Karya Keselamatan di dalam Yesus Kristus

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Tema: Karya Keselamatan di dalam Yesus Kristus
Nats: Roma 5:1, 6-11

“Sebab itu kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita Yesus Kristus. Karena waktu kita masih lemah, ketika kita masih berdosa, ketika kita masih seteru Allah, Kristus telah mati untuk kita, orang-orang durhaka…” (Roma 5:1,6).

Through faith we are justified, ini adalah ayat yang penting dan tema yang terus berulang-ulang muncul dalam Alkitab karena inilah inti dari arti bagaimana kita menjadi seorang Kristen yang diselamatkan dan dibenarkan oleh Tuhan Yesus Kristus.

Konsep ini masih tidak terlalu jelas muncul dalam Kejadian 3:7 ketika manusia pertama jatuh ke dalam dosa, mereka berusaha menutupi ketelanjangan mereka dengan daun-daun kering, perasaan malu dan takut akan apa yang sudah mereka lakukan di dalam ketidak-taatan mereka. Tetapi tindakan itu tidak akan pernah bisa menyelesaikan dosa. Maka Allah menggantikannya dengan kulit binatang (Kejadian 3:21). Dari situ kita tahu tidak akan pernah mungkin dengan usaha perbuatan manusia untuk mendapatkan keselamatan di hadapan Allah. Paulus ingatkan kepada orang Yahudi karena berpikir bahwa dengan melakukan semua peraturan hukum Taurat itu mereka pasti akan dibenarkan, Paulus memutar-balikkan semua pikiran mereka dengan berkata, justru dengan adanya hukum Taurat kita akan tahu selama-lamanya kita tidak akan pernah bisa menaati hukum itu. Justru karena adanya hukum Taurat maka manusia mengenal apa artinya dosa itu. Hukum Taurat mengatakan jangan membunuh, jangan berjinah, jangan mencuri, jangan mengingini milik orang lain, semua larangan ini memperlihatkan tidak akan pernah manusia bisa kerjakan dan lakukan (band. Roma 2:17-24, Galatia 3:11). Tetapi sebelum ada hukum Taurat, Allah sudah menyatakan dengan iman Abraham dibenarkan (Roma 4:3).

Roma 5:1, terjemahan bahasa Indonesianya berkata kita dibenarkan karena iman. Kata ‘karena iman’ mungkin bisa mendatangkan sedikit kerancuan makna seolah-olah iman kita menjadi suatu jasa atau penyebab dari pihak manusia terhadap keselamatannya. Tidak seperti itu. Sehingga terjemahan yang lebih baik adalah “we are justified through faith,” maka iman bukan menjadi penyebab kita diselamatkan oleh Tuhan; iman menjadi saluran atau sarananya. Ilustrasi ini membantu kita memahaminya, katakanlah kita tercebur di kolam renang yang dalam dan apa daya kita tidak bisa berenang dan hampir tenggelam. Kita hanya bisa mengeluarkan tangan kita sambil berseru, “Tolong aku!” Lalu di tengah keadaan hampir mati tiba-tiba muncul sebuah tangan memegang tangan kita dan menarik kita keluar dari air sehingga kita tidak jadi tenggelam. Kita tidak akan pernah mengatakan, “Saya selamat gara-gara ada tangan saya yang menggapai keluar.” Kita tentu akan berkata, “Puji Tuhan, saya selamat gara-gara ada tangan yang kuat yang menarik saya keluar dari air.” Tetapi keselamatan itu tiba melalui sarana respons orang yang minta tolong itu dengan mengeluarkan tangannya menggapai tangan penolongnya. Jadi Tuhan memanggil kita untuk beriman. Kita menyadari kondisi kita yang tidak berdaya dan hanya Tuhan yang bisa menolong. Maka kita berseru, “Tuhan, tolonglah aku.” Maka tangan Tuhan yang kuat itu menarik kita keluar. Dengan demikian kita mengerti tidak akan pernah kita boleh mengatakan keselamatan itu tiba oleh karena jasa dan usaha perbuatan baik. Kita juga tidak boleh memegang prinsip bahwa keselamatan itu terjadi karena ada kebenaran Kristus plus ditambahkan dengan kebaikan dan kebenaran kita.

