Arti Iman yang Sejati

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Tema: Arti Iman yang Sejati
Nats: Yohanes 6:60-69, Yohanes 17:3

“Inilah hidup yang kekal itu yaitu bahwa mereka mengenal Engkau satu-satunya Allah yang benar dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus” (Yohanes 17:3).

Di dalam Alkitab Tuhan memberikan kepada kita prinsip apa artinya percaya kepada Dia. Percaya kepada Dia adalah sesuatu yang begitu luar biasa, hal yang tidak akan pernah bisa kita ganti dengan apa pun. Puji Tuhan, Alkitab tidak berkata untuk mendapatkan keselamatan itu engkau perlu rajin bertapa. Puji Tuhan, Alkitab juga tidak berkata untuk mendapatkan pengampunan dari Tuhan engkau perlu berpuasa dua bulan dalam setahun. Puji Tuhan, Alkitab tidak berkata untuk mendapatkan pahala engkau perlu rajin memberikan sedekah kepada orang miskin. Puji Tuhan, Alkitab tidak mengatakan persyaratan-persyaratan seperti itu. Tetapi sekaligus hal yang bernilai dan berarti itu menutut panggilan kita untuk komitmen menerimanya dengan menjadikan itu hal yang lebih utama daripada segala-galanya. Tuhan Yesus berkata, barangsiapa mengikut Aku, dia harus memikul salibnya. Barangsiapa mengikut Aku, tidak boleh ada allah lain di dalam hatimu. Jika dia mencintai harta miliknya, orang-orang di sekitarnya, keluarga dan sanak familinya lebih daripada Aku, dia tidak layak mengikut Aku. Panggilan percaya Tuhan itu menuntut sebuah hati yang seperti demikian adanya.

Dalam Yohanes 6 kita melihat orang banyak berbondong-bondong datang mengikuti Yesus karena Yesus telah melakukan begitu banyak mujizat (Yohanes 6:2). Yesus melakukan mujizat sama sekali bukan bertujuan untuk menarik orang banyak menjadi pengikutNya. Mujizat-mujizat itu menjadi tanda Allah kita adalah Allah yang perhatian kepada orang-orang miskin, kepada orang-orang sakit, kepada orang-orang yang susah dan sengsara. Karena itulah arti nantinya kerajaan Allah pada waktu Dia datang kembali. Akibat dosa terjadi ketidak-adilan, sakit-penyakit, penderitaan, dan kelak semua itu akan Dia singkirkan dan tidak akan ada lagi. Yesus hadir di atas muka bumi dua ribu tahun yang lalu memberikan “foretaste” itu. Kedatangan Dia menyembuhkan orang sakit, tetapi bukan itu yang utama dan terpenting. Dan hari itu Yesus melakukan satu mujizat yang luar biasa, lima ribu orang boleh makan dengan kenyang dan tetap masih ada makanan yang tersisa. Maka berbondong-bondonglah orang datang kepadaNya dan mengaku sebagai pengikut Yesus Kristus.

Namun hari itu Yesus memberikan garis pemisah yang jelas. Yesus berkata kepada mereka yang ikut Dia hari itu, “Sesungguhnya kamu mencari Aku bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kamu kenyang!” (Yohanes 6:26). Engkau datang bukan karena mau percaya Aku dan bukan karena mau mengerti hal-hal yang bersifat rohani. Engkau datang kepadaKu dengan motif ingin memperalat Tuhan dan bukan menjadikan Tuhan di dalam hidup mereka. Percaya Yesus tidak membuat engkau menjadi kaya; percaya Yesus tidak membuat hidupmu lancar dan tidak ada kesulitan; percaya Yesus tidak membuat hidupmu sehat wal-afiat selama-lamanya; percaya Yesus tidak akan membuat hidupmu lepas dari persoalan dan penuh dengan kebahagiaan; percaya Yesus tidak berarti engkau akan mendapatkan apa yang engkau mau dan minta dalam dunia ini. Ikut Yesus tidak ada janji seperti itu. Kalimat yang Yesus ucapkan bukan kalimat yang sedap didengar oleh telinga mereka. Hari itu, kuantitas jumlah pengikut langsung amblas. Tidak ada pemimpin mana pun di dunia ini yang akan melakukan hal seperti itu, bukan? Para pemimpin politik pasti akan berusaha sekuat tenaga mencari sebanyak-banyaknya rakyat untuk mendukung mereka. Bahkan termasuk hamba-hamba Tuhan tidak luput menginginkan sebanyak-banyaknya orang untuk menjadi satu tolok ukur bagi kesuksesan pelayanan mereka. Yesus Kristus Tuhan kita tidak seperti itu.

