KEPUTUSAN DI TENGAH DILEMA

Eksposisi Surat Roma (41)
Pdt. Effendi Susanto STh.
5/9/2010
Roma 14:13 – 15:7

Dalam bagian firman Tuhan ini rasul Paulus memberikan prinsip-prinsip bijaksana bagaimana menangani relasi di antara manusia yang begitu delicate luar biasa, sehingga seperti barang pecah-belah, please ‘handle with care’ karena kalau sudah pecah, sulit untuk bisa diperbaiki. Sama seperti seorang pelari 100m lari sendiri gampang, tetapi kalau kakinya diikat dengan kaki orang lain dan disuruh lari bersama, di situ baru kita menemukan kesulitan yang tidak gampang. Yang larinya cepat harus bagaimana dengan sabar menunggu yang lambat, yang lambat bagaimana mensinkronkan larinya supaya sama-sama bisa jalan dengan baik, kalau tidak akhirnya dua-dua jatuh bergulingan. Maka dalam Roma 14 dan 15, dua pasal ini Paulus dengan teliti dan hati-hati memberikan prinsip firman Tuhan bagaimana dengan bijaksana menangani hubungan antar manusia, dalam komunitas antar sesama anak-anak Tuhan itu.
Memegang erat-erat keyakinan sendiri mungkin bukan hal yang sulit. Tetapi setelah punya keyakinan sendiri, bagaimana kita tidak terjatuh dalam sikap menghakimi orang lain, bagaimana tidak memfitnah orang lain, itu bukan merupakan hal yang gampang. Maka kepada orang Kristen yang imannya lemah Paulus mengatakan, jangan menghakimi orang lain. Lalu kemudian di sisi yang lain kepada yang imannya kuat Paulus bilang jangan menghina orang, terima orang dengan lapang hati. Dua panggilan firman Tuhan ini mencakup hubungan di antara sesama manusia yang memiliki pandangan yang berbeda, keyakinan yang berbeda, yang bagaimana bisa duduk sama-sama dengan harmonis. Bagaimana mengambil keputusan pada waktu mungkin keputusan yang kita ambil itu berbeda pendapat dengan yang lain? Ini hal yang lumrah kita alami, bukan? Di antara suami isteri meskipun sama-sama anak Tuhan yang mengasihi Tuhan, tetapi kadang-kadang dalam mengambil keputusan di tengah keluarga kita pun bisa berbeda pendapat. Di tengah gereja kita mungkin juga memiliki prinsip dan pandangan yang berbeda sehingga kadang-kadang kita perlu bagaimana memikirkan supaya pandangan yang berbeda itu bisa berjalan dengan harmonis sehingga menghindarkan perselisihan dan perpecahan.
Di sini kita menemukan beberapa prinsip yang penting Paulus berikan sebagai pegangan di saat kita menghadapi perbedaan dan dilema.
1. “Terimalah orang yang lemah imannya tanpa mempercakapkan pendapatnya” (Roma 14:1). Terjemahan dalam bahasa Inggris mengatakan, “Accept one another without quarrelling over disputable matters.” Dalam Etika Kristen ada satu istilah dalam bahasa Yunani yang dipakai yaitu “adiaphora” untuk menekankan subject matters yang Alkitab tidak perintahkan dan yang Tuhan tidak larang, berarti ini masuk ke dalam satu wilayah kebebasan orang. Di tengah kebebasan itu mungkin dalam satu subject matter orang Kristen yang satu mengambil keyakinan yang berbeda dengan orang Kristen yang lain, itu tidak merupakan sesuatu persoalan. Di dalam Roma 14 Paulus mengangkat tiga hal yang masuk wilayah disputable matters yaitu soal makan daging, soal superstitious terhadap hari-hari tertentu dan soal minum wine, tiga hal ini bisa kita simpulkan Paulus bicara dari konteks bagaimana sikap orang Kristen berkaitan dengan soal tradisi dan kebudayaan. Yang jadi problem adalah karena hal-hal itu sudah menjadi tradisi dan kebudayaan tertentu yang berjalan terus, seringkali kita tidak lagi sadar itu bisa dikaitkan dengan iman kepercayaan. Maka bagaimana mengambil pilihan di dalam persoalan budaya? Budaya itu memiliki tiga aspek:
