Ikut Teladan Yesus Kristus

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Tema: Ikut Teladan Yesus Kristus
Nats: 1 Korintus 11:1, 1 Petrus 2:21

“Jadilah pengikutku sama seperti aku menjadi pengikut Kristus” (1 Korintus 11:1).
“Sebab untuk itulah kamu dipanggil karena karena Kristus pun telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagi kamu supaya kamu mengikuti jejakNya” (1 Petrus 2:21).

Kita bersyukur kepada Tuhan, Natal berarti Firman Allah sendiri yaitu Yesus Kristus menjadi manusia (Yohanes 1:14). Dia yang kekal itu, yang tidak kelihatan itu, sekarang boleh hadir di tengah-tengah kita sehingga apa yang Allah sampaikan, yaitu firmanNya, tidak lagi menjadi sesuatu perintah yang abstrak tetapi kita bisa menyaksikan secara konkrit dan kita bisa tahu apa artinya dari firman yang disampaikan kepada manusia itu (1 Yohanes 1:1). Yesus datang ke dalam dunia supaya kita boleh mengenal Bapa, Ia menyatakan siapa Bapa itu kepada kita. Yesus datang ke dalam dunia bukan saja membuat kita mengenal siapa Allah yang sejati, Yesus juga mengajar kita mengenal apa artinya menjadi manusia yang sesungguhnya.

“Kasihilah sesamamu manusia,” demikian perintah Allah kepada umatNya. Tetapi ketika Yesus bersoal jawab dengan para pemimpin agama Yahudi tentang ‘siapakah sesamaku manusia?’ bagi para pemimpin agama ini sesama manusia adalah mereka yang dari bangsa dan ras yang sama, agamanya sama, denominasinya sama, sukunya sama, itulah yang mereka sebut dengan sesama. Yesus memberikan contoh konkrit mengasihi sesama berarti engkau bersedia merawat orang yang berbeda suku, lain agamanya, bukan termasuk anggota gerejamu atau denominasimu, itulah artinya engkau mengasihi sesamamu manusia. Pada waktu Yesus berkata kepada murid-murid, “Layanilah seorang akan yang lain,” bagaimana artinya melayani satu sama lain? Maka malam hari sebelum Yesus diserahkan, Ia mencuci kaki murid-muridNya sebagai contoh konkrit nya. Maka pada waktu kita belum melayani orang serendah seperti Kristus, menjadi hamba bagi orang lain, menyerahkan hidup kita bagi orang lain, kita masih belum mengerti dengan jelas apa arti panggilan melayani orang lain.

Apa artinya menjadi seorang Kristen? Nama “Kristen” pada awalnya adalah nama ejekan dari orang luar bagi sekelompok orang yang mengikuti satu pemimpin agama bernama “Kristos,” sehingga disebutlah orang-orang ini sebagai orang “Kristen.” Orang-orang Kristen itu menerima nama itu dengan bangga sekalipun itu nama ejekan. Mari kita terima nama itu dengan sukacita karena mengikut Yesus Kristus bukan sekedar nama; mengikut Yesus Kristus berarti hidup kita menjadi cermin Tuhan kita Yesus Kristus. Ada dua hal yang penting yang menjadi fokus dari Perjanjian Baru yaitu “the union of Christ” kita bersatu dengan Kristus dan “the imitation of Christ” kita menyerupai Kristus, karena di dalam Dialah seluruh maksud dan rencana Allah bagi ciptaanNya digenapi. Hidup Kristiani dan etika Kristiani adalah hidup dan etika yang mengimitasi Yesus Kristus.

Rasul Paulus berkata kepada jemaat Korintus, “jadilah pengikutku sama seperti aku menjadi pengikut Kristus” (1 Korintus 11:1), bukan karena Paulus mau membanggakan dan menyombongkan diri, tetapi karena orang-orang ini tidak melihat lagi Yesus Kristus secara konkrit maka Paulus yang hidup mencontoh Yesus Kristus lalu memanggil jemaat untuk mencontoh dia. Demikian juga rasul Petrus berkata, “Sebab untuk itulah kamu dipanggil karena karena Kristus pun telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagi kamu supaya kamu mengikuti jejakNya” (1 Petrus 2:21).

