SMIRNA, Setia di tengah Prahara

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Seri Surat Yesus Kristus kepada Tujuh Gereja (1)
Tema: SMIRNA, Setia di tengah Prahara|
Nats: Wahyu 2:8-11

 

Kitab Wahyu, kitab terakhir dalam Perjanjian Baru, khususnya pasal 2 dan 3 dikenal sebagai “Surat-surat Yesus Kristus kepada Tujuh Gereja,” kita melihat pandangan mata Tuhan Yesus sang Kepala Gereja tertuju kepada gerejaNya. Di sini secara khusus kitab Wahyu menyebutkan tujuh gereja yang terdapat di daerah Asia Kecil. Lokasi tujuh gereja ini berdekatan satu dengan yang lain, yang urutannya disebutkan searah jarum jam. Namun perlu kita ketahui surat-surat ini bukan hanya ditujukan kepada ke tujuh gereja itu saja, sebab kita mengetahui bahwa angka 7 dalam kitab Wahyu adalah selalu menjadi simbol lukisan gambaran dari kelengkapan atau kesempurnaan. Berarti surat ini ditujukan juga bagi semua gereja-gereja Tuhan di sepanjang sejarah dan di segala tempat, menjadi surat yang selalu relevan bagi umat Tuhan dimana saja. Ia sebagai Kepala Gereja senantiasa care dan peduli kepada gerejaNya. Masing-masing gereja ini mempunyai keunggulan tetapi juga ada cacat di dalamnya. Kristus memberikan teguran yang sangat keras kepada gereja yang patut ditegur; Kristus memberikan penghiburan kepada gereja yang patut dihibur; Kristus memberikan nasehat dan peringatan kepada masing-masing gereja, karena sang Pemilik dari gereja ini hendak memurnikan gerejaNya. Barangsiapa yang dengan seenaknya menganggap gereja adalah asset milik pribadinya, atau pun yang melakukan satu tindakan eksploitasi dan manipulasi terhadap gereja Tuhan, yang merusak kehidupan berjemaat dengan ajaran-ajaran yang menyesatkan, Ia tahu dan Ia tidak tinggal diam. Sayangnya mata manusia gampang silau melihat mega church dengan ribuan bahkan puluhan ribu jemaat dengan segala kegemilangan, dengan gedungnya yang megah dan dengan segala kemewahan barang-barang yang menghiasinya yang begitu menyilaukan. Kita tidak boleh lantas berpikir bahwa di situ Tuhan mencurahkan berkatNya dengan segala kemakmuran dan pertumbuhan umat Tuhan yang banyak, sebagai tanda kesuksesan dan keberhasilan sebuah gereja atau pelayanan.

Daerah Turki adalah daerah yang dari awalnya mengecap pelayanan dari Paulus dan rasul-rasul yang lain. Mungkin sekarang kita tidak melihat hal itu dan hanya melihat bekas-bekasnya saja, tetapi tidak berarti Allah tidak bekerja di sana. Memang tidak kelihatan kekuatannya, memang tidak kelihatan jumlahnya, memang tidak kelihatan gedungnya, tetapi Allah kita adalah Allah yang menjaga dan memelihara setiap umat dan gerejaNya sekalipun itu hanya gereja yang di mata dunia kecil dan insignifikan adanya.

Dari tujuh gereja yang disebutkan di sini hanya ada dua gereja yang tidak ada tegurannya yaitu gereja Smirna dan Filadelfia. Dua gereja ini dipuji oleh Tuhan Yesus dan dihibur oleh Tuhan Yesus. Ada kesamaan dan kemiripan dari dua gereja ini yaitu dua-duanya miskin dan kekuatannya tidak seberapa sebagai gereja-gereja lokal. Bagian ini senantiasa mengingatkan kita, kita tidak boleh menganggap dan melihat hal-hal yang fenomena, yang terlihat oleh mata fisik ini saja. Kita tidak boleh kagum dan terpesona kepada apa yang kelihatan dan kita tidak tahu apa yang ada di belakang dan apa yang ada di dalam hati dan motivasi seseorang; hanya Tuhan yang tahu. Dan kita juga tidak boleh terlalu cepat menilai dan mengambil kesimpulan bahwa gereja-gereja lokal yang kecil itu tidak berarti dan tidak berharga adanya.

