Run the Race

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Tema: Run the Race!
Nats: Yesaya 40:30-31, 1 Korintus 9:24-25, Ibrani 12:1

Hidup ini penuh dengan manipulasi; hidup ini penuh dengan kalkulasi; hidup ini penuh dengan topeng; hidup ini penuh dengan cara dan taktik bagaimana bisa mengakali dan memperdaya orang lain, karena kata orang kalau tidak seperti itu engkau tidak mungkin bisa survive menjalani hidup ini. Orang-orang yang intelektualnya rendah, yang cacat, yang naif, yang terlalu polos, yang terlalu jujur, tidak akan berhasil dalam hidup ini. Itulah filosofi dunia. Orang-orang yang terlahir dengan segala “disadvantage” seumur hidup akan menjadi orang-orang yang gagal, sampah masyarakat, yang hanya menjadi benalu bagi komunitas. Tetapi Tuhan tidak melihat dan menilai manusia seperti itu. Disadvantage dari segala disadvantage bukanlah kemiskinan, bukan cacat tubuh dan cacat mental, bukan kurangnya pendidikan dan kesempatan. Disadvantage dari segala disadvantage sesungguhnya adalah status keberdosaan kita di hadapan Tuhan, yang tidak ada bedanya entahkah dia orang kaya atau miskin, bangsawan atau orang biasa, berpendidikan tinggi atau hanya lulusan SD, cerdas atau rendah intelektualnya. Dosa menjadi satu status yang “pasti tidak mungkin bisa survive” dengan segala usaha dan daya yang kita lakukan. Dosa bisa digambarkan seperti lumpur yang menarik dan menyedot kita dengan segala kekuatannya, melumpuhkan kita dan membuat diri kita tidak berdaya dan tidak ada harapan untuk lepas dan survive. Satu-satunya yang bisa membuat kita selamat hanyalah tangan Tuhan yang terulur menarik dan mengangkat kita dari lumpur itu. Puji Tuhan! Oleh kasih karunia dan anugerahNya semata-mata kita memperoleh hidup yang lepas dan bebas dari segala ikatan dosa, dan kita dipelihara Tuhan sampai akhir bukan saja bisa survive, tetapi menjadi orang yang lebih daripada pemenang-pemenang oleh karena Yesus Kristus memelihara dan menyempurnakan iman kita.

Di dalam hidup yang baru itu, kita perlu mengerti apa panggilan Tuhan kepada setiap kita, terutama memasuki tahun yang baru ini Tuhan mau kita jalani seperti apa.

  1. Tuhan memanggil kita untuk berlari kepadaNya.

Yesaya 40:30-31 berkata, ”Orang-orang muda menjadi lelah dan lesu dan teruna-teruna jatuh tersandung. Tetapi orang-orang yang menanti-nantikan Tuhan mendapat kekuatan baru. Mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya. Mereka berlari dan tidak menjadi lesu; mereka berjalan dan tidak menjadi lelah…”

Ayat ini adalah ayat yang muncul dari satu konteks yang sama sekali mustahil dan tidak mungkin anak-anak Tuhan bisa lari; berjalan saja sudah susah dan berat. Yesaya 40 adalah bagian dimana umat Israel berada di dalam pembuangan akibat negara mereka hancur dan habis diserang dan direbut oleh kerajaan Babel. Tidak ada lagi yang tersisa dalam hidup mereka, keluarga, rumah, harta dan tanah pusaka, bahkan masa depan yang tidak menentu sebagai orang-orang buangan di negara asing. Di tengah situasi yang berat dan dahsyat seperti itu, bertanyalah mereka, dimanakah Tuhan dalam hidup kami? Itu adalah kondisi dimana mereka tidak memiliki pengharapan, dalam keadaan kekurangan dan kesulitan, dalam keadaan yang hopeless dan helpless. Maka firman Tuhan datang melalui nabi Yesaya, mengingatkan mereka Allah TUHAN yang mereka sembah adalah Allah yang hidup dan berkuasa. HikmatNya dan kuasaNya tiada terbatas dan tidak bisa diperbandingkan dengan siapapun (Yesaya 40:12-14). Segala bangsa yang besar dan berkuasa itu “nothing, worthless,” tidak ada apa-apanya (Yesaya 40:15-17). TUHAN tidak seperti patung berhala yang tidak bisa berbuat apa-apa bahkan untuk menolong diri mereka sendiri untuk tidak goyang (Yesaya 40:18-20). TUHAN adalah Pencipta alam semesta, yang mengatur dan mengontrol segala sesuatu dengan kuasaNya (Yesaya 40:25-26).

