The Motherhood of Church

Pengkhotbah: Ev. Ivan Christian STh.
Tema: The Motherhood of Church
Nats: 2 Yohanes 1:1, 4-11

Hari ini saya mau mengajak kita belajar satu tema yang seringkali dilupakan atau tidak diperhatikan oleh gereja yaitu bagaimana gereja menjadi seorang ibu. Jadi kita akan bicara soal sifat “keibuan” dari gereja. Dalam surat 2 Yohanes, rasul Yohanes menulis surat kepada jemaatnya, yang menurut kebanyakan para penafsir jemaatnya itu adalah jemaat yang ada di kota Efesus. Yang menarik dalam surat ini Yohanes menyebut gereja sebagai “ibu” sebagai sebuah metafora yang menggambarkan perkumpulan jemaat secara komunal. Tentu saja penggambaran ini tidak bisa menggambarkan natur gereja secara utuh tetapi bukan berarti penggambaran gereja sebagai ibu itu tidak ada artinya atau tidak ada signifikansinya dalam kehidupan kita atau di dalam gereja kita hari ini. Kenapa gereja atau perkumpulan orang percaya disebutkan sebagai ibu? Di dalam Alkitab dan sepanjang sejarah Gereja mulai dari Agustinus, Luther, Calvin, sosok ibu itu dipandang sebagai seorang yang melahirkan, memelihara dan membesarkan anak-anaknya dengan nutrisi yang tepat dan melindungi anak-anaknya dari orang-orang atau barang-barang yang berbahaya. Bukankah itu pun yang dilakukan oleh seorang ibu bagi anak-anaknya sampai hari ini? Inilah gambaran yang kita lihat juga ketika gereja dalam aspek komunal atau sebuah kesatuan digambarkan berperan sebagai ibu yang melahirkan, memelihara dan membesarkan anak-anaknya, yaitu setiap individu di dalam gereja. Gereja kita secara komunal adalah satu kelompok yang berperan sebagai ibu yang memperhatikan dan memelihara setiap anggota satu demi satu. Siapa yang bertanggung jawab melakukan hal itu? Hal itu bukan hanya menjadi tanggung jawab hamba Tuhan atau pengurus gereja, tetapi itu dilakukan oleh seluruh gereja sebagai ibu.

Dalam konteks surat ini ditulis rasul Yohanes sangat prihatin karena pada saat itu gereja sedang menjaga anak-anaknya dari munculnya ajaran sesat yang menyebabkan sebagian orang keluar dari gereja. Sang ibu atau gereja dinasehatkan oleh Yohanes supaya tetap menjaga dan tetap memelihara anak-anaknya yang masih taat. Oleh karena itu Yohanes mengatakan, “Aku sangat bersukacita bahwa aku mendapati bahwa separuh dari anak-anakmu hidup dalam kebenaran…” (ayat 4a). Jadi ada anak-anak yang sudah keluar, tetapi ada sebagian yang masih tinggal dan Yohanes menasehatkan supaya gereja boleh memperhatikan dan menjaga anak-anak yang masih ada itu.  Dalam keadaan seperti ini sang ibu yaitu gereja diingatkan oleh Yohanes untuk saling mengasihi (ayat 5b), sebuah kasih yang aktif, sebuah kasih yang timbal balik, sebuah kasih yang saling mengasihi dan suasana itu tercipta di dalam gereja sebagai community. Kasih itu nyata di dalam perbuatan, kasih itu peduli dan memelihara. Kalau kita selidiki lebih lanjut, apakah kasih itu menurut Yohanes, dia mengatakan, “Inilah kasih itu yaitu bahwa kita harus hidup menurut perintahNya dan inilah perintah itu yaitu bahwa kamu harus hidup di dalam kasih” (ayat 6). Dalam Injil Yohanes, hidup di dalam kasih menurut Yesus, “Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintahKu” (Yohanes 14:15). Alasan mengapa kita harus hidup di dalam kasih adalah karena Yesus dan karena Allah yang sudah mengasihi kita terlebih dahulu dan karena itulah kita bisa mengasihi dirinya Allah. Jika kita mengasihi Allah maka kita pasti akan berusaha melakukan apa yang dia inginkan, bukan? Kalau kita sayang kepada Tuhan maka kita akan mengarahkan hati kita kepadaNya, melakukan apa yang Dia inginkan. Kalau kita mengasihi orang tua kita, kalau kita mengasihi pasangan kita, kalau kita mengasihi pacar atau sahabat, maka kita akan berjuang semaksimal mungkin untuk melakukan apa yang dia sukai. Bukankah begitu? Oleh karena itu jika kita mengasihi Tuhan maka sudah seharusnyalah kita melakukan perintah yang sudah begitu kita hafal, “kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri” (Matius 22:37-39). Sehingga hidup di dalam kasih tidak akan bertentangan dengan perintah Tuhan. Hidup saling mengasihi itu berarti kita mengasihi orang lain sehingga orang itu bisa hidup mengasihi Allah dan sesama. Jadi bukan hanya bicara soal diri kita tetapi hidup mengasihi itu juga bicara soal orang lain, bicara soal teman kita, bicara soal orang lain yang ada di dalam gereja ini, yang ada, yang hidup bersama-sama dengan kita supaya mereka, supaya orang lain bisa mengasihi Tuhan dan dia pun juga bisa mengasihi sesama. Inilah kasih seorang ibu, kasih yang diminta Yohanes dari gereja yang secara komunal ikut aktif mengasihi setiap individu, memperhatikan dan memelihara setiap anak-anaknya, melindungi dengan baik. Kasih itu membuatnya dia rela mengorbankan apa pun bahkan dirinya sendiri untuk bisa melindungi anak-anaknya. Dalam situasi kehidupan gereja pada waktu itu, inilah yang Yohanes ingin sampaikan kepada gereja sehingga mereka bisa menjadi seorang ibu yang melahirkan, memelihara, dan melindungi anak-anak mereka saat ada di dalam bahaya.

