lengah dan lalai dalam hidup ini. Apa yang membedakanku sebagai anak Tuhan? Pada waktu saya bekerja, saya melakukannya dengan sekuat tenaga dan sebaik mungkin, dengan tulus dan dengan indah bagi Tuhan.

Kita bersyukur untuk semua hal yang indah yang Tuhan beri kepada kita, untuk semua kasih karunia yang boleh kita nikmati dengan syukur. Bersyukur di dalam perjalanan hidup kita meskipun tidak lepas dari segala kesulitan dan pergumulan seperti yang dialami semua orang di bawah kolong langit ini, menghadapi hal-hal yang sama tetapi kita bersyukur ada Allah kita yang di atas, yang tanganNya terulur menopang dan memimpin kita, tangan yang penuh dengan kuasa mengatur dan mengontrol dan memelihara serta menuntun kita dengan tangan kasih yang menyelamatkan kita itu. Kiranya semuanya itu memberi kita sukacita dan kekuatan untuk menjalani hidup yang senantiasa bersandar kepada Tuhan, memberikan yang terbaik dan terindah dan kita mengerjakan sekuat tenaga hidup kita di dalam kesempatan yang Tuhan beri. Biar itu menjadi bukti kita adalah milik Tuhan dan anak-anak Tuhan yang dilihat oleh orang-orang dunia ini.(kz)