03. All in Good Time

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Eksposisi Kitab Pengkhotbah (3)
Tema: All in Good Time
Nats: Pengkhotbah 3:1-15

Kitab Pengkhotbah merupakan satu kitab yang mengajak kita merenungkan segala pertanyaan-pertanyaan yang muncul di tengah problema hidup manusia dalam dunia ini. Pengkhotbah seolah-olah mengatakan, mari kita sama-sama duduk untuk coba berdiskusi dan bertanya-jawab akan pertanyaan-pertanyaan dari pergumulan apa yang dialami oleh manusia di bawah kolong langit ini. Apakah untungnya manusia berjerih payah dan berlelah-lelah, apa makna hidup yang sesungguhnya, dapatkah engkau menemukan makna hidup dengan uang, harta kekayaan, kenikmatan, kuasa dan semua pencapaianmu? Dari pertanyaan-pertanyaan ini Pengkhotbah sampai kepada satu kesimpulan semua itu tidak akan mungkin bisa memuaskan kita; semua itu akan senantiasa menjadi sia-sia selama lubang yang menganga di dalam hati manusia tidak pernah ditutup karena akan terus menjadikan hidupmu tidak pernah puas dan contentment. Lubang itu tidak akan mungkin bisa dipenuhi dengan apa yang ada di dalam dunia ini sebelum kita bertemu dengan Tuhan Allah kita yang kekal yang menjadi kepuasan hidup kita selama-lamanya.

Berbeda dengan kitab Amsal yang mengatakan, “Fear of the Lord is the BEGINNING of all wisdom,” takut akan TUHAN adalah PERMULAAN hikmat (Amsal 1:7), kitab Pengkhotbah mengatakan, “AKHIR kata dari segala yang didengar adalah: takutlah akan Allah” (Pengkhotbah 12:13). Kitab Amsal adalah kitab bijaksana yang menaruh prinsip-prinsip penting yang membimbing anak muda dari sejak awal masuk dunia kedewasaan untuk berjalan dengan tidak menyeleweng. Maka prinsip takut akan TUHAN ini muncul di bagian awal lebih dulu. Ini menjadi prinsip bagi anak muda yang belum berpengalaman, kalau dia berpegang baik-baik menjalani prinsip ini dalam hidupnya maka sepanjang perjalanan hidupnya dia tidak akan melenceng. Baru setelah itu pasal demi pasal Amsal akan memimpin bagaimana mengenali dan menghindari godaan, bagaimana prinsip bekerja sampai bagaimana mendapatkan isteri yang baik, dst. Argumentasi dan approach kitab Pengkhotbah terbalik, dia memulai dengan argumentasi melihat semua yang terjadi di bawah kolong langit ini, memperoleh dan menikmati semua hal yang ditawarkan oleh dunia ini, lalu sampai kepada pasal terakhir baru muncul kalimat itu. Setelah engkau mengalami semua, barulah kita harus mengakui takut akan Allah menjadi prinsip hidup yang paling utama.

Pengkhotbah 3 adalah pasal yang begitu indah dan dalam luar biasa. Satu pasal yang dijalin di dalam puisi kata-kata yang indah sekali, yang dimulai dengan kalimat, “Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apa pun di bawah langit ada waktunya” (Pengkhotbah 3:1). Ayat 1-8 Pengkhotbah menyatakan setiap mahluk yang hidup di bawah matahari ada di dalam keterbatasan dimensi ruang dan waktu. Maka mari kita menyamakan persepsi, bukan saja saya, bukan saja engkau, bukan saja orang lain, bukan saja kita manusia, tetapi semua mahluk yang ada di bawah kolong langit ini tidak ada satu pun yang bisa luput di dalam kefanaan karena semua mahluk berada di dalam batasan ruang dan waktu dan di dalam “seasons” dan masa yang terus berubah dan berganti. Tumbuhan dan hewan juga harus hidup di dalam keterbatasan waktu dan musim sehingga mereka secara insting harus menjalani hidup untuk survive. Di musim panas semut harus mengumpulkan makanannya sebagai persiapan untuk memasuki musim dingin dimana tidak akan ada kesempatan mencari makan. Seberapa banyak makanan yang bisa dia kumpulkan di musim panas akan menjadi persediaan makannya selama musim dingin. Jikalau selama musim panas dia bermalas-malasan, maka dia tidak akan survive melewati musim dingin yang keras.