Tanggal 31 Oktober merupakan tanggal yang penting di dalam kalender gereja karena tanggal 31 Oktober 1517 Martin Luther memakukan 95 dalil/thesis di pintu gereja di Wittenberg, di Jerman, menandai mulainya gerakan Reformasi Protestan. Sebetulnya saat itu Martin Luther tidak ada keinginan untuk keluar dari gereja Roma Katolik, dan sebagai seorang pastor dan professor teologi dia ingin memperdebatkan beberapa pengajaran Katolik yang telah menyimpang dari Alkitab dan kritikannya terhadap cara hidup yang immoral dan cara hidup yang duniawi dari kaum rohaniwan waktu itu serta ketidak-beresan keuangan dan korupsi di dalam gereja. Dia ingin umat Tuhan mengerti bahwa kepala gereja bukanlah Paus, kepala gereja adalah Yesus Kristus sendiri. Gerakan Reformasi pada awalnya tidak pernah berpikir keluar dari gereja dan membawa banyak orang juga keluar dan membentuk gereja Protestan. Gerakan Reformasi menginginkan gereja kembali kepada firman Tuhan, sola scriptura. Gerakan Reformasi menginginkan hidup kita suci dan takluk kepada otoritas firman Tuhan, hanya itu saja. Sehingga waktu itu walaupun jumlah begitu kecil, mereka berdoa sama-sama dan membaca firman Tuhan, mereka mau hidup suci, mereka mau hidup benar, mereka mau akan hal yang benar dan tidak ada yang boleh ditakutkan di dunia ini kecuali Tuhan sendiri. Namun sejarah mencatat “the mother church,” gereja secara struktur yang waktu itu bernama gereja Roma Katolik, menghalangi, menangkap, dan menganiaya mereka sehingga mereka harus lari dan bersembunyi.

Apa itu gereja? “The Belgic Confession,” salah satu Pengakuan Iman yang sangat penting bagi gereja Protestan memberikan definisi apakah Gereja itu. “Gereja kudus adalah yang dipelihara Tuhan menghadapi kebencian dunia ini, yang bisa saja terlihat begitu kecil di mata manusia dan yang begitu mudah dipadamkan seperti lilin kecil yang gampang ditiup padam.” Definisi ini juga penting dilihat secara historis. Kenapa? Karena kalimat ini ditulis oleh seorang hamba Tuhan bernama De Bres, yang di dalam pelarian dan di dalam tempat persembunyiannya menuliskan satu persatu dengan sangat teliti isi dari pengakuan Belgic Confession ini atas dasar kebenaran firman Tuhan dan karena hati yang hormat dan takut kepada Tuhan, menjadikan Tuhan Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Dia bersembunyi karena dia hendak ditangkap hendak dibunuh karena dinyatakan sebagai bidat oleh gereja Roma Katolik pada waktu itu. Di dalam kegentaran dan ketakutannya dia menulis dan merefleksikan hal itu, “who is the true church,” apa itu gereja yang benar. Memang di mata dunia kita hanya berjumlah begitu kecil dan tidak mempunyai pengaruh apa-apa, begitu insignificant, begitu rentan, seolah dengan sekali tiup, mati padam seperti lilin. Namun segala kebencian dan himpitan dari dunia ini tidak akan bisa memusnahkan gereja yang sejati itu karena Tuhan melindungi dan menjaga, mengasihi dan memelihara gereja yang sejati.

Apa itu gereja? Sekali lagi, gereja bukan gedungnya. Apa itu gereja? Gereja bukan perusahaan, gereja bukan kerajaan, gereja bukan organisasi, gereja bukan denominasi. Gereja adalah milik Tuhan dan akan selalu dipelihara olehNya. Gereja tidak pernah dan tidak boleh merasa nyaman dan merasa establish di atas muka bumi ini, karena memang itu bukan sifat dan natur gereja, yang seperti kalimat Tuhan Yesus, “dunia membenci mereka karena mereka bukan dari dunia ini” (Yohanes 17:14). Gereja adalah ekklesia, kumpulan orang-orang yang dipanggil keluar dari dunia, yang memang bukan dari dunia ini meskipun orang-orang ini masih tinggal di dalamnya. Itulah sebabnya Tuhan Yesus berdoa kepada Bapa, “Aku tidak meminta supaya Engkau mengambil mereka dari dunia tetapi supaya Engkau melindungi mereka daripada yang jahat” (Yohanes 17:15). Kita, gereja, tetap ada di dalam dunia ini tetapi gereja bukan milik dunia ini. Umat Tuhan tidak boleh memiliki “worldly attitude” dan “worldly value” di dalam kita bergereja. Kita tinggal di dalam dunia ini tidak akan pernah tinggal nyaman selama-lamanya. Kita marginal, minoritas dan pengembara di bumi ini, “strangers and scattered in the world” (1 Petrus 1:1), jangan pernah lupakan itu. Dunia akan senantiasa masuk dan merasuk ke dalam gereja dengan segala penipuan dan penyesatan. Dunia akan berusaha membuat gereja merasa aman dan nyaman dan dunia akan berusaha melenakan gereja dengan segala kenyamanan dan kenikmatan sehingga gereja lupa dengan naturnya. Jikalau usaha ini gagal, dunia akan melakukan cara lain, dengan penganiayaan, dengan kebencian yang merusak dan dengan penghancuran. Hanya dua cara itu.

