Alam Semesta, Firman dan Hati Nurani

Pengkhotbah: Pdt. DR. Peter Wongso
Tema: Alam Semesta, Firman dan Hati Nurani
Nats: Mazmur 19:1-15

 

Tuhan kita adalah Tuhan yang tidak pernah berubah, setiap anugerahNya boleh menyertai setiap kita yang mengasihi Dia. Kiranya Tuhan juga memakai kita menjadi berkat dan menjadi kesaksian bagi orang lain. Saya sekarang berumur 85 tahun, memasuki tahun baru Imlek ini saya berdoa kepada Tuhan, “Tuhan, saya tidak tahu sampai kapankah Engkau mengijinkanku hidup di dunia ini, namun kiranya Tuhan memberkati kehidupan saya, bukan hanya mencukupkan makan dan minum tetapi hidup saya boleh menjadi berkat dan boleh menjadi kesaksian bagi orang lain.” Saya juga memohon dukungan doa dari jemaat sekalian, saya percaya jemaat sekarang ini mendoakan saya, biar kita satu sama lain saling mendoakan.

Hari ini kita akan melihat firman Tuhan dari Mazmur 19 yang ditulis oleh Daud. Daud sangat mahir dalam menulis syair pujian. Dalam Alkitab ada 73 mazmur-mazmur yang ditulis oleh Daud. Mazmur 19 adalah salah satu mazmur dimana Daud mengekspresikan kebesaran dan kemuliaan Tuhan dalam tiga hal bagaimana melukiskan Tuhan kita. Dari ayat 1-6 Daud menggunakan seluruh isi semesta alam, cakrawala, langit, matahari menggambarkan bagaimana kekuasaan Tuhan. Ayat 7-11 menggambarkan bagaimana Taurat yang Tuhan berikan melalui Musa menuntun hubungan kita dengan Tuhan. Dari ke 5 ayat ini menggambarkan bagaimana Daud mengekspresikan Taurat Tuhan sebagai firman Tuhan yang sempurna, menyukakan hati. Kita boleh percaya, kita boleh meyakininya. Ketika kita percaya dan memegang firman Tuhan, apa yang kita dapatkan? Ayat 13 adalah sebuah ayat yang istimewa. Ayat ini memberitahukan kepada kita bagaimana hati nurani manusia, yang dalam bahasa Mandarin adalah “liang sin” yang tidak ada padanannya dalam terjemahan bahasa Inggris “conscience.” Kata “conscience” dari dua asal kata “co,” bersama-sama, dan “science,” mengetahui” lebih mengacu kepada kemampuan untuk membedakan mana yang benar, mana yang salah dari segi intelektual. Dalam bahasa Mandarin perbedaannya cukup besar. Ketika seorang berkata kepada seorang yang lain, “me you liang sin” itu adalah perkataan yang sangat keras; dan sebaliknya waktu dia berkata, “ni you liang sin, engkau adalah seorang yang berhati baik,” maka itu adalah suatu pujian yang sangat tinggi. Kata “liang sin” dalam bahasa Indonesia adalah “hati nurani” yang berakar dari bahasa Arab “nur” atau cahaya, berarti suatu cahaya di dalam hati yang menuntun hidup seseorang.

Kembali kepada Mazmur 19 kita menemukan ayat 13 ini menjadi satu hal yang begitu penting, sayangnya Alkitab terjemahan bahasa Indonesia kurang jelas menunjukkan aspek ini, “Siapakah yang dapat mengetahui kesesatan? Bebaskanlah aku dari apa yang tidak kusadari.” Liang sin atau hati nurani, apakah sebenarnya? Sejak kecil saya selalu diajarkan untuk harus memperhatikan hati nurani saya sendiri. Hati nurani yang Tuhan berikan kepada kita manusia adalah sesuatu hal yang begitu berharga. Saat engkau melakukan sesuatu yang benar, hati nuranimu akan memiliki damai sejahtera, meskipun tidak ada yang memuji engkau. Tetapi pada saat engkau melakukan sesuatu kesalahan, meskipun tidak ada yang tahu, hati nuranimu mengetahuinya. Pada malam hari hati nuranimu akan menegurmu, menyatakan engkau sudah melakukan kesalahan, engkau sudah melukai hati seseorang, suara hatimu berbicara begitu kuat sehingga engkau tidak bisa tidur. Apakah engkau pernah mempunyai pengalaman seperti itu? Puji Tuhan, berarti engkau masih mempunyai hati nurani yang baik. Tuhan memberikan hati nurani itu sebagai bagian yang begitu berharga bagi kita. Tetapi begitu banyak orang yang menekan hati nuraninya. Pada saat hati nurani menegur, orang itu membela diri dan berkata, “Sudah, tidak apa-apa, orang lain juga melakukan hal yang sama. Orang Kristen yang itu juga melakukan, bahkan pendeta itu juga melakukan. Kalau orang lain boleh melakukan, saya juga boleh melakukan.” Tetapi hati nurani yang baik mengatakan, tidak. Ini adalah hal yang sangat berharga. Kita harus memiliki hati nurani ini. Melalui hati nurani yang diberikan Tuhan kepada kita, kita menjalankan hal-hal yang sesuai dengan kehendak Tuhan.

