Menjadi Bejana Tuhan

Pengkhotbah: Ev. Ivan Christian STh.
Tema: Menjadi Bejana Tuhan
Nats: 2 Korintus 4:1-15

“Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami” (2 Korintus 4:7).

Sejak jaman dahulu bejana tanah liat adalah barang-barang perabotan yang sangat vital di dalam setiap rumah. Meskipun fungsinya sangat penting, bejana tanah liat adalah benda yang dianggap tidak berharga. Orang tidak akan menaruh barang-barang berharga seperti emas berlian dan perhiasan yang mahal di dalamnya. Orang akan menaruh barang-barang perhiasan yang berharga di dalam kotak yang khusus. Sebaliknya bejana tanah liat dipakai untuk menyimpan air minum, atau dipakai untuk menjadi tong sampah, tempat membuang kotoran-kotoran yang bau dan busuk.

Pot itu sebetulnya sudah ada dari jaman dahulu. Sejak jaman Tuhan Yesus, mereka sudah memakai berbagai macam bentuk dari tanah liat sedemikian rupa sesuai dengan ukuran dan bentuknya masing-masing. Perlu kita ketahui dari dahulu sampai sekarang pot itu dipandang sebagai benda yang tidak berharga; pot itu dipandang sebagai benda yang tidak berharga sama sekali. Pada awal abad Masehi, bejana tanah liat itu tidak mahal dan mudah rusak. Berbeda dengan bejana-bejana yang terbuat dari perunggu yang selalu dipakai di dalam acara-acara pesta, orang tidak akan memakai bejana tanah liat, karena bejana dari perunggu jauh lebih baik, jauh lebih tahan dan jauh lebih indah kelihatannya layak dipakai di dalam pesta. Lalu dimana tempat yang sepantasnya untuk bejana tanah liat? Tempatnya adalah di dapur, untuk menaruh sisa-sisa makanan, untuk menaruh barang-barang dapur yang sudah kotor sebelum nanti dicuci. Dengan kata lain, bejana ini adalah tempat yang digunakan bukan untuk hal-hal yang mulia, bukan untuk hal-hal yang baik, bukan untuk hal-hal yang berharga, bukan untuk barang-barang yang berharga. Tetapi bejana justru dipakai untuk hal-hal yang kotor, barang-barang yang kotor dan orang tidak mau mendekatinya.

Kalau kita membaca dalam Injil, kita akan menemukan satu cerita perumpamaan Tuhan Yesus, “Hal Kerajaan Surga itu seumpama harta yang terpendam di ladang, yang ditemukan orang, lalu dipendamkannya lagi. Oleh sebab sukacitanya pergilah ia menjual seluruh harta miliknya lalu membeli ladang itu” (Matius 13:44). Dimana ada seseorang yang sampai menjual seluruh hartanya untuk membeli sebidang tanah yang dia tahu di dalamnya ada harta? Pada jaman itu harta itu dipendam di dalam tanah, kenapa? Karena untuk menghindari adanya perang dan keadaan yang tidak diinginkan, maka orang kaya biasanya akan menaruh uang dan harta mereka di dalam bejana tanah liat dan kemudian bejana itu akan dipendam di dalam tanah. Kemudian saat anak muda itu mencangkul di sekitar situ, maka dia tahu saat dia mendengar pecahan dari bunyi bejana tanah liat kalau bejana itu ada di dalam tanah berarti ada harta yang berharga yang banyak sekali jumlahnya. Maka dia akan menjual seluruh hartanya untuk membeli sebidang tanah itu supaya mendapatkan harta yang ada di dalam bejana tanah liat itu. Dengan kata lain, pada waktu itu menyimpan uang di dalam bejana itu bukan karena bejana itu kuat tetapi justru karena bejana itu mudah rusak sehingga mudah ketahuan kalau dicari pas ada bunyi pecah, bisa tahu ada harta disimpan di situ. Dengan kata lain, bejana ini dipakai bukan karena kekuatannya, bejana ini dipakai karena dia rapuh sehingga harta yang disimpan di dalamnya mudah ditemukan.

