The Story of Salvation

Pengkhotbah: DR. E.J.Boyce OAM
Tema: The Story of Salvation
Nats: 1 Korintus 15:1-11

Our Father, God, we thank You. We acknowledge Your sovereignty, and we celebrate Your grace.

Allah Bapa kami bersyukur kepadaMu. Kami mengakui kedaulatan dan pemeliharaanMu, dan kami menikmati kebaikanMu, merayakan kasih karuniaMu. Kami di sini mau mendengar suara firmanMu. Kiranya setiap kami pada hari ini dapat bertumbuh di dalam pengenalan kami akan Yesus Kristus. Satu sukacita bagi saya bisa bersama kalian semua hari ini. Saya suka mengajar. Saya bersyukur kepada Tuhan untuk karunia seperti ini yang juga Ia berikan bagi kita. Hari ini saya ingin menggugah setiap kita, bahwa sesungguhnya setiap kita adalah guru. Setiap kali ada seseorang belajar darimu, engkau adalah guru bagi dia. Artinya, contoh teladanmu akan mengajar orang lain, sikap perilakumu akan mengajar dia, perkataanmu akan mengajar dia. Setiap kita di sini adalah guru. Dan lebih daripada itu, setiap kita adalah pemimpin. Jika seseorang mengikuti contoh teladanmu, engkau adalah pemimpin orang itu. Jika engkau memberi contoh yang baik, berarti engkau seorang pemimpin yang baik. Jika engkau memimpin dengan contoh yang buruk, engkau memimpin dengan buruk.

Anak saya yang pertama Matthew, sekarang ada di surga. Saya akan sedikit menceritakan tentang imannya. Matthew menerima Tuhan pada usia 8 tahun. Waktu Matthew berumur 15 tahun dia pergi ikut saya ke Cina. Setiap tahun saya pergi ke Cina untuk mengajar pendeta, kepala sekolah dan guru. Matthew yang masih muda ini juga mengajar bahasa Inggris dengan menggunakan Alkitab mengajar di Teacher’s College di Guang Zhou. Di situ ada 2 orang guru wanita yang akhirnya menjadi percaya melalui pengajarannya. Matthew menyelesaikan studinya dengan sangat baik di Sydney University dalam bidang Economics dan Accounting. Waktu dia berumur 21 tahun dia ditabrak mobil saat kami berlibur di Vancouver. Saya menyaksikan peristiwa itu dengan mata kepala sendiri, dan menenangkan pengendara mobil yang menabraknya. Tiga belas hari kemudian Matthew meninggal setelah coma di rumah sakit. Tuhan mengambilnya pulang. Buku terakhir yang Matthew baca adalah “This was Your Life,” bersiap untuk berjumpa dengan Tuhan muka dengan muka. Matthew membaca buku ini bersama-sama dengan grup PA anak muda. Saya selalu pergi ke kompleks perumahan retirement village setiap Sabtu bersama anak-anak dan cucu saya. Kemarin kami membaca Mazmur 73, yang saya teringat Matthew pernah menguraikan 7 khotbah dari mazmur itu. Khotbah Matthew yang terakhir adalah tentang surga. Dia menyatakan kepada orang-orang tua ini betapa indahnya surga itu. Dan dia mengatakan dia rindu menantikan surga di saat Tuhan memanggilnya pada waktunya. Dan dia juga mengatakan kepada mereka, ‘pada saat aku ada di surga nanti aku ingin kalian mengadakan pesta bagiku karena kami semua juga berpesta di surga.’ Dan Matthew pergi ke surga mendahului semua orang-orang tua ini. Sebelum kecelakaan itu Matthew menulis sebuah kartu Natal buat adik-adiknya, ‘remember God’s place in your life.’ Kami tidak sedih dan pahit atas kematiannya. Kami percaya ini adalah kehendak dan tujuan Allah bagi keluarga kami. Kami mencintai dia, kami bersyukur kepada Tuhan bagi dia, dan kami bersyukur Tuhan telah memanggil dia ke surga. Yesus mengajar kita bahwa banyak hal-hal kecil dalam hidup ini yang telah membuat perbedaan yang besar, menghasilkan hal-hal yang besar dan agung; hal-hal yang sederhana yang membuat kita kuat. Saya sudah belajar banyak dan juga sudah mengajar di banyak tempat, tetapi semakin banyak hal saya mengerti, semakin sederhana apa yang saya pikirkan tentang hidup ini. Dan saya rindu keluar dari ruangan ini setiap kita mengerti bahwa hanya satu hal yang terpenting dalam hidup ini, bukan mencari uang sebanyak-banyaknya, bukan untuk memperoleh gelar dari universitas unggulan, bukan untuk memiliki rumah yang indah dan megah dan keluarga yang bahagia, bukan untuk pergi berpesiar keliling dunia. Satu-satunya tujuan bagi eksistensi kita adalah untuk membawa kemuliaan kepada Allah, hal-hal lain adalah subset, inclusion, containment of that intention, yang menyertai tujuan itu. Bapa Gereja Mula-mula sangat mengerti akan hal ini. Mereka mengatakan tujuan dari manusia ada ialah untuk memuliakan Allah dan menikmati Dia selama-lamanya.

