Mengapa Orang Tidak Mau Mendengar Firman?

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Tema: Mengapa Orang Tidak Mau Mendengar Firman?
Nats: Markus 6:1-6a, Lukas 14:15-24, Matius 13:20-22, Yehezkiel 3:1-9, Wahyu 10:8-11, 2 Timotius 4:3-4

Dalam surat Yesus Kristus kepada 7 gereja dalam kitab Wahyu kita menemukan satu frase kalimat yang diulang oleh Yesus terus-menerus dan kalimat itu juga berulang kali diucapkanNya selama Dia hidup di atas muka bumi ini, pada waktu Yesus pergi berkeliling untuk mengajar, selesai berkhotbah Yesus memberikan panggilan ini, “Barangsiapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!” Kalimat yang simple dan sederhana. Jelas maksud Tuhan Yesus ini bukan sekedar mendengar asal mendengar saja. Dalam bahasa Indonesia mungkin tidak terlalu jelas perbedaannya, tetapi dalam bahasa Inggris ada dua kata yang berbeda “to hear” dan “to listen.” Barangsiapa bertelinga hendaklah ia mendengar, berarti bukan sekedar hanya mendengar “sound” atau “voice,” bukan hanya mendengar suara tetapi menyimak apa yang dikatakan. Pada waktu Yesus berkata seperti ini, Ia bukan hanya menujukannya kepada orang-orang yang ada di luar gereja; bukan hanya kepada orang-orang yang tidak percaya Tuhan, tetapi juga ditujukan kepada gereja Tuhan, kepada orang-orang percaya, kepada kita. Mengapa Yesus harus mengeluarkan kalimat ini kepada gerejaNya, kepada kita? Kita yang setiap hari membaca firman Tuhan, Tuhan menuntut kita bukan sekedar membaca namun juga menaati firman Tuhan. Setiap minggu engkau dan saya berbakti kepada Tuhan, mendengarkan firman Tuhan. Tetapi pada waktu kita mendengar firman Tuhan itu, berapa lama kita masih mengingat apa yang kita dengar? Jangan sampai keluar dari gedung gereja kita segera lupa semua yang kita dengar. Mari hari ini sekali lagi panggilan Yesus Kristus itu menggugah hati kita.

Mengapa orang tidak mau mendengar firman Tuhan? Alkitab memperlihatkan beberapa alasannya.

1. Karena ada prasangka negatif terhadap si pemberita firman.

Dalam Markus 6:1-6a kita melihat penolakan orang-orang di Nazaret terhadap Tuhan Yesus. Ada catatan kecil yang menarik ditulis oleh Markus di sini “Yesus heran.” Apa arti kata “heran”? Heran berarti sesuatu yang kita tidak tahu tiba-tiba terjadi dan kita tidak mengerti. Pertanyaan saya adalah apa yang ada di atas muka bumi ini yang sanggup bisa membuat Tuhan heran? Tuhan yang maha tahu, yang di dalamnya tidak ada hal yang mendadak dan tiba-tiba; yang mengenal dan mengerti segala sesuatu; yang sesuatu tidak akan terjadi di luar daripada pengetahuanNya. Jelas tidak ada sesuatu yang akan mengejutkan dan mengherankan Tuhan. Kalau sampai Alkitab mencatat “Tuhan heran” maka kita yang patut heran, bukan? Berarti ada sesuatu makna yang lebih dalam dengan kalimat ini, Yesus heran secara negatif, di tempat-tempat lain orang datang berbondong-bondong untuk mendengarkan perkataanNya tetapi di sini orang-orang ini tidak mau mendengar firman Tuhan. Kenapa? Karena jelas dikatakan di sini Yesus orang Nazaret. Yesus pulang kembali ke kota asalnya. Ada prasangka karena orang kenal siapa ayah ibunya. Tetapi mungkin yang sangat mengejutkan adalah oleh karena orang-orang ini tidak mau merendahkan diri untuk mendengarkan firman Tuhan yang keluar dari mulut seorang yang dianggap tidak berpendidikan; seorang tukang kayu yang ayahnya juga seorang tukang kayu. Kesombongan intelektual, kebanggaan diri dan status yang menyebabkan manusia tidak sanggup untuk mau belajar merendahkan diri mendengarkan suara firman Tuhan. Perhatikan, pada waktu murid-murid Yesus melayani, para pemimpin agama tidak mau percaya sebab kata mereka “Bukankah orang-orang ini adalah orang Galilea?” Mereka yang notabene tinggal di Yerusalem dan di daerah Yudea tempat sentralitas agama sehingga mereka menganggap diri sebagai orang-orang Yahudi kelas “atas” yang lebih tinggi dan mereka sangat merendahkan orang-orang Galilea sebagai orang-orang yang kasar, tidak berpendidikan dan kampungan. Tetapi di antara orang Galilea sendiri ada satu kota yang dihina yaitu kota Nazaret. Orang Galilea sendiri sangat menghina orang Nazaret yang dianggap secara moral tidak benar, tidak bisa dipercaya perkataannya. Dalam Yohanes 1:46 bagaimana prasangka buruk dan sinis dari Natanael dinyatakan dengan kalimat ini, “Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?”

