07. Keserakahan dan Cinta Uang

Eksposisi Kitab Pengkhotbah (7)
Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Tema: Keserakahan dan Cinta Uang
Nats: Pengkhotbah 5:7 – 6:2

Pengkhotbah 5:7-8 membukakan satu fakta realita kejahatan manusia atas manusia lain begitu dahsyat adanya. Jangan heran, kata Pengkhotbah, kemana pun engkau pergi engkau akan melihat orang miskin ditekan, keadilan diperkosa, kebenaran diinjak-njak. Ini adalah satu realita yang menyedihkan dalam dunia ini. Ketika korupsi merajalela, ketika ketidak-benaran justru dilindungi dan keserakahan diberi kesempatan mengumbar nafsunya, bahkan itu dilakukan justru oleh pejabat dan penguasa yang berada di pucuk yang paling atas, maka akan hancur dan habislah segala sesuatu. Namun bagian firman Tuhan ini memberikan satu pengharapan. Pengkhotbah mengatakan, kalau satu negara, kalau satu perusahaan, kalau satu kehidupan, di pucuknya di atas dipimpin oleh seorang raja yang benar dan adil dan baik, dan orang menghormati dan respek kepadanya, maka ada pengharapan di situ. Namun ayat-ayat ini sekaligus juga harus mengingatkan kita, kita tidak boleh terlalu bersandar kepada apa yang ada, dan kita juga tidak boleh terlalu berharap kepada manusia dan kepada apa yang di bawah kolong langit ini karena kita semua berada di dalam dunia yang sudah jatuh di dalam dosa. Sebagai umat Tuhan, kita merindukan dan menantikan kapan sang Raja Shalom itu, Yesus Kristus datang kembali, karena pada waktu Dia memerintah di atas muka bumi ini barulah di situ kebenaran itu dicintai, keadilan itu ditegakkan, orang-orang miskin tidak ada lagi, karena mereka akan mendapatkan segala kelimpahan dari Yesus Kristus, Raja Damai itu.

Pengkhotbah 5:9 mengatakan sesungguhnya semua kejahatan dan anarki itu tidak lain dan tidak bukan berhulu kepada satu sumber yang paling klasik yaitu cinta akan uang. Uang sendiri sebetulnya bukan hal yang jahat. Bukan uang yang menjadi akar segala kejahatan; tetapi cinta akan uanglah yang menjadi akar dari segala kejahatan. Uang bisa dipakai untuk hal yang baik sekaligus uang juga bisa dipakai untuk hal yang jahat. Tetapi sifat keserakahan dan cinta akan uang sudah pasti akan menghasilkan berbagai hal yang tidak benar. Sifat keserakahan dan kerakusan akan uang itu bisa menjadikan orang menjadi jahat sejahat-jahatnya. Maka dari pasal 5:9 dan seterusnya sampai pasal 6:2, Pengkhotbah mengupas satu tema yang luar biasa agar kita waspada terhadap segala jebakan yang bisa diciptakan oleh keserakahan dan cinta akan uang.

Tidak bisa kita pungkiri, kita ingin punya uang agar hal itu bisa mempermudah hidup kita, bukan? Dengan uang kita bisa pergi ke tempat yang kita inginkan, kita bisa membeli apa yang kita sukai. Dengan punya uang orang akan memperlakukan kita dengan hormat dan respek, dengan punya uang kita tidak perlu meminta-minta belas kasihan orang, dengan uang kita bisa membeli segala sesuatu yang kita perlukan. Tetapi sudah kebablasanlah kalau kita menganggap bahwa uang adalah segala-galanya; bahwa uang berarti kuasa, uang berarti harga diri, uang berarti kehormatan. Bahwa dengan uang orang bisa membeli kesetiaan orang lain, dengan uang kita bisa membeli segala-galanya. The more money we have, the more we have power; the more money we have, the more we have control, the more money the happier. Kita tidak boleh terjebak dengan konsep yang menipu ini. “Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seseorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung daripada kekayaannya itu,” demikian kata Tuhan Yesus (Lukas 12:15). Kebahagiaan seseorang tidaklah ditentukan oleh seberapa limpah hartanya. Kepuasan hidup tidaklah ditentukan oleh seberapa banyaknya yang orang miliki. Karena itu adalah dua hal yang berbeda. Firman Tuhan memperlihatkan banyaknya uang tidak berbanding lurus dengan kepuasan dan sukacita hidup. Pengkhotbah 5:9 berkata, “Siapa mencintai uang tidak akan pernah dipuaskan oleh uang,” karena dia seperti suatu desire yang kita kejar, yang tidak akan pernah bisa kita capai dan dapatkan. Banyak orang akhirnya mengorbankan segala-galanya karena cinta akan uang. Banyak orang mengorbankan kesehatan dan masa mudanya demi uang. Banyak orang mengorbankan keluarga dan orang-orang yang mengasihinya karena mengejar uang, akhirnya sampai pada masa tuanya dia harus mengorbankan uangnya demi untuk kesehatannya.

