06. Bersikap di dalam Rumah Allah

Eksposisi Kitab Pengkhotbah (6)
Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Tema: Bersikap di dalam Rumah Allah
Nats: Pengkhotbah 4:17 – 5:6

Hari ini kita sampai kepada satu bagian yang luar biasa, karena kitab Pengkhotbah bicara mengenai apa yang kita lakukan di bawah matahari, pekerjaan kita sehari-hari, usaha kita membesarkan keluarga, berjuang dalam mencari sesuap nasi, melebarkan bisnis dan melakukan banyak hal, dsb. Tetapi kata Pengkhotbah seluruh yang kita lakukan dan kerjakan itu bisa menjadi kesia-siaan di atas kesia-siaan jikalau semua itu kita lakukan tanpa menjadikan Tuhan Allah itu sentral dalam hidup kita. Segala kegiatan dan aktifitas kita akan seperti putaran roda yang terus berjalan tanpa ada makna dan menjadi hal yang sia-sia. Dan tragisnya, apa yang kita kerjakan di dalam bidang rohani dan hal ibadah, itu pun bisa menjadi sia-sia jikalau tidak dilakukan dengan sikap yang benar di hadapan Allah. Segala kegiatan dan aktifitas ibadah kita minggu demi minggu, bulan demi bulan, tahun demi tahun, menjadi satu kerutinan tanpa makna dan menjadi hal yang sia-sia di hadapan Tuhan jika bukan Tuhan yang menjadi sentralnya.

Satu hal yang sangat menarik, Pengkhotbah di dalam kitabnya menyebutkan ada dua “rumah.” Rumah yang pertama adalah rumah pengadilan (3:16) dan rumah yang kedua adalah rumah Allah (4:17). Dua rumah ini, yaitu rumah pengadilan dan rumah Allah, seharusnya menjadi rumah perlindungan dan rumah pembaharuan, namun yang terjadi adalah sebaliknya. Dalam rumah pengadilan, tempat sentralitas keadilan sosial, tempat dimana hukum ditegakkan dan dijalankan dengan benar dan dengan adil. Dan di rumah itu setiap kali orang masuk ke dalamnya, dia bisa mendapatkan kekuatan, keteduhan dan kenyamanan karena di situ hak-hak orang miskin, hak-hak kaum minoritas dan marginal itu mengalami perlindungan dan pembelaan. Namun yang sangat menyedihkan dan memprihatinkan kejahatan di atas kejahatan di bawah matahari, kata Pengkhotbah, di tempat pengadilan pun terdapat ketidak-adilan dan para pelayan hukum justru menjadi antek-antek yang mempermainkan keadilan (3:16, 5:7).

Rumah kedua yang Pengkhotbah sebut adalah rumah Allah, dan ini adalah bagian yang begitu penting luar biasa. Inilah rumah yang terpenting bagi manusia yang sudah jatuh di dalam kuasa dosa, satu rumah dimana pengampunan dan penebusan terjadi. Rumah Allah adalah tempat dimana kebenaran disampaikan dan ditegakkan. Di situlah keadilan dan kebenaran secara moral, secara etika, secara spiritual, itu adalah tempat yang seharusnya berfungsi seperti demikian adanya. Di dalam rumah pengadilan harus ada otentik kebenaran dan keadilan. Di dalam rumah ibadah juga harus ada otentik sincerity, ketulusan kita di dalam beribadah.

Dalam beberapa ayat yang singkat di bagian 4:17 – 5:6 ini Pengkhotbah memberikan prinsip bagaimana sikap yang benar dan sepatutnya bagi umat Tuhan setiap kali datang ke rumah Tuhan. “Jagalah langkahmu, kalau engkau berjalan ke rumah Allah!” demikian Pengkhotbah memberi peringatan ini (Pengkhotbah 4:17a). Guard your step when you go to the house of God.

Bagaimana sikap yang benar dalam kita beribadah kepada Allah?

