Mengalami Pemeliharaan Allah yang Berdaulat

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Tema: Mengalami Pemeliharaan Allah yang Berdaulat
Nats: Ibrani 13:1-8

Setelah hiruk-pikuk pesta tahun baru berakhir, sejujurnya banyak orang memasuki tahun yang baru ini dengan penuh kekuatiran dan ketakutan. Bukan saja orang dunia yang tidak percaya Tuhan, orang Kristen yang mengaku percaya Tuhan pun dilanda kuatir dan takut; bukan saja orang yang punya banyak uang, orang yang tidak punya uang pun dilanda kuatir dan takut. George Soros, yang seorang ekonom pemain bisnis di pasar uang yang piawai memprediksi kondisi ekonomi tahun 2016 ini akan mengulang apa yang terjadi di tahun 2008 yaitu resesi ekonomi yang sangat berat melanda dunia. Negara-negara adidaya termasuk Amerika, Jepang dan Eropa akan terimbas, demikian juga dengan Cina. Kalau yang raksasa saja goyang, apa yang akan terjadi kepada negara-negara yang kecil dan lemah? Bukan saja persoalan makro ekonomi bisa membuat banyak orang kuatir dan takut, persoalan-persoalan pribadi dan persoalan-persoalan keluarga yang kita hadapi di tengah keadaan

yang tidak menentu, kehilangan pekerjaan dan kesulitan lainnya, semua itu bisa membuat pikiran kita bisa berkecamuk.

Namun mari kita bawa kembali hati kita memikirkan dan menengok ke belakang, bukankah banyak dari kita memasuki tahun 2015 yang lalu sebenarnya juga dengan problem yang sama? Dan bukankah kita masih bisa mengakhiri tahun lalu dengan apa yang ada pada kita, banyak hal yang kita kuatirkan dan takutkan ternyata tidak terjadi? Kalau demikian, jangan kita ulang memasuki tahun yang baru dengan kekuatiran dan kegelisahan dan kita lupa bagaimana kita harus menjalaninya dengan indah, dengan baik, dengan benar, dengan konfiden, bukan sama dengan orang-orang lain oleh karena walaupun persoalan-persoalan yang kita hadapi kurang lebih sama dengan mereka, kesulitan yang kita alami mungkin tidak jauh berbeda dengan mereka, tetapi Allah yang kita sembah dan firmanNya yang Dia berikan kepada kita adalah janji yang pasti dan yang tidak akan pernah berubah. Itulah yang seharusnya memberikan perbedaan kepada engkau dan saya.

Puji Tuhan! Pada saat yang sama ketika saya membaca artikel dari Soros, di meja saya terbuka Alkitab di halaman dimana saya terus merenungkan Ibrani 10-13, dan mata saya membaca Ibrani 13:5 “Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu. Karena Allah telah berfirman: “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.” Firman Tuhan mengingatkan kita, jangan biarkan hati kita dikuatirkan oleh semua itu. Bahkan kalimat “janganlah kamu menjadi hamba uang,” begitu tajam menegur dan menarik hati kita kembali kepada posisi yang seharusnya. Jangan kita pikir yang termasuk kategori “hamba uang” adalah orang yang kaya dan punya banyak uang, sedangkan orang yang tidak punya uang bukan hamba uang. Kata “hamba uang” berarti kita menempatkan uang sebagai tuan dan majikan yang menentukan hidup kita, kita sebagai budak yang diatur olehnya. Sikap hati seperti inilah yang akan terus membuat kekuatiran dan ketakutan akan masa depan begitu mencekik kita. Kita tidak perlu kuatir dengan uang, tidak perlu dengan makan minum dan kebutuhan hidupmu, karena Allah berjanji tidak akan meninggalkan kita terlantar, Allah akan senantiasa beserta dengan kita.

