04. Hidup tidak selesai hanya di Sini

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Eksposisi Kitab Pengkhotbah (4)
Tema: Hidup tidak selesai hanya di Sini
Nats: Pengkhotbah 3:16 – 4:6

Perikop yang kita baca hari ini membawa kita merenungkan bagaimana manusia menjalani hidupnya di dunia jikalau dia “disconnect” dengan Tuhan yang di atas. Manusia akan menjalani hidup yang rutin sekedar menyambung hidup. Bangun pagi, bekerja mencari nafkah, mengumpulkan uang, mengisi kebutuhan makan minum dan leisure, membesarkan anak dan keluarga, terus menjalani kerutinan seperti itu. Manusia lahir, besar, tua dan mati. Selesai. Jikalau hidup manusia tidak dihubungkan dengan kekekalan dan dengan Tuhan yang di atas, maka kata Pengkhotbah manusia tidak ada bedanya dengan binatang, “sebagaimana yang satu mati, demikian juga yang satu. Kedua-duanya menuju ke satu tempat; kedua-duanya terjadi dari debu dan kedua-duanya kembali kepada debu” (Pengkhotbah 3:18b-20). Jikalau hidup kita tidak connect dengan Tuhan yang di atas yang memang tidak bisa kita lihat dengan mata jasmani ini, kita tidak bisa menemukan apa tujuan dari hidup kita di dunia ini, apa manfaatnya, buat apa hidup di bawah kolong langit ini?

Pengkhotbah di pasal 1 dan 2 membuka argumentasi dengan mengatakan kalau engkau hidup di dunia mendapatkan segala sesuatu yang baik, yang kemudian engkau kumpul dan himpun, engkau menghasilkan banyak hal, rumah yang besar, pesta pora, kenikmatan makan minum dan pemuasan seksual. Jikalau engkau bisa memiliki semua itu alangkah baiknya, kata Pengkhotbah, namun itukah yang menjadikan hidupmu berarti dan bermakna? Ketika engkau memenuhi hidupmu dengan segala materi, barang-barang mewah dan berbagai assesori, dengan kegembiraan makan minum pesta-pora, apakah semua itu betul-betul yang namanya hidup? Seringkali kita melihat aspek-aspek seperti ini yang terus dikejar dan dicari oleh manusia dengan segenap daya usaha dan dengan segala cara, karena inilah yang kita sebut sebagai “the beauty side of life.”

