Yesus Kristus Penggenapan Nubuat PL

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Tema: Yesus Kristus Penggenapan Nubuat PL
Nats: Lukas 24:44-45

“Inilah perkataanku yang telah Kukatakan kepadamu, ketika Aku masih bersama-sama kamu yakni bahwa harus digenapi semua yang ada tertulis tentang Aku dalam kitab Taurat Musa dan kitab Nabi-nabi dan kitab Mazmur. Lalu Ia membuka pikiran mereka sehingga mereka mengerti Kitab Suci” (Lukas 24:44-45).

Bagi orang Yahudi Mesias yang sudah dijanjikan Allah sejak dahulu kala itu akan datang sesuai dengan nubuat para nabi dalam kitab suci. Pada waktu raja Herodes bertanya kepada para pemimpin agama dimana Mesias itu akan dilahirkan, mulailah mereka membolak-balik kitab suci dan berkata, Mesias itu akan datang di sebuah kota bernama Betlehem sesuai dengan nubuat nabi Mikha 5:1 (Matius 2:3-6). Tetapi kita tahu tujuan Herodes bertanya itu bukan untuk menyambut dan menyembahNya, melainkan untuk membunuh Dia (Matius 2:13). Tetapi pada saat yang sama kita menemukan ada orang-orang yang percaya Mesias itu akan datang, mereka menunggu dengan setia dan menantikan dengan sabar, bukan satu dua hari mereka menunggu, tetapi belasan bahkan puluhan tahun lamanya mereka terus menunggu. Alkitab mencatat satu ironi, bukan pemimpin-pemimpin agama yang notabene tahu secara teologis bahwa Mesias itu akan datang, Lukas 2:25-38 mencatat mereka adalah Simeon dan Hana. Dua orang ini setiap hari berada di Bait Allah dan berdoa di hadapan Allah bertahun-tahun lamanya, sampai dua-duanya telah lanjut usia. Kesabaran seperti ini adalah kesabaran yang membuktikan iman itu hidup adanya. Mereka tahu janji Tuhan itu tidak akan pernah tidak digenapi dan tidak dilaksanakan oleh Tuhan Allah yang menguasai alam semesta ini, yang mengatur segala sesuatu. Mereka hanya tidak tahu kapankah janji itu digenapi dan dilaksanakan. Betapa ironis dengan pemimpin-pemimpin agama percaya akan janji dan nubuat Allah mengenai datangnya Mesias, tetapi pada saat Mesias itu hadir dan ada di dunia, sampai akhir mereka tetap tidak bisa percaya dan menerimaNya. Bahkan Yesus menyebutkan “Abraham bapamu bersukacita bahwa ia akan melihat hariKu dan ia telah melihatnya dan ia bersukacita” (Yohanes 8:56). Dan yang kedua, “Yang akan mendakwa kamu di hadapan Bapa adalah Musa, itu Musa yang kepadanya kamu menaruh pengharapanmu. Sebab jikalau kamu percaya kepada Musa, tentu kamu akan percaya juga kepadaKu sebab ia telah menulis tentang Aku” (Yohanes 5:45-46).

