Hidup tidak Berakhir di Sini (1)

Kebaktian JUMAT AGUNG 2016
Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Tema: Hidup tidak Berakhir di Sini (1)

Ada orang yang memiliki phobia tertentu, salah satunya adalah “thanatophobia” yaitu orang yang phobia terhadap kematian, orang yang sangat takut mati. Hati manusia memiliki ketakutan dan gejolak tersendiri dan bahkan tidak kurang di antara anak-anak Tuhan sendiri mengakui betapa takutnya akan hal itu. Tetapi ada sebagian orang yang menyembunyikan rasa takut itu dengan bersikap tidak mau tahu, menyangkal eksistensi kematian dan tidak ingin membicarakan mengenai kematian. Bagaimana pun sikap orang, apapun reaksi orang terhadap kematian, tidak ada orang yang bisa mencegah kematian datang kepada dia. Banyak kesulitan, penderitaan, dam penyakit di atas muka bumi ini yang orang berusaha untuk mengurangi bahkan menghapusnya. Di satu pihak ini adalah satu pekerjaan dan tugas yang mulia. Bill dan Melinda Gates mendirikan satu organisasi yang berjuang dan mencanangkan dengan semua uang yang mereka sumbangkan untuk dipergunakan melawan penyakit dan kemelaratan supaya terhapus dari dunia. Itu adalah usaha dan perjuangan manusia untuk menghapus dan menghilangkan hal-hal yang mendatangkan bencana kesulitan, penyakit yang sangat dahsyat membawa kematian kepada umat manusia. Namun adakah usaha manusia yang berhasil menghapus kematian dari muka bumi ini?

Puji Tuhan! Kita bersyukur di dalam 1 Korintus 15:54 keluar satu nyanyian pujian melalui apa yang sudah Kristus lakukan dari kematianNya di atas kayu salib sudah terbukti bahwa apa yang terjadi itu benar adanya dengan Dia bangkit dari kematian. Maka rasul Paulus berkata “Maut tela ditelan dalam kemenangan. Hai maut, di manakah kemenanganmu? Hai maut, di manakah sengatmu?” Syukur kepada Allah di dalam Yesus Kristus yang telah bangkit itu maut sudah dikalahkan dan ditelan adanya. Kebangkitan Yesus Kristus menjadi satu “foretaste” cicipan pertama kita bahwa kematian tidak lagi bisa menguasai anak-anak Tuhan.

Pengharapan itu akan digenapi nanti kelak pada waktu Yesus Kristus datang kali kedua. Kitab Wahyu 21:1-4 mengatakan pada waktu Yesus datang semua sakit, penderitaan, air mata dan kematian akan dihapuskan untuk selama-lamanya. Tuhan akan mengganti semua itu dengan tawa, pujian sukacita dan kegembiraan. Tetapi sekarang engkau dan saya tidak ada yang bisa mencegah akan kematian, tidak ada yang bisa mengalahkan kematian; kita semua akan berhadapan dengan hal itu. Jikalau tidak ada yang bisa mencegah kematian, itu berarti program diet kita tidak ada gunanya; itu berarti olah raga dan latihan fisik apa pun apa gunanya? Semua program diet, olah raga, latihan fisik dan lifestyle yang sehat semua itu tujuannya supaya kita sehat, supaya kita bisa menjalani hidup dengan baik dan normal. Alangkah baiknya kalau kita bisa mengerjakan segala sesuatu dengan tubuh yang sehat adanya. Namun kita tahu, tubuh yang sehat tidak otomatis berarti kita akan memiliki hidup yang panjang umur sehingga kematian akan menjauh dari hidup kita. Sebab realita memperlihatkan kepada kita kematian tidak datang hanya kepada orang-orang yang sudah suntuk umur; kematian tidak hanya datang kepada orang-orang yang mengalami sakit terminal ill. Pada waktu kita berjalan di tempat pemakaman, melihat batu-batu nisan yang tertanam di situ, engkau dan saya tahu kematian bisa datang kepada semua umur, tua muda, besar kecil, kaya miskin, sehat sakit, dalam keadaan perang atau damai. Karena tidak ada satupun orang yang bisa mencegah kematian datang kepadanya. Itu sebab kita harus mempersiapkan diri ketika moment itu terjadi kepada kita. Kita harus bersiap menghadapinya. Namun persoalan yang sering terjadi adalah di balik ketakutan kita menghadapi kematian adalah karena kita takut akan proses dan cara kematian itu mengakhiri hidup kita di dunia ini. Dan tidak ada seorang pun yang bisa memilih cara kematian itu datang. Mungkin kita berharap waktu kematian datang kita dalam keadaan tidur. Ada pendeta yang berharap waktu kematian datang dia sedang ada di atas mimbar memberitakan firman Tuhan, biar lebih rohani. Nanti waktu ketemu Tuhan kan bangga, sedang di tengah melayani lalu dipanggil Tuhan. Sedikit malu kalau sedang bermalas-malasan atau sedang menikmati liburan tiba-tiba dipanggil Tuhan. Pada waktu kita membesuk orang yang berbaring di rumah sakit dalam keadaan sekarat, kadang-kadang anggota keluarga berharap orang yang mereka kasihi itu tidak terlalu menderita berlarut-larut sampai akhir menjalani sakit seperti ini. Sakit-penyakit, penderitaan dan kesulitan datang ke dalam hidup setiap orang dan di ujung semuanya itu kita akan “square” sama-sama yaitu kematian datang menimpa kita. Pada waktu menghadapi ujung dari akhir hidup dan kematian itu  datang, masing-masing kita tidak bisa menolak dan memilih proses dan cara seperti apa kita meninggal.

