01. Hidup ini Apa Gunanya?

Seri Eksposisi Pengkhotbah (1)
Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Tema: Hidup ini Apa Gunanya?
Nats: Pengkhotbah 1:1-18

“Apakah gunanya manusia berusaha dengan jerih payah di bawah matahari?” (Pengkhotbah 1:3).

Apakah hidup ini adalah hidup yang berharga untuk kita jalani?

Tahun ini kita akan mengawalinya dengan mempelajari kitab Pengkhotbah. Kenapa? Sebab jikalau kita ingin tahu apa yang tejadi dalam hidup sehari-hari, jikalau kita ingin meneliti dan memikirkan apa yang engkau alami dalam hidupmu di bawah matahari, semuanya sudah ada tertulis di dalam kitab ini. Kitab ini memberi kekuatan dan pengharapan ketika orang percaya melewati segala yang terjadi di dalam hidupnya dari hari ke sehari. Namun tidak banyak orang yang setuju dengan pendapat dia karena justru kelihatannya kitab Pengkhotbah malahan memperlihatkan dimensi yang begitu pesimis terhadap hidup, sehingga orang meragukan adakah bisa menemukan nilai spiritual darinya, tidak sedikit bahkan yang mempertanyakan apakah benar kitab ini bagian dari Alkitab orang Kristen. Puji Tuhan, kita mengawali tahun ini dengan yakin dan percaya apapun yang akan terjadi di depan kita harus selalu berangkat dengan rendah hati dan dengan berani, kita tahu Allah kita adalah Allah yang berkuasa dan berdaulat adanya. Dia mengontrol dan mengatur segala sesuatu dan tidak ada hal yang terkecil dan paling remeh sekalipun yang di luar kontrolNya dan tidak ada mistake yang Dia kerjakan di dalam hidup kita karena setiap benang yang disulam dan dirajutNya, warnanya apapun, kita percaya itu akan menghasilkan sebuah hasil karya tenunan yang terindah dan terbaik. Itulah sebabnya kita percaya Allah kita berdaulat seperti itu.

Sebagai orang yang percaya Allah itu berdaulat dan berkuasa atas hidup kita, kita tidak ragukan itu, tetapi masalahnya banyak orang percaya Allah itu berdaulat, Allah itu berkuasa mengatur, namun di dalam kepercayaan itu seringkali muncul kata “tetapi.” Kalau memang percaya kenapa masih ada “tetapi”? Oleh sebab banyak kita “struggle” memahami apa yang terjadi dalam hidup kita sehari-hari, realita yang ada begitu berbeda dengan apa yang kita pikirkan karena kita melihat dari “sini.” Inilah hidup yang kita lihat dari perspektif manusia, yang begitu terbatas jikalau kita tidak mengangkat pandangan kita lebih ke atas, kepada keindahan dan kemuliaan Allah kita di surga. Tidak heran apa yang akan kita lihat di bawah matahari adalah hidup yang hampa dan tidak bahagia. Banyak di antara kita coba ingin melihat dimana koneksi dan keterkaitan antara Allah yang berdaulat itu dapat memberikan jawaban, memberikan kekuatan dan penyelesaian bagi setiap problem dan pertanyaan-pertanyaan yang muncul di dalam hidup kita.