Kadang-kadang kita tidak mengerti cara Tuhan bekerja, tetapi di dalam ketidak-mengertian itu kita bisa melihat berjalan ikut Dia adalah sesuatu panggilan dan tindakan iman yang luar biasa, yang harus menerobos dan menghancurkan prasangka buruk kita; yang harus menerobos menghancurkan kesombongan intelektual manusia. Tuhan tidak serta-merta memberikan panggilan keselamatan kepada orang dengan cara yang mudah. Kenapa Yesus harus tinggal di Nazaret? Kenapa Dia harus hidup sebagai anak tukang kayu? Kalau Dia lahir sebagai anak seorang imam, secara pandangan manusia tentu berita kabar Injil lebih mudah didengar dan diterima orang, bukan?

Banyak orang tidak bisa menerima firman Tuhan karena menganggap kita orang Kristen sebagai orang yang tidak terpelajar. Kita mungkin menjadi takut atau malu untuk menyampaikan firman Tuhan karena kita dianggap orang yang tidak terlalu kaya dan tidak terlalu mampu, kita dari latar belakang yang sederhana dan kecil. Paulus dalam 1 Korintus 1:26 mengatakan “Ingat saja bagaimana keadaan kamu ketika kamu dipanggil. Menurut ukuran manusia tidak banyak orang yang bijak, tidak banyak orang yang berpengaruh, tidak banyak orang yang terpandang…” Tetapi Tuhan panggil dan tebus engkau untuk menjadi anak-anakNya, betapa luar biasa Tuhan memberikan hal itu menjadi kepercayaan yang indah bagi kita. Tetapi pada saat yang sama kita menjadi anak-anak Tuhan juga harus belajar mendengar dan menyimak firman Tuhan dengan sikap yang rendah hati. Mungkin yang menyampaikan firman Tuhan itu adalah seorang hamba Tuhan dari kota yang sangat kecil dan sederhana; mungkin itu adalah seorang hamba Tuhan yang tidak berpendidikan tinggi atau tidak terpelajar; mungkin dia seorang yang sudah tua renta yang membahas firman Tuhan dengan cara yang sederhana; atau mungkin dia seorang hamba Tuhan yang masih sangat muda, yang baru lulus sekolah teologi dan yang seumur dengan anak kita. Kita akhirnya bisa tidak mendengarkan firman Tuhan karena kita melihat latar belakang dari orang itu. Kita harus belajar menerima firman Tuhan dengan sikap yang rendah hati, yang melepaskan segala prasangka terhadap latar belakang pembawa firman itu, baru kita bisa mendengar apa yang Tuhan katakan dengan sepenuhnya.

2. Mengapa orang tidak mau mendengar firman? Karena menganggap ada hal-hal yang lebih penting dan lebih berharga daripada mendengar firman itu.

