02. Searching for the True Meaning of Life

Seri Eksposisi Pengkhotbah (2)
Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Tema: Searching for the True Meaning of Life
Nats: Pengkhotbah 2:1-11

Pada waktu kita sebagai orang Kristen bertemu dan berdiskusi dengan orang yang tidak percaya Tuhan berkaitan dengan realita persoalan-persoalan hidup sehari-hari dengan segala kerumitannya, barangkali kita cenderung terlalu cepat memberi jawaban dan menawarkan solusi yang dipandang oleh orang yang tidak percaya Tuhan sebagai jawaban yang tidak realistik dan argumentasi kita tidak berpijak kepada realita yang ada karena terlalu “rohani” seolah-olah kita hanya hidup di awan-awan belaka.

Kitab Pengkhotbah adalah sebuah kitab yang penting sebab kitab ini berposisi dari sudut pandang orang percaya Tuhan yang ingin memberi jawab kepada dunia atas pertanyaan-pertanyaan yang muncul, seolah Pengkhotbah mengundang orang yang tidak percaya untuk duduk sama-sama, bertanya-jawab dan berdiskusi mengenai hal-hal yang ada di bawah matahari. Berangkat dengan argumentasinya Pengkhotbah memimpin pikiran orang tidak percaya, membukakan mereka bahwa segala pencaharian jawaban yang mereka cari di bawah kolong langit ini tidak akan pernah memuaskan pertanyaan mereka, selain mereka kembali kepada Tuhan yang bisa memberikan jawaban atas semua pertanyaan itu.

Maka beberapa pertanyaan yang serius dan dalam muncul dalam kitab ini. Pertanyaan pertama adalah pertanyaan yang minggu lalu sudah kita bahas sama-sama, “Apa untungnya manusia berusaha dengan jerih payah di bawah matahari?” (Pengkhotbah 1:3). Ini pertanyaan yang selalu keluar dari mulut orang setiap kali hendak melakukan sesuatu, ada untung, tidak? Segala sesuatu akan menarik interes orang pada waktu ada untungnya, bukan?

Hari ini kita akan membahas pertanyaan kedua, walaupun pertanyaan ini tidak secara directly muncul di pasal 2 tetapi Pengkhotbah menyatakan suatu retrospeksi ingin menyelidiki segala sesuatu maka dari akhir pasal 1 sampai dengan pasal 2 ini, pertanyaan yang ingin dijawab oleh kitab Pengkhotbah adalah “Adakah segala sesuatu yang kita miliki memberi makna bagi hidup ini?” Mari kita pikirkan sama-sama, apa yang membuat hidup kita bahagia? Apa yang membuat hidup kita bermakna? Banyak orang meletakkan kebahagiaan dan makna hidupnya dengan jawaban ini: “Aku akan sangat bahagia jika aku mempunyai: cinta sejati, suami/isteri/anak , keluarga, banyak teman, pekerjaan yang aku sukai, gereja yang pas, kekayaan, rumah yang indah, kesehatan, kenyamanan, waktu lebih banyak, dan seterusnya, dan seterusnya. Kita merasa begitu yakin dengan memiliki hal itu akan membuat hidup kita menjadi indah, atau sedikitnya hidup kita menjadi lebih bahagia daripada sebelum memilikinya. Tidak heran banyak orang yang seumur hidupnya akan terus mengejar semuanya.

Di pasal 2:1-11 Pengkhotbah menyatakan ada 5 “W” yang orang kira akan membuat hidup ini meaningful, hal-hal yang membawa bahagia dan hal-hal yang selalu dicari oleh orang di dalam dunia ini:

  1. Wine, “Aku menyegarkan tubuhku dengan anggur…” (ayat 3a).
  2. Work, “Aku melakukan pekerjaan-pekerjaan besar…” (ayat 4a).
  3. Wall, “Aku mendirikan rumah-rumah, kebun, kolam…” (ayat 4b-6).
  4. Wealth, “Aku membeli budak-budak, mempunyai banyak sapi dan kambing domba melebihi siapapun…” (ayat 7) “perak dan emas, harta benda…” (ayat 8).
  5. Women, “…yang menyenangkan anak-anak manusia yakni banyak gundik” (ayat 8b).