  1. Ibadah dengan ketulusan dan hati yang mau mendengar firman.

“Menghampiri untuk mendengar adalah lebih baik daripada mempersembahkan korban yang dilakukan oleh orang-orang bodoh karena mereka tidak tahu bahwa mereka berbuat jahat” (Pengkhotbah 4:17b). Dengarlah! Dengarlah! seru Pengkhotbah, menghampiri untuk mendengar adalah lebih baik daripada mempersembahkan korban. Bukalah telingamu lebar-lebar, setiap kali engkau datang ke rumah Tuhan untuk mendengarkan kebenaran firman Tuhan, itu jauh lebih berharga daripada persembahan yang engkau berikan. Kalimat yang dipakai oleh Pengkhotbah sangat keras, yaitu “persembahan orang bodoh,” the sacrifice of fools. Dan persembahan itu bukan saja bodoh, tetapi persembahan itu salah dan jahat di mata Allah.

Di dalam konteks memakai kata “rumah Allah” kita ingat latar belakang kitab Pengkhotbah ditulis oleh raja Salomo atau orang yang melihat hidup Salomo, menyaksikan orang datang berbondong-bondong beribadah, itu adalah era kemegahan dari bait Allah. Apakah kemegahan dari bait Allah itu identik membuktikan bahwa Allah memberkati dan hadir di tengah-tengah mereka? Ini harus menjadi tanda tanya yang besar, bukan? Apakah banyaknya orang datang beribadah dan mempersembahkan korban kambing domba di atas mezbah yang begitu banyak dan berlimpah-limpah itu menjadi bukti menyatakan bahwa betul hati mereka adalah sungguh-sungguh mengasihi Allah dan Allah berkenan atas semuanya itu? Satu tanda tanya besar, bukan? Dalam ayat ini Pengkhotbah mengatakan, datang berbakti dengan satu kerinduan untuk mendengar firman Tuhan dan membuka telinga untuk menerima kebenaran Tuhan, itu lebih baik daripada membawa persembahan korban. Ini adalah suatu kalimat terobosan yang luar biasa. Karena nanti sampai kepada jaman Tuhan Yesus kita menemukan betapa perilaku agama dan tradisi keagamaan orang Yahudi yang begitu teliti melakukan persembahan dan perpuluhan dan berbagai peraturan kehidupan yang diatur tidak melanggar satu pun bahkan lebih detail daripada yang dikatakan oleh hukum Taurat, sebagai satu pembuktian akan kesalehan seseorang di hadapan Tuhan. Tuhan Yesus menegur kesalehan dan perilaku agama itu sebagai tindakan yang munafik (Matius 23). Ketulusan hati, kerinduan untuk datang beribadah dengan sungguh-sungguh dan berkenan kepada Allah, itu jauh lebih berharga daripada orang yang datang membawa persembahan yang banyak, yang dikatakan sebagai “the offering of foolish” itu. Ibadah itu mulai dari ketulusan hati di dalam, bukan dari perilaku agama yang kita lakukan di luar. Sesuatu yang dilakukan dengan hati yang jahat maka akan terjadi manipulasi; dengan manipulasi di hadapan orang lain, dia pikir dia juga bisa memanipulasi Tuhan. Bagaimana caranya memanipulasi Tuhan? Ada orang datang berbakti kepada Tuhan, membangun rumah Allah yang megah dan besar, tetapi jikalau dia membangunnya dengan uang hasil dari berbuat jahat, dari penipuan, pemerasan, kejahatan dan korupsi, apakah Allah berkenan kepada persembahannya? Jikalau orang datang ke rumah Allah memberikan persembahan yang besar tetapi persembahan itu didapatnya dari hasil menipu dan mencuri bisnis orang lain, apakah Allah berkenan kepada persembahannya? Itu adalah hal yang jahat di mata Tuhan. Tetapi itu adalah satu hal yang tidak bisa dilihat oleh orang lain karena seseorang bisa dengan lihai menyimpan motivasi hatinya. Itu bisa dilihat dan diketahui orang itu jikalau dia dengan jujur mengoreksi hatinya sendiri bagaimana. Kerinduan kita dengan satu ketulusan hati untuk mau mendengar firman Tuhan, mau mengerti dengan benar, mau tahu apa yang benar, mau hidup di dalamnya, itulah sikap beribadah yang berkenan kepada Allah.

