Retrospeksi Perjalanan Iman

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Tema: Retrospeksi Perjalanan Iman
Nats: Ibrani 12:1-4

Setiap kali menjalani tutup tahun dan sebelum memasuki tahun yang baru, ada baiknya kita memakai waktu secara pribadi melakukan satu kilas balik kepada moment-moment yang telah terjadi sepanjang tahun yang lewat. Mungkin ada banyak hal-hal yang begitu menyenangkan atau hal-hal yang paling menyakitkan yang terjadi. Ada tragedi-tragedi yang tidak mudah terlupakan, sekaligus juga ada achievement dan pencapaian apa yang kita hasilkan, yang membuat hati kita penuh dengan syukur kepada Tuhan. Satu hal yang perlu kita pegang menjadi prinsip yang baik, jangan kita terlalu cepat kagum dan bangga dan mengukur diri dengan achievement yang kita capai. Terlebih penting mari kita melihat karakter positif apa yang Tuhan sudah bentuk dan hal-hal negatif apa yang Tuhan ubah dari hidup kita di tahun ini. Dengan prinsip seperti itu, kita melewati tahun demi tahun dengan hati yang semakin bijaksana, karakter yang semakin matang, keindahan kesucian dan kebenaran Tuhan yang semakin melimpah dalam hidup setiap kita masing-masing.

Pada waktu Yesus memberikan perumpamaan mengenai talenta dalam Matius 25:14-30, digambarkan seorang tuan yang hendak bepergian ke tempat yang jauh memberikan kepercayaan kepada tiga hambanya untuk mengelola sejumlah uang. Kepada yang satu tuan ini memberi lima talenta, kepada yang kedua tuan ini memberi dua talenta, dan kepada hamba yang ketiga satu talenta. Kriteria yang diberikan jelas, “masing-masing menurut kesanggupannya.” Tuan ini tidak memberi sama banyak; tuan ini memberi berbeda-beda kepada tiap orang. Di akhir perumpamaan ini kita menyaksikan tuan ini memuji hamba-hambanya, bukan karena achievement mereka. Yang tuan itu puji adalah karakter mereka sebagai hamba-hamba yang baik dan setia. Perbedaan itu tidak menyatakan bahwa Tuhan tidak adil atau pilih kasih. Tuhan baru tidak adil jikalau Dia memberi satu tetapi menuntut tiga. Tetapi pemberian itu justru menyatakan keindahan dan “fairness” Tuhan karena Dia mengetahui kesanggupan setiap orang dan Dia tidak menuntut seseorang melampaui kesanggupannya. Kita tidak berhak iri dan memperbandingkan diri dengan orang lain. Kita dipanggil untuk mengelola dengan setia seberapa talenta yang dipercayakan di dalam hidup kita masing-masing. Di akhir nanti pada saat kita berjumpa dengan Tuan kita, berapa baiknya dan setianya kita, itulah yang menjadi ukuran yang Tuhan beri kepada kita.

Penulis surat Ibrani memberikan satu bagian yang sangat indah di pasal 12 memberikan prinsip apa yang kita perlu saat melihat kaleidoskop tahun ini menjadi kilas balik dan retrospeksi kita dan membantu kita memasuki tahun yang akan datang di depan.

1. Senantiasa ingat, sebagai anak Tuhan kita tidak pernah berjalan seorang diri.
Penulis Ibrani mengatakan, “Karena kita mempunyai banyak saksi bagaikan awan yang mengelilingi kita…” We are surrounded by so many witnesses. Betapa indah kalimat ini mengingatkan kita bahwa kita tidak pernah berjalan seorang diri saja. Ada begitu banyak anak-anak Tuhan dalam sepanjang sejarah manusia menjadi saksi-saksi yang boleh menjadi contoh yang baik yang memberi kita teladan, kekuatan dan keberanian untuk terus berjalan ikut Tuhan.