Inilah semua yang dimiliki dan dicapai oleh Pengkhotbah selama hidupnya.

Dalam pasal 2 ini Pengkhotbah mulai dengan kalimat “Mari, aku hendak menguji kegirangan! Nikmatilah kesenangan!” (ayat 1), pencaharian makna hidup dengan kesenangan dan kegembiraan, segala sukacita dan “pleasure” yang disimbolkan dengan “wine.” Banyak orang berkata kesenangan, kegembiraan dan sukacita itu penting bagi kesehatan jiwa kita. Penulis Amsal juga mengatakan “hati yang gembira adalah obat yang manjur” (Amsal 17:22). Namun engkau dan saya setuju, life is no laughing matters, hidup ini bukan soal ketawa-ketawa. Di dunia ini orang mencari pelarian dari kesulitan dan penderitaan kepada entertainment. Menghindar dari kekuatiran dengan bercanda, mengisi kebosanan dengan acara-acara yang lucu dari televisi, dari youtube, dari acara komedi. Minuman anggur menjadi cara yang dipakainya juga untuk menyegarkan jiwanya dari kekusutan hidup. Namun setelah mengisi hatinya dengan semua itu, Pengkhotbah bilang, aku memenuhi hidupku dengan kegirangan, aku menikmati kesenangan dan sukacita tetapi ternyata semua itu merupakan kekosongan belaka.

Allah kita bukanlah Allah yang tidak suka kita menikmati hidup. Allah kita bukanlah Allah yang suka “spoil our joy.” Allah kita bukanlah Allah yang memberi lalu sesudah itu mengambil apa yang sudah diberinya supaya kita tidak bisa menikmati. Allah kita adalah Allah yang generous, murah hati, Allah yang memberi dengan sukacita dan rahmat. Kita hidup di dunia, kita perlu segala hal yang bisa sustain hidup kita. Kita perlu makan, minum dan sukacita bagi hidup dengan segala jerih lelah kita boleh menikmatinya. Pengkhotbah berkata, “Tidak ada yang lebih baik bagi manusia dari pada makan dan minum dan bersenang-senang dalam jerih payahnya. Aku menyadari bahwa ini pun dari tangan Allah” (Pengkhotbah 2:24). Tetapi waktu kita sudah kumpul semua, mari kita pikirkan baik-baik, bukan ini semua yang menentukan hidup kita.

Ayat 4-6 Pengkhotbah memperlihatkan kehebatan pencapaiannya semua diekspresikan dengan bentuk plural, “pekerjaan-pekerjaan besar, rumah-rumah, kebun-kebun anggur, kebun-kebun dan taman-taman, kolam-kolam untuk mengairi…” Pada waktu orang itu berkata apa gunanya engkau memiliki, mencapai ini semua? Ini semua sia-sia adanya. Kalau kita dengar kalimat seperti itu, kita akan bilang “tunggu dulu, siapa dia yang berkata seperti ini?” Maka sebelum masuk kepada bagian ini, Pengkhotbah menaruh kredibilitasnya dulu mengenai siapa dia, dia adalah seorang raja (1:12), dan bukan itu saja, dia adalah seorang raja yang besar, bahkan lebih besar dari siapapun yang pernah ada sebelum dia. Dia seorang raja yang berkuasa, seorang yang pandai, seorang yang hebat. Dia adalah seorang bisnisman besar, arsitek besar, pembangun besar, pengembang besar, dengan jiwa seni dan skill yang luar biasa. Dia bukan cuma membangun satu tetapi dia membangun banyak rumah, “great works” semua dengan skala besar, mendirikan semua dengan kehebatan teknologi waktu itu. Mari kita bayangkan yang dibicarakan oleh Pengkhotbah di sini seperti istana Versailles dengan segala kemegahannya. Bahkan ayat 8 dia mengatakan begitu banyak perak, emas dan harta benda yang dia miliki, dan mungkin perlu dia tambahkan kalau dia adalah raja Salomo tidak ada orang yang pernah mempunyai isteri dan gundik sebanyak dia. Dari 1 Raja 11:3 kita bisa mengetahui Salomo memiliki 700 isteri dan 300 gundik. Maka dalam hal kredibilitasnya, dia bukan orang bodoh, dia bukan orang yang tidak punya, dia bukan orang yang tidak berkuasa. Dia sudah pernah punya itu semua.