Maka mari kita masuki tahun yang baru ini dengan beberapa langkah yang penting yang diberikan oleh Ibrani 13:1-6. Ingatkan, surat Ibrani adalah kitab yang ditujukan kepada orang-orang Kristen yang mengalami kesulitan dengan tantangan yang besar dan berat sebagai orang Kristen. Ada di antara mereka yang hartanya dirampas hanya karena mereka adalah orang Kristen. “…ketika hartamu dirampas, kamu menerima hal itu dengan sukacita sebab kamu tahu bahwa kamu memiliki harta yang lebih baik dan yang lebih menetap sifatnya” (Ibrani 10:34). Ada di antara mereka bukan saja dihina dan diejek, tetapi juga mengalami siksaan, deraan, dibelenggu dan dipenjarakan. Tidak sedikit di antara mereka yang akhirnya meninggal dan sebagian besar yang lain lari mengembara ke padang gurun dan ke pegunungan, bersembunyi di gua-gua dan celah gunung (Ibrani 11:36-38). Dan oleh karena beratnya tekanan itu banyak di antara mereka yang akhirnya terlalu takut untuk datang berkumpul dan berbakti sehingga penulis Ibrani memberi dorongan kepada mereka, “Janganlah menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadahmu …” (Ibrani 10:25). Sampai kepada bagian Ibrani 13 ini kepada jemaat yang mengalami kondisi seperti itu dia memberikan janji firman Tuhan ini, Allah kita adalah Allah yang berdaulat, Allah mempedulikan kita, tidak satu pun di antara kita yang luput dari perhatiannya. Tuhan kita bukan saja mempedulikan kita, tetapi Dia juga Tuhan yang maha kuasa dan berdaulat yang mempunyai kuasa yang dahsyat bisa menolong engkau. Itu sebab janji-janjiNya bukanlah janji yang kosong adanya. “Janganlah kuatir akan hidupmu. Pandanglah burung-burung di langit yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung namun diberi makan oleh Bapamu yang di surga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu?” (Matius 6:26). Bahkan rambut di kepalamu pun terhitung semuanya (Lukas 12:7), demikian kata Tuhan Yesus. Semua ayat-ayat ini begitu indah didasari dengan satu kekuatan dan konsep yang penting: Allah kita itu adalah Allah yang berdaulat dan mengontrol hidup kita sehingga kita bisa menjadi orang Kristen yang berjalan dan percaya tidak ada sesuatu pun yang bisa membuat kita kehilangan pengharapan.

Dalam buku “Life without Limit” Nick Vujicic, seorang yang lahir dengan cacat tubuh tidak mempunyai tangan dan kaki memberi kesaksian dan dorongan dari hati yang mengerti apa itu pengharapan di dalam Tuhan dan saya begitu terharu membaca perjalanan hidupnya. Ayahnya seorang hamba Tuhan yang sangat mengasihi Tuhan selalu berkata kepadanya “Tuhan tidak pernah berbuat kesalahan. Dan segala yang terjadi dalam kedaulatanNya pasti ada tujuannya.” Di situ baru kita bisa memahami indahnya apa yang namanya mengerti teologi yang benar tetapi memberikan pengaruh yang begitu berbeda ketika kita mengalaminya di dalam hidup kita. Hari ini kita duduk sama-sama, kita tidak berbeda dalam pemahaman teologi kita, kita menyembah kepada Allah yang sama, kita memahami siapa Dia, kita mengatakan Allah yang mengontrol hidup kita, Allah yang mengatur, Allah yang memimpin, Allah yang maha baik, Allah yang tidak pernah bersalah di dalam hidup kita. Tetapi bagaimana semua pemahaman teologis ini menghasilkan reaksi yang berbeda kepada kita karena ada hal yang mungkin kita tidak mau mengalami kebaikan Tuhan, pengontrolanNya itu melalui sesuatu yang sudah kita atur dalam hidup kita, kita tidak mau melalui perjalanan hidup kita seperti itu. Kita mengatakan di dalam hal yang lancar dan baik Allah itu mengatur dan mengontrol semua. Tetapi pada waktu di dalam keadaan sakit, apalagi sampai kehilangan tangan dan kaki mungkin sulit bagi kita untuk mengatakan kalimat Allah kita itu berdaulat, Allah itu adalah Allah yang indah dan mengatur segala sesuatu yang terindah dan terbaik bagi kita.

