10. Di dalam Tuhan tidak Ada yang Sia-sia

Eksposisi Kitab Pengkhotbah (10)
Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Tema: Di dalam Tuhan tidak Ada yang Sia-sia
Nats: Pengkhotbah 11:1-6

Pertanyaan yang paling sering muncul di dalam hati setiap kita pada saat mau melakukan sesuatu, adalah pertanyaan yang paling pertama juga ditanyakan oleh Pengkhotbah, yaitu “apakah gunanya manusia berusaha dengan jerih payah di bawah matahari?” (Pengkhotbah 1:3). Apakah ada guna, apakah ada untung, apakah ada hasilnya pada waktu aku melakukan sesuatu? Kalau tidak ada gunanya, buat apa aku lakukan? Pengkhotbah mengatakan itulah fenomena yang kita lihat yang terjadi di dalam hidup ini. Segala sesuatu itu sia-sia adanya, banyak hal yang kita kerjakan dengan susah payah, dengan menguras energi dan pikiran kita cape hati, orang lain yang menikmati; ada orang yang baik dan jujur justru hidupnya tidak pernah berhasil; ada orang yang tulus dan cinta Tuhan justru hidupnya mengalami kesulitan. Semua itu akan sia-sia adanya bukan karena hal itu tidak ada artinya, bukan karena hal itu tidak berguna, tetapi kalau hidup kita tidak ada Tuhan, semua itu pada akhirnya akan sia-sia adanya.

Kita juga kadang-kadang sebagai anak-anak Tuhan pada waktu kita menjalani hidup ini kita terlalu cepat sekali ingin melihat hasil dari apa yang kita kerjakan. Kita seringkali tergoda ingin mendapatkan result itu secara cepat-cepat. Dan kadang-kadang di tengah jalan kita pun mungkin juga bisa berhenti dari apa yang kita kerjakan bahkan termasuk pelayanan, bahkan termasuk apa yang kita kerjakan kepada Tuhan dan kita terjebak juga jatuh kepada pertanyaan yang sama, apa gunanya aku mengerjakan semua ini? Apa untungnya aku berdoa? Apa faedahnya aku melayani? Pada waktu kita hari demi hari menolong orang yang mungkin di dalam kesulitan dan kesusahan, sebagai sama-sama anak Tuhan kita membantu dan menolong dengan tanpa pamrih dan mengharapkan balasan, kita lakukan dengan setia selama bertahun-tahun. Kita bisa terluka dan kecewa melihat apa yang kita lakukan bagi orang itu direspon dengan sikap ‘take it for granted’ dan tidak ada ucapan terima kasih keluar dari mulut orang itu. Orang yang memulai pelayanan dengan hati yang tulus mengorbankan segala sesuatu, termasuk begitu banyak hamba-hamba Tuhan yang menjadi misionari, ada di antara mereka mungkin yang sampai puluhan tahun di satu tempat hanya satu atau dua keluarga saja yang mau menjadi orang percaya, mungkin ladang terlalu berat dan sulit luar biasa, sehingga banyak rekan yang pada awalnya mendukung pelayanan dia akhirnya satu persatu mungkin mundur karena merasa pelayanan itu tidak terlalu berkembang dan berbuah. Tidak ada hasil yang memuaskan, tidak guna dan tidak ada manfaat untuk diteruskan dan didukung. Akhirnya tinggal hamba Tuhan itu berjuang seorang diri dengan setengah mati karena tidak ada dukungan finansial lagi. Hamba Tuhan itu lalu bertanya kepada Tuhan, apa gunanya dan apa untungnya aku melakukan semua ini?

Kita sebagai orang yang seringkali terlalu gampang terjebak dengan fenomena, tidak berani berjalan dengan iman sekalipun jalan di depan kita tertutup kabut dan awan yang gelap akhirnya kita berhenti melangkah. Maka tidak heran Paulus mengingatkan hidup sebagai orang Kristen mengikut Tuhan ‘we live by faith, not by sight’ (2 Korintus 5:7). Ikut Tuhan kita berjalan dengan iman, bukan berjalan dengan apa yang kita lihat. Seringkali kita bisa tawar hati kalau melangkah karena melihat hasilnya, melihat buahnya, melihat manfaatnya. Paulus di dalam surat kepada jemaat Galatia juga mengatakan, “Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah” (Galatia 6:9). Kalimat-kalimat ini perlu kita ingat dan dengar berulang-ulang kali di dalam hidup kita. Kita sebagai anak-anak Tuhan memang bisa hidup mengalami pergumulan yang sama dengan orang lain, kita tidak terlepas dan terhindar dari kesulitan yang juga dialami oleh orang-orang yang tidak percaya Tuhan. Mari kita lihat ketika ada Allah di dalam hidup kita, ketika kita tahu pekerjaan Tuhan walaupun itu misterius di dalam hidup kita, kita tetap lihat dan tetap percaya tidak ada orang yang mengerjakan itu bagi Tuhan akan pulang dengan sia-sia.