Lagu yang kita nyanyikan jelas sekali, “Now my debt is paid, it is paid in full.” Hutang dosaku telah dibayar dengan lunas oleh darah Yesus Kristus. Bukan seperti Tuhan beri ‘persekot’ down payment, lalu kita kemudian membayar dengan jasa dan kelakuan kita sehingga kebenaran Kristus ditambahkan dengan kebaikanku. Kesalahan yang terjadi di dalam teologi Roma Katolik yang mempunyai konsep seperti itu menyebabkan munculnya reaksi dari gerakan Reformasi dimana mereka mengatakan bukan dengan kebenaran Kristus plus ditambah dengan sakramen-sakramen dan kebaikan saya dan jasa dari orang-orang suci yang menyebabkan kita bisa dibenarkan di hadapan Allah. Kita dibenarkan semata-mata melalui kebenaran Kristus yang kita respons dengan iman kita. Jadi iman itu hanya respons setelah kita mengerti karena ada Yesus Kristus yang sudah menyelesaikan, membereskan dan membayar semua hutang dosa kita dengan lunas dan tuntas. Puji Tuhan, we are justified through faith, pada waktu itulah kita memiliki perdamaian dengan Allah, tidak ada lagi permusuhan dengan Allah.

Roma 5 merupakan bagian yang begitu penting Paulus berikan membukakan siapa kita sesungguhnya, manusia yang seperti apa kita sesungguhnya. Ada dua hal yang muncul di situ. Pertama, Roma 5:2-5 Paulus berbicara mengenai efek dan hasil yang dicapai dan dikerjakan oleh pembenaran Kristus kepada kita, kita sekarang mempunyai pintu yang terbuka sehingga kita boleh masuk dan datang menghampiri Allah dengan bebas, dengan berani. Kita boleh meminta apa saja, kita boleh memohon dalam doa akan hal apa saja, tidak ada lagi tirai yang memisahkan antara kita dengan Allah. Kita punya jalan masuk bertemu dengan Tuhan. Itu adalah karya yang Yesus Kristus lakukan bagi kita.

Yang kedua, Roma 5:6-11 firman Tuhan memberitahukan kita siapa diri kita manusia yang berdosa itu sesungguhnya di hadapan Allah sehingga kita yang tidak berdaya ini perlu kebenaran keselamatan “paid in full” di dalam Yesus Kristus dan tidak ada di dalam diri kita yang bisa kita pakai untuk membayarnya. Ada tiga frase kalimat muncul dari ayat 6-11.

  1. Waktu kita masih lemah (ayat 6)
  2. Ketika kita masih berdosa (ayat 8)
  3. Ketika masih seteru (ayat 10)

Tiga kata ini memperlihatkan kondisi keberadaan kita di hadapan Tuhan yang makin degradasi: lemah, berdosa, seteru atau musuh.

Firman Tuhan mengatakan kita adalah orang yang lemah adanya. Jerat dosa mengikat dan membelenggu kita, meskipun ingin keluar, ingin lepas tetapi tidak mempunyai kekuatan dan daya untuk melepaskan diri dan melakukan apa yang baik. Tetapi bukan itu saja, firman Tuhan mengangkat lebih tinggi dan lebih dalam lagi kita adalah orang berdosa. Orang yang lemah mungkin adalah orang yang tidak melakukan hal-hal destruktif yang merusak orang lain, tetapi ada suatu ketidak-berdayaan di dalam dirinya untuk membuat dia bisa bermanfaat bagi orang lain. Namun orang yang berdosa adalah lebih berat daripada itu sebab dia bisa melakukan sesuatu secara aktif merugikan dan merusak orang lain. Lebih dalam lagi, kita adalah seteru Allah, musuhnya Allah. Dengan aktif kita melawan Dia, dengan aktif kita melakukan hal-hal yang salah di hadapanNya, dengan aktif kita menolak untuk melakukan apa yang benar di mata Tuhan, dengan aktif kita merugikan orang lain, dengan aktif kita berdosa adanya. Kalau kita sudah mengadakan permusuhan dengan Allah sendiri, tidak ada jalan pendamaian yang bisa dikerjakan oleh manusia kecuali jalan pendamaian itu datang dan muncul melalui satu Pribadi yang bukan saja 100% manusia tetapi Dia juga adalah 100% Allah.