Masuk sekolah dengan kursi roda, orang tuanya menghendaki dia masuk ke sekolah biasa dan diperlakukan sebagai anak yang normal, tetapi yang terjadi adalah anak-anak lain tidak ada yang berani menghampiri dan berteman karena mengira orang yang tubuhnya cacat pasti sekaligus cacat juga mentalnya. Maka dia memutuskan, dia tidak bisa menutup diri dan menarik diri dari situasi yang dihadapinya. Satu-satunya cara yang bisa dia lakukan adalah keluar dari kungkungan isolasi yang ada dan membuka diri terhadap lingkungan sekelilingnya dan mencari teman. Dengan cara seperti itu

lambat laun mereka memperlakukan saya seperti anak-anak lain yang normal. Di situlah dia menemukan keindahan maksud Tuhan untuk dia memakai hidupnya menjadi berkat bagi orang-orang lain. Umur 15 tahun dia menerima Tuhan Yesus sebagai juruselamatnya dan mengambil keputusan untuk memakai hidupnya mengabarkan Injil dan memperkenalkan Tuhan Yesus. Dia tidak lagi berdoa untuk minta Tuhan membuat mujizat bagi dirinya, dia sekarang berdoa supaya hidupnya sendiri bisa menjadi mujizat bagi orang.

Kita kadang-kadang merasa orang-orang di sekitar tidak memperhatikan kita dan tidak mempedulikan keberadaan kita, akhirnya kita merasa kehilangan sukacita, kehilangan arti hidup dan tujuan hidup. Kita melihat orang-orang lain begitu bahagia, punya keluarga yang indah, karir yang terus menanjak, teman-teman yang mengelilinginya, acara demi acara yang terus diposting di facebook mereka. Lalu kemudian kita menarik diri dan menutup diri. Sikap mengisolasi diri seperti itu seringkali menjadi penghambat bagi hidup kita. Kita merasa tidak mempunyai apa-apa sehingga kita terus membuka tangan meminta orang memberikan sesuatu, baru kita bisa menjadi pertolongan bagi orang lain.

Yang kedua, Ibrani 13 ini saya mulai dengan ayat ke 5 dan 6, bukan dari ayat 1, kenapa? Ada yang amazing dari urutan ini, yaitu ayat 1-4 penulis Ibrani meminta kita melakukan sesuatu bagi orang lain terlebih dahulu. Pertama, peliharalah kasih persaudaraan. Kita dipanggil untuk memelihara, mengusahakan dan memupuk kasih persaudaraan itu. Lihat dengan indah teman dan sahabatmu, jaga dan perhatikan mereka. Persahabatan dan kasih itulah yang memberi kita kekuatan di tengah kesulitan dan tantangan yang ada, kita harus menjadi satu keluarga yang saling memperhatikan.

Kedua, kita dipanggil untuk generous membuka rumah kita memberi tumpangan kepada orang. Selalu pikirkan pertama-tama pintu rumah terbuka, kantong dan dompet terbuka untuk menolong orang asing dan teman-teman yang ada.

Ketiga, ingat baik-baik kalau kita sudah mencapai kedudukan yang tinggi, sudah menjadi boss, sudah memiliki wewenang mempekerjakan orang, jangan kita memperlakukan mereka dengan sewenang-wenang.

Keempat, sayangi isterimu, sayangi suami dan anak-anakmu. Jaga rumah tangga kita dengan kudus di hadapan Tuhan.

Mulai dengan urutan ini, kemudian firman Tuhan di ayat 5 dan 6 bicara mengenai janji Tuhan akan mencukupkan. Maka kita menemukan betapa amazing cara Tuhan memberi prinsip bagi hidup kita sebagai orang-orang percaya. Prinsipnya adalah beri dulu, baru Tuhan cukupkan. Itu urutannya. Ini prinsip firman Tuhan dan cara Tuhan bekerja. Inilah prinsip yang juga Tuhan berikan di dalam Perjanjian Lama, ketika Elia yang dalam keadaan lapar meminta seorang janda di Sarfat memberinya makan (1 Raja 17). Janda itu bukan dalam keadaan berlebihan, bahkan dia mengatakan, “Sesungguhnya tidak ada roti padaku sedikitpun kecuali segenggam tepung dalam tempayan dan sedikit minyak dalam buli-buli. Aku akan mengolahnya bagi aku dan anakku, dan setelah kami memakannya maka kami akan mati” (1 Raja 17:12). Betapa menyedihkan kalau sampai keluar kalimat seperti itu. Tetapi Elia berkata kepadanya, jangan takut. Buatlah dulu roti kecil bagiku, baru engkau buat sisanya bagimu dan bagi anakmu. Allah berjanji tepung dalam tempayan itu tidak akan habis dan minyak dalam buli-buli itu pun tidak akan berkurang sampai waktunya Tuhan memberi hujan turun (1 Raja 17:14).

