20. Teman Injil

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Eksposisi Surat Filipi (20)
Tema: Teman Injil
Nats: Filipi 4:10-23

Dalam Filipi 4:15-16 Paulus mengatakan, “Hai orang-orang Filipi, pada waktu aku baru mulai mengabarkan Injil, ketika aku berangkat dari Makedonia, tidak ada satu jemaat pun yang mengadakan perhitungan hutang dan piutang dengan aku selain kamu. Karena di Tesalonika pun kamu telah satu dua kali mengirimkan bantuan kepadaku.” Dalam perjalanan misinya ke daerah Eropa, Paulus memulai dari kota Filipi di Makedonia. Dari Filipi Paulus melanjutkan perjalanan ke Tesalonika (Kisah Rasul 17:1), jaraknya kira-kira sekitar 200 kilometer dari Filipi. Paulus mengatakan tidak ada jemaat lain selain jemaat Filipi yang mengirimkan bantuan kepadanya selama melayani di Tesalonika. Dalam 2 Korintus 11:9 Paulus dengan terbuka mengatakan kepada jemaat Korintus, “Ketika aku dalam kekurangan di tengah-tengah kamu, aku tidak menyusahkan seorang pun, sebab apa yang kurang padaku dicukupkan oleh saudara-saudara yang datang dari Makedonia…” Dengan menggabungkan ayat-ayat ini dan mengurut secara kronologis, kita bisa tahu apa yang dilakukan oleh jemaat Filipi kepada rasul Paulus. Pada saat Paulus meninggalkan kota Filipi menuju ke Tesalonika, jemaat ini memikirkan apa yang kira-kira diperlukan oleh Paulus, lalu mereka mengirimkan bantuan itu kepadanya. Tidak berhenti sampai di situ, saat Paulus melanjutkan perjalanan hingga ke kota Korintus, jemaat ini mengirimkan bantuan baginya. Kenapa jemaat yang ada di Korintus tidak men-support kebutuhan Paulus selama melayani di Korintus? Berbeda dengan jemaat di kota-kota lain, di Korintus Paulus tidak mau menerima honor pelayanan dari jemaat Korintus oleh sebab di situ terlalu banyak guru-guru dan pengajar-pengajar yang menjadikan pengajaran filsafat sebagai mata pencaharian mereka. Mungkin sekali untuk memberikan perbedaan antara dia dengan mereka Paulus tidak mau menerima imbalan supaya waktu dia memberitakan Injil terutama kepada orang yang belum percaya, mereka tahu Injil ini mereka terima dengan gratis tanpa membayar, dan firman Tuhan yang diberitakan kepada mereka bukan untuk diperjual-belikan. Maka saat melayani di kota Korintus, Paulus tidak menerima apa-apa sepeser pun dari mereka tetapi dia bekerja sebagai tukang kemah (Kisah Rasul 18:3). Dalam 2 Korintus 11:9 kita bisa mengetahui bahwa selain mendapat pemasukan dari pekerjaannya, ada kiriman bantuan dari jemaat di Makedonia.