Kemudian pada waktu itu juga di dalam situasi hidup yang banyak tantangan, Yohanes melanjutkan nasehat berikutnya, “Waspadalah supaya kamu jangan kehilangan apa yang telah kami kerjakan itu, tetapi supaya kamu mendapat upahmu sepenuhnya” (ayat 8). Kalau kita lihat dalam bahasa aslinya kata “waspada” itu berarti seperti ini: kita melihat sesuatu yang secara fisik nyata dan kemudian kita bisa menelusuri dan menggali dengan sangat baik sehingga kita melihat yang fisik itu kita mengetahui apa sebetulnya motif di balik itu. Sehingga waspada bukan hanya memperhatikan melihat lalu sesudah itu kita tidak memperhatikan dengan baik. Tetapi waspada di sini adalah sebuah aktifitas, sebuah kegiatan yang menuntut sebuah konsentrasi yang tinggi, yang menuntut sebuah perhatian pengorbanan yang tinggi sehingga ketika kita melihat sesuatu kita bisa tahu ini bahaya atau tidak untuk anak-anak, ini betul atau tidak untuk anak-anak kita, apa yang harus kita lakukan saat hal yang buruk itu terjadi dan inilah waspada yang dimaksudkan oleh Yohanes. Sehingga kita bisa waspada dan kita melihat apa yang ada di balik yang kelihatan ini, apa yang menjadi penyebabnya, apa yang akan menjadi hasil akhirnya ketika hal yang kelihatan itu terjadi atau hal yang kelihatan itu kita lakukan, sehingga kita bisa berespons dengan tepat atas fenomena tertentu.

Dalam kasus di gereja Efesus dalam surat Yohanes ini fenomena yang terjadi adalah tentang ada orang-orang yang mengajarkan Yesus itu tidak datang sebagai manusia (ayat 7). Yohanes menyebut mereka sebagai penyesat atau antikristus. Ini adalah awal dari ajaran Docetism atau Gnosticism. Jadi akibat ajaran ini maka banyak orang di situ yang meragukan kemanusiaan Yesus. Bagaimana ajaran sesat itu bisa masuk ke dalam gereja? Orang-orang atau guru-guru palsu itu biasanya datang di satu tempat umum kemudian dia mengajar orang lain yang mau mendengar dan dia bisa dengan bebas menyampaikan apa yang dia ingin sampaikan. Pada waktu itu banyak orang-orang yang percaya bahwa Yesus itu karena Dia ilahi maka Dia tidak akan mau untuk mengambil dan menjadi manusia karena dalam ajaran ini dikatakan bahwa tubuh ini adalah jahat, yang baik adalah dunia ide dan logika itu adalah yang terpenting. Ajaran ini kelihatan begitu subtle tetapi sesungguhnya begitu berbahaya sehingga Yohanes dengan serius mengingatkan bahwa Yesus itu betul-betul Allah yang berinkarnasi menjadi manusia seutuhnya, turun ke dalam dunia, mengambil rupa sebagai manusia dan Dia mati untuk manusia. Dengan demikian Yohanes ini jelas-jelas ingin menasehatkan gereja untuk waspada sehingga ketika ada orang yang datang, mereka bisa tahu betul yang dia katakan ini betul atau tidak, dasarnya itu apa.