Dalam pemahaman yang demikian, marilah kita bersama membaca 2 Korintus 4:1-15 dan ayat yang menjadi inti perenungan kita ada di ayat 7 “Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat supaya nyata bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami.” Paulus menyatakan dengan jelas bahwa dirinya itu adalah seperti bejana tanah liat yang dipercayakan harta yang besar yaitu Injil Allah sendiri. Pertanyaannya, kenapa Paulus merasa dia adalah bejana tanah liat? Kenapa dia merasa seperti barang yang tidak berharga, yang tidak layak, yang kotor dan seharusnya tidak mendapat tempat bagi sesuatu yang berharga? Kenapa dia merasa seperti itu? Karena di dalam kehidupannya, seperti dalam 1 Timotius 1:13 dia mengatakan, “…aku yang tadinya seorang penghujat dan seorang penganiaya dan seorang yang ganas, tetapi aku telah dikasihaniNya.” Paulus sadar betul kalau bukan karena dikasihani Tuhan dia bukan siapa-siapa. Dia hanyalah seorang manusia yang jahat, yang telah menghujat Allah yang telah mati bagi dirinya, bahkan dia juga telah membunuh atau mengincar atau menganiaya orang-orang Kristen yang ada pada waktu itu. Bagaimana mungkin kalau bukan karena Tuhan yang telah mengasihani dia, bagaimanakah mungkin dia bisa kembali kepada Tuhan? Kalau bukan karena dikasihani Tuhan dia akan terus hidup di dalam kegelapan, dan terang kemuliaan Allah itu tidak akan ada di dalam dirinya sendiri. Maka sudah jelaslah kalau Tuhan tidak menerangi saat dia berada dalam perjalanan ke Damsyik untuk menganiaya orang Kristen itu, kalau Tuhan tidak hadir di sana maka mungkin dari perspektif manusia sampai Paulus mati dia akan terus menganiaya orang-orang Kristen dan tidak akan ada surat-surat Paulus sampai hari ini. Tetapi karena Tuhan mengasihani dia, maka dia sadar betul bahwa dirinya adalah seperti bejana tanah liat. Dia sadar kalau bukan karena Allah dia tidak akan sanggup untuk menjadi pelayan bagi harta yang besar itu. Kalau bukan karena Tuhan dia merasa bahwa dia tidak akan mampu untuk menjadi pelayan Tuhan. Kenapa? Karena melayani pada waktu itu bukan hal yang gampang, karena perjalanan pelayanan yang dia alami pada waktu itu tidak mudah. Banyak sekali tantangannya, dan kita bisa melihat dengan jelas di dalam 2 Korintus 4:8-9, saya akan bacakan dalam terjemahan Bahasa Indonesia Sehari-hari (BIS) “kami diserang dari segala pihak namun kami tidak terjepit; kami kebingungan tetapi tidak sampai putus asa. Banyak yang memusuhi kami tetapi tidak pernah kami tinggal seorang diri. Dan meskipun seringkali kami dipukul sampai jatuh namun kami tidak mati.” Lewat ayat ini seakan-akan Paulus ingin mengatakan, kalau bukan karena Tuhan yang melindungi dan menjaganya, sudah jauh-jauh hari dia pecah berantakan. Kalau bukan karena tangan kuat Tuhan yang menopang, yang memegang, yang menjaga dia maka sudah dipastikan bahwa bejana itu akan pecah dengan sangat mudah. Kalau bukan karena Tuhan Paulus sadar betul dia tidak akan mampu melakukan pelayanan yang Tuhan percayakan kepada dia. Paulus sadar bahwa dirinya bukanlah dari bejana emas dan perak; Paulus sadar bahwa dirinya bukanlah wadah yang biasa digunakan di dalam pesta-pesta. Tetapi Paulus sadar siapa dirinya dan sekarang ijinkanlah saya bertanya kepada setiap kita, apakah kita juga melihat diri kita adalah bejana-bejana tanah liat? Apakah kita sadar bahwa diri kita juga adalah kotor dan tidak berharga adanya? Diri kita pun tidak mampu menjadi pelayan Tuhan, diri kita pun bukanlah emas tetapi dari tanah liat yang mudah pecah. Kalau bukan karena Tuhan yang mengasihani maka kita entah ada dimana sekarang, entah apa yang kita lakukan sekarang, entah menjadi sejahat apa kita sekarang.

