7 Dosa Gereja yang sedang Sekarat

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Eksposisi Surat Yesus Kristus kepada Tujuh Gereja (3)
Tema: 7 Dosa Gereja yang sedang Sekarat
Nats: Wahyu 2-3

 

Yesus Kristus mempunyai hak atas gerejaNya karena Dia adalah Kepala Gereja, Ia yang adalah Alfa dan Omega, yang telah menebusnya dengan darahNya yang kudus dan tak bercacat itu. Dalam kitab Wahyu 2-3, ada 7 gereja yang menerima surat yang datang dari Tuhan Yesus Kristus, sang Kepala Gereja sendiri. Dari 7 surat itu, semua dimulai dengan menyatakan siapakah pribadi Tuhan Yesus Kristus itu dengan pernyataan yang berbeda-beda. “Dari Dia yang memegang ketujuh bintang itu di tangan kananNya, Dia yang Awal dan yang Akhir, yang telah mati dan hidup kembali, Dia yang memakai pedang yang tajam dan bermata dua, yang mataNya bagaikan nyala api, yang Kudus dan Benar, yang memegang kunci Daud, Saksi yang setia dan benar” (Wahyu 2:1, 8, 12, 18, 3:7, 14). Dan ke 7 surat ini semuanya dimulai dengan kalimat, “Aku tahu…” menyatakan kedaulatanNya, perhatianNya, kasihNya, dan cintaNya kepada gereja, dan diakhiri dengan kalimat yang sama, “Siapa bertelinga hendaklah dia mendengar,” sebagai suatu tuntutan serius bukan saja mengetahui semua itu tetapi dinyatakan dengan aksi dan tindakan konkrit kesetiaan, perubahan yang nyata. Tujuh surat ini menjadi 7 surat representatif kepada semua gereja di segala jaman, termasuk bagi gereja kita. Dengan pertanyaan: kita seperti apa? Relakah kita menerima teguran dan koreksi Tuhan? Maukah kita menjadi gereja yang sehat? Kristus juga tahu apa yang ada di dalam hidup kita, segala kelemahan maupun kekuatan kita. Hal yang sama Ia juga katakan kepada kita, barangsiapa bertelinga hendaklah ia mendengarkan firman yang diberikan. Doa kita sama-sama supaya kita boleh menjadi gereja yang dibentuk, dirubah olehNya, dicintai olehNya dan diberi tugas tanggung jawab bagaimana kita boleh melayani Dia dengan indah.

Kitab Wahyu adalah kitab yang diberikan kepada gereja yang mengalami penganiayaan secara sistematis mulai dari kaisar Nero di tahun 60-an AD dimana rasul Paulus dan rasul Petrus mati dibunuh di masa pemerintahannya. Pada waktu rasul Yohanes menulis surat ini, dia telah dibuang ke pulau Patmos dan kaisar Roma yang melakukan penganiayaan kepada orang Kristen pada waktu itu adalah Domitianus. Dari Nero sampai Domitianus penganiayaan kepada Kekristenan besar dan berat luar biasa. Maka kita boleh mengerti bahwa surat ini menjadi surat penghiburan satu kali kelak Tuhan akan datang kembali. Tuhan tidak pernah lalai menepati janjiNya dan tutup mata terhadap penganiayaan, terhadap pembunuhan, terhadap orang-orang yang jahat yang menganiaya anak-anak Tuhan, yang menghancurkan usaha penginjilan. Suatu kali kelak Tuhan akan menyatakan keadilan Tuhan itu adil seadil-adilnya. Namun kita menyaksikan adilnya dan “fairness”-nya Tuhan adalah seperti yang rasul Petrus katakan, “Karena sekarang telah tiba saatnya penghakiman dimulai dan pada rumah Allah sendiri yang harus pertama-tama dihakimi…” (1 Petrus 4:17). Allah itu adil. Sebelum pengadilan itu tiba kepada dunia dan kepada orang yang tidak percaya, pengadilan Tuhan itu akan dimulai dari gerejaNya, dari rumahNya.