Maka beberapa ayat selanjutnya sangat menarik, dosa dijelaskan semakin “turun” degradasi, tetapi pengenalan kita akan Kristus menjadi “naik.”

  1. “Sebab tidak mudah seseorang mau mati untuk orang benar, tetapi mungkin untuk orang baik ada orang yang berani mati…” (Roma 5:6). Rasul Paulus langsung memperbandingkan siapakah Yesus Kristus. Dia bukan saja seorang yang “baik” tetapi Yesus adalah orang “benar.” Dia adalah orang benar, Dia mati karena kebenaran tetapi orang-orang yang beragama itu tidak sanggup bisa melihat kebenaran Kristus. Orang benar belum tentu kelihatan baik, tetapi orang baik belum tentu benar. Tetapi orang lebih senang dengan orang baik ketimbang dengan orang benar. Kita kurang senang dengan orang benar bukan karena dia tidak baik tetapi karena merasa orang benar itu seperti cermin yang merefleksikan memperlihatkan ketidak-benaran kita.
  2. “Lebih-lebih karena kita sekarang telah dibenarkan oleh darahNya, kita pasti akan diselamatkan dari murka Allah” (Roma 5:9). Kristus bukan saja diperkenalkan sebagai orang benar, tetapi sebagai penyelamat kita. Kita telah dibenarkan, kita telah ditebus dengan darahNya. Berarti ada “ransom,” ada bayar tebusan.

Di dalam teologi abad pertengahan ada pengajaran Yesus Kristus membayar tebusan kepada Setan. Konsepnya kita berada di dalam belenggu dan penjara Setan karena dosa kita, maka kita akan ditarik keluar oleh Kristus dengan membayar tebusan itu kepada Setan. Konsep ini tidak tepat dan tidak benar adanya. Manusia bersalah bukan kepada Setan dan Setan tidak berhak menerima sesuatu apapun dari Kristus. Dia hanyalah objek penyerta saja. Manusia bersalah kepada Allah, Penciptanya, dosa dan kesalahan manusia itu hanya semata-mata harus dipertanggung-jawabkan kepada Allah. Maka Kristus menebus manusia berdosa dengan membayarnya kepada Allah. Tebusan yang dibayar oleh Yesus Kristus adalah untuk memuaskan reaksi Allah kepada dosa yaitu murka Allah. Bagian ini sulit untuk manusia memahaminya karena sepanjang waktu kita selalu membayangkan Allah adalah Bapa yang baik, penuh dengan kasih dan panjang sabar, yang selalu membuka tanganNya menyambut manusia yang berdosa. Itu gambaran yang tidak salah, tetapi itu adalah gambaran yang tidak komplit adanya. Dengan gambaran Allah yang seperti itu sulitlah bagi manusia mengharmoniskannya dengan konsep murka Allah. Sebab gambaran Allah membuka tangannya tidak cocok dengan gambaran Allah marah seperti seorang bapa berdiri di depan pintu sambil memegang tongkat untuk memukul kita yang tidak taat dan sudah bersalah kepadaNya.

Saya lebih suka kepada ilustrasi ini, waktu Adam dan Hawa ada di taman Eden, Allah memberikan segala sesuatu yang possible kepada manusia, mahluk paling mulia yang diciptakanNya segambar dan serupa Allah, daya cipta, kreatifitas, dan kuasa dominion atas dunia ini. Tetapi kita tetap harus tahu posisi kita, bagaimana pun dengan kuasa seperti itu kita adalah mahluk yang dicipta olehNya. Setan datang menggoda manusia dan mengatakan kalau engkau makan buah itu maka engkau akan sama seperti Allah.

