05. Tiga Mutiara Bijaksana

Eksposisi Kitab Pengkhotbah (5)
Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Tema: Tiga Mutiara Bijaksana
Nats: Pengkhotbah 4:4-16

Seberapa dalamkah dan seberapa panjangkah jarak sebuah keinginan itu? Tidak mudah untuk mengukur sebuah keinginan. Agur menulis Amsal 30 dengan satu gambaran seperti lintah yang terus menyedot darah, demikianlah seorang yang “selfish and demanding person” yang tidak pernah berhenti menginginkan bagi dirinya sendiri. “Si lintah mempunyai dua anak perempuan: “Untukku!” dan Untukku!” (Amsal 30:15a). Buatku, buatku, aku mau semua buatku. Itulah hati yang tidak pernah puas, ingin dan terus ingin semua baginya. Tetapi dalam perjalanan hidup manusia yang sudah berdosa bukan saja sifat dosa terus ingin seperti itu, sifat dosa juga adalah kita tidak senang orang lain mendapatkan semuanya sementara kita tidak memperoleh apa-apa. Pada ke dua sisi itulah nafsu daripada iri hati, dengki dan kebencian yang disebabkan oleh dosa, penuh dengan segala ketidak-puasan di dalam hidup ini. Ada orang bekerja keras membanting tulang karena didorong oleh kebutuhan hidup, karena dia perlu bekerja untuk mendapatkan makan penyambung hidup. Tetapi ada orang yang sudah punya berlimpah-limpah namun tidak pernah berhenti bekerja keras membanting tulang karena tidak senang melihat orang lain punya lebih banyak, itu mendorong dia bekerja lebih keras dan lebih ngotot lagi. Inilah jenis orang yang diobservasi oleh Pengkhotbah. Dia mengatakan, “Dan aku melihat bahwa segala jerih payah dan segala kecakapan dalam pekerjaan adalah iri hati seseorang terhadap yang lain” (Pengkhotbah 4:4). Orang itu bekerja berlelah-lelah didorong oleh jealousy, iri hati, kedengkian. Pengkhotbah melihat ironi terjadi pada diri orang itu, meskipun sudah memiliki segala sesuatu begitu banyak orang ini tidak mempunyai ketenangan dan kepuasan dalam hidupnya. Itulah yang menjadi peringatan dari Pengkhotbah, betapa sedih dan kasihan luar biasa orang seperti itu.

Kenapa manusia cenderung selalu memperbandingkan diri dengan orang lain? Kita kepingin ini dan itu, kita menjadi iri hati melihat orang mempunyai barang yang lebih bagus, dan seterusnya akhirnya kita kehilangan sukacita atas apa yang kita punya. Kenapa selalu melihat ke atas? Coba bandingkan dirimu dengan orang yang berada di bawah, yang lebih kurang daripada kita. Sebagai orang Kristen, kita hidup seperti apa? Apa yang bisa kita tawarkan kepada orang yang tidak percaya Tuhan tentang hidup yang bersandar Tuhan dan kepuasan hidup di dalam Tuhan, jikalau kita sendiri masih terus bersungut-sungut dan tidak pernah memperlihatkan sukacita selayaknya anak-anak Tuhan? Kalau kita hidup menginginkan semua untuk diri sendiri, apa yang mereka lihat dari semua itu? Satu hari kelak kita akan mengalami hal yang sama dengan orang yang tidak percaya Kristus, kita bisa sakit dan meninggal dunia. Ketika kematian ada di depan mata, apa yang membedakan respons kita dengan orang yang tidak percaya? What kind of Christian faith yang kita bisa offer kepada mereka saat menghadapi dan meresponi akan hal itu? Kita bisa pergi sama-sama bekerja dengan orang lain, kita berjuang sama-sama, tetapi cara kita bekerja sebagai anak-anak Tuhan harus berbeda dengan orang lain yang tidak kenal Tuhan; cara kita menghargai setiap berkat Tuhan, apa yang kita achieved dan kita capai harusnya menghasilkan respons yang berbeda. Dari bagian firman Tuhan ini ada tiga hal hidup bijaksana di dalam kesehari-harian sebagai orang percaya yang Pengkhotbah berikan menjadi pegangan kita pada hari ini.