Kenapa kita tidak boleh terjerat kepada jebakan dan penipuan dari cinta uang? Ada empat point yang Pengkhotbah berikan sebagai alasannya.

  1. Semakin banyak harta yang engkau miliki, semakin banyak juga orang yang ingin mengambilnya darimu.

“Dengan bertambahnya harta, bertambah pula orang yang akan menghabiskannya dan apa keuntungan dari pemiliknya selain melihatnya…” (Pengkhotbah 5:10). Ini fakta realita, semakin banyak yang engkau punya, semakin banyak orang yang ingin mengambilnya darimu. Mungkin yang ingin mengambil uang dan harta itu adalah penguasa yang punya power dan kekuatan untuk merebutnya. Dia tentu akan mengejar pajak penghasilan dari semua harta orang itu. Uang yang dia kumpulkan itu bisa dicuri dan dibawa kabur orang. Bukan itu saja, orang-orang yang bagaikan benalu akan segera melengket kepadanya dan bagaikan lintah yang menempel dan menghisap hartanya. Banyak orang yang tidak segan-segan dan tidak malu menggantungkan hidupnya kepada orang-orang yang punya uang. Yang tadinya adalah keluarga jauh bisa tiba-tiba menjadi keluarga dekat. Dan tentu saingannya akan iri dan sirik dan menginginkan apa yang dia miliki dan akan mencari cara untuk mengambilnya dari dia. Betapa kasihan sang pemilik uang, kata Pengkhotbah, dia hanya bisa melihat semua tragedi itu di depan matanya.

  1. Semakin banyak harta yang engkau miliki, semakin besar anxiety dalam hidupmu.

“Enak tidurnya orang yang bekerja, baik dia makan sedikit maupun banyak; tetapi kekenyangan orang kaya sekali-kali tidak membiarkan dia tidur” (Pengkhotbah 5:11). Tidak sedikit orang mengira banyaknya uang akan menciptakan security dalam hidup, security yang kemudian menghasilkan kenyamanan dan ketenangan dalam hidup. Dengan punya banyak uang tidak perlu takut dikejar penagih hutang; dengan punya banyak uang ketika sakit datang bisa mendapatkan dokter dan pengobatan yang terbaik. Dengan punya banyak uang tidak perlu kuatir perut lapar karena bisa membeli cukup makanan; dengan punya banyak uang tidak perlu kuatir kedinginan karena bisa membeli baju hangat dan heater; dengan punya banyak uang bisa membeli rumah yang besar untuk menjadi tempat bernaung bagi keluarga. Karena menganggap uang menciptakan security dan kenyamanan bagi hidup, orang berbondong-bondong mencari dan mengejar uang. Tetapi benarkah uang menciptakan security dan kenyamanan? Mengapa justru semakin banyak engkau memperoleh harta, tidak akan habis-habisnya kekuatiran dan kecemasan, anxiety dan insomnia akan memenuhi hidupmu, dan membuat malam hari engkau tidak bisa tidur nyenyak? Karena terlalu banyak harta, rasa takut bahwa setiap saat orang bisa mencuri dan merampoknya, membuat orang kaya tidak bisa tidur. Atau karena perutnya terlalu kenyang itu justru membuatnya tidak bisa tidur. Kenapa? Karena perut yang penuh akan menyebabkan “bloating.” Perut kenyang mungkin membuat orang enak tidur, tetapi perut yang kekenyangan akan membuat orang sulit tidur. Kenapa semakin kaya dan semakin banyak uang yang dimiliki, semakin besar anxiety orang itu? Karena uang dan materi itu nilanya sangat tidak tentu dan tidak secure. Orang kaya bisa nervous dan panik melihat  dalam sehari saja, uang yang begitu banyak ditaruh di pasar saham bisa tidak ada nilainya sama sekali. Tidak sedikit yang bunuh diri ketika terjadi krisis finansial secara global terjadi beberapa tahun yang lalu. Jangan kita pikir uang, kekayaan dan harta yang banyak itu akan permanen terus ada selama-lamanya. Hari ini uang itu ada dan berlimpah, besok dia bisa terbang dan lenyap begitu saja. Itulah sebabnya kita tidak boleh cinta mati dengan uang dan tidak boleh bersandar kepada sesuatu yang tidak pasti seperti kekayaan, yang tidak akan pernah bisa memuaskan hidup kita.

