Filadelfia, Pintu yang Terbuka

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Eksposisi Surat Yesus Kristus kepada Tujuh Gereja (2)
Tema: FILADELFIA, Pintu yang Terbuka
Nats: Wahyu 3:7-13

Kepada jemaat Filadelfia Tuhan Yesus berkata, “Aku tahu segala pekerjaanmu. Lihatlah, Aku telah membuka pintu bagimu yang tidak dapat ditutup oleh seorang pun. Aku tahu bahwa kekuatanmu tidak seberapa namun engkau menuruti firmanKu dan engkau tidak menyangkal namaKu…” (Wahyu 3:8).
Dalam kitab Wahyu pasal 2 dan 3, ada tujuh gereja yang mendapatkan surat dari Tuhan Yesus melalui hambaNya yang bernama rasul Yohanes. Namun perlu kita ketahui surat ini bukan hanya ditujukan kepada ke tujuh gereja itu saja, sebab kita mengetahui bahwa angka 7 dalam kitab Wahyu adalah selalu menjadi simbol lukisan gambaran dari kelengkapan atau kesempurnaan. Berarti surat ini ditujukan juga bagi semua gereja-gereja Tuhan di sepanjang sejarah dan di segala tempat, menjadi surat yang selalu relevan bagi umat Tuhan dimana saja. Dari tujuh surat yang Tuhan Yesus berikan, mulai dari Efesus sampai kepada Laodikia, hanya ada dua gereja yang kita kategorikan sebagai gereja yang sehat dan indah adanya, yaitu Smirna dan Filadelfia. Kepada mereka Tuhan Yesus menghibur, menguatkan, memelihara, memuji dan mendorong supaya sekalipun di tengah keterbatasan mereka, kesulitan, tantangan dan keterbatasan itu tidak akan pernah menjadi hambatan di dalam setiap pelayanan dan apa yang akan dicapai.

Jikalau kita adalah gereja yang akan menerima surat dari Tuhan kita Yesus Kristus, sang Kepala Gereja, kira-kira surat macam apakah yang akan kita terima? Apakah surat teguran keras seperti Laodikia yang kaya, yang hebat, yang self-sustain pada dirinya sendiri tetapi tidak ada Tuhan di dalam gereja itu? Ataukah kita akan menerima surat peringatan seperti Pergamus yang mentolerir segala hal yang tidak benar dan tidak bertanggung jawab secara moral dan tidak etis menjalani pelayanan? Ataukah kita akan menerima surat penghiburan seperti Smirna di dalam kesulitan, tekanan dan aniaya Tuhan mengatakan tekun dan sabar? Ataukah kita akan menerima surat seperti Filadelfia yang walaupun gereja yang kecil dan kekuatannya tidak seberapa, tidak sanggup dan tidak mampu, namun Tuhan memberinya kesempatan untuk mengerjakan pekerjaan Tuhan?

Bagaimana pandangan mata Tuhan Yesus kepada gereja kita? Pertanyaan ini penting. Bukan soal berapa besar gereja kita, bukan soal berapa kaya dan berapa banyak aktifitas gereja kita. Pertanyaan yang paling penting adalah berapa sehatkah gereja kita? Setiakah kita kepada firmanNya? Itu yang menjadi indikator yang penting daripada sehatnya sebuah gereja. Sehat tidaknya seseorang atau sebuah gereja ditandai oleh dua hal ini. Pertama, sehat berarti tidak ada penyakitnya. Untuk gereja indikator tidak ada penyakit berarti tidak ada yang keliru dan salah, hati motivasi kita sungguh-sungguh murni dan bersih, tidak ada ajaran yang salah, apa yang kita kerjakan dan lakukan tidak melanggar hukum, bahkan juga tidak melanggar etika dan menuruti firman, itulah artinya sehat, tidak ada sesuatu yang salah dan busuk di dalamnya. Indikator sehat yang kedua adalah seluruh bagian dari tubuh kita bekerja dengan harmonis dan indah. Tangan dan kaki dan semua anggota tubuh bekerja dengan baik.