Hari ini saya akan memulai dengan gereja Smirna, gereja yang mendapatkan penghiburan dari Tuhan Yesus. Yesus Kristus berkata, “Akulah Alfa dan Omega, yang Awal dan yang Akhir, yang telah mati dan hidup kembali…” (Wahyu 2:8). Ini menjadi satu prinsip penting yang harus kita pegang sebagai gereja Tuhan. “Aku tahu…” (Wahyu 2:9a) kalimat ini berulang kali muncul, Yesus sebutkan. Tidak ada di antara kita sebagai umat Tuhan yang boleh mengatakan Tuhan tidak mempedulikan kita, pada waktu kita berada di dalam kesusahan dan kesulitan, di dalam ketersendirian, di tengah himpitan, kiranya perkataan Yesus “Aku tahu” ini selalu bergema menjadi penghiburan bagi kita. Apa sih yang di dalam hidup kita yang Tuhan tidak tahu? Ia adalah Tuhan dari Awal sampai Akhir, yang menjaga memelihara dan segala sesuatu ada di dalam tangan kuasaNya. Ia adalah Tuhan yang maha tahu, yang mengetahui segala sesuatu dengan lengkap dan sempurna.

Tuhan Yesus tidak berjanji gereja Smirna akan bebas dari penderitaan dan kesusahan. Tuhan Yesus tidak bilang Dia akan membunuh semua orang yang akan menganiaya dan membunuh mereka. Gereja Smirna berbeda dengan gereja Efesus yang besar dan kuat; gereja Smirna berbeda dengan gereja Tiatira dan Laodikia yang kaya raya. Tuhan Yesus mengatakan, “Aku tahu kesusahanmu dan kemiskinanmu…” (Wahyu 2:9). Di sini kita belajar bahwa yang paling penting di tengah kondisi dan situasi yang seperti itu bagaimana Tuhan panggil, itu yang menjadi anugerah dan berkat yang luar biasa.

Sebagai umat Tuhan, kita bisa terjebak dengan mitos bahwa sebuah gereja yang sehat adalah sebuah gereja yang mengalami pertumbuhan secara jumlah dengan jiwa-jiwa baru. Ini adalah mitos dari pertumbuhan gereja yang kurang tepat karena sebenarnya ada hal-hal yang penting dan indah dari sebuah gereja yang sehat, selain aspek pertambahan jumlah anggota. Bapa-bapa Reformator dari awal tidak pernah memikirkan soal jumlah yang haru bertambah banyak sebagai konfirmasi Tuhan memberkati gerakan ini. Mereka tidak pernah menganggap bahwa makin besarnya sebuah gereja berarti di situ Tuhan memberkati gereja ini, dan begitu juga sebaliknya gereja kecil berarti Tuhan tidak memberkati. Bapa-bapa Reformator selalu tahu fokusnya gereja itu harus setia, gereja itu harus benar-benar menjalani firman Tuhan. Banyak gereja yang sehat dan benar tidak bertumbuh secara jumlah kendati pun itu adalah sebuah gereja yang sehat. Sebaliknya, banyak gereja yang besar dan bertumbuh secara jumlah belum tentu itu adalah sebuah gereja yang sehat. Tetapi kita yang hidup di jaman ini melewati satu fase terpengaruh dengan konsep gereja yang berhasil harus besar, megah dan kaya. Maka kalau kita pergi ke gereja-gereja di Afrika, di Nigeria misalnya, mereka sangat dipengaruhi oleh image dan performance serta fenomena mega church yang dibawa oleh gereja-gereja Amerika. Mereka juga terobsesi ingin besar seperti mega church Amerika. Seolah-olah gereja yang seperti itu pasti bertumbuh dan diberkati Tuhan. Kita harus mawas diri, pertumbuhan secara jumlah tidak menjamin gereja itu sehat.