1. Union with Christ, Kristus bersatu dengan kita, menjadi kekuatan kita boleh mengimitasi Kristus.
Yesus Kristus datang memberikan contoh eksampel bagi kita supaya kita berjalan ikut jejak dan teladanNya. Allah menginginkan kita ikut teladan Yesus, menyerupai Kristus, tetapi bagaimana saya bisa berubah menjadi seperti Dia jikalau kita tidak mempunyai power untuk itu? Allah tidak meletakkan sesuatu di depan kita sebagai standar lalu minta kita dengan kekuatan kemampuan diri kita sendiri untuk bisa mencapai hal itu, karena tidak ada siapa pun di antara kita yang sanggup memiliki kualitas kesucian yang bisa mencapai apa yang menjadi kesucian dari Tuhan Allah. Tetapi kebenaran Kristus sudah terlebih dahulu diberikan kepada kita walaupun kita masih dalam keadaan berdosa, sehingga panggilan firman Tuhan untuk kita menjadi serupa Yesus Kristus bukanlah tuntutan yang mustahil. Tuhan panggil hidup kita untuk serupa dengan Dia, semua yang kita perlukan untuk menjadi sama seperti Kristus, Kristus sudah berikan itu kepada kita. Melalui apa? Melalui kita dipersatukan dengan Dia, itulah yang memberikan kepada kita kekuatan walaupun kita mengalami kesulitan dan kegagalan, senantiasa di dalam perjalanan hidup Kristiani kita untuk menjadi serupa dan bertumbuh di dalam Dia, kita tetap memiliki hidup yang berkemenangan di dalam Kristus. Roma 8:31-39 menjadi ayat-ayat penghiburan bagi kita, tidak ada hal-hal apapun yang bisa memisahkan kita dengan kasih Kristus.

Namun di sepanjang sejarah Gereja kita menemukan orang sering salah mengerti dan memakai cara yang abusif di dalam memahami “menjadi serupa dengan Kristus.” Contohnya pada waktu orang-orang melakukan parade peringatan hari sengsara kematian Yesus Kristus di kayu salib khususnya di Filipina dan beberapa negara Amerika Latin kita bisa lihat ada orang yang sampai luka berdarah-darah karena sekujur tubuhnya disiksa dan bahkan ada yang sampai dipaku dan dipasangkan mahkota duri. Apakah itu yang dinamakan mengikuti jejak Kristus? Hermann Bavinck, seorang teolog Belanda mengatakan, “Early Christians emphasised the glory of martyrdom so much that they make it an end in itself, forgetting Jesus suffering for a reason.” Ikut Kristus tidak mempunyai pengertian kita harus menderita seperti Dia seumur hidup barulah namanya pengikut Yesus yang sejati, karena penderitaan Kristus memiliki alasan. Jadi bukan fokus kepada penderitaan itu sendiri.

2. Imitation of Christ, di dalam kita mengikuti Kristus belajar dari contoh teladanNya bagaimana perlakuan Yesus kepada hidup dan kepada manusia.
Hal yang pertama adalah bagaimana sikap Yesus terhadap Allah Bapa di surga. “Dan sekalipun Ia adalah Anak, Ia telah belajar menjadi taat…” (Ibrani 5:8). Engkau dan saya berbeda dengan Yesus Kristus, karena Dia adalah Anak Allah. Namun sekalipun Dia mampu, Dia sanggup, Dia adalah Anak Allah dan malaikat-malaikat akan melayani Dia, apapun yang dimintaNya kepada Bapa pasti akan diberikan, tetapi sebagai manusia di dalam kondisi lemah, lapar, haus dan kekeringan dan tidak memiliki segala sesuatu, Dia belajar taat dan trust in God, surrender, bowing down di hadapan Allah yang mengontrol segala sesuatu. Inilah contoh teladan yang Yesus berikan bagaimana sikap yang seharusnya dan sepatutnya sebagai seorang pengikut Kristus kepada Allah, taat, belajar bersandar kepadaNya.