1. Di dalam budaya ada aspek tata krama.
2. Di dalam budaya ada aspek seni.
3. Di dalam budaya ada aspek kepercayaan dan penyembahan.
Kita tidak mungkin lepas dari kebudayaan karena itu adalah jubah kita, waktu kita lahir kita sudah melekat dengan kebudayaan itu. Warna kulit, tradisi, kebiasaan, tata krama kesopanan dan sebagainya, itu aspek yang ada dalam kebudayaan. Sebagai orang Kristen bagi saya aspek ketiga ini yang perlu kita perhatikan yaitu aspek kepercayaan dan penyembahan. Kita bisa bertemu dengan orang Afrika yang sudah menjadi Kristen, dia tetap akan hidup sebagai orang Afrika yang memiliki kebudayaan sebagai orang Afrika. Kita bisa bertemu dengan orang Cina yang percaya Tuhan Yesus, dia tetap menjadi orang Cina Kristen. Maka di dalam hal-hal seperti ini, orang akan bertanya, sebagai seorang Cina, boleh tidak nanti dia menikah melakukan ‘te-pai’? Itu adalah satu kebudayaan jual teh yang paling mahal. Saya selalu bilang, silakan lakukan kepada orang tua, tetapi jangan te-pai kepada nenek moyangmu yang sudah meninggal karena situasinya tricky, berkaitan dengan unsur hormat dan penyembahan di situ. Jadi jelas ada bagian budaya yang bisa diseparasi tetapi ada bagian dalam budaya yang seninya sudah bercampur dengan penyembahan. Prinsipnya Paulus bilang kalau itu adalah suatu budaya dan orang berbeda pandangan denganmu, sebagai orang percaya mari kita belajar menghargai, menerima satu dengan yang lain.
2. Di dalam Alkitab sendiri Tuhan memberikan prinsip bagaimana melihat pengambilan keputusan itu tidak memiliki level yang sama. Ada firman Tuhan berbentuk perintah/command, ada yang berbentuk larangan/prohibition, ada yang berbentuk nasehat/counsel, dan ada yang berbentuk pujian/praise. Alkitab mencatat beberapa kali Tuhan Yesus terkejut heran dan memuji iman seseorang. Salah satunya Tuhan Yesus memuji iman dari seorang janda miskin yang memberi persembahan di Bait Allah (Markus 12:41-44). Janda miskin ini memberikan seluruh uang yang dimilikinya. Di bagian lain ada peristiwa Daud memuji beberapa pasukannya yang waktu mendengar Daud ingin sekali minum air dari sumur di Yerusalem yang sudah direbut oleh orang Filistin, dengan berani mereka datang dan mengambil air dari sumur itu (2 Samuel 23:13-17). Ini yang saya sebut masuk ke dalam wilayah pujian yang berarti orang itu melakukan sesuatu lebih daripada apa yang dituntut, dan hal-hal seperti itu adalah keputusan dan pilihan mereka, yang tidak boleh kita ambil menjadi satu keharusan bagi setiap orang Kristen yang lain. Pada waktu kita memberi kepada Tuhan lebih daripada yang ada pada kita dengan sukacita, itu berada di dalam wilayah pujian. Salahlah kalau seorang hamba Tuhan di atas mimbar menuntut jemaatnya untuk wajib memberikan persembahan seperti janda itu, menyuruh semua orang membuka dompet dan menaruh semua perhiasan mereka ke dalam kantung persembahan. Sebagai hamba Tuhan saya tidak bisa mengharuskan seperti itu. Tetapi kalau ada orang di tengah-tengah kebaktian tergerak untuk memberi semua miliknya kepada Tuhan, itu masuk ke dalam wilayah pujian.