Puji syukur kepada Tuhan, ketika kita mengerti Tuhan Yesus menderita dan mati di atas kayu salib mengalami proses kematian yang paling dahsyat, paling berat, paling keji dan paling menakutkan yang pernah dialami manusia di atas muka bumi ini, kita diingatkan Ia pernah mengalami semua itu dan membuat hati kita tidak takut lagi terhadap kematian. Kematian di kayu salib adalah bentuk kematian yang paling maksimum yang bisa dirancangkan dan diciptakan pada jaman itu. Proses penyaliban yang dimulai dari penyiksaan dengan dera dan cambuk, dengan paku yang besar ditancapkan di tangan dan kaki, dengan tubuh digantung berhari-hari di atas kayu yang tinggi, perlahan-lahan orang yang disalib akan mati dengan sangat tersiksa. Darah yang sudah memenuhi paru-paru akan membuat mereka sulit sekali bernafas dan penderitaan yang mereka jalani tidak bisa kita bayangkan seperti apa. Itu adalah model penyiksaan yang diciptakan dan dibuat bukan dengan tujuan supaya orang yang disalib itu cepat-cepat mati, tetapi mati dengan perlahan-lahan sampai berhari-hari lamanya. Bukan itu saja, pada malam hari sebelumnya Yesus ditangkap, didera dan disiksa, dengan mahkota duri yang tajam menusuk kepalanya. Sehingga Alkitab mencatat betapa heran tentara Romawi di bukit Golgota saat mereka tahu Yesus hanya dalam waktu 6 jam saja sudah meninggal dunia. Termasuk Pilatus pun heran Yesus meninggal secepat itu. Dalam penderitaan fisik seperti itu satu persatu orang-orang yang Ia kasihi dan cintai, murid-muridNya yang bersumpah akan membela dan mendampingiNya ternyata lari meninggalkan Yesus seorang diri. Sakit secara perasaan hati, loneliness dan betrayal itu dialami oleh Tuhan Yesus.

Semua ini memperlihatkan kepada kita segala perasaan kesulitan, penderitaan, sakit yang engkau alami baik secara fisik dan rohani yang mungkin bisa terjadi di dalam hidupmu ikut Dia yang juga telah Dia alami bagi engkau dan saya. Bukan itu saja, pada malam hari itu sebelum Dia diserahkan dan mati di atas kayu salib dengan cara kematian seperti itu, kita juga diajak untuk belajar bagaimana mengatasi perasaan ketakutan yang mungkin ada dalam hati kita pada waktu kita harus menghadapi uncertainty, menghadapi penderitaan yang tidak bisa kita tolak datang ke dalam hidup kita, menghadapi aniaya yang mungkin dihadapi anak-anak Tuhan. Justru di dalam situasi seperti itu Yesus memberikan kepada kita kekuatan dan penghiburan. Allah itu penuh kasih dan perhatian, Allah merindukan melalui setiap hal yang kita alami boleh memberikan kita kekuatan untuk menjadi blessing bagi orang lain.