Perkataan Yesus ini keras luar biasa. Perkataan ini menjadi perkataan yang menguji hati orang. Alkitab sendiri mencatat, hari itu berbondong-bondong orang dalam jumlah yang banyak itu satu persatu meninggalkan Yesus (Yohanes 6:66). Kalau sudah pergi semua sisa tinggal dua belas orang, saya percaya kita akan bujuk orang-orang itu jangan ikut pergi juga. Namun kepada yang dua belas orang itu pun Yesus berbalik menantang mereka, “Apakah kamu tidak pergi juga?” (Yohanes 6:67). Kalimat itu membuat murid-murid Yesus dan setiap kita yang percaya Tuhan disentakkan kepada satu hal: kenapa kita percaya kepada Yesus? Dalam keadaan yang lancar mungkin mudah bagi kita untuk menjawab pertanyaan seperti ini. Tetapi saat kita berada di tepi jurang, bisakah kita memberi jawaban yang sama? Ini adalah pertanyaan yang perlu kita jawab, karena jawaban itu akan membuktikan adakah kita murid Kristus yang sejati.

  1. Iman yang sejati adalah iman yang tahu dan mengerti secara pribadi siapa Tuhan yang ia percaya. Petrus berkata kepada Yesus, “Tuhan, kepada siapa lagi kami akan pergi? PerkataanMu adalah perkataan hidup yang kekal dan kami telah percaya dan tahu bahwa Engkau adalah yang kudus dari Allah sendiri” (Yohanes 6:68-69). We know and we believe that You are the Holy One of God. Pertanyaan Tuhan Yesus itu adalah pertanyaan yang sangat penting karena pertanyaan itu mengarahkan kita kepada apa yang paling penting bukan soal bagaimana kita mau percaya dan beriman; yang paling penting adalah Objek dari iman kita itu. Saya boleh saya bilang saya percaya Tuhan Yesus, tetapi apakah kepercayaanku itu memiliki fondasi dan dasar yang kokoh dan teguh adanya? Mengerti kenapa kita percaya itu penting sekali karena itulah dasar dari iman yang sejati. Iman yang sejati tidak pernah kosong; iman itu tidak fanatik membabi buta tanpa dasar. Iman itu akan bersauhkan kepada janji Allah yang benar dan yang pasti terbukti adanya, mereka yang percaya kepadaNya tidak akan binasa selama-lamanya. Yesus berkata percayalah kepadaKu maka engkau akan berpindah dari kematian kepada hidup (Yohanes 5:24, Yohanes 17:3). Kalimat itu bukan kalimat yang kosong sebab Dia buktikan itu dengan mati di kayu salib dan bangkit dari kematian. Hanya Yesus Kristus yang berhak dan layak berkata seperti itu.

Iman itu adalah soal hubungan kita dengan Tuhan. Kita tidak perlu mengenal dan mengetahui semua doktrin ajaran mengenai siapa Yesus Kristus untuk bisa membuat kita percaya kepada Tuhan. Bukan mengetahui secara belajar formal seperti di sekolah setelah selesai belajar dan bisa menjawab semua pertanyaan dan lulus itu yang membuat seseorang percaya kepada Tuhan. It is not about knowledge, but it is about our personal relationship with God. Sehingga iman itu bukan hanya ditujukan bagi orang yang pandai secara intelektual, iman itu bisa hadir di dalam diri seorang ibu yang sederhana yang tidak mengecap bangku sekolah dan pendidikan tinggi. Tetapi pada waktu dia mengerti siapa Tuhan itu, sang Pemilik hidupnya, Penebus jiwanya, yang menjadi Tuhan yang memberikan keselamatan dan hidup kekal selama-lamanya, yang sudah mati dan bangkit menebus dosanya, itulah yang menjadi dasar iman percayanya. Jadikan itu fokus hidup kita dengan mencintai dan menghargai itu adalah kasih karunia yang tidak kita dapat karena kita berbuat baik dan memberi amal dan sedekah, berpuasa dan bersemedi, melakukan berbagai aturan dan perintah agama demi supaya kita mendapatkan hal itu. Itu semata-mata adalah kasih karunia karena Dia sudah berikan itu kepada kita tanpa kita membayar apa-apa. Paulus mengingatkan, karena kasih karunia Allah kita diselamatkan, itu adalah pemberian yang tidak layak kita terima, diberikan dengan cuma-cuma oleh Tuhan Yesus, bukan karena perbuatan baik dan hasil usaha kita, bukan karena apa yang ada pada diri kita, kita terima sebagai pemberian dengan penuh syukur dan kerendahan hati (Efesus 2:8-9).

