Hidup tidak Berakhir di Sini (2)

Kebaktian PASKAH 2016
Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Tema: Hidup tidak Berakhir di Sini (2)
Nats: Roma 8:17-25

Bangsa Israel lebih dari 600 tahun silih berganti tidak habis-habisnya mengalami penaklukan dan penjajahan dari pemerintahan dan kerajaan-kerajaan dunia yang menguras habis mereka. Pulang dari pembuangan di Babel dan Persia, giliran Yunani dan kemudian Romawi menjajah silih berganti membuat mereka tidak sempat sesaat saja menghirup udara kebebasan dan menikmati segala yang baik. Di tengah-tengah tekanan seperti itu bagaimana mereka bisa tetap bertahan? Yang menguatkan mereka dan menjadikan mereka tetap bertahan sebab mereka masih terus memegang janji Tuhan dari Perjanjian Lama yang mereka miliki itu, bahwa satu kali kelak ada satu titik cerah sinar pengharapan yang mereka nanti-nantikan, janji yang akan digenapkan di dalam diri satu figur yang penting dan figur itu adalah seorang juruselamat mesias yang akan membebaskan mereka dari segala penderitaan mereka. Itulah janji yang menjadi kekuatan bagi mereka. Mereka tidak hanya melihat apa yang terjadi di dalam hidup ini walaupun terlalu dahsyat dan terlalu berat mereka tahu satu kali kelak Tuhan akan mengirim satu orang yang namanya Yeshua Messiah, juruselamat yang akan membebaskan mereka dari penjajahan dan akan menegakkan satu pemerintahan adil bagi mereka. Itulah hal yang sangat mereka rindukan selama mereka berada di bawah tekanan dan opresi penjajah yang begitu berat dalam hidup mereka. Pada waktu Yesus datang, jelas Yesus berkata bahwa Dialah Mesias yang telah dijanjikan itu. Pada waktu Ia membaca kutipan dari kitab Yesaya 61:1-2 “Roh Tuhan ada padaku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang” adalah ayat-ayat yang pada hari itu Ia baca di hadapan umat Tuhan yang sedang berbakti di sinagoge di Nazaret, Yesus lalu berkata, “Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya” (Lukas 4:16-21).

Setelah Yesus melayani Yesus membukakan lebih dalam, sebenarnya problem engkau dijajah, problem engkau mengalami segala ketidak-adilan, problem terjadinya masyarakat yang korup, problem terjadinya pembunuhan, iri hati dan dengki, dan segala kebusukan dan kejahatan yang ada di dalam hati manusia yang menciptakan nestapa di atas muka bumi yang baik ini, sumber penyebabnya bukanlah karena dijajah oleh  pemerintah Romawi. Problemnya adalah karena manusia telah dibelenggu oleh kuasa dosa. Solusi dari problem itu bukanlah dengan mendirikan kerajaan Daud di atas muka bumi ini, bukan dengan cara melepaskan mereka daripada penjajahan dan opresi Romawi. Problemnya bukan dimulai di dalam kitab Raja-raja, tetapi problem dari semua ini harus ditarik balik kepada kitab Kejadian pasal 3, dimana nenek moyang manusia pertama yaitu Adam dan Hawa yang telah berdosa dan memberontak kepada Tuhan.