Maka konsep gereja yang setia, yang takut akan Tuhan, itu menjadi awal munculnya gerakan Reformasi. Dengan demikian, hari ini saya memanggil kita melihat hidup kita sebagai gereja lokal adalah mari kita menjadi sebuah gereja yang sehat. Let us be a healthy community of church.

Apa itu sebuah gereja yang sehat? We are the body of Christ, setiap kita adalah anggota-anggota dari gereja yaitu tubuh Kristus. Hal yang menandakan sehatnya sebuah gereja adalah seluruh anggotanya berfungsi secara baik.

Pertama-tama, sehat berarti tidak ada sakit-penyakit. Untuk terhindar dari sakit-penyakit kita perlu senantiasa makan makanan yang sehat dan bergisi, meningkatkan “immune system”-nya dengan masing-masing memiliki kerinduan ada pertumbuhan rohani yang kuat melalui doa, membaca firman, setiap pelayanan memiliki motivasi hati yang suci dan tulus bagi Tuhan. Kedua, sehat berarti tidak ada satu bagian pun daripada aspek dari hidup, seluruh bagian tubuh dan internal organ yang tidak bekerja secara normal dan harmonis. Jadi salah sekali kalau berpikir sehat itu dalam ukuran “size” padahal dunia kedokteran sudah menemukan semakin besar ukuran tubuh menunjukkan makin tidak sehat tubuh kita. Sehat berarti seluruh bagian dari tubuh berfungsi dengan baik.

Dalam seminar “God, Religion and Politics” minggu lalu, Premier NSW Mike Baird diundang sebagai pembicara. Dia adalah seorang Kristen yang sangat baik dan bukan itu saja, ternyata sebelum terjun sebagai politician, dia pernah mengambil studi teologi di Regent College, Canada. Tetapi pada waktu beliau di sana, membaca Efesus 4:11-13, Tuhan membukakan dia bahwa melayani bukan saja suatu panggilan eksklusif menjadi seorang pendeta. Setiap kita diberi kapasitas untuk melayani Tuhan dalam berbagai bidang di dalam tugas memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus. Itu membuka pikiran dia sehingga dia kembali bertanya kepada Tuhan, apa yang Tuhan mau baginya untuk dia lakukan untuk menjadi berkat bagi orang lain? Akhirnya dia terjun ke dalam bidang politik.

Kalimat Mike Baird sangat baik sekali, “Each of us has a capacity to serve God in many ways. Work with integrity, with wisdom and understanding. Look after them who really in need.” Panggilan kita mungkin berbeda-beda, namun saya rindu setiap bagian tubuh Kristus di dalam gereja ini menjadi sehat dan menjalankan fungsinya dengan baik. Kalau Tuhan memanggil kita memakai tangan kita untuk melayani, mari kita melayani menjadi berkat yang baik. Kalau Tuhan mau memakai kaki kita lincah mengajak orang datang ke gereja, mari kita melakukannya. Kalau Tuhan mau memakai telinga kita, mari kita gunakan baik-baik untuk mendengarkan orang yang dalam kesulitan membutuhkan telingamu. Kalau Tuhan mau memakai mulut kita, mari pakai setiap perkataan kita untuk membangun orang lain. Kalau Tuhan mau memakai mata kita, mari kita pakai menjadi mata yang alert dan boleh memperhatikan orang lain. Kiranya kita boleh peka memperhatikan kesusahan dan kesulitan yang dialami oleh saudara-saudara kita. Itulah sebuah gereja yang sehat.

Greja Smirna mempunyai begitu banyak disadvantages. Dalam bagian ini, paling tidak ada empat kekurangannya. Tuhan Yesus berkata, “Aku tahu kesusahanmu dan kemiskinanmu…” (Wahyu 2:9). Yang pertama, gereja ini penuh dengan kesusahan, affliction. Bahasa Yunaninya adalah “thlipsis.” Thlipsis bukan hanya berarti susah tetapi berarti digencet dengan beban berat yang dari atas untuk menghancurkanmu. Jadi bukan dalam pengertian ada penyakit atau kesulitan yang natural bisa datang kepada siapa saja, tetapi sesuatu tekanan yang begitu berat yang dengan sengaja diberikan dengan tujuan untuk menghancurkan mereka.