Kita dikelilingi oleh begitu banyak saksi, dalam konteks di atas yaitu Ibrani 11, dia berbicara tentang begitu banyak tokoh-tokoh iman yang setia dan percaya kepada Tuhan sampai akhir hidup mereka. Dan jikalau kita membaca dan mempelajari satu persatu kehidupan tokoh-tokoh iman itu, yang menjadi intisari kutipan penulis Ibrani dari biografi hidup mereka yang begitu panjang bukanlah hanya kepada achievement dan pencapaian apa yang mereka raih selama hidupnya, tetapi justru kepada “kegagalan” menurut dunia ini. Waktu berbicara mengenai Abraham, Abraham pergi meninggalkan segala kenyamanan hidup di Ur untuk pergi ke satu tempat yang tidak dia tahu tujuannya, tetapi karena semata-mata ditopang oleh janji Tuhan dia dengan taat berjalan “to the unknown place.” Waktu berbicara mengenai Yusuf, dia tidak berbicara mengenai pencapaian Yusuf, dari seorang budak, seorang kriminal akhirnya menjadi seorang perdana menteri negara adidaya Mesir. Justru penulis Ibrani berbicara mengenai hal yang lain dari hidup Yusuf yaitu sebelum dia mati, pada menjelang akhir hidupnya Yusuf tidak meminta supaya dia dikubur dengan segala kemegahan, dengan monumen piramid yang menjulang, bahkan dia minta supaya tidak dikubur di tanah Mesir. Yang Yusuf minta adalah satu kali kelak bawa tulang-tulangnya kembali ke tanah perjanjian Tuhan. Waktu berbicara mengenai Musa, dia tidak bicara mengenai apa yang dicapai oleh Musa di dalam kenyamanan istana Mesir, dia bicara mengenai apa yang tinggalkan dan lepaskan bagi Tuhan dan Musa tidak menganggap penghinaan karena Kristus itu sebagai harta yang lebih berharga daripada semua harta Mesir. Ada begitu banyak anak-anak Tuhan yang karena iman kepada Kristus mengalami segala kekurangan, kesesakan dan siksaan. Diejek, didera, dibelenggu dan dipenjarakan. Mati dilempar batu, digergaji, dibunuh dengan pedang. Itu semua menjadi “tapestry” jejak-jejak para saksi iman ini. Penulis Ibrani menutup rangkaian tokoh-tokoh iman ini dengan kalimat yang sederhana, “dunia ini tidak layak bagi mereka” the world was not worthy of them (Ibrani 11:38).

2. Menanggalkan beban dan dosa yang merintangi kita.
“Marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita…” Let us throw off everything that hinders and the sin that so easily entangles.
Kalau tahun ini kita akhiri seperti orang yang “ngos-ngosan” kehabisan banyak energy, kalau kita seperti orang kehabisan oksigen, kalau kita menjalani hidup terus-menerus tidak memiliki joyful, tidak ada gairah dan passion, itu bukan oleh karena Tuhan tidak memberikan hal-hal yang baik untuk kita; bukan oleh karena Tuhan tidak memberikan kekuatan yang mampu mendorong kita untuk bisa mencintai dan mengasihi Tuhan. Mari kita dengan jujur bertanya, apa yang salah dengan diri kita. Penulis Ibrani membedakan dua kata “beban” dan “dosa” sebagai dua hal yang tidak sama. Pertama, a heavy load, sesuatu yang tidak perlu engkau pikul. Beban itu bukanlah dosa. Tetapi beban itu bisa merintangi dan menghambat kita, menghabiskan energi dan membuat kaki kita lelah melangkah. Tanggalkan beban yang tidak perlu kita pikul. Apa saja beban yang tidak perlu kita pikul? Jangan pikul kekuatiran, jangan pikul “the attitude of negativity in life.” Apa yang bikin kita lelah adalah pada waktu kita ketemu dengan orang yang selalu mempunyai attitude negatif. Baru saja jumpa, kita bertanya, “Apa kabar?” Jawabnya, “Aduh, cape saya.” Akhirnya kita ikut-ikut cape deh. Mari kita belajar lebih teduh hati, jangan biarkan kemarahan mengontrol kita. Jadilah seorang Kristen yang generous, janganlah egoisme dan kedagingan menguasai hati kita akhirnya membuat kita tidak membuka mata kita melihat kesulitan orang lain. Tidak ada hal yang perlu kita anggap rugi karena kita belajar hidup bebas dari dosa. Dengan sendirinya perjalanan iman ikut Tuhan kita tidak akan kehabisan energi. Do a lot and talk less.