Maka Wahyu 2-3 khusus bicara menjadi warning bagi gerejaNya karena gereja dipanggil menjadi cahaya, jika cahaya itu dikaburkan oleh kesalahan dan dosa, bagaimana cahayanya bisa bersinar? Tuhan tidak menghancurkan lampu itu, Tuhan minta kita membersihkan kacanya agar cahayanya terang. Tuhan minta kita berjalan dengan pakaian kemurnian, pakaian kesucian. Tetapi pada waktu baju itu telah kotor Tuhan tidak menelanjangi dan mempermalukan kita, Tuhan meminta kita mencuci baju itu supaya baju itu bersih adanya. Itulah fungsi dari Wahyu 2-3, tetapi dengan peringatan yang begitu tegas dan serius untuk didengarkan, jikalau tidak Tuhan tidak segan-segan mengambil tongkat kaki dian api yang menyala itu dan tongkat itu akan diestafetkan kepada anak-anak Tuhan yang sungguh-sungguh cinta Tuhan. Kepada 5 gereja ini Tuhan Yesus berseru, “Bertobatlah! Berjaga-jagalah! Sadarlah!” Kepada 5 gereja ini kita akan melihat teguran Tuhan juga harus kita dengar baik-baik untuk menjadikan gereja ini boleh menjadi sehat adanya.

Dalam bukunya yang berjudul “Essential Church,” Thom Rainer menyebutkan 7 dosa yang ada pada gereja yang sedang sekarat yang menjadi cermin dari apa yang terjadi dari gereja-gereja yang ditegur Tuhan Yesus dalam kitab Wahyu ini.

  1. Dosa pertama dari gereja yang sakit dan yang sedang sekarat adalah “loss of passion for Christ to be known, to be shared.” Thom Rainer memakai istilah “loss of evangelistic passion.” Kita tidak bicara soal strategi, kita tidak bicara soal aktifitas pelayanan. Tetapi kita bicara soal yang paling inti, yang menjadi “core” yaitu passion-nya. Passion tidak bicara soal intelektual, passion tidak bicara soal finansial. Passion bicara soal hati kita, bicara soal bagaimana kita mengerti dan membalas apa yang sudah Tuhan beri kepada kita dengan limpah.

Kita lihat gereja Efesus, Tuhan bilang apa yang engkau kerjakan baik adanya. Engkau mengenal ajaran yang salah dengan tepat, dengan akurat. Engkau tidak sabar dengan orang jahat. Bahkan engkau rela sabar dan rela menderita bagi nama Tuhan. Engkau giat, tekun melayani dan tidak mengenal lelah. Tetapi Aku mencela engkau karena engkau telah kehilangan kasihmu yang mula-mula (Wahyu 2:2-4). Ada aktifitas yang terjadi di dalam gereja itu, tetapi sama sekali tidak ada lagi hati, dan cinta, dan passion yang muncul. Semua menjadi kerutinan yang dikerjakan, dilakukan dan dijalankan sehingga menjadi arogansi dan kebanggaan tetapi mereka tidak tahu kenapa mereka melakukan dan mengerjakannya. Gereja Efesus terjadi seperti itu sehingga Tuhan Yesus mencela mereka telah meninggalkan kasih yang mula-mula kepadaNya. Kasih yang seperti apakah itu? Ini harus menjadi warning yang serius bagi kita, jangan pernah jiwa yang berapi mencintai dan mengasihi Tuhan akhirnya pelan-pelan padam di dalam kerutinan aktifitas pelayanan yang begitu banyak. Berapa banyak yang sudah Tuhan kerjakan di dalam hidup kita? Kita mengakui betapa berlimpah tidak bisa terhitung hal itu. Tetapi betapa sedih hati Tuhan, jangankan satu kalimat, bahkan satu patah kata pun pernahkah kita share menyatakan betapa indahnya Tuhan Yesus di dalam hidup kita itu? Pernahkah itu menjadi passion yang terus menggelora hidup kita? Tetapi itu harus mengingatkan kita begitulah attitude orang yang berdosa. Begitulah sikap kita yang terlalu gampang dan terlalu mudah lupa hal yang begitu indah dan begitu banyak telah Tuhan kerjakan dan diganti dengan satu ingatan saja kepada hal yang mungkin kita minta kepada Tuhan di dalam doa dan Tuhan tidak jawab itu dan hal itu mengecewakan hati kita selama-lamanya.