Biasanya orang-orang Kristen di awal ketika baru bertobat, ketika dia baru bertemu Tuhan maka dia sadar betul kalau dia begitu berdosa; dia sadar betul siapa dirinya. Tetapi kemudian berangsur-angsur setelah satu tahun, dua tahun, tiga tahun, anugerah itu menjadi seperti hal yang murahan. Dan kemudian di dalam kehidupan kita sehari-hari pun setelah kita belajar, setelah kita tahu siapa Tuhan itu, setelah kita tiap minggu ke gereja dan rajin pelayanan maka pada akhirnya kita susah untuk sadar siapa diri kita.

Ketika saya mengikuti Life Group bersama-sama teman-teman dari Sydney Life, kami sharing tentang moment perjumpaan kami dengan Tuhan, saat Tuhan menyapa kami dan saya mensharingkan kepada mereka bahwa saya lahir di dalam keluarga Kristen, orang tua saya Kristen, dari kecil saya sudah dibawa ke gereja, ikut sekolah minggu, pelayanan remaja ikut bantu sebagai asisten sekolah minggu, dst. Saya bersekolah di sekolah Kristen, berteman dengan teman-teman Kristen, tetapi sesungguhnya kehidupan saya tidak seperti orang Kristen yang otentik. Meskipun saya dibaptis, pada waktu itu sesungguhnya saya tidak mengenal Tuhan dan tidak mengakui Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat saya, tetapi karena saya harus memenuhi persyaratan sebagai asisten guru Sekolah Minggu. Di sekolah saya berteman dengan orang-orang Kristen, tetapi itu tidak juga membuat saya menjadi lebih baik tetapi justru membawa saya lebih giat di dalam kejahatan, saya lebih giat di dalam perbuatan-perbuatan yang tidak baik, saya lebih giat di dalam pacaran yang tidak baik, saya lebih giat di dalam melakukan kejahatan-kejahatan dan melakukan hal-hal yang munafik di gereja. Kalau bukan karena Tuhan yang tangkap, dimanakah diri kita sekarang saat ini? Kalau bukan karena Tuhan yang menerangi hati kita, dimanakah diri kita saat ini? Kalau Tuhan tidak tangkap aku waktu itu aku tidak tahu aku bagaimana sekarang. Mungkin saya tidak akan menjadi hamba Tuhan, mungkin saya di Indonesia sudah kabur dari rumah dan pergi entah kemana. Tetapi puji syukur kepada Tuhan bahwa Tuhan menangkap saya dan berkarya dalam hidup saya dan pada waktu itulah saya menjadi anak Tuhan dan kemudian menjadi hamba Tuhan. Oleh karena itu setelah saya menjadi orang percaya dan telah menyerahkan diri menjadi hamba Tuhan, saya pun tidak kunjung merasa bahwa saya ini adalah sebuah bejana emas. Kenapa? Karena begitu banyak kelemahan yang saya miliki dan saya pikir kita pun merasakan hal yang demikian. Begitu banyak keterbatasan-keterbatasan yang kita miliki sehingga kita pada akhirnya pun seharusnya kita merasa dan kita sadar betul bahwa kita adalah suatu bejana tanah liat yang begitu rapuh. Kalau bukan karena tangan Tuhan yang kuat menopang maka kita tidak tahu kita akan menjadi seperti apa kita sekarang.