1. Hidup dengan rasa puas dan contentment.
Sanggupkah kita di tengah dunia, lingkungan dan orang yang iri hati, dengki, di tengah kemalasan orang bekerja, sebagai anak-anak Tuhan kita hidup dengan rasa puas dan contentment? Pengkhotbah 4:4-6 berkata, “Dan aku melihat bahwa segala jerih payah dan segala kecakapan dalam pekerjaan adalah iri hati seseorang terhadap yang lain. Ini pun kesia-siaan dan usaha menjaring angin. Orang yang bodoh melipat tangannya dan memakan dagingnya sendiri. Segenggam ketenangan lebih baik daripada dua genggam jerih payah dan usaha menjaring angin.” Ayat 4 dan ayat 5 adalah hasil observasi Pengkhotbah melihat dua contoh ekstrim orang dan ayat 6 adalah panggilan yang dia berikan bagi hidup Kristen kita.
Ada orang yang “workaholic” yang dari pagi-pagi benar saat matahari belum terbit sudah keluar rumah sampai tengah malam bekerja didorong oleh keinginan untuk mendapatkan segala sesuatu supaya apa yang orang lain punya, dia juga miliki. Posisi, kedudukan, prestasi dan pencapaian yang terus dan terus lagi tidak ada habis-habisnya dikejar menjadi kebanggaan dan target kesuksesan hidup karena baginya itulah arti hidup.

Ekstrim jenis orang kedua adalah yang Pengkhotbah gambarkan dengan kalimat karikatur yang lucu, “melipat tangan dan memakan dagingnya sendiri.” Orang ini terlalu malas dan tidak mau bekerja. Apa akibat dari kemalasannya? Dia akan memakan dagingnya sendiri. Saya merenungkan ayat ini dalam-dalam dan mendapatkan satu kebenaran yang indah luar biasa. Dalam hidup ini kadangkala kita merasa apa yang kita peroleh tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan dan kita menjadi iri kenapa orang lain mendapatkan kesempatan yang lebih baik dan kesempatan yang seperti itu tidak kunjung datang kepada kita. Banyak orang sampai kepada titik ini akhirnya membuang kesempatan yang ada di depan mata dia tidak mau ambil dan terus menunggu dan menunggu dengan tangan terlipat karena menginginkan sesuatu yang lebih daripada itu. Dari ayat ini kita mendapatkan satu prinsip semakin kita pasif berdiam diri tidak menggunakan our ability, our opportunity, our talent, semakin hal-hal itu akan hilang daripada kita. Sebaliknya, semakin kita pakai, kita kerjakan dengan setia, kita lakukan baik-baik, justru akan semakin banyak, semakin kuat, semakin melimpah. Tetapi sekali saja engkau membuang kesempatan, engkau menutup kesempatan dan tidak mau ambil dan tidak mau lakukan karena iri kepada orang lain yang engkau rasa mendapat kesempatan yang lebih baik, akhirnya kita melipat tangan tidak mau lakukan apa-apa, apa yang sudah ada di depan kita pun akan hilang. Demikian juga semakin kita tidak mau melayani Tuhan, semakin justru akan melemahkan spirit kita.

Tuhan memanggil dan mengingatkan kita, mungkin tubuh kita kecil dan tidak sanggup mengangkat barbell yang berat, tetapi saat kita tidak mau berusaha melakukan apa-apa, sudah pasti tubuh kita tidak akan pernah kuat. Setiap ada kesempatan datang ke dalam hidupmu, sedapat mungkin ambil kesempatan itu walaupun mungkin tidak sesuai dengan apa yang engkau harapkan. Jangan cepat-cepat menolak jika ada tawaran yang diberikan kepadamu; jangan merasa tidak bisa dan tidak mampu, engkau tidak akan pernah tahu jika tidak pernah mencobanya. Jangan lepaskan itu, karena firman Tuhan ini memperlihatkan jika kita mengambil sikap yang pasif tidak mau melakukan sesuatu yang ada di dalam hidup kita, cepat atau lambat kita akan dimakan habis oleh segala sesuatu.
Maka di antara dua ekstrim ini Pengkhotbah memberikan di ayat 6 ini menjadi satu nasehat bijaksana, “Lebih baik segenggam ketenangan dibandingkan dengan dua genggam jerih payah.”