Lalu bagaimana mengambil keputusan terhadap hal-hal yang bersifat “adiaphora,” yang Alkitab tidak perintahkan dan yang Alkitab tidak larang kepada kita?
1. Dalam hal-hal seperti itu Paulus sebagai hamba Tuhan hanya bisa memberi nasehat dan anjuran, tetapi tidak memaksakan pendapatnya untuk dijalani. “Hal ini kukatakan kepadamu sebagai kelonggaran, bukan sebagai perintah” (1 Korintus 7:6). Dalam Etika Kristen, ini masuk dalam wilayah “Counsel.” Contoh kasusnya, kepada janda-janda yang ditinggal mati oleh suaminya, apa nasehat Paulus bagi mereka? “Kepada orang-orang yang tidak kawin dan kepada janda-janda aku anjurkan supaya baiklah mereka tinggal dalam keadaan seperti aku. Tetapi kalau mereka tidak dapat menguasai diri, baiklah mereka kawin” (1 Korintus 7:8-9 dan 1 Timotius 5:14). Tetapi Paulus tidak minta semua janda untuk menikah. Di sini tidak ada perintah atau larangan namun sebagai hamba Tuhan dia menasehatkan para janda terutama yang sudah tua untuk tetap tinggal seperti itu karena menurut Paulus lebih berbahagia baginya, tetapi Paulus tidak melarang kalau mereka memilih untuk menikah lagi dan itu tidak melanggar prinsip firman Tuhan (1 Korintus 7:39).
Maka dari beberapa contoh ini kita bisa melihat bijaksana dari firman Tuhan bagaimana kita mengambil keputusan. Sebagai anak Tuhan kita harus belajar membedakan mana wilayah perintah Tuhan, mana wilayah kebebasan. Waktu masuk ke dalam wilayah kebebasan, orang Kristen mungkin mengambil keyakinan yang berbeda-beda, kita harus menghargai pilihannya.
2. Kalau sdr berada di dalam keputusan terhadap persoalan-persoalan yang diperdebatkan, engkau dan saya silakan kembangkan keyakinan kita sendiri-sendiri. Paulus mengatakan, “…hendaklah setiap orang benar-benar yakin dalam dirinya sendiri” (Roma 14:5b). Tiga kali Paulusmemakai kata ‘yakin’ di dalam Roma 14. Di ayat 14 Paulus mengatakan, “Aku tahu dan yakin dalam Tuhan Yesus bahwa tidak ada sesuatu yang najis dari dirinya sendiri…” Ada orang Kristen yang masih terjebak di dalam kebudayaannya yang sulit sekali melepaskan. Maka meskipun Paulus mengatakan semua makanan tidak ada yang haram karena semua Tuhan ciptakan dan kita terima dengan syukur itu menjadi makanan yang baik bagi kita. Di ayat 22 Paulus mengatakan, “Berpeganglah kepada keyakinan yang engkau miliki itu bagi dirimu sendiri… berbahagialah dan jangan kamu menghukum diri sendiri.” Kalau sudah pegang keyakinan sendiri sebagai hubungan kita dengan Tuhan, artinya waktu ketemu dengan orang yang keyakinannya berbeda dengan kita, Paulus ingin kita belajar simpan itu untuk diri sendiri, tidak keluar kata menghina tidak keluar kata menghakimi. Ini bagian yang Paulus sedang bicarakan di dalam bagian ini. Namun tidak berarti kebebasan itu boleh kita pakai dengan sembarangan. Yang Paulus bilang, setelah engkau ambil keyakinan itu, jaga baik-baik supaya engkau tidak guilty di dalam pengambilan keputusanmu. Jadi bukan didorong oleh rasa bersalah, bukan didorong oleh desakan orang lain, bukan karena malu dan pressure dari orang lain. Yang Paulus inginkan adalah kita ambil hal itu dengan keyakinan kita sendiri, sesudah itu Paulus bilang berbahagialah dengan keputusan yang kita sudah ambil. Tetapi di dalam hal kebebasan itu tetap firman Tuhan memberikan kita dua prinsip penting di dalam menimbang dan memilih sesuatu. “Siapa yang berpegang pada suatu hari yang tertentu, ia melakukannya untuk Tuhan. Dan siapa makan, ia melakukannya untuk Tuhan. Dan siapa yang tidak makan, ia melakukannya untuk Tuhan. Sebab tidak ada seorangpun di antara kita yang hidup dan mati untuk dirinya sendiri. Sebab jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan dan jika kita mati, kita adalah milik Tuhan” (Roma 14:6-8). Berulang kali Paulus menyebut kata “for the Lord.” Waktu engkau memutuskan untuk makan, makanlah untuk Tuhan. Waktu engkau memutuskan untuk tidak makan, engkau tidak makan untuk Tuhan. Keputusan apapun yang engkau ambil, engkau lakukan itu untuk Tuhan.