Urutan hidup kita seringkali terbalik. Kita buka dulu tangan kita meminta berkat dari Tuhan, Tuhan cukupkan kita lebih dulu, lalu baru dari situ kita bisa memberi kepada yang lain. Tetapi Tuhan tidak memberi janji dulu di depan. Kita dipanggil untuk pertama-tama tangan kita terbuka memberi kepada orang dan di situ kita akan menjadi kagum melihat apa yang ada di tangan kita tidak akan pernah habis-habis karena Tuhan mencurahkan berkatnya di dalam generosity kita. Kita tidak pernah dipanggil Tuhan untuk menjadi pengemis dalam dunia ini. Walaupun kita susah, kita tetap melihat prinsip ini menjadi prinsip yang indah dari firman Tuhan. Selain kita mengaku Allah itu adalah Allah yang berdaulat, hal yang penting menjadi prinsip yang kita pegang adalah temukan hal yang engkau bisa lakukan bagi orang lain, dan cari apa yang bisa menjadi kontribusi kita bagi kerajaan Allah. Hidup kita menjadi anak-anak Tuhan adalah hidup yang berbuah dan berkarya bagi kerajaanNya. Maka mulai hari ini mari kita ubah cara kita berpikir. Senantiasa lihat sekelilingmu, cari hal apa yang bisa engkau lakukan bagi gereja dan bagi orang-orang lain; bukan tunggu orang lain yang lebih dulu melakukan sesuatu untukmu. Dengan demikian kita akan mengalami di situ hidup kita menjadi begitu indah, begitu penuh sukacita dan mengalami pemeliharaan Tuhan begitu nyata. Dengan demikian kita akan mengerti dan mengalami satu hidup yang contentment itu seperti apa. Jangan di balik, ‘tunggu Tuhan cukupkan semuanya; kalau sudah cukup semuanya baru aku memberi.’ Prinsip Tuhan berbeda, justru dari tangan yang memberi, hidup yang berbagi, Tuhan tidak pernah berhenti mengalirkan berkat melaluinya. Tetapi tangan yang terus menadah dulu, minta berkat dulu dari Tuhan baru bisa memberi, selama-lamanya yang sudah dikasih tidak akan pernah keluar dari tangannya.

Sesudah itu, reaksi kepada Tuhan yang berdaulat, anugerah yang Tuhan beri kepada kita adalah anugerah yang indah yang akan menghasilkan dua reaksi yang begitu indah. Pertama, Ibrani 13:6, “Sebab itu dengan yakin kita dapat berkata: Tuhan adalah Penolongku. Aku tidak akan takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku?” Dua kata yang kita perlu garis-bawahi “dengan yakin” dan “tidak takut.” Kata “yakin” bisa berarti “I believe, I surrender, I trust.” Apa lawan kata dari iman? Kalau miskin lawannya kaya, berani lawannya takut; tetapi beriman itu lawannya bukan kuatir, melainkan keinginan untuk mengontrol. Itu sebab Yesus pernah mengatakan betapa sulitnya orang kaya masuk ke dalam kerajaan Allah, bahkan lebih mudah seekor unta masuk lubang jarum (Matius 19:24). Kenapa? Karena kekayaan yang seseorang miliki membuat dia mengira dia bisa mengontrol segala sesuatu. Justru pada waktu kita tidak memiliki apa-apa, di situ membuat kita sadar betapa tidak berdaya kita, di dalam keadaan sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa dan menolong diri sendiri, kita bersandar dan menaruh harap kita sepenuhnya kepada Tuhan. Maka beriman di sini lawannya adalah desire untuk mengontrol segala sesuatu.