  1. Ibadah dengan menjaga perkataan yang keluar dari mulut kita.

Pada saat yang sama, bukan saja hati yang mau mendengar, Pengkhotbah juga memanggil kita memperhatikan apa yang keluar dari mulut kita, dari perkataan kita. “Janganlah terburu-buru dengan mulutmu. Janganlah hatimu lekas-lekas mengeluarkan perkataan di hadapan Allah, karena Allah ada di surga dan engkau di bumi” (Pengkhotbah 5:1). Kalimat ini juga mengacu kepada bagaimana firman Tuhan dipersiapkan di mimbar, bagaimana juga di dalam kehidupan kita bersama-sama satu dengan yang lain berkomunikasi dan bersekutu. Kita manusia yang terbatas adanya. Maka Yakobus mengatakan kalau seseorang tidak bersalah dalam perkataannya, dia adalah seorang yang sempurna (Yakobus 3:2). Sebab seperti Pengkhotbah mengatakan semakin banyak perkataan akan membawa kita kepada percakapan seorang yang bodoh (Pengkhotbah 5:2). Semakin banyak perkataan keluar dari mulut kita pasti semakin banyak salahnya. Kalau begitu, apakah lebih baik jika kita tidak banyak bicara saja? Demikian juga daripada ke rumah ibadah hari ini tetapi hati tidak sungguh-sungguh, apakah lebih baik tidak usah ke gereja saja? Apalagi tadi sebelum berangkat ke gereja sudah marah-marah, bukankah Tuhan tidak berkenan? Tentu tidak demikian, karena dua-dua adalah sikap yang tidak benar. Karena tidak datang berbakti, kita telah bersalah kepada Tuhan karena kita tidak menjadikan ada satu hari yang menjadi milik Tuhan. Yang paling penting di sini adalah kita sungguh-sungguh tahu kita sincere datang beribadah, berbakti, mendengarkan firman Tuhan dan dalam berkata-kata satu dengan yang lain. Jangan tergesa-gesa mengeluarkan kata-kata, bagaimana kita mempersiapkan pelayanan dengan baik, menyampaikan firman Tuhan dengan bertanggung jawab, dan mendorong setiap hamba-hamba Tuhan dan mereka yang ambil bagian dalam pelayanan supaya kita berhati-hati di dalam mempersiapkan segala sesuatu.

Guard your mouth, perhatikan apa yang keluar dan yang engkau mau sampaikan melalui perkataanmu. Jangan mengeluarkan kata-kata yang dipenuhi dengan amarah dan kebencian; jangan mengeluarkan kata-kata yang kasar kita dengan sikap menghakimi orang lain. Bukan itu saja, jangan kita menggunakan nama Tuhan dengan janji-janji yang tidak benar untuk mengelabui orang dengan motif yang palsu. Jangan berkhotbah menyatakan apa yang hebat di dalam hidup kita sehingga kita menyingkirkan kebesaran dan kehebatan Tuhan di dalam hidup kita. Itu semua range dari kata “guard your mouth.” Katakan dengan teliti dan hati-hati, katakan dengan benar, dengan sesuatu yang mendatangkan hal yang menguatkan orang, mendorong orang, menghibur orang dengan kebenaran firman Tuhan. Yang kedua, kenapa kita harus menjaga mulut kita di dalam rumah Allah? Karena kalimat selanjutnya penting “karena Allah ada di surga dan kita di bumi” (Pengkhotbah 5:1b). Ayat ini bukan saja memperlihatkan adanya perbedaan kualitas yang harus kita sadari bahwa sampai kapan pun kita hanyalah mahluk ciptaan di hadapan Allah sang Pencipta. Dengan mengingatkan Allah ada di atas dan kita di bumi, kita diingatkan akan kebesaranNya, Ia adalah Allah yang mulia dan agung luar biasa. Tidak ada hal yang bisa kita lakukan dengan “hide and seek” di hadapan Allah. Janganlah kita pikir semua yang kita kerjakan dan lakukan itu bisa tersimpan rapat selama-lamanya tanpa ketahuan. Terlebih bodoh lagi kita sebagai umat Allah berpikir kita bisa membodohi Allah yang maha tahu itu? Tetapi inilah realitanya, in the house of justice there was injustice; in the house of the Lord there was hypocrisy and pretending. People thought that they can manipulate others, as well as manipulate God. Berhentilah melakukan hal itu. Kenapa? Karena Allah kita bertahta di surga, melihat segala sesuatu. Di hadapan Allah diri kita ini seperti kaca yang bisa tembus dilihat olehNya sampai ke relung hati motivasi kita terbuka di hadapanNya. Tidak ada yang tidak transparan. Kita mungkin bisa menyembunyikan kebengkokan hati kita di depan orang dengan perilaku yang seolah begitu sempurna, di dalam tata ibadah dan perilaku keagamaan yang saleh, tetapi kita tidak bisa menyembunyikan hati kita dari pandangan mata Allah. Itulah sebabnya Pengkhotbah memperingatkan kita melalui ayat ini, datang di hadapanNya dengan ketulusan hati, dengan kesungguhan dan kejujuran, dengan keterbukaan yang indah. Bukan soal berapa banyak persembahan yang kita bawa kepada Tuhan tetapi soal berapa tulus dan indahnya di hadapan Allah sebab tidak ada yang bisa kita simpan dan sembunyikan dariNya. Ayat ini juga mengingatkan saya secara pribadi sebagai hamba Tuhan, bukan soal berapa banyak atau berapa sedikit perkataan yang keluar dari mulut ini, tetapi soal ketulusan dari semua yang kita kerjakan lahir dari hati kita yang sungguh-sungguh. Di sinilah indahnya ibadah yang kita bawa di hadapanNya.