Tuhan bilang kepada jemaat Filadelfia, “Aku tahu bahwa kekuatanmu tidak seberapa.” Dari antara tujuh gereja yang menerima surat Yesus, William Barclay mengatakan gereja Filadelfia adalah sebuah gereja yang masih muda, karena kota Filadefia sendiri tidak terlalu tua dibandingkan dengan kota-kota lain di sekitarnya. Dari situ kita bisa melihat betapa indah firman Tuhan ini memberi penghiburan kepada sebuah gereja yang masih muda, yang tidak mampu, yang tidak kuat, yang tidak seberapa. Di dalam kondisi yang seperti itu lazimnya orang bersikap lebih baik dan lebih bijaksana “jaga kesehatan.” Di dalam ketidak-mampuan seperti itu “preserve” apa yang ada. Di dalam keadaan seperti itu jangan “spend” dan “waste” terlalu banyak. Kalau uang kita tidak seberapa, kita tidak akan pakai sebanyak-banyaknya. Kalau kekuatan kita tidak seberapa, kita tidak akan membuang energi kita sebanyak-banyaknya karena kita kecil dan terbatas adanya. Tetapi tidak seperti itu cara Tuhan bekerja. Tuhan Yesus bilang, “Aku akan membuka pintu bagimu. Kalau Aku buka, tidak ada yang dapat menutup. Kalau Aku tutup, tidak ada yang dapat membuka…” Betapa indah luar biasa kalimat Tuhan Yesus ini. Kalau Tuhan kasih, kalau Tuhan buka, kalau Tuhan beri, di situ kita tahu berarti itu adalah dari Tuhan adanya. Tidak ada perkara besar dimana kita tidak butuh Tuhan, namun tidak ada perkara yang terlalu remeh yang Tuhan tidak perhatikan. Kita bilang gereja kita terlalu kecil, terlalu terbatas dan sederhana, masakah Tuhan memperhatikan? Tidak ada perkara terlalu besar yang Tuhan tidak mampu tolong kita, dan tidak ada perkara terlalu kecil yang Tuhan tidak perhatikan. Tuhan membuka pintu itu kepada siapa? Tuhan membuka pintu itu kepada satu jemaat lokal yang namanya jemaat Filadelfia, yang tidak punya kekuatan besar untuk bekerja dan berkarya bagiNya.

Yang kedua, Tuhan bilang “Aku tahu kekuatanmu tidak seberapa…” Mungkin di tengah kekuatan dan kemampuan yang tidak seberapa kita berhemat dan sedapat mungkin menjaga resources yang kita punya supaya pelan-pelan kita bisa melewati dan menjalani hidup kita sampai ada sedikit kelegaan. Tetapi Tuhan justru mengatakan hal yang bagi saya begitu amazing, Tuhan tidak kasih pintu yang terbuka kepada gereja Tiatira yang kaya raya, yang besar dan punya kemampuan. Tuhan tidak membuka pintu kepada gereja Laodikia yang punya banyak resources dan keuangan. Dan jika Aku sudah membukanya, tidak seorang pun dapat menutupnya. Meskipun kecil, meskipun lemah, it is not about us, it is about God, it is about God’s power and God’s opportunity for us.

Bagaimana kita memahami kalimat Tuhan Yesus, “Aku membuka pintu” ini? Pertama, tentu kita harus bertanya pintu apa yang Tuhan Yesus maksudkan ini? Pintu depan? Pintu belakang? Pintunya besar atau kecil? Kadang-kadang mungkin pintu itu kecil dan tidak seperti yang kita expect, kadang-kadang mungkin pintu itu besar dan berat, kita kaget menghadapinya. Kadang-kadang model pintu itu tidak kita suka. Kita bilang, “Tuhan, pintu itu terlalu berat, pintu itu saya tidak suka, pintu itu tidak menyenangkan.” Dan apakah pintu yang Tuhan maksud ini adalah kesempatan yang terbuka untuk pelayanan? Kalau pintu ini artinya adalah kesempatan, bagaimana kita mengenalinya? Kesempatan besar atau kesempatan kecil?
Kedua, dimana posisi engkau dan saya terhadap pintu itu? Di luarkah atau di dalam? Kalau kita ada di dalam, berarti Tuhan mau kita bersiap hati keluar dari dalam melewati pintu itu. Kalau kita ada di dalam, berarti kita adalah tuan rumah yang harus rela untuk menerima dan menyambut orang masuk. Buka pintu berarti kita terbuka hati untuk melayani. Kalau kita dari luar, lalu Tuhan buka pintu, berarti kita harus berani keluar dari “comfort zone” kita untuk masuk ke dalam situasi yang ‘unknown.’ Mari kita jalani dan lewati meskipun kita tidak tahu apa yang ada di belakangnya.
Jangan kita lupa, Gereja adalah kumpulan orang berdosa yang kumpul sama-sama. Kita semua yang datang adalah orang-orang berdosa yang telah ditebus oleh Tuhan Yesus. Saya orang berdosa yang sudah ditebus oleh Tuhan. Berdosanya saya adalah saya kadang-kadang kurang sabar, saya kadang-kadang kecewa, ada kesulitan dalam pekerjaan, saya kuatir melihat anak saya mengalami tantangan kesulitan. Kita semua seperti itu, bukan? Kita datang ke gereja ini masing-masing ada persoalan di kantor, di dalam keluarga, dimana saja. Sdr mungkin bingung mengenai keputusan-keputusan yang bagaimana yang harus diambil. Kita kecewa kepada orang. Waktu kita berkumpul, di situlah kita disembuhkan sama-sama.