  1. Yohanes 13:1 salah satu ayat yang begitu indah membukakan kepada kita apa yang ada di dalam hati Yesus di tengah perjamuan makan terakhir itu, bagaimana perasaan hati Tuhan Yesus sangat menyentuh saya, “Sementara itu sebelum hari raya Paskah mulai Yesus telah tahu bahwa saatnya telah tiba untuk beralih dari dunia ini kepada Bapa. Sama Ia senantiasa mengasihi murid-muridNya, demikianlah sekarang Ia mengasihi mereka sampai kepada kesudahannya.” Siapakah seharusnya yang menerima penghiburan, kekuatan dan kasih yang dalam di tengah-tengah situasi yang seperti itu, murid-murid yang banyak itukah atau Yesus Kristus yang hari itu akan menghadapi segala penderitaan dan kematian? Jelas jawabannya adalah yang seharusnya mendapatkan kekuatan penghiburan lebih daripada yang lain adalah Yesus sendiri, bukan? Tetapi justru di dalam moment seperti itu Yesus menyatakan care dan perhatiannya. Alkitab bahasa Indonesia mengatakan “Ia mengasihi mereka sampai kepada kesudahannya,” until the end. Tetapi itu juga berarti Ia mengasihi mereka sampai “mentok,” itu menjadi lukisan yang lebih dalam. “Until the end” bicara mengenai jarak distance sampai kapan pun Ia mengasihi kita. Tetapi pada waktu memakai kata “mentok” overflow sampai sedalam apapun, Ia mengasihi dengan kasih yang tidak ada habis-habisnya, tidak ada henti-hentinya dan itu adalah kasih yang overflow yang mengalir keluar.

Malam hari itu murid-murid bertengkar satu dengan yang lain terhadap siapa yang lebih penting dan memiliki kedudukan yang paling tinggi di antara yang lain. Malam hari itu mereka tidak mengerti apa yang sedang dialami oleh Yesus Kristus. Kepada murid-murid yang seperti itu Yesus mengatakan care dan kasihNya, sedikit waktu lagi kita akan berpisah, maka Dia menyatakan perhatianNya. Pada waktu Yesus naik ke atas kayu salib Dia tidak mendapatkan kekuatan dan penghiburan dari orang-orang yang Dia kasihi, yang seharusnya berada di sampingNya dan memberikan comfort kepadaNya, tetapi justru Ia melakukan tindakan yang sebaliknya. Ia bukan saja tidak menganggap penderitaan salib dan kematianNya sebagai sesuatu yang patut dikasihani dan disayangkan, Ia justru memakai hal itu sebagai blessing yang mengalir menyatakan cintaNya kepada murid-muridNya. “Tidak ada kasih yang lebih besar daripada seseorang yang memberikan nyawanya bagi sahabat-sahabatnya” (Yohanes 15:13). Pada malam itu Yesus kemudian mengambil kain dan mengikatkan di pinggangNya dan mulai membasuh kaki murid-murid satu persatu.

Kadang-kadang kita tidak bisa mengerti mengapa kita mengalami berbagai macam tekanan, kesulitan dan penderitaan. Tetapi satu hal yang kita harus tanam di dalam hati kita, kita tidak ingin semua yang terjadi itu menjadi sia-sia di dalam hidup kita. Pemahaman kita terbatas, pikiran kita tidak dapat mengerti seluruhnya, “mengapa hal ini terjadi kepadaku?” Tetapi pada waktu engkau dan saya melihat kepada salib itu waktu melihat penderitaan Yesus Kristus, kita harus merubah pertanyaan kita, “mengapa Engkau melakukan semua ini bagiku?” Pada waktu kita sakit dan menderita betapa cepat dan mudah kita sebagai orang Kristen menangis dan berseru kepada Tuhan, “mengapa Engkau membiarkan hal seperti ini terjadi kepadaku, Tuhan?” seolah-olah kita merasa semua kesulitan dan penderitaan itu tidak sepatutnya datang ke dalam hidup kita karena kita adalah anak-anak Tuhan yang setia kepadaNya. Tetapi pada waktu engkau dan saya melihat kepada salib Kristus, mari kita ubah cara kita bertanya, mengapa Engkau menderita dan mati di kayu salib bagiku? Biar penderitaan kesulitan yang datang kepada kita menjadi kesempatan kita bertumbuh secara karakter yang agung dalam hidup kita; biar segala penderitaan kesulitan yang tiba kepada kita boleh menjadi kesempatan bagi kita untuk menyatakan kasih yang boleh menyentuh banyak orang.