Seseorang yang mengambil keputusan akhirnya pergi ke pedalaman melayani dengan susah payah, dia ambil keputusan itu untuk Tuhan. Ada yang merasa bahwa dia dipanggil Tuhan untuk melayani justru kepada orang-orang terhilang di kota besar, dia ambil keputusan itu dengan sungguh-sungguh dia lakukan itu untuk Tuhan. Ada yang mengambil keputusan untuk menikah di dalam pelayanannya, dia ambil itu untuk Tuhan. Ada yang mengambil keputusan untuk tidak menikah karena merasa itu membuat dia lebih efektif di dalam pelayanan, dia lakukan itu untuk Tuhan. Tetapi sebelum kita mengambil keputusan apapun, Paulus mengatakan kita perlu “observe.” Kata ini berarti “to evaluate carefully.” Apakah kebebasan yang kita ambil untuk memilih sesuatu itu kita observe dengan baik-baik? Kita tidak boleh sembarangan, walaupun itu jatuh ke dalam wilayah kebebasan kita. Betul-betul keputusan itu “worth living-” kah? Betul-betul keputusan yang kita ambil sudah kita pikirkan matang-matang sebagai hal yang sangat penting dan baikkah? Itu sebab saya percaya bagian dari firman Tuhan ini baik kita kaitkan dengan 1 Korintus 10:23-11:1 karena di situ Paulus bicara sedikit lebih jelas mengenai hal ini. Ayat 23 “Segala sesuatu diperbolehkan tetapi tidak berarti segala sesuatu berguna. Segala sesuatu diperbolehkan tetapi tidak berarti segala sesuatu membangun.” Ayat 29 “Yang aku maksudkan bukanlah keberatan hatimu melainkan keberatan hati nurani orang lain…” Kenapa saya di dalam kebebasanku mengambil keputusan harus memikirkan keberatan hati nurani orang lain? Itu pertanyaan yang umum dan lumrah. Di sini Paulus memberikan beberapa prinsip:
1. Kita bebas melakukan apa saja sejauh Tuhan tidak perintahkan dan Tuhan tidak larang.
2. Tetapi di situ Paulus mengingatkan prinsip kedua, observe baik-baik, tanya kepada diri apakah itu berguna?
3. Apakah itu membangun orang lain? Jangan menjadi batu sandungan bagi orang lain.
4. Apakah setelah sesuatu itu sdr ambil akhirnya malah menjadi pengikat bagi kebebasanmu?
5. Apakah keputusan yang kita ambil itu memuliakan Tuhan?
6. Apakah keputusan yang kita ambil itu mengikuti jejak seperti yang Tuhan Yesus lakukan?
Semua yang kita kerjakan, semua yang kita ambil, semua yang kita lakukan, biar itu memuliakan Tuhan. Pada waktu kita mungkin mengambil keputusan berbeda dengan orang lain, perbedaan itu lumrah karena memang hal itu tidak dikatakan oleh Alkitab dengan jelas, tetapi yang terpenting sesudah pikir matang-matang keputusan itu, ambil keputusan dan be happy. Sudah ambil keputusan menjadi orang Kristen yang tidak makan daging dan hanya makan sayur-sayuran saja, silakan, tetapi sesudah itu jangan bersungut-sungut dan marah melihat orang lain makan daging. Kita ambil keputusan hidup menjadi orang Kristen dengan sederhana, tidak menggunakan barang yang mahal, silakan. Tetapi sesudahnya biar engkau happy dengan keputusan itu. Kembangkan keyakinan masing-masing. Jadikan keyakinan itu sebagai refleksi hubungan kita dengan Tuhan. Itu sebab dengan kata ‘be happy’ mengingatkan kita jangan ambil keputusan dan memilih sesuatu berdasarkan karena guilty feeling, berdasarkan karena desakan dan dorongan orang lain, jangan karena persepsi orang lain, walaupun itu tidak bisa kita hindari dari hidup engkau dan saya. Dan setelah engkau ambil satu keputusan, mari bersukacita dan bahagia dengan keputusan itu sehingga itu boleh menjadi sesuatu keindahan dan berkat bagi orang yang lain.
Maka pegang prinsip ini: pertama, membedakan mana yang termasuk perintah dan mana yang termasuk kebebasan. Kedua, jadi orang Kristen kembangkan keyakinan sendiri. Ketiga, terima orang yang berbeda denganmu dan mengerti prinsip pertanggung-jawaban. Paulus mengingatkan kita jangan sekali-kali menghakimi orang. Sampai di sini saya ajak sdr dengan hati-hati memikirkan perbedaan antara “spiritual discernment” dan “judgmental attitude.” Kita sebagai anak Tuhan dipanggil untuk melakukan spiritual discernment, kemampuan rohani membedakan mana yang benar mana yang salah, tetapi kita tidak boleh memiliki judgmental attitude. Spiritual discernment berarti kita menjadi orang yang memikirkan dengan sungguh, memegang dengan sungguh apa yang menjadi kebenaran yang kita simpan untuk kita. Pada waktu orang lain bertanya kepada kita, kita boleh memberitahukannya kepada mereka. Tetapi pada waktu kita melihat hidup orang lain, kadang-kadang kita tidak bisa melihat dari awal sampai akhir, maka kita belajar percaya apapun yang diambil oleh orang itu biar dia melakukannya untuk Tuhan dan biar dia bertanggung-jawab kepada Tuhan. Ini adalah sikap kita. Kenapa kita tidak boleh melakukan judgmental attitude? Karena kadang-kadang kita tidak sadar orang itu mungkin imannya lemah. Kalimat yang salah keluar dari mulut kita mungkin bisa menjatuhkan dan merugikan iman orang seperti itu. Maka Paulus menasehatkan kita untuk menerima baik-baik orang yang lemah iman. Berarti itu adalah tanggung jawab di dalam diri setiap kita yang memiliki prinsip kebenaran, pikiran yang benar mengenai Alkitab tetapi hati-hati terhadap mungkin orang Kristen yang masih baru, orang Kristen yang punya latar belakang budaya yang bukan Kristen, memiliki perbedaan yang tidak gampang, kita perlu hati-hati di dalam bersikap terhadap mereka. Itu sebab Paulus mengajak jemaat bagaimana mengambil keputusan itu dengan bijaksana.