Pada waktu Yesus mengatakan kepada murid-muridNya kitab Taurat Musa dan kitab Nabi-nabi dan kitab Mazmur, semua kitab-kitab itu bicara mengenai satu hal, bicara mengenai satu nama, bicara mengenai satu pribadi, bicara mengenai Yesus Kristus. Tanpa mengerti hal ini, semua yang ada di dalam PL hanyalah akan menjadi potongan-potongan teka-teki atau puzzle. Orang Yahudi percaya akan janji Tuhan di dalam kitab Mazmur, mereka percaya apa yang dikatakan oleh nabi Yesaya, dari kitab Kejadian sampai Maleakhi, mereka percaya semua janji Allah itu. Persoalan mereka sebenarnya cuma satu yaitu mereka tidak tahu bagaimana menyusun dan menempatkan potongan-potongan itu menjadi satu gambar yang utuh. Pada waktu Yesus menata potongan-potongan itu kita bisa melihat dengan jelas itulah gambar dari pribadi Yesus Kristus, Mesias yang telah dijanjikan Allah itu. Itulah yang Ia katakan kepada murid-muridNya, pencerahan itu muncul dari Dia, sehingga pada waktu kita membaca PL kita akan melihat dengan begitu indah dan betapa klop potongan-potongan mozaik yang ditulis oleh lebih dari 40 orang penulis PL dengan rentang waktu 4000 tahun, mereka tidak pernah duduk sama-sama, tidak pernah berdiskusi sama-sama untuk membicarakan topik apa yang ingin mereka bicarakan. Tetapi dengan pimpinan dari Roh yang sama, yang ada di dalam hati mereka memberikan wahyu itu untuk menuliskannya, meskipun dengan rentang waktu yang begitu panjang mereka bisa menuliskan satu topik yang sama yaitu tentang Yesus Kristus, yang agung dan mulia itu. Kalau kita dengan teliti membaca Perjanjian Lama, kita akan menemukan banyak sekali ayat-ayat di dalamnya mengenai kedatangan Mesias itu, apa yang Ia kerjakan dan lakukan, mengenai penderitaanNya dan kematianNya di kayu salib. Bukan saja gelar dan bukan saja nubuatan mengenai Dia adalah Anak Daud yang akan datang. Di dalam PL begitu banyak peristiwa-peristiwa yang terjadi, semua peristiwa itu bicara soal Kristus dan apa yang Dia kerjakan dan lakukan. Ada beberapa aspek mengenai siapakah diri Yesus Kristus, sang Mesias dari sejak awal kitab Kejadian. Dia jelas sekali disebutkan sebagai “benih keturunan wanita” atau Hawa dalam Kejadian 3:15 saat Allah berfirman kepada si Ular yaitu Iblis, “keturunannya akan meremukkan kepalamu dan engkau akan meremukkan tumitNya.” Ini bicara mengenai suatu tindakan yang penting yaitu bicara mengenai kematian Yesus di kayu salib, dimana Iblis berhasil melakukan sesuatu yaitu mendatangkan efek dimana Yesus babak belur dipukul dan disiksa dan akhirnya mati di kayu salib, tergenaplah ayat ini dimana Iblis meremukkan tumit Yesus Kristus, tumit berarti sebagian saja kerusakan itu. Tetapi benih dari keturunan perempuan itu akan meremukkan kepala si Iblis yang berarti finalitas terjadi.
Mesias itu adalah “taruk dari Isai, tunas Daud” keturunan Daud. Dia akan datang sebagai raja, sebagai nabi dan bukan saja itu, Dia adalah Anak Allah sendiri yang datang ke dunia. Dalam Yohanes 8:58 Yesus berkata kepada orang-orang Yahudi, “Sebelum Abraham jadi, Aku telah ada.” Mereka semua sangat mengerti apa yang sedang Dia katakan yaitu bahwa Dia sudah ada sebelum Abraham ada, di situ Yesus menyetarakan diriNya dengan Allah sendiri. Sehingga reaksi mereka sangat marah dan hendak melempariNya dengan batu.

Dalam Matius 22:41-46 Yesus kembali bersoal-jawab dengan orang-orang Farisi mengenai siapa Mesias itu, anak siapakah Dia. Mereka menjawab, Mesias adalah anak Daud. Yesus bertanya lagi, kalau Mesias memang anak Daud, bagaimana mungkin Daud dalam Mazmur 110:1 menyebut Dia tuannya, sekaligus juga anaknya? Orang-orang ini tidak bisa menjawab pertanyaan Yesus karena memang mereka tidak punya jawabannya. Mereka tidak bisa menjawab karena posisi mereka melihat Mesias adalah anak Daud tetapi bukan hanya sampai di situ saja, tetapi Dia adalah yang Daud sembah, yang Daud panggil “O, my Lord.” Mesias yang rajamu sembah, siapa Dia? Bukan itu saja, Mesias itu yang Tuhan Allahmu menghormatiNya dengan memberiNya duduk di sebelah kananNya, siapa Dia? Dari ayat ini ada dua aspek yang menyatakan identitasNya, keTuhananNya dan keIlahianNya.