Jadi, siapakah Allah? Segala sesuatu adalah dari Dia, melalui Dia dan untuk Dia. Paulus dalam Roma 11:36 berkata, “Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!” Ini adalah bagian akhir dari doxology. Dalam 1 Korintus 8:6 bagi kita orang percaya “hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa, yang daripadaNya berasal segala sesuatu dan yang untuk Dia kita hidup, dan satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus, yang olehNya segala sesuatu telah dijadikan dan yang karena Dia kita hidup.”

Saya menyatakan kepadamu tentang iman. Sebagai orang Kristen kita tahu kita harus memperkenankan Allah sebagaimana Yesus Kristus telah mengajar kita di taman Getsemani di dalam doaNya Ia berkata, “Ya Bapaku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini daripadaKu; tetapi bukanlah kehendakKu, melainkan kehendakMulah yang terjadi” (Lukas 22:42).

Kita ada untuk memperkenankan Allah. Dalam Ibrani 11 kita membaca tanpa iman tidak mungkin kita bisa memperkenankan Allah. Sesungguhnya dalam Galatia 5:6 kita membaca, “…hanya iman yang bekerja oleh kasih” all that counts with God is faith, expressing itself through love. Dalam 1 Yohanes 3:23, Yohanes mengatakan, “Dan inilah perintahNya itu: supaya kita percaya akan nama Yesus Kristus, AnakNya, dan supaya kita saling mengasihi sesuai dengan perintah yang diberikan Kristus kepada kita.” Jadi iman adalah pusat, sentral yang sangat penting. Kita tidak dapat benar di hadapan Tuhan tanpa iman. Kita membaca akan hal ini dalam Roma 1:17 “Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman. Seperti ada tertulis: orang benar akan hidup oleh iman.” Itu bukanlah kebenaran kita, itu adalah kebenaran Allah. Maka saya ingin mendorong engkau untuk menjadi seorang Bible-believers, yang bersandar dan percaya kepada Alkitab, seorang follower of Christ, pengikut Kristus yang sejati, dan bukan karena hal-hal ini kedengarannya bagus, melainkan karena itu adalah tujuan Allah, kehendak Allah, perintah Allah. Itulah berita yang selalu saya ingatkan kepada gereja-gereja dimana saja saya kunjungi. Kemana saja saya pergi saya selalu merasa ‘at home.’ Saya selalu merasa ‘at home’ karena Allah menyertaiku. Jika Allah beserta kita, kita ‘at home.’ Kita pikir kita perlu orang lain, tetapi sesungguhnya yang paling penting bagi kita adalah Tuhan sendiri. Salah satu alasan mengapa saya merasa ‘at home’ dimana saja adalah karena saya punya satu asumsi dasar yaitu Tuhan Allah telah menciptakan semua umat manusia menurut gambar dan rupaNya. Oleh karena itu setiap pribadi sama berharga dan bernilai seperti yang lainnya. Kita sudah sangat merusakkan ide ini karena kita meletakkan diri orang tertentu begitu tinggi dan menaruh orang tertentu begitu rendah di dasar. Itu tidak pernah caranya Tuhan. Tuhan menciptakan manusia dan memberikan dignitas kepada setiap manusia, sebab setiap umat manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Itulah sebabnya mengapa kita menghargai dan hendak mengajar anak-anak autistik akan kasih karunia Allah sama seperti kepada anak-anak yang lainnya yang berintelektual tinggi; kepada mereka yang berlatar belakang keluarga miskin ataupun yang kaya-raya; kepada orang yang kelihatan elok maupun yang kelihatan kurang elok; kepada orang-orang yang bercakap-cakap dalam bahasa yang aneh seperti bahasa Inggris, Mandarin atau Cantonese atau bahasa Indonesia. Setiap manusia mempunyai nilai yang sama di hadapan Allah karena kita semua diciptakan menurut gambar dan rupaNya. Dan ada satu alasan lain mengapa kita mempunyai nilai yang sama karena Yesus Kristus telah mati bagi seluruh