Allah memberikan satu test yang penting untuk membuktikan berapa taatnya manusia kepadaNya. Buah pohon pengetahuan baik dan jahat itu saya umpamakan sebagai seorang ayah yang menyusun pohon natal dari kayu-kayu yang saling bertumpuk. Di antara kayu-kayu itu ada banyak barang yang indah, mainan, coklat dan permen. Lalu di puncak tumpukan itu ada satu kotak dari emas yang tidak tahu isinya apa, yang ayah itu berkata kepada anak-anaknya, semua yang ada di sini, barang-barang yang indah, mainan, coklat dan permen ini boleh kamu makan, cuma satu saja yang di atas yaitu kotak ini yang tidak boleh sebab begitu engkau sentuh, semua tumpukan kayu ini akan roboh. Waktu ayah itu pergi, anak-anak tidak tahan lagi oleh rasa ingin tahu kemudian mengambil tangga dan justru dengan tidak taat naik mendekati puncak pohon dan meraih kotak itu. Betapa kaget saat itu juga pohon itu roboh dan menimpa mereka dan mereka menderita kesakitan di bawah balok-balok itu. Itulah sebenarnya konsep dosa. Murka itu harus dipahami sebagai konsekuensi dari ketidak-taatan itu. Maka pada waktu Yesus Kristus menebus dosa kita dari murka Allah, mari kita bayangkan Yesus datang menyelamatkan kita dengan cara Dia mengambil semua balok-balok itu dan pada waktu Dia memindahkan reruntuhan balok itu, ada balok yang jatuh menimpa pundakNya. Itu artinya Dia menyelamatkan kita dari murka Allah. Jadi murka Allah jangan dilihat sebagai seorang yang emosional, “and having a bad day” dengan “uncontrollable anger” lagi sedang marah dan menghukum orang yang ada di dekatnya dengan pukulan keras.

  1. “Sebab jikalau kita ketika masih seteru, diperdamaikan dengan Allah oleh kematian AnakNya, lebih-lebih kita yang sekarang telah diperdamaikan pasti akan diselamatkan oleh hidupNya! (Roma 5:10). Puji Tuhan, penebusan dengan darah itu dikerjakan oleh AnakNya. Makin kita mengenal siapa diri kita yang berdosa, makin tidak berdaya kita di situ, namun makin juga kita melihat bagaimana Kristus itu, siapa Dia dan apa yang Dia kerjakan. Dia bukan saja orang benar, Dia bukan saja telah mati menebus dosa-dosa kita, yang mati menebus dosa-dosa kita adalah Anak Allah sendiri. Kenapa? Sebab kita telah menjadi musuh-musuh Allah.

“Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuatNya menjadi dosa karena kita supaya di dalam Dia kita dibenarkan Allah…” (2 Korintus 5:21). Perhatikan, Alkitab selalu menulis dengan cara yang teliti luar biasa. Yesus Kristus tidak pernah ditulis menjadi orang berdosa. Kita berbuat dosa maka kita disebut “sinners” orang-orang berdosa, karena itu dosa kita. Yesus tidak pernah disebut “sinner.” Alkitab dengan teliti mengatakan Yesus menjadi dosa karena kita, “Jesus became sin for us.” Waktu dosa itu ditimpakan kepada Kristus, Kristus tidak boleh dibilang “a sinner” karena itu bukan dosa yang Dia perbuat. He is not a sinner. He became sin for us. Yesus Kristus berada di kayu salib menanggung segala dosa kita. Ketika kita masih lemah, ada Orang Benar membela kita. Ketika kita masih berdosa, Dia mati bagi kita. Yesus Kristus menebus kita, melunaskan murka Allah.