Saat Paulus menulis surat ini dia sedang berada di dalam penjara. Di dalam penjara kondisi yang ada begitu buruk, meskipun diberi makan, makanan yang diberikan sangat terbatas mungkin hanya sepotong roti kering dan air kotor, mau makan, tidak mau makan, terserah. Untuk bertahan dan tetap hidup, mereka sangat membutuhkan keluarga-keluarga atau teman sahabat untuk menolong dan membantu membawa makanan bagi mereka. Alkitab mencatat di dalam penjara rasul Paulus kerap dikunjungi oleh beberapa keluarga membesuk, merawat dan memelihara dia. Tetapi mungkin tidak setiap hari mereka datang, sehingga ada hari-hari tertentu dimana Paulus melewatinya di dalam keadaan kelaparan, kedinginan dan sebagainya. Bahkan kalau kita membaca dalam 2 Timotius 4:16 Paulus mengatakan semua orang sudah meninggalkan dia kecuali Lukas dan beberapa rekan yang lain (2 Timotius 4:11,21). Dari sini kita bisa tahu betapa susah, betapa beratnya dia di dalam penjara karena Injil Tuhan Yesus Kristus seperti ini. Mari kita bayangkan, dalam penjara Paulus seorang diri duduk membaca Alkitab, bahkan mungkin dalam keadaan sakit, tiba-tiba teman lama yang namanya Epafroditus datang jauh-jauh dari Makedonia (Filipi 2:25). Itulah sebabnya kita bisa menyelami perasaan sukacita Paulus dalam Filipi 4:10 “Aku sangat bersukacita dalam Tuhan…” Tidak pernah terpikirkan olehnya, karena ada surprise yang tidak terduga mereka mengutus Epafroditus datang untuk menolong merawat Paulus dan membawakan bantuan kiriman jemaat Filipi. Tetapi dari Filipi 2:27-30 kita tahu Epafroditus akhirnya jatuh sakit, sehingga akhirnya Paulus harus mengirim Epafroditus kembali ke Filipi. Namun dari ayat ini kita bisa ikut merasakan sukacita Paulus itu. Berjumpa dengan teman lama, jemaat pertama yang Paulus layani di Makedonia masih mengingat dia, mengirim bantuan saat dia di Tesalonika, mengingat dia saat di Korintus, meskipun dari kalimat Paulus ini nampaknya ada selang beberapa waktu lamanya tidak ada kontak berita dari mereka, “…bahwa akhirnya pikiranmu dan perasaanmu bertumbuh kembali untuk aku. Memang selalu ada perhatianmu tetapi tidak ada kesempatan bagimu” (Filipi 4:10).

Tidak gampang memang menjadi peserta calon pilkada di Indonesia kalau dia dari partai independent. Kita doakan juga supaya gubernur DKI Jakarta Ahok bisa maju sebagai independent. Dalam hal itu dia memerlukan bantuan 1 juta KTP dari pendukungnya, tetapi juga ada yang namanya kelompok “Teman Ahok” yang juga menjadi supporternya. Hari ini kita pinjam istilah itu, “Teman Injil.” Dalam Filipi 1:6-8 Paulus menyebut jemaat Filipi adalah “teman Injil”-nya, his partner in the Gospel. Tidak gampang di dalam hidup kita sekarang mempunyai teman sejati, karena umumnya orang selalu jadi “friend with benefits.” Berteman karena mau mendapatkan keuntungan, berteman karena mau menikmati apa yang bisa kita dapat dari dia. Kita jangan mempunyai sikap seperti itu. Sebagai anak-anak Tuhan sikap kita berteman adalah bagaimana sebagai teman aku bisa membantu orang yang menjadi temanku. Jemaat Filipi mungkin tidak bisa berbuat apa-apa tetapi kehadiran Epafroditus di penjara, berdoa bersama Paulus, membawa sedikit makanan untuk dinikmati Paulus membuat hati Paulus senang luar biasa. Itulah indahnya mempunyai teman. Mari kita lihat apa arti teman itu. Teman adalah orang dimana kita bisa berbagi, orang yang mendukung dan mensupport kita, kita boleh menangis sama-sama dengan dia, duduk di sampingnya, menjadi orang yang mengasihi, tidak ada unsur hitung-hitungan untung rugi, tidak menjadikan teman untuk menarik keuntungan bagi kita, teman tidak akan pernah makan keuntungan dari kerugian temannya. That’s what friends are for.

Kenapa jemaat Filipi selama beberapa tenggang waktu berhenti mendukung Paulus? Ada beberapa hal yang mungkin menyebabkan hal itu terjadi. Pertama, kalau kita lihat Filipi 1:15-17, mungkin ada kelompok yang datang menghasut dan menjelek-jelekkan Paulus sehingga mempengaruhi jemaat Filipi sehingga mereka kemudian memiliki hati yang sedikit negatif kepada Paulus. Atau yang kedua, dari aspek yang positif, mereka tidak mendapat update keadaan Paulus karena jarak yang berjauhan. Kalaupun akhirnya sudah tahu Paulus ada di Roma, untuk traveling dari Filipi ke Roma perlu waktu berbulan-bulan baru bisa ketemu. Maka Paulus menambahkan kalimat ini, “Memang selalu ada perhatianmu, tetapi tidak selalu ada kesempatan bagimu…” seolah Paulus ingin mengatakan kalau selama ini mereka tidak pernah mengontak atau mengirimkan bantuan, itu bukan karena sudah tidak ingat tetapi karena tidak ada kesempatan.