Kitab Pengkhotbah adalah kitab yang jujur berbicara akan segala permasalahan dan tragedi dalam hidup ini; kitab Pengkhotbah betul-betul ingin meneliti apa yang terjadi di bawah matahari. Pada waktu kita bicara mengenai Allah berdaulat, Allah mengatur, tidak ada hal dalam hidup kita yang terjadi di luar kontrolNya, itu adalah pengakuan iman kita yang menerobos apa yang ada “above the sun.” Tetapi realitanya kita tidak bisa melihat semua itu dengan mata jasmani kita karena yang bisa kita lihat adalah apa yang disinari oleh matahari itu ke bawah. Kita hanya bisa mengaku dengan iman kita walaupun kita tidak tahu koneksinya kenapa seolah-olah puzzle hidup kita berantakan karena kita tidak bisa melihat “above the sun” ada Allah yang mengontrol dan mengatur, itulah yang memberi kekuatan kepada iman kita. Tetapi pada waktu kita “observe under the sun” maka kitab Pengkhotbah adalah kitab yang sedang berbicara akan aspek ini. Anggaplah kita adalah orang yang skeptik akan pengontrolan Allah ini, maka Pengkhotbah mengajak kita melihat dari perspektif ini, “Aku melihat segala perbuatan yang dilakukan orang di bawah matahari…” dengan bijaksana yang dia dapat. Sehingga seolah kitab ini berkata kalau kita hendak menjalani hidup kita dengan masuk dari pintu depan itu sebagai pintu iman kita, lalu kita buka pintu itu meskipun kita tidak tahu apa yang akan terjadi di depan tetapi kita percaya Tuhan mengontrol maka kita berjalan. Kitab Pengkhotbah seolah bicara begini: abaikan itu, engkau tidak tahu apa yang akan terjadi di depan, sekarang saya ajak engkau tutup pintu itu dan mencoba menyelesaikan persoalan itu dari pintu belakang, apakah dari pintu belakang ada solusinya. Kita belajar dari kitab Pengkhotbah untuk melihat apa yang akan terjadi dalam hidup kita apabila kita memilih jalan dan hal-hal yang ditawarkan oleh dunia ini ketimbang memilih apa yang Tuhan berikan.

Ini yang dia katakan dari awal “aku meneliti apa yang terjadi di bawah matahari,” kitab ini mempertanyakan semua pertanyaan-pertanyaan yang mungkin engkau dan saya pertanyakan dalam hidup ini, pertanyaan yang sering muncul bahkan dari orang yang tidak percaya Tuhan: Apa arti hidup ini? Mengapa tidak ada bahagia di dalam hidupku? Apakah Allah sungguh peduli kepadaku? Apa sih yang lebih penting dari hidup ini? Apa gunanya saya bekerja dan mengumpulkan harta? Mengapa ada begitu banyak penderitaan dan ketidak-adilan di dunia ini? Mengapa di pengadilan itu justru terjadi ketidak-adilan? Semua pertanyaan-pertanyaan ini diangkat oleh kitab Pengkhotbah. Justru dengan membaca kitab Pengkhotbah kita dibimbing untuk menyembah Tuhan yang sejati itu, Pencipta yang maha kuasa dan Allah yang berdaulat, Allah yang agung yang memerintah alam semesta ini.

Tetapi unik cara menjawab kitab Pengkhotbah berbeda dengan cara menjawab kitab Amsal. Dua kitab ini dikategorikan sebagai “Wisdom Literature” kitab bijaksana mengenai apa yang paling terbaik di dalam pilihan dan decision making, di dalam prinsip hidup yang kita ambil yang akan membuat hidup kita seperti apa. Berdasarkan konsep seperti itulah yang kita pelajari dalam wisdom literature. Wisdom literature itu bukan kitab hukum, bukan kitab nubuatan dan bukan kitab peraturan. Jadi kita jangan melihat sebagai suatu rumus atau resep hidup yang baku. Contohnya dalam Amsal 10:4 mengatakan “Tangan yang lamban membuat miskin, tetapi tangan orang rajin menjadikannya kaya.” Orang yang malas akan miskin, orang yang rajin akan kaya. Tetapi di dalam kenyataan hidup seringkali tidak begitu, bukan? Karena kita melihat banyak orang yang bekerja banting tulang terus saja hidup dalam kemiskinan. Sedangkan ada yang tidak kerja bisa kaya-raya. Maka kalimat yang diberikan oleh Amsal adalah bijaksana yang membimbing kita memilih the best option bagi hidup kita. Berbeda dengan kalimat yang dikatakan oleh Paulus sebagai janji Tuhan bagi orang-orang yang mengasihi Tuhan dan yang dengan generosity mendukung pekerjaan Tuhan, “Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaanNya dalam Kristus Yesus” (Filipi 4:19).