umat manusia. Ini adalah pernyataan ekspresi kasih Allah yang memperlihatkan Ia menghargai setiap manusia sama di hadapanNya. Kepada mereka yang ada di penjara, Kristus telah mati bagi mereka. Kepada orang yang mempunyai cara hidup yang aneh, Kristus telah mati bagi mereka. Kepada orang-orang yang bertumbuh di dalam gereja, Kristus telah mati bagi mereka. Kepada orang-orang yang berkhotbah dan melayani di gereja, Kristus telah mati bagi mereka. Karena kita semua mempunyai kebutuhan yang sama, setiap kita adalah orang yang berdosa. Dan anugerah yang sama telah menyelamatkan kita. Allah memberitahu hal ini hanya bisa terjadi dengan satu hal saja, Efesus 2:8-9 “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah; itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.” Maka kasih karunia Allah datang kepada setiap orang, seperti yang tertulis dalam Titus 2:11 “Karena kasih karunia Allah yang menyelamatkan semua manusia sudah nyata.” Itulah artinya Yesus datang. Kita mendengar akan hal ini setiap kali kita merayakan Natal. Bahkan orang yang bukan Kristen pun tahu apa yang kita percayai ini. Tetapi sungguhkah kita orang-orang Kristen mengenal siapakah Yesus Kristus itu? Yesus bukan sekedar orang yang baik, Ia bukan saja seorang menceritakan banyak perumpamaan yang indah, Ia bukan saja seorang yang melakukan banyak mujizat. Ia menjadi Juruselamat kita, dan itulah yang kita mengerti ketika kita percaya kepadaNya. Maka kita melihat orang Kristen mengerti berita dari Allah ini yakni bahwa Yesus adalah Tuhan yang telah mati bagi kita. Yesus bukan seorang manusia biasa, namun Ia juga adalah salah satu daripada kita. Dalam Injil Matius 1:23 kita membaca bahwa Yesus disebutkan Imanuel, yang artinya Allah beserta kita. Dalam Yohanes 1:1 berkata, “Pada mulanya adalah Firman, Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.” Dan Yohanes 1:14 berkata, Firman yang adalah Allah itu telah menjadi manusia dan Ia berdiam di antara kita beberapa waktu lamanya. Di dalam Dia kita telah melihat kemuliaan Allah, penuh kasih karunia dan kebenaran. Kita percaya akan hal ini oleh karena kita percaya Yesus Kristus adalah Anak Allah. Kita juga percaya kita adalah orang-orang berdosa dan kita tidak bisa menyelamatkan diri kita sendiri. Tetapi Allah telah menyediakan satu jalan bagi kita, Dia memberikan AnakNya yang tunggal. Dan dari bagian yang telah kita baca dalam 1 Korintus 15 kita membaca apa yang telah kita percaya yaitu bahwa Kristus telah mati di kayu salib karena dosa-dosa kita, bahwa Ia telah dikuburkan dan bahwa Ia telah dibangkitkan pada hari yang ketiga. Bukan saja bagi Ia telah diberikan hidup yang baru, tetapi kepada setiap orang yang percaya kepadaNya kita juga akan memperoleh hidup yang baru di dalam Kristus.

Beberapa tahun yang lalu rekan saya, DR. Ross Clifford, principal dari Morling Baptist Theological College di Sydney, menulis satu buku berjudul “The Cross is not Enough” dan dia mengatakan kita tidak boleh hanya mengajarkan bahwa salib itu cukup. Setiap gedung gereja mempunyai sebuah salib di atapnya. Orang Kristen juga banyak yang mengenakan kalung salib di lehernya. Dan kita sering berpikir bahwa salib adalah hal utama dari pemberitaan Injil Allah. Maka dia menulis buku ini untuk mengingatkan bukan itu yang terutama dan bahwa kebangkitan Kristus adalah hal utama dari kisah keselamatan Allah. Saya menyatakan ketidak-setujuan saya terhadap pendapatnya dan saya mengatakan dua hal itu, salib dan kebangkitan jangan dikontraskan, salib dan kebangkitan adalah dua peristiwa utama yang telah terjadi di dalam sejarah keselamatan Allah.