“Ada waktu untuk lahir, ada waktu untuk mati; ada waktu untuk menanam, ada waktu untuk mencabut” (Pengkhotbah 3:2). Apa artinya hidup di bawah matahari, kita semua takluk, kita semua tidak mungkin bisa lepas dari waktu dan masa dan segala persoalan yang melimitasi hidup kita. Ada waktu, ada masa, ada periode dan ada situasi dalam hidup kita. Dalam perjalanan hidup ini adakalanya kita bisa tersenyum dan tertawa, dan mendapatkan banyak keindahan. Tetapi ada saatnya engkau dan saya tidak bisa menduga sekuat tenaga pun kita mau menghindar dan meluputkan diri dari semua hal-hal yang tidak baik, tetap itu bisa datang ke dalam hidup kita.

“Ada waktu untuk menangis, ada waktu untuk tertawa; ada waktu untuk meratap, ada waktu untuk menari” (Pengkhotbah 3:4). Ada orang bilang, hidup itu seperti roda yang berputar, kita yang ada di bawah yang mengalami kesulitan dan kesusahan, penderitaan dan sakit, kita berharap satu kali kelak ada hari yang baik, cerah dan sehat. Tetapi realita hidup tidak seperti itu. Ada orang yang seumur hidupnya tidak henti-henti terus mengalami dan menjalani hidup yang penuh dengan kesulitan dan penderitaan sampai akhir. Kadang kita tidak mengerti dan ikut sedih melihat seperti itu. Sebaliknya kita juga melihat ada orang yang terus saja seolah berada di atas, terus mengalami suka tanpa pernah ada duka; terus mengalami sukses tanpa pernah gagal; terus mengalami sehat tanpa pernah sakit. Hidup berlimpah dengan tawa dan kegembiraan silih-berganti. Panjangnya kesulitan dan penderitaan setiap orang berbeda-beda. Bagi seseorang mungkin masa gelap hanya ada seketika dan sebentar saja, dan setelah itu cerah kembali. Tetapi ada orang yang mungkin terus silih beganti mengalami kesedihan dan dukacita, mengalami tragedi demi tragedi, orang-orang yang dikasihi meninggal atau meninggalkan dia, belum lagi sakit-penyakit begitu berat menimpanya, usaha bisnis hancur berantakan, hutang membelit leher, dan seterusnya.

Tetapi di dalam segala situasi seperti itu, Pengkhotbah mengingatkan ada waktu dan masa dan ada pengharapan di balik semuanya. Dalam bekerja juga ada masa dan musim, tidak selamanya musim itu adalah musim kita panen dan mengumpulkan hasil, ada waktu untuk membongkar tanah itu, membersihkan dari akar dan batu-batu keras, mencabut rumput dan tanaman liar yang bisa merusak benih yang baik yang kita akan tabur. Ada musim dimana kita harus bekerja mencangkul dan menanam benih, menyiram dan memberi pupuk. Ada waktu untuk menunggu sampai benih itu tumbuh dan menghasilkan buah dan pada waktu yang tepat baru bisa dipanen. Itu semua adalah sifat dari natur alam. Kita manusia selalu punya kecenderungan mau selalu menuai, mau selalu dapat untung, tetapi apakah kita juga bersiap kapan menanam, kapan mencangkul. Belum tentu kita selalu mendapat, kita tahu tidak mungkin kita bisa menuai kalau kita tidak pernah menanam dan mengusahakan. Dan kita tidak mungkin bisa mendapatkan apa yang kita tanam dan usahakan jikalau kita tidak melakukan apa-apa.

Ada waktu semua berjalan lancar, ada waktu kesulitan dan tantangan muncul. Ada waktu semua yang kita rencanakan berjalan baik, ada waktu semuanya gagal. Ada waktu menikmati bonus dan keuntungan dari hasil kerja dan bisnis, ada waktu merugi dan kehilangan pekerjaan. Bukan saja itu bicara akan hal-hal di luar hidup kita, di dalam hidup kita, kita juga tidak bisa lepas daripada limitasi waktu itu. Ada waktunya kita lahir, ada waktunya kita mati. Kalau semua orang tidak bisa luput dari hal ini dan tidak bisa menghindar mengalami situasi seperti ini, maka apakah ini yang namanya nasib? Apakah ini sesuatu yang akhirnya harus kita terima apa adanya sebagai takdir suratan tangan? Apakah kita hidup di dalam dunia tidak bisa lepas dari guratan sehingga kita hanya pasrah menjalani hidup ini apa adanya? Ini satu hal yang penting kita memahami sebagai orang Kristen.