Lukas 14:15-24 memperlihatkan orang-orang tidak mau mendengar dan tidak mau menerima firman oleh sebab mereka memiliki “excuses” atau berdalih terhadap apa yang sudah ada dalam hidupnya. Mereka sudah punya segala sesuatu, mereka merasa sudah cukup, merasa mampu, punya banyak hal sehingga mereka mencari-cari alasan untuk tidak mau ikut Tuhan dan tidak mau mendengarkan firmanNya. Yesus sendiri berkata, “Sebab lebih mudah seekor unta masuk melalui lubang jarum daripada seorang kaya masuk ke dalam kerajaan Allah…” Mendengar kalimat seperti ini gemparlah murid-murid dan berkata, kalau begitu siapa yang bisa diselamatkan? Lalu Yesus berkata, bagi Tuhan tidak ada yang mustahil (Lukas 18:24-27). Bukan berarti orang yang banyak uang mustahil menjadi percaya dan bertobat kepada Tuhan, firman Tuhan tidak berkata seperti itu. Tetapi kalimat Tuhan Yesus itu memberikan kita suatu warning dan memperlihatkan bagaimana hal-hal seperti ini bisa membuat orang tidak mau mendengar firman Tuhan karena merasa sudah mampu, sudah cukup, dan memiliki segala sesuatu di dalam hidup ini. Seharusnya semua hal-hal ini dilihat sebagai sesuatu yang baik, sesuatu yang menjadi berkat dalam hidup kita, bukan? Mendapat lembu, mendapat tanah, menikah, itu semua adalah blessing yang kita miliki. Tiga hal ini: 1. Bisa memiliki hubungan yang harmonis antara suami, isteri, anak-anak dan keluarga; 2. Bisa memiliki rumah, tanah, tempat bernaung yang baik; 3. Bisa memiliki properti, harta benda dan barang-barang, seharusnya semua itu dilihat sebagai satu sukacita dan blessing.

Namun ironinya dalam bagian ini ada dua hal yang hanya bisa dilihat oleh mata rohani. Pertama, orang-orang ini bilang,”Aku baru beli tanah, mau pergi lihat. Aku baru beli lembu, mau pergi coba,” jelas ini adalah excuse atau dalih yang mengada-ada. Karena apa? Karena tidak ada orang yang beli ladang belum melihatnya. Dan tidak ada orang yang beli lembu belum dicoba kekuatannya, sama seperti kita tidak ada yang beli mobil belum “test drive.” Ironi yang kedua, dia lupa bahwa Tuhan panggil dia kepada satu perjamuan besar, “a great banquet” yang luar biasa. Kira-kira logikanya begini, Tuhan mengundang: mari datang ikut perjamuan pestaku. Aduh, maaf, saya tidak bisa datang, saya baru saja masak indomi. Keterlaluan, bukan?

Jangan sampai kita menjadi orang Kristen yang “care too much” terhadap kesenangan diri kita, memuaskan diri sendiri dan terjerat dalam satu penipuan dari dunia materialisme yang menganggap segala sesuatu apa yang kita miliki itu adalah hal-hal yang paling prioritas dan paling berharga bagi kita akhirnya justru menjadi pencegah bagi kita untuk datang mendengar suara firman Tuhan dan berani mencintai Tuhan sang Pemberi berkat lebih daripada segala-galanya.

3. Mengapa orang tidak mau mendengar firman? Karena tidak bersedia untuk membayar harga bagi firman Allah.

Dalam Matius 13:20-22 Tuhan Yesus berkata, “Benih yang ditaburkan di tanah yang berbatu-batu ialah orang yang mendengar firman itu dan segera menerimanya dengan gembira, tetapi ia tidak berakar dan tahan sebentar saja. Apabila datang penindasan atau penganiayaan karena firman itu, orang itu pun segera murtad. Yang ditaburkan di tengah semak duri ialah orang yang mendengar firman itu lalu kekuatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah.” Ada dua hal yang muncul di sini. Pertama adalah hal yang eksternal: kesulitan dan penindasan dari luar. Yang kedua adalah hal yang internal, sesuatu yang tidak kelihatan: kekuatiran dan ketakutan. Kedua hal ini bisa menjadi hal yang bisa mencekik kita. Kesulitan, tantangan, penderitaan dan resiko ikut Tuhan mengkin sanggup membuat kita gentar dan takut sehingga janji firman Tuhan itu tidak bertumbuh besar, berakar kuat dan berbuah lebat di dalam hidup kita. Jangan takut dan jangan kuatir ikut Tuhan meskipun penuh kesulitan dan jangan menggenggam apa yang perlu engkau lepaskan. Tuhan sudah beranugerah dan memberikan kasih karunia yang begitu limpah dan besar di dalam hidup engkau dan saya. Mari kita melihat baik-baik semua itu di dalam hidup kita. Berapa banyak yang kita sudah beri kepada Dia? Jangan biarkan ketakutan, kekuatiran hati kita membuat kita tidak berani melangkahkan iman kepada Dia.