“Jagalah langkahmu, kalau engkau berjalan ke rumah Allah!” Hampiri Tuhan dengan sikap hormat dan takut akan Dia, dengan hati dan telinga yang terbuka mau mendengar kebenaran firmanNya. Beribadah di dalam kesalehan yang nyata keluar dari perkataan mulut kita yang hormat kepada Tuhan, dengan integritas dan ketulusan, dengan kejujuran dan otentisitas.

  1. Bayarlah nazarmu.

“Kalau engkau bernazar kepada Allah, janganlah menunda-nunda menepatinya, karena Ia tidak senang kepada orang-orang bodoh. Tepatilah nazarmu” (Pengkhotbah 5:3).

Kata “nazar” ini jangan kita mengerti secara sempit seperti pengertian nazar di jaman Perjanjian Lama dimana seperti contoh ibu dari Samuel yang bernazar jikalau Tuhan mendengar doanya dan memberikan seorang anak, dia akan mempersembahkan anak itu untuk Tuhan (1 Samuel 1:9-11). Kita tidak menerapkan hal seperti ini misalnya kalau Tuhan menjawab doa kita lalu kita berjanji mempersembahkan diri menjadi seorang hamba Tuhan atau misionari melayani Tuhan, bukan seperti itu perintah Tuhan “pay your vow.” Kata bayarlah nazarmu di sini harus kita lihat dalam arti yang luas dimana ucapan yang kita nyatakan di hadapan Allah sebagai suatu janji itu kita penuhi dalam hidup kita. Ketika kita menyatakan kita rindu memuliakan Allah dalam setiap aspek hidup, termasuk kesucian, kejujuran, kerajinan, ketulusan dalam berelasi, itu semua menjadi janji-janji nazar yang harus kita tepati. Ketika kita berjanji untuk memberikan korban syukur dan korban pujian sebagai tanda syukur atas pemeliharaan Allah yang indah, itu boleh kita kategorikan sebagai satu nazar kita kepada Tuhan. Maka bukan saja pendengaran kita, bukan saja perkataan kita, tetapi apa yang kita nyatakan dan ucapkan dari mulut bibir kita sebagai janji dan nazar itu harus kita tepati di dalam hidup kita. Pada waktu kita menyanyikan pujian bagi Tuhan, pada waktu kita menyatakan janji dan dedikasi kita kepadaNya sebagai respons kita menerima dan menyambut firmanNya, itu menjadi nazar yang harus kita tepati di hadapanNya.

Kiranya kita senantiasa ingat untuk menyimak dan mendengar dengan hati yang taat; mengeluarkan perkataan yang jujur dan benar; menggenapkan segala janji-janji kita kepadaNya dengan kesungguhan dan eagerness mau melakukannya. Kiranya kita senantiasa ingat Allah kita ada di atas, bertahta di tempat yang maha tinggi, melihat dan meneliti segala isi hati kita dengan terbuka di hadapannya. Pengkhotbah mengatakan oleh karena Ia adalah Allah yang maha tinggi, Allah yang kudus, Allah yang tidak bisa dipermainkan. Setiap janji yang keluar dari mulut kita tidak pernah dianggap main-main oleh Tuhan, sehingga kita tidak boleh sembarangan menyatakan janji di hadapanNya. “Lebih baik tidak bernazar daripada bernazar tetapi tidak menepatinya,” demikian nasehat Pengkhotbah. Ayat ini tidak berarti kemudian kita tidak bicara apa-apa di hadapan Tuhan, tetapi maksud dari ayat ini adalah pengenalan kita akan siapa Allah akan mempengaruhi seluruh kehidupan kita dan bagaimana kita berelasi kepada Allah dengan sikap hormat dan respek kepada Dia.