Jangan berkutet dengan kesulitan dan persoalan kita. Biar kita disembuhkan, kita bertumbuh, kita menjadi dewasa. Buang semua hal-hal yang negatif dari hidup kita. Kita bangun “the Gospel culture” dengan spiritual language di tengah-tengah kita. Banyak orang tidak bisa maju-maju sebab dia terus “cranky” dan berkutet kepada persoalan yang itu-itu saja. Dan waktu kita mulai terus bicarakan persoalan yang itu-itu saja, dan terus mempersoalkan hal-hal yang tidak penting, itu problem yang serius. Problem itu harus kita alami dan hadapi. Kita tidak boleh bilang, Tuhan, saya tidak mau ada problem. Life is problems, living is solving problems.

Fix the puzzle, bagi anak berumur 2 tahun ini adalah problem besar. Dia akan berteriak dengan frustrasi saat dia begitu sulit menyelesaikannya dan berkata, “Kenapa sih ada problem yang begitu susah?” Tetapi waktu puzzle ini diberikan kepada anak berumur 8 tahun, dia tidak akan menangis. Dia akan bilang, “Easy! I can solve this problem.” Kenapa? Karena dia sudah cukup besar, cukup dewasa menghadapinya. Fix the puzzle, bagi anak berumur 5 tahun gampang menyelesaikan puzzle untuk anak umur 2 tahun. Tetapi anak berumur 5 tahun itu akan struggle untuk mencoba menyelesaikan puzzle untuk anak umur 8 tahun. Mr. Bean pernah membeli puzzle yang dengan tulisan “for 4-5 years.” Setelah 5 bulan dia ketemu dengan temannya dia membangga-banggakan kehebatannya berhasil menyelesaikan puzzle itu, “Lihat, di kotak ini ditulis ‘for 4-5 years’ tetapi saya berhasil menyelesaikannya dalam 5 bulan!”

Kita juga mempunyai problem seperti puzzle ini yang lebih sederhana, dan yang lebih kompleks. Kalau kita terus berkutet dengan problem ini dan tidak bisa keluar dari pintu yang Tuhan Yesus buka bagi kita, kita tidak akan bertumbuh dan maju. Kalau kita hanya mau menyelesaikan problem yang mudah dan kita anggap sesuai dengan kekuatan kita, kita tidak akan pernah mengetahui kapasitas kita bisa di-stretch sampai sejauh mana.

Semakin lama kita ikut Tuhan, semakin tinggi Tuhan menuntut kita bertumbuh. Kita tidak boleh mengharapkan tidak ada problem dalam hidup ini. Yang harus kita harapkan adalah makin kompleks problem itu, kiranya semakin kita diproses oleh Tuhan untuk makin dewasa menanganinya. Dan kalau problem itu terus mengkutet pikiran saya dan membuat saya tidak bisa menembus pintu itu dan keluar sana, berarti problemnya adalah “I never grow.” Tuhan bukan persoalkan kita kecil dan tidak punya tenaga. Tuhan tidak persoalkan kita terbatas dalam resources dan keuangan. Tuhan juga tidak persoalkan kita tidak memiliki orang dan sumber daya yang besar. Tetapi Tuhan tidak mau kita lari dan menghindar di saat Tuhan membuka pintu. Tuhan kita bukan Tuhan yang ingin “abuse” atau menyiksa kita; Dia bukan Tuhan yang ingin mempermalukan kita dan bukan Tuhan yang ingin menyusahkan hidup kita. Tetapi Tuhan kita adalah Tuhan yang ingin melalui setiap problem kesulitan yang kita alami adalah kita bertumbuh bisa mengatasi problem itu.