Tetapi manusia sering lupa atau tidak mau melihat bahwa ada yang namanya “the ugly side of life,” realita yang bisa terjadi kepada siapa saja. Maka pasal 3 Pengkhotbah kemudian membawa kita kepada aspek ini. Ada dua tempat yang Pengkhotbah ajak kita untuk observasi sama-sama, dua tempat yang menciptakan ironi dan tragedi. Tempat pertama adalah di ruang pengadilan justru penuh dengan ketidak-adilan (Pengkhotbah 3:16). Tempat kedua adalah di rumah ibadah yang seharusnya penuh dengan kebenaran dan kesalehan justru penuh dengan kebobrokan dan kemunafikan (Pengkhotbah 4:17). Jikalau seseorang seumur hidupnya terus mendapatkan hal-hal yang baik, dari lahir sampai usia lanjut semuanya berjalan lancar, sehat, kaya, makmur, senang dan bahagia, lalu hidup ini selesai dan dia meninggal dengan tenang dan indah, kita definisikan inilah hidup ideal yang dicari dan dinikmati semua manusia di bawah kolong langit ini. Lalu bagaimana dengan seseorang yang seumur hidupnya terus mendapatkan hal-hal yang buruk, dari lahir sampai mati terus mengalami penderitaan, kemiskinan, tubuh tidak pernah lepas dari sakit-penyakit? Bagaimana dengan seseorang yang seumur hidupnya menjadi korban opresi dan social injustice, ketidak-adilan dan kemelaratan, seperti lumpur yang mengikat dan menelan habis sampai nafas terakhir dihembuskan? Kalau hidup ini hanya hidup yang sekarang ini dan tidak ada koneksinya dengan kekekalan, kalau hidup ini tidak ada koneksinya dengan Allah, engkau sampai akhir hidupmu hanya mendapatkan semua yang baik, mungkin engkau bisa berpikir itulah hidup. Tetapi kalau engkau adalah seorang yang seumur hidup mendapatkan hal yang buruk lalu engkau mati, selesai dan tidak ada apa-apa lagi, adilkah itu bagimu? Kalau seumur hidupmu apa yang engkau punya dicuri dan dirampas orang, kalau seumur hidupmu oleh karena penguasa yang diktator dan sistem masyarakat yang korup membuat engkau menderita sengsara, lalu mati, selesai, adilkah itu bagimu? Kita tahu ada begitu banyak orang yang ditangkap, dipenjara sampai mati tidak ada yang peduli apakah dia bersalah atau tidak, setelah dia mati baru akhirnya penjahat yang sebenarnya tertangkap. Adilkah itu bagi mereka yang tidak melakukan kesalahan itu untuk menjalani hidup seperti itu? Di pihak lain, mari kita lihat kepada orang-orang yang selama hidupnya melakukan kejahatan yang begitu dahsyat dan membunuh begitu banyak orang yang tidak bersalah, melakukan korupsi dan hidup dalam pesta pora di atas penderitaan orang lain, lalu ketika dia mati hidupnya selesai habis. Adilkah itu? Siapa yang meneguhkan keadilan bagi orang-orang yang menjadi korban ketidak-adilan selama hidupnya di dunia ini? Itu sebab pertanyaan ini muncul, adakah keadilan yang betul-betul adil di dalam dunia ini? Orang berusaha dan berjuang untuk membangun keadilan di dalam dunia, orang berusaha membuat sistem dan struktur supaya orang-orang yang lemah dilindungi dan dijaga oleh aturan hukum yang adil dan orang-orang yang jahat diadili dan dihukum sesuai dengan kejahatannya. Tetapi kita menemukan begitu banyak fakta realita seberapa canggih pun sistem keadilan di satu tempat dibuat, tetap itu tidak bisa membuat keadilan yang seadil-adilnya bisa terjadi. Ada orang-orang jahat yang “untouchable” sampai akhir hidupnya tetap tidak bisa disentuh oleh hukum dan keadilan. Pengkhotbah 3:16 “Ada lagi yang kulihat di bawah matahari, di tempat pengadilan, di situ pun terdapat ketidak-adilan, di tempat keadilan, di situ pun terdapat ketidak-adilan…” Inilah aspek the ugly side of life, menjadi keluhan dan teriakan yang tidak bisa dijawab oleh dunia ini. Kita ingin keadilan ditegakkan dan dijalankan, tetapi problemnya adalah bagaimana kalau justru di tempat pengadilan sendiri terjadi ketidak-adilan dan penuh dengan kebobrokan? Siapa yang bisa menangkap dan mengadili seorang diktator yang jahat dan berkuasa? Siapa yang berani menangkap dan mengadili seorang kepala negara yang memegang hukum di dalam genggamannya, yang punya senjata dan bisa membunuh siapa saja yang tidak disukainya? Bagaimana keadilan bisa ditegakkan di situ? Kita menyaksikan banyak orang-orang baik yang memperjuangkan keadilan dan kebenaran justru ditangkap dan dipenjarakan, disiksa, dipancung dan dipenggal kepala. Dimanakah keadilan itu? Jikalau manusia hidup ini tidak ada hubungannya dengan Tuhan, adakah jawaban bagi semua ini? Orang yang sampai akhir hidupnya melakukan ketidak-adilan akankah akhirnya sama dengan orang yang menjadi korbannya?