Pada waktu saya diutus praktek satu tahun ke Pontianak, di akhir Juni saya datang dalam cuaca yang begitu panas, jauh lebih panas daripada kota Jakarta, dalam waktu satu bulan saja saya sakit keras dan masuk rumah sakit. Dokter awalnya mendiagnosa saya kena sejenis virus karena mata saya menjadi agak kuning dan kemungkinan terkena hepatitis. Puji Tuhan, ternyata akhirnya saya tidak apa-apa. Tetapi selain kelemahan fisik, saya juga merasa bahwa daya ingat saya menjadi begitu lemah. Meskipun saya mencoba belajar dan mencoba menghafal dan mengingat-ingat istilah-istilah tertentu misalnya, besoknya langsung lupa. Harus berulang-ulang membaca baru bisa ingat. Kemudian saya juga punya kelemahan dalam hal emosi. Saya mudah marah dan kesal untuk hal-hal yang sepele. Dan saya pikir ketika saya menyampaikan kisah-kisah seperti ini, sdr bisa mengindentifikasikan diri dengan hal-hal itu. Saya sedang menolong kita semua menyadari betapa kita ini lemah adanya. Kelemahan iman, kita juga harus mengakui kita punya kecenderungan keberdosaan yang cukup tinggi dan mudah lupa untuk tidak melakukan apa yang Tuhan inginkan. Inilah kelemahan-kelemahan yang kita miliki, dan lewat beberapa hal yang saya ceritakan tadi, saya sangat mengerti diri saya adalah seperti bejana tanah liat ini, dan saya berharap dengan sangat agar Tuhan berkarya di dalam hati kita dan Tuhan menyadarkan bahwa kita pun juga seperti itu.

Kepada bejana yang rapuh itulah dipercayakan harta yang berharga itu; kepada bejana yang rapuh itu Tuhan memberikan begitu banyak harta. Kepada bejana yang rapuh ini Tuhan memberikan uang, Tuhan memberikan pekerjaan, Tuhan memberikan keluarga, Tuhan memberikan kesempatan yang sangat banyak kepada bejana tanah liat ini. Semua itu diberikan kepada kita oleh Tuhan di dalam kemurahanNya. Kita diberiNya kesempatan untuk menerima semua hal yang berharga itu untuk apa? Karena Tuhan mau kita memakai semua harta itu untuk memuliakan Tuhan. Bukankah kita ketahui bahwa itulah tujuan hidup kita, bahwa kita ada untuk memuliakan Tuhan? Segala milik kita adalah daripada Tuhan adanya. Uang kita, pekerjaan kita, talenta dan kesempatan-kesempatan serta kehidupan yang kita miliki, itu adalah harta yang Tuhan berikan kepada kita, dan apa yang kita lakukan setelah kita menerima harta itu? Kepada bejana yang rapuh itu, dengan kemurahan Allah, Tuhan memberikan kesempatan untuk melayani.