Pada waktu Allah berjanji untuk memelihara dan memimpin hidup kita, mencukupkan apa yang kita butuhkan, kita harus belajar beriman kepadaNya. Yesaya 40:31 mengingatkan kita orang-orang yang menanti-nantikan Tuhan, orang-orang yang percaya dan menaruh harap kepada Tuhan, dia akan berlari dan tidak menjadi lelah. Lari di sini bukan melarikan diri dari persoalan; lari di sini juga bukan berarti lari menghadapi persoalan, tetapi direksi kita lari kepada Tuhan dan di situ kita mendapatkan kekuatan. Bukan karena kita mampu untuk membereskan segala sesuatu, bukan juga karena kita kecewa lalu kemudian kita lari dari segala persoalan hidup kita, melainkan kita menyerahkan hidup kita kepada Tuhan. Di hadapanNya kita mengaku kita tidak bisa mengontrol banyak hal dalam hidup kita, di situ kita belajar apa yang namanya bersandar penuh kepada Tuhan yang mempunyai kekuatan dan kuasa sepenuhnya mengontrol hidup kita.

Kata yang kedua “aku tidak takut” lebih menyatakan keaktifan, keberanian, courage. Berani bukan berarti tidak ada rasa takut dalam hidup kita. Berani justru mempunyai arti segala kesulitan itu tidak pernah membuat kita tidak berani melangkah maju.

Kita perlu memperbaiki konsep kita sebagai orang Kristen mengenai pimpinan Tuhan. Banyak orang Kristen memegang prinsip ketika jalan lancar dan pintu-pintu kesempatan terbuka, di situ menandakan pimpinan Tuhan baginya. Apa artinya “Tuhan pimpin dan Tuhan buka jalan,” selalu ditandai dengan hasilnya yaitu karena berhasil, sukses dan lancar? Bukankah ada banyak hal dalam hidup kita tidak selalu seperti itu? Kalau definisi bahwa pimpinan Tuhan selalu seperti itu, bahwa apa yang kita urus selalu berjalan baik, lancar dan sukses, maka ini akan membuat semua orang Kristen tidak akan pernah berani melangkah dengan resiko ada kesulitan dan kegagalan. Sehingga akhirnya banyak orang terus tunggu dengan pasif kapan Tuhan “buka jalan” bagi dia. Bukankah Alkitab memberi prinsip untuk membuat sungai Yordan terbelah dua, orang Israel harus melangkahkan kaki masuk ke dalam air lebih dulu (Yosua 3:15). Berani tidak berarti kita tidak akan menghadapi kesulitan dan persoalan; berani adalah kita menghadapi situasi yang susah dan berat itu tidak pernah menghentikan langkah kita ikut Tuhan dan percaya dan berjalan di dalam pimpinan Tuhan.

Mari kita masuki tahun ini dengan membuka hati, kiranya Allah yang berdaulat itu memelihara kita semua. Kalau Ia adalah Allah yang berdaulat, mari kita berhenti dari segala kekuatiran kita, mari kita mulai melihat apa yang bisa kita lakukan bagi orang lain, mari kita mendorong diri kita sendiri untuk lebih berkontribusi bagi kerajaan Allah. Kita perlu hati yang percaya Tuhan, kita perlu hati yang berani ikut Tuhan.

Bersyukur untuk janji Tuhan bagi kita hari ini, “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.” Janji ini datang dari Tuhan kita yang maha kuasa dan yang kuat perkasa bisa memelihara hidup kita. Ia adalah Allah yang akan mencukupkan hidup kita karena Ia adalah Allah yang mengerti dan mengetahui apa yang kita perlukan dan Ia juga adalah Allah yang sanggup mengontrol dan berkuasa menggenapkannya. Itu sebab biar kita dengan berani berjalan karena kita tahu dan yakin Tuhan beserta kita. Apapun yang akan kita hadapi tahun ini kiranya kita terus senantiasa melangkah di dalam jalan Tuhan dan kita mau menjadikan hidup kita selalu menjadi berkat dan mujizat bagi orang-orang lain. Kiranya Tuhan memberkati kita masing-masing menggenapkan panggilanNya bagi kita, kiranya Tuhan memberkati gerejaNya dan jemaatNya untuk melangkah dengan segala anugerah yang sudah Tuhan beri kepada kita masing-masing.(kz)