Ada orang bukan saja punya dua genggam penuh di tangannya, masih juga dia pegang di bawah ketiak dan penuh di gigitan mulutnya, tetap dia masih saja mau coba ambil lebih banyak lagi. Mungkin dia coba jepit di lipatan lengannya dan di antara leher dan bahunya. Tetapi coba lihat bagaimana dia berusaha memakan dan menikmati semua yang ada itu, dapatkah dia menikmatinya? Tidak dapat. Karena dia tidak punya tangan yang bebas untuk mengambil dan menikmatinya.

Alkitab pernah mencatat keserakahan dari beberapa orang Israel begitu dipenuhi dengan nafsu keserakahan dan kerakusan, ketika Tuhan memberikan burung puyuh dari langit, sepanjang hari dan sepanjang malam dan esoknya mereka tidak berhenti mengumpulkannya sampai dikatakan satu orang bisa mengumpulkan sedikitnya 480 ember burung puyuh bagi dirinya sendiri. Keserakahan yang begitu luar biasa pada diri orang-orang ini yang membuat murka Tuhan bangkit kepada mereka. Tuhan menimpakan tulah yang sangat besar membuat orang-orang itu mati dengan mulut yang masih penuh dengan daging yang belum sempat dikunyah (Bilangan 11:31-34).

Di situlah kita bisa mengerti kalimat Pengkhotbah ini, “Lebih baik satu genggam ketenangan daripada dua genggam jerih payah.” Satu genggam yang disertai dengan hati yang tenang, contentment dan joyful bisa menikmati apa yang ada di tangan dengan satu tangan yang bebas. Kalau kedua tangan kita penuh menggenggam, kita tidak bisa menikmati apa-apa meskipun kita mempunyai begitu banyak. Satu genggam berkat Tuhan jauh lebih indah dan berharga daripada kita terus menggerutu ingin punya lebih banyak dan menggenggam lebih banyak daripada apa yang sudah ada di satu tangan ini. Satu genggam nikmat dari Tuhan yang kita terima dengan kepuasan jauh lebih baik daripada dua genggam tangan yang penuh dari keringat iri hati dan dengki, meskipun sudah mendapat banyak tidak pernah mempunyai kepuasan dan sukacita di dalam hidupnya. Hidup puas bersyukur di hadapan Tuhan, menjadikan bijaksana hidup orang Kristen yang harusnya menjadi ciri yang paling indah di tengah-tengah dunia yang begitu dipenuhi oleh keserakahan.

Dalam Lukas 12:15 Tuhan Yesus memberikan satu peringatan yang sangat serius, “berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu.” Kita harus senantiasa menjaga hati kita, beware, be careful, bagaimana menempatkan hati kita untuk tidak dijerat oleh keinginan dan keserakahan memiliki banyak. Hati-hati, waspada, kata Tuhan Yesus. Lihat baik-baik, cegah hidupmu daripada segala ketamakan. Hidup seseorang tidak bergantung dari segala harta kekayaan yang dimilikinya.

Paulus berkata, “Aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan. Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan; baik dalam hal kenyang maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan. Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku” (Filipi 4:11-13). Kepada Timotius yang masih muda, Paulus memberi nasehat, “Memang ibadah itu kalau disertai dengan rasa cukup, memberi keuntungan besar. Sebab kita tidak membawa sesuatu apa ke dalam dunia dan kita pun tidak dapat membawa apa-apa keluar. Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah. Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam reruntuhan dan kebinasaan. Karena akar segala kejahatan adalah cinta uang, Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka” (1 Timotius 6:6-10).