Kedua, kata yang dipakai adalah “sin” dosa yang dikaitkan dengan kata “clingy” yang mengikat dan mencekik pernapasan spiritual kita, membuat habis oksigen rohani kita. Maka memasuki tahun yang baru yang akan datang, satu hal yang saya minta, jangan lagi kita membicarakan hal-hal yang negatif dan pesimis, jangan kita membicarakan hal-hal yang tidak baik yang diprediksi akan terjadi, semua percakapan yang akan melemahkan hati. Kenapa? Karena firman Tuhan melarang kita seperti itu. Kita hidup di dalam dunia yang berdosa dan selama kita masih ada di dalam dunia kita terus-menerus berjuang melawan dosa dan sifat dosa yang ada di dalam hidup kita. Tetapi kita bersyukur karena Tuhan Yesus sudah menjadi juruselamat dan penebus kita, Dia bertahta dalam hidup kita, membenarkan kita, membebaskan kita, sehingga dosa bukan lagi menjadi tuan dan majikan yang berkuasa atas kita. Kita dengan berani bisa berkata kepada dosa untuk tidak lagi menyuruh dan mengatur dan bertahta dalam hidup kita. Tetapi dia masih berusaha menggoda dan menjatuhkan kita, sehingga itu adalah perjuangan kita untuk mengikuti Tuhan dan mencintai Tuhan.

Kita tidak boleh malu kepada sesuatu yang menjadi hal yang lemah bagi kita, tetapi kita harus malu kepada sesuatu yang menjadi dosa yang harus kita buang jauh-jauh dari hidup kita. Alkitab berkata, sebagai manusia-manusia baru di dalam Tuhan kita tidak boleh lagi hidup seperti dahulu pada waktu kita belum menjadi orang percaya. Kita harus membuang dusta dan berkata benar; kita harus membuang perkataan kotor dan memakai perkataan yang membangun; kita harus membuang segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian, kejahatan dan fitnah dari hidup kita. Itu semua tidak boleh ada lagi (Efesus 4:20-32). Maka dalam perjalanan ikut Tuhan, mari kita berkata jangan ada lagi dosa mengikuti kita. Mari kita berjuang untuk mematikan kedagingan hidup kita di dalam ikut Tuhan.

3. Berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi setiap kita.
Lari bersama-sama, mengingatkan kita “there is no personal achievement” di dalam pencapaian kita di hadapan Tuhan, “it is about togetherness.” Di dalam lari bersama atau naik gunung sama-sama, kita tahu yang paling menjengkelkan adalah waktu kita semua naik ke atas, ada yang maunya malah turun. Kita ajak dia naik, seluruh energi kita jadi habis untuk tarik dia, sedangkan energi dia pakai untuk menarik kita turun. Mau ditemani, akhirnya kita jadi ikutan lesu. Energi kita naik, energi dia turun. Berlari bersama-sama, bukan untuk diri sendiri tetapi bagi orang lain. Berlarilah kepada tujuan! Berlarilah dengan tekun! Ini adalah panggilan menuju tahun ke depan. Kita tidak boleh lagi terus melihat ke belakang. ”Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman dan yang membawa iman kita kepada kesempurnaan…” Biar mata kita fokus ke depan, kepada perjalanan dan perlombaan yang diwajibkan bagi kita. Sampai kita akan berjumpa dengan Tuhan kita Yesus Kristus, kita tahu kita tidak akan pernah menjadi seorang yang perfect, sempurna dan tidak ada dosa lagi.
Ada beberapa bagian yang unik dari bagian ini menjadi karakter moral yang perlu kita kejar sama-sama. Attitude yang kita perlu untuk maju ke depan adalah Ibrani 12:2 “Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus yang memimpin kita dengan iman, yang membawa iman kita kepada kesempurnaan…” Jesus Christ is the founder and the perfecter of our faith. Kristus adalah dasar dan pemulai iman kita, Kristus adalah penyempurna iman kita. Kita bisa kuat, kita bisa setia, kita bisa beriman kepada Tuhan oleh karena kekuatan itu ditopang dari dalam. Kristus menjadi dasar pemula dari iman kita, tidak ada objek lain yang kepadanya iman kita tertuju. Tetapi pada waktu kita menuju kepada kesempurnaan bukan karena saya tetapi Kristuslah yang menjadi kesempurnaan kita. Berjalan menuju tahun depan fokus kita jangan lepas dari Tuhan Yesus Kristus yang senantiasa menjadi pemulai dan penyempurna iman kita.
“Yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib…” Penulis Ibrani memanggil kita untuk fokus kepada Tuhan kita Yesus Kristus, di dalam menghadapi penderitaan Yesus memberi kita satu attitude, Dia tidak malu, Dia tidak merasa hina, bahkan Dia dengan bertekun melewati penderitaan itu. Dunia dan kultur sekarang sudah terbalik. Apa yang tidak perlu bikin kita malu, apa yang harus membuat kita malu? Kita seharusnya malu kepada hal-hal yang memang memalukan. Kita tidak menertawakan hal-hal yang memalukan. Bagi dunia, salib adalah hal yang memalukan, hal yang embarrassed, bahkan satu kutukan. Orang yang digantung di situ bukan saja dihujani dengan pukulan, dera dan siksaan, tetapi juga dihina dan dipermalukan, ditelanjangi, diludahi, diperlakukan semaunya. Maka apabila kita mengalami penderitaan karena Kristus, itu tidak boleh membuat kita malu, bahkan sepatutnya menjadikan kita bangga karena Tuhan melayakkan kita untuk hal itu. Kesulitan dan penderitaan akan menghasilkan satu hal yang tidak akan kita dapatkan dengan perjalanan yang lain, karena the maturity of our character itu terbentuk.