  1. Yohanes 14:1-3 bagaimana perasaan yang ada, situasi malam hari itu yang tinggal sedikit lagi, bagaimana perasaan hati murid-murid yang sebentar lagi akan melihat Guru mereka akan mengalami sengsara dan kematian itu. Namun Yesus memberikan kekuatan dan penghiburan bagi mereka, “Jangan gelisah hatimu, percayalah kepada Allah, percayalah juga kepadaKu. Di rumah Bapaku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu. Dan apabila Aku telah pergi menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempatKu.”

Tidak ada satu orang pun yang tidak takut, tidak ada satu orang pun yang tidak kuatir pada waktu mendengar vonis dokter bahwa hidup kita sudah tinggal beberapa waktu lagi. Kita mungkin tidak terlalu memikirkan apa yang akan kita hadapi, namun kita kuatir bagaimana dengan isteri dan anak-anak kita. Jika kita memiliki keluarga yang sedang terbaring di rumah sakit, kita mungkin juga kuatir dan gelisah. Tetapi kita tidak berdaya di tengah situasi yang seperti itu. Perasaan gelisah, kuatir, tidak berdaya dihadapi juga oleh murid-murid Yesus pada malam hari itu menghadapi kematian Yesus. Bukan saja Yesus juga mengalami pergumulan di dalam emosi hatiNya, murid-murid juga demikian. Tetapi dalam situasi seperti itu ayat ini muncul dan menjadi kekuatan yang luar biasa, jangan takut, jangan gelisah, don’t be anxious, jangan kuatir hatimu. Karena kematian bukan menjadi pintu akhir  tetapi justru adalah pintu awal yang kita looking forward untuk melihat apa yang ada di baliknya. Maka Yesus memberikan janji yang membawa kekuatan yang luar biasa, di rumah BapaKu banyak tempat tinggal. Aku pergi ke situ menyediakan tempat bagimu. Kalau tempat itu tidak ada, Aku pasti akan memberitahukannya kepadamu. Kita percaya akan perkataan Yesus karena Ia datang dari situ dan Dia sudah ada di situ dan Dia memberikan janji firman ini kepada kita.

Engkau dan saya dipanggil untuk bertekun ikut Tuhan, terima janji ini pada waktu kita diterpa oleh berbagai macam kesulitan dan penderitaan yang kita alami. Senantiasa berhasrat looking forward satu kali kelak kita akan bertemu dengan Tuhan Yesus Kristus dan dengan orang-orang yang sangat kita cintai. Setiap kali orang percaya meninggal dunia, itu bukan perpisahan dengan mereka, tetapi kita berkata, “See you again, soon.” Itu kalimat yang diucapkan Tuhan Yesus kepada murid-muridNya. Jangan kuatir dan takut, Aku menyediakan tempat bagimu. Aku akan datang membawa engkau ke sana. Satu tempat yang luas, indah dan wonderful, sudah Aku sediakan bagimu.

Pastor Matthew Meek pernah mengkhotbahkan bagian, dia mengatakan waktu Yesus bilang, “Aku pergi ke situ menyediakan tempat bagimu,” bukan artinya Yesus pergi lebih dulu ke surga, bersih-bersih dan mempersiapkan tempat buat murid-murid. Kata “Aku pergi ke situ” maksudnya adalah Yesus harus pergi ke bukit golgota untuk disalibkan sebagai cara untuk mempersiapkan tempat bagi mereka. Bukan surga yang belum bersih dan belum siap, tetapi kitalah manusia yang kotor dan belum bersih, itu sebab Ia naik ke kayu salib untuk mati di sana membersihkan dan mempersiapkan kita. Dengan kalimat itu Yesus melakukan satu tindakan terakhir di kayu salib menebus dosa-dosa kita. Maka janji Tuhan itu indah bagi kita.