Ada beberapa bagian yang menarik di dalam kitab Pentateukh yang ditulis oleh Musa. Pertama, dalam kitab Kejadian pada waktu Allah menciptakan manusia, Allah berkata dengan menggunakan kata ganti orang kedua jamak atau plural, “Baiklah kita menciptakan manusia menurut gambar dan rupa kita” (Kejadian 1:26). Kedua, dalam kitab Keluaran dan nantinya kitab Ibrani yang memberitahukan kepada kita pada waktu Musa membuat kemah suci dan semua peralatan yang ada dan pola ibadah yang dilakukan semua menuruti contoh bagaimana ibadah yang ada di surga yang dilihat Musa dalam visi yang Allah bukakan kepadanya. Yang Musa buat adalah bayang-bayangnya saja. Penulis Ibrani mengatakan dari hal itu berarti ada suatu hal yang eternal yang dilihat dan dinyatakan Musa. Jadi ibadah mengorbankan binatang hanyalah bayang-bayang dari satu contoh yang original, yang eternal, yang sejati di surga sana. Penulis Ibrani memberitahukan kepada kita darah korban kambing dan domba tidak pernah sanggup untuk menghapus dosa. Salah satu buktinya adalah setiap tahun orang terus datang ke rumah Tuhan mempersembahkan korban untuk pengampunan dosa, itu tidak sanggup membereskan dosa manusia. Hanya ada satu pengorbanan yang dilakukan oleh Yesus Kristus di kayu salib, satu kali saja tetapi berkhasiat untuk selama-lamanya. Ketiga, hal yang indah adalah Musa mengatakan, “Seorang nabi dari tengah-tengahmu, seperti aku, akan dibangkitkan bagimu oleh Tuhan, Allahmu, dengarkanlah Dia” (Ulangan 18:15). Musa memerintahkan orang Israel untuk mendengarkanNya, berarti otoritasNya begitu besar. Kedua, kata yang dipakai “seperti aku” berarti paling sedikit kuasanya, kebesarannya, dan penyertaan Allah kepadanya sama seperti Musa. Ketiga, kata yang dipakai berbentuk “future tense” yaitu “akan dibangkitkan dari antaramu.” Bagi orang Yahudi, siapa nabi yang dianggap kebesarannya setara dengan Musa? Mungkin mereka akan menjawab nabi Elia karena dilihat dari pada waktu Musa dan Elia melayani, kuasa dan penyertaan Tuhan begitu nyata dengan banyaknya mujizat yang dilakukan, muncul dengan fenomena alam yang spektakular, maka Elia dianggap setara dengan Musa . Selebih daripada mereka tidak ada lagi. Namun di dalam catatan sejarah lebih dari 2000 tahun yang lalu pernah lahir seorang Yahudi yang melakukan mujizat yang begitu banyak, menyembuhkan orang sakit, membangkitkan orang mati, menenangkan angin badai, memberi makan ribuan orang dan mengusir roh-roh jahat, Dia adalah Yesus Kristus. Dalam kitab Daniel ada secercah sinar cahaya yang memberitahukan siapakah Dia, bukan pada waktu Dia datang tetapi jauh sebelum Dia datang. Daniel 7:13-14 menyebut satu pribadi yang bernama “Anak Manusia” dimana Allah memberi kepadaNya kekuasaan dan kemuliaan sebagai raja. Maka orang-orang dari segala bangsa, segala suku bangsa dan bahasa akan mengabdi kepadaNya. KekuasaanNya kekal dan tidak akan lenyap, kerajaanNya adalah kerajaan yang tidak akan berkesudahan.

Sesuatu pertanyaan yang muncul dalam pikiran banyak teolog dan penafsir Alkitab, jikalau memang Yesus adalah Anak Allah, mengapa Yesus tidak pernah secara langsung menyebut “Aku adalah Anak Allah,” atau “Akulah Mesias,” tetapi Yesus menyebut diriNya sebagai “Anak Manusia.” Bukan berarti Yesus menyatakan diriNya sebagai manusia, sebab Daniel 7 menyebutNya “seperti Anak Manusia” berarti Dia memiliki kemuliaan, keagungan dan kerajaanNya tidak akan pernah musnah selama-lamanya, kemuliaanNya dahsyat luar biasa.
Setelah Yesus bangkit para murid baru mengerti dengan penuh dan konsep ini dipakai oleh mereka membangun argumentasi dalam Kisah Rasul 2:34-36 “Sebab bukan Daud yang naik ke surga, malahan Daud sendiri berkata: Tuhan telah berfirman kepada Tuanku duduklah di sebelah kananKu sampai Kubuat musuh-musuhMu menjadi tumpuan kakiMu. Jadi seluruh kaum Israel harus tahu dengan pasti bahwa Allah telah membuat Yesus yang kamu salibkan itu menjadi Tuhan dan Kristus.”