Pengkhotbah 11:1 mengatakan, “Lemparkanlah rotimu ke air, maka engkau akan mendapatkannya kembali lama setelah itu.” Firman Tuhan mengatakan roti yang engkau lemparkan ke air itu baru akan engkau dapat kembali lama sesudah itu, tetapi tidak berarti kita berhenti untuk menabur, berhenti untuk memberi dan melakukan sesuatu yang baik. Ayat ini unik, karena kita sama-sama tahu melempar roti ke air itu seolah tidak ada manfaatnya. Kalau kita melemparkan roti ke air, dia akan segera mengalir terbawa arus, bukan? Atau kalau kita melemparkan roti ke air, biasanya bebek dan ikan akan segera memakannya. Atau roti akan segera hancur di air dan tidak ada lagi. Ini adalah satu ilustrasi yang penting dan indah mengingatkan kita jangan terus memakai kalkulasi dan hitung-hitungan untung rugi pada waktu kita mengerjakan pekerjaan yang baik. Jangan pernah keluarkan itu dalam hati motivasi melakukan sesuatu itu, di dalam memberikan sesuatu kepada orang yang berkekurangan, membawa mereka di dalam doa, membimbing orang untuk tetap setia kepada Tuhan, di dalam melayani di gereja, itu tidak akan pernah menjadi sia-sia. Itu adalah suatu “investasi” di dalam pekerjaan Tuhan. Kita tidak bisa segera lihat hasilnya itu karena lama dan panjang waktunya. Mungkin kita tidak lihat banyak daripada hasil itu tetapi pada waktu satu orang saja datang kepadamu dan  orang itu mengeluarkan kalimat syukur kepada Tuhan karena apa yang kita kerjakan mungkin puluhan tahun yang lalu menjadi sesuatu yang merubah hidup dia, menjadi sesuatu yang berguna baginya, membuatnya tercegah dari jalan yang salah, akhirnya hatinya kembali kepada Tuhan. Itu adalah suatu sukacita yang tidak bisa diganti dengan apa pun juga.

Memberikan bukan hanya satu dua kali, tetapi berkali-kali dengan generous dan murah hati. “Berikanlah bahagian kepada tujuh bahkan kepada delapan orang…” (Pengkhotbah 11:2), Pengkhotbah memakai kata “portion” yang mempunyai konsep khusus di dalam Perjanjian Lama yang mengacu kepada kebaikan hati kita, generosity yang harus keluar dari hidup kita yang memang jatuh kepada tangan yang mungkin tidak bisa membalas dan mengembalikan kebaikan kepada pemberinya. Dalam Nehemia 8:11 “Makanlah, minumlah dan kirimlah sebagian kepada mereka yang tidak sedia apa-apa…” Nehemia menguatkan umat Tuhan dan berkata, nikmati apa yang Tuhan beri dengan makan dan minum dan biarlah hidupmu penuh dengan sukacita dan jangan lupa untuk berbagi dengan orang yang tidak punya. “Give portion” kepada mereka yang tidak membawa apa-apa, supaya mereka bisa turut bersama menikmati sukacita atas berkat Tuhan kepadamu. “Give portion” adalah kata yang juga muncul dalam Pengkhotbah 11:2 ini. Berikan bahagianmu kepada tujuh, ingatkan kata ‘tujuh’ berarti angka sempurna, angka menyeluruh, kita dipanggil untuk memberi semaksimal mungkin tetapi kita dipanggil memberi bahkan kepada delapan. Artinya lebih daripada itu. Kenapa? Kalimat selanjutnya, karena engkau tidak tahu malapetaka apa yang akan terjadi di atas bumi. Ini adalah kata yang penting sebab misteri masa depan dan malapetaka yang bisa datang di hadapan kita mungkin justru membuat banyak orang kuatir dan takut, malah tidak berani melangkah. Justru karena misteri masa depan dan kuatir akan ketidak-pastian apa yang akan terjadi di depan membuat orang tidak mau memberi sesuatu bagi pekerjaan Tuhan dan menyimpan bagi diri sendiri untuk berjaga-jaga.