Jangan lupa, selain pohon pengetahuan baik dan jahat dan pohon-pohon yang lain, ada satu pohon lagi yang penting yang disebutkan di taman Eden yaitu pohon kehidupan. Dari dua pohon itu, hanya satu pohon yang buahnya Tuhan larang manusia makan, yaitu buah pohon pengetahuan baik dan jahat. Tetapi sesudah manusia makan buah pohon pengetahuan yang baik dan jahat, Tuhan kemudian menutup kemungkinan manusia untuk makan buah pohon kehidupan. Kejadian 3:24 mengatakan Allah menyuruh beberapa malaikat dengan pedang yang bernyala-nyala dan menyambar-nyambar menjaga jalan ke pohon kehidupan itu supaya manusia tidak bisa memakannya. Kalau hari itu Adam memakannya, maka dia tidak akan mati untuk selama-lamanya di dalam dosanya dan tidak ada kesempatan baginya untuk bertobat dan berbalik karena kejahatannya difinalisasikan dengan memakan buah itu. Kenapa Allah menutup kemungkinan Adam dan keturunannya makan buah pohon kehidupan? Karena jalan untuk mendapatkan hidup yang kekal selama-lamanya harus melalui satu pohon lagi, yaitu satu pohon yang mati. Dalam Ulangan 21:23 dikatakan, “Sebab seorang yang digantung terkutuk oleh Allah,” yang kemudian disebutkan lagi oleh Paulus mengenai salib Yesus Kristus, “Kritus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita, sebab ada tertulis terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib!” (Galatia 3:13). Kayu salib terbuat dari kayu pohon yang sudah mati dan kutuk itu ada di situ. Kristus mati di pohon itu, sehingga barulah buah pohon kehidupan itu boleh kita makan. Wahyu 22:2 dan 17 menyatakan keindahan itu, karena Kristus sudah menebus hidup kita dan memberi kita kehidupan yang kekal itu, sehingga larangan untuk makan buah pohon kehidupan dalam Kejadian 3 sudah selesai. Yesus Kristus lebih dulu mati di atas kayu salib supaya kita boleh makan buah pohon kehidupan itu dengan cuma-cuma.

Inilah yang Yesus Kristus telah kerjakan bagi kita. Inilah satu proklamasi yang Ia katakan, we are justified by His blood through faith. Dengan melalui iman kita memperoleh pembenaran itu. Apa itu iman? Bagi saya iman itu musuhnya bukan ketidak-percayaan, bukan takut atau ragu-ragu. Iman musuhnya adalah kesombongan. Karena orang beriman itu seperti seorang “beggar” peminta-minta yang harus membuang harga dirinya, menelan rasa malu dan penghinaan, mengangkat tangan meminta belas kasihan, bertelut menerima sesuatu apa adanya. Orang yang beriman menerima belas kasihan Tuhan seperti ini adalah seseorang yang harus menanggalkan rasa harga dirinya yang paling besar. Hanya dengan datang tanpa merasa ada sesuatu yang perlu dibanggakan kita takluk kepada Tuhan, surrender segala sesuatu. Itu adalah gestur yang tidak gampang dan tidak mudah karena dignitas kita menganggap kita adalah orang yang bisa menjadi tuhan atas diri kita sendiri, yang bisa dan sanggup mengontrol segala sesuatu, itu sebab manusia sulit sekali surrender. Mari kita coba renungkan sama-sama, apa sih yang bisa kita kontrol dalam hidup ini? Mungkin kita harus mulai dengan pertanyaan sebaliknya, apa yang tidak bisa kita kontrol dalam hidup ini? Kita tidak bisa mengontrol suhu dan cuaca, masa depan, anak, umur, orang jahat. Setelah melihat semua, baru kita sadar kita tidak bisa mengontrol apa-apa. Kita pikir kita bisa kontrol, tetapi sebetulnya tidak ada yang bisa kita kontrol.

Sebagai seorang yang beriman mari kita menghargai apa yang telah Ia lakukan bagi engkau dan saya. Kalau kita masih menjadi orang Kristen yang penuh dengan kekuatiran, ketakutan, keraguan, kita hanya “believe about faith” but we never “walk by faith.” Hormati dan hargai keselamatan yang Tuhan beri kepada kita. Ketika kita masih lemah, ketika kita masih berdosa, ketika kita masih musuh yang melawan dan memberontak kepada Tuhan, Yesus Kristus Anak Allah yang suci tidak berdosa telah dibuat menjadi dosa bagi kita. Ia mati bagi kita, menjadikan kita domba gembalaanNya yang Ia kasihi. Ia mencabut dan mengangkat semua murka Allah itu dan menimpakan semua itu kepada diriNya sendiri agar kita bisa keluar dari kebinasaan dosa itu. Kiranya Tuhan memimpin hidup setiap kita, bukan hanya pada waktu di awal kita percaya tetapi sepanjang hidup kita adalah perjalanan iman kita ikut Tuhan. Itulah keselamatan yang tidak akan pernah hilang dan lalu dari kita, itulah yang menjadi dasar yang kokoh bagi hidup kita penuh dengan damai sejahtera karena Kristus Tuhan sudah menjadi jalan pendamaian bagi kita.(kz)