Beberapa hari yang lalu saat saya sedang seorang diri di rumah, tiba-tiba saya mendengar bunyi bel, ternyata yang memencet bel itu adalah dua orang bule yang kemudian mengajak saya bercakap-cakap dan memberikan saya satu lembar traktat dan mengundang saya untuk datang ke acara mereka. Undangan mereka sangat menggugah dan tidak kelihatan bahwa mereka ini mengajarkan ajaran yang salah. Singkat cerita mereka kemudian mengatakan, “Ikut yuk dalam acara kami, kita akan membahas soal Yesus, kita mau bahas bagaimana Yesus ini akan mempengaruhi masa depanmu.” Dalam kalimat itu tidak terlihat kalau ada hal yang salah. Kemudian saya lihat kalau di lembar traktat itu ada informasi mengenai siapa mereka dan saya menemukan mereka adalah Jehovah Witnesses atau Saksi Yehovah. Yang saya tahu mereka ini tidak percaya akan keilahian Yesus, buat mereka Yesus itu hanya ciptaan, Yesus itu hanya manusia. Dan yang menariknya adalah mereka tidak mengatakan hal itu saat mereka bertemu saya. Mereka tidak Langsung mengatakan Yesus itu bukan Allah lho, tetapi mereka mengatakan mari belajar tentang Yesus dan bagaimana Yesus akan mempengaruhi masa depanmu. Ini sebuah ajakan yang sangat persuasif, dan bisa dikatakan bahwa kalau kita tidak waspada, maka kita akan masuk ke dalam jebakannya kalau kita tertarik tentang topik Yesus dan tanpa sadar kita akan menerima mereka mengajarkan hal yang tidak sesuai dengan firman Tuhan. Itulah kira-kira yang saya maksudkan atau yang Yohanes maksudkan dari kata waspada ini.

Dan kemudian salah satu nasehat yang spesifik dari Yohanes kepada gereja pada waktu itu adalah mengingatkan mereka “jikalau seseorang datang kepadamu dan ia tidak membawa ajaran ini, janganlah kamu menerima dia di dalam rumahmu dan janganlah memberi salam kepadanya” (ayat 10). Kemudian Yohanes lanjutkan, “sebab barangsiapa memberi salam kepadanya, ia mendapat bagian dalam perbuatannya yang jahat” (ayat 11). Dengan kata lain Yohanes ingin mengatakan kalau kamu tahu ada orang jahat, ada orang yang mengajarkan ajara sesat, jangan terima dia di rumahmu dan jangan undang dia ke rumahmu. Ketika kita membaca kalimat ini kita mungkin akan bingung, Yohanes ini agak kurang konsisten, bukanlah di awal-awal dia mengatakan kasih, kasih, kasih, kasih, tetapi kenapa kemudian di ayat yang terakhir justru dia mengatakan jangan terima orang di rumahmu, jangan beri salam, bukankah itu sebagai bentuk dan wajud kita membenci musuh? Tetapi kalau kita belajar lebih lanjut akan ayat ini ternyata yang dimaksudkan adalah Yohanes ini tidak mengajarkan bahwa kita tidak boleh menunjukkan sikap hormat kepada orang jika dia berkunjung ke rumah kita secara privat. “House” atau rumah yang dimaksud di ayat 10 ini adalah menggambarkan gereja rumah, sehingga waktu ada orang berkumpul di satu rumah dan kalau kita menerima atau membuka pintu bagi orang yang mengajar ajaran yang salah itu maka dengan kata lain kita mengijinkan dia mengajar jemaat kita atau orang yang ada di sekeliling kita atau anak-anak kita itu dengan pengajaran yang salah. Sehingga Yohanes mengingatkan dengan sungguh-sungguh agar gereja tidak memperbolehkan guru tertentu untuk mengajar jemaat, untuk mengajar orang-orang yang sedang berkumpul untuk beribadah. Ini adalah nasehat pastoral yang spesifik dari Yohanes. Dia mengajarkan bahwa janganlah sampai kita membiarkan orang itu mengajarkan pengajaran-pengajaran yang salah kepada gereja kita atau kepada perkumpulan kita.