Paulus berkata, “Hidupku adalah Kristus” (Filipi 1:21, Galatia 2:20). Tidak ada hal yang aku ingin lakukan dalam hidup ini kecuali apa yang Kristus katakan itu aku sampaikan kepada orang. Engkau tidak perlu menjadi seorang hamba Tuhan untuk orang bisa melihat passion dan kedalaman cinta kita kepada Kristus. Kita bisa melihat seorang ibu yang sederhana yang lebih menyatakan cinta Tuhan daripada seorang pendeta yang berdiri di mimbar dan yang mengkhotbahkan akan hal itu. Itu bukan soal berapa dalam pemahaman dan pengertian teologi kita. Itu soal betapa passionkah dan cintakah kita kepada Kristus? Jangan pernah kita melupakan kebesaran cinta Tuhan dan anugerah Tuhan itu, betapa baik Tuhan dalam hidupmu. Jangan undang orang datang ke gereja ini bilang, karena khotbah pendetaku ciamik, tidak usah. Undang orang datang karena Yesus Kristus telah merubah hidupmu. Itulah sumber passion yang mengingat selalu apa yang sudah Tuhan lakukan dalam hidupmu. Jangan bilang tidak ada anugerah Tuhan, jangan bilang tidak ada kasih karunia Tuhan, jangan bilang tidak ada kelimpahan dan kebaikan yang Tuhan beri kepada kita. Kita harus jujur mengakui kita senantiasa lupa untuk menyatakan itu dan menjadikan itu passion kita to tell people how wonderful Jesus for you. Engkau bisa mengatakan dahulu engkau hampir putus asa dan hampir bunuh diri dan merasa hidup tidak berarti lagi, sampai Yesus datang ke dalam hidupmu. Engkau dulu adalah orang yang sakit dan hampir mati tetapi Tuhan berbelas kasihan kepadamu dan menyembuhkanmu. Itu adalah perubahan hidup yang tidak boleh engkau dan saya simpan dan tutup sampai selama-lamanya, harus keluar dari hidup kita dan menjadi berkat bagi orang lain. Itulah passion, itulah kasih kita yang mula-mula.

Saya tidak minta engkau memenuhi gereja ini dengan banyak orang, saya bukan berharap kita bisa buka cabang dimana-mana, bukan itu pointnya. Tetapi mari kita melihat bahwa satu pelayanan bisa berjalan terus dan tongkat estafet berlanjut dari satu generasi ke generasi lain hanya bisa lahir dari orang-orang yang tidak pernah memadamkan api cintanya kepada Tuhan karena dia menyadari betapa indah apa yang Tuhan sudah kerjakan di dalam hidupnya.

  1. Dosa kedua adalah dosa kompromi dan tutup mata dengan kesalahan-kesalahan ajaran dan kesalahan pemimpinnya.

Tuhan Yesus menegur gereja Pergamus, “Di antaramu ada beberapa orang yang menganut ajaran Bileam, yang memberi nasehat kepada Balak untuk menyesatkan orang Israel, supaya mereka makan persembahan berhala dan berbuat zinah…” (Wahyu 2:14). Tuhan Yesus menegur gereja Tiatira, “Aku mencela engkau karena engkau membiarkan wanita Izebel yang menyebut dirinya nabiah, mengajar dan menyesatkan hamba-hambaKu supaya berbuat zinah dan makan persembahan-persembahan berhala…” (Wahyu 2:20). Inilah yang dilakukan oleh gereja Pergamus dan Tiatira. Dua gambaran tokoh yang dipakai sebagai metafora simbol yang ada di Perjanjian Lama, yang seorang adalah Bileam dan yang seorang lagi adalah seorang wanita bernama Izebel. Dua orang ini bukan orang sembarangan, berarti jelas mengacu kepada pemimpin gereja dan yang satu lagi mengacu kepada isteri dari pemimpin gereja itu. Bileam adalah orang yang hebat di luar, lalu pura-pura menjadi orang yang percaya Allah Yahweh, lalu ikut bangsa Israel, mengikuti aktifitas ibadah orang Israel tetapi kemudian membawa dan menyesatkan orang Israel jauh dari Tuhan (band. Bilangan 22-25). Izebel adalah seorang yang begitu berkuasa, yang suaminya bernafsu menginginkan ladang anggur Nabot. Dia menggunakan cara-cara yang begitu kotor untuk mengambil ladang Nabot menjadi milik Ahab, suaminya. Perhatikan baik-baik, dia menggunakan bahasa-bahasa rohani ‘berdoa dan berpuasa’ di dalam puasa itu kemudian dia menyuruh saksi-saksi dusta menuduh Nabot telah menghujat nama Allah dan raja, akhirnya orang-orang Israel melempari Nabot dan membunuhnya sehingga Izebel bisa mengambil ladangnya (1 Raja 21:1-16).