Maka sesudah mengumpulkan semuanya dia lalu bertanya kepada dirinya, apakah hidup hanya seperti ini sajakah? Apakah di balik daripada semua yang kita kumpul dan miliki apakah semua itu memang yang mendefinisikan dirimu dalam mencari makna hidup? Atau sebenarnya ada satu kesadaran di dalam hati kita yang sebenarnya kita menyadari bahwa hidup kita singkat dan terbatas adanya? Orang mengatakan “ini baru hidup yang punya arti dan makna yaitu kalau kita memiliki semua harta benda dan kesenangan makan, minum, banyak gundik, kesuksesan dan achievements yang membuat orang lain terkagum-kagum, ini semua yang membuat my life meaningful, ini yang membuat orang lain menilai aku adalah orang yang sukses dalam hidup, ini yang membuat orang akan hormat dan respek kepadaku.” Pengkhotbah bertanya, “Apakah berarti dengan memiliki semua ini engkau mendefinisikan arti hidupmu, ataukah engkau kumpul semua ini karena sebenarnya ada satu anxiety dalam hatimu yang sadar bahwa hidupmu singkat dan terbatas, engkau tidak bisa menggenggam semua yang ada dengan hidupmu yang terbatas ini?

Mari kita perhatikan di restoran “all you can eat” sampai di situ kita diberi waktu 90 menit untuk makan sekuatnya. Apa yang terjadi? Berbeda dengan kita masuk restoran biasa, kita bisa makan dengan tenang tanpa diburu waktu, dengan restoran “all you can eat” dalam waktu yang dibatasi seperti itu orang akan memakai waktu yang ada dengan mengambil sebanyak-banyaknya, ambil dulu, ambil dulu. Apakah nanti akhirnya bisa dimakan, apakah makanan itu kita suka atau tidak, itu tidak menjadi pertimbangan kita. Yang ada karena kesadaran “waktunya terbatas” kita akan mengambil sebanyak-banyaknya. Sudah sampai di meja akhirnya tidak bisa makan lagi karena kapasitas perut kita juga terbatas, maka restoran itu akan menimbang apa yang tersisa dan kita harus membayar apa yang sudah kita ambil. Saya setuju prinsip seperti itu, itu untuk mencegah manusia tidak serakah. Manusia menjadi serakah bukan karena dia perlu dan harus memiliki semuanya; manusia serakah karena dia sadar hidupnya terbatas maka dia ingin menggenggam itu semuanya. Apa yang terjadi? Akhirnya melihat semua yang dia miliki tidak bisa mengisi dan memuaskan pencaharian makna, maka dia membenci hidupnya, dia menyesali hikmat karena ketika usia tua, baik orang berhikmat maupun orang bodoh sama-sama akan jadi orang pikun (ayat 16) tetapi bukan berarti dia mau membuang hikmat, karena bagaimana pun “hikmat melebihi kebodohan, seperti terang melebihi kegelapan” (ayat 13). Selama hidup di dalam dunia ini kita memerlukan pengetahuan, kecakapan, yaitu pintar, sanggup dan mampu, karena dengan semua itu kita bisa hidup dan berjalan di dalam terang daripada orang yang bodoh berjalan dalam kegelapan.

Jelas ini semua perlu dan penting tetapi ini semua tidak bisa engkau bawa sampai mati. Pengkhotbah berkata, “Aku membenci segala usaha yang kulakukan dengan jerih payah di bawah matahari sebab aku harus meninggalkannya kepada orang yang datang sesudah aku” (ayat 18). “…harus meninggalkan bahagiannya kepada orang yang tidak berlelah-lelah untuk itu…” (ayat 21). Sesudah mati, semua yang sudah dikumpul, orang lain yang ambil dan menikmati. Waktu sudah berada di bawah kolong langit ini akhir hidup semua orang akhirnya sama.