Sampai sejauh ini maka kita bisa mengerti apa yang sebetulnya Yohanes ingin sampaikan kepada gereja kita di tempat ini pada hari ini. Yohanes ingin menyampaikan bahwa sebagai sebuah gereja yang terdiri dari individu-individu, sebuah komunitas yang bersatu di dalam Kristus, kita seharusnya berperan sebagai ibu yang mengasihi dan yang waspada, sehingga anak-anak kita atau pun kita secara pribadi bisa dipelihara, bisa dijaga sehingga bisa memahami ajaran-ajaran yang solid dan benar, dan sekaligus mampu mengidentifikasi pengajaran-pengajaran yang salah.

Pertanyaan yang perlu kita renungkan pada hari ini apakah kita secara komunal sudah menjadi seperti ibu yang memelihara dan menjaga anak-anaknya, memelihara setiap jemaat secara bersama-sama? Tentu pertanyaan ini bukan hanya untuk hamba Tuhan atau pengurus dan aktifis saja, tetapi bagi semua orang yang ada di dalam sebuah gereja lokal, apakah kita sama-sama sudah bahu-membahu untuk belajar menjadi seorang ibu yang memperhatikan setiap anggota gereja? Pertanyaan ini adalah untuk semua kita dan pantas untuk kita renungkan karena ini adalah sebuah hal yang sulit untuk dilakukan dan cenderung dilupakan. Jangankan untuk memperhatikan orang lain, untuk mempehatikan kehidupan keluarga dan kehidupan sendiri pun sudah setengah mati, bagaimana saya harus melindungi orang lain dan memelihara orang lain?

Kita saat ini hidup di dalam lingkungan yang tidak mudah, kita dikelilingi banyak sekali orang yang melakukan hal yang jahat secara komunal, bukan melakukan hal yang baik secara bersama-sama.

Salah satu contohnya adalah “dirty secret” yang berusaha ditutup rapat-rapat oleh gereja tetapi kemudian dibongkar dan dibukakan oleh surat kabar Boston Globe sekitar tahun 2001, dan mereka meneliti dan menelusuri kasus-kasus pelecehan seksual terhadap anak-anak yang terjadi di daerah Boston di Amerika, kemudian ini difilmkan dengan judul “Spotlight.” Secara pribadi hati saya takut karena penjahat-penjahat ini adalah hamba Tuhan, dan yang parahnya adalah pemimpin daerah keuskupan pada waktu itu cuek dan bahkan menutupi kejahatan-kejahatan yang dilakukan oleh puluhan pastor yang melecehkan anak-anak di bawah umur. Sedih dan mirisnya adalah mereka ada punya buku catatan misalnya pastor ini bertugas melayani di paroki mana, berhenti karena apa lalu dipindahkan kemana, dsb. Dan ketika ketahuan oleh pemimpin keuskupan pada waktu itu bahwa pastor ini melakukan pelecehan kepada anak, pastor itu tidak dipecat, tidak diberhentikan, tetapi dia dipindah-tugaskan ke paroki lain dengan alasan “sick leave.”

Ini adalah sebuah bentuk bukti nyata kalau gereja tidak berwaspada maka apa yang akan terjadi? Ini adalah sebuah contoh yang ekstrim, tetapi apakah kita pernah berpikir dan merenungkan apakah yang akan terjadi kepada anak-anak muda kita, apakah yang akan terjadi dengan teman-teman kita kalau kita tidak mau tahu dengan apa yang mereka alami? Benar, kita masing-masing punya pergumulan, semua kita punya kesusahan masing-masing, tetapi apa yang bisa kita lakukan kepada mereka sehingga kita bisa menjadi ibu yang memelihara anggota-anggota gereja yang ada?