“I surrender all,” itu lagu yang sering kita nyanyikan, tetapi pada waktu kita melakukannya, itu membutuhkan komitmen yang berat dan dahsyat di hadapan Tuhan. Firman Tuhan itu seperti pedang bermata dua. Di satu sisi memberikan keindahan dari janji firman Tuhan, tetapi pada saat yang sama itu juga menjadi firman yang mengikis hati kita. Ada hal-hal yang kita pegang dan anggap sebagai hal yang paling berharga, yang menjadi berhala yang kita sembah, Tuhan kikis habis itu semua. Tetapi kita tidak akan takut dan gentar, kita akan senantiasa taat ikut firman Tuhan dan rela untuk bayar harga.

4. Mengapa orang tidak mau mendengar firman? Karena hati manusia begitu keras seperti batu.

Yehezkiel 3:1-9 dan Wahyu 10:8-11 dua kali Tuhan memberikan panggilan yang sama kepada hambaNya, “Makanlah firman ini, yang manis bagaikan madu dalam mulutmu.” Firman Tuhan adalah firman yang indah; firman Tuhan adalah firman kehidupan yang manis, firman yang memberikan keselamatan bagi kita. Firman Tuhan itu tidak jauh dari hidup kita. Bukan saja firman itu muncul menjadi perkataan dan tulisan, tetapi firman itu ada di dalam diri Tuhan kita Yesus Kristus. Ia adalah firman yang menjelma menjadi manusia dan diam di antara kita (Yohanes 1:14). Itu bukan saja firman yang diucapkan dan dikatakan, tetapi firman itu dinyatakan olehNya. Firman itu menyatakan pengampunan, firman itu menyatakan kasih Allah. Ia tidak bersungut-sungut dan memaki orang. Firman itu berbicara mengenai apa artinya kita tahan dan teguh. Firman itu berjam-jam tergantung di atas kayu salib menyatakan apa artinya menangung ketidak-adilan dengan darah yang bercucuran dan sakit yang begitu luar biasa, tidak ada umpatan dan makian keluar dari mulutNya. Apa lagi yang harus Ia buktikan bahwa firmanNya itu benar, ya dan amin? Tetapi dua orang penyamun yang ada di kiri dan kanan dari salib Yesus betapa kita tidak mengerti, kenapa yang satu percaya dan dibenarkan, dan yang satu sampai akhir tetap tidak mau percaya, bahkan menghina dan memaki Yesus? Kita tidak bisa mengerti mengapa orang tidak mau mendengar firman, karena hatinya begitu keras seperti batu.

Wahyu 9:20-21 “Tetapi manusia lain yang tidak mati oleh malapetaka itu tidak juga bertobat dari perbuatan mereka…” Malapetaka datang, seharusnya menjadi warning bagi dunia ini. Kesulitan yang menimpa, terorisme yang terjadi seharusnya menjadi corong membuka telinga orang untuk jelas dan clear mendengar peringatan dan panggilan keselamatan dari Tuhan. Tetapi manusia tetap tidak mau percaya. Siapa bilang batu berlian adalah batu yang paling keras di atas muka bumi ini? Siapa bilang titanium adalah metal yang paling keras di atas muka bumi ini? Yang paling keras di atas muka bumi ini adalah hati manusia. Itulah agony yang muncul dalam Wahyu 10:8-11 sehingga firman yang manis bagai madu menjadi firman yang pahit dikunyah. Kepada Yehezkiel Tuhan bilang makanlah dan kunyahlah firman ini. Waktu Yehezkiel mengunyahnya, menaruhnya di dalam mulutnya, firman Tuhan itu manis seperti madu. Dia menyegarkan kita; dia memberikan kekuatan bagi yang lemah, memberikan pengharapan kepada yang putus asa, itulah firman Allah. Dia menghidupkan orang yang sudah mati rohani; membawa kembali orang untuk percaya kepada Tuhan. Namun Tuhan bilang kepada Yehezkiel, firman yang engkau makan, yang manis dan membuat hatimu bersuka itu, begitu engkau sampaikan kepada orang Israel, mereka tidak akan pernah mau menerima dan mendengarnya karena hati mereka begitu keras seperti batu. Bahkan Tuhan kontraskan, kalau firman itu engkau sampaikan kepada orang dari bangsa-bangsa lain yang tidak pernah belajar firman Tuhan begitu banyak, mereka akan menerimanya dan percaya Tuhan. Tetapi orang-orang Israel tidak akan mau mendengarkan engkau. Betapa ironi hal itu, bukan? Tetapi kepada orang-orang seperti ini Tuhan menyuruh hamba-hambaNya, katakan firman Tuhan itu. Dan kepada anak-anak Tuhan menghadapi orang-orang seperti itu resikonya seperti apa? Kita tidak perlu membayangkan lebih jauh lagi karena kita punya contoh teladan Yesus Kristus naik ke atas kayu salib, that is the ultimate risk yang akan terjadi kepada setiap orang yang ikut Tuhan. Tetapi sampai di atas kayu salib itu pun kita bisa melihat ada orang yang sudah di ambang kematian, sudah begitu jelas melihat semuanya, tetap orang itu tidak mau percaya Tuhan. Kita sedih, kita menangis terhadap kekerasan hati manusia yang begitu sulit mendengar firman, tetapi mari kita sendiri hari ini menggugah hati kita. Kita akan menghadapi tantangan kesulitan seperti ini tetapi tetap kita tidak akan pernah menyerah. Kita sendiri tidak menjadikan hati kita tanah yang keras pada waktu mendengarkan firman Tuhan.