  1. Iman yang sejati adalah iman yang fokus dengan komitmen 100%, dengan tidak bercabang hati. Iman yang sejati itu tahu kita tidak bisa mempunyai dua tuan di dalam hidup ini. Yesus berkata, “Tak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada mammon” (Matius 6:24). Kita tidak mungkin bisa membagi rata kasih dan pengabdian kita kepada dua tuan itu. Kita tidak mungkin cinta Tuhan sekaligus cinta dan menyembah kepada mammon yaitu harta benda dan materi yang bukan Tuhan itu. Hanya Tuhan yang layak tinggal bertahta di dalam hati kita selama-lamanya.

Tetapi beriman kepada Tuhan bukan berarti engkau dan saya tidak perlu hal-hal yang lain. Justru dalam Lukas 16:9-13 Yesus memberi kita prinsip yang unik luar biasa, “Ikatlah persahabatan dengan mempergunakan mammon yang tidak jujur, supaya jika mammon itu tidak dapat menolong lagi, kamu diterima dalam kemah abadi.” Pakai mammon yang tidak kekal itu untuk mendapatkan nilai yang kekal, sehingga satu kali kelak ketika semua itu tidak ada lagi, kita tahu apa yang kita lakukan bagi Tuhan tidak akan hilang selama-lamanya. Apa yang Tuhan beri tidak boleh menjadi penghalang bagi hidup kita untuk datang kepadaNya. Apa yang Tuhan beri tidak boleh menjadi pengganti Tuhan dalam hidup kita. Uang dan segala harta yang kita miliki tidak boleh menjadi berhala yang menjadi sandaran kita, tetapi tidak berarti uang dan harta itu tidak baik dan tidak perlu dalam hidup ini. Tuhan memberi kita uang dan harta untuk dipakai dengan maksud dan fungsi yang jelas, yaitu dia menyertai perjalanan kita tetapi tidak boleh menjadi berhala kita. Semua yang Tuhan berikan kepada kita, mari kita pakai itu semua dengan tidak jemu-jemu untuk kita pakai bagi pekerjaan Tuhan yang lebih besar, lebih indah dalam hidup kita.

  1. Iman yang sejati selalu harus diuji, dan digoncangkan untuk membuktikan kesejatiannya. Dalam Yohanes 6:61 Yesus bertanya, “Adakah perkataan ini menggoncangkan imanmu?” Segala ujian Tuhan berikan di dalam hidup kita itu tidak bertujuan untuk mencabut, menghancurkan dan memusnahkan iman kita. Segala ujian dan goncangan itu Tuhan berikan justru untuk membuktikan iman kita memang iman yang suci dan murni adanya (1 Petrus 1:7a).

Sepanjang sejarah gereja memperlihatkan penganiayaan dahsyat kepada orang-orang Kristen. Iman mereka akan selalu bertahan di tengah penganiayaan karena itulah iman yang sejati. Kita tidak akan pernah kuatir dan takut dengan penganiayaan karena iman yang sejati akan selalu digoncangkan dan diuji, dan iman yang sejati akan bertahan sampai akhir.