Dari situ membuat engkau dan saya bertanya, pada waktu Tuhan bilang ‘Aku akan membuka pintu untukmu.’ Kita ada di posisi mana dari pintu itu? Kalau kita difitnah orang, kita lebih cenderung tutup pintu atau buka pintu? Kalau kita diperlakukan tidak baik dan tidak adil, kita lebih cenderung tutup pintu atau buka pintu? Kita cenderung tutup pintu. Kenapa kita tutup pintu? Karena dengan tutup pintu kita bisa lebih melindungi diri kita. Dengan menutup pintu kita mencegah hal-hal yang tidak kita inginkan terjadi di dalam hidup kita. Kenapa kita tutup pintu? Kita tutup pintu oleh sebab kita terluka, maka lebih baik kita ‘retreat’ dan ‘set back’ kita separate dan tutup diri kita dari orang luar.

Tetapi bukan itu sikap yang harus kita ambil sebagai anak-anak Tuhan. Thom Rainer mengatakan, kenapa ada satu gereja yang menjadi blessing walaupun jumlah orangnya tidak banyak dan kemampuan terbatas? Ini menunjukkan gereja itu adalah gereja yang sehat karena Tuhan hadir di dalam gereja itu. Bagaimana kita tahu Tuhan hadir di dalam gereja itu? Karena semua orang yang datang punya keinginan untuk menyelesaikan problem spiritual dan tidak menghabiskan waktu untuk menggosipkan dan membicarakan persoalan mereka. Semua orang yang datang punya keinginan memperhatikan dan menguatkan saudara seiman yang lemah. Itulah keindahannya. Kepada jemaat Filadelfia yang kecil dan sederhana, Tuhan bilang sebagian dari antara mereka akan mendapatkan fitnahan, mereka akan menghadapi perkataan-perkataan yang tidak benar, mereka tidak bisa membela diri. Kesulitan seperti itu akan datang menimpa mereka, tetapi Tuhan Yesus justru mengatakan kepada jemaat Filadelfia ini, Aku akan buka pintu bagimu. Itu berarti kepada orang yang mengalami kesulitan dan problem seperti itu justru kesulitan dan problem itu dipakai oleh Tuhan untuk menjadi sesuatu yang indah dan menyembuhkan. Kesulitan hidup kita sebagai seorang anggota jemaat jangan sampai menjadi pintu yang tertutup sehingga kita tidak sanggup untuk bisa melayani orang. Seorang pendeta yang hatinya terluka tidak akan pernah bisa menjadi berkat kalau luka itu belum disembuhkan oleh Tuhan, dan melalui luka yang telah sembuh itu dia sanggup menjadi “a wounded healer.” Itu bukan menjadi teori yang diajarkan Tuhan tet pi justru menjadi praktek yang dikerjakan oleh Tuhan kita Yesus Kristus. Kita disembuhkan oleh Yesus Kristus bukan saja oleh kuasaNya; kita disembuhkan oleh Yesus Kristus bukan saja oleh kehebatanNya; kita disembuhkan oleh Yesus Kristus bukan saja oleh kekuatanNya; kita disembuhkan oleh Yesus Kristus bukan saja oleh mujizatNya. Kita disembuhkan oleh Yesus Kristus, sebagaimana 1 Petrus 2:24 mengatakan, “Oleh bilur-bilurNya kita menjadi sembuh.” His wounds heal you.
Saya sangat merindukan di tengah kita menghadapi kesulitan dan problema yang datang bertubi-tubi dalam hidup kita, jangan biarkan hidup kita menjadi pintu yang tertutup. Buka pintu memang repot, ada tamu yang datang; buka pintu itu perlu waktu; buka pintu itu membuat kita rentan terhadap kesulitan. Tetapi kalau kita tahu Tuhan telah memberikan kesembuhan kepada kita, membuka pintu akan membawa berkat bagi orang lain.