Hal yang kedua, bagaimana sikap Yesus terhadap hidup, khususnya terhadap pelayanan bagi Kerajaan Allah. Yesus inkarnasi bukan saja Dia menjadi manusia tetapi ini juga menjadi contoh kita melayani sebagai “the incarnational ministry,” pelayanan yang bersifat mengikuti contoh teladan inkarnasi. Dalam 1 Korintus 10:33 Paulus mengatakan, “Sama seperti aku juga berusaha menyenangkan hati semua orang dalam segala hal, bukan untuk kepentingan diriku, tetapi untuk kepentingan orang banyak, supaya mereka beroleh selamat…” Kalimat ini harus dibaca dan dimengerti secara seutuhnya. Kalimat ini jangan dipotong di depan, karena orang yang berusaha menyenangkan hati semua orang dalam segala hal adalah “people pleasers.” Paulus bukan seorang people-pleaser. Pople pleaser adalah orang yang berusaha menyenangkan dan memuaskan hati orang dengan segala cara dalam segala hal supaya orang itu baik kepadanya dan mendapatkan keuntungan diri. Tetapi pada waktu Paulus bilang, sedapat mungkin aku menyenangkan hati mereka dengan satu tujuan, yaitu supaya mereka bisa percaya Tuhan dan beroleh keselamatan di dalam Tuhan. Langkah Paulus luar biasa. Dalam 1 Korintus 9:19-23 kita menemukan apa yang dinamakan the incarnational ministry ini. “Sungguhpun aku bebas terhadap semua orang, aku menjadikan diriku hamba dari semua orang, supaya aku boleh memenangkan sebanyak mungkin orang…”

Yesus Kristus ingin menyelamatkan kita, itu sebab Dia berinkarnasi menjadi manusia, itu adalah sacrifice yang luar biasa; itu adalah pengorbanan yang besar. Menjadi manusia Dia merasakan apa artinya ditolak; menjadi manusia Dia merasakan kesulitan dan penderitaan; menjadi manusia Dia mengalami perjalanan pergumulan yang sama, mengalami dicobai tetapi tidak berbuat dosa, menjadi manusia Dia menjadi hamba melayani dan orang mau melempari dia dengan batu, semua itu aspek yang Yesus alami menjadi manusia. Paulus lihat itulah arti ikut Tuhan Yesus yang sekarang dia teladani dengan melayani supaya orang bisa percaya Tuhan beroleh selamat.

“Demikianlah bagi orang Yahudi aku menjadi seperti orang Yahudi, bagi orang-orang yang hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang hidup di bawah hukum Taurat, bagi orang-orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat, bagi orang-orang yang lemah aku menjadi seperti orang yang lemah. Bagi semua orang aku menjadi segala-galanya supaya aku sedapat mungkin memenangkan beberapa orang dari antara mereka…” Untuk Paulus sampai kepada keputusan hidup melayani seperti itu bukan hal yang gampang dan mudah. Paulus dulunya adalah seorang Yahudi yang hidupnya sangat disiplin dan menaati setiap aturan hukum Taurat dengan ketat. Tetapi waktu dia harus duduk dan makan bersebelahan makan dengan orang bukan Yahudi, Paulus siap sekalipun harus makan babi. Petrus waktu mendapatkan visi dari Tuhan untuk melayani orang-orang bukan Yahudi harus belajar menerima apa yang tidak pernah dia lakukan sebelumnya, dimana Tuhan menyuruh dia makan makanan-makanan yang haram bagi orang Yahudi. Waktu Petrus menolaknya, Tuhan mengatakan “…Apa yang dinyatakan halal oleh Allah tidak boleh engkau nyatakan haram,” akhirnya Petrus menerima makanan itu (Kisah Rasul 10:9-16). Bagaimana aspek incarnational ministry ini boleh ada di dalam hidup engkau dan saya, hal ini memang tidak gampang dan tidak mudah. Kita belajar menyukai apa yang kita tidak suka, dan coba belajar melakukan sesuatu yang mungkin kita belum pernah coba, tetapi hal itu kita lakukan demi supaya orang mendengar Injil dan diselamatkan oleh Tuhan. Kita mungkin harus belajar berkorban dan tidak perlu menuntut mendapatkan kembali dari apa yang perlu kita korbankan supaya orang bisa percaya dan selamat. Paulus siap melakukan apa saja supaya orang bisa percaya Tuhan. Waktu Paulus melayani orang Yahudi dia memakai cara yang berbeda dengan bagaimana dia melayani orang yang bukan Yahudi. Pendekatannya beda, bahasanya beda, penjelasannya juga beda.
Hidup kita juga harus belajar seperti itu. Coba kita lihat banyak aspek. Mungkin ada orang-orang tertentu di dalam merayakan Natal tidak terlalu mengerti. Tetapi mereka mungkin mengerti Natal berarti kumpul sama-sama untuk makan, sehingga engkau mengajak orang itu ke rumahmu untuk makan sama-sama lalu dengan pesan yang sederhana kita menyatakan makna Natal, kita berkumpul untuk memperkenalkan Yesus Kristus yang kita percaya. Ev. Samuel Tandei pernah mengatakan, kita harus bedakan mana yang namanya esensi yang tidak boleh berubah dengan ekspresi yaitu kendaraan yang harus saya pakai ganti-ganti apapun demi tujuan supaya orang mengerti apa esensinya. Jadi jangan salah mengerti bahwa ini cara people pleaser atau orang kompromi.