Perjalanan iman yang sejati itu pasti tidak gampang dan tidak mudah. Ada gelombang, ada topan dan badai, datang silih berganti. Semua kita akan mengalami seperti itu. Pada waktu kapal itu mulai goyah dan hanyut, kita mulai takut. Lalu kita mulai membuang jangkar supaya kapal itu jangan hanyut dan mengalami kesulitan. Kita tidak bisa melihat dasar laut itu dan kita tidak tahu berapa dalam dasar laut itu karena mata kita tidak bisa melihatnya. Tetapi pada waktu jangkar itu turun ke dasar laut dan berjangkar di pasir, seberapa pun kita yakin jangkar itu sudah sampai di bawah sana, kapal itu pasti tetap akan terseret dan terhanyut karena tidak ada kekuatan yang menahankannya. Tetapi pada waktu jangkar kita bertaut kepada batu karang yang kokoh, di situ kapal kita akan aman selamat karena jangkar kita tidak bertaut kepada pengharapan yang kosong. Dia berjangkar kepada Batu Karang yang kokoh yaitu Tuhan Yesus Kristus, di situ kita aman. Apapun yang terjadi di atas kapal, berapa kuat dan dahsyat angin menerpa kapal hidup kita, dia tidak akan pernah hilang dan hanyut sebab jangkarnya bertaut kepada Batu Karang yang kokoh dan teguh adanya. Itulah arti beriman. Jangan tanyakan mengapa ikut Tuhan harus melewati begitu banyak dan begitu berat kesulitan dalam hidupmu karena itu adalah satu proses pengujian betulkah iman kita adalah iman yang sejati di hadapan Tuhan atau tidak.

  1. Iman yang sejati adalah iman yang tidak mati. Meskipun seseorang bisa menghafal seluruh ayat-ayat di dalam Alkitab lalu bisa melafalkan pengakuan iman dan menguasai doktrin tritunggal, bisa melakukan segala sesuatu tetapi jika hidupnya tidak memiliki kelakuan yang mencerminkan hidup Kristen yang baik dan hidupnya tidak menyatakan cinta kasih kepada saudara seiman yang lain, yang selalu penuh dengan gerutu dan kritikan negatif, tidak ada hati yang penuh sukacita dan belas kasihan, dan tidak menyatakan keindahan melayani Tuhan, mungkin imannya hanyalah iman di mulut saja. Itulah sebabnya Yakobus berkata “Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati” (Yakobus 2:17). Mengapa di dalam doamu engkau tidak mendapat apa-apa? Karena di dalam doamu engkau meminta dengan cara yang salah. Yang engkau minta hanya untuk memuaskan nafsu dan keinginanmu, itu sebab engkau tidak mendapatkannya (Yakobus 4:2-3). Engkau mengaku orang beriman tetapi tutur kata dan segala yang keluar dari mulutmu adalah sumpah serapah dan kutukan. Dari mulut yang sama engkau memuji nama Tuhan di gereja, tetapi dengan mulut yang sama engkau mengutuki saudaramu (Yakobus 3:9-10). Betapa keras dan tajam teguran yang diberikan oleh Yakobus mengenai apa artinya iman yang palsu dengan iman yang sejati itu. Iman itu bukan sekedar pengetahuan tetapi iman itu adalah sesuatu yang kita hidupi di dalam hidup ini. Iman yang sejati adalah iman yang hidup, iman yang senantiasa merefleksikan hati yang penuh dengan sukacita, graceful dan memuji Tuhan dalam segala waktu. Bersyukur kepada Tuhan itu bukan soal berapa banyak yang kita sudah miliki, bersyukur kepada Tuhan itu soal sikap hati yang telah dirobah oleh Tuhan. Bersyukur kepada Tuhan bukan karena engkau telah memperoleh sesuatu, tetapi bersyukur kepada Tuhan karena kita memiliki hubungan yang benar dengan Tuhan dan pemahaman mengapa kita membawa syukur kita kepadaNya.