Dalam Mazmur 19:1-7 Daud menuliskan bagaimana kuasa Tuhan, kemuliaan Tuhan, karya buatan tangan Tuhan dinyatakan melalui alam semesta ini. Dia adalah Allah yang menciptakan dan menguasai alam semesta. Allah berfirman, maka semuanya terjadi. Allah tidak memerlukan proses di dalam menciptakan sesuatu. Dalam Kejadian 1 Allah berfirman, “Jadilah terang,” maka terang itu ada. Allah berfirman, “Jadilah cakrawala,” maka cakrawala atau langit terjadi. Begitu juga bumi dan segala isinya, Allah berfirman maka semuanya ada. Firman Tuhan adalah firman yang berkuasa, segala yang Ia firmankan terjadi sesuai dengan kehendakNya. Betapa berbeda dengan kita manusia, kita banyak berkata-kata tetapi begitu banyak yang kita katakan itu tidak terjadi. Ketika kita memikirkan berkali-kali apa yang kita pikirkan tidak juga seringkali tidak terjadi dan tidak terwujud dalam realita. Daud sangat mengerti akan hal ini, sehingga dia menyatakan bagaimana Allah melalui alam semesta ini menyatakan keberadaanNya dan firmaNya menguasai alam semesta ini.

Kekuatan manusia berbicara sangat lemah, sdr setuju dengan kalimat saya ini, bukan? Ketika kita berbicara, apakah anak-anak kita mau mendengar dan menyimaknya? Mungkin waktu mereka masih kecil di bawah umur 3 tahun mereka masih mau mendengar. Tetapi begitu mereka sudah mulai cukup besar, sudah bisa pandai berbicara, setiap kali kita berbicara mereka akan mengatakan, “apa benar, begitu?” Setelah mereka di uni, waktu kita orang tua mengatakan harus begini-begitu, apa yang akan mereka katakan? “Kalian sudah kuno, sudah harus masuk museum. Barang-barang teknologi terbaru kalian tidak tahu.” Cucu saya berkata kepada saya, “Akong sudah kuno, tidak perlu lagi mengajarku.” Sehingga saya sulit berkomunikasi dengan cucu saya sekarang. Apakah sdr juga mengalami hal ini? Ini adalah gap yang terjadi, gap dalam komunikasi, gap dalam kultur, gap dalam usia.

Namun puji Tuhan, perkataan Tuhan itu tidak dipengaruhi akan aspek-aspek seperti ini. Begitulah firman Tuhan menguasai dan memenuhi alam semesta ini. Firman Tuhan itu selamanya dapat kita sandari. Kita sungguh bersyukur Alkitab ini telah diterjemahkan dalam lebih daripada 3000 bahasa di dunia, sehingga orang-orang dari berbagai bahasa, orang-orang yang tidak terpelajar dan tidak mendapat kesempatan bersekolah bisa mendapatkan Alkitab dalam bahasa mereka.