2. Hati yang “teachable.”
“Lebih baik seorang muda miskin tetapi berhikmat daripada seorang raja tua tetapi bodoh, yang tidak mau diberi peringatan lagi” (Pengkhotbah 4:13). Kita bisa melihat itu adalah awal kejatuhan dari pemerintahan yang menganggap dirinya sebagai “the sole power” dalam hidup ini. Kita bisa melihat itu adalah awal kejatuhan dari pemimpin perusahaan. Kita bisa melihat itu adalah awal kejatuhan di dalam kehidupan pelayanan seorang hamba Tuhan pada waktu dia menganggap dia akan stay selama-lamanya di situ dan sudah menjadi yang paling besar dan jaya dan melakukan semua itu di dalam segala kehebatan dan pengalaman yang sudah banyak makan “asam garam” pengalaman kehidupan dan meremehkan anak muda yang masih “bau kencur.” Siapa kamu? Alkitab ingatkan jangan sampai kita lupa pelajaran dari sejarah. Yang sudah tua mati, akhirnya orang juga tidak ingat lagi kepada dia. Pengkhotbah memberi observasi ini, bahkan anak muda yang akhirnya menjadi raja pun waktu akhirnya mati, tidak ada yang ingat lagi kepada dia. Kita manusia yang begitu terbatas, tidak ada di antara kita yang boleh mengatakan kita bisa exist selama-lamanya di dunia ini. Hanya Allah Tuhan yang ada dari selama-lamanya sampai selama-lamanya. Ada saatnya, ada waktunya kita harus tahu kapan waktunya kita berhenti dan “let go,” kita tidak bisa selama-lamanya menjadi seorang pemimpin, terus menjadi seorang yang mau berkuasa, mau terus didengar, merasa paling benar, akhirnya lama-lama kita lupa mendengarkan nasehat dan pertimbangan orang lain. Dari ayat-ayat ini kita diingatkan pada waktu kita merasa diri kita sudah “invincible,” sudah berada di puncak sukses dan berhasil, kita cenderung tidak mau belajar dan tidak mau diberi nasehat. Dalam hal itulah ayat ini mengingatkan kita untuk hidup rendah hati dan senantiasa seperti anak muda yang tidak tahu apa-apa ini. Daripada kita sukses dan kaya seperti raja tua, tetapi satu yang akhirnya menghancurkan oleh karena dia tidak punya “teachable spirit” dalam hidup ini.

Nabi Yesaya pernah berkata, “Tuhan Allah telah memberikan kepadaku lidah seorang murid supaya dalam perkataan aku dapat memberikan semangat baru kepada orang yang letih lesu. Setiap pagi aku mempertajamkan pendengaranku untuk mendengar seperti seorang murid” (Yesaya 50:4). Betapa indah ayat ini, bukan? Umumnya seorang nabi atau pengajar meminta supaya Tuhan memberinya lidah seorang guru supaya bisa mengajar orang. Ayat ini mengatakan “lidah seorang murid,” dan “telinga seorang murid.” Meskipun seorang nabi, di hadapan Allah selama-lamanya dia adalah seorang murid walaupun dia adalah nabi yang mengajar banyak orang. Di hadapan orang-orang yang diajarkannya dia pun selama-lamanya adalah seorang murid yang bersedia belajar.

Pengkhotbah mengatakan, adalah lebih baik seorang yang masih muda walaupun miskin tidak punya apa-apa, jangan berkecil hati karena semua itu tidak permanen, satu kali kelak keadaan bisa berubah. Yang terpenting dan terutama adalah mempunyai hati yang teachable. Walaupun usia kita sudah dewasa, bahkan sudah tua, betapa indah jika kita memiliki hati yang teachable ini. Mau mendengar, mau belajar, bahkan dari anak-anak kita sendiri bisa menjadi guru yang baik bagi kita. Pengalaman boleh menjadi guru, orang yang lebih rendah kedudukannya atau lebih miskin daripada kita boleh menjadi guru. Semua yang kita lihat di dalam hidup ini bisa menjadi guru. Pendeknya, semua itu akan terjadi pada waktu kita memiliki satu sikap yang indah, mempunyai kerendahan hati mengakui kita tidak tahu segala-galanya, kita terbatas dan perlu terus belajar dari orang lain, itulah kunci bijaksana hidup ini.