Dalam Kejadian 3 akibat dari dosa mereka maka Tuhan berkata kepada si Ular, “Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya. Keturunannya akan meremukkan kepalamu dan engkau akan meremukkan tumitnya” (Kejadian 3:15). Maka Mesias itu bukanlah keturunan Daud, tetapi kalau ditarik kepada Kejadian 3 ini, Mesias adalah keturunan sang perempuan. Mesias ini datang bukan untuk menyelesaikan persoalan orang Israel, Mesias ini datang bukan untuk menyelesaikan urusan hidup sehari-hari kita, bukan untuk membereskan penderitaan dan kesulitan yang kita hadapi, bukan untuk membereskan persoalan ketidak-adilan, korupsi, penindasan dan opresi dari satu manusia kepada manusia yang lain. Mesias ini datang untuk membereskan satu persoalan yang paling penting yaitu bagaimana membereskan apa yang sudah dilakukan oleh nenek moyang manusia pertama yaitu Adam dan Hawa yang menjadi kepala representatif kita yang telah memberontak kepada Allah. Pemberontakan itu bukan menghasilkan kesusahan hidup kita dijajah; pemberontakan itu bukan menghasilkan kemiskinan; pemberontakan itu bukan menghasilkan kita kehilangan tanah pusaka dan segala milik kita. Pemberontakan itu menghasilkan sesuatu yang jauh lebih dalam, jauh lebih dahsyat, jauh lebih berat, jauh lebih menghancurkan karena akibat dari pemberontakan itu maut dan kematian datang ke dalam hidup manusia. Dan sekuat apapun usaha manusia untuk menghindar dari kematian itu, tidak akan pernah ada cara yang bisa manusia lakukan untuk memperoleh solusi dan menyelesaikan persoalan yang satu ini. Tidak ada satu usaha pun yang manusia lakukan yang sanggup bisa mencegah kematian itu menjalar ke dalam hidup semua manusia.

Waktu Yesus sudah bangkit dari antara orang mati dan Dia berdiri di hadapan murid-muridNya, sampai pada hari terakhir sebelum Dia naik ke surga, murid-murid tetap menanyakan topik yang sama, “Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?” (Kisah Rasul 1:6). Sepuluh hari kemudian Roh Kudus turun ke atas mereka, mencerahkan pikiran mereka dan membuat mereka mengerti dan mengingat kembali apa yang pernah Tuhan Yesus ajarkan itu semua menjadi satu “foretaste” bahwa satu kali kelak nantinya Yesus Mesias itu akan menjalankan kerajaanNya seperti itu. Engkau dan saya sekarang hidup di jaman akhir ini yaitu antara kedatanganNya kali yang pertama sampai dengan kedatanganNya kali yang kedua. Dari moment kebangkitanNya dari antara orang mati sampai kepada kedatanganNya kali yang kedua dari surga dengan tubuh kemuliaanNya, itulah periode dimana engkau dan saya ada. KebangkitanNya dari antara orang mati membuat kita sanggup untuk bisa berseru dan berteriak, “Maut sudah dikalahkan, sengat maut sudah dipatahkan. Hai maut, dimanakah sengatmu?” Tuhan Yesus pernah berkata, “Sesungguhnya barangsiapa mendengar perkataanku dan percaya kepada Dia yang mengutus Aku, ia mempunyai hidup yang kekal dan tidak turut dihukum, sebab ia sudah berpindah dari dalam maut kepada hidup” (Yohanes 5:24). Itulah yang terjadi di saat kita menjadi percaya, kita sudah berpindah dari gelap kepada terang, dari maut kepada hidup. Itulah juga yang kita katakan dengan penuh keyakinan saat kita menyampaikan kabar Injil keselamatan Yesus Kristus yang sudah mati dan bangkit, saat dia menerima Kristus dia sudah berpindah dari gelap kepada terang, dari maut kepada hidup. Kita tidak akan berkata, “Mudah-mudahan engkau pindah…” Tetapi pada saat yang sama pada waktu kita mengatakan kita sudah berpindah dari dalam maut kepada hidup, bukankah semua orang yang percaya Yesus yang hidup pada periode ini sebelum Yesus Kristus kembali untuk kedua kalinya, tidak ada di antara kita yang bisa terluput dari kematian ini, bukan? Jikalau kita sudah berpindah dari kematian kepada hidup, mengapakah kita masih akan meninggal dunia? Kita harus menyadari karena kita berada di dalam periode ini maka kuasa kebangkitan Kristus, bagaimana kita hidup di antara kebangkitanNya sampai kepada kedatanganNya kali kedua? Ada tiga point yang akan saya angkat pada hari ini.