Di siang hari orang itu bisa memperlihatkan hidup yang seolah bahagia dan sempurna, namun di malam hari orang itu menderita insomnia, hanya tergolek di tempat tidur tanpa bisa beristirahat disebabkan oleh karena hatinya diisi dan dipenuhi oleh kekuatiran. Kadang-kadang kita tidak bisa mengerti menyaksikan tragedi hidup, ada begitu banyak orang yang karena kekayaannya akhirnya meninggal karena overdosis oleh obat tidur, obat penenang, berbagai obat bius dan lainnya karena malam hari menjadi musuhnya, ranjang yang mahal dan mewah tidak membuatnya bisa tidur nyenyak. Orang itu bisa terbenam dengan kecanduan oleh berbagai obat karena menginginkan sesuatu yang dengan mudah dimiliki dan dinikmati oleh orang miskin setelah seharian lelah bekerja. Bisa tidur dengan enak itu adalah harta yang indah. Maka orang yang bisa tidur nyenyak di dalam kesederhanaan tidak perlu iri, tetapi harus bersyukur kepada Tuhan. Orang yang punya harta yang banyak dan berlimpah dengan segala kemewahan dan memiliki segala-galanya, yang ranjangnya empuk dan mewah, belum tentu bisa menutup mata dan tidur dengan enak. Dia perlu obat tidur, dia perlu berbagai obat antidepressant untuk membantunya tidur nyenyak, tetapi akhirnya dia tidak bangun untuk selama-lamanya. Pengkhotbah mengatakan betapa nikmatnya bisa tidur di dalam kepuasan setelah bekerja keras seharian, tetapi betapa kasihannya orang kaya yang semalam-malaman hanya bergolek di ranjangnya yang mewah dengan hati yang penuh kekuatiran dan perut penuh dengan kekenyangan yang berlimpah tidak habis-habisnya.

  1. Kenapa kita harus keluar dari jebakan cinta akan uang? Karena uang bisa menciptakan tragedi dan kemalangan bagi pemiliknya.

“Kekayaan yang disimpan oleh pemiliknya menjadi kecelakaannya sendiri…” (Pengkhotbah 5:12-13). Betapa banyak orang yang bisa saling membenci karena berebut harta. Waktu sama-sama miskin, mungkin hidup lebih bahagia. Ketika sudah menjadi kaya, kebencian dan iri hati bisa meracuni hati orang yang dulunya adalah sahabat erat. Anggota keluarga bisa saling mencelakakan, saling menipu dan saling membunuh karena harta. Karena uang, suami yang dulunya setia bisa menjadi seorang yang memiliki banyak wanita simpanan. Anak-anaknya menjadi orang yang tidak bertanggung jawab karena merasa mempunyai hak milik yang seenaknya bisa dipakai untuk apa saja yang mereka mau. Kita bisa melihat bahkan sebelum orang tuanya meninggal dunia, anak-anaknya bisa berkelahi satu dengan yang lain berebut harta warisan. Prosentase perceraian dan “broken home” justru paling tinggi di kalangan orang yang mempunyai uang. Inilah tragedi yang sangat menyedihkan. Pengkhotbah mengatakan betapa kasihan orang yang terjerat oleh cinta akan uang, “…sepanjang umurnya ia berada dalam kegelapan dan kesedihan, mengalami banyak kesusahan, penderitaan dan kekesalan” (Pengkhotbah 5:16). Kata “kekesalan” bisa diterjemahkan juga dengan kata “bitterly angry.” Itu merupakan suatu diagnosa yang luar biasa. Ketika seseorang berada di dalam cinta akan uang, hidupnya bukan saja tidak ada kebahagiaan dan sukacita, tetapi begitu gampang reaksi emosi negatif memenuhi dirinya, bahkan mungkin pada waktu hal-hal sepele terjadi sudah menjadi alasan untuk marah dan meledak, ini satu indikasi yang penting. Seseorang yang begitu cinta akan uang, seumur hidupnya akan dipenuhi oleh kegelapan, kepahitan, kemarahan. Adanya kemarahan itu memberikan indikasi kepada kita mungkin hati kita memiliki berhala yang kita sembah yang seharusnya tempat Tuhan Allah bertahta. Kita mungkin tidak bisa melihat seseorang mengaku dia cinta uang, tetapi kita bisa melihat dari perilakunya, karena akan nyata kelihatan dari reaksi emosi orang itu.