Yesus adalah Tuhan dan Kristus atau Mesias yang sudah dibicarakan di Perjanjian Lama jauh-jauh hari, ratusan, ribuan tahun yang lalu. Maka betapa indah kalimat selanjutnya, “Hai orang Israel, engkau harus tahu dengan jelas yang dibicarakan semua yang ada di dalam Perjanjian Lama, apa yang Daud katakan itu adalah Yesus yang engkau salibkan. Yesus menjadi Tuhan dan Kristus, Tuhan yang kita sembah, dan Kristus yang telah melakukan karya agung sebagai Mesias dan menjadi Juruselamat bagi kita.

Salah satu yang menarik adalah mengenai batu karang yang mengeluarkan air yang diminum tidak ada habis-habisnya air itu mengalir terus. Batu Karang itu adalah Yesus Kristus, siapa yang mengatakan demikian? Rasul Paulus dalam 1 Korintus 10:4 “dan mereka semua minum minuman rohani yang sama sebab mereka minum dari batu karang rohani yang mengikuti mereka dan batu karang itu adalah Kristus.“ Ayat ini kemudian memberikan kita pencerahan yang luar biasa mengapa Musa tidak diijinkan Allah masuk ke tanah perjanjian. Apa yang Musa lakukan bukan sekedar tidak taat kepada firman Tuhan pada waktu dia pukul batu itu dua kali. Ayat ini memberikan pengertian yang dalam, batu karang yang menghasilkan air itu adalah Kristus. Ada dua peristiwa mengenai hal ini, pertama dalam Keluaran 17:6 pada waktu orang Israel ada di padang gurun dan di tengah kehausan yang begitu dahsyat mereka berseru-seru minta air. Di situ Allah menyuruh Musa memukul batu karang itu dan keluarlah air dari batu itu. Peristiwa kedua hal yang serupa terjadi kembali, orang Israel kehausan dan minta minum lagi. Lalu Tuhan menyuruh Musa berkata kepada batu karang itu untuk mengeluarkan air. Tetapi dalam kemarahannya Musa kemudian memukul batu itu dua kali (Bilangan 20:11). Salah Musa dimana? Bukan karena Tuhan suruh dia pukul satu kali, Musa pukul dua kali. Musa tidak taat, Musa tidak melakukan exactly apa yang Tuhan firmankan, karena Tuhan bilang “katakan” tapi yang Musa lakukan “pukul, dua kali.” Tuhan jelas menghukum Musa karena Musa sengaja melanggar kekudusan Tuhan di depan seluruh umat Israel. Tetapi lebih daripada itu mari kita bertanya, kenapa peristiwa kali yang kedua ini Tuhan tidak suruh Musa pukul batu itu? Kenapa peristiwa kali yang kedua ini Tuhan hanya suruh Musa mengatakan kepada batu itu untuk mengeluarkan air? Jawabannya, karena batu karang itu adalah Yesus Kristus, yang hanya satu kali saja disalibkan. Jadi bukan saja soal Musa pukul dua kali, bukan saja soal Tuhan suruh mengatakan tetapi Musa pukul batu itu, tetapi ada makna yang lebih dalam daripada itu yaitu Musa tidak menghargai Kristus mati disalib satu kali dan efeknya untuk seterusnya. Engkau hanya datang dan menerima, berseru minta air hidup untuk memuaskan dahaga kita.

Maka hari ini kita sedikit memahami waktu Yesus berkata semua yang dinubuatkan tentang Dia dalam kitab-kitab Perjanjian Lama harus tergenapi; kitab Taurat Musa, kitab Nabi-nabi, kitab-kitab Syair itu masing-masing seperti potongan-potongan puzzle yang kemudian disusun dan direkatkan menjadi satu gambar yang jelas yaitu Yesus Kristus.

Sampai hari ini orang Yahudi masih tidak menerima hal ini karena di dalam PL masih ada sisa tiga potongan puzzle yang belum ditempel, yang bicara beberapa hal: potongan puzzle dari Yesaya 65:17-25, potongan puzzle dari 1 Korintus 15:54b-56 dan potongan puzzle dari Wahyu 21:4 “Dan Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka dan maut tidak akan ada lagi. Tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita, sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu.” Yesaya 65:17-25 memberikan gambaran yang begitu indah pengenapan shalom yang Tuhan janjikan. “Sebab sesungguhnya Aku menciptakan langit yang baru dan bumi yang baru, bergiranglah dan bersorak-sorak untuk selama-lamanya. Tidak ada yang akan berbuat jahat atau yang berlaku busuk di segenap gunung kudus Tuhan.” Kedatangan Mesias akan mendatangkan keadilan yang seadil-adilnya. Orang akan mendirikan rumah dan mendiaminya; orang akan menanam kebun-kebun anggur dan memakan buahnya. Setiap orang akan menikmati pekerjaan tangannya. Mereka tidak akan bersusah-susah dengan percuma. Yesaya 65 ini menjadi gambaran shalom yang begitu indah dan sempurna. Tidak ada kejahatan, ketidak-adilan, penderitaan dan kematian. Semua lukisan keadilan, kebenaran dan kesucian Tuhan, itu akan penuh dinikmati oleh umat Tuhan.