  1. Roma 8:23 Paulus berkata, “Dan bukan hanya mereka saja tetapi kita yang telah menerima karunia sulung Roh, kita juga mengeluh dalam hati kita sambil menantikan pengangkatan sebagai anak yaitu pembebasan tubuh kita.” Pola hidup Tuhan Yesus di atas muka bumi ini dijadikan sebagai pola dan pattern dari hidup anak-anak Tuhan dimana Paulus berkata, “Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia” (Roma 8:17) sehingga kita tidak usah takut dan tidak usah gelisah dan kuatir pada waktu kita ikut Tuhan kita menjalani berbagai macam hambatan, rintangan, bahkan penderitaan dan penganiayaan yang begitu keji dan “senseless act of evil” di dalam hidup kita oleh karena kita beriman dan percaya kepada Tuhan Yesus Kristus. Pada waktu kita mengatakan seperti ini sekalipun kita percaya dan tahu tidak ada sesuatu apapun yang terjadi di luar pengetahuan Tuhan dan kedaulatanNya yang sempurna yang kita percaya segala sesuatu yang diijinkanNya terjadi pasti akan mendatangkan kebaikan bagi orang-orang yang mengasihiNya dan memuliakan Dia.

Hidup di antara periode kedatangan Yesus yang pertama dan yang kedua, antara kuasa kebangkitanNya ini kita mengeluh, kita groaning, kita berseru di dalam kepedihan. Sekali lagi, keluh-kesah bukanlah menandakan kita mempunyai “defeated spirit” seolah-olah kita mengeluh karena lelah menghadapi tekanan hidup dan tidak lagi punya keinginan untuk berjuang; seolah-olah kita kecewa karena kita tidak mendapatkan apa yang kita inginkan; seolah-olah kita mengalami kesusahan dan kesulitan yang terlalu berat lalu kita menjadi putus asa dan kita menarik nafas yang sudah sesak dan berkeluh “aaah.” Kata keluhan bukan dalam pengertian itu. Keluhan yang ada di sini adalah satu keluhan karena kita adalah anak-anak Allah, kuasa kebangkitan Kristus sudah melepaskan kita dari belenggu dosa. Allah sudah memberikan segala janji akan berkat-berkat surgawi itu sebagai ahli waris yang akan menerima janji-janji itu dan bersama-sama dengan Kristus akan menerima kemuliaan. Karena itulah yang menjadi kekuatan dan penghiburan tetapi kita mengeluh sebab di dalam pengharapan akan menerima janji-janji itu kita masih hidup di tengah-tengah dunia di antara orang-orang yang membenci kebenaran; kita mau hidup benar tetapi justru kita ditindas dengan semena-mena. Kita hidup di atas dunia yang masih ada dosa dan kejahatan yang begitu dahsyat ke seluruh aspek dan sendi kehidupan, membuat orang bisa berbuat jahat dengan leluasa, membuat orang yang berkuasa bisa menindas dengan memperkaya diri, dan membuat orang-orang yang cinta Tuhan lebih berat dan lebih susah hidupnya, keluhan itu yang keluar. Di dalam keluhan itulah firman Tuhan berkata kita punya pola teladan dari Yesus Kristus. Kalau kita mau menjadi anak Allah yang menjadi ahli warisnya, maka kita juga harus mengikuti pola teladan Kristus yaitu melewati penderitaan mendahului kemuliaan. Maka kita tidak boleh mengatakan orang Kristen menderita oleh karena kita sama dengan orang-orang lain yang tidak percaya Tuhan yang hidup di dalam dunia yang berdosa ini, karena Alkitab mengatakan kita mengalami “dual sufferings” karena kita juga mengalami penderitaan sebagai pengikut-pengikut Kristus. Kita tidak meragukan oleh bilur-bilurNya Kristus telah menyembuhkan kita. Kita tidak meragukan oleh kematianNya di atas kayu salib Kristus telah menghapuskan segala dosa kita, maut tidak lagi berkuasa atas hidup kita. Yesus berkata, “Aku datang untuk memberikan hidup yang berkelimpahan bagimu” (Yohanes 10:10). Yesus juga berkata, “Damai sejahtera Aku berikan kepadamu, damai sejahteraKu yang bukan dari dunia ini” (Yohanes 14). Yesus memanggil, “Marilah kepadaKu semua yang lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu” (Matius 11:28). Namun kita melihat apa yang Ia kerjakan di atas kayu salib sudah terjadi dan apa yang terjadi di dalam karya keselamatanNya semua sudah terjadi tuntas sebagaimana Yesus berseru di atas kayu salib, “Sudah selesai!” Tetapi sekaligus semua itu belum tergenapi sepenuhnya karena kita masih hidup di dalam periode di antara kedatanganNya yang pertama dan kedatanganNya yang kedua. Maka inilah periode yang disebut sebagai “already but not yet.” Apa yang sudah terjadi nanti sampai pada akhirnya pasti semua akan tergenapi. Maka di dalam periode ini kita sama-sama mengeluh karena semua janjiNya sudah terjadi dan tergenapi di dalam kematian dan kebangkitanNya, tetapi sekaligus juga belum karena kita hidup di dalam periode ini. Paulus mengatakan di tengah anak-anak Tuhan mengeluh dan berseru oleh beratnya tekanan dan penderitaan itu, Allah memberikan Roh Kudus sebagai materai keselamatan kita, yang menjadi “down payment” jaminan bagi kita sudah pasti terjadi. Kita mungkin ragu, kita mungkin takut, apakah betul keselamatan itu sudah pasti menjadi milik kita sebagaimana yang telah dinyatakan oleh firmanNya. Maka Roma 8 mengatakan biarlah kita menantikan dengan penuh pengharapan akan penggenapan itu karena itulah moment dimana tidak akan ada lagi air mata, penderitaan dan kesulitan menimpaku. Justru karena janji pengharapan yang ada di depan itu tidak akan pernah membuat hati kita marah, kecewa dan pahit kepada Tuhan karena kita telah menerima semua itu dan kita telah diterima dan dikasihi Allah. Inilah kekuatan yang diberikan dari kuasa kebangkitan Kristus yang seharusnya memelihara iman orang Kristen di masa sekarang dan inilah seharusnya yang kita sampaikan dan tawarkan kepada orang yang tidak percaya. Kuasa kebangkitan Kristus inilah yang men-sustain iman kita berjalan mengikut Tuhan di tengah kita menjalani hidup yang jatuh dalam dosa, kita tidak dihimpit olehnya tetapi kita bisa menyatakan kuasa kemenangan itu ketimbang mengeluhkan apapun kita alami dalam hidup kita masing-masing.