Berkali-kali muncul pertanyaan retorika menjadi satu teguran tajam dari Tuhan, “Tidakkah kamu tahu? Tidakkah kamu dengar? Tidakkah kamu mengerti?” Betapa mudah kesulitan demi kesulitan, tantangan demi tantangan, persoalan demi persoalan, kegagalan demi kegagalan, bisa membuat anak-anak Tuhan lupa siapa Tuhan yang kita sembah. Betapa cepat mata kita dialihkan daripada melihat kepada Tuhan dan kekuatan kuasaNya, kita terlalu fokus dengan kesulitan yang mengelilingi hidup kita seolah-olah hal itu begitu besar dan tidak ada jalan keluarnya. Akhirnya kita menjadi lelah dan lesu, tidak berdaya dan kehilangan pengharapan. “Mengapakah engkau berkata demikian, hai Yakub, dan berkata begini, hai Israel, “Hidupku tersembunyi dari TUHAN dan hakku tidak diperhatikan Allahku”? (Yesaya 40:27). Why do you complain, Jacob? Why do you say, Israel, ‘my way is hidden from the LORD, my cause is disregarded by my God’? Percayalah dan bersandarlah kepadaNya, maka engkau akan berlari dan tidak menjadi lelah. Have hope and faith in Me, kata Tuhan. Kalimat ini adalah kalimat paradoks yang muncul di dalam kondisi umat Tuhan yang sudah berantakan, kacau-balau dan seolah sudah habis ludes, tidak punya pengharapan dan jalan keluar. Tidakkah kau tahu dan tidakkah kau dengar? Allah TUHAN is the everlasting God, the creator of the earth. Berlarilah, dan engkau tidak akan pernah menjadi lelah dan lesu! Itulah janji firman Tuhan di sini. Kiranya janji ini juga menjadi janji yang menguatkan pengharapan engkau dan saya. Pengharapan di dalam Tuhan itu bukan berarti akan membuat hidup kita menjadi lebih lancer. Pengharapan di dalam Tuhan adalah pengharapan yang melawan dua tenaga negatif yang tidak boleh ada pada diri orang percaya. Pengharapan itu melawan sikap pesimisme dan sinisisme. Orang yang pesimis selalu melihat ketidak-mungkinan ada jalan keluar daripada posibilitas dalam menghadapi masalah dan tantangan. Orang yang pesimis tidak melihat ada sesuatu yang baik dari situ. Orang yang sinis sebaliknya, meskipun sudah melihat dan sudah mengalami hal yang baik, tetap anggap itu biasa-biasa saja. Orang yang sinis selalu melihat aspek-aspek negatif dan mengeluarkan kalimat-kalimat yang melemahkan hati dan membuat orang lain kehilangan pengharapan.

Orang-orang yang menanti-nantikan Tuhan akan mendapatkan kekuatan baru. Mereka berlari dan tidak menjadi lelah. Betulkah kita bisa lari sampai kita lari tanpa menjadi lelah dan lesu? Berlari bukan berarti kita tidak mengeluarkan keringat; berlari bukan berarti kita tidak kehabisan napas; berlari bukan berarti kita tidak mengalami kesulitan; bahkan mungkin hidup kita akan berat dan setengah mati oleh karena perjalanan dengan berlari itu. Tetapi keadaan ‘tidak menjadi lelah dan lesu’ di situ berarti berkaitan dengan perspektif dan attitude kita menghadapinya. Saat memasuki tahun yang baru ini mari kita memiliki sikap dan attitude seperti ini, berlarilah kepada Tuhan dan kita tidak akan mengalami kelelahan dan kelesuan itu karena yang kita kejar dan hampiri adalah Allah yang akan senantiasa menyegarkan kita dan memberikan seberapa banyak energi yang kita butuhkan untuk berdekat kepadaNya.