Paulus dalam 1 Korintus 15:58 berkata, “Karena itu saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia.” Kiranya firman Tuhan ini senantiasa memberi ingatan dan encouragement kepada kita. Demikian juga Yesaya memberikan dorongan kepada kita dengan firman Tuhan yang begitu indah luar biasa, “Sebab seperti hujan dan salju turun dari langit dan tidak kembali ke situ, melainkan mengairi bumi, membuatnya subur dan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan, memberikan benih kepada penabur dan roti kepada orang yang lapar, demikianlah firmanKu yang keluar dari mulutKu, ia tidak akan kembali kepadaKu dengan sia-sia…” (Yesaya 55:10-11). Firman Tuhan itu bagaikan hujan yang turun dari langit membasahi bumi. Yang kita lihat cuma air, turun membasahi bumi. Pada waktu ia membasahi bumi ia membuat tumbuh-tumbuhan bisa bertumbuh, dan bukan saja tumbuhan, juga ada benih gandum dan biji-bijian muncul, sehingga dari situ ada roti yang bisa dimakan. Bermula dari air, ujungnya bisa menjadi roti. Demikianlah firman Tuhan tidak pernah sia-sia.

Dalam 2 Korintus 9 prinsip yang sama muncul di bagian ini di dalam kita berbagian mendukung pelayanan dan pekerjaan Tuhan menggemakan apa yang dikatakan oleh Pengkhotbah. Di sini Paulus mengatakan, “Camkanlah ini: orang yang menabur sedikit akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak akan menuai banyak juga. Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita” (2 Korintus 9:6-7). Jangan beri “sparingly” atau sedikit-sedikit, tetapi berilah secara berkelimpahan dalam hidupmu. Kemudian Paulus lanjutkan, “Ia yang menyediakan benih bagi penabur dan roti untuk dimakan, Ia juga yang akan menyediakan benih bagi kamu dan melipat-gandakannya dan menumbuhkan buah-buah kebenaranmu, memperkaya engkau dalam segala macam kemurahan hati, yang kemudian membangkitkan syukur kepada Allah” (2 Korintus 9:10-11).

Sangat miskinlah jiwa kita jikalau kita hanya terus memikirkan balasan yang akan kita terima dari orang yang kita beri ‘kalau aku memberi semangkuk beras kepada orang itu, suatu kali kelak dia akan memberi beras juga untuk aku.’ Sangat miskinlah jiwa kita jikalau kita memberi segelas air supaya orang itu pada gilirannya akan memberi segelas air untukku. Lalu akhirnya kita menjadi marah dan kesal ketika hal itu tidak terjadi. Kita tidak boleh lupa, kita menerima hal yang jauh lebih berharga pada waktu kita memberi air itu, seperti yang dikatakan oleh Tuhan Yesus, apa yang kita lakukan bagi orang-orang itu sesungguhnya kita lakukan bagi Tuhan Yesus sendiri dan Tuhan akan membalaskannya bagimu kelak (Matius 25:31-46). Pada waktu orang itu menerima pemberian kita, dari mulutnya akan keluar pujian syukur dan memuliakan Tuhan oleh karena pelayanan kita.

Lemparkanlah, berilah, itu menyatakan investasi di dalam kerajaan Tuhan yang tidak akan pernah sia-sia walaupun lama prosesnya, walaupun di tengah-tengah kesulitan dan malapetaka yang tidak kita duga, kita tidak pernah berhenti melihat apa yang kita kerjakan dan investasikan bagi nama Tuhan semua itu menjadi hal yang tidak pernah sia-sia adanya.