  1. Paulus berkata dalam Kolose 3:1-4, “Karena itu kalau kamu dibangkitkan bersama dengan Kristus, carilah perkara yang di atas dimana Kristus ada; pikirkanlah perkara yang di atas…” Hari ini kita mengeluh karena beratnya penderitaan hidup ini tetapi bukan dengan jiwa yang menyerah kalah karena kita percaya janji-janjiNya tidak hilang dari hidup kita. Jangan takut dan kuatir engkau tidak punya apa-apa yang bisa engkau tawarkan bagi orang lain. Paulus memanggil kita, kalau kita sudah bangkit bersama-sama dengan Kristus “set your mind to the throne above.” Artinya kita fokus, artinya kita konsentrasi. Siapapun dia, apapun yang dilakukannya, tidak akan bisa mencapai apa yang menjadi goalnya kalau tidak mulai dengan fokus dan konsentrasi. Masuk ke gelanggang pertandingan, dari lari jangan pikir apa-apa lagi, jangan pikir lawanmu lebih kuat larinya, yang harus engkau lakukan hanya satu: set your mind. Sesudah set your mind barulah kalimat selanjutnya dari Paulus, seek, kejar dan cari. Mari mata kita senantiasa ke atas. Kita bukan manusia super rohani yang tidak perlu apa-apa lagi, tetapi yang menjadi intinya di sini adalah hidup kita itu punya arah ke sana, kepada kemuliaan Kristus. Itulah yang menjadi doa kita sama-sama.

Apa yang bisa kita tawarkan kepada dunia ini hidup yang berkemenangan dari kuasa kebangkitan Tuhan kita Yesus Kristus? Kalau hidup kita masih dikuasai oleh kekuatiran, kalau hati kita masih dikuasai oleh keserakahan ingin memiliki segala-galanya dan memuaskan hawa nafsu dan egoism, hidup Kristen yang seperti apakah yang kita tawarkan kepada orang yang belum percaya Tuhan? Jika di dalam menghadapi kesulitan dan penderitaan yang datang ke dalam hidup kita, dengan mudah kita menyerah dan lari dari semua itu, hidup Kristen yang seperti apakah yang kita tawarkan kepada orang yang belum percaya Tuhan? Kalau kita takut mengalami penderitaan dan terus kuatir akan kematian dan tidak memiliki keteduhan terhadap apa yang akan terjadi di depan, penghiburan yang seperti apakah yang kita tawarkan kepada orang yang belum percaya Tuhan?