  1. Tuhan memanggil kita melatih diri sebelum berlari dalam gelanggang pertandingan.

1 Korintus 9:24-25 “Tidak tahukah kamu bahwa dalam gelanggang pertandingan semua peserta turut berlari tetapi bahwa hanya satu orang saja yang mendapat hadiah? Karena itu larilah begitu rupa sehingga kamu memperolehnya. Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan menguasai dirinya dalam segala hal…” Pada waktu Paulus bicara kita lari dalam pertandingan untuk mencapai satu tujuan, bukan itu yang menjadi fokusnya. Tetapi Paulus ingin berkata tujuan yang worthy itu harus disertai dengan persiapan yang sepatutnya diperlukan bagi pertandingan itu. Ayat ini adalah ayat yang penting bagi kita berlari di dalam iman dengan memegang janji Tuhan. Tuhan tidak akan pernah menyuruh kita berlari di dalam pertandingan yang diwajibkan bagi kita, tanpa Ia sendiri memberikan kekuatan dan kemampuan bagi kita untuk menjalaninya. Kekuatan dan kemampuan itu mungkin tidak segera bisa dilihat dari apa yang kita capai dan peroleh, tetapi diberikan karena ada janjiNya yang pasti dan pengharapan di dalam Tuhan itu tidak akan pernah menipu engkau dan saya.

Dalam bagian ini rasul Paulus mengatakan, “Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul. Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya…” (1 Korintus 9:26-27). Berlarilah dalam pertandingan itu dengan fokus kepada hadiah yang indah, mahkota yang tidak bisa layu dan rusak. Namun Paulus tidak berbicara soal apa yang akan dia capai dan raih melainkan dia berbicara soal pengertian nilai kalau dia tahu itu adalah hadiah yang worthy, hadiah yang abadi, persoalannya adalah bagaimana saya berlari tidak asal berlari, tetapi berlari untuk mendapatkannya. Pelari perlu persiapan yang ketat secara fisik dan disiplin latihan dengan sangat berat untuk mendapatkan mahkota yang bisa kering dan layu, masakan engkau dan saya yang lari dalam perjalanan iman ikut Tuhan kita tidak betul-betul mempersiapkan diri?

Pertandingan kuda yang paling bergengsi kelas dunia adalah Melbourne Cup, yang berjarak 2 mil atau 3200 meter. Kuda mulai dilatih pada umur setahun dan mulai mengikuti pertandingan pada umur dua tahun dengan jarak lari antara 800-1200 meter. Tidak ada kuda umur 2 tahun yang lari 2 mil, sehebat dan sekuat apapun kuda itu, dan tidak ada pelatih senekad apapun yang akan mencoba kuda berumur 2 tahun untuk turun bertanding di Melbourne Cup. Kuda yang cukup umur untuk bertanding di Melbourne Cup paling sedikit umurnya 4 tahun.

Iman itu patut untuk diuji oleh Tuhan. Pada waktu kita sudah melewati ujian itu, kita baru tahu bahwa kita sudah bisa melewati ujian sampai di sini. Ujian iman dari Tuhan itu tujuannya membuat kita bertumbuh dewasa. Ujian iman itu juga untuk memurnikan iman kita, bukan untuk menghancurkan dan melemahkan iman. Maka kita harus siap sedia kalau Tuhan menguji iman kita, kita harus siap sedia dengan melatih diri dengan disiplin-disiplin rohani.