Ada satu ilustrasi. Seorang naik ke atas pohon kelapa yang sangat tinggi, saat sudah sampai di puncak pohon itu, tiba-tiba angin yang sangat keras bertiup membuat pohon itu terombang-ambing sangat kuat. Orang itu sangat ketakutan dan berpegangan erat-erat supaya tidak jatuh. Di tengah ketakutannya dia berdoa, “Ya Allah, tolonglah aku! Kalau aku bisa tiba dengan selamat di bawah sana, aku akan mempersembahkan seekor sapi sebagai nazarku kepadaMu.” Tiba-tiba angin menjadi sedikit reda dan tidak lagi sekuat sebelumnya. Orang itu segera turun dari pohon, dan pada waktu dia sudah sampai di tengah, dia menyesal dengan janjinya karena berpikir sapi terlalu besar, maka dia berdoa, “Tuhan, aku menyembelih kambing saja.” Sudah semakin dekat tanah, dia merasa kambing masih terlalu besar, lalu dia berdoa, “Tuhan, ayam saja.” Pas dia menjejakkan kaki di tanah, dia berdoa, “Persembahannya tidak jadi, Tuhan, saya cuma bercanda.” Lalu sebutir kelapa jatuh menimpa kepalanya.

Kita manusia begitu lemah, kadangkala kita sudah terlalu panjang sabar, kita merasa kita sudah terlalu baik kepada orang, tetapi akhirnya sampai kepada satu titik kita merasa sudah mentok tidak mau lagi mengampuni dan memaafkan kesalahan orang itu yang terlalu kelewatan. Itu kita. Pada waktu kita berpikir seperti itu, kita mengira Allah kita juga berlaku seperti itu, kita kadang-kadang kita bisa terheran karena Allah di dalam kesabarannya menunda sedikit waktu lagi untuk tidak menjatuhkan hukuman kepada manusia yang berdosa, supaya orang itu ada kesempatan untuk bertobat (2 Petrus 3:9). Jangan kita merasa kesabaran kita sama seperti kesabaran Allah yang ada batasnya karena kesabaran Allah jauh lebih panjang dan lebih sempurna daripada kita. Namun sebaliknya, karena kita berpikir Allah itu panjang sabar lalu membuat kita tidak menghargai kesabaran itu dan excuses dengan dosa-dosa kita. Kita merasa dosa kita itu hanya dosa kecil yang tidak terlalu serius sehingga Allah mengampuni. Kita bisa kaget sebab Allah yang suci itu bisa tidak toleran dengan dosa kita yang kita rasa kecil. Kita bisa terkejut ketika Dia mendisiplin kita. Dari situ kita tahu mengapa Pengkhotbah mengingatkan kita ketika kita datang beribadah kepadaNya jangan sampai kita kehilangan hati yang respek karena Allah kita dengan keagungan sifatNya itu harus betul-betul meresap di dalam hati kita.

Terakhir, setiap kali kita datang ke rumah Allah biar hati kita takut akan Dia. Ada “the sense of awe” di hadapan Allah, tetapi sekaligus juga ada sense kedekatan kita kepadaNya karena menyadari bahwa Dia mencintai dan mengasihi kita dan sekaligus kita sadar Dia adalah Allah yang agung dan besar, Allah yang bertahta di surga yang kudus, yang tidak bisa kita permainkan dalam hidup kita. Kiranya semua pengenalan ini membuat kita sadar dimana saja kita ada, kita mempunyai prinsip “Coram Deo” living in the presence of God. Hidup kita menjadi ibadah kepadaNya. Kita berjalan, kita berbicara, kita berbuat, semuanya dengan hati yang tulus. Setiap kali kita berdiri di hadapan Allah yang suci dan agung yang bertahta di surga, kita ingat bahwa Ia mengenal setiap kita dan melihat semua yang ada dalam hidup kita, biar kita gentar dan takut di hadapanNya, karena tidak ada sesuatu pun yang bisa kita sembunyikan dari hadapan Tuhan yang maha tahu.(kz)