  1. Dalam moment terakhir sebelum Ia naik ke surga, Yesus memberikan perintah ini, “KepadaKu telah diberikan segala kuasa di surga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa muridKu” (Matius 28:18-20). “Tetapi kamu akan menerima kuasa kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksiKu sampai ke ujung bumi” (Kisah Rasul 1:8) kita dipanggil menjadi saksi-saksiNya. Dia sudah bangkit. Dia sudah memberikan kekuatan dan kuasa itu kepada engkau dan saya. Itulah sebabnya walaupun Kristus sudah naik ke surga Ia tetap memberikan kepada kita mandat dari “Doa Bapa Kami” yaitu: datanglah kerajaanMu, karena Dia mau kerajaan Allah itu hadir di atas muka bumi ini melalui hidup engkau dan saya. Benih yang sudah Ia tabur adalah benih yang baik, tetapi benih itu dirindukan oleh Tuhan tumbuh tidak secara ajaib dan instan. Dia tumbuh perlahan-lahan melalui pengaruh orang Kristen di dalam pekerjaannya, di dalam hidupnya, di dalam usaha bisnisnya yang dijalankan dengan kejujuran dan ketulusan. Hari ini kita menjadi orang Kristen yang dewasa tidak boleh senantiasa hanya bertanya apa yang gereja bisa berikan kepadaku. Apa yang pendeta ajarkan dari khotbah hari ini what I sould and should not do? Pernahkah kita bertanya what can I do? What can I offer? Itu adalah satu hidup yang aktif adanya. Itulah kuasa dari kebangkitan Kristus yang bukan hanya terjadi dalam satu moment di hari Paskah tetapi terus menyertai perjalanan kita beriman menantikan kegenapan dari segala janji Tuhan itu. Tidak perlu mencari tahu kapan Dia akan datang tetapi jadilah saksi-saksiNya dari sekarang ini. Pada waktu kita berada di tempat pekerjaan kita, kita tidak boleh menjadi orang Kristen yang menutup mata, telinga, tangan dan hati kita simpati kepada orang-orang yang ada di sekitar kita. Di situlah justru boleh menjadi pelayanan yang indah yang bisa kita kerjakan dan lakukan. Kata-kata dari firman Tuhan menjadi kekuatan rohani yang boleh mengalir dari hidup kita dan senantiasa bertanya kepada diri kita sendiri apa yang bisa kita berikan dan tawarkan kepada mereka. Kita menghadapi problema hidup yang sama dengan mereka, tetapi kita sudah memiliki jawabannya, kita sudah memiliki kekuatan di dalamnya, kita sudah mendapatkan jaminan itu. Pada waktu kita mendengar kolega kita di kantor mengeluh dengan kesulitan hidup dan pekerjaannya, kita mungkin tidak sanggup bisa menolongnya lepas dari kesulitannya, tetapi bukankah kita bisa menahan diri untuk tidak menambahkan kepadanya kegalauan dan kesulitan hidup kita yang sama? Bukankah kita bisa menawarkan kepadanya kuasa kebangkitan dan kemenangan Kristus dengan menyatakan kepadanya, ‘aku tidak mampu menolongmu keluar dari kesulitanmu tetapi aku percaya dan beriman kepada Tuhan Yesus dan I just can pray for you.’ Jika dia tidak mau berdoa bersama engkau, biar dia mengetahui bahwa engkau berdoa bagi dia di dalam doa pribadimu. Banyak hal di dalam apa yang kita lakukan kita boleh mewakilkan Kristus di dalam semua itu. Karena Dia akan datang segera, biar kita hidup dengan segala kekuatan dan kuasa itu sampai kita bertemu dengan Tuhan kembali.(kz)