Hal itulah juga yang terjadi dalam kitab Wahyu, yang disimbolisasikan dengan engkau makan firman Tuhan begitu manis seperti madu rasanya, tetapi begitu engkau kunyah makin dalam firman Tuhan itu begitu pahit. Kalau firman cuma dikatakan, diucapkan di bibir, betapa indah firman Tuhan itu, bukan? Tetapi turun dari mimbar ini, laksanakan dalam hidup sehari-hari, betapa pahit dan menyakitkan firman Tuhan itu. Waktu kita sudah mengunyah, itu berarti kita serius mau menjalankannya. Waktu kita mulai mengunyah, kita mau melakukan dalam hidup kita, terasa pahit luar biasa.

5. Mengapa orang tidak mau mendengar firman? Karena mereka hanya mau mendengar apa yang mereka mau dengar, yang hanya mau mendengar apa yang mereka suka.

Paulus berkata, “Karena akan datang waktunya orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat, tetapi mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya. Mereka akan memalingkan telinganya dari kebenaran dan membukanya bagi dongeng…” (2 Timotius 4:3-4). Ini adalah tragedi yang dahsyat yang dibukakan oleh firman Tuhan, realita yang akan dan sudah terjadi. Ini bukan bicara mengenai orang-orang yang ada di luar gereja; ini bukan telinga dari orang-orang yang tidak percaya. Ayat ini bicara mengenai orang-orang yang justru ada di dalam gereja, yaitu sekumpulan orang-orang Kristen yang memang tidak mau mendengar firman Tuhan, yang hanya mau mendengar apa yang dia mau dengar, yang hanya mau mendengar apa yang dia suka.

Kita lazim menyaksikan hal-hal seperti ini di dalam jiwa konsumerisme orang Kristen. Kadangkala ada orang-orang yang tidak senang dan tidak suka mendengarkan hal yang keras dan berat; teguran dan koreksi dari firman Tuhan. Orang-orang ini hanya mau mendengar hal-hal yang menyenangkan telinga mereka. Kita cenderung hanya ingin mendengar hal-hal yang menghibur kita semata-mata tetapi tidak rela membuka telinga mendengar teguran yang datang untuk memperbaiki hidup kita. Mari kita merefleksikan hati kita dengan firman Tuhan, belajar untuk menaklukkan diri di hadapan Tuhan dan senantiasa mau dengar-dengaran akan firman Tuhan serta menjalankannya dalam hidup kita. Kiranya kita memiliki telinga yang peka dan tajam untuk mendengar dan hati yang mau taat kepada firman Tuhan. Senantiasa kita ingat firman Tuhan tidak pernah bersalah dan firman itu akan menuntun kita dan melepaskan dan membebaskan kita, membawa hati kita untuk menjadikan Allah lebih utama dalam hidup kita. Kiranya Tuhan sekali lagi meneguhkan komitmen kita, apa pun yang keluar dari kebenaran firman Tuhan tidak satu pun yang tidak kita jalankan dan lakukan dalam hidup kita. Kiranya Tuhan menguatkan dan meneguhkan hati kita ikut Tuhan selama-lamanya.(kz)