Terakhir, kalau hal-hal itu berkaitan dengan Alkitab tidak perintahkan atau tidak larang, berarti itu masuk ke dalam kedewasaan rohani, maka kita bisa mengerti kenapa di sini Paulus membedakan antara orang Kristen yang imannya lemah dan yang kuat. Dengan memakai kata ‘lemah’ hanya meminta kita menerima orang itu, tetapi Paulus tidak berarti meminta orang itu untuk terus-menerus berada di dalam kelemahan. Menerima orang yang imannya lemah tanpa mempercakapkan pendapatnya dengan tujuan supaya dia dibangun imannya. Kematangan rohani diperlukan bagi setiap kita pada waktu engkau dan saya mengambil keputusan di hadapan Tuhan. Maka tidak bisa tidak belajar firman Tuhan, mengenal firman Tuhan dengan sungguh dan dalam, memikirkannya dengan matang, itu membutuhkan kedewasaan rohani bagi setiap kita. Apa ciri seseorang yang matang rohaninya? Pertama, orang itu takut kepada Tuhan. Kedua, orang itu rendah hati. Ketiga, orang itu mau diajar oleh firman Tuhan. Keempat, orang itu rajin dengan sungguh mau mengenal firman Tuhan. Kelima, orang itu tulus hati.
Mari kita melihat dua bagian yang penting dan dari sana melihat perlunya pertimbangan kedewasaan rohani di dalam mengambil keputusan.
1. Dalam 1 Tesalonika 3:1 Paulus memakai frase “…we thought it is best…” di dalam mengambil keputusan di dalam pelayanan dia. Memikirkan, menggumuli, memutuskan apa yang terbaik.
2. Dalam Filipi 2:25 Paulus mengatakan, “…I thought it is necessary…” mana yang paling prioritas di dalam pengambilan keputusan. Banyak hal kita inginkan di dalam hidup kita, itu adalah hal yang wajar. Tetapi mungkin tidak semuanya sekaligus datang di dalam hidup kita. Kita perlu menetapkan prioritas dan mungkin kita tidak bisa ambil semuanya, kita belajar untuk mengucap syukur terhadap apa yang Tuhan beri kepada kita.
Paulus di dalam mengambil keputusan di dalam pelayanan pun tidak gegabah dan bilang “Tuhan pimpin saya harus begini begitu…” Jelas saya percaya Tuhan pimpin dia dalam mengambil keputusan, hanya bagaimana cara Tuhan pimpin, Paulus bilang Tuhan memberi prinsip melalui firmanNya, lalu Paulus menggumuli dan memikirkan dengan sungguh-sungguh sebelum mengambil keputusan.
Ada tiga langkah penting di dalam pengambilan keputusan yang Paulus katakan di dalam Roma 1:10 dan 13. Pertama, “aku berdoa…” Kedua, “semoga kehendak Allah…” Ketiga, “aku berencana…” Paulus sudah planning dari dulu, sudah atur dengan baik, sudah pikir matang-matang, cuma belum terealisasi. Tiga hal ini muncul, pertama Paulus berdoa, kedua Paulus bilang “Let the will of God be done…” ketiga, Paulus pikir, Paulus atur, Paulus rencana. Rencana tidak menghilangkan hak Tuhan menetapkan kehendakNya. Mengatakan ‘biar kehendak Tuhan yang jadi,’ tidak berarti Tuhan menutup pikiran manusia yang rasional merencanakan sesuatu. Berdoa supaya kehendak Tuhan yang jadi tidak membuat kita malas merencanakan dengan teratur dan baik. Merencanakan segala sesuatu tidak berarti membuat kita bisa mengontrol apa yang terjadi di masa yang akan datang. Itu sebab kita perlu serahkan kepada Tuhan, meletakkan dengan hati yang rendah di dalam doa.
Melalui firman Tuhan ini terutama Roma 14-15 saya harap kita bisa melihat seluruh rangkaian pengertian ini. Banyak keputusan di dalam hidup kita bersifat adiaphora, dimana engkau akan tinggal, pekerjaan apa yang engkau akan ambil, menikah dengan siapa, berapa banyak anak, bagaimana masa depan kita atur, bagaimana life style hidup, dst. Kebebasan di dalam mengambil keputusan di situ tidak berarti kita boleh semena-mena, perlu masuk ke dalam prinsip firman Tuhan, Tuhan tetapkan prinsip itu sebagai prinsip yang indah di dalam kedewasaan rohani.(kz)