  1. Mengapa kita tidak boleh terjebak dengan godaan cinta uang dan hidup dalam tekanan untuk mencari uang sebanyak-banyaknya bagi diri sendiri? Karena uang itu tidak kekal; kita tidak bisa membawanya setelah kita mati.

“Sebagaimana ia keluar dari kandungan ibunya demikian juga ia akan pergi, telanjang seperti ketika dia datang dan tak diperolehnya dari jerih payahnya suatu pun yang dapat dibawanya…” (Pengkhotbah 5:14-15). Engkau tidak bisa membawa harta itu selama-lamanya. Tema ini nanti akan diulang lagi di bagian Perjanjian Baru, dalam 1 Timotius 6:7-10 Paulus menggemakan hal yang sama. “Sebab kita tidak membawa sesuatu apa ke dalam dunia dan kita pun tidak dapat membawa apa-apa ke luar. Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah. Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan. Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang.” Sudah jauh-jauh hari kita senantiasa diingatkan oleh firman Tuhan janganlah kita terjebak dengan idolatry penyembahan kepada uang dan harta.

Selain Pengkhotbah, selain rasul Paulus dalam 1 Timotius ini, ada seorang kaya yang pernah kehilangan segala-galanya, juga mengatakan hal yang sama, “Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!” Dia adalah Ayub (Ayub 1:21).

Apakah hari ini kita kehilangan sukacita? Apakah hari ini kita tidak bahagia melihat orang lain mendapatkan hal yang baik dan indah? Barangkali kita sudah jatuh cinta dan jatuh ke dalam jerat keserakahan dan cinta uang. Meskipun kita memiliki harta yang lebih banyak tetapi jikalau hati kita kehilangan sukacita dan generosity memperhatikan orang lain, semua itu menjadi tanda-tanda dan warning yang penting untuk kita. Jangan kiranya kita terjerat oleh cinta akan uang, karena banyaknya uang tidak berbanding lurus dengan sukacita dan kebahagiaan.

Kemudian ada satu hal penting yang menjadi observasi Pengkhotbah terhadap orang yang cinta akan uang. Pengkhotbah 6:1-2 mengatakan, ada orang yang seumur hidupnya terus mengumpulkan harta begitu banyak, tetapi Tuhan tidak mengkaruniakan kuasa untuk menikmatinya, itu adalah tragedi yang paling menyedihkan. Kita bisa melihat ada orang seperti itu, bukan? Maka kita harus ingat baik-baik, kebahagiaan dan sukacita hidup tidak tergantung kepada berapa banyak harta yang kita miliki, tetapi bagaimana Allah mengaruniakan kebahagiaan dan sukacita kepadamu untuk menikmatinya, itu yang menentukan. Berbahagialah dia, yang diberi karunia oleh Allah bisa dengan nikmat makan dan minum dan bersukacita dalam segala jerih lelahnya. Berbahagialah dia, yang diberi karunia oleh Allah bukan saja medapatkan kekayaan dan harta benda dalam segala jerih lelahnya, tetapi juga kuasa untuk menikmatinya di dalam kebahagiaan dan sukacita (Pengkhotbah 5:17-18). It is God’s gift, itu anugerah Tuhan semata-mata. Maka kita enjoy dan menikmatinya dengan godly, dengan kesalehan, menyadari kalau kita bisa menikmatinya itu adalah pemberian Tuhan. Bukan berarti kita menjadi ekstrim anti dengan uang dan takut kalau bisa memiliki harta yang banyak. Tetapi bagaimana sikap hati kita yang menyadari kalau setiap harta yang kita miliki sesungguhnya adalah pemberian Tuhan yang dengan murah hati memberi kita kesempatan untuk menikmatinya bukan untuk diri kita sendiri saja, tetapi melihat harta itu juga bisa menjadi keindahan bagi orang lain. Itulah bahagia yang tidak bisa dibeli dengan uang.