Kalau untuk tubuh fisik saja kita siap mengambil resolusi untuk mempunyai kondisi yang fit dengan makan makanan yang sehat, dengan olah raga yang teratur, dengan membuang serta meninggalkan kebiasaan buruk, dengan melakukan kegiatan-kegiatan yang lebih aktif, kita tahu itu semua akan membuat fisik menjadi fit dan sehat adanya. Demikian hal yang sama kita lakukan untuk memiliki mental yang fit, dengan mendengarkan lagu yang menenangkan jiwa, dengan menikmati alam yang indah, dengan meninggalkan gaya hidup yang tidak sehat, itu semua bagi kesehatan mental kita. Tetapi bagaimana dengan spiritualitas kerohanianmu? Adakah engkau juga memasuki tahun yang baru dengan tekad mempunyai spiritual yang fit dan sehat? Tidak ada cara lain dan tidak ada jalan pintas. Untuk mempunyai spiritual yang fit kita perlu melatih diri dengan semua disiplin rohani, menanggalkan manusia lama dengan segala sifat yang tidak baik dalam perkataan, perbuatan dan pikiran (Efesus 4:22-24). Kita perlu senantiasa diperbaharui di dalam roh dan pikiran kita, dengan membaca dan merenungkan firman Tuhan, dengan berdoa secara pribadi dan persekutuan doa bersama, dengan memuji Tuhan serta beribadah di rumah Tuhan, dengan melayani dan mengabarkan Injil. Kita perlu mengatur hidup kita dengan latihan dan disiplin rohani yang akan memampukan kita melakukan apa yang sekarang ini tidak bisa kita lakukan dengan tekad dan keinginan semata-mata. Tekad dan keinginan itu penting, tetapi disiplin dan konsisten adalah sikap yang kita butuhkan lebih daripada tekad dan keinginan. Hanya dengan cara itu kita bisa fokus menjalani perjalanan dan pertandingan kita masing-masing. Saya latih tubuhku, saya kontrol hidupku, demikian kata rasul Paulus. Pikirkan semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan hal-hal yang patut dipuji (Filipi 4:8). Semua itu adalah pelatihan rohani yang sangat penting di dalam mengikut Tuhan, dan di situlah Tuhan akan membentuk dan melatih iman kita makin kuat dari hari ke hari.

Begitulah cara pelatih yang baik yang sehari ke sehari melatih dengan penuh kesabaran dan tanggung jawab, sampai tahun ke lima kuda itu siap dan layak bertanding dalam pertandingan paling akbar, dengan jarak yang paling maksimum yang mampu dan sanggup dijalani oleh kuda-kuda juara yang memang dipersiapkan untuk bisa lari 2 mil. Itulah artinya engkau lari dan tidak menjadi lelah dan lesu.

  1. Tuhan memanggil kita untuk bertekun dalam pertandingan yang disiapkanNya bagi kita.

Ibrani 12:1 “Karena kita mempunyai banyak saksi bagaikan awan yang mengelilingi kita, marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita.” Therefore since we are surrounded by such a great cloud of witnesses, let us throw off everything that hinders and the sin that so easily entangles. And let us run with endurance the race that has set before us.

Ayat ini memberikan satu panggilan yang penting bagaimana sikap dan attitude kita di dalam pertandingan ini, yaitu dengan “endurance and perseverance.” Pelari mempunyai sikap yang berbeda dalam pertandingan lari marathon dan lari sprinter. Yang dibutuhkan dalam lari sprinter adalah kecepatan, agility, dan kekuatan fisik yang luar biasa. Sedangkan dalam lari marathon hal yang paling dibutuhkan selain kekuatan fisik adalah ketahanan mental, kesabaran dan ketekunan. Pelari marathon mengerti ada tahap demi tahap yang harus dijalani di dalam lari jarak sepanjang itu. Pada tahap pertama, lari menjadi pengalaman yang menyenangkan. Semua orang berlari bersama-sama, tubuh menjadi rileks, jantung memompa, kepala terasa ringan, paru-paru bernapas dengan dalam. Namun setelah tahap itu lewat, masuk ke tahap kedua, para pelari mulai merasakan kaki mulai terasa berat, godaan untuk quit dan berhenti begitu besar. Inilah ujian yang paling berat bagi seorang pelari, apakah dia bisa meneruskan tahap “hitting the wall” dan terus berlari sampai akhir dengan tekun dan sabar, dengan endurance dan perseverance. “The start of a race is enjoyable,” kata John Ortberg, “It is easy. Finishing is hard work. To finish well – that’s glory. Finishing well is what counts.” Sikap tekun dalam pertandingan hidup membutuhkan komitmen yang terus sampai akhir, terutama tetap committed justru di saat kesulitan tiba. Betapa sayangnya banyak orang yang saat kesulitan justru ingin lari dan quit.