Pengkhotbah 3:9 sekali lagi mengulang pertanyaan yang muncul di pasal 1:3 “Apakah untung pekerja dari yang dikerjakannya dengan berjerih payah?” Dalam hidup ada fase seorang anak kecil terus bertanya penuh dengan antusiasme ingin mencari jawab dari segala yang dia observasi di depan matanya. Tidak habis-habis keluar pertanyaan ini apa, itu apa, kenapa, dan seterusnya siang dan malam. Kadang-kadang menjadi orang tua kita sedikit terganggu dengan pertanyaan-pertanyaan yang mereka tanyakan tidak habis-habisnya. Sebagai orang tua kita merasa ini fase yang sangat melelahkan sehingga kita menyuruh mereka jangan terus bertanya. Tetapi sejalan dengan waktu kita harus mengakui setelah kita mulai menanjak dewasa, kita mulai berhenti bertanya. Kenapa? Karena kita pikir kita sudah dewasa dan sudah mengetahui semua jawabannya. Padahal bisa jadi jawaban yang kita punya bukanlah jawaban yang sebenarnya dan sesungguhnya. Kita pikir kita sudah tahu apa yang menjadi jawaban bagi pertanyaan-pertanyaan hidup kita, maka kita akan terkejut sampai akhirnya kita dipojokkan dengan pertanyaan yang mengganggu apa yang selama ini kita pegang dan kita percaya sebagai hal yang benar. Di tengah kerutinan kita hidup, bangun pagi, bekerja, pulang tidur, tiba-tiba muncul pertanyaan di benak kita, “Apakah artinya hidup seperti ini? Apa sebenarnya makna dari hidup yang aku jalani ini?” Ini harus menjadi pertanyaan yang penting menggelitik dan mengganggu hati kita, sebab pertanyaan ini memberitahukan kepada kita bahwa walaupun kita sama dengan mahluk yang lain, sama dengan segala yang ada di bawah kolong langit ini, ada bedanya kita dengan mereka karena kita mempunyai pertanyaan-pertanyaan seperti ini. Hidup ini bukan sekedar siklus; hidup ini bukan dimengerti sebagai nasib dan suratan takdir; kita tidak melihat makna hidup seperti itu.

Pertanyaan mengenai makna hidup menjadi pertanyaan dari manusia sepanjang jaman yang mereka terus mencari jawabannya. Di dalam arus agama-agama timur akan mengajar kepada pengikutnya untuk pasrah menerima semua sebagai garis nasibnya. Kalau seseorang pergi ke kuil untuk mencari orang pintar membaca “kua mia” atau membaca garis tangan sudah nasibnya begini, meninggal umur sekian, dan sebagainya, mungkin orang itu tidak mau terima garis tangannya, dia lalu operasi plastik, bisakah? Atau melihat posisi tahi lalat, kalau dekat dengan mata, artinya sepanjang hidupnya dia akan selalu dipenuhi oleh kesedihan dan selalu menangis, dsb. Jadi, tahi lalat dimana yang posisinya bagus? Manusia seperti itu. Ada orang yang terus dipengaruhi oleh ramalan bintang, feng shui, mencoba membaca garis hidup dan masa depan.

Tetapi di pihak lain meskipun manusia menerima fakta hidup ini ada dalam limitasi waktu dan masa, namun manusia berusaha untuk mencoba keluar dan lepas dari hal itu dengan berbagai usaha dan cara. Itu adalah tendensi manusia yang sangat berbeda dengan hewan dan binatang. Meskipun binatang mengalami hidup dalam masa dan musim, mereka menjalani hidupnya dengan insting untuk survive, tetapi mereka tidak mempunyai daya dan kemampuan untuk merubah apa yang mereka alami. Berbeda dengan kita, kita adalah manusia yang tidak mau diikat oleh keterbatasan itu. Manusia melihat dan mempelajari siklus dan musim, sebelum memasuki musim panas persiapkan diri dan cegah supaya tidak terjadi kebakaran hutan yang besar, simpan cadangan air dan makanan dalam musim kering, demikian juga manusia bersiap memasuki musim dingin yang panjang. Ketika penyakit muncul, manusia berusaha mencari obat dan berbagai pencegahan agar tidak menyebar luas. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dihasilkan karena manusia tidak mau hanya berpasrah diri di dalam keterbatasannya. Di situlah kita menyaksikan hal seperti ini hanya ada pada manusia karena ada suatu aspek dalam hidup kita yang tidak bisa dibatasi oleh dimensi waktu dan masa itu. Itulah aspek yang dituliskan dalam Pengkhotbah 3:11 “Allah memberikan kekekalan dalam hati manusia.”