Yang kedua, gereja ini gereja yang miskin. Dalam bahasa Yunani ada dua kata mengenai miskin, “ptocheia” dan “penia.” Kata yang dipakai di sini adalah ”ptocheia,” poverty, destitution. Berbeda dengan “penia” yang berarti kondisi sesorang yang tidak punya apa-apa, namun masih bisa bekerja mencukupkan kebutuhan sehari lepas sehari. Jadi orang ini tidak berlebih, dan meskipun kurang dia masih bisa melalui sehari ke sehari pas cukup untuk kebutuhannya. Sedangkan kata “ptocheia” yaitu miskin melarat, sama sekali tidak punya apa-apa dan tidak tahu dari mana bisa mendapat sesuatu untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Seolah-olah tidak tahu apa besok masih bisa survive. Itulah kondisi gereja Smirna. Jemaatnya miskin dan melarat, tidak punya asset, tidak punya uang, tidak punya resources.

Yang ketiga, ada fitnahan yang begitu keji diberikan oleh orang-orang yang membenci mereka. Namun Tuhan Yesus memberikan kalimat penghiburan ini, “Jangan takut terhadap apa yang harus engkau derita!” (Wahyu 2:10). Dan selanjutnya Ia membukakan kondisi mereka akan terus berlanjut “from bad to worse, from worse to worst.” Sudah susah, sudah miskin, sudah difitnah, apa lagi yang belum mereka dapat? “Sesungguhnya Iblis akan melemparkan beberapa orang dari antaramu ke dalam penjara…” berarti yang akan diciduk dan ditangkap adalah para pemimpin-pemimpin gereja. Kita sulit membayangkan, begitu bertubi-tubi kesulitan mereka. Tetapi Tuhan tidak pernah minta jemaat ini mengasihani diri. Kadang-kadang kita tidak bisa menolak dan kita tidak bisa menghindar dari hal-hal seperti ini, tetapi Tuhan juga tidak mau kita mengasihani diri. Itu semua tidak boleh membuat kita menjadi takut dan meninggalkan Tuhan. “Hendaklah engkau setia sampai mati dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan…” Tuhan memanggil anak-anakNya untuk setia, setia sampai akhir, setia sampai hidup kita di bumi ini berakhir.

Di dalam catatan sejarah, kita mengetahui tahun 155AD, kia-kira 65 tahun setelah surat ini ditulis, pemimpin gereja Smirna, seorang bishop bernama Polikarpus ditangkap dan dibakar hidup-hidup. Pada waktu dia hendak dibakar, bahkan kepala tentara yang tidak tega melihat seorang tua seperti dia harus mati seperti itu berusaha membujuk dia, apa sih ruginya bilang “Kaisar adalah Tuhan” supaya dia tidak mengalami eksekusi itu. Tetapi Polikarpus menjawab, “Delapan puluh enam tahun lamanya aku melayani Tuhanku dan Ia tidak pernah berbuat salah kepadaku. Mengapa aku harus menyangkal Rajaku yang telah menyelamatkan aku?”

Mulai hari ini mari kita belajar dari gereja Smirna ini. Tuhan tahu apa yang menjadi kesulitan dan kesusahan kita. Tuhan memberi kita kekuatan menghadapinya. Tuhan memanggil kita always faithful and never fearful dalam hidup ini. Ikut Dia dengan setia tidak berarti tidak akan ada kesulitan lagi, tidak berarti tidak akan ada “kesusahan selama sepuluh hari.” Tetapi semua itu jangan membuat kita menjadi gentar dan takut dan tetap setia di hadapan Tuhan. Mengasihi Dia, setia dan bertekun, itu panggilan Tuhan hari ini untuk menjadikan kita kuat dan sehat rohani, menjadikan hidup kita keindahan di hadapan Tuhan. Di mata manusia kita bisa dihabiskan dalam sekejap, tetapi di mata Tuhan ini adalah gereja yang setia. Kematian bisa tiba kepada anak-anak Tuhan, darah bisa tertumpah sebagai martir, tetapi menghasilkan pekerjaan Tuhan yang indah adanya.(kz)