Seringkali kita mendengar orang memasuki tahun baru dengan resolusi yang seperti ini: run the race to achieve your goal; run the race to fulfil your dream. Itu adalah kalimat yang benar separuh, resolusi yang incomplete. Kenapa? Karena it is not about “me”; it is not about “my goal”; it is not about “my dreams.” Ayat ini tidak bilang run the race to achieve your goal in the Lord. Ayat ini bilang run the race that set for you. Tidak ada kata Allah di situ, tetapi tentu kita mengerti bahwa Allahlah yang mempersiapkan pertandingan itu bagi kita. Maka kalimat itu boleh di-paraphrase seperti ini: run the race God has set before us with endurance and perseverance. Kata “us” berarti plural, dari situ kita tahu kita bukan pusat segala-galanya. Di hadapan Tuhan kita kecil adanya dan masing-masing kita adalah satu potong mosaik kecil yang menjadi bagian di dalam satu gambar yang begitu besar menjadi keindahan di hadapan Allah. Mosaik-mosaik kecil itu tidak pernah menjadi sentral, karena Yesus Kristuslah sentralnya, Ia adalah gambar yang sempurna itu. Tetapi demikian sebagai potongan-potongan mosaik itu kita dihargai oleh Allah sebagai jiwa-jiwa karya tebusan Kristus, masing-masing kita menjadi potongan yang penting karena di situ kita melihat rencana Allah begitu jelas dalam gambaran yang utuh. Namun setiap potongan mosaik itu tidak bisa berbangga dan berkata, kalau tidak ada aku maka gambar itu tidak akan menjadi utuh. Masing-masing kita ada hal yang ingin kita capai, itu tidak salah. Tetapi kita harus selalu belajar membawa itu semua di hadapan Tuhan dan bertanya kepada Tuhan apa yang Tuhan persiapkan bagiku di dalam pertandingan itu?

Dengan demikian tidak ada iri hati dan kecemburuan menguasai hati kita melihat orang lain mencapai hal-hal yang luar biasa di dalam hidup mereka. Dan tidak ada rasa kebanggaan dan kesombongan dengan merasa kita sudah mencapai sampai level tertentu dalam hidup kita. Ada achievement dan prestasi yang kita raih dalam hidup kita, kita tahu itu semata-mata karena Tuhan mau berikan sebagai karunia dan pemberianNya yang baik bagi setiap kita. Pada waktu kita bisa mencapai dan meraihnya, di situ kita bersyukur karena Tuhan yang memampukan kita. Kita masih punya tenaga, kita tidak menjadi lelah dan lesu. Kita bisa meminta Tuhan berikan kita “one more mile” untuk kita tempuh. Waktu kita sudah mencapai di situ, di akhir pertandingan itu kita berkata kepada Tuhan, “Tuhan, terima kasih, Engkau memampukan aku menyelesaikan pertandinganku dengan memuliakan Engkau.” How will we run the race of life? Will we finish well? Kiranya Tuhan memberkati setiap kita pada hari ini.

Kita bersyukur Tuhan tidak memberikan kepada kita tanggung jawab jika Tuhan tidak lebih dahulu memimpin hidup kita di depan. Itu sebab kita berdiri di hadapan Tuhan dan memohon Tuhan menjadikan kita hamba-hambaNya yang setia dan boleh bertanggung jawab menjalani setiap panggilan dan perjuangan iman kita dengan taat kepadaNya. Di situlah kita bisa menyaksikan kekuatan dan kuasa Tuhan yang ajaib luar biasa, yang tidak akan pernah membuat kita kehilangan kekuatan dan tenaga, tidak membuat kita kecewa dan putus asa. Tetapi sebaliknya kita senantiasa diperbaharui dengan semangat yang baru, hati yang baru di tahun yang baru ini. Kita berterima kasih kepada Tuhan untuk panggilan Tuhan yang indah kepada kita masing-masing. Biar kita boleh menggenapinya demi hormat dan kemuliaan bagi nama Tuhan. Puji syukur kepada Tuhan untuk kasih karunia yang Tuhan berikan dalam hidup kita masing-masing.(kz)