Misionari Hudson Taylor ditertawakan karena saat melayani di Cina sehari-hari dia memakai baju cheongsam, mungkin dalam konteks gereja Cina masuk dalam perayaan festival syukur hasil panen, caranya berbeda dengan thanksgiving a la Amerika. Di situ lalu dia ajarkan bagaimana menyatakan thanksgiving kepada Tuhan, yang buat thanksgiving a la Barat tidak bisa masuk ke dalam budaya orang itu. Itu semua aspek “kendaraan” yang kita pakai, yang kita pikirkan, yang kita kelola dengan baik, dengan satu tujuan orang bisa kenal dan percaya Tuhan. Kita harus bedakan antara esensi Injil yang tidak boleh berubah dan harus menjadi berita kita, dengan semua metode pelayanan harus kembali kepada prinsip ini, the incarnational ministry. Bagaimana menjalani the incarnational ministry memang tidak gampang jikalau itu adalah hal yang kita tidak biasa lakukan, sesuatu yang berbeda dan membuat kita harus keluar dari comfort zone kita. Demi untuk apa? Demi untuk orang-orang itu mengenal dan percaya Tuhan. Ada banyak pelayanan lain yang membutuhkan dukungan kita. Lihatlah ini semua boleh menjadi satu prinsip yang penting di dalam kita mengerti apa artinya menjadi pengikut Kristus yang sejati.

Kadang-kadang yang kita kerjakan dan lakukan itu akan mengecewakan kita kalau kita selalu anggap hal itu sebagai sesuatu yang kita kerjakan untuk mendapat respons dan balasan daripadanya. Pada ujung akhirnya nanti kita akan kecewa dan patah arang. Kekecewaan dalam pelayanan akan terjadi jikalau kita mengharapkan dan mengutamakan kepentingan diri dan untuk sesuatu keuntungan dari pelayanan itu. Dalam forum Gospel Coalition, seorang bernama Jason Helopoulos memberikan beberapa hal yang mungkin bisa mengecewakan kita dalam pelayanan.

1. Hidden nature of work. Pelayanan itu tidak selalu kelihatan hasilnya. Kadang kita berdoa untuk seseorang, kita counsel dia, kita berikan perhatian kita, kita dukung dengan apa yang bisa kita lakukan, tidak segera kelihatan hasilnya. Seringkali hal seperti ini membuat kita akhirnya kecewa. Kita harus mengingatkan diri kita bahwa kita tidak boleh menggantungkan diri kepada apa yang kita lihat atau yang tidak kita lihat sebagai bukti dari apa yang lakukan bulan dan tahun. Ini adalah peperangan rohani, bukan melawan darah dan daging, ini perjuangan dan peperangan rohani, mari kita kerjakan semua itu dengan mata yang melihat kepada Tuhan dan kepadaNya kita bersandar. “God calls us to spiritual work, and we don’t always see what is happening. We must remember that our calling is simply to be faithful in what he has called us to and to use the means he has appointed. He does the rest.”