Bukan saja penulis Ibrani, rasul Petrus juga berkata “…hendaklah kamu dengan sungguh-sungguh berusaha untuk menambahkan kepada imanmu kebajikan, dan kepada kebajikan pengetahuan, dan kepada pengetahuan penguasaan diri, kepada penguasaan diriketekunan, dan kepada ketekunan kesalehan, dan kepada kesalehan kasih akan saudara dan semua orang…” (2 Petrus 1:5-7). Di situlah iman kita bertumbuh dan menghasilkan kedewasaan dan kematangan rohani dalam hidup kita.

“Dalam pergumulan melawan dosa kamu belum sampai mencucurkan darah” (Ibrani 12:4). Inilah attitude kedua, “masih bisa tahan, masih bisa tambah.” Bukan maksudnya kita mencari-cari kesusahan, menambah-nambah kesulitan, tetapi attitude kita dalam menghadapi pergumulan dan kesulitan harus siap sedia menghadapi yang lebih berat lagi. Dalam menghadapi pergumulan melawan dosa, kita belum sampai mencucurkan darah. Attitude seperti itulah yang nantinya akan membuat kita melangkah sampai akhir dengan menghasilkan buah-buah kebenaran dan kebajikan itu. Yang kedua, attitude itu muncul dengan melihat segala kesulitan yang datang ke dalam hidup kita selalu lihat itu bukan sebagai hukuman tetapi disiplin dan didikan dari Tuhan yang mengasihi anak-anakNya. Tuhan itu baik, Tuhan tidak pernah bersalah dalam segala hal yang diperbuatNya di dalam hidup engkau dan saya. Miliki attitude dan semangat seperti ini. Lihatlah ganjaran itu sebagai disiplin. Tidak ada ayah yang cinta kepada anaknya mendisiplin dengan tujuan untuk menghancurkannya.

Kadang-kadang membayangkan kesulitan, wajar hati kita bisa menjadi takut dan gentar. Tetapi mari kita coba menggumuli dan memikirkan dengan objektif, segala kesulitan ini “mentok”-nya sampai dimana? Sampai seberapa jauhkan kesulitan dan penderitaan itu bisa kerjakan dalam hidup kita? Mungkin itu bisa membuat kita babak-belur, mungkin itu bisa membuat hati kita berat dan sulit, mungkin itu bisa membuat kita habis-habisan. Dan paling “banter” akhirnya saya mati, selesai. Menderita, siapkah? Mati, siapkah? Kalau kita jawab siap, selesai. Tidak ada yang perlu kita takutkan lagi. Kita jangan selalu mencari hidup nyaman, menghindari segala hal yang tidak enak, dan tidak membiarkan hal-hal yang datang ke dalam hidup memproses kita bersabar dan tekun bersandar kepada Tuhan. Kita segera mau selesaikan atau lari menjauh. Padahal ada saat dan waktu dimana sedikit ketidak-nyamanan bisa mendatangkan hati yang humble, terbuka menerima pertolongan orang, belajar bergantung kepada orang. Kita menutup pintu dan tidak membiarkan keringat, kesulitan, air mata mengerjakan proses pembentukan sukacita, rasa tidak malu, karakter yang indah di dalam hidup engkau dan saya.