Waktu masih tinggal di Indonesia, saya pernah pergi ke Papua. Saya menemukan meskipun satu pulau, mereka terdiri dari begitu banyak suku dengan bahasa yang berbeda-beda. Waktu saya berkhotbah di satu tempat, ada seorang alumnus sekolah kami yang menerjemahkan. Lalu ketika kami pergi melayani ke tempat yang lain, alumnus ini mengatakan dia tidak dapat menerjemahkan karena bahasanya berbeda. Saya bingung, bukankah sama-sama orang Papua, kenapa bahasanya tidak sama? Alumni ini mengatakan, tidak demikian. Satu tempat dengan tempat lain bahasanya berbeda. Namun satu hal yang indah, lembaga-lembaga penerjemah Alkitab terus dengan setia menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa-bahasa suku ini sehingga mereka bisa mendapat akses mendengar dan membaca firman Tuhan dalam bahasa yang dapat mereka mengerti. Itulah salah satu aspek firman Tuhan menguasai alam semesta ini. Meskipun bahasa terus mengalami perkembangan dari generasi ke generasi, mungkin bahasa yang saya pakai sudah kuno bagi generasi yang muda, seringkali saya dikoreksi oleh anak ataupun cucu saya bagaimana mengucapkan suatu kata atau kalimat dengan benar dalam bahasa Inggris, sehingga saya yang sudah tua ini tidak mudah belajar bahasa Inggris yang baik. Tetapi firman Tuhan dari generasi ke generasi tidak pernah berubah dan selalu dapat disandari. Inilah perkataan firman Tuhan yang penuh dengan kuasa. Karena Allah begitu mengasihi setiap orang, Allah menginginkan setiap orang mendengar firmanNya dan belajar daripadanya.

Dari ayat 7-11 Daud menyatakan bagaimana Taurat Tuhan itu menjadi peraturan hukum yang sempurna, teguh dan murni. Taurat Tuhan itu menjadi bimbingan dan tuntunan serta hikmat bagi orang-orang muda dan yang tak berpengalaman. Saya mengenal banyak orang Indonesia yang ahli hukum, yang belajar seluk-beluk hukum dan peraturan dan bagaimana menjadi seorang lawyer. Tetapi di sini Taurat Tuhan bukan bicara dalam konteks peraturan hukum seperti itu, tetapi berbicara dalam konteks bagaimana hukum dan peraturan Tuhan yang menguasai hati manusia. Seorang pengacara yang ahli hukum akan memakai seluruh keahliannya membela klien yang bersalah melakukan sesuatu yang melanggar hukum negara. Seseorang yang tidak ketahuan melakukan kesalahan yang melanggar hukum atau melakukan sesuatu yang tidak tercatat sebagai larangan hukum maka dia tidak akan dihukum atas perbuatannya. Sehingga orang-orang yang pintar bisa mencari lubang dari peraturan-peraturan hukum yang ada sehingga mereka tidak akan dihukum meskipun melanggarnya. Maka orang-orang pintar tidak dapat dicari kesalahannya.

Tetapi firman Tuhan di sini mengatakan Taurat Tuhan itu menguasai hati kita. Kita berbuat dosa yang orang lain tidak tahu, namun hati kita sedalam-dalamnya tahu. Sehingga bagaimana sikap dari orang berdosa itu? Pada saat dia telah berbuat dosa dia akan menyimpannya sekuat tenaga supaya tidak diketahui orang. Dia bisa menyembunyikan hal-hal itu dari isteri dan anak-anaknya, dia bisa memperlihatkan public persona yang sangat berbeda. Maka orang sering terkejut mendengar seseorang yang kelihatan di luar begitu baik, begitu sukses, keluarga bahagia dan anak-anaknya pintar, tetapi hidupnya selama ini menyembunyikan hal-hal yang tidak pernah diketahui orang.

Dari ayat 7-11 ini menyatakan bahwa Taurat Tuhan itu menguasai hati kita. Sehingga hati kita mengetahui apa yang harus dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan. Orang sering berpikir hidup menjadi orang Kristen tidak enak, semuanya diatur oleh firman Tuhan. Ini itu dilarang, ini itu tidak boleh dilakukan. Akhirnya hidup menjadi kaku dan tidak bebas. Ini adalah pendapat yang tidak benar. Justru adalah hukum dan aturan, perintah dan larangan diberikan oleh Tuhan untuk membimbing hidup kita menjadi teratur dan berjalan dalam harmoni. Ketika hukum dan aturan tidak jelas, perintah dan larangan tidak ada, orang akan berbuat semau-maunya dan hidup masyarakat akan kacau-balau. Itu baru bicara hal-hal yang berurusan dan berelasi dengan manusia saja namun hidup kita terutama juga berhubungan dengan Tuhan. Apa yang kita kerjakan, banyak orang tidak tahu tetapi Tuhan tahu. Bahkan Tuhan pun tahu akan isi hati kita, segala hal yang tersembunyi dalam pikiran kita dan semua yang kita lakukan di dunia ini harus kita pertanggung-jawabkan di hadapan tahta pengadilan Tuhan.