Kita tidak boleh kompromi dengan kesalahan-kesalahan ajaran, kita juga tidak boleh kompromi dengan kesalahan para pemimpin gereja. Kita harus berani menegur satu sama lain. Tidak boleh kita menjadi pemimpin yang akhirnya memimpin dengan cara yang salah dan keliru. Tidak peduli berapa besar dan suksesnya satu gereja, selama motivasi hati dari atas ke bawah tidak suci dan tidak murni melayani Tuhan, kelak Tuhan akan bongkar dan tegur itu.

  1. Dosa gereja yang sekarat adalah gagal untuk menjadi relevan.

Tuhan Yesus berkata kepada gereja Sardis, “Aku tahu segala pekerjaanmu, engkau dikatakan hidup, padahal engkau mati! Bangunlah dan kuatkanlah apa yang masih tinggal yang sudah hampir mati…” (Wahyu 3:2). Itulah kesalahan dari gereja Sardis, tidak sadar bahwa mereka sudah mati rohani; tidak sadar bahwa mereka tidak melayani jaman. Dan hanya sedikit orang saja yang memahami itu dan semua yang lain tertidur dan mati. Kita tidak boleh pikir diri sendiri. Kita harus pikir bagaimana pekerjaan Tuhan berlanjut karena saat dan masa kita akan selesai, kita harus pikir bagaimana pekerjaan Tuhan itu harus berjalan terus. Gereja harus menjadi relevan. Jika kita tidak bersiap melayani generasi yang akan datang, kita akan kehilangan generasi yang akan datang. Kita melayani bukan untuk diri kita sendiri dan generasi kita sendiri. Bukan untuk kita sekarang. Umur kita semakin bertambah dan semakin tua kita harus berpikir bagaimana kita mentransfer tongkat estafet itu.

Dalam buku “Essential Church” Thom Rainer mengatakan gereja yang tidak mau mengalami perubahan internal dan tidak mau berubah selama 50 tahun sementara dunia di sekelilingnya mengalami perubahan, gereja itu akan mati bersama budaya yang lama. Gereja yang bertanya, “How can we best relate the unchanging Gospel to the shifting culture around us?” adalah gereja yang tidak mau mati, gereja yang tidak mau tidur dan gereja yang terus berjaga-jaga. Gereja itu selangkah lebih dekat menjadi gereja yang relevan dan menjangkau generasi selanjutnya. Kita punya Injil yang tidak berubah. Kita tidak merubah esensi berita Injil kita, kita tidak merubah dasar keselamatan kita di dalam Yesus Kristus sebagai satu-satunya Tuhan dan Juruselamat. Tetapi kita tahu kalau baju yang kita kenakan sudah tidak cocok dengan sekitar kita, kita harus berani mengganti baju itu.

  1. Dosa gereja yang sekarat lebih mengutamakan “the priority of comfort.”

Tuhan Yesus menegur gereja Laodikia, “Engkau tidak dingin dan tidak panas. Alangkah baiknya jika engkau dingin atau panas!” (Wahyu 3:15). Gereja Laodikia gereja yang suam-suam kuku. Gereja Laodikia punya segala-galanya dengan tujuan menjadi barang untuk pamer saja, untuk show off. Aku kaya, aku punya ini dan itu, aku tidak kekurangan apa-apa. Tuhan bilang engkau tidak sadar bahwa engkau melarat, malang, miskin, buta dan telanjang (Wahyu 3:17). Ke gereja pakai baju bagus-bagus, pakai perhiasan mahal, gereja berhias barang-barang yang mewah dan berkilauan, tetapi Tuhan menghina mereka telanjang tidak pakai apa-apa. Kekayaan mereka tidak ada artinya di hadapan Tuhan. Mereka adalah gereja yang suka tinggal di dalam zona nyaman untuk diri mereka sendiri.