Apa yang bisa kita lakukan di dalam kehidupan yang seperti ini? Tidak bisa dipungkiri bahwa kita hidup di dalam dunia sekarang ini begitu banyak tuntutan yang harus kita lakukan, begitu banyak kebutuhan yang harus kita penuhi, baik untuk diri kita sendiri maupun untuk orang lain sehingga akibatnya adalah kita pun sudah jarang memelihara diri kita sendiri, kita tidak memperhatikan diri sendiri, kita sulit membagi waktu antara kerja dan keluarga, apalagi kita mau berpikir lebih jauh apa yang kira-kira sedang menjadi pergumulan saudara kita seiman di dalam gereja. Apalagi bisakah kita memikirkan, kira-kira apa yang bisa kita lakukan untuk membantu kehidupan dia? Kira-kira life group kita bisa berbuat apa untuk teman kita yang sedang bergumul ini? Kira-kira apakah keluargaku bisa membantu anak muda ini yang sudah pergi ke kota ini merantau seorang diri dan tidak punya keluarga mana pun? Apakah saya bisa memperhatikan dia? Pertanyaan-pertanyaan seperti ini sudah jarang muncul di dalam kehidupan kita karena memang tidak bisa dipungkiri bahwa kita sibuk dengan kehidupan dan kegiatan kita masing-masing. Tetapi firman Tuhan tidak pernah salah di dalam mengingatkan kita akan apa yang harus kita lakukan dan inilah yang firman Tuhan berikan, terlepas dari segala kesibukan apa pun, segala kecuekan apa pun, firman Tuhan tetap mengatakan bahwa kita, gereja, perlu berperan sebagai ibu yang melahirkan, memelihara dan menjaga anak-anak kita.

Saya terpanggil menjadi seorang hamba Tuhan karena saya mau dipakai oleh Tuhan untuk menemukan orang-orang atau mengajak dan berjalan bersama-sama orang yang sudah pergi meninggalkan Tuhan, mencari dan membawa mereka kembali kepada Tuhan, untuk kembali ke rumah Bapa kita. Saya selalu diingatkan akan panggilan Tuhan, apa yang harus saya kerjakan, apa yang harus saya lakukan supaya jemaat Tuhan, khususnya anak-anak muda itu bisa pulang ke rumah Bapa kita. Kita mencari mereka, kita menemani mereka, ketika mereka sakit kita menemani, ketika mereka memerlukan bantuan kita tolong mereka. Biarlah kita semua pada saat ini, saat kita tiba-tiba mungkin teringat kepada orang-orang yang perlu kita perhatikan, siapa orang-orang yang perlu kita tolong dan siapa yang perlu kita perjuangkan supaya dia kembali kepada Tuhan. Biar kita sama-sama berjuang menjadi ibu yang memperhatikan, memelihara dan menjaga anak-anak kita.

Kiranya firman Tuhan mengingatkan kepada setiap kita bahwa sudah seharusnya kita sebagai gereja, sebagai komunitas orang percaya di tempat ini diingatkan kembali dan memberanikan diri dan memaksa diri untuk bisa menjadi seorang ibu yang memperhatikan anak-anaknya, memperhatikan dan mewaspadai supaya setiap person dan individu di dalam gereja ini bisa terus ada di dalam komunitas kita. Dan mereka yang sudah keluar bisa kita ajak masuk kembali, supaya mereka bisa merasakan kasih Tuhan, supaya mereka bisa bertemu dengan Tuhan dan supaya mereka diselamatkan oleh Tuhan, dan supaya bersama-sama dengan kita berjuang sampai akhir untuk hidup setia di hadapan Tuhan.

Kiranya Tuhan berbicara kepada setiap kita dan menuntun setiap kita lewat firman Tuhan sehingga kehidupan kita dan kehidupan gereja ini menjadi sebuah kehidupan yang taat kepada Tuhan, menjadi sebuah kehidupan yang menjadi berkat bagi banyak orang. Tuhan kiranya memperbaharui hati kita lewat firmanNya dan hati kita boleh terbuka lebar sehingga firman yang akan Tuhan taburkan boleh bertumbuh dengan subur di dalam kehidupan kita. Biar hati kita boleh terus didengungkan oleh firman Tuhan, boleh terus digelisahkan ketika kita pasif dan diam pada saat melihat ada orang yang membutuhkan pertolongan, ketika kita cuek saat ada orang yang membutuhkan uluran tangan kasih Tuhan lewat kita. Kiranya Tuhan melunakkan hati setiap kita dan memakai kita menjadi saluran berkat Tuhan.(kz)