Kenapa Tuhan mengijinkan engkau mengalami kebangkrutan di dalam hidup ini? Kebangkrutan mungkin membuatmu marah dan kecewa kepada Tuhan, tetapi begitu kita diberi kekuatan oleh Tuhan, ketika kita disembuhkan olehNya, mari kita pakai hidup kita menjadi berkat bagi orang. Mengapa Tuhan mengijinkan engkau mengalami sakit yang sangat berat di dalam hidup ini? Biar melalui kesulitan dan penyakit itu Tuhan memberikan kesembuhan kepadamu dan melaluinya kita menyembuhkan orang lain. Kenapa Tuhan mengijinkan engkau mengalami hal-hal yang berat yang membuat kita menangis dan berseru karena begitu beratnya? Mengalami putus cinta, mengalami dikhianati oleh orang yang paling dipercaya, mengalami berbagai tantangan kesulitan tidak habis-habis, jangan itu semua membuat kita menutup pintu dan mengisolasi diri kita daripada orang lain. Buka pintu dan jadikan hidup kita menyembuhkan orang lain yang terluka.
Sekarang Tuhan bilang, Aku mau buka pintu ini. Diperlukan keberanian bagi kita untuk dapat melewatinya. Ada beberapa mitos yang harus kita buang.
1. Tuhan buka, tidak berarti akan selalu sukses. Tuhan buka, itu berarti kesempatan. Tuhan tidak menjanjikan kita akan sukses dan berhasil di situ. Yang Ia janjikan adalah Ia akan memberikan kekuatan dan iman yang teguh untuk menjalani setapak demi setapak
2. Tuhan buka, tidak berarti semua akan berjalan dengan mudah dan lancar. Yang Tuhan buka tidak selalu hal yang kita interested. Bisa jadi itu adalah sesuatu yang kita rasa tidak sesuai dengan beban kita. Tetapi Tuhan bilang, Aku buka. Waktu kita masuk dan menjalaninya, di situ kita belajar apa yang namanya bersandar kepada Tuhan dan Tuhan buka itu menjadi satu kesempatan bagi kita.

Pertanyaannya, kalau Tuhan buka pintu itu, bisakah kita melakukan pelayanan sesuai visi yang Tuhan bukakan bagi kita? Kalau ya, kita harus mulai melakukan misi. We need to do our mission to achieve the vision. Misi bukan hanya pergi ke pedalaman mengabarkan Injil. Misi adalah bagaimana mempersiapkan langkah demi langkah untuk menggenapkan visi dari Tuhan. Beberapa hal yang harus kita pikirkan, kita harus mencari orang-orang yang committed melihat visi ini. Urutannya harus jelas: pertama ada visi, selanjutnya misi. Equipment dan resources mendukung dari belakang. Urutannya tidak boleh dibalik. Tidak boleh bilang tunggu kita punya dulu, baru bisa jalan. Lihat dulu, baru mau jalan kemana. Ketika sudah committed untuk menjalani, selalu ingat jalan itu bukan satu dua tahun, tetapi jalan yang panjang. Menjalani satu dua tahun pertama memang menyenangkan. Tetapi ini bukan soal satu dua tahun. Ini perjalanan yang panjang lebih daripada itu. Sayangnya banyak pendeta muda terlalu cepat quit, menjalani satu dua tahun pertama, belum tahu itu baru fase “honeymoon.” Lalu waktu tahun ke tiga mulai terjadi gesekan kaget, akhirnya pergi, tidak sanggup melanjutkan. Seorang hamba Tuhan yang sudah melayani 15 tahun di satu gereja mengatakan, “It is like chewing an elephant.” Prosesnya seperti mengunyah gajah. Kalau makan yam cha atau sushi, gampang. Ambil, langsung sekali kunyah selesai. Tetapi makan gajah kita harus ambil, sepotong demi sepotong. Visi itu ada di depan. Kita sabar jalan satu tahun, dua tahun, mungkin tahun ke tiga harus mundur setahun. Setelah itu kita jalan lagi, mungkin sampai tahun ke tujuh, mungkin harus mundur tiga tahun. Itu yang namanya “to bite one piece at a time.”

Kiranya surat Tuhan Yesus kepada jemaat Filadelfia ini mengingatkan kita bahwa Tuhan senantiasa mengasihi dan memperhatikan kita. Dan Tuhan tidak pernah mempermasalahkan bagaimana kekuatan kita. Yang terpenting Tuhan tahu hati kita mencintai Tuhan dan mau mengerjakan apa yang Tuhan beri. Tuhan membukakan visi dan kesempatan, dan Tuhan memimpin mata kita melihat ke depan. Biar kita sama-sama menjalankan misi yang ada dengan panggilan yang teguh. Tuhan menjadikan kita sebagai satu gereja dengan waktu yang terbatas adanya. Kiranya Tuhan memimpin kita melihat sedikit demi sedikit, menjalani setapak demi setapak, seturut dengan apa yang bisa kita kerjakan bagi hormat kemuliaan nama Tuhan.(kz)