3. Hidup yang bijaksana adalah hidup yang tahu kita tidak bisa berdiri sendiri, kita bukan superman yang bisa melakukan segala sesuatu. Kita membutuhkan orang-orang lain di sekitar kita untuk menjadi rekan dan sahabat yang indah, team yang baik, partner yang setia di dalam hidup ini. Ayat ini bicara bagaimana kita menjadikan hidup kita sebagai satu hidup yang saling berbagi.

Kadang saya ketemu orang yang selalu bilang, “Aduh, pak, saya ini orangnya tidak bisa berteman. Padahal sebetulnya saya kepingin punya teman yang baik tetapi tidak pernah ketemu. Yang ada teman itu selalu mengecewakan.” Saya rasa kepada orang seperti ini nasehat yang baik adalah jangan bertanya siapa yang bisa menjadi teman yang baik bagiku? Pertanyaannya harus dibalik kepada diri kita sendiri, “Bisakah aku menjadi teman yang baik bagi orang lain? Can I be a trustworthy partner and friend for others? Di dunia ini kita tidak bisa hidup seorang diri. Pengkhotbah mengatakan, “Berdua lebih baik daripada seorang diri, karena kalau mereka jatuh, yang seorang mengangkat temannya. Tetapi wai orang yang jatuh, yang tidak mempunyai orang lain untuk mengangkatnya! Juga kalau orang tidur berdua, mereka menjadi panas. Tetapi bagaimana seorang saja dapat menjadi panas? Dan bilamana seorang dapat dialahkan, dua orang akan dapat bertahan. Tali tiga lembar tak mudah diputuskan” (Pengkhotbah 4:9-12). Hidup yang indah adalah hidup yang berbagi dengan orang lain.

Ada tiga gambaran yang diberikan oleh Pengkhotbah di sini.
Gambaran pertama, bicara mengenai bagaimana di tengah kegagalan dan kejatuhan kita tidak berjalan sendiri, ada teman yang menolong. Tidak selamanya hidup kita berjalan lancar, adakalanya kita menghadapi badai dan rintangan yang tidak gampang dalam hidup. Kita mungkin tidak mungkin bisa bertahan dan berjuang sendirian. Tidak selamanya kita kuat. Kita bisa gagal dan jatuh ke dalam lubang. Jika kita jatuh sendiri, tidak ada orang yang menolong. Namun betapa indah teman dan rekan di sekitar hidup boleh menopang dan mengangkat kita saat kita lemah dan terjatuh.

Gambaran kedua adalah di musim dingin sangat berbahaya bagi seseorang melakukan perjalanan yang panjang seorang diri, karena di tengah jalan saat dia harus beristirahat dan berlindung di dalam gua, tubuhnya tidak bisa menghangatkan diri sendiri. Dia perlu seorang teman untuk tidur berdua bersisian sehingga tubuh mereka bisa menjadi panas. Demikian juga betapa indah jikalau di antara kita ada “spiritual warmness” kehangatan rohani di dalam jemaat yang saling menguatkan dan menolong satu sama lain.

Gambaran ketiga adalah pada waktu mengalami hambatan dan tekanan, tali tiga lembar tidak mudah diputuskan. Gambaran ini biasa dipakai di dalam khotbah pernikahan, mengingatkan saat dua pribadi mengikatkan diri dalam satu ikatan pernikahan, betapa indah jikalau Tuhan Yesus menjadi tali ketiga yang menjadikan pernikahan itu kuat adanya. Adanya kasih persaudaraan, pertemanan, kehangatan rohani di tengah kita itu menjadi sesuatu keindahan dari hidup kita yang rindu berbagi dengan orang lain. Kiranya penuh hati kita dengan rasa syukur terhadap segala hal yang indah yang Tuhan beri kepada kita, rasa cukup dan rasa puas memenuhi hati kita, membuang kekuatiran, iri hati, gerutu dan rasa tidak puas yang bisa menghambat kita menikmati berkat anugerah Tuhan dalam hidup kita.(kz)