Amsal 1:7 mengatakan, “Takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan.” “Akhir kata dari segala yang didengar ialah: takutlah akan Allah dan berpeganglah pada perintah-perintahNya, karena ini adalah kewajiban setiap orang” (Pengkhotbah 12:13). Dimana kesamaannya? Dua-dua sama-sama menyatakan aspek “fear the Lord” takut akan Allah menjadi prinsip hidup yang menjadi sumber, akar, dasar dan fondasi dari hidup yang bijaksana dalam dunia ini. Bukan kepintaran, bukan edukasi, tetapi hati yang takut akan Tuhan. Bedanya, kitab Amsal menaruh prinsip ini di depan “Takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan” the fear of YAHWEH is the beginning of knowledge. Sedangkan kitab Pengkhotbah menaruhnya di belakang, “Akhir kata dari segala yang didengar ialah: takutlah akan Allah” here is the conclusion of the matter: fear God. Pendekatannya berbeda.

Ilustrasi ini membantu kita pengerti perbedaannya: di meja ini saya letakkan sepiring nasi, bawang, telur, kecap manis, garam dan lada, lalu juga saya taruh sebuah resep yang menuliskan satu persatu langkah-langkah memasaknya. Dengan mengikuti resep langkah demi langkah, sdr pasti tidak akan salah, nanti di akhir dari proses itu sdr akan menghasilkan sepiring nasi goreng.

Di meja yang satu saya taruh semua ingredient tetapi tidak ada petunjuk apa-apa. Sdr kemudian explore memakai semua bahan itu, mungkin akhirnya jadi kacau-balau atau hasilnya bukan sepiring nasi goreng seperti yang kita harapkan, lalu setelah sdr melewati semua pengalaman dengan segala kesalahan sampai akhirnya you’ve got the wisdom bagaimana membuat sepiring nasi goreng.

Kitab Amsal mengajar anak muda memulai hidupnya memasuki fase orang dewasa dengan hati yang takut akan Tuhan supaya hidupnya tidak salah. Tetapi kitab Pengkhotbah seolah-olah melihat anak itu menjadi anak terhilang. Setelah anak muda itu menjalani hidup di dalam segala jalan, mencari jawaban atas segala pencaharian makna hidup dengan cara dunia, pada akhirnya baru Pengkhotbah menyatakan a true assessment apa arti hidup di luar Tuhan. Satu-satunya jalan keluar bagi hidupmu yang miserable itu adalah kembali kepada Tuhan, Allah Penciptamu (Pengkhotbah 12:1). Orang mencari makna hidup diidentikkan dengan kesuksesan, maka dia berusaha mencapainya dengan segala daya dan usaha, setelah sampai terakhir adakah itu “a life worth living”? Orang mencari makna hidup diidentikkan dengan ketenaran, maka dia berusaha mengejarnya, setelah sampai terakhir adakah itu “the better choice for your life”?

Pertanyaan apa yang muncul dari hidup di bawah kolong langit ini? Kitab Pengkhotbah memulainya dengan satu pertanyaan yang luar biasa, “Apakah gunanya manusia berusaha dengan jerih payah di bawah matahari?” (Pengkhotbah 1:3). Ini adalah pertanyaan yang memang paling penting untuk ditanyakan di dalam hidup setiap orang. Is it profitable? Adakah untungnya? Saat membuka mata di pagi hari sampai menutup mata di malam hari, tidak ada hidup kita yang tidak di-energize dengan pertanyaan ini, ada untungnya tidak? Kata “untung” dalam bahasa Ibrani “yitron” adalah istilah komersial yang umum digunakan dalam konteks bahasa bisnis, mengacu kepada surplus atau kelebihan yang didapat setelah membayar semua perongkosan.

Kita mungkin sering kesal berjumpa dengan orang yang terus profit oriented seperti ini. Dari berbisnis sampai berteman, selalu profit oriented “tolong dong kalau ada kangtao, bagi-bagi rejeki sedikit; bahkan lihat pacar anak, juga profit oriented. Orang kalau sudah dengar kata “cuan” mata yang mengantuk langsung buka lebar-lebar, yang tadinya lemes langsung bersemangat, telinga langsung siaga. Tetapi jangan cepat-epat kesal dan menghina orang seperti ini karena mungkin kita juga sebetulnya di-drive dengan hal yang sama, paling tidak dua belah pihak sama-sama ada benefit, karena sejujurnya tidak ada interaksi hidup kita yang bisa lepas dari hal itu. Sehingga tidak heran Adam Smith, the father of Economics mengatakan apa yang menjadi drive di balik hidup manusia adalah the invisible hands yaitu economics. Hubungan kita satu dengan yang lain pada akhirnya menghasilkan benefit dan keuntungan. Keuntungan yang baik adalah semua pihak mendapat untung. Apakah untungnya? Sebagai orang Kristen kita harus mencari jawabannya dari firman Tuhan.