Thom Rainer berkata, “Dying church refused to stretch beyond their limit zone of comfort.” Gereja itu mulai sakit dan sekarat kalau orang Kristen di dalamnya kehilangan garam kepada dunia, kalau terus tinggal di dalam kenyamanan itu. Bandingkan dengan gereja Filadelfia meskipun gereja yang kecil dan miskin tetapi Tuhan akan membuka pintu dan memberi kesempatan untuk melayani lebih luas lagi. Itu namanya “stretch,” Tuhan tarik, terus tarik sampai kita merasa tidak kuat, kita takut “karet” itu putus. Jelas, mendengar dan mengikuti panggilan Tuhan akan membuat kita bersiap untuk tidak nyaman, no comfort. Kita harus ditarik, tarik secara rohani, tarik secara tenaga, tarik secara finansial, masuk kepada zona yang mungkin tidak pernah kita berani jalani, itulah yang namanya “out of comfort zone.” Kalau kita tunggu ada uang dulu, kalau kita tunggu semua cukup dan lengkap baru kita mau bergerak, kita tidak akan pernah bisa jalan. Kita harus stretch, setelah di-stretched kita baru tahu bahwa kita bisa; setelah di-stretched juga baru tahu bahwa kita tidak bisa. Jadi harus apa? Tarik. Saya minta gereja ini berani melangkah out of our comfort zone. Generasi ke depan yang kita layani harus kita siap baik-baik. Kita punya banyak limitasi dan waktu kita terbatas, kita tidak boleh lengah dan lalai.

  1. Gereja akan sekarat dan mati jikalau hanya sedikit orang yang mau melayani keluar menjangkau orang yang tidak percaya. Kita harus keluar mencari orang di sekitar kita dengan cara dan keunikan kita masing-masing.
  2. Gereja akan sekarat kalau terus ribut tentang hal-hal “personal preferences.”

Gereja akan segera mati kalau jemaat di dalamnya hanya ribut soal makan roti atau makan biskuit, kalau ribut soal mau merk kopi moccona atau nescafe, kursinya kursi lipat atau sofa, itu soal-soal sepele yang tidak perlu diributkan. Gereja akan segera mati kalau orang-orang di dalamnya ribut hanya karena soal-soal seperti itu. Jangan sampai kita seperti itu.

  1. Gereja yang sakit adalah gereja yang “Biblical Illiteracy.”

Gereja akan sekarat kalau jemaatnya tidak pernah baca Alkitab, tidak mau belajar mendalami firman Tuhan, merenungkan dan melakukannya. Jemaat yang cinta Tuhan betul-betul mau belajar firmanNya dengan baik dan memperlengkapi diri dengan baik. Bukan saja kita mempersiapkan bagaimana melayani dengan baik, kita juga mencegah bagaimana ajaran yang salah tidak menyelinap masuk ke dalam gereja. Itu juga akan mencegah jemaat tidak apatis dan masa bodoh, itu akan membuat jemaat hidup tidak kompromi, itu akan membangkitkan gairah kita karena hidup kita selalu diisi dan dipenuhi oleh firman yang hidup. Kita mau kita tidak buta rohani dan buta terhadap kebenaran yang Alkitab sediakan untuk kita gali dan nikmati dalam hidup kita.

Kiranya hari ini kita digugah kembali oleh firmanNya yang mendorong kita untuk boleh bergairah mencintai dan mengasihi Tuhan selama-lamanya. Kita hidup hanya satu kali saja di dunia ini, kita hidup bukan untuk memperkaya diri, kita hidup bukan untuk melihat anak-anak kita sukses, kita hidup bukan untuk menambahkan sesuatu gelar dan prestasi untuk semata-mata menjadi tujuan dan fokus hidup kita. Hidup kita adalah hidup yang sudah ditebus, yang bernilai dan berarti di tangan Tuhan, supaya hidup kita ini boleh menjadi terang dan garam, menjadi alat-alat Tuhan Yesus di dunia ini. Pada waktu kita menjadikan Tuhan lebih agung dan lebih utama dalam hidup kita, kita percaya Ia adalah Tuhan yang tidak pernah mengecewakan dan mengabaikan kita. Pasti Ia akan melengkapi dan mencukupkan hati anak-anaknya yang mencintai Dia selama-lamanya. Jangan kiranya kita kehilangan fokus dan jangan salah menaruh prioritas di dalam hidup kita, supaya kita melihat visi di depan sama-sama dan berjalan sama-sama memiliki misi untuk menggenapinya. Kita mungkin tidak sanggup untuk bisa melangkah tiga empat langkah sekaligus, tetapi kita harus melangkah. Dan kalau pun langkah kita tertatih-tatih setapak demi setapak, biar kita terus melangkah. Kalau kita tidak bisa berlari, biar kita berjalan. Kalau kita tidak bisa berjalan, biar kita merangkak. Kalau kita tidak bisa merangkak, biar kita seret kaki kita yang lemah. Yang terpenting kita mau melangkah mengikuti pimpinan Tuhan dengan setia dan taat.(kz)