Ada dua prinsip yang penting pada waktu Paulus menerima bantuan itu. “Kukatakan ini bukan karena kekurangan, sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala hal…” (Filipi 4:11). Pertama, Paulus bersukacita waktu menerima bantuan dari mereka, namun jangan sampai disalah-mengerti bahwa Paulus butuh dan kekurangan, karena bukan soal itu yang paling penting. Butuh tidak butuh dalam situasi hidup kita, kita mungkin bisa berharap dan bersandar menantikan pertolongan teman kita, tetap bagaimanapun manusia itu terbatas pertolongannya. Teman berapapun kaya dan mampu, tetap memiliki resources yang terbatas dan ada prioritas yang berbeda. Kedua, ada hal-hal yang tidak terduga orang mungkin ingin membantu tetapi tantangan dan kesulitan yang dialami melampaui kemungkinan orang bisa membantu dan menolong. Itulah sebabnya kita tidak boleh mengharapkan hidup bergantung kepada pertolongan orang dan belajar hidup puas diri.

Kalimat Paulus ini juga mengajarkan kita bagaimana hidup dengan murah hati dan bagaimana hidup dengan rasa puas diri. Contentment atau kepuasan diri Paulus bukan karena dia sudah cukup memiliki segalanya, bukan karena dia berkelebihan atau karena dia punya. Contentment Paulus ada di dalam Tuhan, sehingga Paulus mengatakan “bukan karena aku butuh, karena aku belajar mencukupkan diri dalam segala hal.” Pada waktu kita menghadapi dua kondisi yang ekstrim ini, di dalam keadaan apapun, bukan itu yang mengontrol dan mempengaruhi hati kita; bukan keadaan itu yang membentuk rasa puas diri kita. Contentment tidak terletak dari apa yang menjadi kebutuhan kita, tetapi dari apa yang kita punya. Paulus puas diri, hati teduh, rasa bersyukur karena apa yang dia punya. Jelas kita tahu arti “apa yang aku punya” tidak berarti punya segala-galanya. Tetapi hidup kalau terus hanya berpikir apa yang tidak tidak kita punya, akhirnya selama-lamanya kita tidak akan pernah puas. Dan apa yang pernah kita punya dulu tidak boleh menjadi tolok ukur kepuasan kita. Adakalanya di dalam kehidupan kita, kita melewati suatu fase dimana kita tidak punya apa-apa lagi di tangan kita. Bukan saja tidak punya apa-apa lagi, Paulus sebutkan dengan kata “to be brought low.” Kata “brought low” itu mempunyai pengertian sudah dalam kondisi miskin tetapi juga masih ditarik untuk dipermalukan. Sampai kepada posisi seperti itu betapa tidak mudah, karena saya percaya setiap kita mempunyai “pride” harga diri. Bukan saja orang kaya yang punya harga diri, orang miskin juga punya harga diri. Dan bahkan kita bisa kaget karena kadang orang miskin punya harga diri lebih tinggi daripada orang kaya. Harga diri itulah yang membuat kita tidak mau menerima pertolongan orang, harga diri itu juga yang membuat kita merasa tidak memerlukan orang lain dalam hidup ini. Dan kita bisa marah besar kalau kita merasa harga diri kita diinjak-injak dan kita dipermalukan. “Memang saya miskin, tetapi jangan menghina dan mempermalukan saya.”

Paulus beberapa kali dicambuk dan disesah, didera dan dilempari batu, pernah bajunya dikoyak dan ditelanjangi, itu adalah kondisi-kondisi yang begitu dahsyat yang dia alami (2 Korintus 11:23-28). Sebaliknya sangat sedikit kita menemukan catatan Paulus mengalami keadaan kelimpahan dalam hidupnya. Salah satunya Paulus alami pada waktu dia tinggal di rumah Lidia, salah satu jemaat Filipi yang sangat kaya raya itu. Meskipun awalnya Paulus menolak undangan Lidia, tetapi karena terus didesak dan diminta akhirnya Paulus tinggal di rumahnya untuk sementara waktu. Dan di situ saya percaya Lidia menjamu tamu kehormatan ini dengan perjamuan yang mewah. Demikian juga kepala penjara melakukan hal yang sama kepada Paulus (Kisah Rasul 16:34).
Paulus mengatakan, “Aku belajar mencukupkan diri dalam segala hal…” (Filipi 4:12). Kata “belajar” berarti ini adalah hal yang tidak gampang dan tidak mudah. Kata kedua yang Paulus berikan adalah “I have learnt the secret…” memberitahukan kita bahwa secara kasat mata logikanya 1+1=2, kalau situasinya tidak baik reaksinya pasti kecewa, kalau mengalami hal yang tidak enak dia pasti putus asa, kalau apa yang dia minta kepada Tuhan tidak dia dapatkan pasti dia akan meninggalkan Tuhan, kalau dia diberi penderitaan seperti ini dia pasti tidak akan berdoa lagi. Itu yang kita mungkin pikirkan logikanya. Namun kata “secret” berarti sesuatu yang di luar daripada apa yang dipikirkan dan diduga secara logika manusia. Di dalam keadaan seperti itu aku tahu rahasia untuk berpuas diri dalam segala keadaan yang kualami. Tidak usah malu, tidak perlu kecewa, tidak usah marah, tidak perlu putus asa.

“Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku” (Filipi 4:13). Bukan berarti orang percaya bisa melakukan apa saja. Tidak ada seorang yang bisa mengerjakan segala sesuatu berapapun hebatnya dia. Kita terbatas. Tidak semua hal bisa kita kerjakan dan jangan pakai embel-embel nama Allah lalu dengan itu seolah-olah menjadi mantra kita bisa mengerjakan segala sesuatu. Maksud ayat ini adalah di dalam segala situasi, pada waktu kita berada di dalam keadaan habis-habisan dan tidak punya apa-apa lagi, kita kuat dan sanggup mengatasinya oleh kekuatan dari Tuhan. Namun bukan hanya dalam kekurangan kita perlu kekuatan dari Tuhan; di dalam kelebihan kita juga perlu kekuatan dari Tuhan. Di dalam kelaparan, saat mengalami sakit-penyakit, di dalam kemiskinan dan masa paceklik kita perlu kekuatan dari Tuhan melewatinya. Namun terlebih di dalam kelimpahan, di dalam kelebihan, di dalam kekayaan jangan pikir kita tidak perlu kekuatan dari Tuhan, kita perlu kekuatan dari Tuhan. Itu artinya “di dalam segala hal.”

Jelas, Paulus perlu dan butuh bantuan. Paulus berkata dalam Filipi 4:14, “…namun baik juga perbuatanmu karena engkau telah mengambil bagian dalam kesusahanku.” Hari itu dia menerima bantuan, dia sangat senang luar biasa karena bantuan itu memberikan kelegaan kepadanya. Puji Tuhan, kadang-kadang di dalam keadaan desperate, lonely, tersendiri, tidak ada orang yang menolong, Tuhan itu tahu dan pertolonganNya bisa tiba tepat waktu dan pada saatnya. Kita wajib bersyukur dan berterimakasih kepada orang yang memberikan perhatian dan pertolongan kepada kita. Namun pada saat yang sama firman Tuhan juga membimbing kita bukan karena bantuan itu yang membikin kita senang. Tetapi saat dan moment itu membuat kita bersukacita karena Tuhan menyatakan Dia care dan memperhatikan kita dengan memakai orang melakukannya bagi kita. Jangan sampai kita kehilangan pengharapan dan hati yang percaya kepada Tuhan. Jangan sampai kita ditelan oleh rasa kuatir pada waktu segala sesuatu hilang dan terambil dari hidupmu, di saat kita tidak punya apa-apa lagi.

Hari ini saya mengajak kita sama-sama boleh menjadi teman Injil, artinya di dalam menghadapi kesulitan apapun di dalam pelayanan kita menjadi teman yang sama-sama saling mendukung dan menguatkan. Yang satu kurang, yang satu lebih mampu, kita saling membantu sebagai teman. Sebagai seorang gembala saya juga sangat mengharapkan jemaat yang kulayani senantiasa menjadi teman dan sahabat yang karib. Saya bukan manusia super yang bisa segala-galanya. Saya perlu teman yang berjalan sama-sama melayani Tuhan.

Hal yang kedua, setelah bicara tentang prinsip contentment, maka Paulus bicara melihat pemberian jemaat itu sebagai ekspresi dari generosity mereka. Paulus senang dan sukacita menerima pemberian mereka, tetapi sekaligus Paulus hati-hati jangan sampai jemaat salah tangkap seolah-olah Paulus mengharap-harap dan bergantung kepada pemberian mereka. Maka Paulus bilang, aku katakan ini bukan karena aku butuh, karena aku tahu semua ini Tuhan yang siapkan dan berikan.