Tetapi ada satu perasaan yang sangat menakutkan terjadi, tidak ada perasaan lain pada waktu Yesus akan menghadapi kematian. Yesus tidak takut, Yesus menghibur, Yesus memberikan kekuatan, bahkan di tengah sakit dan penderitaanNya Dia masih melayani dan menjadi berkat. Itulah Tuhan Yesus Kristus yang boleh menjadi contoh teladan kita. Tetapi dari semua perasaan yang dialami Yesus itu ada satu perasaan yang sangat berat menakutkan bagiNya pada saat Dia berdoa di taman Getsemani. Perasaan itu yang membuat Yesus sendiri berkata kepada murid-muridNya, “Berjaga-jagalah dan berdoa bersama Aku karena hatiKu gentar dan takut, seperti mau mati rasanya.” Lukas 22:39-46 mencatat saat Yesus berdoa, peluhNya seperti darah yang bertetesan sampai ke tanah. Mengapa Yesus sampai takut seperti itu? Karena ketakutan itu akan Dia alami pada waktu berada di atas kayu salib ketika Dia berseru, “AllahKu, AllahKu mengapa engkau meninggalkan Aku?” Itu adalah ketakutanNya yang paling dahsyat karena di situ Dia berpisah dengan Allah Bapa. Ketakutan itu menghasilkan peluh yang seperti darah bertetesan ke tanah; ketakutan itu karena Dia tahu betapa dahsyatnya penderitaan berpisah dengan Allah Pencipta, berpisah dengan Bapa yang penuh kasih, di saat itu Dia menanggung segala dosa kita. Dengan demikian dosa itu akan memberikan perpisahan yang begitu menakutkan dengan Allah, itulah hal yang begitu menakutkan Tuhan Yesus. Itulah ketakutan yang sepatutnya membuat hati kita begitu takut. Matius 10:28 Yesus berkata, “Jangan takut kepada mereka yang bisa membunuh tubuhmu, takutlah akan Dia yang bisa membunuh tubuh sekaligus jiwamu.”

Saat memperingati sengara Kristus biar bagian firman Tuhan ini senantiasa mengingatkan kita Yesus sudah menanggung bukan saja penderitaan fisik dan kematian di kayu salib, tetapi juga ketakutan yang begitu dahsyat yang seharusnya kita takuti itu saat Ia menanggungkan segala dosa kita pada diriNya menjadi sesuatu yang kita seharusnya takut di hadapan Allah yang sepantasnya menghukum kita; itu seharusnya kita perlu takut. Kematian Tuhan Yesus Kristus menebus dosa kita; kematian Tuhan Yesus Kristus di atas kayu salib memberikan satu tawaran yang mengingatkan kepada setiap manusia yang berdosa, pada waktu kita bertemu Tuhan dan ketika salib itu menjadi jalan keselamatan yang membereskan dosa-dosa kita, maka itu adalah ketakutan yang sangat menakutkan. Jikalau Anak Allah sendiri berdoa sampai mengeluarkan peluh bagaikan darah yang bertetesan sampai ke tanah seperti itu sampai memohon moment keterpisahan dengan Bapa itu jangan terjadi kepadaNya, betapa menakutkan hidup kita jikalau kita tidak ditebus oleh Yesus Kristus. Maukah kita sekali lagi melalui firmanNya dibawa kepada salib Kristus? Kepadamu yang mungkin belum mengaku percaya kepadaNya, maukah engkau hari ini membuka hatimu menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamatmu yang akan memberikan pengampunan, jalan keselamatan dan pelepasan untuk kita lepas dari ketakutan yang paling menakutkan? Bukan kematian secara fisik tetapi kematian kita secara rohani, terpisah dari Allah selama-lamanya di dalam kekekalan. Bersyukur kepada Bapa yang penuh kasih dan rahmat oleh karena firmanNya sekali lagi boleh berbicara kepada setiap kita, mengingatkan kita supaya pada waktu kita datang kepadaNya kita tidak perlu takut kepada kematian sebab kematian telah dikalahkan oleh Tuhan kita Yesus Kristus. Melalui penderitaanNya di kayu salib kita tidak perlu kuatir dan takut terhadap segala kesulitan dan penderitaan yang kita akan alami sebab Ia telah mengalaminya dan begitu mengerti akan segala pergumulan kita. Kiranya kita tidak lagi kuatir, takut, sedih dan kecewa dan tidak terus terpaku kepada apa yang kita alami. Kita berdoa justru kiranya melalui semua itu kita bukan saja tidak takut, kita boleh hidup penuh dengan sukacita dan damai sejahtera dan menjadikan setiap kesulitan penderitaan itu sebagai berkat yang menguatkan orang lain yang menyaksikannya.(kz)