Apa itu “kekal”? Kekal berarti dia tidak diikat oleh dimensi ruang dan waktu. Pertanyaannya, berapa panjangnyakah kekekalan itu? Berapa dalamnyakah kekekalan itu? Berapa luasnyakah kekekalan itu? Tinggi badan kita terbatas, 170cm saja. Umur kita terbatas, Alkitab bilang umur kita 70 tahun atau paling kuat 80 tahun saja. Tetapi ada satu dimensi dalam hidup kita yang namanya kekekalan yang panjangnya lebih daripada tinggi badan dan tidak bisa diukur dengan panjangnya usia kita. Bahkan kalau pun orang bisa hidup sampai 900 tahun, itu tetap tidak bisa dikatakan sudah kekal karena kekal lebih daripada itu. Jadi apa kekal itu sesungguhnya? Sifat kekekalan dalam diri manusia membuat manusia memiliki satu insting dasar bahwa hidup ini tidak berakhir di kuburan. Yang kedua, ada “longing,” ada rasa lapar dan ada kerinduan dalam hati manusia yang tidak bisa diisi, dipenuhi dan dikenyangkan dengan apa yang dicipta oleh manusia dan didapat oleh manusia. Hal itu hanya bisa diisi oleh “sesuatu” yang kekal. Kenapa ada longing itu, Alkitab di sini jelas mengatakan karena ada kekekalan yang ditaruh oleh Allah di dalam diri manusia, yang memberikan kesadaran dan membuat manusia tahu hidup ini berarti dan bermakna pada waktu kekekalan dalam hati kita itu diisi oleh dirinya Allah sendiri. St. Agustinus, bapa Gereja pernah mengatakan, “You have made us for Yourself, o Lord, and our hearts are restless until they rest in You.” Dan yang ketiga, sifat kekekalan itu yang membuat manusia terus mencari makna dan tujuan hidup.

Jean Paul Sartre seorang filsuf Eksistensialis Perancis yang ateis mengatakan, “It was true I had always realised it – I hadn’t any right to exist at all. I had appeared by chance, I existed like a stone, a plant or a microbe. I could feel nothing to myself but an inconsequential buzzing. I was thinking that here we are eating and drinking, to preserve our precious existence, and that there’s nothing, nothing, absolutely no reason for existing.” Betapa kasihannya orang yang tidak mau percaya bahwa Tuhan itu ada, bahwa Tuhan menciptakan manusia dengan tujuan dan makna dan bahwa hidup yang Allah berikan adalah persiapan bagi hidup yang akan datang. Kalau orang tidak percaya ada Allah dan kekekalan, maka setiap manusia harus mengaku jujur seperti dia. Apa gunanya saya makan dan minum? Hanya untuk mempertahankan hidup saja. Setelah itu, selesai. Ada alasan atau tidak untuk hidup? Sama sekali tidak ada. Apa kepentingannya? Apakah saya lebih penting daripada orang lain? Sama sekali tidak ada artinya, seperti batu itu, atau tanaman itu. Betapa kasihan.

Maka dari Pengkhotbah 3 ini ada dua hal muncul.