Kedua, Paulus di ayat 17 berkata, “Tetapi yang kuutamakan bukanlah pemberian itu melainkan buahnya…” Paulus senang atas pemberian mereka, Paulus sangat berterima kasih karena pemberian mereka memberi kelegaan di saat dia mengalami kesusahan. Paulus berterimakasih karena Tuhan mencukupkan dalam waktuNya. Yang kedua, yang maksud Paulus adalah aku senang, aku terima pemberianmu dengan mengucapkan syukur dan terima kasih, tetapi aku katakan ini bukan untuk minta lagi. Aspek ini menarik, bagi mereka yang memberi dan yang menerima, dua-dua pihak orang yang sudah jatuh dalam dosa, bisa berbahaya. Yang memberi bisa bahaya; yang menerima bisa bahaya. Yang diberi selain berterimakasih, akhirnya bisa selalu berharap terus dikasih, merasa berhak diberi, dan kalau tidak mendapat lagi jadi bersungut-sungut. Yang memberi terus berharap menerima pujian, dan berharap apa yang dilakukannya terus diingat-ingat.

Dengan kalimat ini Paulus memberi prinsip murah hati beberapa hal. Murah hati selalu harus muncul dari hati kita seturut dari apa yang kita miliki. Murah hati selalu menjadi “chain reaction” yang tidak habis-habisnya. Kepada jemaat di Galatia Paulus mengingatkan, jangan jemu-jemu berbuat baik (Galatia 6:9). Kenapa kita bisa jemu berbuat baik? Ada beberapa hal yang mungkin menjadi penyebabnya. Dari pihak yang memberi merasa berapa pun yang kita berikan seolah tidak ada artinya dan tidak menghasilkan sesuatu yang nyata, tidak mendatangkan efek apa-apa, kita akhirnya jemu memberi. Yang kedua, yang memberi juga terbatas resourcesnya, kadang-kadang dia juga perlu. Maka akhirnya yang memberi bisa jemu dan berhenti memberi. Dari sisi orang yang menerima seolah “take it for granted,” tidak berterimakasih dan malah seolah merasa memang sepantasnya dia dibantu. Memang tidak mudah untuk memberi tanpa mengharapkan terima kasih dan penghargaan dari orang yang diberi. Tetapi apakah semua perbuatan yang baik itu sia-sia begitu saja? Tidak. Semua yang baik yang kita berikan dengan motivasi murni selalu akan mendapat balasan dari Tuhan dan melalui itu akan menghasilkan buah-buah pemberian yang indah.

Terakhir, Paulus berdoa supaya Tuhan mencukupkan segala yang jemaat Filipi perlukan di dalam kelimpahan kekayaanNya. Kemurahan hati tidak akan pernah membikin kita jatuh miskin karena kita memiliki segala kelimpahan hati. Biar firman Tuhan ini membuat hati kita penuh dengan sukacita karena hidup kita content atas apa yang Tuhan beri, kita memiliki generosity dalam hidup kita sebagai seseorang yang lebih memperhatikan orang lain, lebih daripada kita melihat diri kita sendiri.

Hari ini kita belajar keindahan hati anak-anak Tuhan yang mengingatkan kepada kita walaupun satu pemberian yang sederhana boleh menjadi persembahan dupa yang harum di hadapan Tuhan, “a fragrant offering, a sacrifice acceptable and pleasing to God” (Filipi 4:18). Sekerat roti ataupun secangkir air segar yang diberikan kepada orang yang sedang di dalam kekurangan dan penderitaan, boleh menjadi air hidup yang berkelimpahan di dalam hidup orang itu. Satu perhatian yang dalam dan doa yang kita panjatkan bagi orang-orang yang sedang di dalam kesusahan dan dukacita, boleh menjadi kemenyan yang harum di depan mezbah hadirat Allah yang kudus. Sebagai anak-anak Tuhan kita dipanggil menjadi partner Injil, menjadi teman di dalam pelayanan untuk mengerjakan hal-hal yang indah bagi Tuhan, menjadi teman dan sahabat yang indah bagi orang-orang yang ada di dalam hidup kita.(kz)