Kedua, Pengkhotbah 9:3-4 “Bila awan-awan sarat mengandung hujan, maka hujan itu dicurahkannya ke atas bumi; dan bila pohon tumbang ke selatan atau ke utara, di tempat pohon itu jatuh, di situlah ia tinggal terletak. Siapa senantiasa memperhatikan angin tidak akan menabur dan siapa senantiasa melihat awan tidak akan menuai.” Seringkali kita tunggu-tunggu kondisi membaik, sempurna dan tidak ada hambatan baru kemudian kita mau melakukan sesuatu. Kita tunggu sehat dulu, kita tunggu mapan dulu, kita tunggu semua lancar, kita tunggu ekonomi membaik dulu. Kita terus tunggu, terus tunggu hal yang tidak pernah datang-datang dan tidak pernah terjadi, maka firman Tuhan mengatakan, kita tidak akan pernah mengerjakan sesuatu. Dan kita tidak pernah melihat ada keindahan dan kebaikan di balik semua yang ada di dalam hidup kita. Terus takut dan kuatir akan hal-hal yang tidak terduga terjadi akhirnya membuat kita menjadi lumpuh dan takut akhirnya kita tidak pernah melangkah. Firman Tuhan mengingatkan jangan sampai kita terus melihat angin akhirnya tidak menabur, terus melihat awan akhirnya tidak menuai.

Pengkhotbah mengatakan memang ada aspek-aspek di luar yang tidak bisa kita kontrol.  Pohon itu bisa tumbang dan jatuh tergeletak kita tidak bisa berbuat apa-apa menghindarinya.  Hujan badai

bisa datang pada waktu yang kita tidak bisa berbuat apa-apa menghindarinya. Itu dua hal yang tidak bisa dikontrol oleh siapa pun. Kapan badai itu datang, kita tidak bisa kontrol. Pohon itu tumbang menimpa, kita tidak bisa berbuat apa-apa. Ini ilustrasi yang digambarkan oleh Pengkhotbah di sini. Petani keluar hendak menabur benih. Lalu dia tunggu, awan gelap mau hujan, masih badai, nanti bagaimana? Akhirnya dia tidak menabur benih itu. Seorang petani, tidak bisa tidak, mengandalkan siklus alam untuk menggarap tanahnya, bukan? Ada waktu untuk mempersiapkan tanah, menggaru dan memupuknya dan menyiraminya supaya subur; ada waktu untuk menaburkan benih. Jika dia terus tunggu keadaan dan tidak melakukan apa-apa akhirnya waktu untuk menanam akan lewat dan terlambat untuk moment menabur itu. Dan pada waktu moment itu lewat, kita tidak bisa memutar jam kembali ke moment itu. Kalau pagi itu dia bangun dan hanya menunggu dan berharap udara lebih kondusif, cuaca lebih ideal untuk menanam, tidak ada badai dan topan, baru bisa melakukan sesuatu, sampai kapan? “Taburkanlah benihmu pagi-pagi hari, dan janganlah memberi istirahat kepada tanganmu pada petang hari, karena engkau tidak mengetahui apakah ini atau itu yang akan berhasil, atau dua-duanya sama baik” (Pengkhotbah 11:6). Kalau seperti itu yang engkau harapkan dan besok ada, kita akan buru-buru menabur supaya kita harapkan bisa berhasil. Tetapi waktu kemudian benih itu sudah tumbuh besar dan tinggal menunggu waktu untuk siap dituai, kita tidak bisa mengontrol badai itu besok datang. Bisa jadi besok hujan es turun dan crops itu hancur dan rusak juga. Itu semua hal-hal yang tidak bisa kita kontrol. Tetapi di atas semua itu kata Pengkhotbah, kita harus berhenti mengeluh. Mungkin apa yang kita kerjakan sekarang ini tidak kelihatan hasilnya dalam sekejap mata, dan mungkin kita harus menunggu sekian lama, tetapi kalau kita menaburnya, satu kali kelak mungkin 20 tahun yang akan datang, kita akan menuai hasilnya. Kalau kita takut, kita kelu, kita kritik, kita kecewa, kita tutup kesempatan dan terus menunggu kapan waktu yang paling baik kondisinya, kita tidak akan pernah menjadi berkat yang indah adanya. Itulah yang dikatakan Pengkhotbah mengenai orang bodoh di pasal 10. Orang yang bodoh selalu banyak bicara, yang selalu mengkritik, yang hanya melihat semua dari kacamata negatif dan tidak baik di setiap aspek hidupnya. Terus-menerus mengeluh kenapa situasi dan kondisi tidak perfect dan selalu menggerutu (baca: Pengkhotbah 10:1-15). Orang bodoh terus bicara tetapi tidak mengerjakan apa-apa. Inilah hal yang perlu kita waspada jangan menjadi kebiasaan kita.