Dalam Yohanes 2:23-25 pada saat begitu banyak orang menjadi percaya kepada Tuhan Yesus oleh karena mereka telah melihat perbuatan mujizat yang dilakukanNya, Yesus tidak serta-merta mempercayakan diriNya kepada mereka karena Ia mengenal dan Ia tahu apa yang ada di dalam hati manusia. Pada waktu pertama kali membacanya saya tidak mengerti, bukankah Yesus datang ke dalam dunia justru supaya orang boleh percaya kepadaNya, tetapi di sini orang-orang yang menjadi percaya kepadaNya mengapa Tuhan Yesus tidak ingin mereka percaya? Tetapi ayat ini memberikan penjelasannya yaitu karena Tuhan Yesus mengetahui apa yang ada di dalam hati manusia. Yesus mengetahui apa yang menjadi tujuan dan motivasi seseorang mau percaya kepadaNya. Pada saat kita percaya bahwa Tuhan adalah juruselamat yang mengampuni dosa kita, maka di situ kita menjadi orang percaya. Saat itu kita mengakui segala dosa kita di hadapanNya dan meminta anugerah pengampunan daripadaNya, dan darah Tuhan Yesus menebus kita dan Tuhan mengijinkan kita untuk percaya kepadaNya. Namun pada saat kita mengaku percaya Tuhan tetapi sesungguhnya kita mau memperalat Tuhan, kita menyatakan mau percaya kepadaNya sambil menyatakan kita mau Dia melakukan sesuatu bagi kita, maka Tuhan tidak mempercayakan diriNya kepada kita. Karena motivasi yang ada dalam hati kita tidak baik. Yohanes mencatat orang-orang ini melihat mujizat-mujizat yang Yesus lakukan, dan itulah yang menjadi motivasi hati mereka mengaku percaya kepadaNya. Sangat menyedihkan kalau itu yang ditawarkan kepada orang, “Percayalah kepada Yesus, maka engkau akan masuk surga; percayalah kepada Yesus, maka Dia akan menyembuhkan sakit penyakitmu; percayalah kepada Yesus maka Dia akan memberkati hidupmu dengan kesuksesan dan kekayaan.” Percaya Tuhan tidak seperti itu. Apa yang kita inginkan, apa yang kita minta terkadang bukan hal yang kita perlukan tetapi hanya kemauan dan egoisme kita saja. Jika kita hanya meminta sesuatu yang hanya untuk memuaskan keinginan kita, Tuhan tidak memberikannya. Yakobus mengingatkan, “Atau kamu berdoa juga tetapi kamu tidak memperoleh apa-apa karena kamu salah berdoa, sebab yang kamu minta itu hendak kamu habiskan untuk memuaskan hawa nafsumu” (Yakobus 4:3). Kita tidak boleh sembarangan berdoa. Kita harus berdoa sesuai dengan kehendak Tuhan dan menyenangkan hati Tuhan.

Setiap orang berbisnis tentu dengan tujuan mendapat keuntungan, tetapi apakah kita berpikir keuntungan itu mau kita pakai untuk apa? Banyak orang berkata ketika saya mendapat keuntungan saya akan membeli rumah yang besar, saya akan membeli mobil yang mewah, saya akan menjalani kehidupan yang lebih baik. Ini adalah hal-hal yang wajar. Ketika kita mempunyai kelebihan, adakah kita memikirkan baik-baik apa yang harus kita lakukan dengan kelebihan itu? Dalam Lukas 12 Tuhan Yesus memberikan satu kisah mengenai orang kaya yang bodoh. Mengapa Yesus mengatakan dia seorang yang bodoh? Sudah tentu bukan karena dia orang kaya, juga bukan karena dia seorang yang malas. Dia seorang yang bekerja dan mendapatkan banyak keuntungan dan semua keuntungan itu dia kumpulkan dan terus kumpulkan. Suatu hari dia melihat hartanya sudah sangat banyak, maka dia berkata kepada jiwanya, “Hai jiwaku ada padamu banyak barang, tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya. Makanlah, minumlah dan bersenang-senanglah!” Tuhan melihat dia sebagai seorang yang bodoh, karena kalau pada malam itu juga dia mati, kemana semua kekayaan yang dimilikinya itu nantinya? Kita ingin mendapatkan keuntungan dan kekayaan? Itu tidak salah. Tetapi apa yang kita lakukan dengan kekayaan itu? Orang menyimpan kekayaan sebagai harta warisan bagi anak-anaknya. Kalau anak-anak itu mempunyai hati yang bijaksana, maka sebetulnya mereka tidak memerlukan harta itu. Jika anak-anak itu adalah anak yang tidak bijaksana, semakin banyak harta warisan kita beri kepada mereka, itu tidak berguna bahkan bisa merusak hidup mereka.