  1. Manusia dan semua mahluk hidup di dalam dunia ini dibatasi oleh waktu dan masa, semua dibatasi oleh “seasons.” Segala sesuatu yang terjadi dalam hidup manusia bisa menjadi “toils” yang menyusahkan hidupmu, yang membuatmu merasa seolah hidup ini tidak ada makna dan tidak ada artinya. Namun di tengah hidup yang terus berubah, Pengkhotbah memanggil kita untuk mengingat hidup kita tidak hanya menjalani seasons demi seasons, tetapi mengerti bahwa Allah berkarya dan bekerja di dalam seasons untuk menyatakan keindahan pemeliharaanNya. Itu adalah pengakuan kita akan kebesaran dan kedaulatan Tuhan yang tidak pernah bersalah di dalam pemeliharaanNya atas hidup kita yang percaya kepadaNya.
  2. Allah membuat segala sesuatu itu indah pada waktunya dan Allah memberi kekekalan dalam hati manusia. Banyak hal yang Tuhan kerjakan di dalam kedaulatanNya itu misteri bagi kita. Namun tidak ada hal yang terjadi di luar dari pengetahuanNya dan di luar dari rencanaNya, itu semua tepat dan sempurna di dalam keindahan kebaikan daripada kedaulatanNya.

Itu sebab ada dua respons yang Pengkhotbah nyatakan dengan satu pengakuan “I know” atau aku tahu, aku percaya, pertama, “Aku tahu bahwa segala sesuatu yang dilakukan Allah tetap akan ada untuk selama-lamanya, tidak dapat ditambah dan dikurangi. Allah berbuat demikian supaya manusia takut kepadaNya” (3:14). Kadang-kadang kita tidak mengerti, dan kalau kita tidak bisa mengerti, tidak apa-apa. Tetapi yang terutama kita mengakui dari semua rencana dan keindahan Tuhan bekerja itu, biar hati kita melimpah dengan rasa hormat dan takut kepada Tuhan. Kedua, “Aku tahu bahwa untuk mereka tidak ada yang lebih baik daripada bersuka-suka dan menikmati kesenangan di dalam hidup mereka, dan bahwa setiap orang dapat makan, minum dan menikmati kesenangan dalam segala jerih payahnya itu juga adalah pemberian Allah” (Pengkhotbah 3:12-13). Dari ayat ini “tidak ada yang lebih baik” artinya “I will do the best I can.” Kita tidak boleh pasif, seolah karena Allah berdaulat atas segala sesuatu maka kita tidak perlu berusaha dan berbuat apa-apa. Kita tahu apa yang terjadi di dalam hidup kita ada di dalam rencana dan kedaulatanNya. Dengan mengerti hal ini, maka kita berespons dengan sikap ini: pada waktu Tuhan ada dalam hidup kita, Dia menjadi Allah yang sudah menyenangkan dan memuaskan kita di tengah seasons itu. I will do the best I can untuk menjalani dan menikmatinya. Lakukan hal yang terbaik yang bisa engkau lakukan. Makan dan minum dengan hati yang bersyukur kepada Tuhan, menghargai setiap pemberianNya dengan gratitude di dalam hidup kita. Pada waktu kita bersyukur, di situ kita mengaku apa yang datang ke dalam hidup kita tidak datang dengan sendirinya tetapi karena ada yang memberi. Biar hati kita hari ini boleh melimpah dengan syukur, biar kita boleh mengerjakan apa yang ada di tangan kita dengan sebaik mungkin di tengah setiap seasons yang kita alami. Di situ kita katakan Tuhan, apa yang tidak bisa aku lakukan karena di luar kontrol dan kemampuanku, kuserahkan sepenuhnya kepada Tuhan karena kedaulatanNya akan menghasilkan pengakuan iman kita seperti Pengkhotbah ini “Allah melakukan segala sesuatu indah pada waktunya.” Biar hari ini hati kita boleh teduh dan berespons dengan indah kepada firman yang kita renungkan. Kiranya mata rohani kita jangan sampai terkungkung oleh karena kita hanya melihat hal-hal yang terjadi dan masa-masa yang ada dalam hidup kita, keberadaan-keberadaan yang tidak mungkin kita bisa lepaskan dari hidup kita jangan sampai itu membuat kita kuatir, kecewa, takut, marah dan putus asa. Allah yang berdaulat, kekal dan maha bijaksana, yang menciptakan segala sesuatu dengan kedahsyatan kuasaNya adalah Allah yang begitu ajaib dan penuh kasih karunia dan Ia tidak akan membiarkan hidup kita yang remeh, kecil dan sederhana ini lepas dari perhatianNya dan tidak ada hal yang begitu remeh dalam hidup kita yang tidak dipeliharaNya dan tidak ada persoalan yang terlalu besar bagi Tuhan yang tidak bisa dibereskanNya. Kiranya kita pegang erat-erat janji firmanNya dalam hidup kita.(kz)