Waktu kita dibawa berdiskusi sampai kepada point ini, orang yang tidak mau menghubungkannya dengan konsep ada Tuhan yang akan mengadili dengan adil, akan tergelitik hatinya dan mengakui betapa tidak adilnya kalau hidup ini selesai sampai di sini dan orang-orang jahat itu tidak mendapatkan pembalasan sesuai dengan kejahatan mereka. Mereka harus diadili! Tetapi siapa yang akan mengadili mereka? Dan bagaimana keadilan itu ditegakkan? Pengkhotbah menjawabnya di ayat 17, “Allah akan mengadili baik orang benar maupun yang tidak adil…” Kita percaya ada Allah yang akan mengadili semua orang dengan seadil-adilnya di hadapan tahta pengadilanNya, sehingga orang-orang yang tidak pernah diadili dengan adil di atas muka bumi ini tidak mungkin bisa luput dan harus mempertanggung-jawabkan semua kejahatannya. Demikian sebaliknya hal ini akan menjadi penghiburan dan kekuatan bagi orang-orang yang di dunia ini mengalami dan menjadi korban kejahatan dan ketidak-adilan. Selama di dunia mungkin mereka tidak mendapatkan keadilan yang selayaknya, tetapi di depan tahta pengadilan Allah mereka akan mendapatkan keadilan yang seadil-adilnya dari Allah. Kalau mereka tidak percaya ada Allah yang seperti itu, maka mereka tidak bisa mengejar keadilan karena setelah mati, selesai. Allah akan mengadili semua orang, bukan saja orang yang jahat dan tidak benar, tetapi semua manusia tidak akan terluput dan juga akan berdiri di hadapan tahta Allah. Ini satu kebenaran yang tidak gampang dan tidak mudah diterima, karena percaya ada Allah yang akan mengadili semua orang setelah mereka mati berarti kita harus argue dengan orang yang tidak percaya bagaimana hidup sesudah mati. Beberapa orang ateis yang pernah mengalami mati suri dan hidup kembali menyatakan pengalamannya bahwa tidak ada yang namanya hidup di sebelah sana. Banyak orang mencoba ingin tahu ada apakah di seberang sana, adakah kehidupan atau begitu kesadaran habis, selesai?

Menarik luar biasa argumentasi Pengkhotbah ini. Mungkin dia tidak bisa membuktikan adanya kehidupan setelah kematian tetapi sense bahwa hidup tidak berakhir setelah kematian di dunia ini. Tetapi kepada orang yang skeptik Pengkhotbah bilang jangan terburu-buru mengatakan tidak ada kehidupan setelah kematian karena engkau sendiri tidak dapat membuktikan bahwa memang tidak ada kehidupan setelah kematian. Karena bagaimana dengan orang-orang yang tidak pernah mengalami keadilan selama hidupnya, apakah adil bagi mereka kalau setelah mati selesai sudah? Dan siapa yang akan mengadili dan menghukum orang-orang yang jahat yang sampai akhir hidupnya di dunia tidak pernah tersentuh oleh pengadilan yang adil? Adilkah bagi mereka yang selama hidup di dunia bisa dengan seenaknya menindas dan menghancurkan hidup orang-orang yang lemah dan mengisap darah orang yang tidak bersalah?

Pada waktu Pengkhotbah mengatakan ada Allah yang akan menghakimi semua orang, orang yang skeptik akan mengeluarkan dua pertanyaan, ”Siapakah yang mengetahui apakah nafas manusia naik ke atas dan nafas binatang turun ke bawah bumi?” (Pengkhotbah 3:21) maksudnya siapakah yang bisa memastikan setelah meninggal maka nafas atau roh manusia itu naik ke atas sedangkan nyawa binatang turun ke bawah. Siapa yang bisa membuktikan hal itu? Ini pertanyaan misteri yang pertama muncul. Pertanyaan kedua di ayat 22, dalam terjemahan Indonesia mungkin tidak terlalu jelas “Siapa akan memperlihatkan kepadanya apa yang akan terjadi sesudah dia?” Maksudnya adalah siapa yang pernah ke sana, lalu kemudian datang ke sini memberitahu kita bahwa ada hidup sesudah kematian? Ini dua-dua adalah pertanyaan yang terus muncul dan terus menjadi perdebatan pro dan kontra yang menarik. Sehingga peristiwa yang dinamakan “near death experience” selalu menjadi topik yang diceritakan oleh orang-orang yang antusias dan menjadi hal yang ditertawakan oleh orang-orang yang skeptik.

Pengalaman orang yang mati kemudian hidup kembali selalu menjadi peristiwa sensasional. Beberapa orang Kristen yang mempunyai pengalaman seperti itu bisa menceritakan kembali kira-kira apa yang mereka alami dan jumpai di alam sana yang kurang lebih mempunyai kemiripan satu dengan yang lain. Bagi mereka pengalaman itu menjadi pengalaman yang sangat indah, sinar yang terang dan wajah Tuhan Yesus yang menjumpai mereka, juga orang-orang yang mereka kenal dan sanak keluarga mereka yang percaya Tuhan. Rata-rata orang-orang yang pernah mengalami hal ini memperlihatkan bahwa kematian bukan sesuatu hal yang menakutkan bagi orang percaya, bahkan menjadi sesuatu yang perlu dinantikan dengan penuh pengharapan karena apa yang dijanjikan Tuhan di dalam firmanNya semua itu benar adanya.