Orang-orang yang bertumbuh dalam masyarakat Barat selalu berpikir percaya “ini atau itu,” tetapi pikiran seperti itu tidak tepat. Kita juga bisa percaya “ini dan juga itu.” Itul adalah hal yang normal dalam hidup kita sehari-hari. Tidak selalu kita harus memilih “ini atau itu.” Dua point itu tidak saling bertentangan. Seperti bagian yang kita telah baca tadi, “Jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan kamu dan kamu masih hidup dalam dosamu” (1 Korintus 15:17). Allah berkehendak agar Kristus bangkit dari kematian. Itulah rencana Allah dari kekekalan. Sebelum naik ke atas kayu salib, Yesus telah menyatakan kepada murid-muridNya bahwa Ia akan mati dan akan hidup kembali. Ia memahami kehendak Allah BapaNya. Untuk menggenapkan rencana Allah itu Ia harus melewati suatu hal yang sangat buruk, sangat menakutkan dan sesuatu yang kita semua sedapat mungkin akan berusaha hindari. Yesus tahu Ia akan mengalami kematian. Ini adalah suatu hal yang buruk dan mengerikan bagi seseorang yang baru berusia 30 tahun. Saat kita memikirkan akan salib, kita memikirkan hal yang sangat menakutkan, hal yang begitu buruk, hal yang sangat mencekam. Paku yang tajam menancap di tangan dan kaki, tombak yang menusuk lambung, mahkota duri menusuk kepala, itu semua hal-hal yang begitu menakutkan.

Namun tahun lalu di gerejaku di West Pennant Hills saya berbicara tentang “The Beauty of the Cross.” Kebanyakan orang membayangkan salib adalah sesuatu yang buruk, yang sama seperti kegelapan dan kematian, namun sesungguhnya salib menunjuk kepada keindahan yang begitu agung adanya karena salib menunjukkan bagaimana kehendak Allah tergenapi oleh PuteraNya Yesus Kristus. Allah Bapa mengasihi Anak dan Anak mengasihi Bapa dan taat kepada Bapa. Maka meskipun salib adalah peristiwa yang mengerikan, itu adalah cara Allah dan jalan keselamatan Allah yang begitu indah dan agung. Waktu Kristus telah bangkit dari kematian dan murid-murid berada di depan kuburNya, malaikat mengatakan Ia tidak ada di sini, Ia sudah bangkit! Dan itu adalah satu berita yang patut kita sambut dengan penuh sukacita. Jumat Agung dan Paskah selalu membawa kesedihan dan sukacita sama-sama. Orang Kristen percaya Yesus telah mati untuk mengangkat dosa-dosa kita, dan kita juga percaya bahwa Ia telah bangkit untuk memberi kita hidup yang baru. Mengagumkan, bukan? Ini adalah hal yang sangat mengagumkan karena ini adalah cara Allah memberikan keselamatan bagi setiap kita, bagi setiap orang yang percaya kepadaNya, setiap orang yang beriman kepada salib dan kebangkitan Yesus Kristus.

Sebelum mengakhiri khotbah ini, ijinkan saya mengajukan satu pertanyaan, jikalau engkau percaya bahwa saya telah menyatakan kebenaran Alkitab, bagaimana respons yang engkau harus nyatakan sebagai individu dan sebagai gereja? Sebagai individu dan sebagai gereja kita harus hidup untuk satu tujuan, hidup kita untuk memuliakan Allah, hidup taat kepada Allah, hidup bersandar kepadaNya, mengasihi dan melayaniNya sepanjang hidup kita. Kita tidak akan bisa menjalankannya jika kita tidak mengerti Alkitab; kita tidak akan bisa melakukannya jika kita tidak berjuang bersama; kita tidak akan siap melakukannya jika hati kita tidak penuh dengan syukur, memuji dan menyembah Tuhan. Kiranya Tuhan memberkati engkau dan memelihara engkau; kiranya wajahNya menyinari engkau dan memberimu kasih karunia; kiranya damai sejahtera Tuhan menyertaimu. Aku bersyukur kepada Tuhan bagi kalian semua dan mempercayakan kalian semua di dalam tangan pemeliharaanNya. Kita senantiasa mengucapkan hal ini satu sama lain di dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus.(kz)