Leo Tolstoy pernah bercerita tentang seorang yang hendak membeli tanah dari seorang pemilik tanah. Pemilik tanah itu meminta sejumlah uang dan mengatakan besok pagi-pagi sekali datang kemari membawa patok dan tali. Semua tanah ini bisa engkau miliki sejauh kakimu melangkah mematok tanah sampai matahari tenggelam. Mendengar hal itu, betapa senang orang ini sehingga semalam-malaman dia tidak bisa tidur membayangkan betapa luas tanah yang akan dimilikinya. Pagi-pagi benar datanglah dia dan mulai mematok tanah itu, tidak sabar berjalan, dia berlari sejauh-jauhnya sampai sore hari, tanah yang dijalaninya sudah begitu luas sampai tidak kelihatan lagi. Dia berlari sekencang-kencangnya untuk bisa sampai kembali ke titik pertama dia mematok sebelum matahari tenggelam dan dalam kelelahannya akhirnya dia terjatuh di tempat itu dan mati. Maka dikuburlah dia di tanah itu dan luas kubur yang diperlukannya adalah 2×1 meter saja. Leo Tolstoy bertanya, how much land does a man need in this world? Hanya 2×1 meter saja. Di atas “bong pay” atau batu nisannya boleh megah, sampai di bawah, semua sama saja. Itu pelajaran yang diberikan oleh filsuf Diogenes kepada raja Alexander Agung. Kita tentu pernah mendengar nama Alexander Agung, seorang raja besar yang menaklukkan begitu banyak daerah Yunani, Mesir sampai dengan India, Pakistan dan sebagian daerah Afrika. Kekuasaannya begitu luar biasa yang dia raih pada usia yang sangat muda, dari umur 20 tahun sampai akhirnya dia meninggal dunia pada umur 33 tahun saja, meninggal karena kelelahan akibat ingin menaklukkan, mengalahkan dan membuat kerajaannya terus ekspansi. Suatu hari raja menemukan Diogenes berdiri seorang diri di dataran luas mengamat-amati setumpuk besar tulang-belulang. Raja bertanya apa yang Diogenes sedang amati, Diogenes menjawab, “Aku sedang mencari-cari tulang-belulang ayahmu, Philip, tetapi aku tidak bisa membedakannya dari tulang-belulang para budak.” Selama dia hidup, seorang raja bisa mengenakan baju apa saja, dia bisa menaruh predikat apa saja. Tetapi setelah dia mati dan dikubur, yang tersisa hanyalah tulang-belulangnya saja, yang pada akhirnya tidak bisa dibedakan, semua tulang orang sama.

Hal yang kedua Pengkhotbah ingin angkat argumentasi di pasal 2 ayat 20-23, “Dengan demikian aku mulai putus asa terhadap segala usaha yang kulakukan dengan jerih payah di bawah matahari. Sebab kalau ada orang berlelah-lelah dengan hikmat, pengetahuan dan kecakapan, maka ia harus meninggalkan bahagiannya kepada orang yang tidak berlelah-lelah untuk itu. Ini pun kesia-siaan dan kemalangan yang besar. Apakah faedahnya yang diperoleh manusia dari segala usaha yang dilakukannya dengan jerih payah di bawah matahari dan dari keinginan hatinya? Seluruh hidupnya penuh kesedihan dan pekerjaannya penuh kesusahan hati, bahkan pada malam hari hatinya tidak tenteram.”

Setelah memiliki semuanya, benarkah hidupmu bahagia? Mengapa pada malam hari engkau tidak bisa tidur? Mengapa pada malam hari hatimu tidak tenteram? Mengapa setelah memiliki semua itu hati tetap penuh dengan kegelisahan, putus asa dan kekecewaan?

Ada aspek lain yang Pengkhotbah ingin perlihatkan selain hidup ini pendek dan singkat, yang namanya “the rule of life.” We thought that we own things, we don’t realise that things can own us. Kita pikir kita memiliki semua hal-hal itu, tetapi kita tidak menyadari bahwa hal-hal itu bisa menjerat dan menguasai hatimu. Seringkali pada waktu kita bilang kita memiliki sesuatu, kita lupa mereka bisa menjerat dan menguasai hati kita juga. Kita pikir barang yang kita miliki itu bersifat pasif pada dirinya, tetapi manusia seringkali lupa itu adalah separuh kebenaran, karena pada saat yang sama dia secara aktif memiliki hati kita. Itulah yang membuat hidup kita susah dan sengsara. Malam hari tidak bisa tidur dengan tenteram, tidak ada damai dan sukacita, takut dan kuatir kehilangan.