Berdialog dan berdiskusi tentang dua hal ini dengan orang agnostik dan orang skeptik memang tidak mudah, tetapi mari kita mencoba mengajak mereka berpikir secara logis: dari aspek Anthropological view kita menemukan begitu banyak tradisi dan budaya secara universal yang memperlihatkan ada satu sense kesadaran bahwa hidup tidak selesai ketika seseorang meninggal dunia. Adanya upacara kematian dan penguburan yang mempersiapkan seolah ada kehidupan yang mirip dengan apa yang mereka jalani selama di dunia ini, tidak bisa kita sangkal akan konsep ini. Darimana datangnya konsep seperti ini? Orang-orang dari kebudayaan kuno sekali pun memiliki tradisi mempersiapkan seseorang yang mati dengan segala sesuatu yang berbagai hal yang dianggap perlu untuk hidupnya sesudah meninggalkan dunia ini. Contohnya waktu seorang raja Mesir atau raja Cina meninggal dunia, semua isteri dan selirnya dikubur bersama-sama dia, demikian juga dengan semua harta dan pelayannya, supaya di dunia sana nanti bisa melayani dia. Demikian juga kita lihat kebudayaan Yunani kuno yang meletakkan sepasang koin di mata atau di mulut orang yang meninggal untuk diberikan kepada Charon, sebagai bayaran atau suap supaya dia bisa menyeberangkan jiwa orang mati itu dengan perahunya sampai ke seberang sana. Ada banyak tradisi kuno dari berbagai negara yang begitu kuat memperlihatkan sense seperti itu. Yang menjadi pertanyaan adalah mengapa ada konsep yang seperti ini? Darimana datangnya konsep yang seperti ini?

Dalam teologi Perjanjian Lama perihal hidup sesudah kematian masih menjadi misteri yang tidak Tuhan bukakan dengan jelas, meskipun kitab Ayub atau beberapa Mazmur menyinggung akan hal ini. “TUHAN mematikan dan menghidupkan; Ia menurunkan ke dalam dunia orang mati dan mengangkat dari sana” demikian nyanyian pujian Hana, ibu Samuel (1 Samuel 2:6). Ayub menyatakan pengharapannya, “Tetapi aku tahu: Penebusku hidup dan akhirnya Ia akan bangkit di atas debu. Juga sesudah kulit tubuhku sangat rusak, tanpa dagingku pun aku akan melihat Allah” (Ayub 19:25-26). Puji Tuhan, bagi kita yang hidup sekarang di jaman Perjanjian Baru, konsep kematian tidak lagi menjadi misteri dan menjadi pertanyaan yang terjawab tuntas karena

kita memiliki satu peristiwa sejarah yang telah merubah total konsep mengenai kehidupan setelah kematian tidak lagi menjadi misteri bagi orang percaya karena adanya kebangkitan Yesus Kristus dari kematian. Yesus Kristus mengatakan, “Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepadaKu ia akan hidup walaupun ia sudah mati. Dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepadaKu tidak akan mati selama-lamanya” (Yohanes 11:25-26). Kita bersyukur kita hidup dalam periode dimana kematian dan hidup sesudah mati tidak lagi menjadi suatu misteri bagi kita. Apakah setelah mati kita akan menuju ke sana? Yesus di atas kayu salib sudah menjawab kepada penjahat di sebelahNya, “Hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam firdaus” (Lukas 23:43). Apakah ada orang yang sudah pernah mati lalu kembali ke dunia ini memberitahu kita? Kebangkitan Yesus Kristus memberi jawaban akan hal itu.