Daud dalam dua ayat terakhir Mazmur 19 ini berdoa, “Lindungilah hambaMu juga terhadap orang yang kurang ajar, janganlah mereka menguasai aku! Maka aku menjadi tak bercela dan bebas dari pelanggaran besar.” Daud berdoa agar Tuhan melindunginya dari kejahatan dan jangan sampai dosa menguasai dia. Biarlah hati nurani yang Tuhan berikan ini boleh kita pakai dengan baik sehingga kita tidak melakukan kesalahan dan dosa. Kiranya kita terus bersandar kepada Tuhan, Roh Kudus senantiasa membersihkan hati nurani kita dan menyertai kita senantiasa untuk tidak melakukan kesalahan. Yohanes 16:13 Tuhan Yesus berkata, “Roh Kebenaran akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran” sehingga kita boleh mengerti dan mengetahui kebenaran Tuhan. Puji Tuhan kita telah diselamatkan olehNya, kita telah dilahir-barukan oleh Roh Kudus yang sekarang berdiam di dalam hati setiap kita. Roh Kudus selamanya akan tinggal di dalam hati orang percaya. Roh Kudus akan menyertai kita selama-lamanya (Yohanes 14:16). Apa yang Roh Kudus akan lakukan di dalam hati kita? Ia akan membukakan kebenaran Tuhan bagi kita.

Pada tahun 1951 saya percaya kepada Tuhan Yesus. Setiap hari saya berdoa dan memohon agar Tuhan Roh Kudus menyertai saya. Roh Kudus mengajar saya mengerti akan firman Tuhan. Sebagai orang percaya kita memiliki dua kewajiban. Pertama, kita harus benar-benar mengerti apa yang Tuhan kehendaki bagi kita melalui firmanNya dan melakukannya dengan setia dalam hidup kita. Yang kedua, kita harus membantu saudara-saudara seiman kita bagaimana mengerti dan melakukan firman Tuhan. Saat itu saya masih begitu baru menjadi anak Tuhan dan tidak mengerti terlalu banyak, tetapi setiap kali saya membagikannya kepada teman-teman saya, mereka mendapatkan berkat. Tetapi masih banyak hal yang belum saya mengerti, sehingga saya berdoa dan meminta Tuhan memimpin saya belajar firmanNya lebih lanjut di sebuah sekolah teologi. Saya menceritakan hal ini untuk menyatakan Allah adalah tempat persandaran kita. Sehingga ayat 15 Daud mengatakan, “Mudah-mudahan Engkau berkenan akan ucapan mulutku dan renungan hatiku, ya Tuhan, Gunung Batuku dan Penebusku.” Ini adalah hal yang begitu penting dan ini adalah pengalaman saya secara pribadi secara bertahun-tahun. Kita percaya Tuhan kita adalah Tuhan yang hidup. Selama apa yang kita kerjakan sesuai dengan kebenaran firman Tuhan, maka Tuhan akan memimpin dalam kesetiaanNya. Puji syukur kepada Tuhan. Dalam usia yang sudah lanjut ini satu permintaan doa saya kepada Tuhan setiap hari untuk memberiku kesehatan yang cukup dan ingatan saya akan firman Tuhan tidak berkurang. Firman Tuhan yang saya sampaikan agar dapat dimengerti orang yang mendengarkan. Selama tiga tahun terakhir ini setiap minggu saya masih satu dua kali menyampaikan firman Tuhan. Dan sampai hari ini saya selalu berdoa agar Tuhan menyertai saya, tetapi saya tetap membutuhkan dukungan doa dari anda semua. Setiap kali gereja mengundang saya berkhotbah, gereja juga harus berdoa agar hari itu saya masih hidup, sebab kalau saya sudah mati saya tidak bisa datang berkhotbah di tempatmu. Biar kiranya kita boleh mencintai dan mengasihi Tuhan selama-lamanya dan kiranya kita juga mencintai firman Tuhan, tidak hanya membaca saja tetapi juga yang terutama bersandar kepada Tuhan untuk melakukannya.(kz)