Sayangnya banyak orang Kristen yang hidupnya “dualistik,” saat berbisnis dengan orang berusaha mendapat keuntungan sebanyak-banyaknya bagi diri sendiri dan kalau perlu sampai merugikan orang lain, tetapi waktu di dalam gereja menjadi hipokrit yang munafik. Atau satu jenis lagi adalah orang Kristen yang “alergi” menganggap ini adalah konsep dunia materialistik dan tidak disukai oleh Tuhan. Akhirnya orang Kristen berprinsip tidak mau memikirkan keuntungan, lepaskan semua itu dan hidup simple sederhana, maka orang seperti ini sering jadi korban penipuan. Dalam hidup sehari-hari perusahaan mengambil kita bekerja karena dia bisa mendapat keuntungan dari kita dan kita mendapat gaji dari situ. Berarti dasar daripada pekerjaan kita adalah karena sama-sama mendapat untung. Seorang pernah bercanda mengatakan di dalam dunia ini yang tidak boleh dihitung sebagai “profitable” adalah pekerjaan Tuhan ministry yang adalah “non-profit,” yang orang langsung lari kabur karena tidak mau berbagian karena tidak ada keuntungannya. Sebagai orang Kristen kita bekerja dengan baik-baik, kita tidak mau melakukan sesuatu yang tidak baik melalui pekerjaan kita, tetapi kita mendapat pekerjaan itupun berangkat daripada konsep profit. Kalau tidak ada untung tidak ada pergerakan dan pekerjaan seperti itu. Yang ada adalah melalui pertanyaan apa untungnya, apa gunanya, apakah kita merasa hidup kita berarti dan berguna kalau untung terus? Untung terus itu progress, kita mendapatkan dan terus mendapatkan sesuatu dari apa yang kita kerjakan.

Di sinilah ada dua hal yang menarik Pengkhotbah berikan untuk mengingatkan kita tidak boleh melihat konsep menjalani hidup untuk mendapat keuntungan selalu dalam bentuk progress dan akumulasi. Hal yang pertama yang Pengkhotbah ingatkan adalah ada siklus natural dalam dunia ini. Maka dia mengatakan “Matahari terbit, matahari terbenam, lalu terburu-buru menuju tempat ia terbit kembali. Angin bertiup ke selatan lalu berputar ke utara, lalu kembali…” (Pengkhotbah 1:5-7). Dengan kata lain kita tidak bisa melek 24 jam untuk terus mencari dan mendapat untung. Tidak mungkin seperti itu terus karena ada siklusnya.

Kemarin kita pergi ke vineyard untuk memetik buah anggur yang tidak bisa dibikin menjadi wine. Pemilik kebun anggur menceritakan bahwa dua tahun terakhir ini tidak ada panen anggur karena curah hujan yang tinggi menyebabkan air terlalu banyak dan kadar gula dari buah anggur terlalu rendah sehingga tidak bisa menghasilkan kadar alkohol yang cukup untuk menjadi wine. Itulah siklus alam. Jangan pikir tahun ini bisa menghasilkan panen 10 ton, lalu tahun depan bisa panen 30 ton, tahun depannya lagi 100 ton. Ada masa dimana dua tahun berturut-turut tidak ada panen sama sekali. Hidup tidak selalu meraih dan meraih keuntungan; hidup tidak selamanya mengumpulkan dan mengakumulasi kekayaan. Siklus alam yang tidak bisa engkau kontrol. Ada masanya dia terbit ada masanya dia terbenam; ada masa untung, ada masa kekeringan terjadi; ada masa panen, ada masa gagal panen sama sekali.