“Ia yang oleh karena kamu menjadi miskin sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinanNya” (2 Korintus 8:9) adalah sebuah ayat yang sangat menyentuh hati saya. Hanya Allah yang memiliki segala sesuatu dengan tidak ada batasnya. Siapa pun kita, semua kita mempunyai kepemilikan yang terbatas. Apa buktinya kita terbatas? Begitu mata pencaharian kita hilang, begitu pekerjaan kita hilang, kita semua akan kelimpungan, bukan? Kita terbatas. Kita mau kumpul uang sebanyak-banyaknya, kita mau jaga kesehatan kita sebaik-baiknya, begitu hari ini uang dan kesehatan kita hilang, sudah setengah mati kita. Begitu ginjal kita tidak berfungsi lagi, kita harus bolak-balik cuci darah; begitu rumah disita, kita sudah kelabakan. Itu membuktikan betapa terbatasnya kita. Dan ketika hati kita yang rakus dan tamak mau melampaui apa yang ada karena kita merasa belum cukup dan ingin mendapatkan sesuatu lebih daripada itu, percayalah tidak akan pernah habis-habis selama-lamanya keinginan untuk memuaskan hal itu. Engkau dan saya terbatas, tetapi keterbatasan kita tidak boleh mencegah kita untuk memiliki hati yang tidak terbatas dan luas adanya. Ayat ini memberitahukan kita Yesus yang kaya dan pemilik segala sesuatu rela melepaskan segala kekayaanNya dan menjadi miskin dan hina. Tetapi bukan banyaknya materi yang menentukan status kekayaan itu karena kekayaan Yesus ada dalam hati yang kaya dan itulah yang menjadikan kita kaya. Ada di antara kita yang kaya dengan doa; ada di antara kita yang kaya dengan senyum; ada yang kaya dengan perhatian; ada yang kaya dengan kebaikan; ada yang kaya dengan kemurahan; ada yang kaya dengan perhatian; ada yang kaya dengan pengorbanan; meskipun kita tidak kaya dengan materi. Kita tidak boleh menyatakan hati yang baru bersyukur setelah kita mendapatkan banyak hal baru kita menyatakan kita mau memberi dan melakukan syukur.

Maka bersyukur itu bukan soal “having” but it is about ”being.” Bersyukur adalah hati yang contentment, yang “more than enough.” Di situlah baru kita boleh menjadi orang yang berlimpah dengan sukacita, sesuatu yang mengalir keluar dari hidup kita dengan limpah luar biasa. Ini bukan hal yang gampang karena kita cenderung menuntut untuk selalu diberi. Siapa bilang orang yang paling sering tidak bersyukur itu adalah orang kaya? Sejujurnya, semua kita, kaya dan miskin adalah orang yang tidak mudah untuk bersyukur. Banyak orang yang miskin justru paling sulit untuk bersyukur. Kalau kita terus merasa berhak untuk ditolong, kalau kita terus merasa berhak untuk diberi dan dikasihi oleh Tuhan, maka miskinlah “being” kita. Dan berapa pun yang kita punya tidak akan membuat kita menjadi seorang yang kaya karena itu berkaitan dengan “being” kita. Betapa kontras dengan Tuhan kita Yesus Kristus yang kaya tetapi menjadi miskin tetapi di dalam kemiskinanNya Dia memperkaya banyak orang.

Melayani orang, bukan soal berapa banyak atau berapa kekurangan yang dimiliki, tetapi itu soal bagaimana kita memahami pemberian Tuhan dalam hal-hal besar maupun hal-hal kecil dan memenuhi hati kita dengan syukur kepadaNya. Kalau tidak, kita akan kehilangan dimensi bersyukur kepada Tuhan. Tidak habis-habisnya pelayanan itu seperti pelayan di restoran, sesudah melayani orang dengan masakan yang terbaik, orang itu makan kenyang, melap mulutnya, melempar lap ke meja dan pergi begitu saja. Bahkan bisa saja dia masih complain, pelayannya tidak senyum. Kadang-kadang kita bisa cruel seperti itu. Kita merasa karena kita bayar kita berhak dilayani dengan sebaik mungkin dan kita cruel dan mengkritik hal-hal yang kecil-kecil dengan kata-kata destruktif.

Kita bersyukur sampai di penghujung tahun kita boleh menikmati semua yang indah dan baik dari Tuhan. Kiranya nama Tuhan terpuji karena Tuhan sungguh baik dalam hidup kita, penuh dengan kasih setia dan rahmat. Dia mencurahkan kebaikan demi kebaikan dengan limpahnya. Bahkan ketika kita boleh diperhadapkan dengan segala ujian, tantangan dan kesulitan, kiranya iman kita semakin diteguhkan di hadapan Tuhan. Kita bersyukur kita boleh dimampukan untuk percaya kepada Yesus, kita menghargai dengan sungguh akan kepercayaan itu. Kepercayaan kepada Tuhan bukanlah satu kepercayaan yang kosong adanya. Kita tahu di dalamnya adalah janji yang pasti, satu kali kelak seluruh kebaikan, kemuliaan, kekayaan dan hormat yang dijanjikan Yesus Kristus menjadi milik kita yang sebenarnya tidak layak untuk semua itu. Semua itu kita terima hanya karena kita percaya kepada Yesus.(kz)