Ada satu keluarga membeli sebuah apartemen tua yang punya karpet yang sudah tua dan lapuk. Mereka begitu senang tinggal di apartemen ini meskipun karpetnya sudah berbau lembab, ada banyak bercak-bercak dan sisa makanan jatuh di situ. Di vacuum bagaimanapun tetap bercak-bercak itu tidak bisa hilang. Anak makan dengan senang, mereka bisa main berguling-guling di karpet itu. Lalu setelah beberapa waktu kumpul uang, akhirnya mereka bisa mengganti karpet yang baru. Senang sekali, sekarang mereka punya karpet baru. Begitu sudah karpet baru, apa yang terjadi? Mulailah mereka berjalan dengan hati-hati di atas karpet itu. Waktu anaknya tidak sengaja menjatuhkan makanan di atasnya, semua berteriak histeris dan mama segera mencoba membersihkannya supaya tidak ada bekas. Sejak hari itu tidak pernah lagi mereka bisa sebahagia dulu sewaktu mereka masih punya karpet yang tua.

Jikalau sebagai anak-anak Tuhan kita mengalami hati kita telah dijerat dengan segala hal yang kita miliki, segala pencapaian kita telah menjadi “menara kesuksesan” dan “piala kemenangan” kita. Hidup kita terus mengejar semua itu; hidup kita mencari semua itu dan semakin kita memperolehnya semakin kosong hati kita, semakin besar penuntutan diri untuk memiliki dan mencapai lebih lagi. Jikalau hidup kita sudah dijerat dengan “addictions” seperti itu, hari ini firman Tuhan memanggil kita untuk kembali kepadaNya. Hanya Tuhan yang bisa melepaskan kita dari semua jerat itu. Pada waktu kita memiliki dan mendapatkan sesuatu, mari kita memikirkan semua itu datang ke dalam hidup kita, apa yang Tuhan mau melalui semua itu menghasilkan sesuatu yang indah dalam hidup kita.

Maka tidak heran Yesus berkata dalam sebuah perumpamaan mengenai seorang tuan yang hendak mengadakan perjamuan besar dan menyuruh hambanya mengantarkan undangan kepada tamu-tamunya. Tetapi mereka semua menolak dan tidak mau tidak hadir dengan memberikan alasan-alasan yang sebetulnya tidak beralasan: “aku baru membeli ladang dan harus pergi melihatnya” bukankah yang normal sebelum membeli sudah melihatnya lebih dulu?; “aku baru membeli lima pasang lembu dan harus pergi mencobanya” bukankah sebelum membeli seharusnya sudah mencobanya dulu?; dan alasan yang paling beralasan, “aku baru kawin.” Yesus mengatakan orang-orang ini akhirnya kehilangan kesempatan untuk menikmati kerajaan Allah bukan karena mereka berkekurangan tetapi hati mereka lebih memikirkan semua yang mereka punya dan di dalam segala kelebihan semua itu akhirnya merintangi mereka (Lukas 14:15-24).

Maka hari ini Pengkhotbah membawa hati kita untuk merenungkan, betulkah semua yang engkau kejar, semua yang engkau inginkan dan semua yang engkau miliki itu menjadikanmu bahagia? Betulkah di situ semua engkau temukan makna hidupmu? Tuhan kasih, Tuhan beri, jangan selalu pikir kita memiliki semuanya dan kita bisa mengontrolnya. Selalu harus sadar jangan sampai semua ini menjerat dan mengontrol hati kita. Pada waktu hal itu terjadi maka berlakulah hal yang sama seperti Pengkhotbah, “seluruh hidupnya penuh kesedihan dan pekerjaannya penuh kesusahan hati, bahkan pada malam hari hatinya tidak tenteram.” Semua yang kita miliki tidak mendatangkan kebahagiaan sejati dalam hidup kita. Pada waktu moment itu terjadi kiranya itu menjadi satu panggilan warning untuk kita mencari “the true meaning of life” di dalam Tuhan.(kz)