Mutiara bijaksana dari Pengkhotbah ini sudah bergema dari ribuan tahun yang lalu, namun sampai hari ini kita terus melihat kebenarannya berlaku bagi hidup semua manusia. Betapa banyak tragedi yang sebetulnya bisa dihindarkan dalam hidup manusia terjadi karena keserakahan dan cinta akan uang. Firman Tuhan sudah memberikan peringatan kepada setiap kita, melepaskan diri dari jerat dan jebakan cinta akan uang itu. Berapa besar cinta kita, generosity kita, ini menjadi pertanyaan yang penting bagi kita hari ini. Bukan soal berapa banyak uang dan harta yang kita miliki yang menentukan makna hidup kita.

Dalam buku “Money, Possessions and Eternity,” Randy Alcorn mengatakan fakta yang sangat menyedihkan, betapa banyak orang Kristen yang kaya-raya begitu pelit dan sangat sedikit memberi bagi pekerjaan Tuhan, dibandingkan dengan orang Kristen yang miskin dan sederhana. Demikian juga data yang diberikan oleh George Barna, dalam riset yang penting. Orang miskin memberi 2% dari hartanya bagi pekerjaan Tuhan; itu sebenarnya sangat rendah, bukan? Tetapi lebih lagi, orang kaya hanya memberi kurang 1% bagi pekerjaan Tuhan. Ini adalah persoalan hati, dimana kita menempatkan uang dan harta dan dimana kita menempatkan Tuhan dan pelayanan, apa dan siapa yang menjadi prioritas hidup kita, itu akan terefleksi di dalam cara kita mengelola uang dan harta kita. Betapa sedih banyak orang Kristen terus excuses dan memakai berbagai alasan untuk tidak memberi bagi pekerjaan Tuhan karena kebutuhan pribadi dan keluarganya masih belum tercukupkan. Benarkah dan sepatutnyakah kita memakai alasan seperti itu? Atau sebetulnya keserakahan dan cinta uang yang telah menghalangi kita berbagian bagi pekerjaan Tuhan? Mari kita pulang masing-masing melihat kepada hidup kita, kiranya ayat-ayat ini mengingatkan kita sekali lagi, jangan jatuh dan terjebak dalam lumpur yang sama, orang yang cinta uang tidak akan pernah dipuaskan oleh uang. Bersyukur sekali lagi Tuhan memberi warning ini bagi kita. Kiranya firman yang agung, yang mulia, yang bernilai ini boleh kita jalankan di dalam hidup kita. Kita menghargai segala berkat dan kasih karunia Tuhan yang limpah yang datang di dalam hidup kita. Kita boleh menikmati kebahagiaan dan sukacita, kekayaan dan kemurahan hati, yang tidak pernah bisa diberikan oleh apa pun juga selain diberikan oleh Sang Pemberi yang mulia dari segala yang kita miliki. Kiranya hidup kita sekali lagi diberkati Tuhan untuk memiliki hati yang kaya di dalam berbagai kebajikan, sukacita, kerelaan dan kemurahan hati. Dan kiranya Tuhan mengaruniakan kita segala hikmat bijaksana untuk mengelola dan menjadi penatalayan yang setia atas uang dan harta yang kita miliki dan memperlayakkan kita menjadi berkat yang bagi pekerjaan Tuhan melalui harta kita.(kz)