Bagi orang yang tidak percaya Tuhan kematian itu misteri tetapi kematian tidak pernah menjadi misteri bagi kita yang percaya Tuhan Yesus Kristus bangkit dari kematian, namun mungkin bagi orang-orang Kristen membicarakan hal kematian juga adalah sesuatu topik yang tidak gampang dan tidak mudah dibicarakan, tetapi kita perlu membahas akan hal ini karena kita tahu bahwa hidup kita tidak selama-lamanya di sini. Sekuat-kuatnya kita menahannya, satu kali kelak kita pasti akan meninggalkan dunia ini. Kita akan selesai pada satu titik, dan biasanya pada titik itu kita akan mempertanyakan pertanyaan-pertanyaan penting berkaitan dengan hidup dan mati. Pengkhotbah 7:2 mengatakan “Pergi ke rumah duka lebih baik daripada ke rumah pesta, karena di rumah dukalah kesudahan setiap manusia; hendaknya orang yang hidup memperhatikannya.” Orang yang bijaksana akan pergi ke rumah duka karena di situ engkau belajar mengenai apa arti hidup di hadapan kematian yang begitu real dan engkau akan memahami lebih dalam makna hidupmu karena kita disadarkan bahwa satu waktu hidup kita juga akan selesai dan giliran kita yang berbaring di situ. Kita tidak akan pernah hidup selama-lamanya. Itu sebab dengan pergi ke rumah duka selesai sampai di rumah kita pasti akan bertanya kepada Tuhan apa yang paling penting dan paling berharga yang hidupku harus menjadi berkat di dalam dunia ini.

Charles Spurgeon mengatakan bagi orang yang usianya masih “prime time” kematian itu serasa masih jauh. Tetapi saat umur kita lewat 50 tahun, 60 tahun, 70 tahun, kematian akan semakin terasa dekat dengan kematian. Jangan merasa kematian itu masih jauh. Alkitab mengatakan kita hidup sekuatnya 80 tahun tetapi jangan pikir kita pasti akan sampai di situ karena siapa dapat menentukan berapa panjang dan pendek hidup kita? Bisa jadi 5 tahun lagi kita sudah tidak ada di dunia ini, bisa jadi mungkin 3 tahun lagi. Martin Luther mengatakan “It is good for us to invite death into our presence when it is still at a distance and not on the move.” Alangkah baiknya kita merenungkan, membicarakan, menggumulkan dan berdialog tentang kematian ketika kematian itu masih jauh daripada hidup kita, karena akan sedikit terlambat jikalau kita baru memikirkannya ketika kematian sudah dekat menghampiri kita. Memikirkan bahwa hidup kita ini akan berhenti di satu titik yang namanya kematian, yang bagi kita orang percaya tidak menjadi misteri lagi. Kita boleh mencerna kalimat-kalimat yang agung dari Yesus Kristus, “Di rumah BapaKu banyak tempat tinggal, jika tidak demikian tentu Aku akan mengatakannya kepadamu…” (Yohanes 14:2). Maka kita menjawab pertanyaan Pengkhotbah, siapa yang sudah pernah pergi ke sana lalu kembali ke sini memberitahukan kepada kita apa yang ada di sana, jawabannya adalah Tuhan Yesus Kristus yang telah mati dan hidup kembali. Satu kali kelak kita akan bersama-sama dengan Dia, hidup di dalam kekekalan. Tidak ada lagi kejahatan dan ketidak-adilan, tidak ada lagi kelaliman dan penganiayaan. Tidak ada lagi air mata dan penderitaan. Allah akan menjadi hakim yang adil yang akan membawa semua orang di hadapan tahta pengadilanNya dan akan mengadili dengan bijaksana dan adil seadil-adilnya. Dan Yesus Kristus akan mendampingi kita dan menjadi Pembela kita yang agung di dalam pengadilan itu. Biarlah perenungan ini mengingatkan kita dengan bijaksana bagaimana kita boleh hidup di dalam dunia yang sementara ini. Bersyukur untuk segala keindahan dan kebaikan yang kita alami sepanjang hidup kita. Kita juga tidak perlu kecewa, putus asa dan marah pada waktu selama di dunia kita menghadapi berbagai ketidak-adilan, tekanan yang tidak baik, cemoohan dari orang-orang di sekitar kita oleh sebab kita tahu hidup kita ada di dalam tangan Tuhan yang baik dan hidup kita tidak berhenti sampai di sini saja. Satu kali kelak kita akan berjumpa dengan Tuhan dan akan berdiri di hadapan tahta Tuhan yang kudus, menerima keselamatan dan segala keindahan di dalam Tuhan kita Yesus Kristus, sekaligus membuat hati kita gentar karena kita akan berdiri di hadapan Tuhan mempertanggung-jawabkan segala hal yang kita lakukan selama di dunia ini.(kz)