Maka firman Tuhan hari ini memberikan kepada kita nasehat praktis yang penting bagaimana pun situasi hidup kita, kita tidak akan punya kekuatan untuk mengontrol apa yang ada di luar. Kita mungkin kuatir dan takut akan apa yang bisa terjadi di masa depan, semua itu tidak boleh melumpuhkan kita dan tidak boleh menjadi ketakutan dalam hati kita. Hidup kita bisa mengerjakan sesuatu, bisa menghasilkan sesuatu bukan karena kita hebat bisa memprediksi, bukan karena kita sanggup dan mampu. Maka ayat selanjutnya indah luar biasa. “Sebagaimana engkau tidak mengetahui jalan angin dan tulang-tulang dalam rahim seorang perempuan yang mengandung, demikian juga engkau tidak mengetahui pekerjaan Allah yang melakukan segala sesuatu” (Pengkhotbah 11:5). Kata “angin” (ruah) di sini bisa mengacu kepada roh atau jiwa atau kehidupan yang ada pada seorang bayi di dalam rahim ibunya. Sama seperti kita tidak tahu bagaimana misterinya Tuhan memulai kehidupan dan membentuk seorang bayi di dalam rahim ibunya, bagaimana kehidupan itu mulai dari sebuah sel yang begitu kecil bertumbuh makin menjadi besar, dengan segala organ dan anggota tubuh terbentuk. Betapa ajaib kalau kita memikirkan semua itu menjadi misteri yang indah Tuhan bekerja tanpa kelihatan. Semua itu dikerjakan oleh Tuhan, mungkin pada awalnya kita melihat seolah begitu sederhana tetapi setelah beberapa waktu dia lahir menjadi seorang bayi yang begitu indah. Waktu awalnya bayi itu begitu kecil dan kita merasa betapa repot mengurusnya, tetapi setelah 20 tahun kemudian kita melihat betapa cantiknya dia. Jangan kita terus melihat repotnya, susahnya, berantakannya, betapa mendukakan hati. Tetapi mari kita melihat dia menjadi sesosok manusia yang akan melakukan sesuatu yang baik dan berguna dalam hidupnya. Semua itu tidak akan pernah mengecewakan kita karena di balik dari keterbatasan dan ketidak-mampuan kita, ayat ini mengingatkan kita meskipun kita tidak mengetahui bagaimana cara Tuhan bekerja, tetapi karena kita tahu Tuhan kita mengontrol dan ada pemeliharaanNya yang indah, meskipun kita tidak mengerti, kita dengan sekuat tenaga mengerjakan setiap hari dari pagi hari hingga malam kita melakukannya dengan hati yang bersyukur, dengan optimis yang dalam kepada Tuhan, dan dengan tidak jemu-jemu dan kita tidak boleh senantiasa melihat apa yang tidak ada dalam hidup kita tetapi selalu bersyukur melihat apa yang ada.

Kiranya Tuhan memimpin hidup setiap kita senantiasa boleh menjadi ‘the channel of blessing’ di hadapan Tuhan. Kita harus senantiasa menjadi rantai berkat yang terus terjalin. Kita hanya tahu kita diminta oleh Tuhan dengan tekun merangkai rantai itu satu demi satu. Hanya Tuhan yang tahu ujung akhirnya bagaimana, kita tidak pernah tahu sampai pada waktunya tetapi kita diminta untuk setia merangkainya dan jangan pernah putus di tengah jalan. Kelak sampai pada akhir kita bisa menyaksikan betapa indah adanya, bukan karena kita hebat tetapi karena Allah bekerja di dalamnya. Itulah iman kita, itulah janji Dia yang berkuasa bekerja di dalam hidup engkau dan saya. Pada waktu kita bertanya apa untungnya, apa gunanya aku melakukan semua ini, untungnya adalah kita kaitkan pekerjaan Tuhan dengan kekekalan itu tidak akan pernah sia-sia adanya. Hari ini mungkin kita belum melihatnya, tetapi suatu kali kelak kita bertemu Tuhan kita akan melihat dengan indah dan jelas semuanya.(kz)