Pengkhotbah juga bicara mengenai generasi, “Keturunan yang satu pergi dan keturunan yang lain datang, tetapi bumi tetap ada.” Maksudnya adalah sampai kapan pun hidup kita yang singkat di dunia ini tidak bisa produktif terus. Masa produktif itu ada batasnya, dan setelah kita akumulasi apa yang kita kumpulkan sampai umur 60 tahun, sejujurnya semua itu akan kita pakai untuk membayar dan mencicil ongkos kesehatan kita, itu maksud dari bagian ini. Ada masa sehat dan kuat, ada masa sakit mulai datang. Generasi lewat, muncul generasi baru, itu proses natural, selalu akan terjadi pengulangan. Kita tidak boleh berpikir hidupku akan ada selama-lamanya di dunia ini dan sepanjang hidup itu akan terus mendapat untung. Generasi pergi, generasi baru datang, terus seperti itu. Hidup tidak seperti yang kita rencanakan dan harapkan. Inilah pengalaman hidup manusia, tidak ada yang kita buat bisa mendefinisikan makna hidupmu.

Yang kedua, Pengkhotbah mengatakan “Mata tidak kenyang melihat, telinga tidak puas mendengar” (Pengkhotbah 1:8). Keinginan hati manusia tidak pernah terpuaskan. Dalam era informasi seperti sekarang ini, tidak pernah kurang dan tidak pernah habis-habis hal yang bisa dilihat lewat segala sarana yang tersedia dan telinga kita tidak pernah berhenti mendengar alunan suara lewat iPod, iPhone, iTune, televisi, CD dan mp3. Tetapi di tengah begitu limpahnya semua sarana itu, mata dan telinga kita tidak terpuaskan, kita terus mau melihat dan mendengar lebih dan lebih lagi.

Ada satu kisah tragis terjadi pada diri dua orang penambang emas yang menggali dan menemukan begitu banyak emas di sebuah tambang. Siang dan malam tidak berhenti dua orang ini menggali dan mengumpulkan emas itu sampai menjadi sebuah tumpukan yang sangat besar. Siang dan malam mereka tidak berhenti bekerja mengambil emas yang ada di depan mata mereka, seperti orang yang lupa daratan. Mereka lupa makan dan minum, mereka lupa untuk menyiapkan segala bekal yang sangat mereka perlukan memasuki musim dingin. Sampai akhirnya badai salju datang, mereka mati beku di atas tumpukan emas yang mereka kumpulkan.

Pertanyaan Pengkhotbah digemakan oleh pertanyaan Tuhan Yesus, “Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya?” (Matius 16:26). Engkau bisa mendapatkan segala-galanya di dalam dunia ini tetapi apa gunanya semua itu kalau engkau kehilangan hal yang paling berharga yaitu jiwamu, hidup itu sendiri? Bahkan pertanyaan Yesus menerobos hal yang lebih dalam daripada pertanyaan Pengkhotbah, bukan saja melihat apa gunanya hidup bersusah payah di dalam dunia ini, apa yang di dalam dunia akan kita peroleh dari segala jerih lelah kita; tetapi lebih jauh lagi setelah bersusah payah dan memperoleh segala-galanya, apa gunanya semua itu kalau akhirnya yang lebih penting dan lebih berharga yaitu jiwamu terhilang selama-lamanya di dalam kekekalan? Segala yang ada di dalam dunia ini tidak akan cukup untuk membayar dan menggantikan keterhilangan jiwa di dalam kekekalan itu. Kiranya Tuhan memimpin setiap kita mendapatkan jawabannya. Jika kita memang mencari keuntungan dalam hidup ini, kita tidak akan mendapatkannya dari apa yang ditawarkan oleh dunia ini. Hanya di dalam Yesus Kristus dan beriman kepadaNya keuntungan yang kekal itu kita dapatkan karena Ia memberikan hidup yang kekal kepada setiap orang yang percaya kepadaNya (Yohanes 1:12).

Bersyukur melalui pergumulan hidup kita jatuh dan bangun, pada akhirnya Tuhan boleh mencelikkan mata kita untuk melihat hal yang terindah dan yang terbaik yang akan Tuhan buka dan pimpin bagi kita. Kiranya pengalaman-pengalaman hidup dari kitab Pengkhotbah ini mengingatkan kita supaya kita tidak hidup berjalan dalam jalan yang salah dan keliru tetapi kita senantiasa dituntun oleh kebenaran firman Tuhan yang indah dan penuh bijaksana itu. Terpujilah Tuhan selama-lamanya. Kiranya firmanNya boleh kita taruh di dahi kita dan menuntun tangan kita bekerja dan berkarya dan kita jalankan di tengah-tengah kehidupan kita.(kz)