2. Pride atau kesombongan diri.
“The problem most of us encounter in ministry is not that we are too theocentric, christocentric, or even anthropocentric, but that we are too “mecentric.” Kita harus senantiasa ingat bahwa pelayanan bukan berpusat kepada diri kita, atau bahkan kepada gereja yang kita layani. Pelayanan adalah bagi Allah, tentang Allah dan untuk kemuliaan Allah (1 Korintus 10:31).Kita akan kecewa dalam pelayanan pada waktu kita menuntut Allah melakukan yang lebih dan lebih lagi melalui kita dan bagi kepuasan kita.

3. Ekspektasi yang berlebihan.
Kita bisa kecewa karena ada ekspektasi yang tidak appropriate dimana semua yang kita lakukan dan kerjakan, pengorbanan waktu, uang, tenaga dan semua itu demi supaya menyenangkan hati mereka. Paulus selalu ingatkan semua yang dilakukannya dalam pelayanan itu demi supaya sebagian dari orang-orang itu akhirnya mengenal Tuhan dan diselamatkan. Seringkali apa yang kita kerjakan tidak akan pernah mengecewakan karena kita tidak menganggap hal itu paling berkorban banyak. Yang penting kita lihat hasil akhirnya, satu orang saja bisa mengenal Tuhan Yesus dari seratus ribu kali usaha kita, yang seratus ribu itu tidak menjadi hal yang terlalu besar kita lakukan.

4. Pengkhianatan.
Salah satu hal yang paling sulit kita hadapi di dalam pelayanan adalah ketika orang yang paling dekat dengan kita, dan yang paling kita trust dalam pelayanan sama-sama ternyata menusuk kita dari belakang dan mengkhianati kita. Hal itu bisa membuat kita depresi, membuat hati kita terluka dan menghancurkan semangat pelayanan kita. Tuhan Yesus sendiri pernah dikhianati oleh murid-muridNya yang paling dekat, yang menyangkal Dia, yang menjual Dia, yang meninggalkan Dia seorang diri menuju kayu salib.

5. Konflik.
Konflik bisa terjadi di dalam pelayanan. Oleh karena itu kita harus mempersiapkan diri setiap waktu karena kita masih ada di dalam dunia yang berdosa ini dan hal-hal yang negatif seperti ini bisa menghambat pelayanan kita jika kita tidak bersiap hati. Kita bisa kaget dan terluka tetapi tidak sampai pahit dan amblas. Luka yang terjadi karena konflik bisa membuat gereja dan komunitas anak-anak Tuhan juga terpecah. Kiranya luka itu bisa tersembuhkan dengan setiap orang semakin mengasihi gereja dan mendukung satu sama lain ketimbang meninggalkan gereja dengan kekecewaan dan kepahitan.

Semua ini tidak akan pernah mengganggu kita meskipun bisa menghasilkan kekecewaan saat menghadapinya. Semua itu akan hilang dan tidak lagi menjadi sesuatu yang mengecewakan kita kalau kita tidak anggap kita sudah memberi terlalu banyak kepada Tuhan. Kita tidak pernah melakukan segala sesuatu untuk kepentingan diri sendiri, itulah makna inkarnasi. Dia yang adalah Anak Allah sendiri tidak menyayangkan diriNya dengan turun ke dalam dunia ini hanya untuk menyelamatkan umatNya. Kiranya firman Tuhan ini mengingatkan kita lagi supaya kita ikut teladan yang sempurna dari Tuhan kita Yesus Kristus yang satu-satunya itu karena di situ kita mendapatkan kekuatan yang indah, menjadi besarlah hati kita pada waktu kita menjadi hamba yang setia kepada Tuhan. Kita bersyukur dan berterimakasih karena kita mempunyai contoh teladan yang begitu agung, yang memampukan kita melakukan setiap panggilanNya dengan setia dan taat, dan membentuk kita belajar menjadi hamba-hamba Tuhan yang baik.(kz)