Dalam surat Korintus Paulus menyebutkan beberapa pelayanan yang dilakukan oleh gereja pada waktu itu dengan satu pemahaman bahwa karena bejana itu masih mau dipakai oleh Tuhan, karena ada berkat-berkat yang Tuhan berikan sehingga akhirnya bejana-bejana ini bisa dipakai untuk memuliakan Tuhan. Waktu itu Paulus sebagai bejana yang rapuh itu dipercayakan untuk melakukan pelayanan yang memimpin kepada pembenaran, atau mengarahkan orang sehingga mereka mau memberi diri mereka didamaikan dengan Tuhan. Selain daripada itu juga disebutkan dalam surat Korintus ada jemaat Makedonia yang rapuh itu, yang diselamatkan oleh Tuhan itu, mereka hidup miskin, mereka terbatas, tetapi mereka tetap menyadari bahwa Tuhan sudah memberkati mereka, Tuhan sudah menaruh harta yang berharga di dalam bejana tanah liat yang rapuh itu sehingga dikatakan bahwa mereka bukan hanya menolong dan memberikan pertolongan finansial kepada saudara seiman yang lain, tetapi mereka juga menolong Paulus yang waktu itu melayani Tuhan. Kemudian juga Paulus yang bejana tanah liat itu juga dipercayakan Tuhan untuk melakukan pelayanan penggembalaan di gereja Korintus pada waktu itu. Di gereja Korintus yang sedang ada masalah, di gereja Korintus yang ada pengajar sesat datang, di gereja Korintus yang orang-orang itu meragukan kerasulan Paulus karena Paulus itu sering menderita. Orang pada waktu itu sering menganggap bahwa guru yang diberkati Tuhan itu tidak mungkin menderita. Sedangkan Paulus hidupnya tidak pernah lepas dari penderitaan sampai dia harus bahkan hampir mati, katanya, orang-orang meragukan keabsahan kerasulan dia. Tetapi kemudian Paulus tetap melayani dengan setia, memakai harta yang ada untuk kemuliaan Tuhan, untuk pelayanan penggembalaan. Paulus melayani sebagai hamba supaya semakin banyak orang yang mendengarkan dan menerima kasih karunia Allah, semakin banyak orang yang bersyukur dan memuliakan Allah.

Kita adalah bejana-bejana tanah liat. Tuhan sudah memberikan harta yang berharga kepada kita. Entahkah itu Injil Tuhan, yang paling berharga; entahkah itu keluarga kita, atau harta yang Tuhan berikan saat ini, ataukah setiap kesempatan pekerjaan yang Tuhan berikan. Satu demi satu setiap orang diberikan Tuhan menurut kesanggupan kita masing-masing. Oleh karena itu maukah kita memakai harta yang ada di dalam bejana tanah liat ini? Maukah kita memakai setiap harta yang Tuhan berikan kepada orang lain sehingga orang itu terberkati dan memuliakan Tuhan kita di surga. Meskipun kita banyak kelemahan, Tuhan mau memakai kita yang lemah ini supaya kekuatan yang ada itu terbukti. Tuhan yang kuat itu, bukan aku yang kuat. Tuhan yang mulia, bukan aku yang mulia. Tuhan yang sanggup dan layak dipuji, bukanlah aku. Marilah kita bersama-sama menjadi bejana tanah liat yang rapuh itu, marilah kita sama-sama meresponi panggilan Tuhan untuk memakai kita menjadi saluran berkat bagi banyak orang. Hai bejana-bejana yang rapuh, apa respons kita kepada panggilanNya hari ini?

Syair lagu “The Potter’s Hand” ini kiranya boleh menjadi doa yang kita panjatkan kepada Tuhan:
Beautiful Lord, wonderful Saviour
I know for sure all of my days are held in God’s hand, crafted into God’s perfect plan
You gently called me into Your presence, guiding me by Your Holy Spirit
May the Lord teach us to live all of our lives through His eyes
We captured by His holy calling, set us apart
He draws us to Him, may the Lord lead us

Terima kasih karena Tuhan sudah menangkap kami, ketika kami memilih jalan yang salah di dalam sepanjang kehidupan kita yang lalu. Kami di sini, Tuhan, pakai kami, isi kami dengan firmanMu, isi kami dengan kebaikan-kebaikanMu. Sehingga Tuhan pakai kami dengan harta yang ada di dalam bejana tanah liat, dengan harta yang ada di dalam diri kami yang rapuh ini Tuhan memakai kami untuk menyatakan kemuliaan Tuhan; Tuhan pakai kami untuk melayani banyak orang; Tuhan pakai kami sehingga orang bisa melihat siapakah Tuhan yang kami percayai, siapakah Tuhan yang sudah mau mati untuk manusia yang berdosa, untuk memanggil kami, menangkap kami ke dalam dekapan Tuhan, ke dalam pegangan tangan Tuhan yang sangat kuat.(kz)