Dalam khotbah Natal kemarin saya mengutip pernyataan Yakobus, “Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna datangnya dari atas, diturunkan dari Bapa segala terang; padaNya tidak ada perubahan atau bayangan karena pertukaran” (Yakobus 1:17). Allah adalah sumber segala terang, di dalam Dia tidak ada bayang-bayang dan pertukaran. Ini adalah firman Tuhan yang luar biasa. Kita manusia penuh shadows. Seumur hidup kita tidak bisa tidak ada shadows. Hidup kita tidak otentik dan tidak sincere. Kita cenderung menyembunyikan hal-hal yang gelap dan memalukan menjadi “skeleton in our closet.” Kita berusaha membuat orang melihat diri kita flawless, perfect in performance. Tetapi shadows itu painful dan melelahkan. Shadows membawa kita kepada hidup yang penuh dengan sandiwara dan kemunafikan. Sampai kita datang kepada Tuhan, Bapa segala terang, di situlah terangNya membersihkan kita. Semakin dekat kita kepada terang itu, percayalah, semakin sedikit “shadow” kita. Semakin jauh kita dari terang itu, semakin banyak dan besar bayang-bayang kita. Namun demikian walaupun kita sudah menjadi anak-anak Tuhan, kita masih ada shadow. Shadow kita dimana? Di sinilah firman Tuhan selalu ingatkan kita, hendaklah kerajinanmu jangan kendor. Rajin bisa kendor. Itu shadow-nya. Tuhan rajin tidak pernah kendor. Hendaklah kasihmu jangan pura-pura. Hendaklah engkau tekun dan jangan putus asa. Hendaklah engkau murah hati dan jangan bersungut-sungut. Love one another with sincerity. Itu merupakan bagian firman Tuhan yang mengingatkan kita senantiasa. Kita gampang bisa kendor, kita bisa putus asa, kita bisa tidak tulus, itu semua bayang-bayang dalam hidup kita. Mari kita masuki tahun yang akan datang dengan tidak perlu ragu dan takut, siap menghadapi rintangan dan halangan apapun yang ada. Singkirkan semua attitude yang negatif dalam hidup ini karena memang tidak ada gunanya. Masuki tahun depan dengan hati merasa susah, karena kita sudah mengalami dan melewati bagaimanapun susahnya perjalanan itu, di situ engkau dan saya menghasilkan sesuatu karakter moral yang indah.

“Jadi karena kita menerima kerajaan yang tidak tergoncangkan, marilah kita mengucap syukur dan beribadah kepada Allah…” (Ibrani 12:28). Kiranya hati kita penuh dengan syukur dan gratitude, dan kiranya pelayanan dan penyembahan kita berlimpah dalam hidup kita. Kita bersyukur karena Tuhan membuka pintu yang lebar dan luas, membentuk hidup kita menjadi seorang anak Tuhan yang mencerminkan karakter Yesus Kristus yang agung dan mulia dalam hidup kita. Kita tidak perlu malu terhadap segala kesulitan dan tantangan yang datang dan kita alami di dalam perjalan hidup ikut Tuhan. Bahkan kita bersedia untuk mengaku sampai hari ini kita masih belum sampai mencucurkan darah ikut Tuhan. Kiranya Tuhan memberi kita kesempatan untuk menambah sesuatu yang menjadi tugas dan panggilan kita, supaya di dalamnya terbentuklah keindahan Kristus melalui apa yang kita alami. Ijinkan Tuhan membentuk kita melalui segala hal yang terjadi dalam hidup kita karena kita tahu Tuhan tidak pernah bersalah dan Tuhan itu indah bagi kita semua. Melalui setiap tekanan, kesulitan, pergumulan, sukacita, kelepasan, kesuksesan yang kita peroleh dan Tuhan berikan, kiranya membuat hati kita penuh dengan ucapan syukur dan menyembah Tuhan dengan setulusnya.(kz)