Sekarang engkau dan saya masih hidup di dalam dunia yang seolah-olah kuasa penebusanNya masih di bawah tanah. Waktu Yesus pertama kali datang ke dalam dunia, Ia menyembuhkan orang yang mengalami sakit-penyakit, Yesus mengangkat penderitaan dan membangkitkan orang dari kematian menjadi satu “foretaste” dimana satu hari kelak semua itu tidak akan ada lagi. Orang Yahudi melihat itulah hal-hal yang akan mesias kerjakan pada waktu dia datang. Yesus sudah kerjakan itu “already but not yet.” KedatanganNya sekali memerlukan kedatanganNya yang kedua kali sehingga semua janji dan nubuatan itu menjadi genap dan penuh sempurna. Pada waktu Ia datang kali kedua tidak akan ada lagi perkabungan dan ratap tangis. Moment hari itu satu sengat dosa yang terakhir yaitu sengat kematian akan dicabut oleh Tuhan. Rasul Paulus mengatakan, oleh karena Tuhan kita Yesus sang Mesias itu sudah menang atas dosa dan kematian, “karena itu berdirilah teguh, jangan goyah dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan. Sebab kamu tahu bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia” (1 Korintus 15:58).

Maka indahlah kesimpulan yang kita dapat ini. Pertama, tidak ada yang dibicarakan dalam Perjanjian Lama mengenai mesias yang tidak mengacu kepada Yesus Kristus. Sehingga pada waktu Yesus hendak naik ke surga, murid-murid percaya Ia akan datang kembali untuk menggenapi semuanya. Semua itu kehendak Bapa di surga, kapan itu terjadi kita tidak tahu. Kalau sampai hari ini Tuhan masih menundanya, yang kita perlu tahu apakah kita bisa hidup seperti Hana dan Simeon dalam menantikan penggenapan janji Tuhan itu? Pengharapan itu tidak pernah mengecewakan, kesabaran kita tidak pernah boleh pudar. Apa yang kita percaya akan Dia bukan sekedar percaya tetapi sesuatu yang kita nyatakan di dalam hidup kita, itu yang kita rindukan dan mau di hadapan Tuhan, kita tekun dan cinta Dia. Rasul Petrus mengingatkan, “Tuhan tidak lalai menepati janjiNya. Tetapi Ia sabar terhadap kamu karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat” (2 Petrus 3:9). Kalau Tuhan masih menunda kedatanganNya itu berarti Dia masih menanti dengan sabar orang berdosa yang perlu cinta kasih Tuhan Yesus bertobat.

Itulah sikap kita merayakan Natal. Natal bukan saja merayakan apa yang sudah terjadi dan yang sudah Dia kerjakan pada waktu Yesus datang dua ribu tahun yang lalu, Natal juga harus menjadi pengharapan kita menantikan kapan Dia datang kembali, dan bagaimana sikap kita di dalam menantikan kedatanganNya, itulah yang menjadi message saya hari ini, dengan sikap iman yang konkrit dan hidup seperti Simeon dan Hana, tidak pernah kehilangan pengharapan, senantiasa tekun dan sabar, dan mengasihi Tuhan dan cinta akan rumahNya.

Kedua, kita telah ditebus oleh darahNya yang mahal sehingga Yesus Kristus menjadi sentralitas hidup kita dan hidupNya menjadi pengganti bagi kita yang seharusnya menanggung segala dosa dan kematian yang layak kita terima. Di dalam Kristus kita selama-lamanya memperoleh jaminan keselamatan dan hidup yang kekal. Satu kali kelak kita akan berjumpa dengan Dia dan di situ segala penderitaan, kesulitan dan air mata kita akan dihapuskan selama-lamanya. Segala jerih payah kita di hadapan Tuhan yang terjadi karena kekuatan dari Tuhan semata-mata, bukan karena jasa kita, itu akan Tuhan teguhkan dan tidak akan hilang selama-lamanya. (kz)